- Beranda
- Stories from the Heart
TOPENG WARISAN SETAN
...
TS
breaking182
TOPENG WARISAN SETAN
TOPENG WARISAN SETAN

PROLOG
Quote:
Di atas langit sana, rembulan begitu pucat. Di sekeliling, kegelapan begitu hitam pekat melingkupi permukaan bumi. Kesunyian yang tadi menyergap mulai terusik dengan suara semak belukar dan rumput kering yang tersibak langkah –langkah kaki yang berlari dengan terburu –buru dan membabi buta. Lewat cahaya bulan pucat yang merembes terlihatlah seorang lelaki berpakaian serba gelap berlari seperti dikejar setan. Dalam kegelapan malam.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Diubah oleh breaking182 05-03-2021 17:08
tet762 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
18.3K
Kutip
66
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#3
PART 3
Quote:
Udara malam ini terasa begitu dingin. Saat itu angin bertiup kencang. Sedangkan langit tertutup awan hitam yang tebal menggumpal, membuat malam semakin bertambah kelam. Sedikit pun tak ada cahaya bintang maupun bulan yang mampu menerangi. Bahkan lampu –lampu penerang jalan seperti tidak mampu menyibak pekatnya malam. Namun, dinginnya malam ini, tidak membuat Prakoso lupa akan wasiat mendiang juragan Dargo sang majikan.
Pemuda itu menyusuri jalanan yang mulai lengang dengan mobil sedan warisan sang majikan. Dia mengemudiakan mobil perlahan-lahan sambil matanya mengawasi sekeliling. Menurut informasi yang ia dapatkan Bukit Kayu Putih tidak jauh lagi dari tempatnya sekarang. Mobil itu begitu ringan merayap di jalanan aspal. Semua rumah yang berdiri di bawah lereng berjajar di kiri dan kanan jalan tampak membisu, tak ada satu pun yang pintunya terbuka. Begitu sunyinya, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar.
Sehingga detak jantung pemuda itu terdengar begitu keras. Tiba –tiba ia menghentikan laju mobilnya. Cuping hidungnya kembang kempis mencium bau kayu putih yang santer menggelitik. Prakoso menoleh ke samping kirinya. Sebuah pedataran yang tidak begitu luas dan tinggi tampak terpampang dengan jelasnya. Ratusan pohon berjajar bagai kaki –kaki iblis yang tengah mengepung menunggu, menyergap mangsa.
Lalu ia tepikan mobilnya ke pinggir jalan. Perasaannya tiba –tiba takut dan ngeri. Beberapa kali pemuda ini mengusap bulu tengkuknya yang meremang. Entah mengapa ia merasa ada beratus –ratus pasang mata mengawasi segala gerak –geriknya dari balik rapatnya pepohonan. Perlahan ia raih kotak hitam yang diletakkan di sebelah kursi kemudinya, lalu digenggam dengan tangan kiri. Hawa dingin merembes melalu pori –pori telapak tangan Prakoso. Akan tetapi, hawa dingin itu hanya saat saja dan kemudian kembali normal seperti semula.
Berkali –kali Prakoso menarik nafas panjang, yang ditunggunya belum juga menampakkan diri. Ia mulai khawatir, hatinya bertanya –tanya. Sebenarnya ia menunggu siapa? Teman juragan Dargo kah? Mengapa tidak langsung ke rumahnya? Mengapa ia harus menunggu malam –malam buta di tepi jalan bukit seperti ini? Pertanyaan itu berkecamuk tanpa satupun yang terjawab.
Pemuda itu menyusuri jalanan yang mulai lengang dengan mobil sedan warisan sang majikan. Dia mengemudiakan mobil perlahan-lahan sambil matanya mengawasi sekeliling. Menurut informasi yang ia dapatkan Bukit Kayu Putih tidak jauh lagi dari tempatnya sekarang. Mobil itu begitu ringan merayap di jalanan aspal. Semua rumah yang berdiri di bawah lereng berjajar di kiri dan kanan jalan tampak membisu, tak ada satu pun yang pintunya terbuka. Begitu sunyinya, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar.
Sehingga detak jantung pemuda itu terdengar begitu keras. Tiba –tiba ia menghentikan laju mobilnya. Cuping hidungnya kembang kempis mencium bau kayu putih yang santer menggelitik. Prakoso menoleh ke samping kirinya. Sebuah pedataran yang tidak begitu luas dan tinggi tampak terpampang dengan jelasnya. Ratusan pohon berjajar bagai kaki –kaki iblis yang tengah mengepung menunggu, menyergap mangsa.
Lalu ia tepikan mobilnya ke pinggir jalan. Perasaannya tiba –tiba takut dan ngeri. Beberapa kali pemuda ini mengusap bulu tengkuknya yang meremang. Entah mengapa ia merasa ada beratus –ratus pasang mata mengawasi segala gerak –geriknya dari balik rapatnya pepohonan. Perlahan ia raih kotak hitam yang diletakkan di sebelah kursi kemudinya, lalu digenggam dengan tangan kiri. Hawa dingin merembes melalu pori –pori telapak tangan Prakoso. Akan tetapi, hawa dingin itu hanya saat saja dan kemudian kembali normal seperti semula.
Berkali –kali Prakoso menarik nafas panjang, yang ditunggunya belum juga menampakkan diri. Ia mulai khawatir, hatinya bertanya –tanya. Sebenarnya ia menunggu siapa? Teman juragan Dargo kah? Mengapa tidak langsung ke rumahnya? Mengapa ia harus menunggu malam –malam buta di tepi jalan bukit seperti ini? Pertanyaan itu berkecamuk tanpa satupun yang terjawab.
Quote:
Prakoso menurunkan jendela mobil di sampingnya, udara dingin sontak menyerbu masuk ke dalam mobil. Nafasnya lesu,bercampur kuatir. Matanya kembali melihat ke arah perempatan jalan yang sunyi lengang tidak berapa jauh di hadapannya. Lampu lalu lintas di perempatan jalan itu, tampak menyala hijau. Lalu merah, kuning, hijau lagi.
Entah sudah yang keberapa puluh kali semenjak Prakoso duduk menunggu di dalam mobil. Berselimut kegelapan malam yang dingin berkabut. Terkadang, pergantian nyala lampu lalulintas itu tampak seperti mengejek. Dan menyuruhnya untuk segara angkat kaki dari tepi jalan itu.
"Bodoh!" suatu saat lampu lalu lintas itu seakan berkata sinis.
"Percaya kepada igauan orang menjelang sakaratul maut !"
Tangan Prakoso pun terulur ke arah kunci kontak. Tetapi segera ditarik mundur kembali.
"Sebentar lagi saja", ia bergumam memutuskan.
"Sudah kepalang tanggung, wasiat juragan Dargo tentu bukan main -main.......!"
Lalu kotak hitam diletakkan di dashboard mobil. Tangannya merogoh saku kemeja hitam yang dikenakannya. Membuka dan mengeluarkan sebungkus rokok. Disulut sebatang sambil matanya tak lepas mengawasi perempatan jalan di hadapannya. Tangan kirinya lalu meraih kotak yang tadi diletakkan di dashboard mobil untuk kemudian menggenggamnya lagi dengan tangan kiri. Mata yang mau tidak mau akhirnya menerawang juga. Ragu-ragu. Igauan orang yang sedang sekarat?!
Sebatang lagi rokok habis sudah. Prakoso menekan puntung rokoknya sampai mati di asbak pada dashboard mobil. Sembari menggerutu tak sabar.
"Setan, siapakah gerangan orang pemilik kotak laknat ini ?!"
Di ujung gerutuan Prakoso kabut tipis pada sisi kiri perempatan jalan mendadak terkuak perlahan-lahan. Bersama mengaburnya kabut tampaklah di sana sesosok tubuh tinggi besar. Berpakaian warna gelap seperti mantel panjang yang bagian atasnya menutupi kepala. Tegak diam bagai patung penunggu jalan mengawasi ke arah Prakoso yang duduk menunggu di belakang kemudi mobil. Lalu perlahan –lahan orang bermantel hitam panjang itu berjalan menghampiri ke arah mobil Prakoso. Langkahnya lurus ke arah Prakoso menunggu.
Langkah-langkah yang tampak ringan. Tenang dan teratur. Dan di setiap langkah yang ia lakukan, secara aneh lampu –pampu penerang jalan di sekitarnya padam dengan sendirinya. Dan kini sosok itu lebih menyerupai sebuah bayangan yang ditelan malam hitam dan berkabut.
Detak jantung Prakoso menyentak –nyentak, tangannya tiba –tiba gemetaran. Ketakutan yang seketika dialami oleh Prakoso terasa begitu kuat. Mengalahkan perasaan terkejut serta takut yang muncul pada waktu bersamaan. Dengan jantung berdebar ia balik mengawsi. Sosok gelap tidak berapa jauh lagi di hadapannya tampak semakin misterius dan terkesan angker.
Apa yang kemudian dilakukan Prakoso adalah menurunkan kaca jendela mobil di sebelah kanannya agar lebih turun lagi meski dengan jari jemari gemetaran. Lalu menunggu dengan jantung yang kian berdebar-debar. Setiba di sebelah kanan mobil, sosok gelap bermantel panjang itu membungkuk dengan sikap tenang.
Lalu bergumam, " Mana titipan barang ku cepat berikan..............!"
Prakoso dibuat tersentak. Lalu dengan gemetaran diangsurkan kotak hitam yang ada di genggaman tangan kirinya. Si jubah hitam menyambut lalu memperhatikan kotak hitam yang kini telah berada di tangannya itu. Si jubah hitam menyeringai puas dari balik kerudung hitamnya.
“ Bagus kau mengantarkan milikku ini dengan sempurna tanpa cacat dan cela. Dan sekarang aku akan memberikan imbalan karena hasil kerja mu ini sangat bagus Prakoso “
Prakoso kembali dibuat tersentak, karena sesosok misterius di sebelah mobilnya itu tahu namanya. Si jubah hitam tampak merogoh sesuatu dari balik jubah hitamnya. Tidak lama kemudian di genggaman tangannya terlihat sebuah apel. Apel itu berpendar – pendar kuning menyilaukan mata.
“ Kau tahu ini apa Prakoso ? “, jubah hitam bertanya sembari memutar – mutar apel berwarna keemasan itu dalam genggaman tangannya .
“ Itu buah apel, tapi mengapa warnanya kuning keemasan ? “
Prakoso terheran –heran.
Si jubah hitam menyeringai dari balik kerudungnya, “ Ini apel emas! Harapan mu bisa terkabul dengan memiliki apel ini. Kau ingin harta, kau ingin kekayaan, kekuasaan dan wanita? Semua bisa dipenuhi jika kau memiliki benda ini “
“ Aku berikan kepadamu secara cuma –cuma tanpa syarat apalagi imbal balik “
Suara itu terdengar berat dan serak namun berkesan lembut. Ingin rasanya Prakoso mengiyakan dan menerima apel emas itu. Akan tetapi, sontak Prakoso ingat pesan mendiang juragan Dargo , “ Jangan terima barang apapun yang akan diberikannya, meskipun itu gratis ! “
“ Aku tidak butuh itu semua, tugasku sudah selesai. Kotak hitam itu sekarang sudah kembali ke pemiliknya. Dan aku harus segera pergi “
Mata dibalik kerudung itu melotot merah saga tanpa Prakoso mengetahui. Lalu tiba –tiba si jubah hitam mendekatkan wajahnya ke bagian luar jendela mobil yang terbuka. Seolah disengaja supaya Prakoso dapat melihat jelas wajahnya!
Entah sudah yang keberapa puluh kali semenjak Prakoso duduk menunggu di dalam mobil. Berselimut kegelapan malam yang dingin berkabut. Terkadang, pergantian nyala lampu lalulintas itu tampak seperti mengejek. Dan menyuruhnya untuk segara angkat kaki dari tepi jalan itu.
"Bodoh!" suatu saat lampu lalu lintas itu seakan berkata sinis.
"Percaya kepada igauan orang menjelang sakaratul maut !"
Tangan Prakoso pun terulur ke arah kunci kontak. Tetapi segera ditarik mundur kembali.
"Sebentar lagi saja", ia bergumam memutuskan.
"Sudah kepalang tanggung, wasiat juragan Dargo tentu bukan main -main.......!"
Lalu kotak hitam diletakkan di dashboard mobil. Tangannya merogoh saku kemeja hitam yang dikenakannya. Membuka dan mengeluarkan sebungkus rokok. Disulut sebatang sambil matanya tak lepas mengawasi perempatan jalan di hadapannya. Tangan kirinya lalu meraih kotak yang tadi diletakkan di dashboard mobil untuk kemudian menggenggamnya lagi dengan tangan kiri. Mata yang mau tidak mau akhirnya menerawang juga. Ragu-ragu. Igauan orang yang sedang sekarat?!
Sebatang lagi rokok habis sudah. Prakoso menekan puntung rokoknya sampai mati di asbak pada dashboard mobil. Sembari menggerutu tak sabar.
"Setan, siapakah gerangan orang pemilik kotak laknat ini ?!"
Di ujung gerutuan Prakoso kabut tipis pada sisi kiri perempatan jalan mendadak terkuak perlahan-lahan. Bersama mengaburnya kabut tampaklah di sana sesosok tubuh tinggi besar. Berpakaian warna gelap seperti mantel panjang yang bagian atasnya menutupi kepala. Tegak diam bagai patung penunggu jalan mengawasi ke arah Prakoso yang duduk menunggu di belakang kemudi mobil. Lalu perlahan –lahan orang bermantel hitam panjang itu berjalan menghampiri ke arah mobil Prakoso. Langkahnya lurus ke arah Prakoso menunggu.
Langkah-langkah yang tampak ringan. Tenang dan teratur. Dan di setiap langkah yang ia lakukan, secara aneh lampu –pampu penerang jalan di sekitarnya padam dengan sendirinya. Dan kini sosok itu lebih menyerupai sebuah bayangan yang ditelan malam hitam dan berkabut.
Detak jantung Prakoso menyentak –nyentak, tangannya tiba –tiba gemetaran. Ketakutan yang seketika dialami oleh Prakoso terasa begitu kuat. Mengalahkan perasaan terkejut serta takut yang muncul pada waktu bersamaan. Dengan jantung berdebar ia balik mengawsi. Sosok gelap tidak berapa jauh lagi di hadapannya tampak semakin misterius dan terkesan angker.
Apa yang kemudian dilakukan Prakoso adalah menurunkan kaca jendela mobil di sebelah kanannya agar lebih turun lagi meski dengan jari jemari gemetaran. Lalu menunggu dengan jantung yang kian berdebar-debar. Setiba di sebelah kanan mobil, sosok gelap bermantel panjang itu membungkuk dengan sikap tenang.
Lalu bergumam, " Mana titipan barang ku cepat berikan..............!"
Prakoso dibuat tersentak. Lalu dengan gemetaran diangsurkan kotak hitam yang ada di genggaman tangan kirinya. Si jubah hitam menyambut lalu memperhatikan kotak hitam yang kini telah berada di tangannya itu. Si jubah hitam menyeringai puas dari balik kerudung hitamnya.
“ Bagus kau mengantarkan milikku ini dengan sempurna tanpa cacat dan cela. Dan sekarang aku akan memberikan imbalan karena hasil kerja mu ini sangat bagus Prakoso “
Prakoso kembali dibuat tersentak, karena sesosok misterius di sebelah mobilnya itu tahu namanya. Si jubah hitam tampak merogoh sesuatu dari balik jubah hitamnya. Tidak lama kemudian di genggaman tangannya terlihat sebuah apel. Apel itu berpendar – pendar kuning menyilaukan mata.
“ Kau tahu ini apa Prakoso ? “, jubah hitam bertanya sembari memutar – mutar apel berwarna keemasan itu dalam genggaman tangannya .
“ Itu buah apel, tapi mengapa warnanya kuning keemasan ? “
Prakoso terheran –heran.
Si jubah hitam menyeringai dari balik kerudungnya, “ Ini apel emas! Harapan mu bisa terkabul dengan memiliki apel ini. Kau ingin harta, kau ingin kekayaan, kekuasaan dan wanita? Semua bisa dipenuhi jika kau memiliki benda ini “
“ Aku berikan kepadamu secara cuma –cuma tanpa syarat apalagi imbal balik “
Suara itu terdengar berat dan serak namun berkesan lembut. Ingin rasanya Prakoso mengiyakan dan menerima apel emas itu. Akan tetapi, sontak Prakoso ingat pesan mendiang juragan Dargo , “ Jangan terima barang apapun yang akan diberikannya, meskipun itu gratis ! “
“ Aku tidak butuh itu semua, tugasku sudah selesai. Kotak hitam itu sekarang sudah kembali ke pemiliknya. Dan aku harus segera pergi “
Mata dibalik kerudung itu melotot merah saga tanpa Prakoso mengetahui. Lalu tiba –tiba si jubah hitam mendekatkan wajahnya ke bagian luar jendela mobil yang terbuka. Seolah disengaja supaya Prakoso dapat melihat jelas wajahnya!
Quote:
Dan wajah si jubah hitam benar-benar menimbulkan getaran teramat kuat di dalam batin Prakoso. Sekaligus juga mengejutkan. Karena wajah orang berjubah hitam di luar jendela mobil itu sukar dijelaskan! Di bagian bawah mantel yang menutupi kepala sampai batas dahi. Terlihatlah kulit wajah berwarna hijau mencolok, kulit bersisik-sisik kasar. Lebih menakjubkan lagi, adalah sepasang mata. Didominasi warna kuning, titik mata topeng berwarna merah darah, sinar merah darah itu memiliki aura yang luar biasa. Selama sepersekian detik, denyutan jantung Prakoso sempat terhenti karenanya. Prakoso menahan nafas. Entah darimana datangnya ada suatu keinginan dan dorongan sangat kuat pada diri Prakoso untuk memiliki topeng itu.
"Kau diam saja Prakoso?"
Teguran itu menyadarkan Prakoso. Berjuang keras menguasai diri sebentar kemudian bibirnya membuka juga. Takut-takut, " Kau mengenakan topeng yang aneh dan unik kisanak? “
Orang berjubah hitam itu menyeringai. Seringai licik.
“ Apakah kau menyukainya Prakoso? “
Prakoso tanpa sadar mengangguk. Ia sama sekali lupa dengan nasehat yang dikatakan oleh mendiang juragan Dargo : “ jangan terima barang apa pun ! “
“Ini topeng milik pribadi, tidak untuk diberikan kepada siapun juga. Kalaupun kau membelinya, aku juga tidak akan melepas kepadamu...” suara mirip bisikan itu berlagak jual mahal.
Prakoso setangah memaksa. “Aku mau yang itu saja. Bukankah kau akan memberiku imbal jasa atas hasil kerja ku? Menyerahkan kotak itu dalam keadaan yang baik dan tanpa cela? “
Si jubah hitam terdiam sejenak. Lalu detik berikutnya suara serak dari balik kerudung hitam itu terdengar.
“Jika itu keinginan mu, baiklah...”
Si jubah hitam kemudian menegakkan tubuhnya , sehingga ketika ia tanggalkan topeng itu. Prakoso tidak dapat melihat. Topengnya, dibuka tidak dengan cara yang umum: melepas pengait atau tali karet pengikat. Melainkan dibuka dengan cara seperti merobek. Dimulai dari bawah dagu, sampai seluruhnya melepas hingga ke tepi bawah rambut. Dan, di bekas topeng itu tadinya melekat, tidak tampak apapun juga! Tidak ada sepotong wajah. Dari rambut sampai ke batang leher, yang tampak hanyalah ruang kosong dan hitam.
Prakoso yang menunggu tak sabar, akhirnya mendapatkan topeng yang ia inginkan, la tidak merasa perlu menyalakan lampu dalam mobil, sebab sinar pada wajah topeng sudah cukup untuk memperlihat kan wujudnya yang mendebarkan jantung. Meraba – raba sebentar.
Prakoso lantas keheran. “ Tidak ada pengait telinga atau tali pengikat?”
Tetap berdiri tegak di luar mobil, si jubah hitam memperdengarkan suara ganjilnya yang meyakinkan.
“Itu topeng langka. la akan melekat bahkan menyatu sendiri dengan wajah mu. Bila tidak kau tidak percaya, silahkan dicoba...”
Suatu dorongan gaib menghilangkan keragu – raguan Prakoso. Topeng misterius itu dengan hati – hati ia tempelkan ke wajahnya. Tanpa mengetahui bahwa dari ruang kosong di bagian kepala si jubah hitam di luar mobil, tiba – tiba meliuk keluar sinar merah yang aneh. Dan sinar merah itu melesat sangat cepat. Meliuk -liuk liar di sepanjang sisi topeng yang tengah dikenakan oleh Prakoso. Begitu kedua tangan Prakoso turun dari wajah, sinar merah misterius tersebut berhenti meliuk. Kemudian lenyap hilang entah kemana.
“Hem!” Prakoso mendengus senang. “Benar –benar pas. Dan nyaman dipakai!”
Tak terdengar adanya jawaban. Prakoso menoleh ke luar jendela mobil. Lantas dengan mulut ternganga dan mata membelalak, Prakoso menatap tidak percaya. Tidak ada sosok tubuh di luar jendela mobilnya. Belum yakin, ia memutarkan pandang ke kiri, ke muka, ke belakang lalu kembali ke arah semula. Sama saja. Tak ada siapa-siapa. Yang ada hanya semilir angin malam dan kabut yang berbondong –bondong turun dari puncak bukit kecil. Serta suara sepi yang terasa mencekam. Prakoso tersedak.
Pada saat itulah perasaan takut yang tadi sempat sirna sekejap dengan tiba – tiba menghinggapi dirinya. Tanpa berpikir panjang lagi dengan tangan serta kaki bergemetar, rem tangan mobil ia turunkan. Pedal kopling serta gas dioperasi kan pada waktu bersamaan. Mobil itu pun seketika terlonjak ke depan dengan sentakan mengejutkan. Prakoso langsung tancap gas dan ngebut seperti orang kesurupan.
"Kau diam saja Prakoso?"
Teguran itu menyadarkan Prakoso. Berjuang keras menguasai diri sebentar kemudian bibirnya membuka juga. Takut-takut, " Kau mengenakan topeng yang aneh dan unik kisanak? “
Orang berjubah hitam itu menyeringai. Seringai licik.
“ Apakah kau menyukainya Prakoso? “
Prakoso tanpa sadar mengangguk. Ia sama sekali lupa dengan nasehat yang dikatakan oleh mendiang juragan Dargo : “ jangan terima barang apa pun ! “
“Ini topeng milik pribadi, tidak untuk diberikan kepada siapun juga. Kalaupun kau membelinya, aku juga tidak akan melepas kepadamu...” suara mirip bisikan itu berlagak jual mahal.
Prakoso setangah memaksa. “Aku mau yang itu saja. Bukankah kau akan memberiku imbal jasa atas hasil kerja ku? Menyerahkan kotak itu dalam keadaan yang baik dan tanpa cela? “
Si jubah hitam terdiam sejenak. Lalu detik berikutnya suara serak dari balik kerudung hitam itu terdengar.
“Jika itu keinginan mu, baiklah...”
Si jubah hitam kemudian menegakkan tubuhnya , sehingga ketika ia tanggalkan topeng itu. Prakoso tidak dapat melihat. Topengnya, dibuka tidak dengan cara yang umum: melepas pengait atau tali karet pengikat. Melainkan dibuka dengan cara seperti merobek. Dimulai dari bawah dagu, sampai seluruhnya melepas hingga ke tepi bawah rambut. Dan, di bekas topeng itu tadinya melekat, tidak tampak apapun juga! Tidak ada sepotong wajah. Dari rambut sampai ke batang leher, yang tampak hanyalah ruang kosong dan hitam.
Prakoso yang menunggu tak sabar, akhirnya mendapatkan topeng yang ia inginkan, la tidak merasa perlu menyalakan lampu dalam mobil, sebab sinar pada wajah topeng sudah cukup untuk memperlihat kan wujudnya yang mendebarkan jantung. Meraba – raba sebentar.
Prakoso lantas keheran. “ Tidak ada pengait telinga atau tali pengikat?”
Tetap berdiri tegak di luar mobil, si jubah hitam memperdengarkan suara ganjilnya yang meyakinkan.
“Itu topeng langka. la akan melekat bahkan menyatu sendiri dengan wajah mu. Bila tidak kau tidak percaya, silahkan dicoba...”
Suatu dorongan gaib menghilangkan keragu – raguan Prakoso. Topeng misterius itu dengan hati – hati ia tempelkan ke wajahnya. Tanpa mengetahui bahwa dari ruang kosong di bagian kepala si jubah hitam di luar mobil, tiba – tiba meliuk keluar sinar merah yang aneh. Dan sinar merah itu melesat sangat cepat. Meliuk -liuk liar di sepanjang sisi topeng yang tengah dikenakan oleh Prakoso. Begitu kedua tangan Prakoso turun dari wajah, sinar merah misterius tersebut berhenti meliuk. Kemudian lenyap hilang entah kemana.
“Hem!” Prakoso mendengus senang. “Benar –benar pas. Dan nyaman dipakai!”
Tak terdengar adanya jawaban. Prakoso menoleh ke luar jendela mobil. Lantas dengan mulut ternganga dan mata membelalak, Prakoso menatap tidak percaya. Tidak ada sosok tubuh di luar jendela mobilnya. Belum yakin, ia memutarkan pandang ke kiri, ke muka, ke belakang lalu kembali ke arah semula. Sama saja. Tak ada siapa-siapa. Yang ada hanya semilir angin malam dan kabut yang berbondong –bondong turun dari puncak bukit kecil. Serta suara sepi yang terasa mencekam. Prakoso tersedak.
Pada saat itulah perasaan takut yang tadi sempat sirna sekejap dengan tiba – tiba menghinggapi dirinya. Tanpa berpikir panjang lagi dengan tangan serta kaki bergemetar, rem tangan mobil ia turunkan. Pedal kopling serta gas dioperasi kan pada waktu bersamaan. Mobil itu pun seketika terlonjak ke depan dengan sentakan mengejutkan. Prakoso langsung tancap gas dan ngebut seperti orang kesurupan.
Diubah oleh breaking182 15-03-2019 10:09
MontanaRivera dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas