Kaskus

Story

neopoAvatar border
TS
neopo
Riding to Jannah


Don't choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful. Keep her close to Allah. Keep him close to Allah. Together for Jannah. I want love that will say: "Not even death will do us part, because we'll be reunited in jannah, insyaallah”

Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.


Tokoh :
  • Ardian - Aku, pria dengan tinggi 176cm yang hobinya main motor
  • Azril Riswan - Sahabat sejak kuliah, beda jurusan tapi masih satu fakultas
  • Elriko - Kenalan saat pertama kali touring, so cool but nice guy
  • Dina Resti - Bagiku dia perfect, tetapi sedikit cerewet
  • Alyssa Erica - Gadis cerdas dan sangat mempedulikan lingkungannya
  • Rofila Afifah - Kakakku yang cantik, cerewet tapi selalu bisa jaga adik-adiknya
  • Nuri Freska - Adikku yang sangat manja, segalanya harus dituruti, tapi ia juga penurut
  • Raden Dimas - Sometime good guy, sometimes bad guy (dalam arti sifat, bukan tindakan menyimpang)



Diubah oleh neopo 16-09-2022 12:17
junti27Avatar border
sukhhoiAvatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 27 lainnya memberi reputasi
28
43K
308
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
neopoAvatar border
TS
neopo
#99
Part 17 - Crash
Hari ini, aku mengantarkan Alyssa ke bandara. Nuri juga akan pulang kerumah selama Alyssa tidak ada dirumah. Alyssa berangkat dari rumahku. Aku juga mengantarnya menggunakan mobil milik Alyssa.
Aku: Ga ada yang ketinggalan Lis?
Alyssa: Engga, udah semua kok
Aku: Charger? Uang? Obat pribadi? Baju? Uang?
Alyssa: Sudah semua sayangkuuu *sambil mencubit pipiku
Aku: Pesawatnya berangkat jam berapa?
Alyssa: Jam 11:45 Di
Aku: Masih ada waktu yah
Alyssa: Iyah, tapi tetep harus tepat waktu biar ga ketinggalan pesawat

Alyssa banyak mengobrol dengan kak Afifah. Sementara aku hanya menyimak sambil memperhatikan kedua wanita cantik yang sedang saling bercerita ini. Sambil menunggu, aku memutuskan untuk rebahan di sofa sambil mencharge Hpku. Beberapa menit kemudian, aku terbangun. Suasana rumah sudah mulai sepi. Saat aku terbangun hanya ada aku dan Alyssa yang sedang duduk disampingku.
Alyssa: Bangun juga sapi tidur
Aku: Enak aja sapi.
Alyssa: Berangkat sekarang yuk
Aku: Ayo. Bentar yah, aku cuci muka dulu

Setelah cuci muka, aku mengantar Alyssa menggunakan mobil. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di bandar udara Husein Sastranegara. Selama perjalanan, Alyssa menyetel lagu dari DVD mobilnya. Ia menyetel lagu “Sarah McLachlan - In the Arms of an Angel” Aku mendengarkan suara Alyssa yangmerdu. Aku tersenyum sambil melihatnya sesekali. Melihatnya yang begitu menghayati lagu itu. Sampai kami tiba di bandara. Aku memarkirkan mobil ini.

Kami berjalan menuju terminal. Sepanjang jalan, Alyssa tak henti menggandengku. Setelah melakukan beberapa hal yangdibutuhkan selama persiapan penerbangan, kami menunggu pintu keberangkatan dibuka.
Alyssa: Sayang
Aku: Iya?
Alyssa: Selama aku ga ada, kamu jangan nakal
Aku: Engga. Aku nakalnya cuma sama kamu, hehe
Alyssa: Iish ish iish...
Aku: Kamu jangan nakal disana
Alyssa: Engga dong. Aku mah baik hehe
Aku: Kamu pernah naik pesawat sebelumnya?
Alyssa: Pernah, waktu dulu ke Palembang, kerumah saudaraku
Aku: Gimana rasanya?
Alyssa: Ya ga gimana-gimana hehe.
Aku: Nanti fotoin yah, aku pengen tau gimana hehe
Alyssa: Iyah insyaAllah

Beberapa menit kemudian, pintu telah dibuka. Inilah saatnya aku berpisah dengan Alyssa. Aku menggenggam kedua tangannya, ia menatapku sambil tersenyum manis. Alyssa memelukku dengan erat. Aku mengusap rambutnya, dan tiba-tiba mencium pipiku.
Aku: Kamu hati-hati
Alyssa: Iyah, nanti begitu aku sampai, aku pasti langsung kabari kamu sayang
Aku: Aku menunggu
Alyssa: Apa kamu akan melihatku takeoff seperti kita melihat orang tuaku?
Aku: Kalau keburu ya aku pasti lihat kok.
Alyssa: Aku sayang kamu Ardi. Sampai ketemu minggu depan
Aku: Aku juga sayang kamu Alyssa.
Alyssa: Aku berangkat *sambil mencium pipiku

Ia pergi sambil melambaikan tangannya padaku. Akupun kembali ke parkiran untuk segera pulang. Namun sepertinya tidak ada waktu untuk melihat dari tempat kami waktu itu, karenajika dengan mobil harus memutar cukup jauh. Aku tak langsung pulang. Aku memutuskan untuk mampir ke kafe sebentar. Kafe yang pernah aku kunjungi bersama Alyssa. Hanya sekedar ingin membeli minum. Aneh bukan? Hanya ingin minum saja, harus ke kafe. Konyol memang. Di kafe, aku mencoba mengajak teman-temanku untuk berkumpul. Tetapi sepertinya aku akan sendirian kali ini. Azril tidak bisa datang karena ia pulang kampung. Sementara Riko, yah, dia jalan dengan Dina. Tapi di BBM grupku ada yang membalas pesanku.
“On the way”
Begitu isi pesannya. Akupun menunggunya saja. Sekitar 20 menit kemudian, dia datang dan langsung duduk didepanku.
Aku: Gimana kabar lo?
Dimas: Baik gue. Lo gimana?
Aku: Baik gue.

Sudah cukup lama Dimas ga ada kabar di grup BBM maupun kabar langsung. Aku masih ingat bagaimana kami bertengkar karena masalah Alyssa. Entah apakah ia masih mengingat masalah itu atau tidak. Aku bahkan mulai bingung bagaimana membuka obrolan dengan salah satu sahabatku ini.
Aku: Gue mau minta maaf
Dimas: Kenapa?
Aku: Soal sikap egois gue, dan soal Alyssa
Dimas: Lupain aja. Lo bener, jangan sampai persahabatan kita rusak cuma karena masalah cewek
Aku: Maaf gue udah kaya rebut Alyssa dari lo
Dimas: Gue sayang sama Alyssa. Sayang banget Di, tapi gue udah khianati dia. Dan gue rasa dia akan bahagia dengan lo.
Aku: Gitu?
Dimas: Gue sayang sama Alyssa, dan gue mau liat dia bahagia sama lo
Aku: Lo emang sahabat gue Dim
Dimas: Oh ya, si Azril sama Riko mana?
Aku: Azril mudik, Riko pacaran. Eh, gue mau tanya
Dimas: Apaan?
Aku: Cewek yang waktu itu sama lo itu mantan lo?
Dimas: Iya, gue deket lagi sama dia
Aku: CLBK nih hahaha
Dimas: Eh hehe engga gitu Dim. Tapi ya, selain gue masih sayang, karena gue pengen jagain dia
Aku: Yaiyalah, Cewek mah dijaga
Dimas: Engga, serius. Dia sekarang lagi sakit, kanker paru-paru.
Aku: Innalillahi. Terus gimana sekarang?
Dimas: Beberapa minggu lalu dia dirawat. Itu sebabnya kenapa gue jarang muncul di obrolan. Gue temenin dia disana. Bulak balik dari Bandung.
Aku: Nah iya iya gue paham Dim. Terus kenapa lo ga jelasin ke Alyssa?
Dimas: Karena gue tahu saat dia sakit saat setelah konflik kita di kafe
Sekarang sudah jelas. Aku tak akan menyalahkan siapapun lagi. Aku telah salah menilai Dimas. Yah aku rasa Dimas tak seburuk yang aku kira saat itu.
Dimas: Gimana lo sama Alyssa?
Aku: Baik-baik aja
Dimas: Sekarang dimana dia? Lo ga jalan gitu sama dia?
Aku: Gue baru aja dari bandara nganter dia
Dimas: Lah dia mau kemana?
Aku: Ke Bali. Liburan disana sama keluarganya. Kan pindah
Dimas: Oh gitu. Tapi ga usah khawatir, dia itu pasti setia
Aku: Yah, gue percaya ko. Pas sama lo aja, dia sampe segitunya sakit hati.
Dimas: Gue ngerasa bersalah sama dia
Aku: Yah, penyesalan emang di akhir
Dimas: Kalau lo izinin, gue mau minta maaf sama dia
Aku: Ya, nanti aja pas dia kesini. Ngomong langsung lebih enak
Dimas: Serius?
Aku: Iya, jangan ada hal yang ga ngenakin di hati.
Dimas: Alyssa ga salah pilih lo

Entah berapa lama aku di kafe. Yang jelas cukup lama. Sampai Alyssapun mengirimiku foto lewat BBM bahwa ia telah mendarat di Nguah Rai Bali. Ia juga mengirimi beberapa foto ketika ia di pesawat. Ia langsung menelfonku saat itu juga.

Spoiler for Windows View:


Alyssa: Assalamualaikum sayang
Aku: Waalaikumussalam. Udah sampai?
Alyssa: Udah, ini lagi di taksi mau kerumah. Kamu lagi apa?
Aku: Aku lagi di kafe nih, sama Dimas
Alyssa: Dimas?
Aku: Iyah Dimas.
Alyssa: Ardi, jangan berantem lagi
Aku: Engga kok tenang aja. Kamu mau ngobrol sama Dimas?
Alyssa: Engga, Di. Ga usah.
Aku: Yasudah, makasih ya fotonya. Bagus banget.
Alyssa: Iya hehe. Kamu suka?
Aku: Suka Lis.
Alyssa: Kita jauh. Inget jangan nakal
Aku: Engga nakal. Nakalnya cuma sama kamu aja kok
Alyssa: Ga boleeeeh nakal jugaaaa
Aku: Kamu hati-hati disana
Alyssa: Pasti Ardi. Kamu jaga diri disana
Aku: Kamupun
Alyssa: Yaudah, nanti kalau aku sudah sampe rumah aku kabari lagi ya.
Aku: Iya Lisa

Seketika Alyssa menutup telefonnya. Aku dan Dimas kembali melanjutkan obrolan kami. Topik kami selanjutnya, mengenai touring. Kami membahas tentang touringku sebelumnya dimana Dimas tidak ikut saat itu.
Dimas: Kayanya gue ga akan bisa ikut touring lagi
Aku: Kenapa?
Dimas: Gue pengen fokus sama Vivi
Aku: Oh iya iya gue ngerti Dim. Lo kesini pake apa?
Dimas: Pake ojek hahaha
Aku: Motor lo kemana?
Dimas: Ada di bengkel. Perawatan. Eh, udah jam segini, gue duluan ya, tadi gue bilang ke Vivi cuma bentar perginya
Aku: Yaudah kalau gitu bareng gue aja. Gue bawa mobil Alyssa. Sekalian nengok kalau boleh sih
Dimas: Boleh lah, asal jangan di embat juga haha
Aku: Kaga lah tenang aja.

Akhirnya kami berangkat menuju tempat dimana katanya Vivi dirawat. Dimas bercerita bahwa Vivi juga sedang melanjutkan pendidikan di Bandung. Namun terhenti karena penyakitnya itu. Sekitar 40 menit kami baru tiba karena jalan cukup padat. Kami berjalan menyusuri lorong demi lorong menuju tempat dimana Vivi dirawat. Tibalah kami di depan pintu ruangan itu. Dimas membuka pintu seraya mengucapkan salam. Dimas masuk kedalam diikuti olehku. Aku melihat sosok wanita tengah terbaring sambil melirik kearah Dimas.
Vivi: Waalaikumussalam
Dimas: Hei, maaf ya jadi lama
Vivi: Gapapa. Kamu sama siapa?
Dimas: Oh iya, ini sahabatku, Ardi
Aku: Hallo, gue Ardi. Apakabar
Vivi: Gue Vivi. Ya, gue baikan hehe
Dimas: Gimana sekarang? Apa yang dirasa?
Vivi: Gapapa ko Dimas. Aku akan baik-baik saja
Dimas: Kamu inget Alyssa yang pernah ku ceritakan?
Vivi: Iya ingat. Kenapa?
Dimas: Sekarang Alyssa pacar Ardi
Vivi: Oh yah? Maaf ya, aku ngerasa udah ngerusak hubungan kalian semua
Ardi: Engga ko, tenang aja. Kami semua baik-baik aja. Gue, Dimas, Alyssa, ga ada masalah apa-apa lagi. Semua selesai
Aku: Lo disini sendirian?
Dimas: Iya, tapi kadang ada orang tuanya yang jaga. Cuma gue selalu menawarkan diri untuk jaga disini.
Aku: Oh gitu.

Aku mengecek handphoneku, dan ternyata Alyssa sudah sampai dirumah. Aku tak memberitahukan Alyssa bahwa aku sedang bertemu dengan Vivi. Aku khawatir ia akan sakit seperti saat mengetahui Dimas dengan Vivi. Aku meminta izin pada Dimas dan Vivi untuk pulang. Aku juga harus mengembalikan mobil ini ke rumah Alyssa, meski kuncinya akan kubawa untuk berjaga-jaga. Bukan untuk keperluan pribadi.

Dua hari berlalu. Aku menjalani hari tanpa Alyssa disisiku. Untuk pertama kalinya aku menjalani hubungan jarak jauh yang lebih dikenal dengan LDR. Ternyata ini yang namanya rindu. Saat kamu memikirkannya, tapi kamu tak bisa melihatnya secara langsung. Ada rasa seperti tak ingin hilang kabar saat chat. Ada rasa dimana aku tak bisa tidur nyenyak tanpa sehari bertemu Alyssa. Kedengarannya berlebihan bukan? Ya, norak bagiku, karena Alyssa merupakan yang pertama.
Nuri: Kakak
Aku: Iya dek?
Nuri: Kak Alyssa masih lama yah
Aku: Nanti hari sabtu pulangnya dek
Nuri: Nuri kangen hehe
Aku: Sama
Nuri: Cieeee kangen pacarnya hehehe
Aku: Apasih dek, ya ga ketemu pasti kangen lah
Nuri: Ah, kakak bisa aja ngelesnya hahaha

Sore itu, aku mendapatkan telefon dari Azril. Aku sedikit terperanjak ketika aku mendengar sebuah kabar tak mengenakan dari salah satu sahabatku. Nuripun bertanya-tanya melihat ekspresiku yang tiba-tiba berubah. Aku mengeluarkan motorku sembari dihujani pertanyaan dari Nuri. Akhirnya Nuripun berinisiatif untuk ikut denganku. Ia khawatir aku akan kenapa-kenapa. Ia selalu tahu jika kondisi hatiku kurang baik terkadang aku bisa menjadi diluar kendali. Aku menggunakan si Sapi dalam perjalanan ini. Sekitar 30 menit, aku tiba di tempat. Sudah cukup ramai orang-orang berkerumun. Aku juga melihat sebuah ambulans yang mulai datang ke tempat kejadian. Riko kecelakaan. Kulihat Azril sedang menelefon, mungkin ia menghubungi keluarga Riko
Aku: Zril, mana Riko? Gimana keadaan dia?
Azril: Dia ga sadar Di. Ini gue lagi hubungi orang tua sama Dina
Aku: Terus gimana?
Azril: Kita kawal ambulan buat anter Riko sama sama bapak ini *sambil menunjuk ke seseorang
Aku: Mari pak
Bapak: Ayo ayo

Aku dan Azril mengawal ambulan menuju rumah sakit. Nuri terus berpegangan erat padaku. Tibalah kami dirumah sakit. Selang beberapa menit setelah Riko diatasi tim medis, keluarganya dan Dina pun datang. Tentu saja mereka bertanya mengenai kabar dari Riko.
Dina: Gimana kabar Riko?
Aku: Belum ada kabar dari dokternya
Azril: Lo yang sabar ya Din
Nuri: Sabar kak. Kak Riko pasti baik-baik aja *sambil memeluk Dina
Dina: Ini semua salah gue
Aku: Kenapa?
Dina: Kemaren, gue berantem sama dia, hanya karena hal kecil. Tapi gatau kenapa gue kesel banget saat itu. Dia udah minta maaf ke gue, tapi gue keras kepala dan udah termakan emosi. Gue mau maafin dia asalkan dia mau dateng ke rumah gue hari ini. Tepat di jam ini.
Azril: Emang ada masalah apa?
Dina: Gue... gue...
Aku: Yaudah Zril, biarin dia tenang aja. Mungkin ini masalah pribadi dia
Azril: Iya juga

Tak lama kemudian dokterpun keluar dari ruangan. Langsung saja kedua orang tua Riko menanyakan bagaimana kabar anaknya itu. Aku menghampiri dokter tersebut. Aku biarkan Dina bersama Nuri di ruang tunggu bersama Azril.
Ibu Riko: Bagaimana anak saya dokter?
Dokter: Maaf bu, pak, Tuhan sudah berkehendak lain
Aku: Maksudnya dok? *aku mulai panik
Dokter: Karena banyak darah yang keluar, dan sepertinya kecelakaan itu cukup parah, sehingga
Ayah Riko: Anak kami gapapa kan dok? *sambil memegang kedua pundak dokter tersebut
Dokter: Riko sudah meninggal. Menurut keterangan medis, anak bapak sempat sadar saat di ambulan, namun kehilangan detak jantungnya. Dan saat disini, dia sudah tidak tertolong.

DEGG . . . Jantungku berdegup kencang. Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Benarkah Riko sudah tidak ada? Aku terduduk ditepi tembok dekat pintu UGD ini. Aku menangis? Ya tentu saja, namun aku berusaha menutupinya. Aku masih tertunduk seraya orang tuia Riko masuk dan Azril menghampiriku
Azril: Gimana Riko?
Aku: ...
Azril: Jawab gue Di *sambil memegang kerahku sedikit membentak
Dina: Riko baik-baik aja kan?
Aku: Riko udah ga ada. Katanya, dia meninggal saat dibawa kesini
Dina: Ga mungkin ... ga . . .

Dina pingsan saat itu juga.
Diubah oleh neopo 22-02-2019 05:49
telahmemblok
nasihiber
nasihiber dan telahmemblok memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.