- Beranda
- Stories from the Heart
TOPENG WARISAN SETAN
...
TS
breaking182
TOPENG WARISAN SETAN
TOPENG WARISAN SETAN

PROLOG
Quote:
Di atas langit sana, rembulan begitu pucat. Di sekeliling, kegelapan begitu hitam pekat melingkupi permukaan bumi. Kesunyian yang tadi menyergap mulai terusik dengan suara semak belukar dan rumput kering yang tersibak langkah –langkah kaki yang berlari dengan terburu –buru dan membabi buta. Lewat cahaya bulan pucat yang merembes terlihatlah seorang lelaki berpakaian serba gelap berlari seperti dikejar setan. Dalam kegelapan malam.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Diubah oleh breaking182 05-03-2021 17:08
tet762 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
18.3K
Kutip
66
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#4
PART 4
Quote:
Mobil sedan berwarna hijau giok itu tampak melambatkan larinya manakala memasuki kawasan jalan protokol di kawasan Kusumanegara. Meskipun sudah lewat tengah malam menjelang dini hari lalu lintasnya sedikit lebih hidup, perasaan takut Prakoso mereda perlahan-lahan. Kecepatan mobil semakin ia turunkan. Mobil itu kemudian berbelok ke arah kiri menuju ke halaman Puro Pakualaman. Prakoso memutuskan berhenti sejenak untuk menenangkan deburan jantungnya yang menggila. Mobil ia parkir di antara sejumlah kendaraan lainnya di lokasi penjual jagung bakar yang berderet di satu sisi, serta warung-warung penjual makanan berderet di sisi berseberangan.
Banyak manusia berkeliaran di sekitarnya. Rata –rata masih berumur muda dan beberapa terlihat lelaki paruh baya tampak sedang bersendau gurau dengan wanita muda bermake up tebal dan berbaju sedikit seronok memperlihatkan gumpalan dada yang sekal menantang dan pangkal paha yang seperti mengintip mata lelaki untuk sekedar meliriknya.
Prakoso sudah akan turun dan bergabung dengan para pengunjung lain di lesehan terdekat, ketika teringat pada topeng yang barusan tadi ia kenakan pada wajahnya. Apakah topeng mengerikan itu benar-benar ada atau....
Harap-harap cemas, Prakoso meraba-raba wajah sendiri. Tak ada topeng sama sekali disana, yang teraba adalah wajah yang cukup ia kenal. Wajahnya sendiri.
Tidak yakin, ia lalu menyalakan lampu dalam mobil. Letak kaca spion tengah ia atur sedemikian rupa, sehingga keseluruhan wajahnya terlihat dengan jelas. Tidak tampak adanya topeng. Terlihat hanyalah wajah pucat dan tampak kusut serta lelah karena goncangan batin.
Prakoso duduk di lesehan beralaskan tikar, ia sengaja memilih lebih terpisah dari para pengunjung lain. Lantas memesan segelas kopi dan sebuah jagung bakar yang sudah tersisir dari tongkolnya. Lewat pantulan lampu taman terlihat wajah itu masih pucat dan suara pun masih menggagap, gemetar.
Diteguk segelas kopi yang masih mengepulkan asap itu, serasa sedikit nyaman mengurangi ketegangan yang masih bergelayut di hati Prakoso. Arloji murahan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit. Sudah memasuki dini hari dan tinggal dua jam lagi akan memasuki subuh. Prakoso beranjak dari tempat duduknya setelah membayar makanan dan minuman ia berjala menuju ke arah mobil yang diparkir di bawah pohon beringin. Baru saja ia masuk dan duduk di belakang kemudi tiba – tiba...
Tek, tek, tek...! Prakoso kaget, ada orang mengetuk kaca pintu sebelah kiri. Wajah orang itu tidak jelas karena tertutup embun yang melekat pada kaca. Mau tak mau kaca pun diturunkan setelah Prakoso menenangkan debar-debar hati serta detak jantung yang berdebur cepat.
"Hai, maaf mengganggu. Boleh numpang ?"
Makin berdesir hati Prakoso, merinding dulu romanya, ingatannya tiba –tiba melayang pada seorang berjubah hitam yang beberapa waktu ditemuinya di tepi bukit Kayu Putih. Debaran jantungnya mereda manakala matanya menangkap orang yang mengetuk kaca mobil tadi ternyata seorang wanita berusia sekitar 25 tahun. Tak jelas seberapa panjang rambutnya karena diikat ke belakang pakai saputangan kecil. Yang jelas, jenis rambutnya sedikit berombak, lebat.
"Mas keberatan, ya? ", kata gadis yang mengenakan kemeja warna putih dipadu dengan blazer berwarna hitam dan rok span ketat di atas lutut. Gadis itu ingin meninggalkan Prakoso, namun buru-buru Prakoso sadar dari ketertegunannya dan berkata agak keras untuk mengimbangi gadis tadi yang sudah berbalik badan dan berjalan meninggalkan Prakoso.
"Njenengan mau ke arah mana, Mbak?”
"Umbulharjo. Dari tadi saya berdiri di sana menunggu taksi lewat, tapi tidak ada taksi atau ojeg yang lewat."
"Kalau begitu cepatlah naik, kebetulan kita searah"
Dalam keremangan cahaya lampu dalam, Prakoso dapat melihat raut wajah gadis itu ternyata cantik. Wajah oval itu mempunyai bentuk mata yang indah, hidung yang mancung dan bibir yang sensual menggemaskan. Senyumannya pun enak dipandang mata dan menciptakan debar-debar lain dalam hati Prakoso. Aroma parfum semerbak wangi menyebar seluruh ruangan mobil. Jelas, parfum yang dikenakan adalah parfum kelas mahal berkualitas import. Tapi sempat terlintas pula dalam benak Prakoso kecurigaan yang membuatnya bergidik merinding lagi. Bukankah menurut cerita yang pernah didengar Prakoso, rupa cantik dan bau wangi adalah identik dengan ciri – ciri kemunculan roh halus yang bernama Kuntilanak?
"Wah, gawat ! Kenapa tadi kusuruh dia masuk ke mobil, ya? Mestinya tidak perlu berbaik hati dengan perempuan jelmaan seperti ini," pikir Prakoso dengan jantung berdegup kencang.
"Ahh... tapi sepertinya dia manusia beneran. Kakinya tadi juga menapak ke tanah. Dan sikapnya tidak menunjukkan keanehan apa pun. Wewangian yang dipakainya itu, dulu pernah juga tercium olehku waktu anak –anak Tuan Dargo yang tinggal di luar negeri datang berkunjung. Sepertinya memang berasal dari wewangian parfum import. Bukan dari bunga kuburan."
Jantung Prakoso tetap saja berirama keras. apakah gadis yang mengaku bernama Winni itu benar-benar manusia biasa, atau roh halus yang mencari mangsa lawan jenisnya?
Lamunan Prakoso buyar manakala Winni bertanya, "Kau kerja di mana Mas?"
" Hmmm..hanya seorang kuli kalau sekarang masih nganggur “
"O, kalau mau kebetulan aku ada informasi lowongan kerja di tempat ku sebagai office boy. Itu juga kalau mau “
“ Kau kerja dimana? “, Prakoso bertanya dengan antusias karena sejak Juragan Dargo meninggal ia samasekali belum bekerja lagi. Dan lebih –lebih sekarang ia hanya tinggal menumpang di tempat Warih teman dekatnya semenjak kecil di Wonogiri.
“ Aku kerja di hotel Surya, tidak jauh dari Puro Pakualaman tadi “
"Kau di bagian apa?"
"Aku di bagian recepsionis."
"Oooo...," Prakoso manggut-manggut, mulai lega hatinya. Kecurigaannya bahwa ia sedang mengangkut mahkluk halus sirna sudah.
Namun beberapa kilometer kemudian, laju mobil tiba –tiba menjadi lamban. Seperti membawa barang berat, atau seperti ada yang menahan dari belakang. Prakoso menjadi gusar, berkali-kali mendesah jengkel. Kejengkelannya semakin bertambah manakala tiba –tiba mesin mobil mati. Prakoso berkali –kali memutar kunci kontak akan tetapi, nihil. Mobil seperti membisu tidak beraksi apa-apa.
"Mestinya memang dijual atau dibakar saja mobil ini!"
Setelah mencobanya berkali -kali. Mesin mobil dapat menyala kembali dan meluncur dengan lancar. Prakoso merasa lega, walau ia tak tahu apa penyebabnya.
"Boleh kasih saran?" kata Winni.
"Saran apa?", Prakoso setengah mengeluh jengkel.
"Jalan saja terus sampai perempatan sana belok ke kiri. Satu kilometer dari perempatan jalan itu sudah sampai ke kosan ku. Kau bisa bongkar mobil ini di sana. Ada garasi kecil tanpa isi. Mungkin saja mesinnya ada sedikit masalah ."
Sebuah tawaran yang sederhana dan masuk akal sekali. Prakoso menerima tawaran itu daripada nanti sewaktu ia pulang mobil mogok di tengah jalan. Setidaknya sedikit –sedikit Prakoso paham dan tahu soal mesin mobil. Mobil terus menggelinding dengan lambat. Akhimya sampai juga di tempat kost berbentuk huruf L. Winni menempati kamar paling pinggir. Di samping kamarnya itu memang ada garasi kosong. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar. Bukan sebuah tipu muslihat belaka.
Banyak manusia berkeliaran di sekitarnya. Rata –rata masih berumur muda dan beberapa terlihat lelaki paruh baya tampak sedang bersendau gurau dengan wanita muda bermake up tebal dan berbaju sedikit seronok memperlihatkan gumpalan dada yang sekal menantang dan pangkal paha yang seperti mengintip mata lelaki untuk sekedar meliriknya.
Prakoso sudah akan turun dan bergabung dengan para pengunjung lain di lesehan terdekat, ketika teringat pada topeng yang barusan tadi ia kenakan pada wajahnya. Apakah topeng mengerikan itu benar-benar ada atau....
Harap-harap cemas, Prakoso meraba-raba wajah sendiri. Tak ada topeng sama sekali disana, yang teraba adalah wajah yang cukup ia kenal. Wajahnya sendiri.
Tidak yakin, ia lalu menyalakan lampu dalam mobil. Letak kaca spion tengah ia atur sedemikian rupa, sehingga keseluruhan wajahnya terlihat dengan jelas. Tidak tampak adanya topeng. Terlihat hanyalah wajah pucat dan tampak kusut serta lelah karena goncangan batin.
Prakoso duduk di lesehan beralaskan tikar, ia sengaja memilih lebih terpisah dari para pengunjung lain. Lantas memesan segelas kopi dan sebuah jagung bakar yang sudah tersisir dari tongkolnya. Lewat pantulan lampu taman terlihat wajah itu masih pucat dan suara pun masih menggagap, gemetar.
Diteguk segelas kopi yang masih mengepulkan asap itu, serasa sedikit nyaman mengurangi ketegangan yang masih bergelayut di hati Prakoso. Arloji murahan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit. Sudah memasuki dini hari dan tinggal dua jam lagi akan memasuki subuh. Prakoso beranjak dari tempat duduknya setelah membayar makanan dan minuman ia berjala menuju ke arah mobil yang diparkir di bawah pohon beringin. Baru saja ia masuk dan duduk di belakang kemudi tiba – tiba...
Tek, tek, tek...! Prakoso kaget, ada orang mengetuk kaca pintu sebelah kiri. Wajah orang itu tidak jelas karena tertutup embun yang melekat pada kaca. Mau tak mau kaca pun diturunkan setelah Prakoso menenangkan debar-debar hati serta detak jantung yang berdebur cepat.
"Hai, maaf mengganggu. Boleh numpang ?"
Makin berdesir hati Prakoso, merinding dulu romanya, ingatannya tiba –tiba melayang pada seorang berjubah hitam yang beberapa waktu ditemuinya di tepi bukit Kayu Putih. Debaran jantungnya mereda manakala matanya menangkap orang yang mengetuk kaca mobil tadi ternyata seorang wanita berusia sekitar 25 tahun. Tak jelas seberapa panjang rambutnya karena diikat ke belakang pakai saputangan kecil. Yang jelas, jenis rambutnya sedikit berombak, lebat.
"Mas keberatan, ya? ", kata gadis yang mengenakan kemeja warna putih dipadu dengan blazer berwarna hitam dan rok span ketat di atas lutut. Gadis itu ingin meninggalkan Prakoso, namun buru-buru Prakoso sadar dari ketertegunannya dan berkata agak keras untuk mengimbangi gadis tadi yang sudah berbalik badan dan berjalan meninggalkan Prakoso.
"Njenengan mau ke arah mana, Mbak?”
"Umbulharjo. Dari tadi saya berdiri di sana menunggu taksi lewat, tapi tidak ada taksi atau ojeg yang lewat."
"Kalau begitu cepatlah naik, kebetulan kita searah"
Dalam keremangan cahaya lampu dalam, Prakoso dapat melihat raut wajah gadis itu ternyata cantik. Wajah oval itu mempunyai bentuk mata yang indah, hidung yang mancung dan bibir yang sensual menggemaskan. Senyumannya pun enak dipandang mata dan menciptakan debar-debar lain dalam hati Prakoso. Aroma parfum semerbak wangi menyebar seluruh ruangan mobil. Jelas, parfum yang dikenakan adalah parfum kelas mahal berkualitas import. Tapi sempat terlintas pula dalam benak Prakoso kecurigaan yang membuatnya bergidik merinding lagi. Bukankah menurut cerita yang pernah didengar Prakoso, rupa cantik dan bau wangi adalah identik dengan ciri – ciri kemunculan roh halus yang bernama Kuntilanak?
"Wah, gawat ! Kenapa tadi kusuruh dia masuk ke mobil, ya? Mestinya tidak perlu berbaik hati dengan perempuan jelmaan seperti ini," pikir Prakoso dengan jantung berdegup kencang.
"Ahh... tapi sepertinya dia manusia beneran. Kakinya tadi juga menapak ke tanah. Dan sikapnya tidak menunjukkan keanehan apa pun. Wewangian yang dipakainya itu, dulu pernah juga tercium olehku waktu anak –anak Tuan Dargo yang tinggal di luar negeri datang berkunjung. Sepertinya memang berasal dari wewangian parfum import. Bukan dari bunga kuburan."
Jantung Prakoso tetap saja berirama keras. apakah gadis yang mengaku bernama Winni itu benar-benar manusia biasa, atau roh halus yang mencari mangsa lawan jenisnya?
Lamunan Prakoso buyar manakala Winni bertanya, "Kau kerja di mana Mas?"
" Hmmm..hanya seorang kuli kalau sekarang masih nganggur “
"O, kalau mau kebetulan aku ada informasi lowongan kerja di tempat ku sebagai office boy. Itu juga kalau mau “
“ Kau kerja dimana? “, Prakoso bertanya dengan antusias karena sejak Juragan Dargo meninggal ia samasekali belum bekerja lagi. Dan lebih –lebih sekarang ia hanya tinggal menumpang di tempat Warih teman dekatnya semenjak kecil di Wonogiri.
“ Aku kerja di hotel Surya, tidak jauh dari Puro Pakualaman tadi “
"Kau di bagian apa?"
"Aku di bagian recepsionis."
"Oooo...," Prakoso manggut-manggut, mulai lega hatinya. Kecurigaannya bahwa ia sedang mengangkut mahkluk halus sirna sudah.
Namun beberapa kilometer kemudian, laju mobil tiba –tiba menjadi lamban. Seperti membawa barang berat, atau seperti ada yang menahan dari belakang. Prakoso menjadi gusar, berkali-kali mendesah jengkel. Kejengkelannya semakin bertambah manakala tiba –tiba mesin mobil mati. Prakoso berkali –kali memutar kunci kontak akan tetapi, nihil. Mobil seperti membisu tidak beraksi apa-apa.
"Mestinya memang dijual atau dibakar saja mobil ini!"
Setelah mencobanya berkali -kali. Mesin mobil dapat menyala kembali dan meluncur dengan lancar. Prakoso merasa lega, walau ia tak tahu apa penyebabnya.
"Boleh kasih saran?" kata Winni.
"Saran apa?", Prakoso setengah mengeluh jengkel.
"Jalan saja terus sampai perempatan sana belok ke kiri. Satu kilometer dari perempatan jalan itu sudah sampai ke kosan ku. Kau bisa bongkar mobil ini di sana. Ada garasi kecil tanpa isi. Mungkin saja mesinnya ada sedikit masalah ."
Sebuah tawaran yang sederhana dan masuk akal sekali. Prakoso menerima tawaran itu daripada nanti sewaktu ia pulang mobil mogok di tengah jalan. Setidaknya sedikit –sedikit Prakoso paham dan tahu soal mesin mobil. Mobil terus menggelinding dengan lambat. Akhimya sampai juga di tempat kost berbentuk huruf L. Winni menempati kamar paling pinggir. Di samping kamarnya itu memang ada garasi kosong. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar. Bukan sebuah tipu muslihat belaka.
Diubah oleh breaking182 10-04-2019 13:04
MontanaRivera dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas