Kaskus

Story

aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
Langit dan Bulan
Bisakah kita satu hari bersama, tanpa tumpukan kertas yang memenuhi meja kita?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?


Langit dan Bulan

Daftar Isi


Quote:



Saran dan masukan sangat membantu dalam penggarapan. Kiranya berkenan untuk mengingatkan jika ada kekeliruan dalam menulis.

Sosial media
Instagram : aldisabihat
Twitter: aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 10-06-2019 09:11
farrazaididAvatar border
bang.armenAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
6.1K
37
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
#23
16
Zafira sudah kembali masuk kuliah, meski belum benar-benar sehat. Ia sudah sanggup berjalan. Pusing di kepala perlahan pergi. Kantung di matanya mulai memudar. Wajahnya pucat, tapi senyumnya kini sudah utuh. Langit senang Zafira berangsur membaik.

“Zaf ini dimakan ya”
“Apa?”
“Dibuka aja kalo ga suka jangan dibuang tapi biar aku makan aja”
Zafira membuka tutup wadah. Makanan ini tidak asing. Diambilnya sendok lalu ia mulai mencicipi.
“Beli dimana?”
“Ga beli, aku bikin sendiri”
“Enak loh, mau coba?”

Rona antara tersipu malu dan bahagia tercampur. Langit tak pandai merangkai kata untuk menyelesaikan masalah Zafira. Tapi, selalu ada cara bagi Langit untuk memberi solusi bagi masalah Zafira. Perempuan butuh bukan sekedar rayuan kata, melainkan usaha.

***


Selama masa pemulihan dari penyakit Zafira selalu diantar jemput Langit. Langit harus bangun lebih awal dari Zafira. Menyiapkan diri lebih dahulu. Langit tidak mau jika Zafira harus menunggu lama. Jika perkuliahan dimulai jam 9 Langit sudah siap jam 7. Begitupun dengan jam kuliah yang lain. Dua jam sebelum perkuliahan Langit harus sudah siap.

“Bentar aku makeup dulu ya”
“Heu, udah cantik masih aja di make up”

Zafira tersipu malu. Langit jarang memuji. Dalam hati, Zafira kegirangan. Sebisa mungkin ia menahan senyumnya di balik kaca. Pura-pura menyembunyikan rasa. Padahal sudah saling tau.

Zafira menghampiri Langit yang sudah menunggu. Menaiki motor antik lalu mengancingkan helm. Melesat dari Andir menuju Setiabudhi. Sesekali Zafira mengintip wajah Langit dari bilik spion. Memang, Langit biasa-biasa saja. Usahahnya yang tidak biasa-biasa saja. Bagi Zafira, menemukan Langit bagai mencari jarum diantara jerami. Bersama Langit, Zafira merasa beruntung.

Di perempatan lampu merah pasirkaliki–sukajadi Zafira tertangkap memerhatikan Langit. Langit menyadari namun membiarkan. Biar saja Zafira menikmati apa yang membuatnya senang.

“Apa sih Langit?” Zafira mencoba mengelak. Kini ia pura-pura mengalihkan pandanganya
“Engga hehe” Langit tersenyum.
“Ke pom bensin dulu ya”
“Kenapa? Mau pipis?”
“Ih bukaaaaaaaan isi bensin motor kamu lah”
“Sama aku di isiin kok” Langit ingin menolak namun apa daya hari ini uang bekalnya hanya cukup untuk bensin satu hari. Rasanya malu.
Lampu merah berganti menjadi kuning lalu hijau. Langit menancap gas. Matanya menyapu jalan mencari pom terdekat. Dari jauh sudah ia tangkap tulisan pertamina.

“Mba full tank ya.” pinta Zafira ke petugas pom.
“Zaf makasih ya”, balas Zafira tersenyum

Zafira tahu selama diantar jemput, Langit harus menyisihkan uang jajannya untuk tambahan bensin. Kadang Langit tidak jajan. Langit tak pernah meminta, hatinya ikhlas. Demi Zafira agar aman, tidak perlu berdesak-desakan di bus kota, dan pulang lebih cepat agar Zafira bisa beristirahat. Berupaya agar Zafira cepat sembuh.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.