- Beranda
- Stories from the Heart
TOPENG WARISAN SETAN
...
TS
breaking182
TOPENG WARISAN SETAN
TOPENG WARISAN SETAN

PROLOG
Quote:
Di atas langit sana, rembulan begitu pucat. Di sekeliling, kegelapan begitu hitam pekat melingkupi permukaan bumi. Kesunyian yang tadi menyergap mulai terusik dengan suara semak belukar dan rumput kering yang tersibak langkah –langkah kaki yang berlari dengan terburu –buru dan membabi buta. Lewat cahaya bulan pucat yang merembes terlihatlah seorang lelaki berpakaian serba gelap berlari seperti dikejar setan. Dalam kegelapan malam.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Quote:
Quote:
Diubah oleh breaking182 07-03-2026 00:26
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
27
18.7K
Kutip
78
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#3
PART 3
Quote:
Udara malam ini terasa begitu dingin, seolah-olah ribuan jarum es yang tak kasat mata menusuk hingga ke pori-pori terdalam. Saat itu angin bertiup kencang, melolong panjang di sela-sela pepohonan, membawa suara-suara aneh yang samar dari kejauhan. Sedangkan langit tertutup awan hitam yang tebal menggumpal, membuat malam semakin bertambah kelam, bagaikan sebuah kubah raksasa yang mengurung bumi dalam kegelapan abadi. Sedikit pun tak ada cahaya bintang maupun bulan yang mampu menerangi, seolah jagat raya sedang bersembunyi dari sesuatu yang mengerikan di bawah sana. Bahkan lampu–lampu penerang jalan seperti tidak mampu menyibak pekatnya malam, hanya menyisakan pendaran kuning pucat yang ringkih dan tampak sekarat.
Namun, dinginnya malam ini tidak membuat Prakoso lupa akan wasiat mendiang juragan Dargo sang majikan. Janji kepada orang mati adalah hutang yang paling berat untuk dibawa. Pemuda itu menyusuri jalanan yang mulai lengang dengan mobil sedan warisan sang majikan. Kabin mobil itu terasa asing, bau minyak wangi tua milik mendiang juragan masih tertinggal, bercampur dengan aroma kecemasan yang keluar dari keringat dingin Prakoso. Dia mengemudiakan mobil perlahan-lahan sambil matanya mengawasi sekeliling. Setiap bayangan pohon di pinggir jalan tampak seperti siluet manusia yang sedang berdiri mengintai.
Menurut informasi yang ia dapatkan, Bukit Kayu Putih tidak jauh lagi dari tempatnya sekarang. Mobil itu begitu ringan merayap di jalanan aspal, suaranya hanya berupa desisan halus yang justru menambah kesunyian. Semua rumah yang berdiri di bawah lereng berjajar di kiri dan kanan jalan tampak membisu, tak ada satu pun yang pintunya terbuka, seolah-olah para penghuninya telah mengunci diri demi menghindari tamu malam yang tak diinginkan. Begitu sunyinya, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar, menciptakan vakum suara yang menyesakkan dada.
Sehingga detak jantung pemuda itu terdengar begitu keras, berdentum-dentum di rongga dadanya layaknya genderang perang. Tiba–tiba ia menghentikan laju mobilnya. Suasana mendadak berubah. Cuping hidungnya kembang kempis mencium bau kayu putih yang santer menggelitik, namun aroma itu tidak terasa menyegarkan; melainkan tajam dan memuakkan, seperti bau balsam yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
Prakoso menoleh ke samping kirinya. Di sana, sebuah pedataran yang tidak begitu luas dan tinggi tampak terpampang dengan jelasnya. Ratusan pohon berjajar bagai kaki–kaki iblis yang tengah mengepung menunggu, menyergap mangsa. Batang-batang pohon kayu putih yang pucat itu terlihat seperti tulang-belulang raksasa yang mencuat dari perut bumi dalam keremangan.
Lalu ia tepikan mobilnya ke pinggir jalan. Perasaannya tiba–tiba takut dan ngeri, sebuah insting purba yang memperingatkannya untuk segera berbalik arah. Beberapa kali pemuda ini mengusap bulu tengkuknya yang meremang. Suasana itu begitu menekan, entah mengapa ia merasa ada beratus–ratus pasang mata mengawasi segala gerak–geriknya dari balik rapatnya pepohonan. Hutan itu seolah bernapas, lambat dan berat.
Perlahan ia raih kotak hitam yang diletakkan di sebelah kursi kemudinya, lalu digenggam dengan tangan kiri. Begitu jari-jemarinya menyentuh permukaan kayu hitam itu, hawa dingin merembes melalui pori–pori telapak tangan Prakoso. Dingin yang tidak wajar, seolah ia sedang menggenggam sebongkah es dari neraka yang paling dalam. Akan tetapi, hawa dingin itu hanya saat saja dan kemudian kembali normal seperti semula, meninggalkan rasa kebas yang aneh.
Berkali–kali Prakoso menarik nafas panjang, yang ditunggunya belum juga menampakkan diri. Ia mulai khawatir, hatinya bertanya–tanya. Sebenarnya ia menunggu siapa? Teman juragan Dargokah? Mengapa tidak langsung ke rumahnya? Mengapa ia harus menunggu malam–malam buta di tepi jalan bukit seperti ini? Pertanyaan itu berkecamuk tanpa satu pun yang terjawab, berputar-putar di kepalanya bagaikan gasing yang tak kunjung berhenti.
Prakoso menurunkan jendela mobil di sampingnya, udara dingin sontak menyerbu masuk ke dalam mobil, membawa serta aroma hutan yang lembap. Nafasnya lesu, bercampur kuatir. Matanya kembali melihat ke arah perempatan jalan yang sunyi lengang tidak berapa jauh di hadapannya. Di sana, berdiri tiang lampu lalu lintas yang tampak seperti totem kesepian. Lampu lalu lintas di perempatan jalan itu, tampak menyala hijau. Lalu merah, kuning, hijau lagi. Siklus warna yang monoton itu terasa sangat surealis di tengah hutan yang mati.
Entah sudah yang keberapa puluh kali semenjak Prakoso duduk menunggu di dalam mobil. Berselimut kegelapan malam yang dingin berkabut, waktu seolah berhenti berputar. Terkadang, pergantian nyala lampu lalu lintas itu tampak seperti mengejek. Dan menyuruhnya untuk segera angkat kaki dari tepi jalan itu.
"Bodoh!" suatu saat lampu lalu lintas itu seakan berkata sinis dalam imajinasi liarnya yang mulai terganggu oleh rasa takut. "Percaya kepada igauan orang menjelang sakaratul maut!" bisikan itu seolah bergema dari sudut-sudut kabin mobil yang gelap.
Tangan Prakoso pun terulur ke arah kunci kontak, ingin segera memutar mesin dan pergi dari tempat terkutuk itu. Tetapi segera ditarik mundur kembali, terhalang oleh rasa hormat dan janji terakhirnya pada almarhum.
"Sebentar lagi saja," ia bergumam memutuskan, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Sudah kepalang tanggung, wasiat juragan Dargo tentu bukan main-main.......!"
Lalu kotak hitam diletakkan di dashboard mobil, memantulkan sedikit sisa cahaya dari luar. Tangannya merogoh saku kemeja hitam yang dikenakannya. Membuka dan mengeluarkan sebungkus rokok. Disulut sebatang sambil matanya tak lepas mengawasi perempatan jalan di hadapannya. Asap rokoknya mengepul, menggantung statis di udara kabin yang dingin. Tangan kirinya lalu meraih kotak yang tadi diletakkan di dashboard mobil untuk kemudian menggenggamnya lagi dengan tangan kiri. Perasaan ragu kembali menyerang. Mata yang mau tidak mau akhirnya menerawang juga. Ragu-ragu. Igauan orang yang sedang sekarat?! Apakah dia sedang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebuah mimpi buruk seorang lelaki tua?
Sebatang lagi rokok habis sudah. Prakoso menekan puntung rokoknya sampai mati di asbak pada dashboard mobil, mematikan api yang menjadi satu-satunya sumber kehangatan.
Sembari menggerutu tak sabar. "Setan, siapakah gerangan orang pemilik kotak laknat ini?!"
Tepat di ujung gerutuan Prakoso, kabut tipis pada sisi kiri perempatan jalan mendadak terkuak perlahan-lahan, seolah-olah ada tirai gaib yang disingkapkan oleh tangan raksasa. Bersama mengaburnya kabut tampaklah di sana sesosok tubuh tinggi besar. Berpakaian warna gelap seperti mantel panjang yang bagian atasnya menutupi kepala. Sosok itu tidak bergerak, tegak diam bagai patung penunggu jalan mengawasi ke arah Prakoso yang duduk menunggu di belakang kemudi mobil.
Lalu perlahan–lahan orang bermantel hitam panjang itu berjalan menghampiri ke arah mobil Prakoso. Langkahnya lurus ke arah Prakoso menunggu. Langkah-langkah yang tampak ringan, tanpa suara gesekan kaki di atas aspal, seolah ia melayang tipis di atas permukaan bumi. Tenang dan teratur.
Dan keanehan mulai terjadi. Di setiap langkah yang ia lakukan, secara aneh lampu–lampu penerang jalan di sekitarnya padam dengan sendirinya. Satu per satu lampu mati, menciptakan gelombang kegelapan yang mengikuti pergerakan sosok itu. Dan kini sosok itu lebih menyerupai sebuah bayangan yang ditelan malam hitam dan berkabut, hanya menyisakan bentuk siluet yang semakin lama semakin membesar.
Detak jantung Prakoso menyentak–nyentak, tangannya tiba–tiba gemetaran. Dingin di tangannya kini berubah menjadi getaran yang hebat. Ketakutan yang seketika dialami oleh Prakoso terasa begitu kuat. Mengalahkan perasaan terkejut serta takut yang muncul pada waktu bersamaan. Ia ingin berteriak, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Dengan jantung berdebar ia balik mengawasi. Sosok gelap tidak berapa jauh lagi di hadapannya tampak semakin misterius dan terkesan angker. Aura maut terpancar kuat dari balik jubah hitam itu.
Apa yang kemudian dilakukan Prakoso adalah menurunkan kaca jendela mobil di sebelah kanannya agar lebih turun lagi meski dengan jari jemari gemetaran, sebuah tindakan pasrah yang didorong oleh rasa takut yang luar biasa. Lalu menunggu dengan jantung yang kian berdebar-debar.
Setiba di sebelah kanan mobil, sosok gelap bermantel panjang itu membungkuk dengan sikap tenang. Wajahnya tertutup bayangan jubah yang pekat, tak ada cahaya yang bisa menembus masuk ke sana.
Lalu bergumam, "Mana titipan barangku, cepat berikan..............!" Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia, melainkan suara gesekan batu nisan yang berat.
Prakoso dibuat tersentak. Seluruh sarafnya berteriak untuk lari, namun tubuhnya kaku. Lalu dengan gemetaran diangsurkan kotak hitam yang ada di genggaman tangan kirinya. Si jubah hitam menyambut lalu memperhatikan kotak hitam yang kini telah berada di tangannya itu. Jari-jemarinya yang tertutup sarung tangan hitam—atau mungkin memang kulitnya yang sehitam itu—mengelus permukaan kotak dengan mesra. Si jubah hitam menyeringai puas dari balik kerudung hitamnya.
“Bagus kau mengantarkan milikku ini dengan sempurna tanpa cacat dan cela. Dan sekarang aku akan memberikan imbalan karena hasil kerjamu ini sangat bagus Prakoso,” ucapnya dengan nada yang bergetar aneh.
Prakoso kembali dibuat tersentak, karena sesosok misterius di sebelah mobilnya itu tahu namanya. Bagaimana makhluk itu bisa tahu? Si jubah hitam tampak merogoh sesuatu dari balik jubah hitamnya. Suasana mendadak menjadi terang oleh cahaya yang ganjil. Tidak lama kemudian di genggaman tangannya terlihat sebuah apel. Apel itu berpendar–pendar kuning menyilaukan mata, menerangi wajah Prakoso yang pucat pasi.
“Kau tahu ini apa Prakoso?” jubah hitam bertanya sembari memutar–mutar apel berwarna keemasan itu dalam genggaman tangannya. Cahayanya memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan kuning yang menari-nari.
“Itu buah apel, tapi mengapa warnanya kuning keemasan?” Prakoso terheran–heran.
Keindahan benda itu hampir saja melenyapkan rasa takutnya sejenak.
Si jubah hitam menyeringai dari balik kerudungnya, “Ini apel emas! Harapanmu bisa terkabul dengan memiliki apel ini. Kau ingin harta, kau ingin kekayaan, kekuasaan dan wanita? Semua bisa dipenuhi jika kau memiliki benda ini.”
Tawarannya begitu menggoda, seperti bisikan iblis yang menjanjikan dunia.
“Aku berikan kepadamu secara cuma–cuma tanpa syarat apalagi imbal balik.”
Suara itu terdengar berat dan serak namun berkesan lembut, membelai batin Prakoso yang selama ini hidup dalam kemiskinan sebagai pembantu. Ingin rasanya Prakoso mengiyakan dan menerima apel emas itu.
Tangannya nyaris bergerak maju, akan tetapi, sontak Prakoso ingat pesan mendiang juragan Dargo, “Jangan terima barang apa pun yang akan diberikannya, meskipun itu gratis!” Suara Dargo terngiang jelas, seperti peringatan dari alam kubur.
“Aku tidak butuh itu semua, tugasku sudah selesai. Kotak hitam itu sekarang sudah kembali ke pemiliknya. Dan aku harus segera pergi,” jawab Prakoso dengan tegas, meskipun hatinya berdegup kencang karena menolak tawaran menggiurkan tersebut.
Mendengar penolakan itu, suasana berubah drastis. Mata di balik kerudung itu melotot merah saga tanpa Prakoso mengetahui. Hawa panas tiba-tiba menyengat udara. Lalu tiba–tiba si jubah hitam mendekatkan wajahnya ke bagian luar jendela mobil yang terbuka. Seolah disengaja supaya Prakoso dapat melihat jelas wajahnya!
Dan wajah si jubah hitam benar-benar menimbulkan getaran teramat kuat di dalam batin Prakoso. Sekaligus juga mengejutkan. Karena wajah orang berjubah hitam di luar jendela mobil itu sukar dijelaskan! Itu bukan wajah manusia, melainkan mimpi buruk yang mewujud. Di bagian bawah mantel yang menutupi kepala sampai batas dahi, terlihatlah kulit wajah berwarna hijau mencolok, kulit bersisik-sisik kasar seperti kulit ular atau kadal purba.
Lebih menakjubkan lagi, adalah sepasang mata. Didominasi warna kuning, titik mata topeng berwarna merah darah, sinar merah darah itu memiliki aura yang luar biasa, seolah bisa menyedot jiwa siapa pun yang menatapnya. Selama sepersekian detik, denyutan jantung Prakoso sempat terhenti karenanya. Prakoso menahan nafas.
Namun, kengerian itu berubah menjadi pesona yang gelap. Entah darimana datangnya ada suatu keinginan dan dorongan sangat kuat pada diri Prakoso untuk memiliki topeng itu. Ia merasa wajah bersisik itu adalah sebuah mahakarya kejahatan yang indah.
"Kau diam saja Prakoso?" teguran itu membuyarkan lamunannya.
Teguran itu menyadarkan Prakoso. Berjuang keras menguasai diri sebentar kemudian bibirnya membuka juga. Dengan suara yang takut-takut, ia berbisik, "Kau mengenakan topeng yang aneh dan unik kisanak?"
Orang berjubah hitam itu menyeringai. Seringai licik yang menunjukkan bahwa umpannya telah dimakan. “Apakah kau menyukainya Prakoso?”
Prakoso tanpa sadar mengangguk. Matanya terpaku pada detail sisik-sisik hijau tersebut. Ia sama sekali lupa dengan nasehat yang dikatakan oleh mendiang juragan Dargo: “jangan terima barang apa pun!” Peringatan itu tenggelam oleh hasrat aneh yang merasuki jiwanya.
“Ini topeng milik pribadi, tidak untuk diberikan kepada siapa pun juga. Kalaupun kau membelinya, aku juga tidak akan melepas kepadamu...” suara mirip bisikan itu berlagak jual mahal, seolah ingin semakin membakar keinginan Prakoso.
Prakoso setengah memaksa, seperti anak kecil yang merengek meminta mainan terlarang. “Aku mau yang itu saja. Bukankah kau akan memberiku imbal jasa atas hasil kerjaku? Menyerahkan kotak itu dalam keadaan yang baik dan tanpa cela?”
Si jubah hitam terdiam sejenak, menciptakan ketegangan yang menyesakkan di antara mereka. Lalu detik berikutnya suara serak dari balik kerudung hitam itu terdengar. “Jika itu keinginanmu, baiklah...”
Si jubah hitam kemudian menegakkan tubuhnya, bayangannya menutupi seluruh kabin mobil. Sehingga ketika ia tanggalkan topeng itu, Prakoso tidak dapat melihat prosesnya dengan jelas. Namun, yang terjadi selanjutnya sangatlah mengerikan. Topengnya dibuka tidak dengan cara yang umum: melepas pengait atau tali karet pengikat. Melainkan dibuka dengan cara seperti merobek. Suara kulit yang koyak dan robek terdengar nyata di telinga Prakoso
breettt... sreeettt...
Dimulai dari bawah dagu, sampai seluruhnya melepas hingga ke tepi bawah rambut.
Dan, di bekas topeng itu tadinya melekat, tidak tampak apa pun juga! Tidak ada sepotong wajah. Tidak ada tengkorak, tidak ada otot, tidak ada darah. Dari rambut sampai ke batang leher, yang tampak hanyalah ruang kosong dan hitam, sebuah lubang hampa yang seolah-olah menuju ke dimensi lain.
Prakoso yang menunggu tak sabar, akhirnya mendapatkan topeng yang ia inginkan. Makhluk itu mengangsurkan benda hijau bersisik itu ke dalam mobil. Ia tidak merasa perlu menyalakan lampu dalam mobil, sebab sinar pada wajah topeng sudah cukup untuk memperlihatkan wujudnya yang mendebarkan jantung. Prakoso meraba–raba sebentar, merasakan tekstur kasar dan dingin dari benda itu.
Prakoso lantas keheranan. “Tidak ada pengait telinga atau tali pengikat?” tanyanya bingung sambil membolak-balik benda itu.
Tetap berdiri tegak di luar mobil, si jubah hitam memperdengarkan suara ganjilnya yang meyakinkan. “Itu topeng langka. Ia akan melekat bahkan menyatu sendiri dengan wajahmu. Bila tidak kau tidak percaya, silakan dicoba...”
Suatu dorongan gaib menghilangkan keragu–raguan Prakoso. Akal sehatnya telah lumpuh. Topeng misterius itu dengan hati–hati ia tempelkan ke wajahnya. Dinginnya topeng itu terasa seperti pelukan maut yang akrab. Tanpa mengetahui bahwa dari ruang kosong di bagian kepala si jubah hitam di luar mobil, tiba–tiba meliuk keluar sinar merah yang aneh. Sinar itu seperti lidah ular yang terbuat dari energi gelap. Dan sinar merah itu melesat sangat cepat. Meliuk-liuk liar di sepanjang sisi topeng yang tengah dikenakan oleh Prakoso, menjahitkan nasib baru pada kulit wajah sang pemuda.
Begitu kedua tangan Prakoso turun dari wajah, sinar merah misterius tersebut berhenti meliuk. Kemudian lenyap hilang entah ke mana. Topeng itu kini terasa ringan, seolah-olah ia tidak memakai apa pun.
“Hem!” Prakoso mendengus senang. “Benar–benar pas. Dan nyaman dipakai!” ia merasa memiliki kekuatan baru, sebuah kepercayaan diri yang gelap.
Namun, tidak ada sahutan. Tak terdengar adanya jawaban. Kesunyian kembali mencekam. Prakoso menoleh ke luar jendela mobil.
Lantas dengan mulut ternganga dan mata membelalak, Prakoso menatap tidak percaya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat ke luar jendela. Tidak ada sosok tubuh di luar jendela mobilnya. Makhluk tinggi besar berjubah hitam itu lenyap seolah-olah tidak pernah ada. Belum yakin, ia memutarkan pandang ke kiri, ke muka, ke belakang lalu kembali ke arah semula. Sama saja. Tak ada siapa-siapa.
Yang ada hanya semilir angin malam dan kabut yang berbondong–bondong turun dari puncak bukit kecil, menyelimuti mobilnya dalam keputihan yang dingin. Serta suara sepi yang terasa mencekam, begitu sunyi sampai-sampai ia bisa mendengar suara aliran darahnya sendiri. Prakoso tersedak, oksigen seolah hilang dari paru-parunya.
Pada saat itulah perasaan takut yang tadi sempat sirna sekejap dengan tiba–tiba menghinggapi dirinya kembali dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Kesadaran akan apa yang baru saja ia lakukan menghantam kepalanya. Ia telah melanggar janji. Ia telah menerima sesuatu dari "penjemput" maut.
Tanpa berpikir panjang lagi dengan tangan serta kaki bergemetar, rem tangan mobil ia turunkan. Ia ingin lari dari tempat itu, lari dari bayang-bayang pepohonan kayu putih. Pedal kopling serta gas dioperasikan pada waktu bersamaan dengan kasar.
Mobil itu pun seketika terlonjak ke depan dengan sentakan mengejutkan, ban mobil menjerit di atas aspal. Prakoso langsung tancap gas dan ngebut seperti orang kesurupan, melesat membelah kabit malam, tanpa menyadari bahwa apa yang melekat di wajahnya kini bukan lagi sekadar topeng, melainkan kutukan yang telah mulai menyatu dengan jiwanya.
Namun, dinginnya malam ini tidak membuat Prakoso lupa akan wasiat mendiang juragan Dargo sang majikan. Janji kepada orang mati adalah hutang yang paling berat untuk dibawa. Pemuda itu menyusuri jalanan yang mulai lengang dengan mobil sedan warisan sang majikan. Kabin mobil itu terasa asing, bau minyak wangi tua milik mendiang juragan masih tertinggal, bercampur dengan aroma kecemasan yang keluar dari keringat dingin Prakoso. Dia mengemudiakan mobil perlahan-lahan sambil matanya mengawasi sekeliling. Setiap bayangan pohon di pinggir jalan tampak seperti siluet manusia yang sedang berdiri mengintai.
Menurut informasi yang ia dapatkan, Bukit Kayu Putih tidak jauh lagi dari tempatnya sekarang. Mobil itu begitu ringan merayap di jalanan aspal, suaranya hanya berupa desisan halus yang justru menambah kesunyian. Semua rumah yang berdiri di bawah lereng berjajar di kiri dan kanan jalan tampak membisu, tak ada satu pun yang pintunya terbuka, seolah-olah para penghuninya telah mengunci diri demi menghindari tamu malam yang tak diinginkan. Begitu sunyinya, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar, menciptakan vakum suara yang menyesakkan dada.
Sehingga detak jantung pemuda itu terdengar begitu keras, berdentum-dentum di rongga dadanya layaknya genderang perang. Tiba–tiba ia menghentikan laju mobilnya. Suasana mendadak berubah. Cuping hidungnya kembang kempis mencium bau kayu putih yang santer menggelitik, namun aroma itu tidak terasa menyegarkan; melainkan tajam dan memuakkan, seperti bau balsam yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
Prakoso menoleh ke samping kirinya. Di sana, sebuah pedataran yang tidak begitu luas dan tinggi tampak terpampang dengan jelasnya. Ratusan pohon berjajar bagai kaki–kaki iblis yang tengah mengepung menunggu, menyergap mangsa. Batang-batang pohon kayu putih yang pucat itu terlihat seperti tulang-belulang raksasa yang mencuat dari perut bumi dalam keremangan.
Lalu ia tepikan mobilnya ke pinggir jalan. Perasaannya tiba–tiba takut dan ngeri, sebuah insting purba yang memperingatkannya untuk segera berbalik arah. Beberapa kali pemuda ini mengusap bulu tengkuknya yang meremang. Suasana itu begitu menekan, entah mengapa ia merasa ada beratus–ratus pasang mata mengawasi segala gerak–geriknya dari balik rapatnya pepohonan. Hutan itu seolah bernapas, lambat dan berat.
Perlahan ia raih kotak hitam yang diletakkan di sebelah kursi kemudinya, lalu digenggam dengan tangan kiri. Begitu jari-jemarinya menyentuh permukaan kayu hitam itu, hawa dingin merembes melalui pori–pori telapak tangan Prakoso. Dingin yang tidak wajar, seolah ia sedang menggenggam sebongkah es dari neraka yang paling dalam. Akan tetapi, hawa dingin itu hanya saat saja dan kemudian kembali normal seperti semula, meninggalkan rasa kebas yang aneh.
Berkali–kali Prakoso menarik nafas panjang, yang ditunggunya belum juga menampakkan diri. Ia mulai khawatir, hatinya bertanya–tanya. Sebenarnya ia menunggu siapa? Teman juragan Dargokah? Mengapa tidak langsung ke rumahnya? Mengapa ia harus menunggu malam–malam buta di tepi jalan bukit seperti ini? Pertanyaan itu berkecamuk tanpa satu pun yang terjawab, berputar-putar di kepalanya bagaikan gasing yang tak kunjung berhenti.
Prakoso menurunkan jendela mobil di sampingnya, udara dingin sontak menyerbu masuk ke dalam mobil, membawa serta aroma hutan yang lembap. Nafasnya lesu, bercampur kuatir. Matanya kembali melihat ke arah perempatan jalan yang sunyi lengang tidak berapa jauh di hadapannya. Di sana, berdiri tiang lampu lalu lintas yang tampak seperti totem kesepian. Lampu lalu lintas di perempatan jalan itu, tampak menyala hijau. Lalu merah, kuning, hijau lagi. Siklus warna yang monoton itu terasa sangat surealis di tengah hutan yang mati.
Entah sudah yang keberapa puluh kali semenjak Prakoso duduk menunggu di dalam mobil. Berselimut kegelapan malam yang dingin berkabut, waktu seolah berhenti berputar. Terkadang, pergantian nyala lampu lalu lintas itu tampak seperti mengejek. Dan menyuruhnya untuk segera angkat kaki dari tepi jalan itu.
"Bodoh!" suatu saat lampu lalu lintas itu seakan berkata sinis dalam imajinasi liarnya yang mulai terganggu oleh rasa takut. "Percaya kepada igauan orang menjelang sakaratul maut!" bisikan itu seolah bergema dari sudut-sudut kabin mobil yang gelap.
Tangan Prakoso pun terulur ke arah kunci kontak, ingin segera memutar mesin dan pergi dari tempat terkutuk itu. Tetapi segera ditarik mundur kembali, terhalang oleh rasa hormat dan janji terakhirnya pada almarhum.
"Sebentar lagi saja," ia bergumam memutuskan, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Sudah kepalang tanggung, wasiat juragan Dargo tentu bukan main-main.......!"
Lalu kotak hitam diletakkan di dashboard mobil, memantulkan sedikit sisa cahaya dari luar. Tangannya merogoh saku kemeja hitam yang dikenakannya. Membuka dan mengeluarkan sebungkus rokok. Disulut sebatang sambil matanya tak lepas mengawasi perempatan jalan di hadapannya. Asap rokoknya mengepul, menggantung statis di udara kabin yang dingin. Tangan kirinya lalu meraih kotak yang tadi diletakkan di dashboard mobil untuk kemudian menggenggamnya lagi dengan tangan kiri. Perasaan ragu kembali menyerang. Mata yang mau tidak mau akhirnya menerawang juga. Ragu-ragu. Igauan orang yang sedang sekarat?! Apakah dia sedang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebuah mimpi buruk seorang lelaki tua?
Sebatang lagi rokok habis sudah. Prakoso menekan puntung rokoknya sampai mati di asbak pada dashboard mobil, mematikan api yang menjadi satu-satunya sumber kehangatan.
Sembari menggerutu tak sabar. "Setan, siapakah gerangan orang pemilik kotak laknat ini?!"
Tepat di ujung gerutuan Prakoso, kabut tipis pada sisi kiri perempatan jalan mendadak terkuak perlahan-lahan, seolah-olah ada tirai gaib yang disingkapkan oleh tangan raksasa. Bersama mengaburnya kabut tampaklah di sana sesosok tubuh tinggi besar. Berpakaian warna gelap seperti mantel panjang yang bagian atasnya menutupi kepala. Sosok itu tidak bergerak, tegak diam bagai patung penunggu jalan mengawasi ke arah Prakoso yang duduk menunggu di belakang kemudi mobil.
Lalu perlahan–lahan orang bermantel hitam panjang itu berjalan menghampiri ke arah mobil Prakoso. Langkahnya lurus ke arah Prakoso menunggu. Langkah-langkah yang tampak ringan, tanpa suara gesekan kaki di atas aspal, seolah ia melayang tipis di atas permukaan bumi. Tenang dan teratur.
Dan keanehan mulai terjadi. Di setiap langkah yang ia lakukan, secara aneh lampu–lampu penerang jalan di sekitarnya padam dengan sendirinya. Satu per satu lampu mati, menciptakan gelombang kegelapan yang mengikuti pergerakan sosok itu. Dan kini sosok itu lebih menyerupai sebuah bayangan yang ditelan malam hitam dan berkabut, hanya menyisakan bentuk siluet yang semakin lama semakin membesar.
Detak jantung Prakoso menyentak–nyentak, tangannya tiba–tiba gemetaran. Dingin di tangannya kini berubah menjadi getaran yang hebat. Ketakutan yang seketika dialami oleh Prakoso terasa begitu kuat. Mengalahkan perasaan terkejut serta takut yang muncul pada waktu bersamaan. Ia ingin berteriak, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Dengan jantung berdebar ia balik mengawasi. Sosok gelap tidak berapa jauh lagi di hadapannya tampak semakin misterius dan terkesan angker. Aura maut terpancar kuat dari balik jubah hitam itu.
Apa yang kemudian dilakukan Prakoso adalah menurunkan kaca jendela mobil di sebelah kanannya agar lebih turun lagi meski dengan jari jemari gemetaran, sebuah tindakan pasrah yang didorong oleh rasa takut yang luar biasa. Lalu menunggu dengan jantung yang kian berdebar-debar.
Setiba di sebelah kanan mobil, sosok gelap bermantel panjang itu membungkuk dengan sikap tenang. Wajahnya tertutup bayangan jubah yang pekat, tak ada cahaya yang bisa menembus masuk ke sana.
Lalu bergumam, "Mana titipan barangku, cepat berikan..............!" Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia, melainkan suara gesekan batu nisan yang berat.
Prakoso dibuat tersentak. Seluruh sarafnya berteriak untuk lari, namun tubuhnya kaku. Lalu dengan gemetaran diangsurkan kotak hitam yang ada di genggaman tangan kirinya. Si jubah hitam menyambut lalu memperhatikan kotak hitam yang kini telah berada di tangannya itu. Jari-jemarinya yang tertutup sarung tangan hitam—atau mungkin memang kulitnya yang sehitam itu—mengelus permukaan kotak dengan mesra. Si jubah hitam menyeringai puas dari balik kerudung hitamnya.
“Bagus kau mengantarkan milikku ini dengan sempurna tanpa cacat dan cela. Dan sekarang aku akan memberikan imbalan karena hasil kerjamu ini sangat bagus Prakoso,” ucapnya dengan nada yang bergetar aneh.
Prakoso kembali dibuat tersentak, karena sesosok misterius di sebelah mobilnya itu tahu namanya. Bagaimana makhluk itu bisa tahu? Si jubah hitam tampak merogoh sesuatu dari balik jubah hitamnya. Suasana mendadak menjadi terang oleh cahaya yang ganjil. Tidak lama kemudian di genggaman tangannya terlihat sebuah apel. Apel itu berpendar–pendar kuning menyilaukan mata, menerangi wajah Prakoso yang pucat pasi.
“Kau tahu ini apa Prakoso?” jubah hitam bertanya sembari memutar–mutar apel berwarna keemasan itu dalam genggaman tangannya. Cahayanya memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan kuning yang menari-nari.
“Itu buah apel, tapi mengapa warnanya kuning keemasan?” Prakoso terheran–heran.
Keindahan benda itu hampir saja melenyapkan rasa takutnya sejenak.
Si jubah hitam menyeringai dari balik kerudungnya, “Ini apel emas! Harapanmu bisa terkabul dengan memiliki apel ini. Kau ingin harta, kau ingin kekayaan, kekuasaan dan wanita? Semua bisa dipenuhi jika kau memiliki benda ini.”
Tawarannya begitu menggoda, seperti bisikan iblis yang menjanjikan dunia.
“Aku berikan kepadamu secara cuma–cuma tanpa syarat apalagi imbal balik.”
Suara itu terdengar berat dan serak namun berkesan lembut, membelai batin Prakoso yang selama ini hidup dalam kemiskinan sebagai pembantu. Ingin rasanya Prakoso mengiyakan dan menerima apel emas itu.
Tangannya nyaris bergerak maju, akan tetapi, sontak Prakoso ingat pesan mendiang juragan Dargo, “Jangan terima barang apa pun yang akan diberikannya, meskipun itu gratis!” Suara Dargo terngiang jelas, seperti peringatan dari alam kubur.
“Aku tidak butuh itu semua, tugasku sudah selesai. Kotak hitam itu sekarang sudah kembali ke pemiliknya. Dan aku harus segera pergi,” jawab Prakoso dengan tegas, meskipun hatinya berdegup kencang karena menolak tawaran menggiurkan tersebut.
Mendengar penolakan itu, suasana berubah drastis. Mata di balik kerudung itu melotot merah saga tanpa Prakoso mengetahui. Hawa panas tiba-tiba menyengat udara. Lalu tiba–tiba si jubah hitam mendekatkan wajahnya ke bagian luar jendela mobil yang terbuka. Seolah disengaja supaya Prakoso dapat melihat jelas wajahnya!
Dan wajah si jubah hitam benar-benar menimbulkan getaran teramat kuat di dalam batin Prakoso. Sekaligus juga mengejutkan. Karena wajah orang berjubah hitam di luar jendela mobil itu sukar dijelaskan! Itu bukan wajah manusia, melainkan mimpi buruk yang mewujud. Di bagian bawah mantel yang menutupi kepala sampai batas dahi, terlihatlah kulit wajah berwarna hijau mencolok, kulit bersisik-sisik kasar seperti kulit ular atau kadal purba.
Lebih menakjubkan lagi, adalah sepasang mata. Didominasi warna kuning, titik mata topeng berwarna merah darah, sinar merah darah itu memiliki aura yang luar biasa, seolah bisa menyedot jiwa siapa pun yang menatapnya. Selama sepersekian detik, denyutan jantung Prakoso sempat terhenti karenanya. Prakoso menahan nafas.
Namun, kengerian itu berubah menjadi pesona yang gelap. Entah darimana datangnya ada suatu keinginan dan dorongan sangat kuat pada diri Prakoso untuk memiliki topeng itu. Ia merasa wajah bersisik itu adalah sebuah mahakarya kejahatan yang indah.
"Kau diam saja Prakoso?" teguran itu membuyarkan lamunannya.
Teguran itu menyadarkan Prakoso. Berjuang keras menguasai diri sebentar kemudian bibirnya membuka juga. Dengan suara yang takut-takut, ia berbisik, "Kau mengenakan topeng yang aneh dan unik kisanak?"
Orang berjubah hitam itu menyeringai. Seringai licik yang menunjukkan bahwa umpannya telah dimakan. “Apakah kau menyukainya Prakoso?”
Prakoso tanpa sadar mengangguk. Matanya terpaku pada detail sisik-sisik hijau tersebut. Ia sama sekali lupa dengan nasehat yang dikatakan oleh mendiang juragan Dargo: “jangan terima barang apa pun!” Peringatan itu tenggelam oleh hasrat aneh yang merasuki jiwanya.
“Ini topeng milik pribadi, tidak untuk diberikan kepada siapa pun juga. Kalaupun kau membelinya, aku juga tidak akan melepas kepadamu...” suara mirip bisikan itu berlagak jual mahal, seolah ingin semakin membakar keinginan Prakoso.
Prakoso setengah memaksa, seperti anak kecil yang merengek meminta mainan terlarang. “Aku mau yang itu saja. Bukankah kau akan memberiku imbal jasa atas hasil kerjaku? Menyerahkan kotak itu dalam keadaan yang baik dan tanpa cela?”
Si jubah hitam terdiam sejenak, menciptakan ketegangan yang menyesakkan di antara mereka. Lalu detik berikutnya suara serak dari balik kerudung hitam itu terdengar. “Jika itu keinginanmu, baiklah...”
Si jubah hitam kemudian menegakkan tubuhnya, bayangannya menutupi seluruh kabin mobil. Sehingga ketika ia tanggalkan topeng itu, Prakoso tidak dapat melihat prosesnya dengan jelas. Namun, yang terjadi selanjutnya sangatlah mengerikan. Topengnya dibuka tidak dengan cara yang umum: melepas pengait atau tali karet pengikat. Melainkan dibuka dengan cara seperti merobek. Suara kulit yang koyak dan robek terdengar nyata di telinga Prakoso
breettt... sreeettt...
Dimulai dari bawah dagu, sampai seluruhnya melepas hingga ke tepi bawah rambut.
Dan, di bekas topeng itu tadinya melekat, tidak tampak apa pun juga! Tidak ada sepotong wajah. Tidak ada tengkorak, tidak ada otot, tidak ada darah. Dari rambut sampai ke batang leher, yang tampak hanyalah ruang kosong dan hitam, sebuah lubang hampa yang seolah-olah menuju ke dimensi lain.
Prakoso yang menunggu tak sabar, akhirnya mendapatkan topeng yang ia inginkan. Makhluk itu mengangsurkan benda hijau bersisik itu ke dalam mobil. Ia tidak merasa perlu menyalakan lampu dalam mobil, sebab sinar pada wajah topeng sudah cukup untuk memperlihatkan wujudnya yang mendebarkan jantung. Prakoso meraba–raba sebentar, merasakan tekstur kasar dan dingin dari benda itu.
Prakoso lantas keheranan. “Tidak ada pengait telinga atau tali pengikat?” tanyanya bingung sambil membolak-balik benda itu.
Tetap berdiri tegak di luar mobil, si jubah hitam memperdengarkan suara ganjilnya yang meyakinkan. “Itu topeng langka. Ia akan melekat bahkan menyatu sendiri dengan wajahmu. Bila tidak kau tidak percaya, silakan dicoba...”
Suatu dorongan gaib menghilangkan keragu–raguan Prakoso. Akal sehatnya telah lumpuh. Topeng misterius itu dengan hati–hati ia tempelkan ke wajahnya. Dinginnya topeng itu terasa seperti pelukan maut yang akrab. Tanpa mengetahui bahwa dari ruang kosong di bagian kepala si jubah hitam di luar mobil, tiba–tiba meliuk keluar sinar merah yang aneh. Sinar itu seperti lidah ular yang terbuat dari energi gelap. Dan sinar merah itu melesat sangat cepat. Meliuk-liuk liar di sepanjang sisi topeng yang tengah dikenakan oleh Prakoso, menjahitkan nasib baru pada kulit wajah sang pemuda.
Begitu kedua tangan Prakoso turun dari wajah, sinar merah misterius tersebut berhenti meliuk. Kemudian lenyap hilang entah ke mana. Topeng itu kini terasa ringan, seolah-olah ia tidak memakai apa pun.
“Hem!” Prakoso mendengus senang. “Benar–benar pas. Dan nyaman dipakai!” ia merasa memiliki kekuatan baru, sebuah kepercayaan diri yang gelap.
Namun, tidak ada sahutan. Tak terdengar adanya jawaban. Kesunyian kembali mencekam. Prakoso menoleh ke luar jendela mobil.
Lantas dengan mulut ternganga dan mata membelalak, Prakoso menatap tidak percaya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat ke luar jendela. Tidak ada sosok tubuh di luar jendela mobilnya. Makhluk tinggi besar berjubah hitam itu lenyap seolah-olah tidak pernah ada. Belum yakin, ia memutarkan pandang ke kiri, ke muka, ke belakang lalu kembali ke arah semula. Sama saja. Tak ada siapa-siapa.
Yang ada hanya semilir angin malam dan kabut yang berbondong–bondong turun dari puncak bukit kecil, menyelimuti mobilnya dalam keputihan yang dingin. Serta suara sepi yang terasa mencekam, begitu sunyi sampai-sampai ia bisa mendengar suara aliran darahnya sendiri. Prakoso tersedak, oksigen seolah hilang dari paru-parunya.
Pada saat itulah perasaan takut yang tadi sempat sirna sekejap dengan tiba–tiba menghinggapi dirinya kembali dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Kesadaran akan apa yang baru saja ia lakukan menghantam kepalanya. Ia telah melanggar janji. Ia telah menerima sesuatu dari "penjemput" maut.
Tanpa berpikir panjang lagi dengan tangan serta kaki bergemetar, rem tangan mobil ia turunkan. Ia ingin lari dari tempat itu, lari dari bayang-bayang pepohonan kayu putih. Pedal kopling serta gas dioperasikan pada waktu bersamaan dengan kasar.
Mobil itu pun seketika terlonjak ke depan dengan sentakan mengejutkan, ban mobil menjerit di atas aspal. Prakoso langsung tancap gas dan ngebut seperti orang kesurupan, melesat membelah kabit malam, tanpa menyadari bahwa apa yang melekat di wajahnya kini bukan lagi sekadar topeng, melainkan kutukan yang telah mulai menyatu dengan jiwanya.
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 22:23
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas