- Beranda
- Stories from the Heart
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
...
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah 
Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang
Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka
Selamat membaca

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.

Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS

Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka

Selamat membaca

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#232
Chapter 23
Butuh semalam penuh untuk membersihkan para zombie dan mengamankan kota. Setelah semuanya telah usai, Major memutuskan untuk menutup sekolah, dan menyuruh semua orang agar beristirahat dirumah masing-masing. Semua itu dimaksudkan agar semua orang dapat menenangkan diri atas semua kejadian yang terjadi kemarin malam. Semua orang diperintahkan untuk berdiam diri dirumah, terkecuali kepada para penjaga dan dewan keamanan kota. Mereka masih harus melakukan patroli untuk memeriksa apakah masih ada zombie yang berkeliaran atau yang berhasil lolos.
Masalah yang lainnya muncul menimpa Alyssa saat Diane memutuskan untuk mengurung diri di dalam kamarnya sepanjang hari, bahkan tidak keluar kamar untuk makan. Alyssa mulai merasa khawatir akan keadaan adiknya, yang belum mengatakan sepatah kata pun saat kekacauan itu terjadi, dan menyaksikan Gabriel terbang kesana-kemari melakukan hal yang hanya bisa dilakukan oleh seorang vampire untuk menyelamatkan kota. Keadaan ini cukup membuatnya menangis karena tidak ingin membebani Diane dengan rahasia ini, rahasia yang cukup gelap, serta mengerikan. Ia tahu bahwa seharusnya Diane mengetahui semuanya, tetapi tidak dengan cara ini. Ia berpikir untuk mencoba lagi untuk berbicara kepada Diane, ketika terdengar ada suara ketukan di pintu. Alyssa lalu membuka pintu dan melihat ada Pablo yang sedang berdiri sambil membawa nampan yang berisi makanan dan camilan.
"Aku tidak bermaksud untuk ikut campur," Pablo memulai pembicaraan. "Tapi aku punya pengalaman dengan hal semacam ini."
"Maksudmu tentang menjelaskan soal monster?" Tanya Alyssa.
"Tidak." Jawab Pablo. "Maksudku tentang berbicara kepada seorang remaja yang keras kepala. Aku dulu punya beberapa orang, biar kucoba untuk berbicara kepadanya."
"Baiklah," ucap Alyssa yang lalu memberikan gerakan untuk menyuruh Pablo masuk. "Lakukan sebisamu."
"Terima kasih." Jawab pablo, lalu menuju ke kamar yang ditempati Diane. Ia berhenti sejenak, lalu mengetuk pintu kamar dengan pelan. Karena tidak ada jawaban, ia pun mencoba untuk mengetuk pintunya untuk kedua kali.
"Pergi sana!" Sebuah suara terdengar dari dalam kamar.
"Aku mengerti, kamu sedang kesal." Ucap pablo. "Aku juga mengerti. Tidak memperingatkanmu saat kebenaran di tumpahkan kepadamu. Rasanya seperti dilempar seekor ular berbisa diatas pangkuanmu. Memang bukan hal yang bagus, dan kejutan semacam ini butuh waktu lama untuk dapat diproses. Aku punya pengalaman seperti ini, jadi percayalah padaku."
Pintunya terbuka sedikit dengan perlahan, Diane pun terlihat sedang mengintip dibaliknya.
"Apa itu yang kau bawa?" Tanya Diane.
"Sesuatu untuk dimakan." Jawab Pablo. "Aku bawakan beberapa makanan enak yang tidak dapat kau temui disini. Hanya bisa dibeli di kota besar saja."
"Kota besar apa?" Diane kembali bertanya.
"Aku bawa peta." Ucap pablo sambil mengarahkan kepalanya pada tabung yang ia jepit di ketiaknya. "Akan kuberitahukan semuanya jika kamu mau mendengarkan dan membiarkanku masuk."
"Semuanya?" Diane mengulanginya.
"Semuanya." Jawab Pablo. "Tapi kamu harus merahasiakan semua yang telah kau dengar dariku. Ada orang-orang yang akan pingsan jika mereka mendengar setengah saja dari apa yang akan kuceritakan padamu nanti. Kebanyakan dari mereka belum siap untuk itu."
"Oke." Ucap Diane, lalu membuka lebar pintunya. "Tapi hanya kau saja yang boleh masuk."
"Jangan khawatir," kata Pablo sambil melihat kepada Alyssa. "Aku bisa menanganinya."
"Baiklah." Jawab Alyssa, dia pun tidak punya pilihan lain untuk menolaknya. Setidaknya ia merasa lega karena Diane mau berbicara kepada seseorang, siapapun, setidaknya untuk saat ini. Ia hanya berdiri dan melihat pintu ditutup dan dikunci dari dalam setelah Pablo masuk. Setelah Pablo masuk kedalam, ia langsung menuju kursi yang ada di sudut kamar, lalu meletakkan nampan yang berisi makanan di atas meja yang ada di sebelahnya. Diane pun duduk di atas kasur, bersiap untuk mendengarkan. Pablo melebarkan peta yang dibawanya diatas lantai, lalu memutuskan untuk menunggu Diane selesai dengan makanannya sebelum ia mulai bercerita.
"Aku tidak perlu menjelaskan kepadamu bagaimana hancurnya dunia yang kita sedang tempati ini." Ucap Pablo memulai percakapan, lalu menunjuk kemarahan jendela. "Kita hidup di atas tanah yang ditempati undead. Meskipun aku tahu hal ini mengejutkan, tapi undead bukanlah satu-satunya monster yang hidup di dunia ini. Mereka hidup di sekitar kita, namun mereka mulai menampakkan diri setelah kekacauan ini berlangsung. Mereka hanya mencoba untuk bertahan hidup seperti kita di dunia dengan keadaan ini, namun mereka juga mencoba mencari kesempatan untuk meningkatkan status mereka."
"Meningkatkan status? Bagaimana maksudmu?" Diane mulai bertanya.
"Dengan menciptakan kota mereka sendiri, bahkan Kota-kota besar." Jawab Pablo.
"Jadi mereka juga ingin hidup seperti kita, bukan?" Tanya Diane lagi.
"Kurang lebih begitu." Jawab Pablo setuju. "Tapi hal ini dapat membingungkan. Ada banyak monster dari yang lainnya. Beberapa dari mereka menyebar ke seantero negri, sebagian lainnya memilih untuk hidup berkelompok. Jenis Gabriel lebih mirip seekor kucing. Mereka melakukan hal mereka masing-masing, dan banyak dari mereka yang mandiri."
"Ada berapa banyak monster diluar sana?" Tanya Diane.
"Lebih banyak daripada yang ingin aku percaya." Jawab Pablo. "Tetapi mereka tidak menginginkan apapun darimu, setidaknya sebagian besar dari mereka seperti itu. Para undead hanyalah sebuah anomali, tetapi pada umumnya, mereka hanya ingin tempat untuk tinggal."
"Tapi Gabriel membutuhkan darah." Diane mengingatkannya.
"Ya, dia memang butuh darah." Ucap Pablo mengakuinya. "Tapi dia tidak mengambilnya tanpa persetujuan atau tanpa syarat tertentu. Darah itu harus diberikan padanya secara sukarela, atau tidak sama sekali."
"Kenapa Alyssa mau menyetujuinya?" Tanya gadis muda itu.
"Untuk alasan yang sama, yang juga aku lakukan untuknya." Jawab Pablo. "Gabriel membarternya dengan bantuan. Bantuan darinya telah menolongku untuk tetap dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama hingga saat ini. Semua persediaan makanan yang Alyssa bawa kembali kerumah adalah berkat bantuan dari Gabriel. Dia menukarnya untuk hal itu, jadi dia tidak harus berburu untuk mendapatkannya."
"Lalu kenapa dia butuh darah Alyssa jika dia punya kamu untuk membantunya?" Tanya Diane.
Pablo menghembuskan nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Diane. "Dengan menggunakan lebih dari satu orang sebagai sumber makanan, dapat mencegah seseorang dari kematian. Memberikan darah bisa menjadi sebuah pekerjaan yang melelahkan, kau tahu itu kan?"
Diane duduk dengan tenang di atas kasur nya, sambil mengunyah camilan, dan mendengarkan dengan seksama saat Pablo menjelaskan tentang tanda di petanya, dan juga alasan mengapa tanda di atas peta diberikan warna yang berbeda-beda. Ketika Pablo mulai menunjuk ke arah salah satu kota, ia mulai lebih memperhatikan dan fokus dengan apa yang dijelaskan oleh Pablo, yang mungkin berumur sama dengan ayahnya, berceloteh tentang kaum werewolf di New Lycan dan kota yang ditempati oleh manusia di wilayah pantai.
"Kenapa harus darah?" Diane mulai bertanya kembali. Sepertinya masih banyak pertanyaan di dalam kepalanya.
"Aku juga tidak mengerti, tapi itulah makanan mereka." Jawab Pablo. "Vampire adalah makhluk yang cukup langka dalam hal ini. Hanya terdapat sejumlah kecil di Amerika Utara, dan kebanyakan dari mereka ada di Eropa, yang merupakan tanah kelahirannya. Mereka telah tinggal disana selama ribuan tahun, bahkan mungkin lebih lama lagi."
"Berapa usia Gabriel? Tanya Diane lagi.
"Aku tidak yakin berapa usia yang sebenarnya, tapi aku pernah melihat gambar dirinya dengan Abraham Lincoln, jadi umurnya kurang lebih beberapa ratus tahun." Ucap Pablo menjelaskan. "Jadi, jika kamu memiliki pertanyaan tentang sejarah, maka Gabriel lah orang yang harus kamu temui."
"Wow," kata gadis muda itu agak terkejut.
"Memang seperti itu," ucap Pablo menambahkan. "Kita bahkan belum membahas tentang makhluk lainnya. Oh, jangan sampai aku mamulai cerita tentang penyihir."
"Penyihir?" Diane mengulanginya. Matanya menyiratkan rasa ngeri ketika kata itu keluar dari mulutnya.
"Kau tidak perlu khawatir tentang mereka." Jawab Pablo, mencoba menenangkan Diane. "Para nenek sihir itu tinggal di New Salem, kita berada cukup jauh dari mereka, sangat jauh dari tempat yang mengerikan itu. Tetapi mereka jarang bepergian, sepertinya hal itu cukup berbahaya untuk mereka sendiri. Bukan hanya dari undead, tetapi juga dari species lain yang juga takut kepada mereka."
"Apakah kau pernah bertemu dengan seorang penyihir?" Tanya Diane, ingin mendengar lebih banyak tentang mereka.
"Pernah." Jawab Pablo mengakuinya. "Tapi itu bukan hal yang bagus untuk diceritakan setelah jam tidur. Kasur ini butuh banyak huruf Z yang keluar dari mulutmu."
"Apakah kau berjanji akan menceritakan lebih banyak lagi nanti?" Tanya Diane sambil menutupi dirinya dengan selimut dan mulai berbaring.
"Tentu saja, Aku berjanji." Jawab Pablo sambil tersenyum ke arahnya. "Selamat malam, Diane."
Pablo mematikan lampu kamar, lalu berjalan keluar dan menutup kembali pintunya. Alyssa masih berada di lorong, gadis itu sepertinya tetap berada disana saat Pablo masuk, menunggu pria itu keluar dari kamar Diane.
"Dia akan baik-baik saja." Ucap Pablo sambil berbisik. "Dia mungkin masih memiliki banyak pertanyaan, tapi ini bisa memberikanmu kesempatan untuk menjawab pertanyaan darinya nanti. Beri dia sedikit waktu, dan biarkan ia mengolah semua informasi yang telah ia terima. Diane akan datang sendiri kepadamu saat ia telah siap."
"Baiklah, aku mengerti." Jawab Alyssa sambil tersenyum. "Terima kasih atas bantuanmu."
"Akan kulakukan yang terbaik." Jawab Pablo. "Tidak ada buku manual untuk menjelaskan tentang keberadaan makhluk lain kepada para remaja. Dia dapat menerimanya dengan sangat baik, dan keberadaan undead diluar dinding sana membuatku dapat menjelaskannya dengan lebih mudah."
Pablo berpamitan lalu pulang, tidak lama setelahnya Alyssa pun pergi ke kamarnya untuk tidur. Keesokan harinya, Diane masih tetap mengurung diri di dalam kamarnya, tapi Alyssa mengikuti saran Pablo untuk membiarkannya. Menunggu Diane yang akan datang sendiri padanya. Alyssa sedang tertidur di sofa saat Diane keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas susu. Ia sedang memakan sisa biskuit dan melihat ulang peta yang Pablo bawa, lalu terdengar suara seperti ketukan pada pintu. Namun saat ia menuju kearah pintu dan membukanya, tidak ada siapapun disana. Sejurus kemudian, suara ketukan itu terdengar lagi, Diane pun lalu membalikkan badan dan menyadari bahwa suara ketukan itu berasal dari kaca jendela. Keadaan ini sedikit menakutinya, ketika ia menyadari bahwa tidak ada balkon di luar jendela, dan ia pun menempati kamar tidur yang ada di lantai tiga. Dengan sedikit keberanian yang ada, Diane melangkah menuju jendela lalu membuka tirainya. Di sana terlihat Gabriel yang sedang terbang melayang sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Halo." Ucap Gabriel sambil memberikan sedikit senyuman.
"Hai." Jawab Diane, sambil melihat ke arah kaki Gabriel untuk mengecek apakah ia sedang benar-benar terbang. "Apakah kau kesal kepadaku?"
"Kesal untuk apa?" Gabriel merespon dengan singkat.
"Karena mengurung diri di dalam kamar," Jawab Diane. "Dan tidak berbicara kepada Alyssa."
"Maksudmu karena bertingkah laku seperti remaja pada umumnya?" Gabriel menambahkan. "Kau telah mengalami banyak hal. Tindakan yang kamu lakukan cukup dewasa dibandingkan dengan para manusia lainnya lakukan padaku di jaman dulu."
"Benarkah?" Tanya Diane. "Memangnya apa yang telah mereka lakukan kepadamu?"
"Mereka berkumpul." Jawab Gabriel. "Garpu taman, obor, dan tombak dimana-mana, sepanjang jalan."
"Wow." Ucap Diane. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Aku terbang dan pergi menjauh." Jawab Gabriel. "Lalu memulai lagi hidup yang baru."
"Kamu bisa terbang, ya? Keren sekali!" Ujar Diane kagum.
"Memang terlihat keren." Ucap Gabriel mengakuinya. "Cara yang paling aman untuk bepergian seperti ini. Apakah kamu ingin mencobanya?"
"Sekarang?" Ucap Diane agak khawatir, mengingat sudah larut malam.
"Kami adalah makhluk malam." Gabriel mencoba mengingatkannya. "Aku tidak terbang seperti ini di siang hari. Alyssa akan mengerti."
"Kamu tidak mencoba untuk mengambil darahku, kan?" Tanya Diane.
"Tidak, tentu tidak." Jawab Gabriel. "Aku masih muda, dan juga sudah cukup banyak makan."
"Apakah ucapanmu itu berarti sesuatu?" Tanya Diane lagi.
"Kami tidak menyebarkan hal ini," Jawab Gabriel. "Tapi darah gadis muda dapat membuat kami terlibat masalah. Bagaimana kalau kita pergi ke tempatku?"
"Maksudmu di Nashville?" lanjut Diane, mengingat apa yang telah Alyssa ceritakan padanya dulu.
"Yeah," Jawab Gabriel. "Kita bisa berbicara lebih banyak disana."
Diane tersenyum saat ia membayangkan dapat pergi keluar dari kota. "Baiklah, ayo kita pergi."
69banditos dan 5 lainnya memberi reputasi
6