- Beranda
- Stories from the Heart
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
...
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....
Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#18
Chapter 5
“ penasaran...?”
“ iya teh...gw penasaran akan penyebab dari meninggalnya kakaknya papah di kandang angsa itu, sebenarnya sih pada awalnya gw enggak terlalu perduli dengan peristiwa meninggalnya kakaknya papah di kandang angsa itu...tapi begitu waktu itu gw melihat adanya keberadaan bayangan hitam di photo tua yang gw lihat saat itu...gw jadi berpikir dan menduga kalau bayangan hitam itu adalah bentuk penampakan dari kakaknya papah yang telah meninggal itu, karena bukanlah hal yang tidak mungkin kalau kakaknya papah itu akan menjadi sebuah sosok ghaib yang penasaran akibat dari proses meninggalnya yang tidak wajar....” jawab gw yang berbalas dengan keterdiaman nenden, terlihat nenden menghela nafas panjangnya diantara tatapan matanya yang menerawang ke arah halaman rumah
“ selain itu...apa lu enggak curiga teh, dengan keputusan kakek yang memutuskan untuk pindah setelah kejadian meninggalnya kakaknya papah itu....?”
“ gw enggak curiga...dan enggak akan mau curiga dar....” jawab nenden dengan kalimatnya yang tegas
“ loh kok sikap lu begitu teh....?”
“ sikap gw begitu...?, memangnya apa ada untungnya buat lu dengan mencurigai kematian kakaknya papah itu, sama sekali enggak ada untungnya dar...yang ada lu hanya akan semakin merasa bahwa rumah kita ini penuh dengan misteri....” untuk sejenak terlihat nenden menghentikan perkataannya, ekspresi wajahnya yang terlihat kesal seperti berusaha menunjukan kalau nenden sangatlah tidak menyukai akan perkataan gw yang mengatakan bahwa peristiwa kematian kakaknya papah adalah suatu peristiwa yang mungkin disebabkan oleh sesuatu
“ lantas kalau memang lu curiga dengan peristiwa kematian kakaknya papah itu...siapa yang hendak lu curigai...? lu mau mencurigai papah...kakek atau ne....”
“ bukan...bukan begitu maksud gw teh.....gw sama sekali enggak mencurigai mereka, gw hanya....”
“ udahlah dar....lebih baik kita berpikir lurus lurus aja, enggak ada yang harus dicurigai dari peristiwa kematian kakaknya papah itu...semua yang terjadi itu sudah merupakan kehendak tuhan, lebih baik sekarang ini kita lebih fokus dalam memperhatikan nenek dan juga memperhatikan imse, karena menurut gw saat ini imse sedang dalam kondisi mental yang kurang bagus.....”
“ iya teh...gw akan mencoba untuk enggak memikirkan hal itu lagi...ohh iya teh mengenai imse yang tadi seperti melihat sesuatu, menur....”
“ tuh kan lu mulai lagi.....” tegur nenden memotong perkataan gw
“ iya teh...maaf...maaf...”
“ ya udah...lebih baik sekarang kita membantu mamah dan papah dulu, karena sepertinya hari mulai beranjak gelap...” usul nenden dan berbalas dengan persetujuan gw
Suara dentang bandul jam yang memecah kesunyian, nampak mengiringi dari pergerakan jarum jam yang telah menunjukan pukul tujuh malam, keberadaan gw, nenden, angga dan imas yang kini tengah berada di dalam kamar, perlahan mulai terusik dengan terdengarnya suara mamah yang memberitahukan bahwa makan malam telah tersedia, dan kini begitu mendapati pemberitahuan tersebut, kami pun segera bergegas menuju ke lantai bawah guna melaksanakan makan malam
“ pasti kalian udah pada lelah ya....?” tanya mamah diantara pergerakan bi idah yang telah selesai menyajikan sajian makan malam diatas meja
“ enggak kok mah...tadi kami sedang berbincang bincang aja di kamar...” jawab nenden seraya menyendok nasi dan meletakannya ke dalam piring makan
“ bi idah.....mang kohar jangan lupa untuk disuruh makan malam juga yaa...”
“ udah kok bu...tadi saya sudah mengantarkannya ke kamar mang kohar...” selepas perkataanya tersebut, bi idah pun terlihat berjalan menuju ke dapur
“ mang kohar itu berani juga ya pah..tidur di kamar gudang itu sendirian...” ujar angga sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya
“ beranilah ga...memangnya apa yang harus ditakutkan...papah juga waktu muda dulu suka kok tidur di kamar gudang itu....ohh iya...bagaimana menurut kalian dengan rumah ini...?”
“ bagus kok pah...semua ini diluar perkiraan nenden yang membayangkan rumah tua dan enggak terawat....” jawab nenden yang berbalas dengan senyuman papah dan mamah
“ kamu tuh nden...makanya jangan suka mengambil kesimpulan dulu sebelum melihat....” seloroh ibu dengan pandangan menatap imas
“ imas...kamu kenapa...? kok mamah perhatikan dari tadi kamu diam aja...?”
“ badan imas agak kurang enak mah...rasanya dingin....” begitu mendapati perkataan imas tersebut, terlihat mamah bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri imas
“ badan kamu enggak panas kok, sepertinya kamu hanya kelelahan aja....ya udah malam ini kamu tidur sama mamah dan papah aja....” ujar mamah diantara pergerakan tangannya yang memegang kening imas, mendapati perkataan mamah tersebut, gw dan nenden pun hanya saling bertukar pandang dalam benak tanya atas apa yang telah terjadi pada diri imas
“ ada satu hal yang ingin papah beritahu kepada kalian....terutama kepada kamu dan nenden....” seiring dengan perkataannya tersebut, pandangan papah terlihat mengarah ke arah wajah gw
“ papah mau memberitahu apa...sepertinya serius banget sih...” ucap gw dan berbalas dengan keterdiaman papah, keberadaan papah yang kini telah menyelesaikan makan malamnya, nampak menyisakan sebuah cangklong rokok diantara kedua belah bibirnya
“ ini hanya bersifat sementara....berhubung kalian sedang berada disini selama satu bulan, papah berharap kita bisa membagi tugas dalam menjaga nenek kalian...itu pun kalau kalian memang bersedia untuk menjaga nenek.....”
“ ya udah pasti bersedia lah pah...” ujar nenden diantara kepulan asap rokok yang terlihat keluar dari mulut papah
“ memang rencana papah itu seperti apa...? tanya gw yang berbalas dengan penjelasan papah akan pembagian tugas dalam menjaga nenek, dan inti dari penjelasan papah tersebut adalah papah menugaskan mamah, nenden dan bi idah untuk menjaga nenek secara bergantian sedari pagi hingga makan malam, sedangkan dari waktu makan malam hingga tengah malam tugas tersebut jatuh kepada papah...dan sepertinya papah sangat mengetahui akan kebiasaan gw yang agak sulit untuk tidur di saat malam hari, hal ini lah yang menjadi dasar bagi papah untuk menugaskan gw menjaga nenek di rentang waktu tengah malam hingga azan subuh terdengar
“ waduh pah....bagaimana kalau terjadi hal hal yang sifatnya darurat, seperti nenek ingin buang air besar atau pun ingin buang air kecil....” ucap gw diantara bayangan akan kejadian tersebut terjadi disaat gw bertugas menjaga nenek
“ seharusnya kamu bisa mengatasinya sendiri dar...itukan nenek kamu, tapi kalau kamu memang merasa jijik dengan semua itu, kamu bisa membangunkan bi idah, mamah atau pun papah....” kini begitu mendengar perkataan papah tersebut, gw pun dapat sedikit bernafas lega, karena sejujurnya mungkin gw tidak akan sanggup untuk mengerjakan hal hal yang seperti itu
Selepas berakhirnya makan malam, gw memutuskan untuk melihat keberadaan dari kamar mang kohar yang berada di halaman belakang, yaa sebuah kamar multifungsi...yang mana kamar tersebut dapat juga dipergunakan untuk menyimpan barang barang yang sudah tidak di perlukan lagi, sesampainya gw kini di kamar mang kohar, nampak terlihat pintu kamar yang masih terbuka, sepertinya mang kohar belum memutuskan untuk beristirahat malam ini
“ sedang apa mang.....” tanya gw secara tiba tiba dan berbalas dengan keterkejutan mang kohar, kini begitu mendapati keberadaan gw yang tengah berdiri di depan pintu kamar, mang kohar pun meminta gw untuk masuk ke dalam kamarnya
“ biasalah kang....kalau udah berumur ya seperti ini, jadi enggak kuat sama yang namanya dingin....” jawab mang kohar dengan mengembangkan senyumnya, dan kini seiring dengan pergerakan tangan mang kohar yang membalurkan minyak hangat di bagian kakinya, gw bisa mencium aroma dari wangi minyak hangat tersebut
“ mang....” ujar gw dengan rasa ragu seraya mengambil posisi duduk di sisi mang kohar yang tengah terduduk di lantai
“ ada apa kang....?”
“ apa mamang percaya kalau orang yang meninggal dalam keadaan enggak wajar....maka orang yang meninggal tersebut akan menjadi hantu penasaran....? tanya gw dan berbalas dengan ekspresi kebingungan di wajah mang kohar
“ loh kok tumben kang darma bertanya seperti itu...memangnya ada apa kang....?” selepas dari perkataan yang terucap dari mulut mang kohar, gw bisa merasakan adanya aroma kecurigaan dari mang kohar atas pertanyaan gw yang terkesan janggal itu
“ enggak ada apa apa kok mang...kebetulan tadi itu saya baru aja menonton film horor yang mengisahkan kejadian seperti itu....”
“ jujur aja...kalau mamang sih percaya kang, karena dulu pernah juga ada kejadian seperti itu di kampung mamang, ceritanya...dulu itu pernah terjadi sebuah peristiwa perampokan terhadap sebuah keluarga di kampung mamang...dan akibat peristiwa perampokan itu, seluruh anggota keluarga menjadi korban pembunuhan dari perampok sadis itu, hingga akhirnyas selepas dari kejadian pembunuhan itu...di rumah yang menjadi tempat dari lokasi pembunuhan, sering sekali terjadi kejadian kejadian yang tidak masuk akal...mulai dari terdengarnya suara jeritan dan tangisan, hingga penampakan sosok sosok yang dibunuh itu dalam tampilan sosok yang menyeramkan, intinya sosok tersebut seperti berusaha menunjukan akan keadaan dirinya sewaktu mengalami peristiwa pembunuhan itu....” terang mang kohar dan berbalas dengan keterdiaman gw
“ kang darma kenapa, kok jadi diam begitu...”
“ jadi dengan kata lain...sebenarnya sosok yang dibunuh itu hendak menunjukan apa yang pernah dialaminya, atau bisa juga berusaha memberitahukan akan sosok pelaku yang telah melakukan pembunuhan itu...”
“ bisa jadi seperti itu sih kang....tapi kalau menurut orang pintar yang bisa menerawang hal yang berbau ghaib seperti itu, sosok penampakan itu bisa saja merupakan sebuah energi negatif yang berusaha menyebarkan teror bagi manusia...mereka berusaha menanamkan keyakinan kepada kita akan kekuatan mereka, dan hal tersebut dilakukan dengan cara menyerang ruang ruang kosong di dalam pikiran kita hingga menimbulkan perasaan takut, khawatir dan bahkan yang lebih ekstrim lagi...kita akan bersekutu dengan kekuatan ghaib itu...”
“ energi negatif...kalau kita berbicara tentang energi negatif...saya yakin, semua penampakan yang terjadi akibat dari peristiwa masa lalu pasti akan menyimpan energi negatif..entah itu dendam ataupun rasa marah, intinya mereka yang telah meninggal itu merasa enggak terima dengan proses kematian yang mereka alami...” ujar gw seraya membayangkan peristiwa kelam yang telah dialami oleh kakaknya papah, dan saat ini gw berpikir, mungkin saja kakaknya papah itu tidak menerima akan proses kematian yang dialaminya
“ kang...apa kang darma tidak merasakan adanya keanehan pada rumah ini...?” sebuah pertanyaan yang terlontar secara tiba tiba dari mulut mang kohar, kini dengan serta merta menimbulkan rasa keterkejutan gw atas pertanyaan yang terkesan bahwa mang kohar mengetahui akan apa yang ada didalam pikiran gw saat ini
“ keanehan...keanehan seperti apa mang...?”
“ tadi itu kang...selepas mamang melakukan kegiatan bersih bersih di halaman depan, mamang berniat untuk kembali ke kamar guna melaksanakan sholat magrib, tapi sewaktu mamang berjalan melintasi kandang angsa...mamang seperti melihat adanya bayangan hitam yang terlihat berdiri enggak jauh dari lokasi kandang angsa....untuk sesaat mamang merasa enggak percaya dengan apa yang telah mamang lihat...hingga akhirnya mamang memutuskan untuk menghampiri bayangan hitam tersebut, dan disaat mamang telah menghampiri bayangan hitam tersebut, bayangan hitam itu seperti memudar dan terlihat menelusup ke dalam tanah....sumpah kang...saat itu mamang benar benar merasa takut...tapi baru saja mamang berpikir untuk meninggalkan tempat itu...mamang merasakan kaki mamang ini terasa sulit untuk digerakan...bisa dikatakan seperti ada sesuatu yang menahan pergerakan kaki mamang....dan itu entah apa....” nampak kini mang kohar menghentikan perkataannya, helaan nafasnya terlihat begitu dalam
“ lantas apa yang terjadi mang....?”
“ disaat itulah kang....mamang seperti tertarik untuk mengarahkan pandangan mata ini ke arah kandang angsa...hingga akhirnya di saat pandangan mata mamang terarah pada patung angsa yang berada di kandang itu...mamang seperti melihat warna putih pada patung angsa itu telah berubah menjadi warna merah pekat... dan bisa mamang katakan kalau warna merah pekat yang terdapat pada patung angsa itu adalah cairan darah...karena mamang bisa melihat kalau cairan itu terlihat menetes jatuh ke rerumputan, saat melihat semuanya itu, mamang benar benar merasa ingin pingsan...untung aja disaat itu mamang mendengar adanya suara panggilan papahnya kang darma...kalau enggak...wahh mamang enggak bisa ngebayangin atas apa yang akan terjadi selanjutnya....”
“ astaga mang....apakah mamang menceritakan semua yang mamang alami itu kepada papah...?”
“ enggak kang...mamang enggak meneceritakannya, karena mamang khawatir...cerita mamang itu akan merusak suasana nyaman yang ada di keluarga ini....” jawab mang kohar dan berbalas dengan rasa lega di hati gw
“ alhamdulillah mang kalau mamang memang enggak menceritakannya kepada papah, karena sejujurnya saya enggak begitu mempercayai atas apa yang telah mamang lihat itu, bisa jadi apa yang telah mamang lihat itu adalah efek dari rasa lelah karena aktifitas kesibukan yang telah mamang lakukan hari ini... mungkin ada baiknya kalau sekarang ini mamang istirahat aja, dan saya yakin disaat besok di saat mamang sudah merasa segar kembali, mamang pasti enggak akan mengalami kejadian seperti itu lagi.....” ucap gw mencoba menenangkan mang kohar, walaupun di dalam hati kecil gw kini muncul sebuah pertanyaan atas apa yang telah dilihat oleh imas dan mang kohar di kandang angsa, dan kini berdasarkan atas apa yang telah di lihat oleh imas dan mang kohar di kandang angsa, kecurigaan gw atas sesuatu yang tidak beres di rumah ini kini semakin bertambah besar
“ amin kang...semoga apa yang kang darma katakan itu benar...”
“ya udah mang...kalau begitu saya ke dalam dulu, kebetulan malam ini saya mendapat tugas untuk menjaga nenek....” seiring dengan anggukan kepala mang kohar, gw pun segera berjalan pergi meninggalkan kamar mang kohar
Jam 11.30...yaa itulah waktu yang kini terlihat di sebuah jam yang menempel di dinding kamar, keadaan dari jendela kamar yang masih gw biarkan untuk terbuka, kini mengantarkan udara dingin yang berhembus memasuki ruangan kamar, nampak terlihat angga yang tengah tertidur dengan lelapnya kini mulai terusik dengan keberadaan udara dingin di dalam kamar, hal tersebut terlihat dari pergerakan tangan angga yang menarik selimut yang tengah dikenakannya hingga menutupi keseluruhan tubuhnya, mendapati hal tersebut, gw pun segera menutup jendela kamar guna mengurangi keberadaan udara dingin di dalam kamar
“ apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah ini....?” tanya gw dalam hati diantara berbagai macam praduga yang menghinggapi pikiran gw ini, dan kini belum sempat gw mendapatkan jawaban atas pertanyaan gw itu, terdengar suara ketukan pada pintu kamar yang diiringi dengan kehadiran papah diantara pergerakan daun pintu kamar yang telah terbuka
“ ada apa pah....?”
“ papah hanya mengingatkan kamu agar jangan lupa untuk menjaga nenek....” jawab papah tanpa bergeming dari tempatnya berdiri
“ iya pah....darma ingat kok....”
“ ya udah kalau begitu....nanti kamu langsung ke bawah aja, kebetulan papah sudah mulai agak mengantuk....” ujar papah lalu menutup pintu kamar, dan kini seiring dengan langkah kaki papah yang mulai terdengar menjauh, gw pun segera bangkit dari tempat duduk guna mengambil baju hangat yang tersimpan di dalam lemari pakaian
“ mudah mudahan tidur nenek malam ini nyenyak....” gumam gw begitu kini gw telah selesai mengenakan baju hangat, dan tanpa berlama lama lagi, gw segera melangkahkan kaki ini menuju ke lantai bawah atau lebih tepatnya menuju ke kamar nenek
“ nek...darma datang, biar malam ini darma yang menjaga nenek....” ucap gw begitu memasuki kamar nenek, kini nampak terlihat keberadaan nenek yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan kedua kelopak matanya yang terpejam, sehelai daster hitam panjang yang dikenakan nenek nampak membungkus tubuh nenek yang sudah keriput dan terlihat kurus
“ maafkan darma ya nek...karena darma baru bisa menemani nenek disaat kondisi nenek sudah seperti ini....” ucap gw pelan seraya membelai bagian atas dari rambut nenek yang terlihat tergerai, dan kini diantara belaian yang gw lakukan itu, bisa gw rasakan rambut nenek yang berwarna putih itu sudah terasa begitu menipis, hal ini seperti mempertegas akan usia nenek yang sudah teramat tua
Lama kini gw kembali terdiam dalam titian waktu yang terus berlalu, bunyi kentongan bambu yang dibunyikan oleh beberapa warga kampung yang sepertinya tengah bertugas untuk berjaga malam, kini seperti memberikan gw sebuah isyarat akan malam yang telah beranjak semakin larut, keberadaan gw yang sedari tadi hanya terdiam dalam sebuah lamunan panjang, kini mulai terusik oleh rasa bosan, merasakan hal tersebut gw pun memutuskan untuk beranjak dari kursi dan menatap keberadaan nenek yang terlihat sedang terbuai dalam tidur lelapnya
meizhaa dan 11 lainnya memberi reputasi
12