- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#30
Di kehidupan berikutnya, saat mataku terbuka, hari sudah terang benderang kembali, disusul lantunan adzan yang terasa datar. Dengan malas, tanganku meraih ponsel, saat kutekan tombol power, di layar menunjukkan pukul 11:45.
Masih dengan muka tebal, bibir manyun, tubuh lunglai—tanganku meraih segelas air, yang ku ibaratkan nyawa dan memang sudah tertanam di alam bawah sadar—kalau air akan memberi kesegaran, macam tumbuhan layu—akan segar kembali disaat tersiram air. Dengan nafas berat, aku mencoba merilekkan segala yang ada, tubuh, jiwa, pikiran dan hati yang kian mengecil.
Sejenak, aku menyapa Tuhan. Malu sebenarnya, tapi—aku juga nggak tau harus apa dan bagaimana, apalagi dengan keadanku yang sekarang. Hanya tuhan yang mau mendengar?, meski aku juga tak pernah bercapak dengan-Nya. Sumpah, berjalan sendiri itu menyakitkan. Apapun itu.
Lalu, apa yang harus aku lakukan hari ini?
Ngopi, jalan-jalan—atau apa!
Kalau ngopi masih mungkin, sekalian cari makan. Tapi!, kalau jalan-jalan mau kemana! Mentok beli baju buat acara minggu depan.
Aku rasa, ngopi sajalah. Lagian, hari ini hari libur—besok jumat kecepit, sabtu libur, minggu libur—sunguh!, membosankan.
Bodo ah, mending ngopi. Bodo juga ggak mandi, emang siapa peduli.
***
Gw ngopi di tempat biasa, jauh dari manusia-manusia sok luar biasa. Ada mang Ojol, ada mang becak, ada tukang gaple, ada pak tukang gali kubur, ada tukang mancing dan ada tukang bakso, kadang tukang es, kadang tukang cilok dan banyak lagi. Soalnya, ini warung di depan makam, yang hanya di pisahkan sebuah jalan di tengah perumahan. Gw nyusup diantara manusia beneran, mungkin—gw akan tampak aneh dan paling bocah sendiri, memang—umur gw sudah nggak bocah lagi, tapi—jiwa dan fisik gw masih seperti bocah, manja dan SMAable.
Seperti biasa, gw pesen kopi item nggak manis-manis. Buka ponsel, sekalian numpang wifian. Okelah, gw sebenarnya punya kuota sendiri, tapi—entahlah, pengen seperti yang lain, kalau ngopi—nggak afdol kalau nggak Tanya password wifinya.
Setelah connect, ponsel gw taruh, minta sebatang rokok dan beberapa camilan. Buat pantas-pantas, masa—ngopi Cuma kopi doang. Nggak enak juga, kesini kelihatan pake Jeep masa Cuma ngopi tiga rebu. Agak sengak memang, apalagi gw yang serba misterius, hahaha. Dulu, gw kesini sering jalan kaki, sepedaan dan baru akhir-akhir ini bawa mobil, gak taulah—apa yang mereka pikirkan. Modal gw satu, senyum. Mau ikutan ngobrol juga nggak tau, mau ngobrol apa. Kalau ditanya ya gw jawab, kalau nggak ya me time aja.
Selama ngopi, gw sibuk lihat mereka yang lalu-lalang di jalanan, kadang—malah lihat orang ramai-ramai bawa mayit, ziarah, bapak-bapak yang gaple dengan backsound sholawatan dan bapak-bapak yang bicara dengan topic mincing. Mang ojol juga dengan topiknya, dan itu kenapa tadi gw bilang gw berada di tengah-tengah manusia beneran. Ya memang mereka manusia dengan sebenar-benarnya hidup, dan hidup dengan kehidupan nyata mereka. Tidak seperti gw, banyak hidup diantara ilusi, kemayaan dan imajinasi. La.. bagaimana tidak, mulai pekerjaan, keseharian dan hidup gw, yang kelihatanbanyak gerak Cuma jari, selebihnya nggak ada. Mentok otak yang kadang seperti ngehank, hati mati dan rasa bubar entah kemana.
Sedot lagi..
Sebuah mahakarya nusantara, kretek sejuta umat. Satu yang gw sukai, kalau modenya tepat—rokok akan sedikit memberikan ketenangan, damai dan bebas. Apalagi kalau kopinya pas.
Memang, gw bukan perokok aktif, ngopi juga begitu—gw bukan pure pecandu kopi, Cuma—suka aja.
baik memang, dilain sisi kesepian—dilain kesempatan nggak punya perasaan. Sebenarnya, manusia macam apa gw ini. Kenapa harus seperti ini, menyendiri.. menjauh dan mencoba pergi dari mereka yang serasaterus mengawasiku. Kenapa.
Kenapa gw nggak bisa seperti mereka, normal.
Tiba-tiba, jiwa gw kalut lagi.
Masih dengan muka tebal, bibir manyun, tubuh lunglai—tanganku meraih segelas air, yang ku ibaratkan nyawa dan memang sudah tertanam di alam bawah sadar—kalau air akan memberi kesegaran, macam tumbuhan layu—akan segar kembali disaat tersiram air. Dengan nafas berat, aku mencoba merilekkan segala yang ada, tubuh, jiwa, pikiran dan hati yang kian mengecil.
Sejenak, aku menyapa Tuhan. Malu sebenarnya, tapi—aku juga nggak tau harus apa dan bagaimana, apalagi dengan keadanku yang sekarang. Hanya tuhan yang mau mendengar?, meski aku juga tak pernah bercapak dengan-Nya. Sumpah, berjalan sendiri itu menyakitkan. Apapun itu.
Lalu, apa yang harus aku lakukan hari ini?
Ngopi, jalan-jalan—atau apa!
Kalau ngopi masih mungkin, sekalian cari makan. Tapi!, kalau jalan-jalan mau kemana! Mentok beli baju buat acara minggu depan.
Aku rasa, ngopi sajalah. Lagian, hari ini hari libur—besok jumat kecepit, sabtu libur, minggu libur—sunguh!, membosankan.
Bodo ah, mending ngopi. Bodo juga ggak mandi, emang siapa peduli.
***
Gw ngopi di tempat biasa, jauh dari manusia-manusia sok luar biasa. Ada mang Ojol, ada mang becak, ada tukang gaple, ada pak tukang gali kubur, ada tukang mancing dan ada tukang bakso, kadang tukang es, kadang tukang cilok dan banyak lagi. Soalnya, ini warung di depan makam, yang hanya di pisahkan sebuah jalan di tengah perumahan. Gw nyusup diantara manusia beneran, mungkin—gw akan tampak aneh dan paling bocah sendiri, memang—umur gw sudah nggak bocah lagi, tapi—jiwa dan fisik gw masih seperti bocah, manja dan SMAable.
Seperti biasa, gw pesen kopi item nggak manis-manis. Buka ponsel, sekalian numpang wifian. Okelah, gw sebenarnya punya kuota sendiri, tapi—entahlah, pengen seperti yang lain, kalau ngopi—nggak afdol kalau nggak Tanya password wifinya.
Setelah connect, ponsel gw taruh, minta sebatang rokok dan beberapa camilan. Buat pantas-pantas, masa—ngopi Cuma kopi doang. Nggak enak juga, kesini kelihatan pake Jeep masa Cuma ngopi tiga rebu. Agak sengak memang, apalagi gw yang serba misterius, hahaha. Dulu, gw kesini sering jalan kaki, sepedaan dan baru akhir-akhir ini bawa mobil, gak taulah—apa yang mereka pikirkan. Modal gw satu, senyum. Mau ikutan ngobrol juga nggak tau, mau ngobrol apa. Kalau ditanya ya gw jawab, kalau nggak ya me time aja.
Selama ngopi, gw sibuk lihat mereka yang lalu-lalang di jalanan, kadang—malah lihat orang ramai-ramai bawa mayit, ziarah, bapak-bapak yang gaple dengan backsound sholawatan dan bapak-bapak yang bicara dengan topic mincing. Mang ojol juga dengan topiknya, dan itu kenapa tadi gw bilang gw berada di tengah-tengah manusia beneran. Ya memang mereka manusia dengan sebenar-benarnya hidup, dan hidup dengan kehidupan nyata mereka. Tidak seperti gw, banyak hidup diantara ilusi, kemayaan dan imajinasi. La.. bagaimana tidak, mulai pekerjaan, keseharian dan hidup gw, yang kelihatanbanyak gerak Cuma jari, selebihnya nggak ada. Mentok otak yang kadang seperti ngehank, hati mati dan rasa bubar entah kemana.
Sedot lagi..
Sebuah mahakarya nusantara, kretek sejuta umat. Satu yang gw sukai, kalau modenya tepat—rokok akan sedikit memberikan ketenangan, damai dan bebas. Apalagi kalau kopinya pas.
Memang, gw bukan perokok aktif, ngopi juga begitu—gw bukan pure pecandu kopi, Cuma—suka aja.
baik memang, dilain sisi kesepian—dilain kesempatan nggak punya perasaan. Sebenarnya, manusia macam apa gw ini. Kenapa harus seperti ini, menyendiri.. menjauh dan mencoba pergi dari mereka yang serasaterus mengawasiku. Kenapa.
Kenapa gw nggak bisa seperti mereka, normal.
Tiba-tiba, jiwa gw kalut lagi.
ym15 dan 4 lainnya memberi reputasi
5