- Beranda
- Stories from the Heart
Berbeda Agama
...
TS
natgeas2
Berbeda Agama
~Berbeda Agama~
Saya cuma seorang anak penjual pastel yang mencoba mencari peruntungan untuk mengubah nasib dimulai dengan kuliah di Universitas Gedhe Mbayare, salah satu kampus tertua di yogyakarta bahkan di indonesia. Langkah yang cukup berani menurut saya, karena bagi seorang anak penjual pastel yang penghasilannya hanya cukup untuk sehari-hari, tidak sedikit yang mencibir bahkan memandang rendah bahwa saya dan keluarga tidak akan mampu menyelesaikan kuliah saya.
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata

Daftar Karakter :

Arjuna
Karakter saya, ya bisa dilihat potongan saya seperti gambar diatas, tinggi, tegap, kepala cepak. ya walaupun gak mirip-mirip banget sama pak miller, tapi karena banyak orang yang bilang saya mirip pak miller ini, maka saya pasang saja foto pak miller sebagai representasi diri saya.

Ibu&Ayah
Ibu saya bernamaSri Hartuti, ayah saya bernama lengkap Hendrikus Leon. ibu ras jawa, ayah ras indonesia timur. mereka berbeda agama, walaupun pas nikah ayah pindah menjadi muslim, tak beberapa lama setelah menikah ayah kembali ke keyakinan asalnya. Ayah saya dulunya pengusaha kontraktor di bidang maintenance elektrikal, namun saat ini nganggur. ibu saya penjual pastel yang dititipkan di setiap warung sarapan pagi disekitar rumah.
Adik-Adik
Saya punya dua adik, satu bernama Desi, perempuan usianya lebih muda dari saya yang lebih mirip ayah saya warna kulitnya sehingga sering dipanggil Rihanna, dan satu lagi Henrysepuluh tahun lebih muda dari saya, walau secara kasat lebih mirip ayah, namun warna kulitnya mengambil warna kulit ibu.

Annisa
Perempuan idaman saya, berjilbab walaupun menurut sebagian manhaj tidak syar'i jilbabnya. wajahnya teduh, adem. siapapun yang memandangnya pasti akan jatuh cinta dengan wajah sendu-sendunya. pipinya bisa sangat merah jika tertawa dan malu.

Ibu dan Ayah Annisa
Ayahnya bernama santoso, seorang pengacara yang cukup terkenal di jakarta. ibunya, kita panggil saja ibu. ayahnya merupakan teman baik ayah saya dan ibunya merupakan teman satu kampung masa kecil ibu saya.

Dhanin
Walaupun wajahnya agak oriental, namun dhanin bukan lah ras china atau keturunan. dia lahir bandung, besar dijakarta. ayahnya seorang kristen yang taat dan seorang pengusaha besar yang bergerak dibidang properti dan perkebunan sawit. ibunya meninggal karena kecelakaan tragis di satu ruas jalan tol saat mengendarai mobil saat dhanin masih kecil.
Ayah Dhanin
Telah dijelaskan sebelumnya. oh iya tambahan, walaupun pengusaha yang bergerak dibidang properti, sebenarnya beliau adalah sarjana kedokteran hewan. keahlian bisnisnya didapat dari orang tuanya yaitu kakek dhanin yang berasal dari sumatra barat yang mempunyai bisnis kelapa sawit dan neneknya aseli bandung pengusaha properti yang masih merupakan keturunan raden patah.

Felisiana
Seorang wanita aseli solo. wajahnya khas wajah aseli cantiknya seorang wanita jawa. siapapun yang didekatnya pasti jatuh cinta dibuatnya. ayah dan ibunya adalah seniman internasional dibidang seni lukis dan fashion designer. entah mengapa dia berkuliah dijurusan teknik tidak mengikuti kedua orang tuanya.

Fauziyyah
Perempuan cantik berjilbab syar'i, walaupun kelakuannya agak sedikit maskulin. perbedaan keyakinan tidak menghalanginya menjadi "Teman baik" felisiana.
Yusuf
Teman felisiana dari SMA dulu, agak kemayu walaupun laki-laki. namun cukup bersih dan rapih dalam segala hal terutama perawatan wajah.

Annchi / Angchi
Seorang wanita chinese yang energik. salah satu anggota resimen mahasiswa kampus. kakeknya seorang pedagang terkenal dikawasan malioboro dan saya bekerja paruh waktu disana. oh iya dia menyukai salah satu teman kos saya.

Valerie
Agamis, professional, Pekerja Keras dan cantik, kombinasi sempurna dari seorang wanita idaman untuk pria yang mencari seorang istri, minus, menurut saya ya, walaupun sebenarnya bukan poin minus, pandangan islam dan politiknya bisa dibilang garis keras (PKS)
Band Saya

Ini adalah band saya yang beranggotakan enam orang,
Intan: Vokalis, badannya tinggi putih, rambutnya agak ikal dibawah dan panjang terurai, suaranya kayak mulan jameela.
Galih : Gitaris yang skillnya setingkat paul gilbert. mantap lah pokoknya ni orang.
Adi: Tambun, gemuk berkacamata, gak ganteng, tapi dialah otak dibalik semua lagu band kami.
Tanco/Ardi: salah satu personil paling tampan, putih ganteng, cuma sayang agak telmi.
Arrie: Drummer bermuka arab, walau aselinya dari sumatra utara medan.

Temen-temen Kos
Putra : Jawa timur, kalo ngomong kaya ngajak berantem bagi yang baru kenal, tapi sebetulnya baik.
Viki : Bocah gamers dari tangerang. pinter boy.
Mas Peri : Jenius. namanya memang benar2 hanya PERI, di KTPnya juga begitu, chinese.
Didit
Ternyata saudaranya fauziah, ga ada yang spesial

Myrna
Saudara kembarnya indra, campuran sunda banjarmasin, wajahnya ayu dan sangat putih, putihnya putih bening ya, bukan kaleng-kaleng apalagi pake pemutih yang bikin muka kaya zombi, macem orang-orang kota lah, dia nih cantiknya 100% natural.
Indra
Saudara kembarnya myrna, wajahnya mirip, ini laki-laki tapi cantik kalo saya mau bilangg, bersih, pinter, kutu buku, tapi doyan mabok, aduh susah dah dibilanginnya

Ciput
Si gingsul yang keibuan, pengertian dan penengah konflik yang handal
Nanti saya update lagi kalau ada tokoh-tokoh baru yang masuk dalam cerita, hehehe.. sementara itu dulu. mohon maaf jika ada kesalahan link pada index yang saya buat, karena baru dalam perapihan. biar enak dibaca awal-awalnya seperti thread2 yang lain hehehe...

Quote:
Diubah oleh natgeas2 03-01-2020 21:28
8
105.9K
694
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natgeas2
#531
Terminasi
"aku masih di kantor dinda" ucap saya
"yaudah gapapa, aku sendiri aja ke dokternya"
"bisa tunggu aku sebentar tidak?" ucap saya memohon pada istri saya agar menunggu saya menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk agar bisa ke dokter kandungan bersama-sama.
"eh.. sebentar kanda, ada yang manggil di depan"
"iya..."
ternyata yang datang saat itu adalah Dhanin, dia ingin berpamitan pulang kembali ke indonesia di hari minggu besok. nampaknya istri saya mengajaknya untuk menemaninya ke dokter kandungan dan rupanya dhanin menyetujuinya.
"sayang, aku perginya sama dhanin, dia mau temenin, jadi kamu ga usah buru-buru, kalo sempat kamu langsung aja nyusul ke hospital"
"loh, kok jadi sama dhanin, yaudah deh, aku langsung kerumah sakit aja"
"iya, hati-hati, love you"
"love you too.." jawab saya sembari menutup telepon.
saya langsung kebut tancap gas menyelesaikan pekerjaan yang memang benar-benar memakan waktu, musim semi hampir tiba, musim dingin telah berakhir, namun sepertinya tidak dengan pekerjaan-pekerjaan ini dan berkas-berkas yang menumpuk berserakan di sepanjang meja kerja.
"tok..tok..tok.." suara pintu di ketuk
"please"
(dalam bahasa inggris sebenarnya)
"maaf pak Arjuna, saya mengganggu, pak charles ingin bertemu"
"oke, saya akan kesana, oh iya cindy, tolong berkas ini kamu bawa ke bagian akunting untuk di tindak lanjuti" ucap saya sembari menunjukan map berwarna biru disebelah telepon.
"baik pak"
saya melangkah pelan ke tempat pak charles, ada apa ya? apa permohonan mutasi saya di tolak? atau ah tau lah, maju aja dulu deh
"tok..tok..tok"
"come in"
"maaf pak, ada yang bisa saya bantu?"
"mengenai permintaan kamu untuk mutasi ke indonesia, ibu nita pada prinsipnya menyetujui, hanya saja dia menunggu pergantian kekuasaan di indonesia untuk melihat situasi dan kondisi"
"baik pak, terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya, saya merasa sangat terbantu sekali"
"kamu sudah lama disini, tapi budaya terlalu formal kamu masih saja terbawa ya?"
saya hanya tersenyum kecil mendengar mentor sekaligus atasan saya tidak bersikap jaim bahkan sangat membumi. untuk sekelas chief technology officer, dia sangat ramah dan tidak memandang sekat antar karyawan, sangat beda sekali dengan budaya kerja feodal di indonesia yang pernah saya rasakan beberapa tahun yang lalu.
"ngomong-ngomong, sedang ramai di twitter tentang uninstall jokowi, saya selalu penasaran dengan apa yang terjadi di indonesia" ucapnya sambil tertawa lebar, "bisa kamu jelaskan jun?"
"itu agak memalukan untuk saya menjelaskannya, tapi itulah indonesia dengan segala kelucuannya" sangkal saya yang benar-benar tidak ingin membahas kejadian yang sedang trending itu, hahaha.
"janji kepada saya bahwa jika saya berkunjung ke jakarta, kamu akan ajak saya makan sop kambing pak maman yang sering kamu ceritakan itu"
"iya pak, bapak selalu mengingat apa yang saya ceritakan"
"tentu saja, karena kamu bilang sop kambing itu lebih enak dari masakan yang pernah dibuat oleh istrimu"
setelah itu kami tertawa bersama layaknya ayah dan anak, ada kesedihan sedikit ingin meninggalkan negara yang sejuk dan tentram tanpa keributan ini, namun lebih baik hujan batu di negri sendiri daripada hujan emas di negri orang bukan?? apapun itu indonesia tetap di hati. *now playing : indonesia tanah air beta*
"baiklah itu saja juna, kamu bisa kembali bekerja"
"terimakasih pak"
saya melangkahkan kaki keluar menuju kembali ke ruangan saya yang ternyata seorang perempuan tinggi berkulit sawo matang dengan wajah pemain boolywood duduk di depan meja saya.
"jadi... kamu benar akan pindah?"
"iya, kebetulan ada posisi kosong di indonesia jadi saya tidak perlu resign"
"berikan aku pelukan" wanita tinggi yang bernama neelam shandu langsung mendatangi dan memeluk saya erat,"jangan bilang ini akhir ya, kita masih satu perusahaan dan saya masih atasan kamu"
"tenang aja bu, ibu masih atasan saya yang paling loveable"
ibu neelam melepaskan pelukannya menatap mata saya kemudian mencium bibir saya dengan lembut dan sayapun membalas ciumannya. sumpah, dikanada seperti ini sudah sangat biasa, bukan hanya sepasang kekasih saja yang berciuman antar bibir, hahaha...
suara telepon berbunyi mendistract pertemuan bibir saya dengan bu neelam, ternyata itu dari istri saya,"maaf sebentar ya bu"
"lanjutkan, aku juga mau pulang," ucapnya sembari meninggalkan ruangan saya.
"halo.. sayang."
"kamu ga baca pesan aku?" ucap istri saya di telepon
"enggak, ada apa sayang kamu sudah cek kandungan"
"tolong datang sekarang ada hal yang penting," ucapnya dengan nada sedih tegang terdengar merayap disepanjang lubang telinga saya dan di tafsirkan oleh sel-sel otak saya.
"ada apa sayang? ada apa?" jawab saya mulai panik
"kamu datang dulu aja sekarang!" tegasnya.
saya langsung mengambil tas dan mantel dan berlari menuju lift tanpa memperhatikan sekeliling lagi,
"jun, mau kemana?" ucap harvey yang melihat saya terburu-buru
saya tidak menjawabnya dan langsung turun menuruni lantai dengan tangga darurat karena lift masih berada di lantai yang sangat tinggi. ada apa, apa yang terjadi sebenarnya.
****
Di hospital, Dhanin sedang bermain dengan junior di area playground sementara istri saya dengan jilbab merah jambunya sedang tertunduk lesu...
"ada apa dinda?"
"aku.. anak kita" ucapnya dengan mata berkaca-kaca sembari menyodorkan kertas hasil diagnosa dokter kandungan yang memeriksa istri saya. di pojok kanan atas termuat logo besar bertuliskan St.Marry General Hospital, yang sempat mengalihkan pandangan saya kepada hasil diagnosis dan..
"down syndrom?" batin saya terkejut dalam hati. saya langsung memeluk istri saya dengan erat, dan dia menangis sesenggukan hingga air matanya membasahi bagian dada saya. saya pun tak kuasa menahan tangis sembari terus memeluk istri saya dengan erat.
Ibu neelam datang menyusul saya setelah memarkir mobil, karena melihat saya terburu-buru menuruni tangga, ia menawarkan tebengan ke saya menuju rumah sakit sekalian ingin bertemu dengan istri saya sembari berpamitan. namun ketika melihat saya dan istri saya menangis tersedu sedan, ia memperlambat langkahnya dan mengambil secarik kertas yang saya jatuhkan dan membacanya dengan seksama.
dhanin pun datang sembari menggendong junior menghampiri kami. tatapannya nampak kosong seolah mencoba masuk kedalam kesedihan kami,
sejak jumat hingga cerita ini ditulis, saya tidak dapat memejamkan mata karena selalu terbayang-bayang saran dokter yang mengharuskan segera di terminasi kehamilan istri saya karena masih 14 minggu, harapan dan kemungkinan hidupnya kecil, andaikan dia berhasil bertahan dan bisa dilahirkan, kualitas hidupnya tidak akan bagus, karena penebalan cairan dibelakang kepalanya sangat tebal.
istri saya pun seperti tidak bisa menerima kenyataan, sempat mencari second opinion ke dokter lain, hasilnya pun sama, tes CVS yang disarankan hanya akan mendeteksi jenis kelainan kromosom dan bukan menyembuhkannya, tidak ada daya dan upaya yang bisa dilakukan dokter untuk menyembuhkan "takdir" ini.
matanya sembab karena setiap malam menangis, dan harus kami mengambil keputusan yang lumayan berat dengan pertimbangan matang,
Junior mendatangi istri saya yang sedang sesenggukan di sofa ruang tengah dan berkata "sayan, jangan nanis yaa..." dengan bahasa cadelnya yang menggemaskan dan membuat istri saya sedikit tersenum,"ini adi bai ya?" ucapnya sambil menyodorkan kertas hasil foto USG 4D berwarna orange yang membuat istri saya kembali meringis
"Allah, Ampuni dosa saya"
****
ada kalanya saya harus mundur dari pergolakan batin mencari seorang perempuan pengisi hati untuk sekedar mendamaikan konflik agar tidak terjadi konflik kepentingan. saya mulai menjauhi myrna, tidak lagi mengobrol terlalu dalam agar tidak terjadi kesalah pahaman kembali.
ya, walaupun richa sepertinya sudah menutup pintu rapat-rapat akan kehadiran saya, namun, saya masih berharap ada secelah lubang dipintu itu untuk sedikit bagi kehadiran saya menyinari hatinya.
hari-hari KKN Cepat berlalu, tidak ada konflik yang berarti. saya merasa makin dekat dengan myrna yang berusaha saya jauhi, namun menjadi sangat-sangat jauh dengan richa yang berusaha terus menerus saya dekati. beberapa kali myrna mencoba bercerita tentang masalah pribadinya kepada saya sementara saya harus menyiapkan alasan untuk menolak halus pembicaraannya setiap kali dia mulai bercerita. dan sebaliknya, saya mencoba mencari topik untuk sekedar berbicara dengan richa sementara richa sepertinya memiliki beribu alasan untuk menghindar dari saya. ironis
"kakaaaaa!!!" suara teriakan melengking yang sudah tidak asing lagi memecah konsentrasi para anak didik yang sedang belajar menghitung ruang dan bangun. dia langsung berlari dan memeluk saya erat, semua anak didik langsung tersipu dan mengeluarkan kata-kata pamungkas dengan kompak, ciee.cieee......
"dhanin, ada apa dia sampai bisa menemukan tempat ini" batin saya dalam hati sambil berusaha melepaskan pelukannya
"jauh banget ya kak kesini itu perjalanannya mantap banget, puji tuhan sampai juga"
oke, bisa di tebak, myrna melihat saya dengan sinis, begitu pula richa, keduanya kompak bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan.
"indra datang dan membisikan sesuatu ke saya,"."winter is here..." ucapnya pelan dengan nada terkekeh
"aku masih di kantor dinda" ucap saya
"yaudah gapapa, aku sendiri aja ke dokternya"
"bisa tunggu aku sebentar tidak?" ucap saya memohon pada istri saya agar menunggu saya menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk agar bisa ke dokter kandungan bersama-sama.
"eh.. sebentar kanda, ada yang manggil di depan"
"iya..."
ternyata yang datang saat itu adalah Dhanin, dia ingin berpamitan pulang kembali ke indonesia di hari minggu besok. nampaknya istri saya mengajaknya untuk menemaninya ke dokter kandungan dan rupanya dhanin menyetujuinya.
"sayang, aku perginya sama dhanin, dia mau temenin, jadi kamu ga usah buru-buru, kalo sempat kamu langsung aja nyusul ke hospital"
"loh, kok jadi sama dhanin, yaudah deh, aku langsung kerumah sakit aja"
"iya, hati-hati, love you"
"love you too.." jawab saya sembari menutup telepon.
saya langsung kebut tancap gas menyelesaikan pekerjaan yang memang benar-benar memakan waktu, musim semi hampir tiba, musim dingin telah berakhir, namun sepertinya tidak dengan pekerjaan-pekerjaan ini dan berkas-berkas yang menumpuk berserakan di sepanjang meja kerja.
"tok..tok..tok.." suara pintu di ketuk
"please"
(dalam bahasa inggris sebenarnya)
"maaf pak Arjuna, saya mengganggu, pak charles ingin bertemu"
"oke, saya akan kesana, oh iya cindy, tolong berkas ini kamu bawa ke bagian akunting untuk di tindak lanjuti" ucap saya sembari menunjukan map berwarna biru disebelah telepon.
"baik pak"
saya melangkah pelan ke tempat pak charles, ada apa ya? apa permohonan mutasi saya di tolak? atau ah tau lah, maju aja dulu deh
"tok..tok..tok"
"come in"
"maaf pak, ada yang bisa saya bantu?"
"mengenai permintaan kamu untuk mutasi ke indonesia, ibu nita pada prinsipnya menyetujui, hanya saja dia menunggu pergantian kekuasaan di indonesia untuk melihat situasi dan kondisi"
"baik pak, terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya, saya merasa sangat terbantu sekali"
"kamu sudah lama disini, tapi budaya terlalu formal kamu masih saja terbawa ya?"
saya hanya tersenyum kecil mendengar mentor sekaligus atasan saya tidak bersikap jaim bahkan sangat membumi. untuk sekelas chief technology officer, dia sangat ramah dan tidak memandang sekat antar karyawan, sangat beda sekali dengan budaya kerja feodal di indonesia yang pernah saya rasakan beberapa tahun yang lalu.
"ngomong-ngomong, sedang ramai di twitter tentang uninstall jokowi, saya selalu penasaran dengan apa yang terjadi di indonesia" ucapnya sambil tertawa lebar, "bisa kamu jelaskan jun?"
"itu agak memalukan untuk saya menjelaskannya, tapi itulah indonesia dengan segala kelucuannya" sangkal saya yang benar-benar tidak ingin membahas kejadian yang sedang trending itu, hahaha.
"janji kepada saya bahwa jika saya berkunjung ke jakarta, kamu akan ajak saya makan sop kambing pak maman yang sering kamu ceritakan itu"
"iya pak, bapak selalu mengingat apa yang saya ceritakan"
"tentu saja, karena kamu bilang sop kambing itu lebih enak dari masakan yang pernah dibuat oleh istrimu"
setelah itu kami tertawa bersama layaknya ayah dan anak, ada kesedihan sedikit ingin meninggalkan negara yang sejuk dan tentram tanpa keributan ini, namun lebih baik hujan batu di negri sendiri daripada hujan emas di negri orang bukan?? apapun itu indonesia tetap di hati. *now playing : indonesia tanah air beta*
"baiklah itu saja juna, kamu bisa kembali bekerja"
"terimakasih pak"
saya melangkahkan kaki keluar menuju kembali ke ruangan saya yang ternyata seorang perempuan tinggi berkulit sawo matang dengan wajah pemain boolywood duduk di depan meja saya.
"jadi... kamu benar akan pindah?"
"iya, kebetulan ada posisi kosong di indonesia jadi saya tidak perlu resign"
"berikan aku pelukan" wanita tinggi yang bernama neelam shandu langsung mendatangi dan memeluk saya erat,"jangan bilang ini akhir ya, kita masih satu perusahaan dan saya masih atasan kamu"
"tenang aja bu, ibu masih atasan saya yang paling loveable"
ibu neelam melepaskan pelukannya menatap mata saya kemudian mencium bibir saya dengan lembut dan sayapun membalas ciumannya. sumpah, dikanada seperti ini sudah sangat biasa, bukan hanya sepasang kekasih saja yang berciuman antar bibir, hahaha...
suara telepon berbunyi mendistract pertemuan bibir saya dengan bu neelam, ternyata itu dari istri saya,"maaf sebentar ya bu"
"lanjutkan, aku juga mau pulang," ucapnya sembari meninggalkan ruangan saya.
"halo.. sayang."
"kamu ga baca pesan aku?" ucap istri saya di telepon
"enggak, ada apa sayang kamu sudah cek kandungan"
"tolong datang sekarang ada hal yang penting," ucapnya dengan nada sedih tegang terdengar merayap disepanjang lubang telinga saya dan di tafsirkan oleh sel-sel otak saya.
"ada apa sayang? ada apa?" jawab saya mulai panik
"kamu datang dulu aja sekarang!" tegasnya.
saya langsung mengambil tas dan mantel dan berlari menuju lift tanpa memperhatikan sekeliling lagi,
"jun, mau kemana?" ucap harvey yang melihat saya terburu-buru
saya tidak menjawabnya dan langsung turun menuruni lantai dengan tangga darurat karena lift masih berada di lantai yang sangat tinggi. ada apa, apa yang terjadi sebenarnya.
****
Di hospital, Dhanin sedang bermain dengan junior di area playground sementara istri saya dengan jilbab merah jambunya sedang tertunduk lesu...
"ada apa dinda?"
"aku.. anak kita" ucapnya dengan mata berkaca-kaca sembari menyodorkan kertas hasil diagnosa dokter kandungan yang memeriksa istri saya. di pojok kanan atas termuat logo besar bertuliskan St.Marry General Hospital, yang sempat mengalihkan pandangan saya kepada hasil diagnosis dan..
"down syndrom?" batin saya terkejut dalam hati. saya langsung memeluk istri saya dengan erat, dan dia menangis sesenggukan hingga air matanya membasahi bagian dada saya. saya pun tak kuasa menahan tangis sembari terus memeluk istri saya dengan erat.
Ibu neelam datang menyusul saya setelah memarkir mobil, karena melihat saya terburu-buru menuruni tangga, ia menawarkan tebengan ke saya menuju rumah sakit sekalian ingin bertemu dengan istri saya sembari berpamitan. namun ketika melihat saya dan istri saya menangis tersedu sedan, ia memperlambat langkahnya dan mengambil secarik kertas yang saya jatuhkan dan membacanya dengan seksama.
dhanin pun datang sembari menggendong junior menghampiri kami. tatapannya nampak kosong seolah mencoba masuk kedalam kesedihan kami,
sejak jumat hingga cerita ini ditulis, saya tidak dapat memejamkan mata karena selalu terbayang-bayang saran dokter yang mengharuskan segera di terminasi kehamilan istri saya karena masih 14 minggu, harapan dan kemungkinan hidupnya kecil, andaikan dia berhasil bertahan dan bisa dilahirkan, kualitas hidupnya tidak akan bagus, karena penebalan cairan dibelakang kepalanya sangat tebal.
istri saya pun seperti tidak bisa menerima kenyataan, sempat mencari second opinion ke dokter lain, hasilnya pun sama, tes CVS yang disarankan hanya akan mendeteksi jenis kelainan kromosom dan bukan menyembuhkannya, tidak ada daya dan upaya yang bisa dilakukan dokter untuk menyembuhkan "takdir" ini.
matanya sembab karena setiap malam menangis, dan harus kami mengambil keputusan yang lumayan berat dengan pertimbangan matang,
Junior mendatangi istri saya yang sedang sesenggukan di sofa ruang tengah dan berkata "sayan, jangan nanis yaa..." dengan bahasa cadelnya yang menggemaskan dan membuat istri saya sedikit tersenum,"ini adi bai ya?" ucapnya sambil menyodorkan kertas hasil foto USG 4D berwarna orange yang membuat istri saya kembali meringis
"Allah, Ampuni dosa saya"
****
ada kalanya saya harus mundur dari pergolakan batin mencari seorang perempuan pengisi hati untuk sekedar mendamaikan konflik agar tidak terjadi konflik kepentingan. saya mulai menjauhi myrna, tidak lagi mengobrol terlalu dalam agar tidak terjadi kesalah pahaman kembali.
ya, walaupun richa sepertinya sudah menutup pintu rapat-rapat akan kehadiran saya, namun, saya masih berharap ada secelah lubang dipintu itu untuk sedikit bagi kehadiran saya menyinari hatinya.
hari-hari KKN Cepat berlalu, tidak ada konflik yang berarti. saya merasa makin dekat dengan myrna yang berusaha saya jauhi, namun menjadi sangat-sangat jauh dengan richa yang berusaha terus menerus saya dekati. beberapa kali myrna mencoba bercerita tentang masalah pribadinya kepada saya sementara saya harus menyiapkan alasan untuk menolak halus pembicaraannya setiap kali dia mulai bercerita. dan sebaliknya, saya mencoba mencari topik untuk sekedar berbicara dengan richa sementara richa sepertinya memiliki beribu alasan untuk menghindar dari saya. ironis
"kakaaaaa!!!" suara teriakan melengking yang sudah tidak asing lagi memecah konsentrasi para anak didik yang sedang belajar menghitung ruang dan bangun. dia langsung berlari dan memeluk saya erat, semua anak didik langsung tersipu dan mengeluarkan kata-kata pamungkas dengan kompak, ciee.cieee......
"dhanin, ada apa dia sampai bisa menemukan tempat ini" batin saya dalam hati sambil berusaha melepaskan pelukannya
"jauh banget ya kak kesini itu perjalanannya mantap banget, puji tuhan sampai juga"
oke, bisa di tebak, myrna melihat saya dengan sinis, begitu pula richa, keduanya kompak bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan.
"indra datang dan membisikan sesuatu ke saya,"."winter is here..." ucapnya pelan dengan nada terkekeh
2
Tutup