- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#29
Kalimat 'Rilakuma' yang terlontar dari bibirnya yang pucat, diiringi jatuhnya hujan, menambah bisu yang kian mendalam. Khususnya aku, dan dia yang pernah meninggalkanku.. meski akhir-akhir ini sering hadir di kehidupanku, meski sebatas tempat singgah.
"Kamu kenapa kesini lagi?" sapaku baik.
"Bosen,"
"Terus, kalau bosen.. kenapa kesini"
"Bodo,"
Tuhan, maha berat menerka hati seorang perempuan. Dan malam itu, adalah malam-malam layaknya malam saat dia masih imut sebagai adek sekaligus kekasihku, tidak seperti sekarang. Meski dia sudah aku anggap adek sendiri, nyatanya dia sudah jauh lebih dewasa daripada saat itu, so.. aku juga harus jaga lisan supaya tidak menimbulkan salah paham. Terlebih, hatiku yang sudah remuk.. biarlah nyenyak dalam keremukanya, jangan sampai.. diantara remuk itu tumbuh semai. Aku tidak mau.
Semalaman, dia nggak tidur. Cuma cemberut sembari nonton tv, entah nonton apa.. faktanya itu chanel selalu rubah-rubah. Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku diam. Pertama, bisa jadi dia pegen sendiri. Kedua, dia belum mau bicara.. so, kalau sudah mau bicara pasti bicara. Aku tau siapa dia. Mulai apa yang kadang di permasalahkan, ternyata bukan itu juga. Repot.
Aku juga nggak begitu peka apalagi sok peka kepada dia, kalau dulu wajar.. tapi sekarang? aku piir sudah nggak ada alasan lagi untuk peduli?.
"Rania.." bisikku dalam hati. "Kamu sekarang sudah besar, cantik.. tapi satu yang masih belum ilang, kalau lagi nggak mod, seolah.. akupun yang ada di dekatmu lenyap, nggak ada dan nggak pernah ada, padahal.. aku ingin tau, setidaknya kenapa dengan kamu..."
Tiba-tiba, aku tersenyum. Meski kecil, ada nuansa lega dan haru. Melihat, dia yang selalu menang sendiri, bawel, manja dan cuekmu itu. Masih tampak sama, dasar.. adekku yang cantik. Benar, dulu aku pernah terluka oleh mu, tapi.. berkat kepandainku menyimpan luka, menyimpan kehancuran dan selalu tersenyum saat ada kamu.. setidaknya kita nggak ada istilah mantan jancukan, meski orang waras jika di posisiku bakal nyebut kamu bukan lagi jancuk, tapi asu.
Jika saja itu aku lakukan, mungkin.. kamu sudah nggak ada lagi disini, meski sudah bertahun-tahun kamu pergi, adapun singgah sebatas numpang tidur.
Lucu.
Mungkin, aku terlalu baik dulu. Dan sampai sekarang pun, secara nggak sadar aku masih baik, meski apatis parah. Entahlah.
Malam pun lenyap, tatkala mata ini terbuka saat mentari sudah tinggi. Dan Rania, masih lelap di sofa depan tv, teduh.. namun beban entah berantah masih tersirat di wajahnya yang berat.
Karena masih lumayan pagi, aku sempatin buat teh anget, buat dia. Sebenarnya gw juga bingung, kenapa harus teh anget, tapi.. ya begitulah, daripada nggak ada apa-apa, ya kalau Lola, pasti sudah bikin ini itu.
Haragah..
Aku masih ngantuk, mending mandi terus ngantor.
Cus lah..
***
Di kantor, selain kerja nggak ada yang lain. Membosankan memang, tapi—mau bagaimana lagi. Mentok ngopi plus dengerin music, music pun itu-itu saja, apalagi aku adalah manusia yang cepat bosan. Intinya, bukan music apa yang lagi hits, tapi—menyesuaikan hati doang, nggak masalah liriknya nggak ngeri, macam bahasa rusia, bahasa daerah—tapi! Kalau musiknya enak, ya.. hayuk.
Haiya..
Hati gw malah gusar sekarang, memang—nggak jujur itu menyakitkan, apalagi nggak bisa mengurai masalah diri sendiri. Gelap.
Haragah, gw pegen pergi dari dunia ini.
Gw balik lebih awal, bodo amat—lagian gw sudah stuck, nggak bisa mikir dan ngebalank. Gw Cuma mau pulang, tidur.
Bay..
"Kamu kenapa kesini lagi?" sapaku baik.
"Bosen,"
"Terus, kalau bosen.. kenapa kesini"
"Bodo,"
Tuhan, maha berat menerka hati seorang perempuan. Dan malam itu, adalah malam-malam layaknya malam saat dia masih imut sebagai adek sekaligus kekasihku, tidak seperti sekarang. Meski dia sudah aku anggap adek sendiri, nyatanya dia sudah jauh lebih dewasa daripada saat itu, so.. aku juga harus jaga lisan supaya tidak menimbulkan salah paham. Terlebih, hatiku yang sudah remuk.. biarlah nyenyak dalam keremukanya, jangan sampai.. diantara remuk itu tumbuh semai. Aku tidak mau.
Semalaman, dia nggak tidur. Cuma cemberut sembari nonton tv, entah nonton apa.. faktanya itu chanel selalu rubah-rubah. Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku diam. Pertama, bisa jadi dia pegen sendiri. Kedua, dia belum mau bicara.. so, kalau sudah mau bicara pasti bicara. Aku tau siapa dia. Mulai apa yang kadang di permasalahkan, ternyata bukan itu juga. Repot.
Aku juga nggak begitu peka apalagi sok peka kepada dia, kalau dulu wajar.. tapi sekarang? aku piir sudah nggak ada alasan lagi untuk peduli?.
"Rania.." bisikku dalam hati. "Kamu sekarang sudah besar, cantik.. tapi satu yang masih belum ilang, kalau lagi nggak mod, seolah.. akupun yang ada di dekatmu lenyap, nggak ada dan nggak pernah ada, padahal.. aku ingin tau, setidaknya kenapa dengan kamu..."
Tiba-tiba, aku tersenyum. Meski kecil, ada nuansa lega dan haru. Melihat, dia yang selalu menang sendiri, bawel, manja dan cuekmu itu. Masih tampak sama, dasar.. adekku yang cantik. Benar, dulu aku pernah terluka oleh mu, tapi.. berkat kepandainku menyimpan luka, menyimpan kehancuran dan selalu tersenyum saat ada kamu.. setidaknya kita nggak ada istilah mantan jancukan, meski orang waras jika di posisiku bakal nyebut kamu bukan lagi jancuk, tapi asu.
Jika saja itu aku lakukan, mungkin.. kamu sudah nggak ada lagi disini, meski sudah bertahun-tahun kamu pergi, adapun singgah sebatas numpang tidur.
Lucu.
Mungkin, aku terlalu baik dulu. Dan sampai sekarang pun, secara nggak sadar aku masih baik, meski apatis parah. Entahlah.
Malam pun lenyap, tatkala mata ini terbuka saat mentari sudah tinggi. Dan Rania, masih lelap di sofa depan tv, teduh.. namun beban entah berantah masih tersirat di wajahnya yang berat.
Karena masih lumayan pagi, aku sempatin buat teh anget, buat dia. Sebenarnya gw juga bingung, kenapa harus teh anget, tapi.. ya begitulah, daripada nggak ada apa-apa, ya kalau Lola, pasti sudah bikin ini itu.
Haragah..
Aku masih ngantuk, mending mandi terus ngantor.
Cus lah..
***
Di kantor, selain kerja nggak ada yang lain. Membosankan memang, tapi—mau bagaimana lagi. Mentok ngopi plus dengerin music, music pun itu-itu saja, apalagi aku adalah manusia yang cepat bosan. Intinya, bukan music apa yang lagi hits, tapi—menyesuaikan hati doang, nggak masalah liriknya nggak ngeri, macam bahasa rusia, bahasa daerah—tapi! Kalau musiknya enak, ya.. hayuk.
Haiya..
Hati gw malah gusar sekarang, memang—nggak jujur itu menyakitkan, apalagi nggak bisa mengurai masalah diri sendiri. Gelap.
Haragah, gw pegen pergi dari dunia ini.
Gw balik lebih awal, bodo amat—lagian gw sudah stuck, nggak bisa mikir dan ngebalank. Gw Cuma mau pulang, tidur.
Bay..
ym15 dan 5 lainnya memberi reputasi
6