- Beranda
- Stories from the Heart
Warna Luka
...
TS
andmse
Warna Luka
Spoiler for Cover:
Hallo agan-agan dan mba-mba dan kakak-kakak dan semuanya...
Sebelumnya saya mau minta izin terutama untuk sesepuh SFTH buat bikin thread disini hehe...
Setelah sekian lama jadi silent reader, dan berbanjuran air mata terus lama-lama terinspirasi buat berani nulis...tadinya sempet bingung buat index part , bodoh bgt yak? haha... sampe akhirnya bisa dan langsung semangat buat nerusin nulis lagi hehe curhat

Ini cerita tentang laki-laki yang cenderung cupu dengan yang namanya cinta cieelahh...
Maaf kalau penulisannya kurang rapih... sambil dibantu yak hehe biar bisa lebih baik lagi...
Spoiler for Prolog:
Index Part:
Part 1
Part 2
Part 3 ( Tentang Sebuah Nama )
Part 4
Part 5
Part 6 ( Sekolah, Murid Baru, Bintang Sekolah )
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10 ( Sosok Yang Tak Terduga )
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15 ( MABIS "Masa Bimbingan Siswa" )
Part 16
Part 17 ( Akhrinya )
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24 ( Cedera )
Part 25
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 6 suara
Bagaimana Ending Cerita Ini ?
Happy Ending
33%
Sad Ending
67%
Diubah oleh andmse 20-04-2019 00:42
jonet1994 dan 27 lainnya memberi reputasi
26
13.7K
121
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andmse
#3
Part 3 ( Tentang Sebuah Nama )
Perihal sebuah nama Warna yang bunda berikan untuk ku adalah tentang sebuah cerita yang mungkin memang sangat berarti untuknya dikala itu pada masanya. Bunda mempunyai kakak laki-laki namanya Om Salman. Bunda sangat dekat dengan Om Salman, tidak seperti aku dengan Sherin... karena memang kata bunda Om Salman ini orangnya sabar banget, selalu jadi tempat Bunda cerita banyak hal.
Dan ternyata Bunda ini dulu sama seperti ku yang pendiam, dingin dan selalu merasa ingin sendiri. Karena menurutnya ketika dia melakukan suatu hal dalam segi berkarya jarang sekali ada orang yang menanggapinya dengan baik. Maka dari itu Bunda suka nulis tentang hidupnya, didalam buku kesayangannya. Yang menurutnya itu adalah cara dia untuk menuangkan keresahannya.
Sampai suatu ketika Bunda cerita yang dia rasakan ke Om Salman, tentang dia ingin orang suka dengan apa yang dia lakukan. Setidaknya ada orang yang menanggapi dan mendukungnya dalam hal itu, sampai dia ingin berenti membuat tulisan-tulisan.
"Sia-sia saja kalau tak ada orang yang menanggapi"
"Aku menulis untuk meluapkan apa yang aku rasakan dan berharap ada orang yang mendukungku" Kata Bunda.
"De.. kamu harus terus berkarya, karena memang keresahan itu setidaknya diungkapkan, mungkin dengan menggunakan bahasa yang jauh dari kata frontal... karena penghuni bumi ini terlalu sensitif untuk itu" Kata Om Salman.
Bunda mencoba untuk mengerti apa yang Om Salman katakan.
"Tulis saja... karena hidup itu gak selalu harus tentang yang namanya jawaban atau balasan"
"Karena ketika kita ingin dimengerti, mungkin yang dimengerti belum tentu ingin kita"
"Ya walaupun gak ada yang nanggapin atau mungkin gak suka, setidaknya mereka lihat".
"Kamu harus punya warna dalam hidupmu... warna yang membuatmu selalu mengingat tentang apa yang membuatmu selalu tersenyum dan bertekad" Kata Om Salman.
Dan ketika Om Salam menginjak umur 23 tahun dan belum menikah. Katanya dia belum mau memikirkan sesuatu yang memang membuatnya pusing sendiri. Perasaan, ya itu dia... Om salman gak mau sering-sering membicarakan tentang cinta, bukan karena dia tidak percaya tentang itu. Karena cinta dia ada didunia ini, dan katanya setiap cerita dapat timbul bukan hanya dari jatuh cinta, patah hati dan matahari tenggelam.
Maka dari itu Om Salman percaya bahwa waktu lah yang akan membuat dia merasakan segala hal tentang cinta ketika dia nanti bertemu sosok yang benar-benar mengubah hidupnya. Karena memang sudah ada jalan cerita yang Tuhan ciptakan untuk setiap umatnya.
Dan di umur 23 tahun Om Salman meninggal karena Leukimia. Semenjak kepergian Om Salman, Bunda selalu berusaha meluapkan segala keresahan yang dia rasakan kedalam sebuah tulisan dengan menggunakan bahasa yang jauh dari kata frontal seperti yang Om Salman katakan pada saat itu. Karena itu aku aku diberi nama Warna, lengkapnya Adzam Syah Warna. Dengan harapan orang yang bertekad kuat dan yang memberi warna.
Perihal sebuah nama Warna yang bunda berikan untuk ku adalah tentang sebuah cerita yang mungkin memang sangat berarti untuknya dikala itu pada masanya. Bunda mempunyai kakak laki-laki namanya Om Salman. Bunda sangat dekat dengan Om Salman, tidak seperti aku dengan Sherin... karena memang kata bunda Om Salman ini orangnya sabar banget, selalu jadi tempat Bunda cerita banyak hal.
Dan ternyata Bunda ini dulu sama seperti ku yang pendiam, dingin dan selalu merasa ingin sendiri. Karena menurutnya ketika dia melakukan suatu hal dalam segi berkarya jarang sekali ada orang yang menanggapinya dengan baik. Maka dari itu Bunda suka nulis tentang hidupnya, didalam buku kesayangannya. Yang menurutnya itu adalah cara dia untuk menuangkan keresahannya.
Sampai suatu ketika Bunda cerita yang dia rasakan ke Om Salman, tentang dia ingin orang suka dengan apa yang dia lakukan. Setidaknya ada orang yang menanggapi dan mendukungnya dalam hal itu, sampai dia ingin berenti membuat tulisan-tulisan.
"Sia-sia saja kalau tak ada orang yang menanggapi"
"Aku menulis untuk meluapkan apa yang aku rasakan dan berharap ada orang yang mendukungku" Kata Bunda.
"De.. kamu harus terus berkarya, karena memang keresahan itu setidaknya diungkapkan, mungkin dengan menggunakan bahasa yang jauh dari kata frontal... karena penghuni bumi ini terlalu sensitif untuk itu" Kata Om Salman.
Bunda mencoba untuk mengerti apa yang Om Salman katakan.
"Tulis saja... karena hidup itu gak selalu harus tentang yang namanya jawaban atau balasan"
"Karena ketika kita ingin dimengerti, mungkin yang dimengerti belum tentu ingin kita"
"Ya walaupun gak ada yang nanggapin atau mungkin gak suka, setidaknya mereka lihat".
"Kamu harus punya warna dalam hidupmu... warna yang membuatmu selalu mengingat tentang apa yang membuatmu selalu tersenyum dan bertekad" Kata Om Salman.
Dan ketika Om Salam menginjak umur 23 tahun dan belum menikah. Katanya dia belum mau memikirkan sesuatu yang memang membuatnya pusing sendiri. Perasaan, ya itu dia... Om salman gak mau sering-sering membicarakan tentang cinta, bukan karena dia tidak percaya tentang itu. Karena cinta dia ada didunia ini, dan katanya setiap cerita dapat timbul bukan hanya dari jatuh cinta, patah hati dan matahari tenggelam.
Maka dari itu Om Salman percaya bahwa waktu lah yang akan membuat dia merasakan segala hal tentang cinta ketika dia nanti bertemu sosok yang benar-benar mengubah hidupnya. Karena memang sudah ada jalan cerita yang Tuhan ciptakan untuk setiap umatnya.
Dan di umur 23 tahun Om Salman meninggal karena Leukimia. Semenjak kepergian Om Salman, Bunda selalu berusaha meluapkan segala keresahan yang dia rasakan kedalam sebuah tulisan dengan menggunakan bahasa yang jauh dari kata frontal seperti yang Om Salman katakan pada saat itu. Karena itu aku aku diberi nama Warna, lengkapnya Adzam Syah Warna. Dengan harapan orang yang bertekad kuat dan yang memberi warna.
aaaaaisyah memberi reputasi
3