- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#6
Pisah..
Adalah hal yang pernah gw alami, meski tak sesakit ini. Dulu, gw pisah karena bosan—sedangkan ini, pisah karena keadaan. Dia bilang, gw sudah nggak seperti dulu lagi, gw sudah nggak perhatian, gw jarang ada waktu dan gw sudah berubah?.
Saat gw serba salah, gw pegen tabayun ke dia, tapi dia nggak mau. Dia bilang buat apa, persoalnya sudah jelas dan dia mau p u t u s.
Karena dari awal niat gw baik, maka gw yang harus menjadi tanah. Gw Tanya baik-baik, awalnya dia bersikukuh dengan stereotip atas merahnya gw yang sekarang. Tapi akhirya dia ngaku, bahwasanya dia sudah sama cowo lain, kira-kira sudah satu bulan ini. Gara-garanya sepele, dia dibantu saat nyari kampus plus segala tetekbengeknya dia yang bantuin, dan saat itu gw nggak bisa kasih apa-apa.
Rela nggak rela, gw harus rela. Lagipula—kalau itu yang terbaik, toh
janjiku satu—asal dia bahagia, aku akan baik-baik saja.
Tapi tidak semudah itu ferguso, dia yang mendaptkan kehidupanya, sedangkan gw.. mendapatkan sepah paitnya.
Kamu tahu, tahun 2015 yang lalu, adalah tahun dimana kita sudah janji buat nikah, tapi apa—Tuhan memang suka bikin ulah. Mulai saat itu, gw jadi sampah. Pekerjaan berantakan, Hidup susah, mati segan. Kuliah enggan, do tak mau.
Sungguh, masa-masa yang sangat kelam. Lantas, kejadian itu yang membuat gw seperti yang sekarang ini. Meski sudah empat tahun yang lalu, bias itu masih lekat di ingatan gw. Betapa, gw ini adalah manusia yang entah berantah. Gara-gara dia, hidup gw berantakan.
Hampir lima tahun gw sendiri, tanpa apa dan untuk apa. Selebihnya Cuma kerja untuk memperpanjang hidup. Adapun Lola dan mereka, rasa-rasanya sama saja. Pun kehadiran Rania yang serba mendadak, setelah sekian lama—laiknya mencabut duri yang telah lama bersemayam.
Gw harus bagaimana. Karena nyatanya, gw sudah nggak lagi peduli dengan kehidupan ini. Pun, jika detik ini gw mati—itu adalah hal yang cukup baik. Dari pada gw harus pusing dengan kepusingan yang nggak ada gunanya buat gw.
Satu hal yang gw patenkan, gw nggak mau membuat orang sakit hati karena gw. Istilahnya, biarkan gw ada namun nggak apa jika nggak dianggap ada. Pun kalu gw mati, anggap saja gw nggak pernah ada.
Gw adalah salah satu manusia yang berat akan prinsip, mejalin hubungan juga begitu—kalau dia nggak seperinsip, secantik dan se—apapun dia, gw nggak bakalan ngelirik. Dan satu lagi, jangan ganggu gw kalau nggak mau di ganggu, gw juga nggak bakalan nyentuh loe kalau loe nggak nyentuh gw. Dan apapun itu, asal gw nggak minta makan sama low, gw nggak ada urusan ataupun apa atas nama loe.
Gw bisa hidup sendiri.
Di luar sana, juga banyak manusia hidup dengan sendiri. Kenapa gw harus risau.
CLING..
Bel apartemen gw bunyi, ternyata om go food. Malam ini hujan jadi gw males keluar. Gw jadi pesen mie ayam, untung masih ada.
Teruntuk malam ini, gw cukup lega sekaligus berat, karena ada banyak hal yang nggak sepenuhnya bisa gw ungkapkan, entah karena apa—gw nggak bisa.
Dengan lahap, gw makan pangsit mie yang sudah dingin. Sejenak, otak gw nggak lagi bising.
Dan malam itu berakhir dengan perut kenyang, kantuk dan doa.
..ya alloh, berikanlah hamba ketenagan hati dan pikiran..
Memang, manusia itu tempatnya lucu-lucuan. Macem gw, kalau di lihat—gw ini tipe manusia es, tapi—jiwa gw berisik, melo, hangat, banyak ngomong dan banyak hahahihi. Nggak seperti di kehidupan nyata. Gw pendiam dan selalu hidup di belakang layar.
Satu kata..
“Alone..”
Adalah hal yang pernah gw alami, meski tak sesakit ini. Dulu, gw pisah karena bosan—sedangkan ini, pisah karena keadaan. Dia bilang, gw sudah nggak seperti dulu lagi, gw sudah nggak perhatian, gw jarang ada waktu dan gw sudah berubah?.
Saat gw serba salah, gw pegen tabayun ke dia, tapi dia nggak mau. Dia bilang buat apa, persoalnya sudah jelas dan dia mau p u t u s.
Karena dari awal niat gw baik, maka gw yang harus menjadi tanah. Gw Tanya baik-baik, awalnya dia bersikukuh dengan stereotip atas merahnya gw yang sekarang. Tapi akhirya dia ngaku, bahwasanya dia sudah sama cowo lain, kira-kira sudah satu bulan ini. Gara-garanya sepele, dia dibantu saat nyari kampus plus segala tetekbengeknya dia yang bantuin, dan saat itu gw nggak bisa kasih apa-apa.
Rela nggak rela, gw harus rela. Lagipula—kalau itu yang terbaik, toh
janjiku satu—asal dia bahagia, aku akan baik-baik saja.
Tapi tidak semudah itu ferguso, dia yang mendaptkan kehidupanya, sedangkan gw.. mendapatkan sepah paitnya.
Kamu tahu, tahun 2015 yang lalu, adalah tahun dimana kita sudah janji buat nikah, tapi apa—Tuhan memang suka bikin ulah. Mulai saat itu, gw jadi sampah. Pekerjaan berantakan, Hidup susah, mati segan. Kuliah enggan, do tak mau.
Sungguh, masa-masa yang sangat kelam. Lantas, kejadian itu yang membuat gw seperti yang sekarang ini. Meski sudah empat tahun yang lalu, bias itu masih lekat di ingatan gw. Betapa, gw ini adalah manusia yang entah berantah. Gara-gara dia, hidup gw berantakan.
Hampir lima tahun gw sendiri, tanpa apa dan untuk apa. Selebihnya Cuma kerja untuk memperpanjang hidup. Adapun Lola dan mereka, rasa-rasanya sama saja. Pun kehadiran Rania yang serba mendadak, setelah sekian lama—laiknya mencabut duri yang telah lama bersemayam.
Gw harus bagaimana. Karena nyatanya, gw sudah nggak lagi peduli dengan kehidupan ini. Pun, jika detik ini gw mati—itu adalah hal yang cukup baik. Dari pada gw harus pusing dengan kepusingan yang nggak ada gunanya buat gw.
Satu hal yang gw patenkan, gw nggak mau membuat orang sakit hati karena gw. Istilahnya, biarkan gw ada namun nggak apa jika nggak dianggap ada. Pun kalu gw mati, anggap saja gw nggak pernah ada.
Gw adalah salah satu manusia yang berat akan prinsip, mejalin hubungan juga begitu—kalau dia nggak seperinsip, secantik dan se—apapun dia, gw nggak bakalan ngelirik. Dan satu lagi, jangan ganggu gw kalau nggak mau di ganggu, gw juga nggak bakalan nyentuh loe kalau loe nggak nyentuh gw. Dan apapun itu, asal gw nggak minta makan sama low, gw nggak ada urusan ataupun apa atas nama loe.
Gw bisa hidup sendiri.
Di luar sana, juga banyak manusia hidup dengan sendiri. Kenapa gw harus risau.
CLING..
Bel apartemen gw bunyi, ternyata om go food. Malam ini hujan jadi gw males keluar. Gw jadi pesen mie ayam, untung masih ada.
Teruntuk malam ini, gw cukup lega sekaligus berat, karena ada banyak hal yang nggak sepenuhnya bisa gw ungkapkan, entah karena apa—gw nggak bisa.
Dengan lahap, gw makan pangsit mie yang sudah dingin. Sejenak, otak gw nggak lagi bising.
Dan malam itu berakhir dengan perut kenyang, kantuk dan doa.
..ya alloh, berikanlah hamba ketenagan hati dan pikiran..
Memang, manusia itu tempatnya lucu-lucuan. Macem gw, kalau di lihat—gw ini tipe manusia es, tapi—jiwa gw berisik, melo, hangat, banyak ngomong dan banyak hahahihi. Nggak seperti di kehidupan nyata. Gw pendiam dan selalu hidup di belakang layar.
Satu kata..
“Alone..”
muhammadarrm dan 6 lainnya memberi reputasi
7