- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.8K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#2
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Spoiler for :
Hari terbit dengan cerah. Cahaya matahari bersinar dengan terang. Langit biru dihiasi awan putih kecil di sana-sini. Udara cukup hangat, tapi tidak sampai panas. Singkatnya, hari ini adalah hari yang sempurna untuk berpiknik bersama keluarga, bermain bola atau layangan, mendaki gunung, atau sekedar berjalan-jalan dengan orang terkasih.
Kecuali untuk jutaan zombie diluar sana. Kalau dipikir lagi, sebaiknya jangan piknik. Jangan sampai memberikan ide tersebut kepada para undead untuk melakukannya.
Sudah dua hari semenjak Chris benar-benar tewas. Dua hari semenjak Roger terkena gigitan.
Pria berbadan besar itu berada di salah satu ruangan editor, bermandikan keringat, meskipun tidak ada sumber panas satupun. Kaitlin Comeau, periang, bermata cerah, dan cukup cantik sedang duduk di sebelahnya, melakukan apapun yang ia bisa untuk membuat Roger tetap merasa nyaman, yang secara kasar artinya semoga ia tidak berubah saat Kaitlin hanya berdua saja dengannya. Sebuah batu berukuran sebesar bola baseball terletak disampingnya, dengan noda bekas darah di beberapa sisinya. Gadis itu percaya bawa batu tersebut adalah jimat keberuntungannya. Pada salah satu terjadinya pembobolan oleh zombie, Kaitlin mengambil sebuah batu, tanpa pikir panjang ia segera balas menyerang, dan berhasil membunuh tujuh buah zombie dalam waktu kurang dari satu menit. Sejak saat itu, ia selalu membawanya kemanapun ia pergi, dan lebih memilih batu itu daripada sebuah pipa besi yang pernah ditawarkan padanya.
Dalam waktu kurang dari satu jam setelah terkena gigitan, Roger mulai menunjukkan tanda bahwa ia telah terinfeksi. Nafasnya mulai tersengal-sengal dan kulitnya berubah pucat. Ia sering bermimpi buruk ketika tidur, dan pada keesokan harinya ia mulai meracau. Berbicara sendiri tentang hal-hal yang ia tidak pernah lakukan.
Jake Marlow berjalan masuk kedalam ruangan, dengan memegang erat senjata yang menjadi ciri khasnya. Ia selalu mengingatkan semua temannya untuk selalu membawa senjata jikalau hal buruk terjadi.
"Hey sobat, bagaimana kabarmu." Ucap Roger terdengar lemah, namun dengan nada yang ceria.
Terasa berat bagi Jake untuk melihat temannya dengan kondisi seperti ini, meskipun ia telah berkali-kali mengalaminya. "Tidak terlalu buruk." Hanya itu yang ada dipikirannya sekarang. "Kau sendiri, bagaimana keadaanmu?"
Roger tersenyum seolah-olah ia sedang liburan. Jake menyimpan sebotol Brandy di dalam kantornya, dan membaginya kepada Roger dalam jumlah yang cukup banyak. Setidaknya cukup untuk membuatnya tenang. "Tidak bisa meminta lebih." Jawabnya. "Setidaknya perawat di sebelahku ini sangat cantik."
Kaitlin hanya bisa menyunggingkan senyum lemah. Semenjak kejadian ini, cahaya di matanya seolah redup, dan tiada hari yang ia lewatkan tanpa menangis di dalam tidurnya. Ia menatap Jake lalu menganggukkan kepalanya. Bukannya ia menunggu keputusan Jake, tapi orang bodohpun tahu bahwa keadaan Roger tidak semakin membaik.
Jake menepuk pundak temannya lalu berkata. "Beristirahatlah, kawan. Akan kami carikan bantuan."
Roger meletakkan tangannya di belakang kepala, dengan senyum yang sama terlihat di wajahnya. "Tidak perlu menyuruhku dua kali, bung."
Setelah keluar dari ruangan itu, Jake dicecar oleh pandangan dari rekan-rekannya, seolah menuntutnya untuk melakukan sesuatu kepada Roger, meskipun mereka tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Apa yang telah dilakukan mereka kepada Chris, harus juga dilakukan kepada Roger.
James menggelengkan kepalanya sebelum Jake mulai mengatakan sesuatu. "Tidak. Tidak bisa. Kau tidak boleh melakukannya." Ucap James, seraya memohon. "Dia telah menyelamatkan nyawaku."
"Dan kalau kita tidak melakukannya, dia akan membunuhmu. Cukup adil, bukan?" Jawab Jake dingin.
"Aku tidak mau melakukannya." Ucap Marcus. "Aku tidak akan membunuhnya, meskipun ia berubah nanti."
"Santai, anak muda, aku memang tidak akan menyuruhmu untuk melakukan sesuatu." Sergah Jake.
Mata Jake menuju kebawah untuk melihat mayat Chris yang terletak di bawah jendela, dengan genangan darah terlihat di sekitar kepalanya.
"Kalau begitu, itulah apa yang akan terjadi pada kita nanti." Ucap Jake, sambil menunjuk kearah photographer itu yang telah mati dua kali. "Jika kita tidak membunuhnya, kita semua akan menjadi kantung mayat dalam bentuk yang berbeda."
"Tidak akan cukup jika hanya dengan membunuhnya, bukankah begitu?" Tanya Kaitlin, sambil menutup lalu mengunci pintu dibelakangnya, dimana Roger terdengar sedang menyanyikan lagu 'Californian Girls' dengan nada sumbang. "Kita semua yakin bahwa kalau tetap bertahan disini, kita semua akan mati."
Jake mengangguk, sambil memandangi rekannya yang lain. "Dia benar. Kita memutuskan untuk tetap tinggal disaat semua orang mengungsi menuju perbukitan, dan kita merasakan akibatnya hari demi hari. Jika kita ingin bertahan hidup, kita semua harus melakukan sesuatu yang drastis. Kita harus pergi dari sini."
Mereka pun mengepak barang-barang yang dibutuhkan hingga matahari terbenam.
"Ini gila." Ucap James sembari masukkan beberapa kantong skitties kedalam tasnya. "Kita pergi disaat hari sudah gelap, dengan monster yang berkeliaran di sana, tanpa senjata yang memadai."
"Apa ada alternatif lainnya?" Tanya Sarah, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mencoba untuk membersihkan dirinya untuk yang terakhir kali. "Jake benar. Jika kita lebih lama tinggal disini, kita akan bernasib sama seperti Chris dan Roger."
James menghentikan kegiatannya lalu memandang Sarah. "Siapa yang membuatnya menjadi pemimpin? Setahuku, dialah yang menyuruh kita untuk tetap tinggal disini. Mengapa aku merasa kalau rencana ini hanyalah cara dia untuk lepas dari kesalahan."
"Kita semua merasa seperti itu." Ucap Greg Swanson, salah satu survivor yg tersisa.
Greg adalah salah satu pegawai di departemen periklanan. Sekarang, dia telah menjadi salah satu korban. Seminggu yang lalu, dia terkena cakaran dari zombie yang berhasil menyusup masuk. Dia mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah terkena infeksi, namun karena ia belum juga berubah menjadi salah satu dari mereka, rekan yang lainnya hanya menganggap bahwa Greg hanya terkena flu. Meskipun begitu, tidak ada seorangpun yang berani berada dalam satu ruangan dengannya, dan sudah diputuskan bahwa ia harus dikarantina. Sekarang, dengan keputusan untuk meninggalkan gedung kantor ini, mereka membutuhkan tenaga setiap orang yang ada, meskipun salah satu dari mereka berpotensi untuk berubah menjadi zombie ditengah perjalanan.
"Bukan aku, aku tidak merasa seperti itu." Jawab James.
Sarah menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu, kau bisa tetap tinggal disini dan mencoba peruntunganmu bersama zombie-zombie itu."
Ucapan Sarah barusan menciutkan nyali James. "Bukan aku." Katanya, tapi kali ini mereka dapat melihat bahwa tangannya mulai bergetar.
"Selain itu," ucap Greg. "Matthew berhasil lolos dari sini. Mungkin kita juga bisa melakukannya."
Nama yang disebut Greg barusan membuat percakapan berhenti mendadak. Matthew Ericsson memutuskan untuk pergi sebulan yang lalu, memilih untuk mengambil kesempatan di luar sana daripada harus mati perlahan-lahan dengan tinggal di dalam kantor ini. Pada suatu malam, semua orang terbangun karena mendengar suara deruman mobil yang dipacu kencang, diikuti oleh raungan zombie yang berusaha mengejar.
Tidak ada yang berani berbicara tentang itu setelahnya. Matthew tidak pernah kembali, dan semua orang berasumsi bahwa Matthew telah tewas.
Tidak lama setelahnya, Jake dan yang lainnya berkumpul, dengan tas-tas yang penuh berisi perlengkapan yang dibutuhkan, dan mereka telah siap untuk pergi.
Untuk sesaat, tidak ada yang bersuara, dan tidak ada seorangpun yang bergerak. Tidak ada yang mau meninggalkan gedung ini, sebagai tempat tinggal mereka yang aman. Semuanya sadar bahwa mereka bisa saja mati dalam hitungan menit, dan jika mereka berhasil bertahan hidup malam ini, itu hanya karena malaikat maut tidak mengecek daftar namanya dengan teliti.
Karena tidak ada yang bersuara, maka Kaitlin memulai pembicaraan dengan mengganti subjek. "Bagaimana dengan Roger? Apa yang akan kita lakukan kepadanya?"
Dari sebuah ruangan kantor yang terkunci, suara nyanyian Roger yang sumbang dapat terdengar, ditambah erangan rasa sakit. Semuanya mengerti apa artinya, infeksi Roger mulai menyebar di tubuhnya, dan tidak lama lagi, sahabat lama mereka Roger, pria besar yang dulu sering membagikan donat setiap hari Jumat, akan berubah menjadi sama seperti makhluk mengerikan di luar sana.
Tanpa ada yang berani menjawab, merekapun pergi menuju tangga. Kaitlin memandang ruangan yang ditempati Roger untuk sesaat, lalu pergi untuk menyusul yang lainnya.
Mereka berhasil tiba di pintu belakang gedung, suara erangan pelan zombie terdengar di sepanjang lorong. Tidak terlalu banyak jumlah zombie yang berada di bagian belakang gedung, dan rencana mereka adalah untuk menuju kedalam mobil, lalu berdoa agar mereka dapat bertahan hidup setelah dua bulan mereka bertahan di dalam gedung.
Tidak ada yang yakin bagaimana Undead dapat membedakan nafas mereka sendiri atau nafas manusia, tapi hanya ada satu hal yang pasti. Mereka harus dapat melihat keberadaan mu. Jadi selama Jake dan kawan-kawan dapat tetap bersembunyi dan tidak terlihat oleh kawanan zombie, maka mereka akan tetap aman.
Keberuntungan sepertinya berpihak kepada mereka malam ini, tidak banyak zombie yang berkeliaran di area parkir. Namun bagaimanapun, erangan mereka, masih dapat terdengar. Kaitlin hampir beberapa kali berteriak karena terkejut dengan suara erangan zombie yang tiba-tiba terdengar.
Mereka berjalan dengan merayapi sisi gedung, Jake dan Sarah berada di depan, sedangkan James dan Greg berada di belakang, berjaga-jaga agar tidak ada yang membuntuti mereka. Di dekat sudut bangunan mereka akhirnya dapat melihat area parkir, mobil mereka terpantul cahaya bintang malam yang samar. Sambil memegang kunci mobil dengan gugup, Jake mencoba untuk membuka kunci mobil menggunakan remote. Suara alarm mobil yang dimatikan bergema dengan kencang, kelompok kecil itupun terkejut seperti baru saja mendengar sebuah tembakan meriam. Bagaimanapun, tidak ada satupun zombie yang menyadarinya.
Dengan sebuah anggukan, Jake menyuruh mereka untuk segera bergerak. Kaki-kaki mereka bergerak dengan tegang, seolah-olah kematian berada di bawah kaki mereka.
Suara erangan zombie sangat sulit diprediksi, mustahil untuk menentukan darimana datangnya berasal. Tiba-tiba terdengar suara erangan zombie yang agak berbeda dari biasanya, suaranya sedikit unik.
Sumbernya berasal dari jarak kurang dari satu meter.
Teriakan Greg memecah kesunyian malam, dan yang lainnya segera berlarian seperti ikan yang kabur dari pemangsa. Dengan suara daging yang terkoyak, Greg menarik tangannya dari gigitan zombie, nyawanya selamat tapi ia kehilangan dua jarinya.
"Lari!" Teriak Jake. Salah satu perintah yang tidak akan ditanyakan kembali tujuannya.
Maka mereka segera berlari menuju kearah mobil, merekapun menyadari kehadiran zombie lain yang tiba-tiba muncul dari balik semak dan pepohonan untuk mengepung mereka. Zombie yang meraung-raung, sebagian dengan wajah yang telah terkoyak, memperlihatkan tulang pipi dan geraham menghiasi pandangan Jake dan kawan-kawan pada malam itu. Tak seorangpun berpikir untuk melawan. Sungguh keadaan yang tidak terduga.
Tiba-tiba, banyak dari kepala zombie itu seperti meledak, tanpa suara, lalu tersungkur di atas aspal yang mulai retak. Mereka menyadari ada sesosok manusia yang berdiri diantara zombie-zombie itu, sesosok manusia yang jelas hidup. Pria itu, membuang pistol yang telah kosong, mengenakan baju pelindung dari kepala hingga kaki, menggenggam kapak, lalu berjalan menuju kearah kumpulan makhluk kanibal dengan santai.
Dengan keberanian yang luar biasa, kalau tidak bisa disebut gila, mulai menyerang kawanan zombie, gerakan kapaknya yang unik dan cepat, dengan mudah memotong leher dan membelah kepala zombie-zombie itu.
Satu-persatu, zombie pun tumbang, dengan kepala yang terlepas dari badan ataupun terbelah menjadi dua. Karena melihat adanya ancaman baru yang lebih berbahaya, kawanan zombie yang lain pun menuju kearah pria misterius itu. Merasa sudah tidak lagi dikepung, para pegawai Daily Tribune akhirnya balas menyerang, kaki meja dan pipa besi yang mereka gunakan dapat menumbangkan zombie satu demi satu.
Dalam beberapa menit semuanya berakhir, mereka berlumuran darah, Jake dan kawan-kawan terlihat seperti seorang veteran perang, tanpa ada rasa takut yang terlihat dari wajah mereka.
Orang asing yang sejak tadi terdiam itu menyimpan kapak yang digunakannya di balik punggung. Dengan tiba-tiba ada sesosok zombie muncul entah darimana datangnya, lalu menggigit leher pria asing itu dari belakang. Meskipun kepalanya hampir pecah, zombie itu masih tetap hidup, sepertinya lukanya tidak terlalu dalam dan bagian otaknya masih tetap utuh.
Jika dalami oleh orang biasa, gigitan itu mungkin akan menyebabkan kematian secara instan. Tapi dengan baju pelindung yang dikenakan pria asing itu, gigitan zombie barusan malah merontokkan giginya.
Wajah kebingungan seolah terlihat dari raut muka zombie itu, merasa serangannya barusan telah gagal membunuh korbannya. Pria asing itu mengangguk, seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan zombie yang baru saja mencoba untuk menggigit lehernya. "Maaf telah mengecewakanmu," katanya. Suara pria itu seperti suara alien, karena teredam oleh masker wajah yang ia kenakan.
Pria itu melayangkan pukulan kearah zombie menggunakan sikunya dengan keras, dan dengan seketika kepala zombie itupun pecah. Dengan cahaya bintang yang redup, Jake dapat melihat pelindung siku yang pria itu kenakan. Dengan melihat kearah Jake dan kawan-kawan, pria itu menunjuk ke arah jalan raya, lalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Rekan setimnya 6ag lain ingin membahas hal ini, apakah pergi untuk mengikuti pria itu atau tidak, tapi suara erangan zombie memenuhi udara. Artinya akan ada lebih banyak zombie. Seperti pahlawan misterius yang telah menolong mereka, Jake dan kawan-kawan akhirnya pergi kearah yang ditunjuk pria itu barusan dengan kebisuan. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara alarm mobil Jake setelah ia menggunakan remote untuk mengunci pintu mobilnya.
kudo.vicious dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas