- Beranda
- Stories from the Heart
Riding to Jannah
...
TS
neopo
Riding to Jannah
Don't choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful. Keep her close to Allah. Keep him close to Allah. Together for Jannah. I want love that will say: "Not even death will do us part, because we'll be reunited in jannah, insyaallah”
Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.
Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.
Tokoh :
- Ardian - Aku, pria dengan tinggi 176cm yang hobinya main motor
- Azril Riswan - Sahabat sejak kuliah, beda jurusan tapi masih satu fakultas
- Elriko - Kenalan saat pertama kali touring, so cool but nice guy
- Dina Resti - Bagiku dia perfect, tetapi sedikit cerewet
- Alyssa Erica - Gadis cerdas dan sangat mempedulikan lingkungannya
- Rofila Afifah - Kakakku yang cantik, cerewet tapi selalu bisa jaga adik-adiknya
- Nuri Freska - Adikku yang sangat manja, segalanya harus dituruti, tapi ia juga penurut
- Raden Dimas - Sometime good guy, sometimes bad guy (dalam arti sifat, bukan tindakan menyimpang)
- I N D E X -
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34 by Nuri
Part 35 by Dina
Part 36 by Alyssa
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34 by Nuri
Part 35 by Dina
Part 36 by Alyssa
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Diubah oleh neopo 16-09-2022 12:17
JabLai cOY dan 27 lainnya memberi reputasi
28
43K
308
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#87
Part 15
Setelah hujan berhenti, aku mengajak Alyssa untuk pergi. Seperti keinginan Alyssa tadi, aku mengajaknya ke alun-alun Bandung. Tapi kali ini kami tak menggunakan si Sapi. Aku menggunakan motor matic milik kak Afifah. Langit masih tertutupi awan meski sudah tak hujan. Udara juga masih cukup dingin. Angin bertiup sedikit kencang, sehingga membuatku harus memperlambat laju kendaraanku. Alyssa juga mengenakan jaket yang agak tebal untuk membuat tubuhnyatetap hangat. Sampailah kami di sebuah tempat di daerah Braga.
Kami berjalan di sekitar Braga. Sampai Alyssa mengajakku membeli sebuah minum didekat situ. Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang. Ya, aku mengantar Alyssa pulang kerumahnya. Juga memenuhi ajakannya untuk bertemu dengan keluarganya.
Singkat cerita, setelah jalan-jalan ga jelas, aku tiba dirumah Alyssa. Waktu menunjukkan jam 5 sore. Saat aku memarkirkan motorku di garasi rumah Alyssa, perlahan aku turun dari motor dan mengikuti Alyssa dengan rasa gugup yang luar biasa.
Akupun mengikuti saja keinginannya. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Rumahnya tak terlalu besar. Jika dibandingkan dengan tempat tinggalku, jelas masih besar tempat tinggalku. (Bukan menyombongkan diri) Tapi aku juga bisa meerasakan bahwa Alyssa berasal dari keluarga yang lebih dari cukup. Tak lama kemudian, datanglah dari dalam Alyssa dengan seorang wanita yang kutaksir berusia sekitar 40 tahunan. Ya, beliau adalah ibunya Alyssa.
Aku tersenyum padanya, dan ia tersenyum balik padaku. Menjelang magrib, aku pamit pulang. Besok aku ada kelas di kampus, dan aku kurang istirahat karena seharian ini bersama Alyssa. Tetapi aku tak mempermasalahkan itu. Selama Alyssa bahagia, aku akan bahagia.
Keesokan paginya, aku berangkat ke kampus dengan sedikit rasa pegal dibadanku. Bahkan aku pergi menggunakan ojek. Aku tak membawa motor karena badan ini sudah mulai meminta haknya. Dikampuspun aku lebih banyak diam. Disaat teman-temanku sedang asik mengobrol satu sama lain, aku hanya duduk menahan rasa pegal.
Iapun pergi. Aku mengikuti kuliah hari ini dengan normal. Meski tubuh ini kurang fit, namun tetap aku harus menjalaninya. Saat jam istirahat, aku keluar dari kelas. Saat kulihat, Alyssa sedang menunggu didepan kelasku. Aku langsung saja menghampirinya
Kami pergi dengan jalan kaki. Selama perjalanan, yang kami bincangkan hanyalah seputaran tentang perkuliahan. Sampailah kami ditujuan. Kami hanya makan sederhana, tetapi aku lihat Alyssa begitu bahagia. Begitupun denganku. Dengan melihat senyumnya saja, aku merasa tenang. Saat kami sedang makan, entah kenapa mataku terasa sedikit perih. Rasanya berat. Ubun-ubunku terasa sakit
Aku tak mau membuatnya kepikiran. Dan aku juga tak mau memaksakan tubuh yang sudah meminta haknya ini.
Setelah selesai, aku berpamitan pada Alyssa untuk langsung pulang. Tak kuat juga menahan rasa sakit di ubun-ubun. Akupun menggunakan ojek setempat sebagai transportasiku. Saat aku hendak naik ke motor, aku mengecek saku jaketku. Astagfirullah, handphoneku tak ada di tempatnya. Aku mengingat-ngingat, tadi aku mengeluarkan handphoneku dan menaruhnya dekat piring. Aku langsung saja kembali takutnya hilang. Setibanya aku disana, kulihat Alyssa masih duduk sendiri sambil menikmati jus jeruk yang ia pesan. Aku berjalan menghampirinya. Namun tiba-tiba aku melihat seseorang menghampirinya dari belakangnya dan duduk disampingnya. Dan orang itu adalah Dimas. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang melihat mereka. Aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak berfikiran negatif. Saat aku sampai di meja, Alyssa terperanjak
Akupun pulang tanpa menghiraukan panggilannya lagi. Setibanya dirumah, aku shalat dzuhur dan setelahnya aku langsung membaringkan tubuhku. Ya, langsung, tanpa mengganti baju, bahkan dengan sepatu yang masih aku kenakan dikakiku. Tak butuh waktu lama aku terlelap dalam tidur dan mulai memasuki dunia mimpi. Mungkin kalian juga pernah merasakannya jika tidur siang, lalu bangun di waktu antara ashar atau magrib itu badan terasa panas dingin dan kepala terasa pusing. Dan aku merasakannya. Aku terbangun sekitar jam empat sore. Aku merasakan sesuatu yang basah di keningku. Aku di kompres menggunakan kain basah. Aku membuka mataku, aku melihat kak Afifah sedang duduk bersama seorang. Awalnya aku mengira itu adalah Nuri, tetapi bukan. Dia adalah Alyssa.
Alyssa tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya terdiam sambil sesekali mengecek handphonenya. Kak Afifah pergi untuk membuatkan aku teh manis. Aku bangun dan duduk menghadap Alyssa. Ia kembali menatapku dengan tatapan yang seolah mengucapkan kata maaf.
Aku bangun dan mengajaknya untuk pergi ke ruang tengah. Disana ada Nuri, ibu dan ayah yang sepertinya baru pulang. Kak Afifah datang menghampiriku dan memberiku teh manis yang tadi ia buatkan.
Alyssa hanya tersenyum malu dan kemudian salim dengan ayahku.
Ayah sangat menyambut Alyssa. Pasti kalian tahu apa yang aku rasakan. Aku sangat bahagia, ketika keluargaku menerima seseorang yang berarti untukku dengan baik. Mereka dapat menerima Alyssa. Keluargaku juga tak pernah memandang orang yang kasarnya berada dibawah kalangan kami. Karena kami tahu, untuk naik keatas, semua dimulai dari bawah. Apapun yang kami miliki, itu semua hanya titipan. Aku duduk disamping kak Afifah, sementara Alyssa duduk disebelah Nuri bersama ayah yang masih sibuk membuka sepatunya. Ah ademnya suasana rumah. Semua berkumpul, termasuk Alyssapun ikut berkumpul bersama. Memang harta yang tak ternilai harganya. Aku mulai merasa baikan setelah minum teh hangat buatan kak Afifah. Karena ia membuatnya dengan cinta disetiap celupannya.
Kami bercerita bersama diruang keluarga. Tak terasa waktu sudah hampir memasuki magrib. Alyssa hendak berpamitan untuk pulang, tetapi aku larang. Sebab saat magrib tidak baik keluar rumah. Jadi aku menyuruhnya untuk tetap disini dan shalat disini juga, setelah itu ia boleh pulang. Alyssa juga menuruti kata-kataku dan menerima saranku.
Alyssapun pamit dan langsung pergi. Ia menghilang dari balik gerbang rumahku. Keesokan harinya, aku tak masuk kuliah. Aku ingin masuk, tetapi ibu menyuruhku untuk tetap dirumah dan menyuruhku beristirahat hingga aku benar-benar pulih. Selama aku dirumah, aku mengerjakan tugas yang diberitahukan oleh temanku lewat SMS. Sekitar jam 10 pagi, aku memutuskan untuk duduk di teras rumah. Suasana sunyi disini. Tetangga juga sudah pada pergi. Aku bersandar di kursi teras sambil menikmati semilir angin yang berhembus menembus kaos yang aku kenakan. Aku mendengar suara pesawat yang melintas di langit.
Ternyata membosankan juga dirumah tanpa kegiatan. Sehat itu mahal. Satu jam kemudian, kak Afifah pulang. Ia baru saja dari kampus.
Beberapa hari berlalu. Aku sudah mulai membaik dan aku bisa menjalnkan aktivitasku seperti biasa. Saat pertemuan di hari itu dengan keluarga Alyssa, aku belum juga bertemu dengan ayahnya. Mungkin karena aku datangdi waktu yang tidak tepat. Atau mungkmin ayahnya sangat sibuk. Hari ini, aku sedang berada di sebuah kafe bersama Azril, dan Riko. Untuk saat ini, tidak ada rencana untuk touring karena sibuk dengan urusan masing-masing. Yang menjadi topik pembicaraan kami ya seputaran otomotif. Tentang modifikasi, dan lain-lain. Oh ya, Riko dan Azril belum tahu kalau aku sudah jadian dengan Alyssa. Tentang Dimas, aku sudah lama tak mendengar kabar. Terakhir aku lihat saat peristiwa di kantin itu. Setelah itu,ia menghilang tanpa kabar. Dan semenjak Alyssa putus dengan Dimas, Dimas seperti tidak pernah mau berhubungan lagi dengan kami. Mungkin sekarang ia membenciku karena mungkin aku dianggap merebut Alyssa darinya.
Tak lama, aku mendapat telefon dari kak Afifah. Kak Afifah berkata ia tak bisa pulang cepat karena masih ada keperluan di kampusnya. Kak Afifah menyuruhku untuk pulang dan membereskan pekerjaan rumah. Orang tuaku juga sedang tidak ada dirumah. Mereka sedang pergi ke rumah saudaraku di daerah Lembang. Akupun memenuhi perintah kakakku.
Akupun pulang kerumah. Setibanya dirumah, saat aku mengetuk pintu tak ada jawaban. Mungkin Nuri juga belum pulang. Aku mencari kunci yang biasa disimpan di dekat ventilasi dan aku menemukannya. Sekitar 30 menit aku mengerjakan tugas rumah, Nuri pulang.
Akupun ke dapur untuk memasak bersama Nuri. Saat memasak, aku dan Nuri tak henti-hentinya bercanda. Yah beginilah aku dengan Nuri jika bersama. Kadang kami suka bercanda-canda seperti layaknya dua anak kecil yang suka bermain-main. Kenapa bisa begitu? Sebenarnya alasannya ga begitu penting sih. Dulu emang aku pengen punya adik perempuan. Ga penting kan? Lupakan. Beberapa saat aku dan Nuri selesai membuat nasi goreng, kami bersiap untuk menyantapnya. Tak lama setelah itu kak Afifah pulang, disertai ucapan salam khasnya
Alhasil kami makan bertiga sambil menonton acara di televisi. Ah suasana yang sangat menyenangkan. Malam yang sama, orang tuaku belum juga pulang. Sampai mereka mengabari, bahwa mereka akan pulang besok. Hujan sedang turun disertai angin yang tidak terlalu kencang. Namun udara tetap saja terasa dingin. Nuri sedang mengerjakan PR dikamarnya, sedangkan kak Afifah masih mengerjakan skripsinya bersamaku di ruang tengah. Aku sendiri bersantai sambil menikmati teh manis.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Hujanpun tak kunjung berhenti. Kak Afifah masih berkutat dengan laptopnya, sementara aku sudah mulai merasakan kantuk. Belum lama aku memejamkan mata, aku kembali terperanjak karena tiba-tiba suara guntur bergemuruh dari langit. Aku mengecek Hpku untuk memastikan baterai terisi. Ternyata ada satu SMS masuk dari Alyssa
Akupun tertidur. Entah jam berapa, aku dibangunkan oleh kak Afifah untuk pindah ke kamar.
Aku: Kita ngapain kesini Lis?
Alyssa: Gue suntuk aja di rumah Di
Aku: Lah, lo mah ga jelas
Alyssa: Hehe, maaf. Oh iya, nanti lo mampir ya kerumah gue
Aku: Malu ah Lis
Alyssa: Gapapa, ortu gue ga galak kok
Aku: Emang ortu lo bakal suka sama gue?
Alyssa: Ortu gue baik kok. Jangan takut. Suka atau engga, lo harus bisa bikin mereka suka hehe
Aku: Lo yakin?
Alyssa: Dan karena kita pacaran, manggilnya jangan gue/lo lagi ya. Kita panggil biasa aku/kamu aja
Aku: Iya deh. Aku bakal coba ketemu ortu kamu
Alyssa: Makasih *tersenyum sambil menengokku
Alyssa: Gue suntuk aja di rumah Di
Aku: Lah, lo mah ga jelas
Alyssa: Hehe, maaf. Oh iya, nanti lo mampir ya kerumah gue
Aku: Malu ah Lis
Alyssa: Gapapa, ortu gue ga galak kok
Aku: Emang ortu lo bakal suka sama gue?
Alyssa: Ortu gue baik kok. Jangan takut. Suka atau engga, lo harus bisa bikin mereka suka hehe
Aku: Lo yakin?
Alyssa: Dan karena kita pacaran, manggilnya jangan gue/lo lagi ya. Kita panggil biasa aku/kamu aja
Aku: Iya deh. Aku bakal coba ketemu ortu kamu
Alyssa: Makasih *tersenyum sambil menengokku
Kami berjalan di sekitar Braga. Sampai Alyssa mengajakku membeli sebuah minum didekat situ. Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang. Ya, aku mengantar Alyssa pulang kerumahnya. Juga memenuhi ajakannya untuk bertemu dengan keluarganya.
Aku: Lis
Alyssa: Iya, kenapa Di?
Aku: Bener aku malu Lis
Alyssa: Ga usah malu, nanti aku temenin kok
Alyssa: Iya, kenapa Di?
Aku: Bener aku malu Lis
Alyssa: Ga usah malu, nanti aku temenin kok
Singkat cerita, setelah jalan-jalan ga jelas, aku tiba dirumah Alyssa. Waktu menunjukkan jam 5 sore. Saat aku memarkirkan motorku di garasi rumah Alyssa, perlahan aku turun dari motor dan mengikuti Alyssa dengan rasa gugup yang luar biasa.
Alyssa: Ardiii hayu masuk *sambil menarik tanganku
Aku: Eeh . . jangan tarik-tarik. Sumpah aku malu Lis
Alyssa: Ga usah malu, yuk. Kan ada aku
Aku: Eeh . . jangan tarik-tarik. Sumpah aku malu Lis
Alyssa: Ga usah malu, yuk. Kan ada aku
Akupun mengikuti saja keinginannya. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Rumahnya tak terlalu besar. Jika dibandingkan dengan tempat tinggalku, jelas masih besar tempat tinggalku. (Bukan menyombongkan diri) Tapi aku juga bisa meerasakan bahwa Alyssa berasal dari keluarga yang lebih dari cukup. Tak lama kemudian, datanglah dari dalam Alyssa dengan seorang wanita yang kutaksir berusia sekitar 40 tahunan. Ya, beliau adalah ibunya Alyssa.
Tante Rani: Temenmu?
Alyssa: Ini cowok aku bu
Tante Rani: Oh, namanya siapa?
Aku: Saya Ardi, tante
Tante Rani: Oh, ini yang namanya Ardi. Alyssa banyak cerita tentang kamu lho
Aku: Eh gitu?
Tante Rani: Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu ya
Aku: Ga usah tante, jangan repot-repot
Tante Rani: Ah ga repot kok. Sebentar ya
Alyssa: Ibuku baik kan?
Aku: Iya
Alyssa: Ayah belum pulang ternyata. Mungkin nanti malam pulangnya
Aku: Emm iya Lis, lain kali aja
Alyssa: Makasih ya
Aku: Kenapa?
Alyssa: Kamu udah mau kenal sama keluarga aku
Alyssa: Ini cowok aku bu
Tante Rani: Oh, namanya siapa?
Aku: Saya Ardi, tante
Tante Rani: Oh, ini yang namanya Ardi. Alyssa banyak cerita tentang kamu lho
Aku: Eh gitu?
Tante Rani: Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu ya
Aku: Ga usah tante, jangan repot-repot
Tante Rani: Ah ga repot kok. Sebentar ya
Alyssa: Ibuku baik kan?
Aku: Iya
Alyssa: Ayah belum pulang ternyata. Mungkin nanti malam pulangnya
Aku: Emm iya Lis, lain kali aja
Alyssa: Makasih ya
Aku: Kenapa?
Alyssa: Kamu udah mau kenal sama keluarga aku
Aku tersenyum padanya, dan ia tersenyum balik padaku. Menjelang magrib, aku pamit pulang. Besok aku ada kelas di kampus, dan aku kurang istirahat karena seharian ini bersama Alyssa. Tetapi aku tak mempermasalahkan itu. Selama Alyssa bahagia, aku akan bahagia.
Keesokan paginya, aku berangkat ke kampus dengan sedikit rasa pegal dibadanku. Bahkan aku pergi menggunakan ojek. Aku tak membawa motor karena badan ini sudah mulai meminta haknya. Dikampuspun aku lebih banyak diam. Disaat teman-temanku sedang asik mengobrol satu sama lain, aku hanya duduk menahan rasa pegal.
Chika: Lo kenapa Di?
Aku: Gapapa, Ka
Chika: Tumben ga gabung sama yang lain
Aku: Lagi cape aja Ka.
Chika: Oh, yaudah deh. Gue mau ke kantin, lo mau nitip?
Aku: Gue nitip roti aja Chik kalau boleh
Chika: yaudah gue keluar dulu ya
Aku: Gapapa, Ka
Chika: Tumben ga gabung sama yang lain
Aku: Lagi cape aja Ka.
Chika: Oh, yaudah deh. Gue mau ke kantin, lo mau nitip?
Aku: Gue nitip roti aja Chik kalau boleh
Chika: yaudah gue keluar dulu ya
Iapun pergi. Aku mengikuti kuliah hari ini dengan normal. Meski tubuh ini kurang fit, namun tetap aku harus menjalaninya. Saat jam istirahat, aku keluar dari kelas. Saat kulihat, Alyssa sedang menunggu didepan kelasku. Aku langsung saja menghampirinya
Alyssa: Udah?
Aku: Udah, mau makan dimana kita?
Alyssa: Emm di warung yang deket mesjid diluar kampus gimana?
Aku: Yakin?
Alyssa: Iyah, yuk *sambil menarikku dengan semangat
Aku: Udah, mau makan dimana kita?
Alyssa: Emm di warung yang deket mesjid diluar kampus gimana?
Aku: Yakin?
Alyssa: Iyah, yuk *sambil menarikku dengan semangat
Kami pergi dengan jalan kaki. Selama perjalanan, yang kami bincangkan hanyalah seputaran tentang perkuliahan. Sampailah kami ditujuan. Kami hanya makan sederhana, tetapi aku lihat Alyssa begitu bahagia. Begitupun denganku. Dengan melihat senyumnya saja, aku merasa tenang. Saat kami sedang makan, entah kenapa mataku terasa sedikit perih. Rasanya berat. Ubun-ubunku terasa sakit
Alyssa: Kamu kenapa?
Aku: Gapapa kok. Kamu abis ini ada kuliah lagi?
Alyssa: Ada, Di. Sampai jam tiga. Kamu?
Aku: Ga ada.
Aku: Gapapa kok. Kamu abis ini ada kuliah lagi?
Alyssa: Ada, Di. Sampai jam tiga. Kamu?
Aku: Ga ada.
Aku tak mau membuatnya kepikiran. Dan aku juga tak mau memaksakan tubuh yang sudah meminta haknya ini.
Aku: Kayanya aku ga bisa jemput kamu. Aku ada janji sama Nuri
Alyssa: Oh, iya gapapa kok.
Aku: Kamu jangan nakal
Alyssa: Engga aku mah yey. Kamu yang nakal tuuu
Aku: Abis ini, kamu langsung ke kelas?
Alyssa: Engga, Di. Aku mau disini dulu. Udah janjian sama Anin
Aku: Oh iya.
Alyssa: Oh, iya gapapa kok.
Aku: Kamu jangan nakal
Alyssa: Engga aku mah yey. Kamu yang nakal tuuu
Aku: Abis ini, kamu langsung ke kelas?
Alyssa: Engga, Di. Aku mau disini dulu. Udah janjian sama Anin
Aku: Oh iya.
Setelah selesai, aku berpamitan pada Alyssa untuk langsung pulang. Tak kuat juga menahan rasa sakit di ubun-ubun. Akupun menggunakan ojek setempat sebagai transportasiku. Saat aku hendak naik ke motor, aku mengecek saku jaketku. Astagfirullah, handphoneku tak ada di tempatnya. Aku mengingat-ngingat, tadi aku mengeluarkan handphoneku dan menaruhnya dekat piring. Aku langsung saja kembali takutnya hilang. Setibanya aku disana, kulihat Alyssa masih duduk sendiri sambil menikmati jus jeruk yang ia pesan. Aku berjalan menghampirinya. Namun tiba-tiba aku melihat seseorang menghampirinya dari belakangnya dan duduk disampingnya. Dan orang itu adalah Dimas. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang melihat mereka. Aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak berfikiran negatif. Saat aku sampai di meja, Alyssa terperanjak
Alyssa: Ardi?
Aku: Gue mau ambil HP. Kalian lanjutin aja *ucapku sambil tersenyum
Alyssa: Ardi bentar *sambil menahan tanganku
Aku: Kenapa Lis? Udah gapapa, lanjutin aja. Gue duluan ya
Aku: Gue mau ambil HP. Kalian lanjutin aja *ucapku sambil tersenyum
Alyssa: Ardi bentar *sambil menahan tanganku
Aku: Kenapa Lis? Udah gapapa, lanjutin aja. Gue duluan ya
Akupun pulang tanpa menghiraukan panggilannya lagi. Setibanya dirumah, aku shalat dzuhur dan setelahnya aku langsung membaringkan tubuhku. Ya, langsung, tanpa mengganti baju, bahkan dengan sepatu yang masih aku kenakan dikakiku. Tak butuh waktu lama aku terlelap dalam tidur dan mulai memasuki dunia mimpi. Mungkin kalian juga pernah merasakannya jika tidur siang, lalu bangun di waktu antara ashar atau magrib itu badan terasa panas dingin dan kepala terasa pusing. Dan aku merasakannya. Aku terbangun sekitar jam empat sore. Aku merasakan sesuatu yang basah di keningku. Aku di kompres menggunakan kain basah. Aku membuka mataku, aku melihat kak Afifah sedang duduk bersama seorang. Awalnya aku mengira itu adalah Nuri, tetapi bukan. Dia adalah Alyssa.
Afifah: Bangun juga kamu dek
Aku: Emmhh kak
Alyssa: Kamu kenapa?
Aku: Gapapa kok
Alyssa: Gapapa gimana? Badan kamu panas gini
Afifah: Mau ke dokter de?
Aku: Engga kak, males
Alyssa: Iiih kamu tuh lagi sakit, jangan males ke dokter biar cepet sembuh
Aku: Gamau Lis. Lagian bukannya lo sama Dimas?
Alyssa: Engga, Di. Saat dia nyamperin, aku mau pergi kok. Aku ga ngobrol juga sama dia
Aku: Oh gitu
Alyssa: Jangan gitu, maafin aku
Aku: Yaudah lupain aja
Aku: Emmhh kak
Alyssa: Kamu kenapa?
Aku: Gapapa kok
Alyssa: Gapapa gimana? Badan kamu panas gini
Afifah: Mau ke dokter de?
Aku: Engga kak, males
Alyssa: Iiih kamu tuh lagi sakit, jangan males ke dokter biar cepet sembuh
Aku: Gamau Lis. Lagian bukannya lo sama Dimas?
Alyssa: Engga, Di. Saat dia nyamperin, aku mau pergi kok. Aku ga ngobrol juga sama dia
Aku: Oh gitu
Alyssa: Jangan gitu, maafin aku
Aku: Yaudah lupain aja
Alyssa tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya terdiam sambil sesekali mengecek handphonenya. Kak Afifah pergi untuk membuatkan aku teh manis. Aku bangun dan duduk menghadap Alyssa. Ia kembali menatapku dengan tatapan yang seolah mengucapkan kata maaf.
Aku: Maafin aku ya
Alyssa: Kamu ga salah, aku yang salah. Kamu juga kenapa ga bilang kalau lagi sakit? Pasti gara-gara aku minta liburan tambahan kemarin ya?
Aku: Aku sakit, bukan karena kamu kok
Alyssa: Kamu itu kecapean, dan aku yang udah bikin kamu jadi kaya gini
Aku: Udahlah Lis, ga usah berlebihan gitu. Lagipula aku ga kenapa-kenapa.
Alyssa: Kamu ke dokter ya
Aku: Jangan
Alyssa: Kenapa?
Aku: Kan dokternya udah ada disini *ucapku sambil memegang pipinya
Alyssa: Emm Ardiii...
Alyssa: Kamu ga salah, aku yang salah. Kamu juga kenapa ga bilang kalau lagi sakit? Pasti gara-gara aku minta liburan tambahan kemarin ya?
Aku: Aku sakit, bukan karena kamu kok
Alyssa: Kamu itu kecapean, dan aku yang udah bikin kamu jadi kaya gini
Aku: Udahlah Lis, ga usah berlebihan gitu. Lagipula aku ga kenapa-kenapa.
Alyssa: Kamu ke dokter ya
Aku: Jangan
Alyssa: Kenapa?
Aku: Kan dokternya udah ada disini *ucapku sambil memegang pipinya
Alyssa: Emm Ardiii...
Aku bangun dan mengajaknya untuk pergi ke ruang tengah. Disana ada Nuri, ibu dan ayah yang sepertinya baru pulang. Kak Afifah datang menghampiriku dan memberiku teh manis yang tadi ia buatkan.
Ayah: Eh, ada tamu?
Nuri: Iya, yah. Ini pacarnya kak Ardi hehe
Aku: Nurii...ssstt
Nuri: Iya, yah. Ini pacarnya kak Ardi hehe
Aku: Nurii...ssstt
Alyssa hanya tersenyum malu dan kemudian salim dengan ayahku.
Ayah: Siapa nama kamu?
Alyssa: Alyssa, om
Ayah: Jadi kamu pacarnya Ardi?
Alyssa: Emm. Iya *malu-malu
Alyssa: Alyssa, om
Ayah: Jadi kamu pacarnya Ardi?
Alyssa: Emm. Iya *malu-malu
Ayah sangat menyambut Alyssa. Pasti kalian tahu apa yang aku rasakan. Aku sangat bahagia, ketika keluargaku menerima seseorang yang berarti untukku dengan baik. Mereka dapat menerima Alyssa. Keluargaku juga tak pernah memandang orang yang kasarnya berada dibawah kalangan kami. Karena kami tahu, untuk naik keatas, semua dimulai dari bawah. Apapun yang kami miliki, itu semua hanya titipan. Aku duduk disamping kak Afifah, sementara Alyssa duduk disebelah Nuri bersama ayah yang masih sibuk membuka sepatunya. Ah ademnya suasana rumah. Semua berkumpul, termasuk Alyssapun ikut berkumpul bersama. Memang harta yang tak ternilai harganya. Aku mulai merasa baikan setelah minum teh hangat buatan kak Afifah. Karena ia membuatnya dengan cinta disetiap celupannya.
Ayah: Kamu sakit?
Aku: Engga yah, cuma lemes aja
Ayah: Laki-laki itu harus kuat. Jangan cengeng. Malu dong, ceweknya cantik, cowoknya lembek hahaha
Aku: Engga lah, yah. Seperti yang ayah bilang, laki-laki harus bisa menjaga perempuan
Ayah: Nah itu
Ibu: Dulu juga ayahmu cengeng haha
Ayah: Enak aja.
Aku: Engga yah, cuma lemes aja
Ayah: Laki-laki itu harus kuat. Jangan cengeng. Malu dong, ceweknya cantik, cowoknya lembek hahaha
Aku: Engga lah, yah. Seperti yang ayah bilang, laki-laki harus bisa menjaga perempuan
Ayah: Nah itu
Ibu: Dulu juga ayahmu cengeng haha
Ayah: Enak aja.
Kami bercerita bersama diruang keluarga. Tak terasa waktu sudah hampir memasuki magrib. Alyssa hendak berpamitan untuk pulang, tetapi aku larang. Sebab saat magrib tidak baik keluar rumah. Jadi aku menyuruhnya untuk tetap disini dan shalat disini juga, setelah itu ia boleh pulang. Alyssa juga menuruti kata-kataku dan menerima saranku.
Aku: Kamu mau aku anter?
Alyssa: Ish yah, kamu tuh lagi sakit. Istirahat aja. Aku bisa pulang sendiri kok
Aku: Bener?
Alyssa: Iyah sayang, gapapa kok.
Aku: Cie... manggil sayang hehe
Alyssa: Iissh rusak suasana aja deh
Aku: Bercanda atuh
Alyssa: Ish.. yaudah, aku pulang dulu ya
Ibu: Lhoo... mau kemana?
Alyssa: Mau pulang dulu tante, takut orang rumah nyariin
Ibu: Ohh gitu. Yasudah, sering-sering main kesini ya
Alyssa: InsyaAllah tante hehe
Alyssa: Ish yah, kamu tuh lagi sakit. Istirahat aja. Aku bisa pulang sendiri kok
Aku: Bener?
Alyssa: Iyah sayang, gapapa kok.
Aku: Cie... manggil sayang hehe
Alyssa: Iissh rusak suasana aja deh
Aku: Bercanda atuh
Alyssa: Ish.. yaudah, aku pulang dulu ya
Ibu: Lhoo... mau kemana?
Alyssa: Mau pulang dulu tante, takut orang rumah nyariin
Ibu: Ohh gitu. Yasudah, sering-sering main kesini ya
Alyssa: InsyaAllah tante hehe
Alyssapun pamit dan langsung pergi. Ia menghilang dari balik gerbang rumahku. Keesokan harinya, aku tak masuk kuliah. Aku ingin masuk, tetapi ibu menyuruhku untuk tetap dirumah dan menyuruhku beristirahat hingga aku benar-benar pulih. Selama aku dirumah, aku mengerjakan tugas yang diberitahukan oleh temanku lewat SMS. Sekitar jam 10 pagi, aku memutuskan untuk duduk di teras rumah. Suasana sunyi disini. Tetangga juga sudah pada pergi. Aku bersandar di kursi teras sambil menikmati semilir angin yang berhembus menembus kaos yang aku kenakan. Aku mendengar suara pesawat yang melintas di langit.
Ibu: Nak, lagi apa?
Aku: Ga ngapa-ngapain bu
Ibu: Ayo masuk. Kamu lagi sakit, jangan keanginan
Aku: Ardi gapapa bu.
Ibu: Iya, tapi didalem aja. Nanti malah masuk angin
Aku: Iya bu.
Aku: Ga ngapa-ngapain bu
Ibu: Ayo masuk. Kamu lagi sakit, jangan keanginan
Aku: Ardi gapapa bu.
Ibu: Iya, tapi didalem aja. Nanti malah masuk angin
Aku: Iya bu.
Ternyata membosankan juga dirumah tanpa kegiatan. Sehat itu mahal. Satu jam kemudian, kak Afifah pulang. Ia baru saja dari kampus.
Aifah: Hey de, gimana keadaannya sekarang?
Aku: Udah agak mendingan kak
Afifah: Bagus deh hehe, jadi kakak ga perlu repot lagi nguirusin kamu hehe
Aku: Ish gitu banget lah sama adek sendiri
Aku: Udah agak mendingan kak
Afifah: Bagus deh hehe, jadi kakak ga perlu repot lagi nguirusin kamu hehe
Aku: Ish gitu banget lah sama adek sendiri
Beberapa hari berlalu. Aku sudah mulai membaik dan aku bisa menjalnkan aktivitasku seperti biasa. Saat pertemuan di hari itu dengan keluarga Alyssa, aku belum juga bertemu dengan ayahnya. Mungkin karena aku datangdi waktu yang tidak tepat. Atau mungkmin ayahnya sangat sibuk. Hari ini, aku sedang berada di sebuah kafe bersama Azril, dan Riko. Untuk saat ini, tidak ada rencana untuk touring karena sibuk dengan urusan masing-masing. Yang menjadi topik pembicaraan kami ya seputaran otomotif. Tentang modifikasi, dan lain-lain. Oh ya, Riko dan Azril belum tahu kalau aku sudah jadian dengan Alyssa. Tentang Dimas, aku sudah lama tak mendengar kabar. Terakhir aku lihat saat peristiwa di kantin itu. Setelah itu,ia menghilang tanpa kabar. Dan semenjak Alyssa putus dengan Dimas, Dimas seperti tidak pernah mau berhubungan lagi dengan kami. Mungkin sekarang ia membenciku karena mungkin aku dianggap merebut Alyssa darinya.
Azril: Si Dimas udah lama ga keliatan
Riko: Tau, kemana dia. Tiba-tiba ga ada kabar.
Azril: Dia putus sama Alyssa?
Riko: Katanya sih, gimana Di?
Aku: Kenapa?
Riko: Lo tau soal Alyssa sama Dimas?
Aku: Engga, kenapa?
Azril: Ya, lo kan deket banget sama Alyssa
Aku: Sebenernya sih . . . gue udah jadian
Riko: Ah serius??? Kapan?
Aku: Pas pulang touring kemarin, gue nembak dia
Azril: Gila lo men... nusuk temen sendiri
Aku: Zril, gue sama Alyssa itu saling suka. Dia yang putusin Dimas, dan gue ungkapin perasaan gue. Gue juga udah bilang dari awal, kalau gue gamau jadi penyebab mereka putus. Dan Alyssa yang bilang ke gue, kalau dia putus karena Dimas itu yang udah selingkuhin dia. Gue ga salah kan?
Riko: Engga juga sih, kan posisinya Dimas yang udah “menghkianati”. Iya ga Zril? *sambil melihat kearah Azril
Azril: Iya juga sih.
Riko: Tau, kemana dia. Tiba-tiba ga ada kabar.
Azril: Dia putus sama Alyssa?
Riko: Katanya sih, gimana Di?
Aku: Kenapa?
Riko: Lo tau soal Alyssa sama Dimas?
Aku: Engga, kenapa?
Azril: Ya, lo kan deket banget sama Alyssa
Aku: Sebenernya sih . . . gue udah jadian
Riko: Ah serius??? Kapan?
Aku: Pas pulang touring kemarin, gue nembak dia
Azril: Gila lo men... nusuk temen sendiri
Aku: Zril, gue sama Alyssa itu saling suka. Dia yang putusin Dimas, dan gue ungkapin perasaan gue. Gue juga udah bilang dari awal, kalau gue gamau jadi penyebab mereka putus. Dan Alyssa yang bilang ke gue, kalau dia putus karena Dimas itu yang udah selingkuhin dia. Gue ga salah kan?
Riko: Engga juga sih, kan posisinya Dimas yang udah “menghkianati”. Iya ga Zril? *sambil melihat kearah Azril
Azril: Iya juga sih.
Tak lama, aku mendapat telefon dari kak Afifah. Kak Afifah berkata ia tak bisa pulang cepat karena masih ada keperluan di kampusnya. Kak Afifah menyuruhku untuk pulang dan membereskan pekerjaan rumah. Orang tuaku juga sedang tidak ada dirumah. Mereka sedang pergi ke rumah saudaraku di daerah Lembang. Akupun memenuhi perintah kakakku.
Aku: Bro, kayanya gue harus balik duluan
Riko: Lah kenapa?
Aku: Ada kerjaan dirumah.
Azril: Oh yaudah, eh kalau ada waktu kumpul-kumpul lagi
Aku: Iyalah, insyaAllah. Yaudah gue duluan ya
Riko: Lah kenapa?
Aku: Ada kerjaan dirumah.
Azril: Oh yaudah, eh kalau ada waktu kumpul-kumpul lagi
Aku: Iyalah, insyaAllah. Yaudah gue duluan ya
Akupun pulang kerumah. Setibanya dirumah, saat aku mengetuk pintu tak ada jawaban. Mungkin Nuri juga belum pulang. Aku mencari kunci yang biasa disimpan di dekat ventilasi dan aku menemukannya. Sekitar 30 menit aku mengerjakan tugas rumah, Nuri pulang.
Nuri: Assalamualaikum, kak
Aku: Waalaikumussalam de, sudah pulang?
Nuri: Sudah kak *sambil salim kepadaku
Aku: Kamu bawa apa itu?
Nuri: Beli bumbu masakan kak. Tadi kak Afifah nelefon aku suruh masak aja. Katanya kak Afifah ga bisa pulang cepet.
Aku: Oh gitu
Nuri: Iyah, kan aku sama kak Afifah tau, kakak ga bisa masak hahaha. Bisanya makan doang
Aku: Enak aja. Kakak juga bisa masak huuu
Nuri: Masak air hahaha
Aku: Yaudah, kamu mau masak apa? Kakak bantuin deh
Nuri: Bener nih?
Aku: Waalaikumussalam de, sudah pulang?
Nuri: Sudah kak *sambil salim kepadaku
Aku: Kamu bawa apa itu?
Nuri: Beli bumbu masakan kak. Tadi kak Afifah nelefon aku suruh masak aja. Katanya kak Afifah ga bisa pulang cepet.
Aku: Oh gitu
Nuri: Iyah, kan aku sama kak Afifah tau, kakak ga bisa masak hahaha. Bisanya makan doang
Aku: Enak aja. Kakak juga bisa masak huuu
Nuri: Masak air hahaha
Aku: Yaudah, kamu mau masak apa? Kakak bantuin deh
Nuri: Bener nih?
Akupun ke dapur untuk memasak bersama Nuri. Saat memasak, aku dan Nuri tak henti-hentinya bercanda. Yah beginilah aku dengan Nuri jika bersama. Kadang kami suka bercanda-canda seperti layaknya dua anak kecil yang suka bermain-main. Kenapa bisa begitu? Sebenarnya alasannya ga begitu penting sih. Dulu emang aku pengen punya adik perempuan. Ga penting kan? Lupakan. Beberapa saat aku dan Nuri selesai membuat nasi goreng, kami bersiap untuk menyantapnya. Tak lama setelah itu kak Afifah pulang, disertai ucapan salam khasnya
Nuri: Eh kakak, pulang
Afifah: Iyah, maaf yah jadi kerjaan rumah kalian deh yang ngerjain
Aku: Ah kakak ini, kita kan keluarga. Ya tugas kita sama-sama.
Afifah: Duuh adik-adikku iniii . . . *sambil mengusap kepalaku dengan
Nuri: Ayo kak, makan bareng. Tadi aku sama kak Ardi masak banyak nih
Afifah: Iyah, maaf yah jadi kerjaan rumah kalian deh yang ngerjain
Aku: Ah kakak ini, kita kan keluarga. Ya tugas kita sama-sama.
Afifah: Duuh adik-adikku iniii . . . *sambil mengusap kepalaku dengan
Nuri: Ayo kak, makan bareng. Tadi aku sama kak Ardi masak banyak nih
Alhasil kami makan bertiga sambil menonton acara di televisi. Ah suasana yang sangat menyenangkan. Malam yang sama, orang tuaku belum juga pulang. Sampai mereka mengabari, bahwa mereka akan pulang besok. Hujan sedang turun disertai angin yang tidak terlalu kencang. Namun udara tetap saja terasa dingin. Nuri sedang mengerjakan PR dikamarnya, sedangkan kak Afifah masih mengerjakan skripsinya bersamaku di ruang tengah. Aku sendiri bersantai sambil menikmati teh manis.
Afifah: Gimana sama Nada dek?
Aku: Gimana apanya kak?
Afifah: Ya baik-baik aja kan?
Aku: Iya, kenapa kak?
Afifah: Engga kok
Aku: Kakak sendiri gimana? Ga ada yang deketin kakak gitu?
Afifah: Ada sih, tapi pengen beresin kuliah dulu hehe
Aku: Hehe tanggung yah kak. Bentar lagi lulus, terus nikah deh haha
Afifah: Hehe aamiin.
Aku: Gimana apanya kak?
Afifah: Ya baik-baik aja kan?
Aku: Iya, kenapa kak?
Afifah: Engga kok
Aku: Kakak sendiri gimana? Ga ada yang deketin kakak gitu?
Afifah: Ada sih, tapi pengen beresin kuliah dulu hehe
Aku: Hehe tanggung yah kak. Bentar lagi lulus, terus nikah deh haha
Afifah: Hehe aamiin.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Hujanpun tak kunjung berhenti. Kak Afifah masih berkutat dengan laptopnya, sementara aku sudah mulai merasakan kantuk. Belum lama aku memejamkan mata, aku kembali terperanjak karena tiba-tiba suara guntur bergemuruh dari langit. Aku mengecek Hpku untuk memastikan baterai terisi. Ternyata ada satu SMS masuk dari Alyssa
Alyssa: Ardi
Aku: Iya Lis? Kenapa?
Alyssa: Kamu lagi apa?
Aku: Mau tidur, Lis
Alyssa: Besok kerumah aku yah
Aku: Iyah. Emang kamu ga kuliah?
Alyssa: Engga, ga ada jadwal
Aku: Oh, yaudah, nanti aku kerumah kamu ya
Alyssa: Yeay, aku tunggu ya sayang. I love you. Yaudah kamu tidur gih
Aku: Iya Lis. Love you too *geli gimana gitu
Aku: Iya Lis? Kenapa?
Alyssa: Kamu lagi apa?
Aku: Mau tidur, Lis
Alyssa: Besok kerumah aku yah
Aku: Iyah. Emang kamu ga kuliah?
Alyssa: Engga, ga ada jadwal
Aku: Oh, yaudah, nanti aku kerumah kamu ya
Alyssa: Yeay, aku tunggu ya sayang. I love you. Yaudah kamu tidur gih
Aku: Iya Lis. Love you too *geli gimana gitu
Akupun tertidur. Entah jam berapa, aku dibangunkan oleh kak Afifah untuk pindah ke kamar.
Spoiler for Coming Soon:
nasihiber memberi reputasi
2
