- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#2
Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi..
Sejenak gw berfikir, kok sampai terilhami kalimat itu bagaimana ya? Simple, tapi bisa mengejawantahkan segala yang tersembunyi. Persis seperti sore ini, cukup cerah dan hangat untuk ukuran sore di musim panas, biasanya panas sekali.
Kecerahan sore ini tak begitu menyilaukan, yang membuat sialu itu jiwa ini. Jiwa-jiwa yang terlalu lama gelap, beku, dingin dan mungkin sudah lama mati. Sunguh sepi yang menyilaukan kehidupan.
Karena ngak ada yang harus gw lakukan, apalagi gw lagi bad mood—sering kali gw Cuma duduk sembari menikmati angin sore di balkon kesayangan. Dari sisni gw bisa melihat landscap kota pahlawan, kota yang membuat gw jadi seperti ini. Gw terdampar disini sudah delapan tahun, mungkin masih mau nambah, entah sampai kapan, gw nggak pernah peduli. Percuma.
CLINGG…
Sebuah ide tipis-tipis nyasar di kepala gw, ide itu menuntun gw berdiri, mandi, dandan dan goes to gramedia basuki rahmat. Sebenarnya jauh, tapi gw pengen kesana. Entah alasanya apa gw juga nggak pernah Tanya, mungkin itu adalah sebagian kecil sisi miris gw, detik itu mau apa ya harus—nggak bisa di tawar.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan gw sering nongkrong di took buku. Pertama, ada rasa nyaman dan bebas di sana. Seolah, gw sedang berada di tengah-tengah manusia super keren, meski suara mereka tak terdengar, tapi—senyum dan aura wajah mereka tetap abadi, persis seperti sebuah ungkapan ‘Menulis untuk keabadian..’. lagian, kalau nggak keren! Nggak mungkin bukunya bisa mejeng di sini, gw aja masih oon kalau disuruh nulis. Kedua, anggap saja sebuah pelampiasan. Dulu, pas gw baru putus yang efeknya memburamkan segalanya. Gw bisa sejenak melupakan tragedi itu, tak lain dengan buku-buku. Ada teman, tapi—tak banyak dari mereka yang bisa membantu. So. Buku adalah teman sejatinya teman. Pernah juga, gw mau nuangin semua yang pernah gw alamin, tapi! Gw nggak punya cukup nyali. Mentok, Cuma jadi tulisan-tulisan buat Menuhin folder lepi. Entah kenapa gw masih setia dengan kegiatan macam itu. Bagiku, menulis adalah proses membebaskan diri, paling nggak! Apa yang menjadi sampah di otak, sedikit berkurang. Apalagi manusia macam gw ini, yang otaknya selalu surplus pemikiran ataupun pikiran. Kalau konstruktif nggak masalah, kalau Cuma jadi parasite—bisa kacu ini hidup.
Tapi! Ada bebrapa hal yang nggak gw sukai dari toko buku, pertama; ngak ada tempat duduknya. Kedua, kadang mbak-mbaknya kepo, gw nggak suka begituan. Entahlah.., semoga kedepan toko buku tak sekedar lapak jualan semata, tapi ada proses yang hidup disana, semacam tempat buat nulis, nongkrong, ngopi atau apalah! Yang sekiranya bisa bikin pelanganya nyaman. Lagian, capek juga kalau muter-muter Cuma nyari buku, habis itu langsung pulang. Kalaupun ada tempat nongkrong, jauh.
Lanjutkan perjalanan, lagian tak lama juga, apalagi naik motor. Malah, gw pengen naik sepeda tapi nggak ngerti bisa masuk apa nggak, kalau di toga*** bisa, gratis malah. Sebenarnya bukan gratis atau apanya, Cuma responnya saja, kadang mereka nggak ngerti kalau beberapa sepeda bisa seharga mobil. Orang-orang negeriku emang keren ya.
Sesampai di toko buku, gw langsung cus ke rak-rak buku. Yang jadi pertanyaan, kira-kira gw pengen genre apa? Cos, kadang gw Cuma beli-beli doang, bacanya belakangan. Pernah sekali, gajian gw hamper ludes buat beli buku. Gw, Cuma bisa senyum-senyum. Lagian, kalau sok ajak cewek ngedate! Apa untungnya coba, ya kalau calon istri, tak jadi masalah—kalau Cuma parasite, maaf! Mending buat jajan buku.
Next! Blok pertama, isinya novel. Pengen sih, tapi malu—masa! Judulnya gitu amat! Senetron fersi cetak apa ya!, gw kan cowok. Hahaha… lanjut ke buku-buku sastra, nah! Disini kadang ada buku-buku bagus, sialnya—kadang pakai bahasa langitan, jadi—kalau nggak paham serasa makan aspal. Sepah. Abaikan… kita lanjut jalan-jalan, lihat sana—lihat sini dan lihat cewek. Sialnya sudah sama pasanganya, gw! Liatin doang.
Cantik sih, tapi—cowoknya nggak. Nggak cantik.
Semenit..
Dua menit..
Satu jam..
Capek..
Haus..
Gw balik dengan tangan kosong. Setidaknya, gw sudah cukup bahagia meski bertemankan buku mati. Sembari menikmati suasana malas di escalator, ponsel gw bergetar. Ternyata dapat pesan dari lola.
“Posisi..”
“Gra***..”
“Gra*** mana?”
“Jalan ****t”
“Tunggu disitu, penting!”
“…………” nggak gw jawab.
Sekitar lima belas menitan gw nunggu, akhirnya dia dating. Dan cukup cantik untuk minggu sore yang sudah mau habis sorenya. Emang sih, kalau dasarnya sudah cantik, mau pake koteka pun akan Nampak cantik. Emang bisa cewe dikasih koteka?.
“Hei..” sapanya manis.
“Apa?”
“Maaf, tadi gw mampir tempat kamu, tapi nggak ada, kata satpam kamu keluar.. aku pikir kemana, eh nggak taunya disini, tebakanku benar ya?”
“Ada apa!”
“Ini, aku dapet titipan dari kepala divisiku, katanya dia nggak bisa nemuin kamu minggu-minggu ini jadi dia ngasih ini ke aku, kemaren lupa mau tak kasih.”
“Oh, ok.. sudah! Gw mau pulang.”
“Boleh main ke tempatmu?”
“Maaf, gw lagi nggak mood”
“Oh..”
Gw pun pulang dengan sangat sederhana, entahlah—gw lagi bad mod buat basa-basi. Suka ya suka, nggak ya nggak. Mungkin tampak konyol tapi—itulah gw. Tapi percayalah, meski fisik gw seperti es, mati! Tapi, jiwa gw masih hangat. Hanya saja, kehangatan itu masih sebatas lentera, kelak kalau sudah mendapatkan bahan bakar yang cocok, pasti bakal membara. Sebenarnya bukan apa-apa gw apastis macam itu, Cuma—gw masih trauma sama yang namanya derita, apalagi kalau derita asmara. Bisa hancur hidup loe kalau nggak kuat mental, gw bilang begini—soalnya gw pernah hancur, semuanya. Kehidupan, studi, keuangan, karir—pokoknya semua berantakan. Gimana nggak berantakan coba, ibarat kata—semua sudah kita usahakan, sudah kita lakukan—tapi! Dia berpaling dengan mudahnya. Apa nggak sakit coba!. Mangkanya gw seperti ini, bagi gw—hidup sekali, jadi nggak usah berkali-kali buat kesakitan di rasa yang sama.
Karena nggak ada tujuan, gw coba arahkan motor gw masuk ke perkampungan, bukan perkampungan kumuh tapi. Disana da tempat ngopi, cukup enak dan sejuk, meski depanya kuburan. Gw sering nongkrong disana daripada di tempat elit. Entahlah, gw suka aja sama guyonan mereka. Malah, kemaren itu konyol. Mejanya lagi penuh orang buat gaple, remi juga catur. Tapi!, backsoun salah satu dari mereka sholawatan. Apa nggak keren coba. Bagi gw, apapun itu asal nggak merugikan orang lain sudah lebih dari cukup. Nggak seperti anjing-anjing ber****an itu, modal cocot buat nyari ketenaran, tapi buta—kalau cocot itu membuat perpecahan. Satu kata ASU !.
Belum sampai duduk, ibuknya sudah nyamperin dengan ramah.
“Kopi lek?”
“Iya buk, tapi jangan manis-manis ya,”
“Wes.. lihatin aku ae wes manis lek..” dia ngakak, gw senyum doang.
Sejam..
Dua jam..
Sudah biasa, yang nggak biasa Cuma kewarasan gw. Kira-kira, kapan gw akan seperti ini terus! Meski seperti ini yang seperti apa gw sendiri juga nggak paham. Mungkinkah gw butuh cinta sekarang? Semacam temen deket, berjenis perempuan? Tapi gimana caranya! Bisa saja gw hahahihi sama mereka, tapi! Gw bingung mau apa. Masa iya gw jadi usahawan cinta, pendekatan dulu! cocok apa nggak? Cocok lanjut, nggak cocok gimana!. Sebetulnya itu yang biking gw malas, terlalu berbelit. Mending sekalian beli berapa, sudah.
Meski mainstream, kadang gw juga iri sama mereka yang motoran berdua. Entah itu bisa ketawa bersama, sedikit pelukan dan sesekali dapat sentuhan buah dada. Kayaknya enek. Dulu gw pernah seperti itu tapi—saat itu punya cewek gw belum tumbuh sempurna, jadi nggak begitu terasa. Coba kalau sudah seumuran gw, pasti wow! Entah untuk di raba, dilihat atau di terawang. Mengiurkan?.
Apakah gw berkeinginan buat raba-raba?
Emm…, sepetinya pengen tapi nggak juga. Paling juga begitu-begitu aja. Coba kalau bisa njepit tanpa bantuan tangan, mungkin gw minat.
Apa sih.
Sejenak gw berfikir, kok sampai terilhami kalimat itu bagaimana ya? Simple, tapi bisa mengejawantahkan segala yang tersembunyi. Persis seperti sore ini, cukup cerah dan hangat untuk ukuran sore di musim panas, biasanya panas sekali.
Kecerahan sore ini tak begitu menyilaukan, yang membuat sialu itu jiwa ini. Jiwa-jiwa yang terlalu lama gelap, beku, dingin dan mungkin sudah lama mati. Sunguh sepi yang menyilaukan kehidupan.
Karena ngak ada yang harus gw lakukan, apalagi gw lagi bad mood—sering kali gw Cuma duduk sembari menikmati angin sore di balkon kesayangan. Dari sisni gw bisa melihat landscap kota pahlawan, kota yang membuat gw jadi seperti ini. Gw terdampar disini sudah delapan tahun, mungkin masih mau nambah, entah sampai kapan, gw nggak pernah peduli. Percuma.
CLINGG…
Sebuah ide tipis-tipis nyasar di kepala gw, ide itu menuntun gw berdiri, mandi, dandan dan goes to gramedia basuki rahmat. Sebenarnya jauh, tapi gw pengen kesana. Entah alasanya apa gw juga nggak pernah Tanya, mungkin itu adalah sebagian kecil sisi miris gw, detik itu mau apa ya harus—nggak bisa di tawar.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan gw sering nongkrong di took buku. Pertama, ada rasa nyaman dan bebas di sana. Seolah, gw sedang berada di tengah-tengah manusia super keren, meski suara mereka tak terdengar, tapi—senyum dan aura wajah mereka tetap abadi, persis seperti sebuah ungkapan ‘Menulis untuk keabadian..’. lagian, kalau nggak keren! Nggak mungkin bukunya bisa mejeng di sini, gw aja masih oon kalau disuruh nulis. Kedua, anggap saja sebuah pelampiasan. Dulu, pas gw baru putus yang efeknya memburamkan segalanya. Gw bisa sejenak melupakan tragedi itu, tak lain dengan buku-buku. Ada teman, tapi—tak banyak dari mereka yang bisa membantu. So. Buku adalah teman sejatinya teman. Pernah juga, gw mau nuangin semua yang pernah gw alamin, tapi! Gw nggak punya cukup nyali. Mentok, Cuma jadi tulisan-tulisan buat Menuhin folder lepi. Entah kenapa gw masih setia dengan kegiatan macam itu. Bagiku, menulis adalah proses membebaskan diri, paling nggak! Apa yang menjadi sampah di otak, sedikit berkurang. Apalagi manusia macam gw ini, yang otaknya selalu surplus pemikiran ataupun pikiran. Kalau konstruktif nggak masalah, kalau Cuma jadi parasite—bisa kacu ini hidup.
Tapi! Ada bebrapa hal yang nggak gw sukai dari toko buku, pertama; ngak ada tempat duduknya. Kedua, kadang mbak-mbaknya kepo, gw nggak suka begituan. Entahlah.., semoga kedepan toko buku tak sekedar lapak jualan semata, tapi ada proses yang hidup disana, semacam tempat buat nulis, nongkrong, ngopi atau apalah! Yang sekiranya bisa bikin pelanganya nyaman. Lagian, capek juga kalau muter-muter Cuma nyari buku, habis itu langsung pulang. Kalaupun ada tempat nongkrong, jauh.
Lanjutkan perjalanan, lagian tak lama juga, apalagi naik motor. Malah, gw pengen naik sepeda tapi nggak ngerti bisa masuk apa nggak, kalau di toga*** bisa, gratis malah. Sebenarnya bukan gratis atau apanya, Cuma responnya saja, kadang mereka nggak ngerti kalau beberapa sepeda bisa seharga mobil. Orang-orang negeriku emang keren ya.
Sesampai di toko buku, gw langsung cus ke rak-rak buku. Yang jadi pertanyaan, kira-kira gw pengen genre apa? Cos, kadang gw Cuma beli-beli doang, bacanya belakangan. Pernah sekali, gajian gw hamper ludes buat beli buku. Gw, Cuma bisa senyum-senyum. Lagian, kalau sok ajak cewek ngedate! Apa untungnya coba, ya kalau calon istri, tak jadi masalah—kalau Cuma parasite, maaf! Mending buat jajan buku.
Next! Blok pertama, isinya novel. Pengen sih, tapi malu—masa! Judulnya gitu amat! Senetron fersi cetak apa ya!, gw kan cowok. Hahaha… lanjut ke buku-buku sastra, nah! Disini kadang ada buku-buku bagus, sialnya—kadang pakai bahasa langitan, jadi—kalau nggak paham serasa makan aspal. Sepah. Abaikan… kita lanjut jalan-jalan, lihat sana—lihat sini dan lihat cewek. Sialnya sudah sama pasanganya, gw! Liatin doang.
Cantik sih, tapi—cowoknya nggak. Nggak cantik.
Semenit..
Dua menit..
Satu jam..
Capek..
Haus..
Gw balik dengan tangan kosong. Setidaknya, gw sudah cukup bahagia meski bertemankan buku mati. Sembari menikmati suasana malas di escalator, ponsel gw bergetar. Ternyata dapat pesan dari lola.
“Posisi..”
“Gra***..”
“Gra*** mana?”
“Jalan ****t”
“Tunggu disitu, penting!”
“…………” nggak gw jawab.
Sekitar lima belas menitan gw nunggu, akhirnya dia dating. Dan cukup cantik untuk minggu sore yang sudah mau habis sorenya. Emang sih, kalau dasarnya sudah cantik, mau pake koteka pun akan Nampak cantik. Emang bisa cewe dikasih koteka?.
“Hei..” sapanya manis.
“Apa?”
“Maaf, tadi gw mampir tempat kamu, tapi nggak ada, kata satpam kamu keluar.. aku pikir kemana, eh nggak taunya disini, tebakanku benar ya?”
“Ada apa!”
“Ini, aku dapet titipan dari kepala divisiku, katanya dia nggak bisa nemuin kamu minggu-minggu ini jadi dia ngasih ini ke aku, kemaren lupa mau tak kasih.”
“Oh, ok.. sudah! Gw mau pulang.”
“Boleh main ke tempatmu?”
“Maaf, gw lagi nggak mood”
“Oh..”
Gw pun pulang dengan sangat sederhana, entahlah—gw lagi bad mod buat basa-basi. Suka ya suka, nggak ya nggak. Mungkin tampak konyol tapi—itulah gw. Tapi percayalah, meski fisik gw seperti es, mati! Tapi, jiwa gw masih hangat. Hanya saja, kehangatan itu masih sebatas lentera, kelak kalau sudah mendapatkan bahan bakar yang cocok, pasti bakal membara. Sebenarnya bukan apa-apa gw apastis macam itu, Cuma—gw masih trauma sama yang namanya derita, apalagi kalau derita asmara. Bisa hancur hidup loe kalau nggak kuat mental, gw bilang begini—soalnya gw pernah hancur, semuanya. Kehidupan, studi, keuangan, karir—pokoknya semua berantakan. Gimana nggak berantakan coba, ibarat kata—semua sudah kita usahakan, sudah kita lakukan—tapi! Dia berpaling dengan mudahnya. Apa nggak sakit coba!. Mangkanya gw seperti ini, bagi gw—hidup sekali, jadi nggak usah berkali-kali buat kesakitan di rasa yang sama.
Karena nggak ada tujuan, gw coba arahkan motor gw masuk ke perkampungan, bukan perkampungan kumuh tapi. Disana da tempat ngopi, cukup enak dan sejuk, meski depanya kuburan. Gw sering nongkrong disana daripada di tempat elit. Entahlah, gw suka aja sama guyonan mereka. Malah, kemaren itu konyol. Mejanya lagi penuh orang buat gaple, remi juga catur. Tapi!, backsoun salah satu dari mereka sholawatan. Apa nggak keren coba. Bagi gw, apapun itu asal nggak merugikan orang lain sudah lebih dari cukup. Nggak seperti anjing-anjing ber****an itu, modal cocot buat nyari ketenaran, tapi buta—kalau cocot itu membuat perpecahan. Satu kata ASU !.
Belum sampai duduk, ibuknya sudah nyamperin dengan ramah.
“Kopi lek?”
“Iya buk, tapi jangan manis-manis ya,”
“Wes.. lihatin aku ae wes manis lek..” dia ngakak, gw senyum doang.
Sejam..
Dua jam..
Sudah biasa, yang nggak biasa Cuma kewarasan gw. Kira-kira, kapan gw akan seperti ini terus! Meski seperti ini yang seperti apa gw sendiri juga nggak paham. Mungkinkah gw butuh cinta sekarang? Semacam temen deket, berjenis perempuan? Tapi gimana caranya! Bisa saja gw hahahihi sama mereka, tapi! Gw bingung mau apa. Masa iya gw jadi usahawan cinta, pendekatan dulu! cocok apa nggak? Cocok lanjut, nggak cocok gimana!. Sebetulnya itu yang biking gw malas, terlalu berbelit. Mending sekalian beli berapa, sudah.
Meski mainstream, kadang gw juga iri sama mereka yang motoran berdua. Entah itu bisa ketawa bersama, sedikit pelukan dan sesekali dapat sentuhan buah dada. Kayaknya enek. Dulu gw pernah seperti itu tapi—saat itu punya cewek gw belum tumbuh sempurna, jadi nggak begitu terasa. Coba kalau sudah seumuran gw, pasti wow! Entah untuk di raba, dilihat atau di terawang. Mengiurkan?.
Apakah gw berkeinginan buat raba-raba?
Emm…, sepetinya pengen tapi nggak juga. Paling juga begitu-begitu aja. Coba kalau bisa njepit tanpa bantuan tangan, mungkin gw minat.
Apa sih.
fatqurr dan 7 lainnya memberi reputasi
8