- Beranda
- Stories from the Heart
Riding to Jannah
...
TS
neopo
Riding to Jannah
Don't choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful. Keep her close to Allah. Keep him close to Allah. Together for Jannah. I want love that will say: "Not even death will do us part, because we'll be reunited in jannah, insyaallah”
Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.
Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.
Tokoh :
- Ardian - Aku, pria dengan tinggi 176cm yang hobinya main motor
- Azril Riswan - Sahabat sejak kuliah, beda jurusan tapi masih satu fakultas
- Elriko - Kenalan saat pertama kali touring, so cool but nice guy
- Dina Resti - Bagiku dia perfect, tetapi sedikit cerewet
- Alyssa Erica - Gadis cerdas dan sangat mempedulikan lingkungannya
- Rofila Afifah - Kakakku yang cantik, cerewet tapi selalu bisa jaga adik-adiknya
- Nuri Freska - Adikku yang sangat manja, segalanya harus dituruti, tapi ia juga penurut
- Raden Dimas - Sometime good guy, sometimes bad guy (dalam arti sifat, bukan tindakan menyimpang)
- I N D E X -
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34 by Nuri
Part 35 by Dina
Part 36 by Alyssa
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34 by Nuri
Part 35 by Dina
Part 36 by Alyssa
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Diubah oleh neopo 16-09-2022 12:17
JabLai cOY dan 27 lainnya memberi reputasi
28
43K
308
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#96
Part 16 - Kehidupan
Di pagi hari, setelah shalat subuh, aku lihat kak Afifah sedang menyapu sambil mengepel lantai rumah. Aku lihat sesekali ia mengelap keringatnya menggunakan lengannya. Akupun menghampirinya
Akupun menggantikan tugas kak Afifah. Aku rasa, sudah cukup panjang aku bercerita tentang saudara-saudaraku. Hari ini, aku ada janji untuk pergi kerumah Alyssa. Aku bersiap-siap dan berangkat sekitar jam 9 pagi. Aku mengenakan jaket hitamku dan membawa tas selempang seperti yang selalu bawa. Tak lama, aku tiba dirumah Alyssa. Alyssa tampak sedang duduk manis teras sambil tersenyum padaku. Akupun diajaknya masuk kedalam. Dan disanalah aku bertemu dengan kedua orang tua Alyssa.
Senyumku seketika pudar mendengar pernyataan beliau. Apa ini berarti aku akan jauh dari Alyssa? Apa ini berarti aku akan menjalani hubungan jarak jauh dengan Alyssa? Aku menatap Alyssa, dan ia tertunduk sembari terlihat sedang terfikirkan sesuatu
Om Herman: Om mau titip Alyssa sama kamu disini. Bisa?
Nah ini, lebih-lebih membuatku mematung.
Aku terpaku bingung sambil menatap Alyssa yang sedang tersenyum jahul. Tetap saja jantungku berdegup kencang karena gugup, dan tidak tahu harus menjawab apa
Seketika itu Alyssa memeluk ayahnya. Ternyata Alyssa hanya mau mengantarkan orang tuanya ke bandara. Pagi itu, aku dan Alyssa mengantarkan orang tua Alyssa ke bandara menggunakan mobil milik keluarga Alyssa. Sepanjang perjalanan, aku di interview oleh orang tua Alyssa. Yah hal-hal keseharianku ditanyakan oleh mereka, dan hubunganku dengan Alyssa. Setibanya di bandara tak lama pesawat yang hendak ditumpangi oleh orang tua Alyssa tiba.
Om Herman: Kamu jaga diri ya nak *sambil mengusap Alyssa
Aamiin. Kalian tau? Alyssa nampak seperti seorang anak kecil yang berjanji pada ibunya ketika ia mengatakan itu. Ia nampak menggemaskan. Lama ia memeluk kdua orang tuanya, sampai akhirnya akupun ikut salim pada mereka. Dan merekapun pergi menuju apron. Aku mengajak Alyssa ke sebuah tempat, dimana dulu aku suka melihat pesawat takeoff darisana. Meskipun dibatasi pagar pembatas, namun dapat dilihat dengan jelas.
Kami melihat pesawat tersebut berputar di Runway 29 hingga akhirnya pesawat tersebut take off. Alyssa nampak melambaikan tangan pada pesawat tersebut.
Alyssa tersenyum padaku. Dan ia mengajakku pulang. Aku punya ide, yang mungkin ini ide yang ga terlalu buruk juga. Nanti akan aku sampaikan ketika tiba dirumah. Bagaimana Alyssa sekarang? Aku malah terfikirkan, jika nanti Alyssa lulus, apakah ia akan ikut keluarganya ke Bali dan tinggal disana? Jauh dariku? Kamipun tiba dirumah Alyssa. Yah rumah ini sudah terasa sunyi tanpa orang tua Alyssa. Dan Alyssapun merasa seperti itu
Sore hari, aku dan Alyssa pergi menjemput Nuri menggunakan mobil Alyssa. Sepanjang perjalanan, aku terfikirkan Alyssa. Kini ia tinggal sendiri. Meski katanya nanti akan ada bibi yang membantu mengurus rumahnya. Aku tetap bertanggung jawab atas Alyssa, amanah dari orang tuanya.
Aku tersenyum padanya. Oh, senyumnya selalu bisa membuat aku luluh. Tibalah kami di sekolah Nuri. Kulihat banyak siswa yang sudah mulai keluar dari area sekolah. Aku menelfon Nuri untuk menanyakan keberadaannya. Ia menyuruhku untuk menunggu karena sedang berjalan menuju kemari.
Nuri melihatku dari kejauhan dan langsung menghampiriku. Setelah ia masuk kedalam mobil, ia juga langsung menyapa Alyssa.
Akupun mengendarai mobil menuju rumah tercinta. Setibanya dirumah aku menyuruh Nuri untuk mengajak Alyssa masuk sementara aku memarkirkan mobil. Aku menyusul mereka kedalam. Kulihat Alyssa berada diruang tengah sedang duduk sendiri. Ibu sedang di dapur, dan Nuri mungkin sedang dikamarnya.
Nuripun kedalam dan memanggil ibu. Tak lama mereka kembali dan bergabung bersamaku. Mereka semua menatapku dengan tatapan penuh tanya. Ibupun bertanya tentang keperluanku. Aku menceritakan semua tentang keluarga Alyssa yang pindah ke Bali.
Malam hari, aku kembali membicarakan hal ini dengan seluruh keluargaku. Ayah dan kak Afifah juga setuju. Niatku yaitu ingin menjaga Alyssa. Seperti apa yang diamanahkan oleh keluarganya. Keesokan harinya, aku sedang mengikuti kuliahku. Saat itu aku sedang ada janji dengan Azril di sebuah kafe dekat kampusku. Saat jam istirahat, aku pergi ke kafe tempat aku dan Azril janjian untuk bertemu. Aku memasuki kafe tersebut, dan mencari posisi Azril
Satu bulan kemudian.
Sebenarnya tabunganku pas-pasan sih. Dan kalau aku terima ajakan Alyssa, kok kayanya kejam sama si Azril yah. Ga bisa bantuin dia yang notabenenya dia sahabat sendiri, tapi giliran ke pacar dituruti. Ga ada pilihan antara sahabat atau pacar. Saling melengkapi aja.
Aku: Kak sini, biar aku aja
Afifah: Eh, tumben mau bantuin kakak hehe
Aku: Ish gituu . . .
Afifah: Udah gapapa, biar kakak aja. Kamu anter gih Nuri ke sekolah
Aku: Iya kak. Kan Nurinya juga lagi siap-siap. Ini biar aku yang kerjain. Kakak siapin sarapan aja
Afifah: Emmm yaudah deh.
Afifah: Eh, tumben mau bantuin kakak hehe
Aku: Ish gituu . . .
Afifah: Udah gapapa, biar kakak aja. Kamu anter gih Nuri ke sekolah
Aku: Iya kak. Kan Nurinya juga lagi siap-siap. Ini biar aku yang kerjain. Kakak siapin sarapan aja
Afifah: Emmm yaudah deh.
Akupun menggantikan tugas kak Afifah. Aku rasa, sudah cukup panjang aku bercerita tentang saudara-saudaraku. Hari ini, aku ada janji untuk pergi kerumah Alyssa. Aku bersiap-siap dan berangkat sekitar jam 9 pagi. Aku mengenakan jaket hitamku dan membawa tas selempang seperti yang selalu bawa. Tak lama, aku tiba dirumah Alyssa. Alyssa tampak sedang duduk manis teras sambil tersenyum padaku. Akupun diajaknya masuk kedalam. Dan disanalah aku bertemu dengan kedua orang tua Alyssa.
Alyssa: Ayah, kenalin ini Ardi
Aku: Halo om *sambil salim padanya
Om Herman: Oh, ini yah nak Ardi itu
Aku: Hehe, iya om. Apakabar
Om Herman: Alhamdulillah. Alyssa banyak cerita loh tentang kamu
Aku: Aduh..
Tante Rani: Nak, sudah siap?
Alyssa: Iya bu.
Aku: Kamu mau kemana?
Om Herman: Begini, nak Ardi. Maksud kami mengundang nak Ardi, mau minta tolong
Aku: Maaf, minta tolong apa ya
Om Herman: Om rasa, om bisa percayakan sama kamu
Aku: Maksudnya gimana ya om? Saya ga paham
Om Herman: Om sekeluarga mau pindah ke Bali
Aku: Halo om *sambil salim padanya
Om Herman: Oh, ini yah nak Ardi itu
Aku: Hehe, iya om. Apakabar
Om Herman: Alhamdulillah. Alyssa banyak cerita loh tentang kamu
Aku: Aduh..
Tante Rani: Nak, sudah siap?
Alyssa: Iya bu.
Aku: Kamu mau kemana?
Om Herman: Begini, nak Ardi. Maksud kami mengundang nak Ardi, mau minta tolong
Aku: Maaf, minta tolong apa ya
Om Herman: Om rasa, om bisa percayakan sama kamu
Aku: Maksudnya gimana ya om? Saya ga paham
Om Herman: Om sekeluarga mau pindah ke Bali
Senyumku seketika pudar mendengar pernyataan beliau. Apa ini berarti aku akan jauh dari Alyssa? Apa ini berarti aku akan menjalani hubungan jarak jauh dengan Alyssa? Aku menatap Alyssa, dan ia tertunduk sembari terlihat sedang terfikirkan sesuatu
Om Herman: Om mau titip Alyssa sama kamu disini. Bisa?
Nah ini, lebih-lebih membuatku mematung.
Aku: Emh, gimana? *muka bloon
Om Herman: Yah hehe om mau titipkan Alyssa. Kan Alyssa sudah kuliah disini, sayang kalau harus pindah dan mengulang dari awal. Jadi Alyssa akan tinggal disini.
Om Herman: Yah hehe om mau titipkan Alyssa. Kan Alyssa sudah kuliah disini, sayang kalau harus pindah dan mengulang dari awal. Jadi Alyssa akan tinggal disini.
Aku terpaku bingung sambil menatap Alyssa yang sedang tersenyum jahul. Tetap saja jantungku berdegup kencang karena gugup, dan tidak tahu harus menjawab apa
Tante Rani: Kamu bisa jaga Alyssa kan?
Aku: I..i.iya tante
Aku: I..i.iya tante
Seketika itu Alyssa memeluk ayahnya. Ternyata Alyssa hanya mau mengantarkan orang tuanya ke bandara. Pagi itu, aku dan Alyssa mengantarkan orang tua Alyssa ke bandara menggunakan mobil milik keluarga Alyssa. Sepanjang perjalanan, aku di interview oleh orang tua Alyssa. Yah hal-hal keseharianku ditanyakan oleh mereka, dan hubunganku dengan Alyssa. Setibanya di bandara tak lama pesawat yang hendak ditumpangi oleh orang tua Alyssa tiba.
Om Herman: Kamu jaga diri ya nak *sambil mengusap Alyssa
Alyssa: Ayah sama ibu juga jaga diri disana *sedikit terseguk menangis
Tante Rani: Kamu harus rajin belajar
Alyssa: Iya bu, Lisa janji bakal rajin belajar dan lulus dengan memuaskan
Tante Rani: Kamu harus rajin belajar
Alyssa: Iya bu, Lisa janji bakal rajin belajar dan lulus dengan memuaskan
Aamiin. Kalian tau? Alyssa nampak seperti seorang anak kecil yang berjanji pada ibunya ketika ia mengatakan itu. Ia nampak menggemaskan. Lama ia memeluk kdua orang tuanya, sampai akhirnya akupun ikut salim pada mereka. Dan merekapun pergi menuju apron. Aku mengajak Alyssa ke sebuah tempat, dimana dulu aku suka melihat pesawat takeoff darisana. Meskipun dibatasi pagar pembatas, namun dapat dilihat dengan jelas.
Alyssa: Ardi
Aku: Iya Lis?
Alyssa: Itu pesawatnya yah *sambil menunjuk
Aku: Iya Lis
Aku: Iya Lis?
Alyssa: Itu pesawatnya yah *sambil menunjuk
Aku: Iya Lis
Kami melihat pesawat tersebut berputar di Runway 29 hingga akhirnya pesawat tersebut take off. Alyssa nampak melambaikan tangan pada pesawat tersebut.
Alyssa tersenyum padaku. Dan ia mengajakku pulang. Aku punya ide, yang mungkin ini ide yang ga terlalu buruk juga. Nanti akan aku sampaikan ketika tiba dirumah. Bagaimana Alyssa sekarang? Aku malah terfikirkan, jika nanti Alyssa lulus, apakah ia akan ikut keluarganya ke Bali dan tinggal disana? Jauh dariku? Kamipun tiba dirumah Alyssa. Yah rumah ini sudah terasa sunyi tanpa orang tua Alyssa. Dan Alyssapun merasa seperti itu
Alyssa: Sunyi ya, Di
Aku: Berat ya Lis?
Alyssa: Gapapa kok
Aku: Nanti kamu ikut kerumah aku yah
Alyssa: Ngapain?
Aku: Nuri sama kak Afifah nanyain kamu hehe
Alyssa: Iyah? Yaudah sekarang kita kerumah kamu yah. Aku juga kangen Nuri sama kak Afifah hehe
Aku: Kan Nuri lagi sekolah, kak Afifah juga lagi ke kampus hehe
Alyssa: Oh iyah hehe. Kalau gitu, nanti kita jemput Nuri aja pake mobil ayah, gimana?
Aku: Boleh.
Alyssa: Makasih ya sayang *sambil memelukku
Aku: Berat ya Lis?
Alyssa: Gapapa kok
Aku: Nanti kamu ikut kerumah aku yah
Alyssa: Ngapain?
Aku: Nuri sama kak Afifah nanyain kamu hehe
Alyssa: Iyah? Yaudah sekarang kita kerumah kamu yah. Aku juga kangen Nuri sama kak Afifah hehe
Aku: Kan Nuri lagi sekolah, kak Afifah juga lagi ke kampus hehe
Alyssa: Oh iyah hehe. Kalau gitu, nanti kita jemput Nuri aja pake mobil ayah, gimana?
Aku: Boleh.
Alyssa: Makasih ya sayang *sambil memelukku
Sore hari, aku dan Alyssa pergi menjemput Nuri menggunakan mobil Alyssa. Sepanjang perjalanan, aku terfikirkan Alyssa. Kini ia tinggal sendiri. Meski katanya nanti akan ada bibi yang membantu mengurus rumahnya. Aku tetap bertanggung jawab atas Alyssa, amanah dari orang tuanya.
Alyssa: Ardi
Aku: Kenapa Lis?
Alyssa: Makasih ya
Aku: Untuk?
Alyssa: Karena kamu selalu ada buat aku. Dari awal ketemu kamu, aku yakin kalau kamu orang baik
Aku: Kamu hanya belum tahu kekurangan aku Lis
Alyssa: Aku bersedia untuk melengkapi kekuranganmu itu
Aku: Kenapa Lis?
Alyssa: Makasih ya
Aku: Untuk?
Alyssa: Karena kamu selalu ada buat aku. Dari awal ketemu kamu, aku yakin kalau kamu orang baik
Aku: Kamu hanya belum tahu kekurangan aku Lis
Alyssa: Aku bersedia untuk melengkapi kekuranganmu itu
Aku tersenyum padanya. Oh, senyumnya selalu bisa membuat aku luluh. Tibalah kami di sekolah Nuri. Kulihat banyak siswa yang sudah mulai keluar dari area sekolah. Aku menelfon Nuri untuk menanyakan keberadaannya. Ia menyuruhku untuk menunggu karena sedang berjalan menuju kemari.
Alyssa: Eh itu Nuri *sambil menunjuk
Aku: Mana?
Alyssa: Itu.
Aku: Mana?
Alyssa: Itu.
Nuri melihatku dari kejauhan dan langsung menghampiriku. Setelah ia masuk kedalam mobil, ia juga langsung menyapa Alyssa.
Nuri: Mau kemana hari ini kak? Sampe pake mobil kak Alyssa
Aku: Kita pulang, ada yang mau kakak bicarakan sama kamu
Nuri: Apa kak? Kayanya serius banget
Aku: Banget dek
Nuri: Kasih tau apa kak?
Aku: Nanti dong dirumah.
Alyssa: Ada apa Di?
Aku: Gapapa kok Lis. Nanti kita ngobrol dirumah
Aku: Kita pulang, ada yang mau kakak bicarakan sama kamu
Nuri: Apa kak? Kayanya serius banget
Aku: Banget dek
Nuri: Kasih tau apa kak?
Aku: Nanti dong dirumah.
Alyssa: Ada apa Di?
Aku: Gapapa kok Lis. Nanti kita ngobrol dirumah
Akupun mengendarai mobil menuju rumah tercinta. Setibanya dirumah aku menyuruh Nuri untuk mengajak Alyssa masuk sementara aku memarkirkan mobil. Aku menyusul mereka kedalam. Kulihat Alyssa berada diruang tengah sedang duduk sendiri. Ibu sedang di dapur, dan Nuri mungkin sedang dikamarnya.
Alyssa: Sebenernya ada apa sih Di?
Aku: Emm, nanti ya Lis, kalau keluargaku udah kumpul semua. Karena ini akan ada sangkut pautnya dengan mereka.
Alyssa: Emm, jangan bikin aku geer deh hehe
Aku: Diih, kamu nya aja itu mah hehe. Tenang, ga akan terjadi apa-apa kok
Alyssa: Iya deh, awas kalau aneh-aneh
Nuri: Kak, ada apa sih
Aku: Ada deh
Nuri: Iiisshh kakak jangan bikin penasaran
Aku: Yaudah, kamu panggil ibu gih
Aku: Emm, nanti ya Lis, kalau keluargaku udah kumpul semua. Karena ini akan ada sangkut pautnya dengan mereka.
Alyssa: Emm, jangan bikin aku geer deh hehe
Aku: Diih, kamu nya aja itu mah hehe. Tenang, ga akan terjadi apa-apa kok
Alyssa: Iya deh, awas kalau aneh-aneh
Nuri: Kak, ada apa sih
Aku: Ada deh
Nuri: Iiisshh kakak jangan bikin penasaran
Aku: Yaudah, kamu panggil ibu gih
Nuripun kedalam dan memanggil ibu. Tak lama mereka kembali dan bergabung bersamaku. Mereka semua menatapku dengan tatapan penuh tanya. Ibupun bertanya tentang keperluanku. Aku menceritakan semua tentang keluarga Alyssa yang pindah ke Bali.
Aku: Nuri, tanpa ada paksaan dari kakak, kamu mau ga tinggal dirumah Alyssa? temenin Alyssa? Dan buat ibu, boleh gak kalau Nuri tinggal disana?
Alyssa: Ardi
Ibu: Emm, kalau ibu sih gimana Nuri aja. Tapi kasihan Nurinya juga nanti bulak-balik kerumah
Alyssa: Jangan, Di. Aku gapapa kok
Nuri: Nuri mau kak
Ibu: Kamu serius nak?
Nuri: Iya, biar aku ada temen belajar juga heheh, tapi kalau dibolehin sih
Ibu: Ibu setuju aja, tapi bilang dulu sama ayah
Aku: Beneran bu?
Ibu: Iya
Alyssa: Ardiii... *sambil menatapku
Nuri: Tapi Nuri pasti pulang kok kesini.
Aku: Bener kamu mau dek? Ga keberatan?
Nuri: Bener kak
Alyssa: Ardi
Ibu: Emm, kalau ibu sih gimana Nuri aja. Tapi kasihan Nurinya juga nanti bulak-balik kerumah
Alyssa: Jangan, Di. Aku gapapa kok
Nuri: Nuri mau kak
Ibu: Kamu serius nak?
Nuri: Iya, biar aku ada temen belajar juga heheh, tapi kalau dibolehin sih
Ibu: Ibu setuju aja, tapi bilang dulu sama ayah
Aku: Beneran bu?
Ibu: Iya
Alyssa: Ardiii... *sambil menatapku
Nuri: Tapi Nuri pasti pulang kok kesini.
Aku: Bener kamu mau dek? Ga keberatan?
Nuri: Bener kak
Malam hari, aku kembali membicarakan hal ini dengan seluruh keluargaku. Ayah dan kak Afifah juga setuju. Niatku yaitu ingin menjaga Alyssa. Seperti apa yang diamanahkan oleh keluarganya. Keesokan harinya, aku sedang mengikuti kuliahku. Saat itu aku sedang ada janji dengan Azril di sebuah kafe dekat kampusku. Saat jam istirahat, aku pergi ke kafe tempat aku dan Azril janjian untuk bertemu. Aku memasuki kafe tersebut, dan mencari posisi Azril
Azril: Di, sini *ucap Azril dari meja pojok
Aku: Udah lama?
Azril: Kaga, baru dateng malah
Aku: Ada apaan tumben ngajak ketemu
Azril: Gue mau minta tolong nih
Aku: Apaan? Langsung aja
Azril: Gue boleh pinjem duit lu ga?
Aku: Lah, emang orang tua lo ga ngirim?
Azril: Justru itu, bokap gue lagi sakit, dan harus dioperasi. Gue kekurangan dana malahan
Aku: Emang berapa?
Azril: Biaya operasinya lima belas juta, Di
Aku: Zril, mana ada gue duit segitu.
Azril: Ke orang tua lo ga bisa Di? Gue kalau ga butuh banget gakan kaya gini
Aku: Ga bisa Zril, tabungan gue juga ga seberapa.
Azril: Kalau gitu, bantuin gue buat jual motor gue aja
Aku: Lah, ga sayang? Itu kan motor kesayangan lo
Azril: Ya gimana lagi. Bantuin tawarin aja dah, siapa tau ada yang minat
Aku: Yakin?
Azril: Yakin gue. Yang penting bokap gue sembuh
Aku: Oke deh, nanti gue coba
Aku: Udah lama?
Azril: Kaga, baru dateng malah
Aku: Ada apaan tumben ngajak ketemu
Azril: Gue mau minta tolong nih
Aku: Apaan? Langsung aja
Azril: Gue boleh pinjem duit lu ga?
Aku: Lah, emang orang tua lo ga ngirim?
Azril: Justru itu, bokap gue lagi sakit, dan harus dioperasi. Gue kekurangan dana malahan
Aku: Emang berapa?
Azril: Biaya operasinya lima belas juta, Di
Aku: Zril, mana ada gue duit segitu.
Azril: Ke orang tua lo ga bisa Di? Gue kalau ga butuh banget gakan kaya gini
Aku: Ga bisa Zril, tabungan gue juga ga seberapa.
Azril: Kalau gitu, bantuin gue buat jual motor gue aja
Aku: Lah, ga sayang? Itu kan motor kesayangan lo
Azril: Ya gimana lagi. Bantuin tawarin aja dah, siapa tau ada yang minat
Aku: Yakin?
Azril: Yakin gue. Yang penting bokap gue sembuh
Aku: Oke deh, nanti gue coba
Satu bulan kemudian.
Alyssa: Matahari terbenam yang indah bukan?
Aku: Sangat
Alyssa: Di
Aku: Kenapa Lis?
Alyssa: Aku mau ke Bali
Aku: Kapan?
Alyssa: Minggu depan
Aku: Kamu......
Alyssa: Aku ga akan lama, aku hanya mau nengok orangtuaku
Aku: Berapa lama?
Alyssa: Hanya seminggu kok, setelah itu aku pasti pulang lagi kesini
Aku: Emm, baiklah.
Alyssa: Atau, kamu ikut aja sama aku
Aku: Eeh . . .
Alyssa: Kan kita lagi liburan, ya sesekali gitu
Aku: Emmm gimana yah
Alyssa: Ayolah, Di
Aku: Lagipula, aku juga belum beli tiket Lis
Alyssa: Yaudah, aku cariin tiketnya deh yah
Aku: Sangat
Alyssa: Di
Aku: Kenapa Lis?
Alyssa: Aku mau ke Bali
Aku: Kapan?
Alyssa: Minggu depan
Aku: Kamu......
Alyssa: Aku ga akan lama, aku hanya mau nengok orangtuaku
Aku: Berapa lama?
Alyssa: Hanya seminggu kok, setelah itu aku pasti pulang lagi kesini
Aku: Emm, baiklah.
Alyssa: Atau, kamu ikut aja sama aku
Aku: Eeh . . .
Alyssa: Kan kita lagi liburan, ya sesekali gitu
Aku: Emmm gimana yah
Alyssa: Ayolah, Di
Aku: Lagipula, aku juga belum beli tiket Lis
Alyssa: Yaudah, aku cariin tiketnya deh yah
Sebenarnya tabunganku pas-pasan sih. Dan kalau aku terima ajakan Alyssa, kok kayanya kejam sama si Azril yah. Ga bisa bantuin dia yang notabenenya dia sahabat sendiri, tapi giliran ke pacar dituruti. Ga ada pilihan antara sahabat atau pacar. Saling melengkapi aja.
Aku: Kayanya engga deh Lis
Alyssa: Kenapa?
Aku: Tabungan aku ga cukup
Alyssa: Emm, dari aku gimana?
Aku: Eh, jangan lah. Tapi nanti aku antar kamu ke bandara
Alyssa: Bener nih ga akan ikut dan ketemu orangtuaku?
Aku: Engga kayanya Lis, lagipula dirumah juga kan aku ga nganggur
Alyssa: Emm yaudah deh gapapa. Tapi lain kali ikut yah *ucapnya sambil tersenyum
Aku: InsyaAllah
Alyssa: Kenapa?
Aku: Tabungan aku ga cukup
Alyssa: Emm, dari aku gimana?
Aku: Eh, jangan lah. Tapi nanti aku antar kamu ke bandara
Alyssa: Bener nih ga akan ikut dan ketemu orangtuaku?
Aku: Engga kayanya Lis, lagipula dirumah juga kan aku ga nganggur
Alyssa: Emm yaudah deh gapapa. Tapi lain kali ikut yah *ucapnya sambil tersenyum
Aku: InsyaAllah
nasihiber memberi reputasi
2