- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.9K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#1
Chapter 1 : A Brave New World
Spoiler for :
Ada pepatah inggris lama yang mengatakan "Same stuff, different day".
Sebuah ungkapan yang digunakan untuk menjelaskan rutinitas yang kita jalani sehari-hari. Kamu bangun, mandi, sarapan, berpakaian, pergi bekerja, pulang kerumah/sekolah, menonton tv, lalu pergi tidur.
Sungguh mengejutkan bahwa rutinitas yang biasa kita kerjakan, kini telah hilang sama sekali. Bukan hanya hilang, tapi diikat, diseret ke dalam hutan, ditembak di kepala, lalu dibakar, dan sisa abunya berterbangan ke empat arah mata angin, sehingga lenyap tak berbekas.
Seperti seorang Jake Marlow yang sedang menatap kearah kawanan undead. Ia merasa takjub dan ngeri pada saat yang sama, bahwa pemandangan ini sudah terlihat biasa baginya.
Kumpulan zombie yang ada di bawah mencoba untuk meraihnya, meskipun kini ia berada lima puluh kaki tingginya dari atas tanah, disebuah atap Daily Tribune, sebuah kantor surat kabar yang menangani berita di wilayah pantai selatan. Meskipun usaha yang mereka lakukan sia-sia, mereka menggeram, rasa lapar merasuki jiwa mereka, Itu pun jika mereka dapat dirasuki oleh hal semacam itu. Ratapan mereka yang terdengar sedih, namun mengerikan, menggema diseluruh hutan pinus tinggi dan lebat yang mengelilingi kantor itu. Pepohonan yang Jake sering pandangi diluar kantornya melalui jendela saat hari sedang sibuk. Kapanpun ia merasa stress, yang harus ia lakukan hanyalah memandangi pepohonan itu dan dengan sendirinya rasa damai akan menghampirinya.
Dua bulan lalu, ketika ia dan rekan-rekan reporter lainnya memutuskan untuk tinggal dan menunggu pertolongan dari tentara atau polisi datang untuk menyelamatkan mereka, ratapan dari para zombie membuat mereka mustahil untuk dapat tidur dengan lelap. Cara apapun yang mereka lakukan tidak berhasil untuk menghilangkan suara mengerikan itu. Suara mengerikan yang monoton dan terus menerus terdengar menembus hingga kedalam hati mereka, mengikis tiap rasa damai dan bahagia.
Namun hanya dalam enam puluh hari, suara-suara ratapan ini, seperti kehadiran para undead itu, sekarang hanya terdengar seperti sebuah bagian dari rutinitas pekerjaan bagi Jake, seorang kepala editor di kantor surat kabar tersebut.
Matanya memandang kearah kawanan zombie, setan pemakan daging tanpa intelektual, tapi dikendalikan oleh nafsu untuk memakan daging mereka yang hidup. Kulit dan daging yang busuk terlihat bergelantungan di tulang yang sudah mulai terurai, sebuah bukti bahwa tubuh mereka sudah mengalami pembusukan yang cukup lama. Sebagian lain hanya terlihat memiliki beberapa bekas luka yang menginfeksi mereka, yang kebanyakan terlihat di area leher. Tidak ada yang mengerti mengapa zombie mengincar bagian tersebut, mungkin juga karena area tersebut terasa manis dan enak bagi mereka.
Makhluk-makhluk yang berjumlah ratusan itu memenuhi area parkir, Jalan raya, dan bangunan lain di sekitar kantor itu. Mereka menggunakan pakaian dan seragam yang mewakili pekerjaan mereka sebelumnya. Tukang pos, polisi, anak sekolah, pegawai toko, pekerja bangunan, tukang ledeng, perawat, dan lainnya. Wabah ini tidak memilih siapa yang akan diserangnya, tapi melihat dari banyaknya mereka, hal itu sudah lebih dari cukup. Saat Jake sedang mengawasi mereka, terlihat sebuah sosok menyedihkan dari Sandra Colstein. Saat mereka mulai muncul, dan dalam keadaan panik, wanita itu mencoba berlari menuju kearah mobilnya yang berada di parkiran.
Hanya butuh tiga jam dan dua puluh tujuh menit bagi wanita itu untuk tewas dalam keadaan mengerikan. Jake mengingatnya dengan jelas sekali.
Namun sekarang Jake hampir tidak mengenalinya sama sekali. Cahaya di matanya seolah hilang, begitupun dengan kornea matanya. Terlihat banyak berkas darah di sweater yang ia kenakan pada hari kerja saat itu. Hampir semua bagian dalam dari tenggorokan, perut, dan lengan kiri wanita itu dapat terlihat dengan jelas. Ususnya terburai keluar seperti spaghetti, terseret-seret di jalanan aspal saat ia bergerak, tanpa arah dan tujuan, dengan bentuk mengerikan seperti itu.
Satu-satunya cara untuk membunuh zombie adalah dengan memukulnya di kepala, untuk menghancurkan bagian otaknya. Tidak sulit saat mendengarnya, namun tidak juga mudah disaat yang sama. Tergantung dari seberapa besar nyalimu saat melakukannya. Senjata api adalah pilihan terbaik. Tapi jika kamu tidak memilikinya, batang kayu, linggis, ataupun batu juga dapat digunakan. Setelah Sandra tewas dan muncul kembali sebagai bagian dari 'mereka', Jake hampir saja berlari kearah parkiran untuk membunuhnya dengan tangannya sendiri, jika saja ia tidak dihentikan oleh kawan-kawannya. Lebih baik ia dibunuh olehnya, daripada dia mengalami bentuk lain dari keabadian, ucapnya saat itu.
Wanita itu melihat Jake dan menggeram, geraman sebagai predator, lalu mulai mengerang. Seperti sebuah tanda bagi Undead bahwa mereka telah menemukan daging segar yang hidup. Saat salah satu dari mereka telah menemukan mangsa, mereka akan segera menggeram dan mengerang. Tidak lama kemudian, suara itu akan terdengar oleh yang lainnya dan diulang kembali, lagi dan lagi. Untuk sebuah makhluk tanpa pikiran, cara itu cukup efektif untuk digunakan sebagai bentuk berkomunikasi.
Saking seringnya ia melihat pemandangan ini, ia bahkan tidak menoleh saat ia mendengar suara pintu terbuka di belakangnya. Para Undead memang memiliki beberapa kemampuan, tapi membuka pintu merupakan hal yang mereka tidak dapat lakukan. Jake lalu berbalik dan melihat Sarah Kern, asisten editor, berjalan di atap dan menghampirinya.
Mereka berdua telah menikah selama beberapa tahun, dan mereka telah memperbarui janji suci mereka tiga bulan yang lalu. Mereka beruntung telah melakukanya, karena bencana ini datang beberapa Minggu setelahnya. Sarah duduk di pinggir atap disebelah suaminya, lalu menggenggam tangan Jake, namun Jake tak bergeming.
"Ada hal baik?" Tanya Jake. Meskipun dari raut wajah suram istrinya, ia telah mengetahui jawabannya.
Sarah menggelengkan kepalanya. "Yang kita dapatkan hanyalah pesan otomatis yang menyuruh kita untuk mengunci pintu dan menunggu bantuan tiba. Aku ragu kalau polisi masih ada."
"Tentu saja mereka masih ada. Aku melihat ada dua dibawah sana." Jake merespons sambil menunjuk kebawah.
Sarah melihat kearah yang ditunjuk oleh Jake, dan tentu saja, ada dua orang petugas polisi di sana. Satu orang dengan setengah wajahnya hancur, dan satunya lagi dengan tangan kirinya yang hilang sampai siku. Kulit mereka keabuan, berwarna pucat setelah mereka terinfeksi, kejadian biasa yang terjadi pada mayat jika darah sudah berhenti mengalir. Keduanya lalu menggeram dan berusaha menggapai mangsanya yang berada di atap, namun mereka tidak akan pernah bisa untuk meraih mereka.
Zombie adalah makhluk tanpa pikiran. Hanya mampu untuk menaiki tangga atau membuka pintu, selama pintu tidak ditutup atau dikunci. Selain dari itu adalah diluar kemampuan mereka.
Sarah mengangguk kepada Jake. "Masuklah kedalam." Katanya. "Kau akan menjadi gila jika berada disini terus sepanjang hari."
"Sayang, pada saat seperti ini, sepanjang hari adalah cara tercepat untuk menjadi gila." Sahut Jake.
Saat Jake masuk kedalam, hal pertama yang mengganggunya adalah bau. Bukan dari para Undead, meskipun bau mereka dapat membuat perut yang paling kuat sekalipun dapat dengan mudah mengeluarkan isi perutnya. Bukan, bau ini berasal dari mereka yang masih hidup.
Dengan tidak berfungsinya shower, membuat mereka sebisa mungkin tetap bersih menggunakan wastafel kamar mandi. Namun belakangan ini, air pun terkena polusi, meminumnya pun akan menjadi hal yang beresiko. Untungnya toilet masih dapat berfungsi. Tidak ada yang mau membayangkan jika benda itu tidak dapat digunakan.
Ada tujuh orang dari dua puluh orang yang terperangkap di kantor itu. Pada tiga ruangan terpisah, para zombie dapat menyerbu masuk, namun mereka dapat memukul mundur para zombie. Tapi disaat mereka melakukannya, satu persatu dari mereka pun tewas.
Zombie yang bersembunyi adalah masalah yang lain lagi. Saat para zombie dapat menerobos masuk, selalu ada saja satu atau dua zombie yang berhasl lolos dan bersembunyi di ruangan yang tidak terpakai saat kawanan mereka sedang dipukul mundur. Tidak butuh penjelasan untuk hal ini, tapi jika ada lautan makhluk kanibal yang mencoba untuk memangsamu hidup-hidup, akan sangat sulit untuk menghitung jumlah temanmu disaat kau mencoba untuk bertahan hidup. Setelah sepasang muda-mudi tewas dengan leher terkoyak saat mereka mencoba mencari ruangan sepi untuk bercinta, Jake membuat peraturan bahwa tidak ada yang boleh mengelilingi gedung kantor tanpa kawalan.
Persenjataan yang mereka miliki terbuat dari bahan yang sederhana. Kaki meja, kursi rusak, dan potongan balok kayu. Ada beberapa peralatan yang tersimpan di dalam ruangan maintenance, tapi ruangan itu terletak di belakang gedung, dan sayangnya area tersebut dipenuhi oleh zombie. Sudah dua kali mereka mencoba untuk mengamankan area di sana, dan sudah dua kali juga mereka kehilangan beberapa orang rekan saat melakukannya.
"Jadi, bagaimana keadaan diluar sana?" Tanya Marcus Flat, seorang reporter, berharap ada jawaban lainnya yang menggembirakan.
"Mati." Hanya itu yang dikatakan Jake sembari menuju kedalam ruang penyimpanan makanan. Untungnya mesin penjual otomatis telah di isi ulang sesaat sebelum wabah ini menyebar. Tapi tetap saja, hanya makan Snack dan diet soda setiap hari terasa sangat menjemukan.
Jake terlihat murung saat melihat hanya sedikit snack yang tersisa di dalam ruangan itu. Saat wabah ini mulai menyebar di luar sana, semua staff Daily Tribune berpikir bahwa bantuan akan segera datang, dan mengkonsumsi snack yang ada secepat zombie diluar sana memangsa korbannya. Tak pernah terbesit di benak mereka bahwa mereka akan tinggal disini cukup lama. Namun sekarang, setelah melihat stok keripik kentang dan permen yang tersisa, mereka berharap bahwa mereka tidak pernah melakukannya.
"Apakah hanya ini yang tersisa?" Tanya Jake.
"Sepertinya begitu, Jake." Jawab Marcus. "Kami telah mencari dimana-mana, hanya ada beberapa buah permen dari laci meja diruang kantor departemen periklanan, hanya itu."
Jake memukul dinding tanda frustasi. "Kita dapat cukup untuk beberapa hari, mungkin empat hari." Kata Sarah, mencoba untuk menyemangati. "Bisa bertahan cukup untuk seminggu jika kita mencobanya."
"Lalu apa?" Kata Jake. "Apakah kita akan saling memakan satu sama lain?"
"Mungkin kita bisa mencoba untuk keluar dari kantor ini." Sahut Roger Cork, editor bidang olahraga senior.
Jake memutar matanya. "Oh, ayolah, jangan hal itu lagi. Kita sudah sering membahas hal ini. Jumlah mereka terlalu banyak. Meskipun kita bisa masuk kedalam mobil, mereka akan dengan segera mengerumuni kita."
"Jadi apa yang seharusnya kita lakukan? Bertahan disini hingga kita mati kelaparan? Aku sendiri kaget bahwa kita masih bisa bertahan selama ini hanya dengan makan keripik kentang dan soda kalengan." Balas Roger dengan ketus, pria besar yang dapat mematahkan Jake menjadi dua dengan mudah jika di provokasi.
"Kita akan mati dengan mudah jika kita semua pergi." Sahut Jake. "Tapi jika kau memaksa untuk pergi, silahkan saja. Semoga kau beruntung di luar sana."
"Hey, bertahan disini adalah idemu." Ucap James Cater yang baru saja bergabung, reporter terakhir Daily Tribune yang masih hidup. "Kita harusnya pergi selagi ada kesempatan. Kita mungkin akan berhasil."
"Oh, seperti Sandra? Ketika dia memutuskan untuk pergi dari sini, kita semua telah menyaksikan bagaimana keberhasilannya." Kata Jake, sambil menggenggam erat kaki meja yang ia genggam. "Kenapa kau tidak pergi keluar sana dan tanyakan sendiri pada Sandra, dan minta nasihat bagaimana caranya agar kita tidak dijadikan mangsa oleh zombie-zombie sialan itu."
Marcus lalu berjalan dan berada di tengah mereka, sebelum ada gigi patah yang berterbangan. "Sudahlah kalian berdua, tenanglah. Kita tidak akan mendapat apapun dengan saling bertengkar satu sama lain."
James meresponsnya dengan menendang sepatu Marcus. "Pergi saja kau ke neraka, Tuan Positif! Sekali lagi aku dengar soal 'menjaga pikiran tetap tenang', aku sendiri yang akan mengumpankanmu pada mereka!"
Sekarang Roger juga ikut melerai mereka. "Apa kau mau mencobanya? Silahkan saja, tapi langkahi aku dahulu."
Dengan langkah yang cepat, James mengambil sebuah pipa besi yang ada di sudut ruangan, dan dengan marah ia menghampiri roger. Pria yang menjadi pendampingnya pada saat pernikahannya dulu. "Dengan senang hati, pria gendut."
Sarah hanya bisa melihat, air mata mengalir di wajahnya. Ingin sekali ia berteriak, untuk menghentikan pertikaian ini, namun ia tak bergeming karena ia juga merasa takut.
Tapi tampaknya ia tidak perlu melakukannya. Sebuah erangan pelan terdengar, lebih menyerupai sebuah bisikan. Dengan suara cakaran pada pintu, seperti kucing yang sedang mencakar tembok menyertainya. Semua mata tertuju pada sebuah lemari. Pintunya dikunci dengan gembok, dan ada sebuah meja kerja didepannya untuk menghalangi pintunya terbuka. Tidak ada satupun yang berani tidur di dekat lemari itu, meskipun Jake telah meyakinkan semua orang bahwa yang ada di dalam tidak akan bisa keluar.
"Akhirnya." Ucap Roger seraya berbisik. "Dia sudah bangun."
Orang yang dibicarakan Roger adalah Chris Mcabee, seorang photographer yang menjadi korban. Tiga hari lalu, ia telah digigit oleh zombie anak kecil yang berhasil masuk saat pembobolan yang terakhir. Lukanya cukup kecil, tapi hanya dalam beberapa jam, Chris menunjukkan tanda bahwa ia telah terinfeksi. Denyut nadinya berdetak dengan cepat, dan juga berkeringat, padahal cuaca cukup dingin di akhir November. Pada hari kedua ia mulai mengigau, dan tidak memiliki energi bahkan untuk bernafas sekalipun. Sebuah keputusan telah diambil melalui voting, bahwa mereka akan menempatkannya di dalam sebuah lemari agar tidak membahayakan rekan yang lainnya.
Satu hal yang mereka tidak putuskan adalah, apa yang akan dilakukan padanya nanti.
Beberapa orang berdiri di dekat pintu, dengan masing-masing orang memegang senjata, dan bersiap-siap untuk menghadapi sebuah pertarungan. Masalahnya adalah, tidak ada seorangpun yang berani memulainya.
"Seharusnya kita tinggalkan ia seperti ini." Marcus memulai pembicaraan. "Dia adalah teman kita, kita tidak bisa langsung membunuhnya begitu saja."
"Dia sudah mati." Jawab James. "Kita akan menolongnya dengan menghancurkan kepalanya."
Tiba-tiba terdengar sebuah pukulan pada pintu lemari, cukup keras hingga kayu pada bagian engsel hampir lepas. Meskipun tidak memiliki kekuatan super, namun zombie memiliki keganasan yang tidak bisa ditandingi oleh manusia ataupun hewan buas. Setelah mereka mencium adanya makanan, hanya kematianlah yang mampu menghentikan mereka.
Jake memandangi lemari itu dengan gelisah. "Pintunya tidak akan bertahan lama. Kita harus segera melumpuhkannya."
Yang lain mengangguk dengan cepat. Meskipun pintunya dapat bertahan sekalipun, tidur dalam satu gedung dengan makhluk buas seperti ini bukanlah hal yang menyenangkan.
Dengan cepat mereka memindahkan meja di depan pintu. Pukulan dari dalam pintu bertambah keras, seolah-olah Chris tahu bahwa makanannya berada semakin dekat. Kaki meja dan pipa besi sudah siap digunakan, merekapun merapat di dekat lemari, tangan Sarah yang bergetar sudah siap di kenop lemari.
Sarah melihat kearah teman-temannya, memastikan bahwa mereka sudah siap bertempur. Tangan mereka yang gemetar dan pandangan mereka yang gugup, menandakan bahwa mereka semua belum siap. Persahabatan mereka dengan Chris selama bertahun-tahun tidak relevan untuk dipertimbangkan saat ini, semuanya hanya ingin bertahan hidup.
Dengan tangan gemetar, Sarah membuka pintunya. Dengan sebuah teriakan, Chris menyeruak keluar dari dalam lemari. Menabrak semua orang, lalu membanting James ke lantai. Photographer itu mencoba menahan punggung Chris dengan pipa yang digenggamnya, berusaha menghindari gigitan zombie yang terlihat sangat kelaparan. Dengan menggenggam bagian kaki, Roger menarik zombie itu agar menjauh dari James, dan melemparkannya ke tembok.
Chris membentur tembok dan jatuh ke lantai, namun dengan cepat ia bangkit, dengan menggeram, dan busa berlumuran darah keluar dari mulutnya. Dengan geraman juga, roger mencoba untuk memukul Chris dengan tongkatnya, namun serangannya meleset dari kepala. Tongkatnya hancur saat berbenturan dengan bahu Chris. Zombie itu seolah-olah tersenyum saat serangan Roger meleset, lalu menyerangnya, dengan menancapkan giginya dalam-dalam pada bahu Roger.
Pria besar itu berteriak kesakitan, lalu darah mulai membanjiri kaos yang ia kenakan. Dengan gerakan cepat, Chris merubuhkan Roger ke lantai lalu duduk di atasnya. Jake pun tidak tinggal diam, ia lalu menjatuhkan Chris dan menahan lehernya dengan senjata yang ia gunakan ke lantai, mencoba untuk melumpuhkan gerakannya.
Yang lainnya melihat dengan ngeri saat Roger menutup luka di bahunya dengan tangan, mencoba untuk menghentikan pendarahan. Sarah berlari mendekat dengan kotak P3K di tangan, dan membalurkan antiseptik pada lukanya, meskipun mereka tau bahwa itu adalah tindakan yang sia-sia. Gigitan zombie sangat beracun. Jika dokter terbaik di dunia tidak dapat menghentikan wabah ini tersebar luas, harapan apa yang dimiliki orang biasa tanpa pengetahuan medis dan perlengkapan seadanya?
Jake hanya bisa melihat istrinya yang sedang berusaha keras untuk menutup luka. Marcus membalikkan badan, dengan air mata berlinang. Meskipun selalu bersikap optimis, dalam hatinya ia tahu bahwa satu orang lagi temannya akan mati. James terlihat menganggukkan kepala, seolah tidak ingin percaya atas apa yang telah terjadi. Roger telah menyelamatkan nyawanya, dan inikah hadiah yang ia terima? Untuk mendapatkan takdir yang sama seperti Chris? Takdir yang sama yang akan diterima oleh mereka semua nanti?
Roger menatap wajah teman-temannya, berusaha untuk tersenyum. "Aku tidak apa-apa, sobat. Lukanya tidak terlalu dalam. Besok lukanya pasti sembuh."
Jake hanya mengangguk setuju tanpa mengatakan apapun. Ia sedang sibuk memikirkan cara yang termudah untuk mengakhiri hidup temannya...
Diubah oleh irazz1234 10-03-2019 12:21
kudo.vicious dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas