- Beranda
- Stories from the Heart
Warna Luka
...
TS
andmse
Warna Luka
Spoiler for Cover:
Hallo agan-agan dan mba-mba dan kakak-kakak dan semuanya...
Sebelumnya saya mau minta izin terutama untuk sesepuh SFTH buat bikin thread disini hehe...
Setelah sekian lama jadi silent reader, dan berbanjuran air mata terus lama-lama terinspirasi buat berani nulis...tadinya sempet bingung buat index part , bodoh bgt yak? haha... sampe akhirnya bisa dan langsung semangat buat nerusin nulis lagi hehe curhat

Ini cerita tentang laki-laki yang cenderung cupu dengan yang namanya cinta cieelahh...
Maaf kalau penulisannya kurang rapih... sambil dibantu yak hehe biar bisa lebih baik lagi...
Spoiler for Prolog:
Index Part:
Part 1
Part 2
Part 3 ( Tentang Sebuah Nama )
Part 4
Part 5
Part 6 ( Sekolah, Murid Baru, Bintang Sekolah )
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10 ( Sosok Yang Tak Terduga )
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15 ( MABIS "Masa Bimbingan Siswa" )
Part 16
Part 17 ( Akhrinya )
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24 ( Cedera )
Part 25
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 6 suara
Bagaimana Ending Cerita Ini ?
Happy Ending
33%
Sad Ending
67%
Diubah oleh andmse 20-04-2019 00:42
jonet1994 dan 27 lainnya memberi reputasi
26
13.7K
121
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andmse
#12
Part 10 ( Sosok Yang Tak Terduga )
Hari ini adalah hari terakhir acara classmeeting, yaitu dimana hari ini juga aku dan teman-temanku mencoba hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Berhadapan dengan orang banyak, sudah pasti menjadi suatu adrenalin yang membuat jantung melemah dan hampir copot. Oke itu lebay sih hehe.
"Udah siap semuanya ni? Ada yang ketinggalan gak?" Tanyaku pada saat sedang berkumpul didepan rumah dan hendak berangkat kesekolah.
"Udah ko udah" Kata Alfy.
"Iya udah ni" Kata Rakha.
"Yaudah yuk berangkat" Kataku.
Ditengah perjalanan menuju kesekolah, tubuhku mendadak lemas, jantung berdebar lebih cepat, muka pucat berkeringat. Oke lebaynya keluar.
"Anjir ramai banget itu didepan panggung" Kata Rakha.
"Gue deg-degan cuy" Kata Alfy.
"Gue pengen mati!" Kataku.
"Yaudah ayok masuk dulu." Kata Rakha.
"Eh sini-sini!!" Kata putri dari depan kelas.
"Gimana udah siap?" Tanya Putri.
"Udah dong..." Jawab Alfy.
"Na... muka lo pucet banget haha" Kata Rakha.
"Jantung gue kayaknya mau lepas deh ni kayaknya" Jawabku dengan datar.
"Haha apa sih lebay" Kata Putri.
Lalu mulai terdengar suara-sara ceck sound. Dan tampaknya sudah mau mulai untuk yang pertama tampil.
"Itu kelas G kan ya?" Kata Rakha.
"Iya itu si Ryan" Jawabku.
Ryan ini adalah cowok yang lumayan terkenal disekolah ini, karena dia jago main gitar. Dan juga yang pernah ku ceritakan, dia adalah cowok yang menyatakan perasaannya ke Diva dengan memainkan gitarnya.
Setelah beberapa peserta dari kelas lain selesai tampil, kini giliran ku dan kawan-kawan tampil mewakili kelas ku yaitu kelas D.
Dari atas panggung terlihat Putri yang memberi semangat kepada kami dengan gerak-gerik tubuhnya.
"Hallo... Kami Percikan Warna dari kelas D " Kata Alfy.
"ini lagunya Efek Rumah Kaca, judulnya Cinta Melulu" Kata Alfy.
Tidak banyak memang yang tau lagu ini, karena indie saat itu tidak seramai sekarang.
Ketika ditengah-tengah lagu aku melihat Diva dibelakang sana, entah apa yang kurasakan, senang sekali bisa dilihat dia, deg-degan.
"Ya... ini lagu terakhir dari kami"
"Pemuja Rahasia, dari Sheila On 7" Kata Alfy dan disambut sorak-sorak suara karena memang sangat popular lagunya.
"Na na na na na... na na na na na" Semuanya bernyanyi sambil bertepuk tangan mengikuti irama musiknya.
"Mungkin kau takkan pernah tau... Betapa mudahnya kau tuk dikagumi...
Mungkin kau takkan pernah sadar...
Betapa mudahnya kau tuk dicintai..."
Semuanya bernyanyi sampai lagunya selesai.
"Terimakasih...." Kata Alfy.
Senangnya bukan main ketika kita membawakan lagu dan banyak orang yang antusias bernyanyi bersama.
Lalu kami turun kepanggung, dan berjalan menuju kantin. Diperjalanan menuju kantin aku memperhatikan kesekeliling, mencari apakah ada Diva. Tapi tidak ku jumpai juga.
"Woy muka lo kenapa sedih gitu?" Kata Alfy.
"Tau... padahal tadi seru banget banyak yang nyanyi bareng" Kata Rakha.
"Eh gapapa gapapa, yaudah beli es ke Mas Ujo gih" Kataku.
Mungkin hanya halusinasi ku saja ada Diva yang melihatku tadi, mana mungkin orang seperti dia mau melihat ku, memang aku siapa. Yang jauh lebih keren, yang jauh lebih ganteng dariku saja dia tak perduli.
"Balik yuk udah sore" Kataku.
"Ayok dah... mau ngapain lagi coba haha" Kata Alfy.
"Woy pulang ayuk udah sore ni.. lo malah chattingan mulu" Kataku.
"Hehe sabar nih lagi tanggung"
"Yuk ah" Kata Rakha.
Kami pun pulang kerumah masing-masing.
Ah waktu terus berlalu, hingga kini liburan kelulusan sekolah. Aktivitas ku sehari-sehari sama seperti biasanya, karena itu tak aku ceritakan, karena mungkin membosankan.
Masa liburan ku habiskan untuk tidur dan bermain game dirumah kadang bersama Alfy dan Rakha. Tapi seminggu yang lalu Rakha mudik kekampung halamannya. Dan kemarin pun Alfy juga sama pergi ke Bandung.
Kalau tidak yak terpaksa aku mengantar Sherin pergi agar tidak jenuh juga.
"Mau kemana lo rin?" Tanyaku.
"Latihan Voly de" Jawab Sherin.
"Mau gue anter?" Tanyaku.
"Gak usah... gue bareng temen ko" Jawab Sherin.
"Siapa rin siapa? Cowok? Pacar lu? Alhamdulillah... akhrinya lo laku juga ya haha" Kataku.
"Kurang ajar emang ya... bukan, ini cewek ko"
"Dan kayaknya dia juga kakak kelas lo deh" Kata Sherin.
"Hah? Siapa rin?" Kataku penasaran.
"Kepo lo ya haha... yaudah dadah... Assalamualaikum." Kata Sherin.
"Gua tabok lo ya... Walaikumsalam" Jawabku.
Pikiran ku saat itu adalah Diva, karena Diva juga kan anak voly. Tapi apa hubungannya ya? Apa aku akan sering-sering bertemu dia? Ah sudahlah. Lalu aku menuju dapur untuk mengambil cemilan dan minuman untuk menemaniku bermain game.
"Loh kamu gak nganter kakakmu ?" Tanya Bunda.
"Enggak bun, dia sama temennya katanya" Jawabku.
"Eh gimana... kamu jadinya mau lanjut ke SMA mana?" Tanya Bunda.
"Hmmm... nanti deh bun aku lagi males mikir hehe" Kataku.
"Apa mau di Semarang aja?" Tanya Bunda.
"Buset bun... enggak ah jauh banget" Kataku.
"Kan nanti kamu disana sama Septian sama saudara-saudara kamu". Kata Bunda.
"Enggak ah bun.. yang deket-deket aja... nanti kalau jauh-jauh aku kangen Bunda hehe" Kataku.
"Dasar... yaudah sana... jangan sampai kelamaan mikirnya, nanti keburu tutup pendaftarannya". Kata Bunda
"Siap Bunda!" Kataku sambil memperagakan postur hormat.
Lalu aku menuju kamar, lalu ada notifikasi muncul dihandphone ku. Ternyara dari Alfy yang mengajak untuk main game bersama.
Hari sudah malam, dan terdengar samar-samar dari luar pintu, suara Sherin sedang mengobrol dengan bunda, tapi aku tetap dikamar asik bermain game.
Tak lama aku keluar kamar untuk mengambil air minum kedapur.
Dimeja makan ada berapa kue yang baru matang, aku menghampiri Bunda untuk menanyakan kue mana yang sudah boleh dimakan.
"Bu.." niatnya aku ingin memanggil Bunda, tapi belum selesai mengucap kalimat "Bunda" aku langsung terdiam karena kaget dengan apa yang kulihat.
"Ada apa de?" Tanya Bunda.
Lalu seorang wanita disebelahnya tersenyum manis. Aku bingung, karena ku kira yang didapur adalah Sherin, tapi ternyata bukan. Lalu dimana Sherin?.
"Eh...enggak bun..." Kataku dan langsung kembali kekamar.
Entah apa yang aku rasakan saat itu, tidak karuan. Siapa menyangka sangka kalau bintang disekolah berada dirumahku, dan aku bisa melihat senyumnya dengan dekat didalam rumahku.
Senang pasti, deg-degan apalagi hehe.
"Berarti apa yang gue pikirin tentang temennya Sherin bener dong" Kataku dalam hati.
Lalu aku kembali memainkan game ku dan aku mengabari temanku.
"Lo harus tau dirumah gue ada siapa... " ketikku lalu kukirim pesannya.
Lalu tak lama muncul notifikasi di hpku.
"Siapa? Tukang koran?" Jawab Alfy.
"Siapa? Gebetan gue main kerumah lo?" Jawab Rakha.
"Apaan sih kampret ... serius nih.. ada Diva dirumah gue lagi bikin kue malah sama nyokap gue" Kataku.
"Anjirr seriusan? Ko bisa?" Kata Rakha.
"Wah gila cuy, nyesel gue mudik nih" Kata Rakha.
Tiba-tiba ada telfon masuk dari Rakha, dia menanyakan hal yang baru aku katakan. Dan kami ngobrol panjang lebar tentang hal ini.
"De... antar temennya Sherin ya" Kata Bunda yang tiba-tiba masuk kekamarku dan langsung ku matikan telfonnya.
"Hah? Ko aku bun... kenapa gak sama Sherin?" Kataku.
"Ini kan udah malam de... kamu kan laki-laki... jadi bisa sekalian jagain dia"
"Naik motor babeh aja..." Kata Bunda.
"Yaudah deh bun" Kataku.
Mulut malu-malu kucing... sok-sokan mau nolak nganterin, padahal dalam hati girang banget haha.
Lalu aku mengantarkan Diva kerumahnya, lumayan jauh sih dari rumahku. Ditengah perjalanan suasana hening tanpa ada satu pun obrolan yang kami lakukan.
"Lo adik kelas gue kan? Yang waktu itu tampil diclassmeting bawain lagu ERK?" Tanyanya.
"Eh...iya ka hehe ko tau ya?" Jawabku dengan gugup.
"Santai aja jangan gugup gitu... kayak ngobrol sama siapa aja haha" Katanya.
"Hehe iya ka" Kataku.
"Gausah pake kak... Diva aja" Kata Diva.
"Iyaa kaa... eh div..."
"Ngomong-ngomong ko bisa kenal Sherin?" Tanya ku.
Jarang sekali aku mengobrol dengan perempuan berdua seperti ini, apalagi dengan Diva.
"Iya... soalnya dia senior gue di voly, dulu suka latihan bareng, sampe sekarang sih... tapi udah jarang ketemu aja gitu suka beda waktunya" Jawab Diva.
Dan ternyara Diva orangnya asik juga tak seperti yang kubayangkan saat disekolah saat itu.
"Ini jalannya ke kiri atau ke kanan atau lurus aja"? Tanyaku.
"Oh lurus aja dulu nanti di depan belok kanan". Jawabnya
"Eh lo suka lagu Efek Rumah Kaca?" Tanyanya.
"Engga juga sih, kalo lagu sih random aja... cuma emang lagi sering dengerin albumnya yang Efek Rumah Kaca" Kataku.
"Pasti lo sering dengerin yang judul Desember kan?" Kata Diva
"Hehe ko tau?... tapi yang Sebelah Mata juga enak" Kataku.
"Eh ini belok kanan kan?" Tanyaku.
"Iyaa itu rumah gue yang ada mobil hitam didepannya" Kata Diva.
"Ini mobil hitam ada 3 div, mobil lo banyak juga ya" Kataku.
"Bukan itu maksudnya... yang sebelah kanan rumah gue" Kata Diva.
"Oh haha kirain" Kataku.
Lalu kami sampai dirumahnya, rumah yang tak jauh beda dari rumahku. Cuma nampak sepi saja, mungkin keluarganya sedang pergi.
"Mau mampir dulu?"
"Eh nama lo siapa? Lupa gue mau nanya" Kata Diva.
"Ehh enggak div... langsung pulang aja udah malem ini"
"Nama gue Warna" Kataku.
"Hah? Serius nama lo Warna?" Tanyanya dengan muka yang bingung seperti orang-orang yang baru tau namaku.
"Iya seriusan tanya aja Sherin atau nyokap gue..."
"Oh iya ini tadi ada kue dari nyokap gue katanya ini buat lo" Kataku sambil memberikan kotak makanan.
"Oh iyaa bilangin ke Bunda, makasih ya repot-repot bawain kue" Kata Diva.
"Kan yang bawa gue haha" Kataku.
"Oh iya ya lupa gue haha" Kata Diva
"Yaudah gue pulang dulu ya" Kataku sambil menyalakan motor.
"Oke deh... hati-hati" Katanya.
Lalu aku membalasnya dengan senyuman dan langsung pulang kerumah.
Hari ini adalah hari terakhir acara classmeeting, yaitu dimana hari ini juga aku dan teman-temanku mencoba hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Berhadapan dengan orang banyak, sudah pasti menjadi suatu adrenalin yang membuat jantung melemah dan hampir copot. Oke itu lebay sih hehe.
"Udah siap semuanya ni? Ada yang ketinggalan gak?" Tanyaku pada saat sedang berkumpul didepan rumah dan hendak berangkat kesekolah.
"Udah ko udah" Kata Alfy.
"Iya udah ni" Kata Rakha.
"Yaudah yuk berangkat" Kataku.
Ditengah perjalanan menuju kesekolah, tubuhku mendadak lemas, jantung berdebar lebih cepat, muka pucat berkeringat. Oke lebaynya keluar.
"Anjir ramai banget itu didepan panggung" Kata Rakha.
"Gue deg-degan cuy" Kata Alfy.
"Gue pengen mati!" Kataku.
"Yaudah ayok masuk dulu." Kata Rakha.
"Eh sini-sini!!" Kata putri dari depan kelas.
"Gimana udah siap?" Tanya Putri.
"Udah dong..." Jawab Alfy.
"Na... muka lo pucet banget haha" Kata Rakha.
"Jantung gue kayaknya mau lepas deh ni kayaknya" Jawabku dengan datar.
"Haha apa sih lebay" Kata Putri.
Lalu mulai terdengar suara-sara ceck sound. Dan tampaknya sudah mau mulai untuk yang pertama tampil.
"Itu kelas G kan ya?" Kata Rakha.
"Iya itu si Ryan" Jawabku.
Ryan ini adalah cowok yang lumayan terkenal disekolah ini, karena dia jago main gitar. Dan juga yang pernah ku ceritakan, dia adalah cowok yang menyatakan perasaannya ke Diva dengan memainkan gitarnya.
Setelah beberapa peserta dari kelas lain selesai tampil, kini giliran ku dan kawan-kawan tampil mewakili kelas ku yaitu kelas D.
Dari atas panggung terlihat Putri yang memberi semangat kepada kami dengan gerak-gerik tubuhnya.
"Hallo... Kami Percikan Warna dari kelas D " Kata Alfy.
"ini lagunya Efek Rumah Kaca, judulnya Cinta Melulu" Kata Alfy.
Tidak banyak memang yang tau lagu ini, karena indie saat itu tidak seramai sekarang.
Ketika ditengah-tengah lagu aku melihat Diva dibelakang sana, entah apa yang kurasakan, senang sekali bisa dilihat dia, deg-degan.
"Ya... ini lagu terakhir dari kami"
"Pemuja Rahasia, dari Sheila On 7" Kata Alfy dan disambut sorak-sorak suara karena memang sangat popular lagunya.
"Na na na na na... na na na na na" Semuanya bernyanyi sambil bertepuk tangan mengikuti irama musiknya.
"Mungkin kau takkan pernah tau... Betapa mudahnya kau tuk dikagumi...
Mungkin kau takkan pernah sadar...
Betapa mudahnya kau tuk dicintai..."
Semuanya bernyanyi sampai lagunya selesai.
"Terimakasih...." Kata Alfy.
Senangnya bukan main ketika kita membawakan lagu dan banyak orang yang antusias bernyanyi bersama.
Lalu kami turun kepanggung, dan berjalan menuju kantin. Diperjalanan menuju kantin aku memperhatikan kesekeliling, mencari apakah ada Diva. Tapi tidak ku jumpai juga.
"Woy muka lo kenapa sedih gitu?" Kata Alfy.
"Tau... padahal tadi seru banget banyak yang nyanyi bareng" Kata Rakha.
"Eh gapapa gapapa, yaudah beli es ke Mas Ujo gih" Kataku.
Mungkin hanya halusinasi ku saja ada Diva yang melihatku tadi, mana mungkin orang seperti dia mau melihat ku, memang aku siapa. Yang jauh lebih keren, yang jauh lebih ganteng dariku saja dia tak perduli.
"Balik yuk udah sore" Kataku.
"Ayok dah... mau ngapain lagi coba haha" Kata Alfy.
"Woy pulang ayuk udah sore ni.. lo malah chattingan mulu" Kataku.
"Hehe sabar nih lagi tanggung"
"Yuk ah" Kata Rakha.
Kami pun pulang kerumah masing-masing.
Ah waktu terus berlalu, hingga kini liburan kelulusan sekolah. Aktivitas ku sehari-sehari sama seperti biasanya, karena itu tak aku ceritakan, karena mungkin membosankan.
Masa liburan ku habiskan untuk tidur dan bermain game dirumah kadang bersama Alfy dan Rakha. Tapi seminggu yang lalu Rakha mudik kekampung halamannya. Dan kemarin pun Alfy juga sama pergi ke Bandung.
Kalau tidak yak terpaksa aku mengantar Sherin pergi agar tidak jenuh juga.
"Mau kemana lo rin?" Tanyaku.
"Latihan Voly de" Jawab Sherin.
"Mau gue anter?" Tanyaku.
"Gak usah... gue bareng temen ko" Jawab Sherin.
"Siapa rin siapa? Cowok? Pacar lu? Alhamdulillah... akhrinya lo laku juga ya haha" Kataku.
"Kurang ajar emang ya... bukan, ini cewek ko"
"Dan kayaknya dia juga kakak kelas lo deh" Kata Sherin.
"Hah? Siapa rin?" Kataku penasaran.
"Kepo lo ya haha... yaudah dadah... Assalamualaikum." Kata Sherin.
"Gua tabok lo ya... Walaikumsalam" Jawabku.
Pikiran ku saat itu adalah Diva, karena Diva juga kan anak voly. Tapi apa hubungannya ya? Apa aku akan sering-sering bertemu dia? Ah sudahlah. Lalu aku menuju dapur untuk mengambil cemilan dan minuman untuk menemaniku bermain game.
"Loh kamu gak nganter kakakmu ?" Tanya Bunda.
"Enggak bun, dia sama temennya katanya" Jawabku.
"Eh gimana... kamu jadinya mau lanjut ke SMA mana?" Tanya Bunda.
"Hmmm... nanti deh bun aku lagi males mikir hehe" Kataku.
"Apa mau di Semarang aja?" Tanya Bunda.
"Buset bun... enggak ah jauh banget" Kataku.
"Kan nanti kamu disana sama Septian sama saudara-saudara kamu". Kata Bunda.
"Enggak ah bun.. yang deket-deket aja... nanti kalau jauh-jauh aku kangen Bunda hehe" Kataku.
"Dasar... yaudah sana... jangan sampai kelamaan mikirnya, nanti keburu tutup pendaftarannya". Kata Bunda
"Siap Bunda!" Kataku sambil memperagakan postur hormat.
Lalu aku menuju kamar, lalu ada notifikasi muncul dihandphone ku. Ternyara dari Alfy yang mengajak untuk main game bersama.
Hari sudah malam, dan terdengar samar-samar dari luar pintu, suara Sherin sedang mengobrol dengan bunda, tapi aku tetap dikamar asik bermain game.
Tak lama aku keluar kamar untuk mengambil air minum kedapur.
Dimeja makan ada berapa kue yang baru matang, aku menghampiri Bunda untuk menanyakan kue mana yang sudah boleh dimakan.
"Bu.." niatnya aku ingin memanggil Bunda, tapi belum selesai mengucap kalimat "Bunda" aku langsung terdiam karena kaget dengan apa yang kulihat.
"Ada apa de?" Tanya Bunda.
Lalu seorang wanita disebelahnya tersenyum manis. Aku bingung, karena ku kira yang didapur adalah Sherin, tapi ternyata bukan. Lalu dimana Sherin?.
"Eh...enggak bun..." Kataku dan langsung kembali kekamar.
Entah apa yang aku rasakan saat itu, tidak karuan. Siapa menyangka sangka kalau bintang disekolah berada dirumahku, dan aku bisa melihat senyumnya dengan dekat didalam rumahku.
Senang pasti, deg-degan apalagi hehe.
"Berarti apa yang gue pikirin tentang temennya Sherin bener dong" Kataku dalam hati.
Lalu aku kembali memainkan game ku dan aku mengabari temanku.
"Lo harus tau dirumah gue ada siapa... " ketikku lalu kukirim pesannya.
Lalu tak lama muncul notifikasi di hpku.
"Siapa? Tukang koran?" Jawab Alfy.
"Siapa? Gebetan gue main kerumah lo?" Jawab Rakha.
"Apaan sih kampret ... serius nih.. ada Diva dirumah gue lagi bikin kue malah sama nyokap gue" Kataku.
"Anjirr seriusan? Ko bisa?" Kata Rakha.
"Wah gila cuy, nyesel gue mudik nih" Kata Rakha.
Tiba-tiba ada telfon masuk dari Rakha, dia menanyakan hal yang baru aku katakan. Dan kami ngobrol panjang lebar tentang hal ini.
"De... antar temennya Sherin ya" Kata Bunda yang tiba-tiba masuk kekamarku dan langsung ku matikan telfonnya.
"Hah? Ko aku bun... kenapa gak sama Sherin?" Kataku.
"Ini kan udah malam de... kamu kan laki-laki... jadi bisa sekalian jagain dia"
"Naik motor babeh aja..." Kata Bunda.
"Yaudah deh bun" Kataku.
Mulut malu-malu kucing... sok-sokan mau nolak nganterin, padahal dalam hati girang banget haha.
Lalu aku mengantarkan Diva kerumahnya, lumayan jauh sih dari rumahku. Ditengah perjalanan suasana hening tanpa ada satu pun obrolan yang kami lakukan.
"Lo adik kelas gue kan? Yang waktu itu tampil diclassmeting bawain lagu ERK?" Tanyanya.
"Eh...iya ka hehe ko tau ya?" Jawabku dengan gugup.
"Santai aja jangan gugup gitu... kayak ngobrol sama siapa aja haha" Katanya.
"Hehe iya ka" Kataku.
"Gausah pake kak... Diva aja" Kata Diva.
"Iyaa kaa... eh div..."
"Ngomong-ngomong ko bisa kenal Sherin?" Tanya ku.
Jarang sekali aku mengobrol dengan perempuan berdua seperti ini, apalagi dengan Diva.
"Iya... soalnya dia senior gue di voly, dulu suka latihan bareng, sampe sekarang sih... tapi udah jarang ketemu aja gitu suka beda waktunya" Jawab Diva.
Dan ternyara Diva orangnya asik juga tak seperti yang kubayangkan saat disekolah saat itu.
"Ini jalannya ke kiri atau ke kanan atau lurus aja"? Tanyaku.
"Oh lurus aja dulu nanti di depan belok kanan". Jawabnya
"Eh lo suka lagu Efek Rumah Kaca?" Tanyanya.
"Engga juga sih, kalo lagu sih random aja... cuma emang lagi sering dengerin albumnya yang Efek Rumah Kaca" Kataku.
"Pasti lo sering dengerin yang judul Desember kan?" Kata Diva
"Hehe ko tau?... tapi yang Sebelah Mata juga enak" Kataku.
"Eh ini belok kanan kan?" Tanyaku.
"Iyaa itu rumah gue yang ada mobil hitam didepannya" Kata Diva.
"Ini mobil hitam ada 3 div, mobil lo banyak juga ya" Kataku.
"Bukan itu maksudnya... yang sebelah kanan rumah gue" Kata Diva.
"Oh haha kirain" Kataku.
Lalu kami sampai dirumahnya, rumah yang tak jauh beda dari rumahku. Cuma nampak sepi saja, mungkin keluarganya sedang pergi.
"Mau mampir dulu?"
"Eh nama lo siapa? Lupa gue mau nanya" Kata Diva.
"Ehh enggak div... langsung pulang aja udah malem ini"
"Nama gue Warna" Kataku.
"Hah? Serius nama lo Warna?" Tanyanya dengan muka yang bingung seperti orang-orang yang baru tau namaku.
"Iya seriusan tanya aja Sherin atau nyokap gue..."
"Oh iya ini tadi ada kue dari nyokap gue katanya ini buat lo" Kataku sambil memberikan kotak makanan.
"Oh iyaa bilangin ke Bunda, makasih ya repot-repot bawain kue" Kata Diva.
"Kan yang bawa gue haha" Kataku.
"Oh iya ya lupa gue haha" Kata Diva
"Yaudah gue pulang dulu ya" Kataku sambil menyalakan motor.
"Oke deh... hati-hati" Katanya.
Lalu aku membalasnya dengan senyuman dan langsung pulang kerumah.
Diubah oleh andmse 27-02-2019 10:08
aaaaaisyah memberi reputasi
4