- Beranda
- Stories from the Heart
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
...
TS
fachreal5
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
Quote:
Halo agan agan & sista penghuni sfth. Sebelumnya semua yang ane ceritain disini pure kejadian yang ane alami sendiri. Sebenarnya dari dulu banyak teman ane yang nganjurin untuk dituangkan dalam bentuk tulisan karena menurut mereka kisah ane ini cukup unik dan absurd untuk dicerna orang-orang yang tentu blm pernah ngalamin. Partnya juga ga akan banyak karena ane cuma tulis intinya plus apa yang ane inget aja. Well, ane sangat terbuka untuk kritik juga saran agar skill nulis ane berkembang dan maaf kalo tritnya sedikit berantakan karena udh lama banget ga nulis trit. Terima kasih untuk yang sudah mampir dan selamat membaca.

Quote:
Sumber gambar : mymodernmet.com
Sebelum mulai silahkan dengerin ini dulu gan biar berasa feelnya

Quote:
“Falling in love is kind of like a form of socially acceptable insanity.”
― Spike Jonze, HER
― Spike Jonze, HER
Quote:
1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Iya w di rumah nih
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Spoiler for INDEX:
PART 1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
Spoiler for Kunjungi juga thread ane yang lain:
Polling
0 suara
Apakah mereka akan bertemu ?
Diubah oleh fachreal5 11-09-2019 00:18
a.w.a.w.a.w dan 22 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
Kutip
81
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fachreal5
#41
11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
Adhitia Sofyan - 9 Tahun
Silahkan didengerin lagunya sukur-sukur bisa ngena 

Quote:
Usai kepergiannya aku merasa bagian dari hari-hariku hilang separuh. Tidak ada lagi yang mengucapkan selamat pagi dan menyambutku dengan hangat ketika aku kembali, ketika malam tiba ruanganku menjadi lebih sunyi dari biasanya. Tak jarang aku menghampiri ponselku apabila memasuki jam dimana kami rutin saling berbicara, lupa bahwa ia sudah tidak ada dan pergi dari hidupku mungkin untuk selamanya. Perlahan aku juga rindu tingkah isengnya yang menelponku ketika jam kelas, sifatnya yang tidak mau kalah, cara ia tertawa, bagaimana ia menarik nafas sebelum bernyanyi bahkan aku juga merindukan suara nada dering norak ponselku yang terkadang mengganggu jam tidur malamku dan yang pasti aku merindukan melihat terang bulan dengan ditemani oleh suara cempreng orang yang kucintai.
Berbulan-bulan bahkan setahun sudah sejak kejadian perpisahan itu berlalu masih tidak ada juga panggilan masuk darinya, pesan terakhirku untuknya masih tidak bersambut, pun kedua nomor ponselnya tidak juga dapat dihubungi. Acapkali aku dirundung sepi ketika malam tiba maka aku akan memandang bulan yang tetap sama, sebab aku berpikir mungkin sebelum aku ia lebih dulu menunggu pada tempat dimana kita sering ‘bertemu’.
Seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa kedatangan ia di kehidupanku mungkin memang sudah Tuhan rencanakan dengan tujuan untuk memberiku suatu pelajaran yang kini tertanam pada alam bawah sadarku.
Sebelum aku benar-benar siap untuk menyimpan rapi semua tentang kenangannya dan meneruskan langkahku lagi, kuhapus semua pesan darinya yang pernah masuk ke ponselku kecuali kumpulan draf-draf norak yang pernah ia kirimkan sewaktu ponsel keluaran provider es*a yang waktu itu sedang marak-maraknya, sepucuk potongan surat yang pernah ia diktekan kepadaku, dan tentu beberapa rekaman suara pembicaraan kita serta nyanyiannya yang masih betah bersemayam pada device mp3 gratisan milikku yang telah rusak dan entah dibenahi dimana oleh orang rumah. Namun dari semua benda yang menyimpan kenangan tentangnya hanya draf norak itu yang paling mudah untuk aku lihat kembali.
Every ending is a new beginning. Aku selalui mempercayai statement itu dan selalu kunantikan kejutan lainnya yang akan datang kepadaku nanti.
*******
25 November 2016
Gerimis halus turun membasahi atap rumah kekasihku, disela pandanganku yang terpaku pada layar monitor sesekali aku mengintip dan melihatnya yang tengah tertawa ketika membaca sesuatu pada ponselnya sementara aku tidak terlalu memperdulikan dengan apa yang sedang ia baca sebab fokusku sedang terbagi pada deadline pekerjaan yang harus dituntaskan malam itu. Ia mendekatkan tubuhnya kepadaku kemudian menyenderkan kepalanya di bahu, kusibak rambut hitamnya yang ikal kemudian kukecup lembut keningnya.
“Lagi baca apa sih sayang? Seneng bener kayanya” hardikku, seraya mencoba mengintip layar ponselnya
“Ini temanku aneh deh. Masa dia suka sama orang di facebook, padahal sama sekali belum ketemu” jawabnya lalu terkekeh
“Kenapa kamu bisa bilang aneh?” tanyaku memancing ingin tau
“Ya ga masuk akal aja. Baik cewek ato cowok kan kalo mau suka sama orang biasanya lihat fisiknya dulu, apalagi cowok” jelasnya, aku tersenyum dan mengiyakan pendapatnya yang memang masuk akal.
“Untuk kasus teman kamu menurutku ga aneh kok. Dulu malah aku nemu kasus cowok jatuh cinta sama cewek yang ga dikenal bahkan keduanya udah saling suka sebelum tau wajahnya masing-masing” jawabku, sontak pandangannya langsung menuju ke arahku dan menatapku penuh keheranan. Ia letakan ponselnya di meja kaca dan seluruh fokusnya kini mengarah kepadaku.
“Seriusan? Kok bisa? Itu teman kamu?” tanyanya lembut namun membabi buta, bisa kubaca jelas dari raut wajahnya bahwa ia tidak percaya.
Aku menatap wajahnya dengan serius hingga dapat kulihat jelas kornea matanya yang berwarna kecoklatan.
Berbulan-bulan bahkan setahun sudah sejak kejadian perpisahan itu berlalu masih tidak ada juga panggilan masuk darinya, pesan terakhirku untuknya masih tidak bersambut, pun kedua nomor ponselnya tidak juga dapat dihubungi. Acapkali aku dirundung sepi ketika malam tiba maka aku akan memandang bulan yang tetap sama, sebab aku berpikir mungkin sebelum aku ia lebih dulu menunggu pada tempat dimana kita sering ‘bertemu’.
Seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa kedatangan ia di kehidupanku mungkin memang sudah Tuhan rencanakan dengan tujuan untuk memberiku suatu pelajaran yang kini tertanam pada alam bawah sadarku.
Sebelum aku benar-benar siap untuk menyimpan rapi semua tentang kenangannya dan meneruskan langkahku lagi, kuhapus semua pesan darinya yang pernah masuk ke ponselku kecuali kumpulan draf-draf norak yang pernah ia kirimkan sewaktu ponsel keluaran provider es*a yang waktu itu sedang marak-maraknya, sepucuk potongan surat yang pernah ia diktekan kepadaku, dan tentu beberapa rekaman suara pembicaraan kita serta nyanyiannya yang masih betah bersemayam pada device mp3 gratisan milikku yang telah rusak dan entah dibenahi dimana oleh orang rumah. Namun dari semua benda yang menyimpan kenangan tentangnya hanya draf norak itu yang paling mudah untuk aku lihat kembali.
Every ending is a new beginning. Aku selalui mempercayai statement itu dan selalu kunantikan kejutan lainnya yang akan datang kepadaku nanti.
*******
25 November 2016
Gerimis halus turun membasahi atap rumah kekasihku, disela pandanganku yang terpaku pada layar monitor sesekali aku mengintip dan melihatnya yang tengah tertawa ketika membaca sesuatu pada ponselnya sementara aku tidak terlalu memperdulikan dengan apa yang sedang ia baca sebab fokusku sedang terbagi pada deadline pekerjaan yang harus dituntaskan malam itu. Ia mendekatkan tubuhnya kepadaku kemudian menyenderkan kepalanya di bahu, kusibak rambut hitamnya yang ikal kemudian kukecup lembut keningnya.
“Lagi baca apa sih sayang? Seneng bener kayanya” hardikku, seraya mencoba mengintip layar ponselnya
“Ini temanku aneh deh. Masa dia suka sama orang di facebook, padahal sama sekali belum ketemu” jawabnya lalu terkekeh
“Kenapa kamu bisa bilang aneh?” tanyaku memancing ingin tau
“Ya ga masuk akal aja. Baik cewek ato cowok kan kalo mau suka sama orang biasanya lihat fisiknya dulu, apalagi cowok” jelasnya, aku tersenyum dan mengiyakan pendapatnya yang memang masuk akal.
“Untuk kasus teman kamu menurutku ga aneh kok. Dulu malah aku nemu kasus cowok jatuh cinta sama cewek yang ga dikenal bahkan keduanya udah saling suka sebelum tau wajahnya masing-masing” jawabku, sontak pandangannya langsung menuju ke arahku dan menatapku penuh keheranan. Ia letakan ponselnya di meja kaca dan seluruh fokusnya kini mengarah kepadaku.
“Seriusan? Kok bisa? Itu teman kamu?” tanyanya lembut namun membabi buta, bisa kubaca jelas dari raut wajahnya bahwa ia tidak percaya.
Aku menatap wajahnya dengan serius hingga dapat kulihat jelas kornea matanya yang berwarna kecoklatan.
“Bukan. orang itu adalah aku”
T A M A T
Terima kasih untuk agan dan sista semua yang udah mampir, komen, berbaik hati untuk kasih cendol ke ane dan especially yang udah ngikutin kisah ini dari awal ane buat. Walau ane gatau cerita yang ane tulis ini bagus ato engga, ane harap cerita dari ane ini bisa dinikmatin

Last but not least
Sampai jumpa di karya tulis ane selanjutnya. Ciao..
Diubah oleh fachreal5 06-02-2019 20:33
smicbng dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas