Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )



Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....


Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17

Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
amron7497170Avatar border
aryanti.storyAvatar border
nightstory770Avatar border
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#12
Chapter 4







“ enggak beberapa jauh lagi nden...nanti juga kamu akan tau sendiri....” jawab papah diantara pandangan matanya yang mengamati keadaan sekitar, hingga akhirnya setelah beberapa saat setelah perkataan papah tersebut, mobil yang tengah kami naiki ini pun nampak mulai menuju ke sebuah pertigaan jalan, dan tepat di pertigaan jalan tersebut, gw melihat adanya sebuah bangunan rumah tua besar bergaya eropa yang berdiri dengan megahnya
“ apakah itu rumah kita pah....?” tanya nenden kembali dengan tatapan memandang ke arah bangunan rumah
“ iya nden....kenapa....?”
“ benar benar terlihat kelasik banget pah...sangat enggak berbeda jauh dengan apa yang ada di photo, perbedaannya hanya warna cat dindingnya aja yang sepertinya rumah ini telah papah cat ulang....” seiring dengan berakhirnya perkataan nenden tersebut, mobil pun kini terhenti di depan pintu gerbang, dan kini tanpa menunggu perintah dari siapapun, terlihat mang kohar keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke arah pintu gerbang, nampak sesekali terlihat mang kohar mencoba menghindari genangan air dari beberapa kubangan kecil yang terdapat di tanah, untuk sekedar gambaran keberadaan jalan kampung yang menjadi akses bagi aktifitas warga sehari hari adalah sebuah jalan yang beraspalkan tanah dan mempunyai lebar yang cukup bagi dua mobil untuk berjalan secara beriringan
“ ada apa mang....?” teriak bapak begitu melihat mang kohar yang agak kesulitan untuk membuka pintu pagar, dan tidak berselang lama setelah bapak meneriakan pertanyaannya itu, nampak mang kohar telah berhasil membuka pintu pagar, lalu kembali berjalan menuju ke arah mobil
“ sepertinya rel pintu gerbang itu sudah agak berkarat pak, jadi agak susah untuk dibukanya...biar besok saya akan memeriksanya.....” ucap mang kohar begitu menaiki mobil, dan kini dengan sangat perlahan, mang kohar pun mulai membawa mobil memasuki halaman rumah
Luas dan rindang....itulah sebuah kesan yang pertama kali gw rasakan begitu mobil kini mulai memasuki halaman rumah, keberadaan dari rumput hijau serta beberapa pohon kecil dan besar yang menghiasi halaman rumah, seperti memperlihatkan keberadaan dari rumah tua yang tertata rapih dan terawat, nampaknya bapak memang telah benar benar mempersiapkan rumah ini sedemikian rupa, sehingga kami tidak menjumpai adanya kesan rumah tua yang kuno dan kotor
“ alhamdulillah...akhirnya kita sampai juga....” ucap papah begitu keluar dari dalam mobil, dan kini baru saja beberapa saat papah mengucapkan perkataannya itu, nampak terlihat keberadaan bi idah yang telah membuka pintu rumah dan berjalan ke arah kami
“ aduhh maaf bu....pak...tadi saya harus merapihkan mamih dulu karena setelah makan tadi, pakaian mamih kotor karena makanan....”
“ iya enggak kenapa napa bi....saya mengerti kok...” ujar mamah dengan senyumannya yang ramah, begitu mendapati respon mamah tersebut, bi idah pun nampak segera membantu mang kohar guna mengeluarkan barang barang dari dalam mobil, lalu membawanya memasuki rumah
Lama kami terdiam dalam keterpukauan atas pemandangan yang tersaji di halaman rumah, rasa sejuk yang gw rasakan diantara hembusan angin yang menggoyang dedaunan, kini seperti membuai gw untuk berlama lama dalam memanjakan diri di halaman rumah, hingga akhirnya seiring dengan terdengarnya suara papah yang meminta agar kami memasuki rumah, gw pun segera tersadar, dan memutuskan diri untuk mengikuti permintaan papah tersebut
“ ayo masuk....memangnya kalian ini enggak kangen nenek kalian apa....”
“ kangenlah pah.....” ujar gw dan nenden hampir bersamaan, mendapati bahwa kini papah telah berjalan memasuki rumah, terlihat mamah dan angga mengikuti langkah papah yang telah terlebih dahulu memasuki rumah
“ imse.....” gumam gw begitu hendak mengikuti langkah kaki nenden yang sudah melangkah menuju ke arah pintu rumah, dan kini begitu mendengar gumaman gw tersebut, nenden terlihat menghentikan langkahnya, pandangan matanya kini terlihat menatap ke arah imas yang tengah berdiri terpaku dengan pandangan menatap ke sebuah sudut halaman rumah
“ dar....imse kenapa....?”
“ gw enggak tau teh.....” seiring dengan jawaban yang terlontar dari mulut gw tersebut, gw segera berjalan menghampiri imas guna mengetahui akan apa yang kini tengah menjadi obyek dari pengelihatan imas
“ kamu sedang lihat apa ims....?” tanya gw diantara ketidakperdulian imas atas kehadiran gw yang telah berdiri di sisinya, mendapati bahwa kini imas sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan gw itu, gw segera mengarahkan pandangan ke arah sudut halaman yang menjadi pusat dari keterpakuan imas saat ini
“ kandang angsa....” gumam gw dengan rasa tidak percaya begitu pandangan gw kini melihat keberadaan dari sebuah kandang kecil yang dikelilingi oleh pagar bambu kuning berada di sudut halaman
“ ada apa dar....!” tegur nenden diantara keterpakuan gw yang tengah menatap ke arah kandang angsa
“ apakah itu kandang angsa yang pernah teteh ceritakan waktu itu....?”
Mendapati pertanyaan gw tersebut, kini nenden hanya bisa terdiam, dengan tatapan mata yang ikut memandang ke arah kandang angsa
“ entahlah dar....gw kurang begitu yakin...tapi kalau melihat dari bentuknya, sepertinya memang kandang itu yang dulu pernah gw ceritakan sama lu....” ujar nenden dengan kalimat yang terasa ragu, dan entah mengapa seiring dengan kalimat yang terucap dari mulut nenden tersebut, gw bisa merasakan adanya perubahan suhu di halaman rumah ini
“ kok jadi dingin begini ya teh....” ucap gw yang berbalas dengan ekspresi ketidaknyaman nenden atas situasi yang kini tengah dialaminya
“ angsanya lucu lucu ya bang...tapi...tapi imas kasihan dengan anak perempuan itu...anak itu.....”
“ imse.....” bentak nenden seraya menggerakan tangannya menutup mulut imas
“ kamu enggak sedang melihat apa apa imse...itu hanya perasaan kamu aja....” ucap nenden seraya memalingkan pandangan imas dari kandang angsa
“ tapi teh.....” dengan ekspresinya wajahnya yang menampakan ketidaksetujuan atas perkataan nenden, sepertinya imas mencoba untuk membantah perkataan nenden, dan hal tersebut kini telah membuat gw berpikir untuk segera mengajak imas masuk ke dalam rumah
“ sebaiknya lu aja yang mengajak imse ke dalam teh...gw takut pengelihatan imse itu akan bertambah parah.....” pinta gw dan berbalas dengan anggukan kepala nenden
“ terus...lu mau kemana dar....?”
“ gw mau ke kandang itu sebentar teh....sumpah gw akan penasaran kalau sampai belum bisa memastikan kalau kandang itu adalah kandang angsa yang pernah lu katakan itu.....” kini begitu mendapati perkataan gw itu, dengan segera nenden pun mengajak imas untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan gw seorang diri di halaman rumah
“ semoga apa yang telah imse lihat tadi sama sekali enggak benar....” gumam gw diantara pergerakan kaki ini yang mulai berjalan menuju ke arah kandang angsa, hingga akhirnya seiring dengan keberadaan gw yang mulai mendekati area kandang angsa, gw bisa merasakan adanya suasana yang mencekam di area kandang angsa...dan sepertinya kehadiran rasa mencekam yang gw rasakan saat ini adalah efek dari keberadaan sebuah patung angsa yang berada tepat di area dalam dari kandang angsa
“ apa maksud kakek membangun patung angsa ini di area kandang angsa...?, apa mungkin patung angsa itu dibangun hanya untuk mempercantik tampilan dari kandang angsa ini....?” tanya gw dalam hati seraya memperhatikan patung angsa tersebut secara lebih seksama lagi, dan kini setelah beberapa saat gw hanya terdiam dalam memandang patung angsa tersebut, gw pun memutuskan untuk segera memasuki kandang angsa walaupun dengan perasaan yang sangat ragu
“ sepertinya memang kandang angsa ini yang dulu pernah diceritakan oleh teh nenden....” ucap gw pelan begitu menyentuh pintu pagar kandang angsa yang terbuat dari bambu kuning, bayangan gw akan kejadian kelam beberapa tahun yang lalu dan pernah terjadi di kandang ini, kini seperti memenuhi pikiran gw saat ini
“ andai memang kakaknya papah telah meninggal di tempat ini dengan cara seperti apa yang telah diceritakan oleh teh nenden....lantas apa yang menjadi penyebab hingga kakaknya papah bisa tertusuk oleh pagar bambu ini....? tanya gw dalam hati seraya mencoba untuk membuka pintu pagar
“ lagi cari apa kang darma.....”
“ siall....!!!” maki gw dalam hati begitu mendengar suara teguran yang terdengar secara tiba tiba, dan kini diantara rasa keterkejutan yang tengah gw rasakan, gw segera mengarahkan pandangan mata ini ke arah sumber teguran, nampak terlihat keberadaan mang kohar yang tengah berdiri dengan memasang ekpresi wajah bingung
“ ampun deh mang.....ngagetin aja sih....” ujar gw dengan perasaan dongkol
“ maaf...maaf kang....habisnya mamang khawatir melihat kang darma seperti orang ketakutan gitu, memangnya kang darma sedang cari apa sih....?” tanya mang kohar dan berbalas dengan kebingungan gw untuk menjawab pertanyaan mang kohar, karena sangatlah tidak mungkin bagi gw untuk berkata jujur atas peristiwa yang telah terjadi di kandang angsa ini
“ saya hanya lagi lihat lihat aja mang....kebetulan saya sangat tertarik dengan keunikan kandang angsa ini.....” jawab gw beralasan
“ iya...kandang angsa ini memang unik kang....mamang juga baru menemui kandang angsa yang sebagus ini......” ujar mang kohar diantara tatapan matanya yang menatap ke arah patung angsa
“ kalau di tempat mamang sih kang....angsa atau yang biasa disebut oleh masyarakat kita soang, adalah hewan yang banyak fungsi dan kegunaannya.....”
“ banyak fungsi dan kegunaannya....?” tanya gw karena merasa bingung dengan maksud dari perkataan mang kohar, dan seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut gw itu, gw pun segera memasuki kandang angsa guna memeriksa keadaan di area kandang angsa
“ iya kang...banyak fungsi dan kegunaannya, selain dagingnya enak untuk dimakan, menurut orang dulu suara angsa juga berfungsi sebagai alarm jika melihat adanya keberadaan maling dan mahluk ghaib, bahkan bisa dikatakan mahluk ghaib sangatlah tidak menyukai suara angsa....” seiring dengan berakhirnya perkataan mang kohar tersebut, gw pun kini hanya bisa tertawa kecil seraya mengakhiri pencarian gw atas upaya mencari tau akan sumber penyebab dari kejadian yang menimpa kakaknya papah
“ ahh mang kohar bisa aja, kalau daging angsa enak untuk dimakan dan suaranya bisa menjadi alarm jika melihat orang...yaa saya percaya..., tapi kalau soal angsa bisa melihat mahluk ghaib dan suaranya enggak disukai oleh mahluk ghaib...nahh itu saya kurang percaya mang, karena apa mungkin suara angsa itu merupakan lantunan ayat suci yang diucapkan oleh angsa....” canda gw yang berbalas dengan senyuman mang kohar
“ yaa mamang juga kurang begitu mengerti sih kang, tapi mamang percaya kalau di dunia ini banyak hal yang enggak masuk akal tapi hal yang enggak masuk akal itu sangat terbukti untuk mengatasi kejadian kejadian yang berhubungan dengan hal yang ghaib....”
“ husss...mang kohar enggak boleh berpikir seperti itu, itu namanya syirik mang....saya walaupun enggak taat dalam menjalankan perintah agama, tapi saya menghindari pemikiran yang seperti itu mang...” ucap gw dan berbalas dengan senyuman mang kohar, melihat hal tersebut, gw pun memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan mang kohar
“ kamu habis ngapain aja sih dar...bukannya melihat kondisi nenek kamu, ini malahan asyik main di halaman...” tegur mamah begitu melihat keberadaan gw di dalam rumah
“ iya...maaf mah, ohh iya...nenek dimana mah....?”
“ ada dikamar...bersama saudara saudara kamu yang lain....” jawab bapak mewakili jawaban yang belum terucap dari mulut mamah, dan kini baru saja gw hendak menanyakan keberadaan kamar nenek, terlihat bapak menunjukkan jari tangannya ke arah sebuah kamar, mendapati hal tersebut, gw segera melangkah ke arah kamar dan memasukinya, kini nampak terlihat keberadaan dari nenden, imas dan angga yang tengah memperhatikan bi idah meminumkan obat kepada nenek
“ wihhh seperti nonton layar tancap aja....” canda gw seraya berjalan menghampiri nenek yang tengah terbaring di ranjang
“ nek apa kabar...saya darma, pasti nenek udah enggak ngenalin darma...karena saat nenek melihat darma, saat itu darma masih kecil....” ucap gw diantara pergerakan gw yang mencium tangan nenek, untuk sesaat lamanya nampak nenek hanya terpaku menatap gw, hingga akhirnya setelah keterpakuannya tersebut, ekspresi wajah nenek terlihat menegang dengan kedua bola matanya terlihat membesar....”
“ arhhh hahhh arhhhh....”
“ nenek kenapa bi...bicara apa....?” tanya gw dengan rasa terkejut atas sikap nenek tersebut, walaupun saat ini gw sama sekali tidak mengerti dengan apa yang akan dikatakan oleh nenek, tapi melihat dari pergerakan tangannya yang terlihat mengarah ke arah gw sepertinya nenek mencoba untuk berkomunikasi dengan gw
“ mungkin nenek mengenal kang darma....atau mengerti dengan ucapan kang darma tadi....” jawab bi idah seraya meletakan gelas yang dipegangnya diatas meja kecil yang berada di sisi tempat tidur, medengar jawaban bi idah tersebut, gw pun kini segera berdiri menjauh dan bergabung dengan nenden, imas serta angga
“ sepertinya nenek udah enggak bisa bicara lagi ya teh....”
“ ya iyalah dar...usia nenek itu udah tua, kalau enggak salah...usia nenek sekarang sudah delapan puluh dua tahun....dan di usia yang sudah lanjut seperti itu...nenek bisa merespon perkataan lu seperti itu aja bagi gw sudahlah teramat hebat....” ujar nenden dan berbalas dengan anggukan kepala gw, hingga akhirnya setelah kini kami merasa puas untuk melepaskan rasa kangen kami kepada nenek, kami pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar guna membantu mamah dan papah dalam membereskan barang barang yang kami bawa serta dalam proses perpindahan ini
“ ohh iya pah....kalau kamar darma ada dimana ya...?” tanya gw seraya memperhatikan keberadaan dua buah kamar yang ada di lantai bawah dan salah satunya adalah kamar nenek
“ kamar kamu ada di lantai atas dar, begitu juga dengan kamar nenden...berhubung rumah ini hanya mempunyai empat kamar yang berukuran besar dan satu kamar yang berukuran kecil, papah memutuskan kamar yang berukuran kecil itu sebagai kamar bi idah, sedangkan untuk dua kamar yang besar itu papah peruntukan untuk kamu dan angga serta nenden dan imas....” jawab papah diantara pergerakan mata gw yang memandang keseluruh sudut rumah, bisa dikatakan rumah tua ini adalah rumah yang indah...hal ini di dasari atas keberadaan dari ornamen kayu kayu dolken yang berpadu serasi dengan batu kali besar hingga menciptakan pemandangan yang artistik dan megah
“ ya udah...kalau begitu darma mau ke lantai atas dulu pah...” ujar gw lalu melangkah pergi menuju tangga kayu yang berada di sudut rumah
“ ehh kalau gitu...nenden juga mau lihat kamar dulu deh....” seiring dengan perkataannya tersebut, terlihat neneden segera berlari menyusul gw yang sudah terlebih dahulu menaiki anak tangga, dan kini seiring dengan tibanya gw di lantai atas nampak terlihat keberadaan dari tiga kamar yang tadi telah disebutkan oleh papah, untuk sekedar gambaran, keberadaan dari dua kamar besar ini berada berdampingan sedangkan satu kamar berukuran kecil nampak berada di sisi yang lain dan terpisah oleh lubang yang memungkinkan kami untuk memandang ke lantai bawah
“ sepertinya itu kamar mandi...” ucap gw seraya menunjuk ke sebuah pintu yang berada diantara dua sisi yang saling berhadapan ini
“ sepertinya iya dar...dan tempat itu sepertinya akan menjadi tempat bersantai kita dalam membaca baca buku...” seiring dengan perkatannya tersebut, terlihat nenden menunjuk ke arah ruangan yang berada di samping kamar bi idah, sebuah ruangan yang dihiasi oleh sebuah rak kayu besar dan kursi kayu berbentuk huruf U
“ mudah mudahan dalam waktu sebulan yang kita punya ini...kita bisa beradaptasi dengan rumah ini teh...”
“ ya semoga aja dar....lagi pula gw juga udah enggak sabar untuk menyelesaikan perkuliahan gw itu, gw enggak mau hidup terlalu lama terpisah dengan keluarga ini...” ujar nenden dan berbalas dengan anggukan kepala gw, dan seiring dengan anggukan kepala gw tersebut, nenden pun segera berjalan menuju ke arah kamar yang sepertinya telah diberi tanda oleh papah dengan sebuah kertas kecil yang tertempel di pintu kamar dan bertuliskan nama nenden serta imas, mendapati kalau kini nenden telah memasuki kamarnya, gw pun segera memasuki kamar besar yang lain yang berada tidak jauh dari kamar nenden
“ ini benar benar kamar impian.....” ucap gw dengan penuh kekaguman begitu memandang keadaan di dalam kamar yang memperlihatkan keberadaan dari dua buah tempat tidur, sebuah lemari besar dengan kacanya yang besar, serta sebuah meja belajar yang semuanya itu berbahan dasar dari kayu
“ lampunya juga unik dan kuno....” gumam gw seraya mencoba untuk menyalakan lampu kamar, dan kini seiring dengan cahaya lampu yang telah menerangi kamar, keberadaan dari sebuah jendela yang berada di sudut kamar kini telah memancing rasa keingintahuan gw atas pemandangan indah yang mungkin tersaji di luar sana, dan benar saja...begitu kini pandangan mata gw menatap ke arah luar rumah melalui jendela kamar yang telah terbuka, nampak keberadaan dari halaman rumah yang berhiaskan rumput hijau serta pepohonan rindang
“ pantas aja...kandang angsa itu dibuat seindah itu...rupanya kandang angsa itu adalah bagian dari pemandangan indah ini....” gumam gw kembali diantara pandangan mata gw yang kini menatap ke arah kandang angsa, dan sepertinya keberadaan kandang angsa tersebut kini telah terselimuti oleh sinar mentari yang mulai meredupkan cahayanya
“ bagus ya dar pemandangannya.....” tegur nenden dengan tiba tiba
“ ya tuhan teh....bisa enggak kalau hari ini lu enggak ngagetin gw...” gerutu gw dan berbalas dengan tawa kecil nenden
“ ahh lu aja dar yang mungkin udah tua jadi gampang kaget kagetan....” canda nenden seraya ikut mengarahkan pandangannya ke halaman rumah
“ gw masih penasaran teh dengan kematian kakaknya papah itu....”

meizhaa
pulaukapok
rassof
rassof dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.