- Beranda
- Stories from the Heart
I SEE WHAT U SEE
...
TS
cimutcemot
I SEE WHAT U SEE

Quote:
Gimana rasanya jika kalian bisa merasakan hal hal atau kejadian yang di luar logika manusia?
Hai sudah lama tidak menulis, yaps kalian benar gue masih uly yang sama. mungkin masih ingat dengan thread gue yang sebelumnya 😉 Karunia atau musibah (MISTIS)
Spoiler for Indeks cerita:
Quote:
Selamat Membaca dan Jangan Kepo kebanyakan ✌
Diubah oleh cimutcemot 26-11-2019 09:34
mabuxtidakteler dan 16 lainnya memberi reputasi
13
21.6K
125
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
cimutcemot
#62
MELAWAN SIHIR (PART 6)
"Foto nduk, astagfirullah, Allahhu Akbar." kata kata ini selalu bapak ucapkan sambil menutup mulutnya dengan rasa tidak percaya melihat benda tersebut. sekalipun suara yang di keluarkan bapak tidak terlalu keras.
bapak masih kehilangan suaranya, tapi masih bisa bicara namun volume nya kecil. emak selalu marah jika bapak berbicara karena terdengar sakit bagi orang yang mendengarnya.
bapak menangis dan emak hanya mengelus punggung bapak sambil bilang sabar ke bapak agar bapak lebih tenang.
Benda itu memang sudah kulihat tapi yang menemukan adalah emak. aku sendiri tidak termotivasi mencarinya.
banyak alasan atas semua perasaan ganjilku.
bapak masih terus menangis dan berkata "foto nduk foto, videokan".
"iyah buka nduk" si mbah juga menyuruhku.
ku buka secara perlahan, agak sulit karena di balut benang. benda ini, cukup kecil seperti puntung rokok namun putih semua.
setelah terbuka, lagi dan lagi bapak menangis melihat benda tersebut.
Benda ini berupa kain putih yang isinya pecahan kaca, mur, dll yang di ikat dengan benang.
"foto nduk". lagi lagi dia bersuara dan emak memarahinya.
"sudah banyak pak, mbak uly video in juga. neh lihat". ujar ku sambil menunjukkan hp ku kepada bapak.
mbah pras terlihat kelelahan dan duduk dengan napas yang masih tidak beraturan.
"mbah, ini siapa. astaghfirullah, ya Allah". lagi, bapak mengeluarkan suara.
bapak emang tipe orang yang tidak sabaran, segala sesuatu harus cepat. dan emak adalah tipe yang penyabar pake banget. mereka berdua itu bagai bumi dan langit tapi jodoh. 😅 skip.
mbah yang terlihat masih lelah, mungkin karena bertarung dengan makhluk tak kasat mata dan kasat mata.
kasat mata?
yes.
siapa mereka???
"mbah, silahkan di minum kopi nya".
ia pun mengambil gelas yang berisi kopi hitam dan meminumnya. setelah itu, kulihat ia merasa lebih rilex. si mbah memulai cerita nya kembali.
"ini orang memang sering perang (ilmu dari jarak jauh) sama saya."
"siapa mbah orangnya". bapak yang selalu memaksakan untuk bersuara.
"dia itu sudah lama seperti ini, banyak orang yang saya bantu karena ulah dia".
"daerah sini kan mbah orangnya?". ujarku, sambil melihat ia berbicara.
"yah disana". masih tidak menjawab pasti letaknya.
"ada dukun emang mbah kata orang disana (nama tempat)". ujar emak yang mulai kebawa percaya omongan orang.
"kalau percaya tuhan, usaha, doa, insyaallah bisa. aku juga bantu".
"terus ini gimana mbah?"
"mau di balikkin atau di buang saja".
"balikin mbah, balikin. astagfirullahalazim, ya allah. buk... " lagi lagi bapak menangis.
"Siapa orang nya mbah?". bapak masih penasaran, walau sudah di omelin mamak gak usah ngomong tetep aja masih ngotot.
kalau kalian diposisi bapak, mungkin juga sama.
namun, mbah tidak pernah berbicara pasti siapa orangnya.
"aku balikin, maksimal satu minggu lihat di sekitar saja kalau ada yang berubah, sakit, dll berarti itu orang yang buat seperti ini". (bukan dukunnya, tapi orang yang sudah mengirim neh barang?)
"untuk dia (dukun itu) biar aku tangani, memang agak sulit karena selalu perang, kita usaha selalu dan jangan lupa berdoa".
Banyak syarat yang harus kami lakukan atas perintah mbah.
telur ayam kampung yang di letak di sudut sudut rumah. sebenarnya aku tak suka, sempat ku protes ke mamak namun apa daya mamak tetap melakukannya. sampai saat ini gantungan telur masih satu yang terlihat. mungkin sudah benar benar membusuk dan berulat. entah sudah berapa bulan kami meletakkannya.
telur tersebut, seperti pagar atau benteng yang di buat.
syarat yang lain, membuang benda putih yang sudah dibungkus kembali dan di baca baca oleh si mbah ke sungai pada malam hari dan tidak boleh ketahuan orang. membuangnya juga harus di bacakan beberapa ayat. dan yang melakukannya adalah emak, ia membuang benda tersebut pada malam hari sesuai perkataan si mbah.
lalu, beras kuning yang tidak lupa di sebarkan disetiap ruangan.
kami sekeluarga juga disuruh minum sesuatu dari mbah. berupa ramuan yang salah satunya adalah jahe. harus satu keluarga, ini penting kata si mbah.
sehariiii, dua hariii, tiga hariii bapak sepertinya lebih baik kondisinya. dan ia pun mulai memasang kembali foto foto itu. sekalipun aku larang dengan alasan sama, ia tetap memasangnya.
ia merasa lebih baik, dan lupa kalau ini akan lebih menyakitkan di banding sebelumnya.
foto terpajang kembali di ruang tamu, dan bapak mulai aneh kembali.
bapak semakin lemah, hingga untuk makanpun tidak bisa.
ini masih suasana lebaran, namun rumah kami yang biasanya terbuka lebar untuk tamu terpaksa tutup.
Bapak dengan suara yang melemah, meminta kami untuk membawanya ke puskesmas. dia cuman mau di infus.
"Sabar yah mak, kita".
mamak hanya menangis diam sambil menghela nafas dan memandang tak tega ke bapak yang terkulai lemas.
bapak masih kehilangan suaranya, tapi masih bisa bicara namun volume nya kecil. emak selalu marah jika bapak berbicara karena terdengar sakit bagi orang yang mendengarnya.
bapak menangis dan emak hanya mengelus punggung bapak sambil bilang sabar ke bapak agar bapak lebih tenang.
Benda itu memang sudah kulihat tapi yang menemukan adalah emak. aku sendiri tidak termotivasi mencarinya.
banyak alasan atas semua perasaan ganjilku.
bapak masih terus menangis dan berkata "foto nduk foto, videokan".
Quote:
"iyah buka nduk" si mbah juga menyuruhku.
ku buka secara perlahan, agak sulit karena di balut benang. benda ini, cukup kecil seperti puntung rokok namun putih semua.
setelah terbuka, lagi dan lagi bapak menangis melihat benda tersebut.
Benda ini berupa kain putih yang isinya pecahan kaca, mur, dll yang di ikat dengan benang.
"foto nduk". lagi lagi dia bersuara dan emak memarahinya.
"sudah banyak pak, mbak uly video in juga. neh lihat". ujar ku sambil menunjukkan hp ku kepada bapak.
mbah pras terlihat kelelahan dan duduk dengan napas yang masih tidak beraturan.
"mbah, ini siapa. astaghfirullah, ya Allah". lagi, bapak mengeluarkan suara.
bapak emang tipe orang yang tidak sabaran, segala sesuatu harus cepat. dan emak adalah tipe yang penyabar pake banget. mereka berdua itu bagai bumi dan langit tapi jodoh. 😅 skip.
mbah yang terlihat masih lelah, mungkin karena bertarung dengan makhluk tak kasat mata dan kasat mata.
kasat mata?
yes.
siapa mereka???
Quote:
"mbah, silahkan di minum kopi nya".
ia pun mengambil gelas yang berisi kopi hitam dan meminumnya. setelah itu, kulihat ia merasa lebih rilex. si mbah memulai cerita nya kembali.
"ini orang memang sering perang (ilmu dari jarak jauh) sama saya."
"siapa mbah orangnya". bapak yang selalu memaksakan untuk bersuara.
"dia itu sudah lama seperti ini, banyak orang yang saya bantu karena ulah dia".
"daerah sini kan mbah orangnya?". ujarku, sambil melihat ia berbicara.
"yah disana". masih tidak menjawab pasti letaknya.
"ada dukun emang mbah kata orang disana (nama tempat)". ujar emak yang mulai kebawa percaya omongan orang.
"kalau percaya tuhan, usaha, doa, insyaallah bisa. aku juga bantu".
"terus ini gimana mbah?"
"mau di balikkin atau di buang saja".
"balikin mbah, balikin. astagfirullahalazim, ya allah. buk... " lagi lagi bapak menangis.
"Siapa orang nya mbah?". bapak masih penasaran, walau sudah di omelin mamak gak usah ngomong tetep aja masih ngotot.
kalau kalian diposisi bapak, mungkin juga sama.
namun, mbah tidak pernah berbicara pasti siapa orangnya.
"aku balikin, maksimal satu minggu lihat di sekitar saja kalau ada yang berubah, sakit, dll berarti itu orang yang buat seperti ini". (bukan dukunnya, tapi orang yang sudah mengirim neh barang?)
"untuk dia (dukun itu) biar aku tangani, memang agak sulit karena selalu perang, kita usaha selalu dan jangan lupa berdoa".
Banyak syarat yang harus kami lakukan atas perintah mbah.
telur ayam kampung yang di letak di sudut sudut rumah. sebenarnya aku tak suka, sempat ku protes ke mamak namun apa daya mamak tetap melakukannya. sampai saat ini gantungan telur masih satu yang terlihat. mungkin sudah benar benar membusuk dan berulat. entah sudah berapa bulan kami meletakkannya.
telur tersebut, seperti pagar atau benteng yang di buat.
syarat yang lain, membuang benda putih yang sudah dibungkus kembali dan di baca baca oleh si mbah ke sungai pada malam hari dan tidak boleh ketahuan orang. membuangnya juga harus di bacakan beberapa ayat. dan yang melakukannya adalah emak, ia membuang benda tersebut pada malam hari sesuai perkataan si mbah.
lalu, beras kuning yang tidak lupa di sebarkan disetiap ruangan.
kami sekeluarga juga disuruh minum sesuatu dari mbah. berupa ramuan yang salah satunya adalah jahe. harus satu keluarga, ini penting kata si mbah.
sehariiii, dua hariii, tiga hariii bapak sepertinya lebih baik kondisinya. dan ia pun mulai memasang kembali foto foto itu. sekalipun aku larang dengan alasan sama, ia tetap memasangnya.
ia merasa lebih baik, dan lupa kalau ini akan lebih menyakitkan di banding sebelumnya.
foto terpajang kembali di ruang tamu, dan bapak mulai aneh kembali.
bapak semakin lemah, hingga untuk makanpun tidak bisa.
ini masih suasana lebaran, namun rumah kami yang biasanya terbuka lebar untuk tamu terpaksa tutup.
Bapak dengan suara yang melemah, meminta kami untuk membawanya ke puskesmas. dia cuman mau di infus.
"Sabar yah mak, kita".
mamak hanya menangis diam sambil menghela nafas dan memandang tak tega ke bapak yang terkulai lemas.
Quote:
Diubah oleh cimutcemot 06-02-2019 23:08
ayambucin dan 3 lainnya memberi reputasi
4