- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.7K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#8
"Kamu.. apa kabar?"
Sebuah suara yang sangat sederhana, suara yang dulu membuat gw hidup dan menjadi manusia selayaknya manusia hidup lainya. Namun, cerita kehidupan siapa pernah tau akan bermuara kemana. Gw seperti sekarang ini, juga karena dia.. meski gw tak pernah berkata. Karena gw pernah bilang, asal dia bahagia.. aku pasti akan sangat bahagia. Tapi faktanya, pait pak.
"Baik.. kamu kapan balik," jawab gw cangung. Kaget juga.
"Kemarin, tapi.. aku nggak lama disini"
"Oh.."
"Maaf nggak wa kamu duluan, ponselku ilang, karena aku nggak ada tujuan.. aku langsung kesini, siapa tau kamu masih disini, eh.. second key tempatmu masih bisa.. emm.."
"Aha.. hahaha.. iya, kapan kamu fik balik.." entahlah, gw tiba-tiba pengen ramah. Nggak enek juga sama dia, dikira gw nggak bisa tegar apa.. kalau nggak sama dia?.
"Monggo duduk, biasa ae disini" lanjut gw ramah.. mah.. mah.
"Kak, bisa bicara sebentar.." sahutnya serius.
"Eh.. ya, apa.." gw cengar-cengir, gak tau mau bersikap gimana.
"Maaf, adek nggak bisa jadi adek yang baik buat kakak.. mungkin, kelak dikehidupan yang akan datang, adek akan balas semua kebaikan kakak.. dan satu lagi, adek tau siapa kakak.. dan! Semua ketegaran, basa-basi ramah.. hari ini, adek anggap nggak ada, karena faktanya.. kakak luka. Maaf kak. Adek berat buat lugas, tapi.. bukankah ini yang kaka ajarkan ke adek, lugas.. meski sakit."
"Hahaha.. sudahlah, aku akan baik seperti yang kamu lihat.."
Dia hanya senyum, selebihnya hanya diam.. melihat gw erat, dan.. sebuah kecupan.. mendarat di pipi gw. Pun, tanpa sepatah kata.. dia pergi, lantas hilang setelah pintu tertutup.
Gw.. mendadak bego. Tuhan, kenapa picik sekali karuniamu.. atas rasa yang tak pernah bermuara, rasa yang tak pernah tergenggam dan rasa yang tak pernah menuai terima.
Dia..
Dia adalah Rania, kekasih gw no dua, yang belum pernah gw apa-apain. Karena gw sudah berjanji, suatu saat nanti buat nikahin dia. Tapi.. takdir berkata lain, dia.. memilih hidup dengan yang lain. Lebih tepatnya, dia adalah tipe cewe nggak bisa ditinggal, sedangkan gw.. orang lapangan, beda kota. Dulu. Jadi.. bisa kamu bayangkan, kita seperti apa. Kita, menjalin hubungan sejak 2011 sampai pertengahan 2015, dan kamu tau.. 2015 adalah tahun kita mau nikah. Tapi apa, Tuhan memang nggak sip. Kita.. dipisahin. Sakit?
BANGET...
Dan sampai detik ini #2019, gw jadi jomblo abadi. Entahlah, gw masih belum bisa menerima keadaan. Atau.. gw masih belum yakin buat membuka hati. Macam.. menerima kehadiran Lola. Gw belum bisa.
Pernah juga, suatu saat gw berandai.. kalau gw nggak akan nikah. Bodo amat juga. Lagian.. gw nggak ada waktu buat menye.. menye.. sok kenal, sok pendekatan, sok basabasi. Apa itu! Nggak masuk sama isme gw. Pun, kalau gw nggak nikah, seenggaknya.. gw bisa mengurangi populasi bumi. Kan keren.
Sanpai malem, gw masih bego di ruang tamu.. lupa makan dan lupa buat nyiapin materi buat proyek besok.
Itulah gw, manusia bebas dengan hati lakban-an dimana-mana. Lagipula, gw nggak bisa kerja, nggak bisa mikir kalau hati sedang kalut. Mangkanya, gw memilih kehidupan dan pekerjaan lepas.
Teruntuk malam itu, gw cuma pegen ndiginin hati. Lagipula, gw bingung harus mengeja kata sepertti apa buat merepresentasikan nada-nada kesakitan seperti itu.
Namun, setelah kopi.. rokok.. angur cap orang tua gw teguk. Gw pun bobo dengan damai. Satu doa ku, semoga.. esok masih ada mentari yang setia membangunkanku, menghangatkanku dan menyapaku dengan tulus.
Jujur nggak jujur, kesakitan untuk kebahagiaan orang lain itu.. memang tetap sakit.
Dan malampun.. bergerak dwngan sangat lambat. Gw, lelap.
Sebuah suara yang sangat sederhana, suara yang dulu membuat gw hidup dan menjadi manusia selayaknya manusia hidup lainya. Namun, cerita kehidupan siapa pernah tau akan bermuara kemana. Gw seperti sekarang ini, juga karena dia.. meski gw tak pernah berkata. Karena gw pernah bilang, asal dia bahagia.. aku pasti akan sangat bahagia. Tapi faktanya, pait pak.
"Baik.. kamu kapan balik," jawab gw cangung. Kaget juga.
"Kemarin, tapi.. aku nggak lama disini"
"Oh.."
"Maaf nggak wa kamu duluan, ponselku ilang, karena aku nggak ada tujuan.. aku langsung kesini, siapa tau kamu masih disini, eh.. second key tempatmu masih bisa.. emm.."
"Aha.. hahaha.. iya, kapan kamu fik balik.." entahlah, gw tiba-tiba pengen ramah. Nggak enek juga sama dia, dikira gw nggak bisa tegar apa.. kalau nggak sama dia?.
"Monggo duduk, biasa ae disini" lanjut gw ramah.. mah.. mah.
"Kak, bisa bicara sebentar.." sahutnya serius.
"Eh.. ya, apa.." gw cengar-cengir, gak tau mau bersikap gimana.
"Maaf, adek nggak bisa jadi adek yang baik buat kakak.. mungkin, kelak dikehidupan yang akan datang, adek akan balas semua kebaikan kakak.. dan satu lagi, adek tau siapa kakak.. dan! Semua ketegaran, basa-basi ramah.. hari ini, adek anggap nggak ada, karena faktanya.. kakak luka. Maaf kak. Adek berat buat lugas, tapi.. bukankah ini yang kaka ajarkan ke adek, lugas.. meski sakit."
"Hahaha.. sudahlah, aku akan baik seperti yang kamu lihat.."
Dia hanya senyum, selebihnya hanya diam.. melihat gw erat, dan.. sebuah kecupan.. mendarat di pipi gw. Pun, tanpa sepatah kata.. dia pergi, lantas hilang setelah pintu tertutup.
Gw.. mendadak bego. Tuhan, kenapa picik sekali karuniamu.. atas rasa yang tak pernah bermuara, rasa yang tak pernah tergenggam dan rasa yang tak pernah menuai terima.
Dia..
Dia adalah Rania, kekasih gw no dua, yang belum pernah gw apa-apain. Karena gw sudah berjanji, suatu saat nanti buat nikahin dia. Tapi.. takdir berkata lain, dia.. memilih hidup dengan yang lain. Lebih tepatnya, dia adalah tipe cewe nggak bisa ditinggal, sedangkan gw.. orang lapangan, beda kota. Dulu. Jadi.. bisa kamu bayangkan, kita seperti apa. Kita, menjalin hubungan sejak 2011 sampai pertengahan 2015, dan kamu tau.. 2015 adalah tahun kita mau nikah. Tapi apa, Tuhan memang nggak sip. Kita.. dipisahin. Sakit?
BANGET...
Dan sampai detik ini #2019, gw jadi jomblo abadi. Entahlah, gw masih belum bisa menerima keadaan. Atau.. gw masih belum yakin buat membuka hati. Macam.. menerima kehadiran Lola. Gw belum bisa.
Pernah juga, suatu saat gw berandai.. kalau gw nggak akan nikah. Bodo amat juga. Lagian.. gw nggak ada waktu buat menye.. menye.. sok kenal, sok pendekatan, sok basabasi. Apa itu! Nggak masuk sama isme gw. Pun, kalau gw nggak nikah, seenggaknya.. gw bisa mengurangi populasi bumi. Kan keren.
Sanpai malem, gw masih bego di ruang tamu.. lupa makan dan lupa buat nyiapin materi buat proyek besok.
Itulah gw, manusia bebas dengan hati lakban-an dimana-mana. Lagipula, gw nggak bisa kerja, nggak bisa mikir kalau hati sedang kalut. Mangkanya, gw memilih kehidupan dan pekerjaan lepas.
Teruntuk malam itu, gw cuma pegen ndiginin hati. Lagipula, gw bingung harus mengeja kata sepertti apa buat merepresentasikan nada-nada kesakitan seperti itu.
Namun, setelah kopi.. rokok.. angur cap orang tua gw teguk. Gw pun bobo dengan damai. Satu doa ku, semoga.. esok masih ada mentari yang setia membangunkanku, menghangatkanku dan menyapaku dengan tulus.
Jujur nggak jujur, kesakitan untuk kebahagiaan orang lain itu.. memang tetap sakit.
Dan malampun.. bergerak dwngan sangat lambat. Gw, lelap.
oktavp dan 7 lainnya memberi reputasi
8