- Beranda
- Stories from the Heart
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
...
TS
fachreal5
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
Quote:
Halo agan agan & sista penghuni sfth. Sebelumnya semua yang ane ceritain disini pure kejadian yang ane alami sendiri. Sebenarnya dari dulu banyak teman ane yang nganjurin untuk dituangkan dalam bentuk tulisan karena menurut mereka kisah ane ini cukup unik dan absurd untuk dicerna orang-orang yang tentu blm pernah ngalamin. Partnya juga ga akan banyak karena ane cuma tulis intinya plus apa yang ane inget aja. Well, ane sangat terbuka untuk kritik juga saran agar skill nulis ane berkembang dan maaf kalo tritnya sedikit berantakan karena udh lama banget ga nulis trit. Terima kasih untuk yang sudah mampir dan selamat membaca.

Quote:
Sumber gambar : mymodernmet.com
Sebelum mulai silahkan dengerin ini dulu gan biar berasa feelnya

Quote:
“Falling in love is kind of like a form of socially acceptable insanity.”
― Spike Jonze, HER
― Spike Jonze, HER
Quote:
1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Iya w di rumah nih
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Spoiler for INDEX:
PART 1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
Spoiler for Kunjungi juga thread ane yang lain:
Polling
0 suara
Apakah mereka akan bertemu ?
Diubah oleh fachreal5 11-09-2019 00:18
a.w.a.w.a.w dan 22 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
Kutip
81
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fachreal5
#40
10. Watch Over You
Video musik dibawah ini adalah lagu terakhir yang Ara bawakan pada malam menjelang perpisahan kami.
Alter Bridge - Watch Over You
Quote:
Kalau boleh jujur sejatinya bagian terakhir dari kisah ini adalah bagian tersulit untuk aku tulis. Selain karena ingatanku yang mulai memudar untuk merangkai kepingan-kepingan memoriku dengannya yang telah usang dirayapi waktu, nyatanya usai kisahku dengannya berakhir aku memang memilih untuk tidak terlalu mengingat rangkaian memori pahit yang terpaksa ditutup oleh salam perpisahan. Ya, perpisahan adalah sebutan untuk tamu yang tidak pernah kuharapkan kedatangannya dan masih kubenci sampai sekarang.
Kami berpacaran kurang lebih selama satu tahun dan selama waktu tersebut dialah sosok yang menjadi pengisi hari-hariku, yang menjadi penyemangat ketika pagi jua orang yang menyambut hangat usai aku kembali, orang yang senantiasa mendengarkan cerita serta keluh kesahku, teman sharing mengenai mata pelajaran ketika musim ujian serta teman untuk menampung curahan masalah kami masing-masing, teman untuk mendiskusikan hal yang kebanyakan tidak penting, dan tempatku bersandar walau pada kenyataannya aku hanya bersandar pada dinding ketika risau.
“
Menurut kamu yang benar paralon, palaron atau plaron?”
“Palaron” jawabnya
“Salah, yang benar tuh paralon” balasku
“Palaron ih yang bener”
“Paralon tau”
“Palaron!!!”
“Salah. Yang bener tuh palaron!!”
“Tuhkan kamu aja nyebutnya palaron tadi hahaha”
“Lidahku kepleset itu”
“Halah alesan”
“Yaudah deh aku milih plaron aja”
Percakapan kami tersebut adalah salah satu contoh kecil yang menjadi tema diskusi atau debat kami. Tidak penting? Tentu. Akan tetapi justru hal-hal receh seperti itu yang membuat hubungan kami tidak membosankan walau tidak pernah bertemu. Tidak hanya itu, setiap malam kami juga kompak untuk memandangi langit untuk melihat bulan dan rasi bintang lainnya, namun tidak ada rasi bintang lain yang terlihat selain pada pertengahan bulan Juni .
Kala itu menjelang setahun usia’ hubungan spesial’ kami, aku merasakan beberapa perbedaan sikap pada Ara. Terkadang ia menjadi dingin, obrolannya terasa datar, dan pada suatu waktu juga menjadi sangat manja seolah tidak ingin ditinggalkan dan pada masa itu aku merasa ia layaknya sedang bertempur dengan dirinya sendiri. Bertempur antara ingin tetap bersamaku atau pergi dan memulai hidup baru dengan lelaki lain, atau mungkin terdapat pertarungan lain yang pada waktu itu aku tidak ketahui. Ia juga menjadi lebih sering ketiduran ditengah pembicaraan dan tak jarang aku mendapati suaranya yang tengah kelelahan. Untuk lagu yang ia bawakan juga temanya tidak jauh mengenai penyesalan dan perpisahan sebut saja lagu Kesempatan Kedua dari Tangga dan October – nya Evanescence, ia seakan memberikan pesan tersirat kepadaku bahwa ia tidak bisa berlama-lama lagi bersamaku namun aku tak kunjung menyadarinya.
“Seandainya besok aku pergi dan ga pernah balik lagi ke kamu apa yang bakal kamu lakuin?” tanyanya ditengah obrolan kami yang berlangsung pada malam hari, sebelum menjawab aku seruput kopi cappucino miliku yang mulai dingin karena beberapa kali ditiup oleh angin malam di teras rumah
“Pergi nemuin kamu, mikirin kamu, dan ga tertutup kemungkinan aku bakal galau seharian. Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?” jawabku
“Dan seandainya kamu galau seharian tapi aku gabisa nemenin kamu lagi apa yang bakal kamu lakuin?” tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu
“Hemmm, yah paling aku bakal mengenang kamu dan dengerin ulang semua suara nyanyian kamu yang udah aku rekam”
“Kalo ternyata hal itu tetap gabisa nolong gimana?” tanyanya lagi serius
“Mungkin aku akan mengenang kamu lebih dalam” jawabku tersenyum
“Ngomong-ngomong kamu belum jawab pertanyaanku” tambahku
“Gapapa, aku selalu berpikir bahwa setiap pertemuan bakal ada perpisahan dan sometimes aku berpikir apa yang bakal terjadi ketika kita gabisa berhubungan satu sama lain lagi. Aku takut ketika udah ga ada kamu maka ga ada lagi orang yang bisa ngehibur aku dan sabar banget ngehadapin aku walaupun pada kenyataannya kamu juga nyebelin” ujarnya kemudian tertawa.
“Every ending is a new beginning, darl. Kamu pasti bakal ketemu orang yang lebih dari aku dalam segala hal dan tentu bener-bener bisa ngejagain kamu. Andai bukan aku, pasti ada orang yang tepat buat kamu yang lagi menunggu ato berjuang buat bahagian kamu” kataku sok bijak
“Kalau bukan aku, aku harap kamu juga menemukan orangnya” balasnya
Malam itu setelah sambungan telpon ditutup ia mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku dimana biasanya tidak ada percakapan lagi usai telepon ditutup.
Tidak banyak percakapan penting yang kami lakukan ketika musim ujian. Kami tetap rutin bertelponan pada malam hari namun kebanyakan temanya adalah saling mendikusikan mata pelajaran yang akan menjadi bahan untuk diujikan untuk kenaikan kelas, kurang lebih dua minggu sebelum tamu yang tidak penah kuharapkan datang ia lebih pantas untuk kusebut guru dibandingkan kekasihku terlebih usai ia mengetahui ambisiku untuk mengalahkan nilai mata pelajaran teman dekatku yang duduk sebangku dan mendongkrak rangking ku di kelas.
“Kamu pasti bisa. Aku aja percaya kamu, masa kamu engga” ucapnya menyemangati usai mendengarku mengeluh untuk memahami soal kimia dan soal perhitungan lainnya
Walau begitu apabila sesi diskusi mata pelajaran kami selesai ia tetap bersikap manis dan manja seperti biasanya, hanya saja durasi kami telponan lebih sering kurang dari sejam karena memang kami perlu tidur lebih awal agar tidak bangun kesiangan terlebih belakangan ini dia sendiri sering mengeluh kelelahan karena melakukan suatu kegiatan yang nyaris menghabiskan waktu seharian dimana aku sendiri tidak tahu kegiatan apa yang ia lakukan. Sebab acapkali aku bertanya ia hanya menjawab bahwa energinya terkuras untuk les persiapan ujian kenaikan kelas serta eskul musik di sekolahnya. Tentu aku percaya karena ia memang sempat menceritakan hal itu jauh-jauh hari walau pada akhirnya aku mengetahui bukan itu penyebabnya dan ia sedang menyembunyikan sesuatu untuk menjaga perasaanku.
Mungkin berkat bantuan kecilnya aku dapat melewati ujian kenaikan kelas dengan mulus, nilaiku melonjak naik dibanding semester lalu bahkan sukses mengalahkan skor nilai kimia sainganku walaupun hanya selisih 0,2 namun aku bangga karena ambisiku sejak dipertengahan semester tuntas sudah dan ya itu untuk pertama kalinya juga aku memutuskan rantai salah satu mata pelajaran yang menjadi langganan remedial selain fisika dan matematika. Dapat dikatakan hasil ujianku berhasil sangat mulus bahkan mendapatkan skor tertinggi pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan mengalahkan orang terpintar di kelasku. Walau terkesan norak nyatanya merupakan suatu kebanggan apabila anak yang rutin bertengger pada ranking 20 an berhasil mengalahkan perolehan nilai orang yang betah menduduki singgasana peringkat 1.
Acapkali aku memperoleh nilai yang bagus selalu aku kabari ia ketika bertelponan seraya mengurai rindu dan walaupun ia jauh namun dapat kurasakan rona kegirangan yang dapat didengar melalui suaranya seakan mengatakan bahwa ia bahagia atas keberhasilanku dan usahanya tidak sia-sia untuk membantu.
“
Aku terdiam sedangkan telapak tanganku mengepal lalu memukul tembok dengan keras tanpa sepengetahuannya. Aku benar-benar menyumpahi diriku yang terlampau pengecut waktu itu.
“Maaf sebelumnya, disisi lain aku takut untuk menambah beban pikiran kamu setelah dengar kabar kalau aku akan pergi” ucapnya pelan, aku menghela nafas panjang lalu keluar kamar dan bergegas menuju teras untuk melihat rasi bintang yang hanya terlihat pada bulan Juni.
“Keluar bentar yuk. Malam ini mungkin terakhir kalinya kita bisa lihat bulan bareng-bareng dan rasi bintang yang pernah aku ceritain. Semoga aja kamu bisa lihat rasinya malam ini” pintaku
“Aku masih gabisa lihat rasi bintang yang kamu maksud masa” keluhnya
“Tapi bulannya masih keliatan kan?” tanyaku
“Iyah dan masih terang seperti biasanya” balasnya
Kami saling terdiam beberapa saat dan tidak ada ucapan yang keluar dari mulut kami, bisa kutebak bahwa apa yang ia lakukan pada saat itu ialah sama sepertiku. Yaitu membiarkan diri kami tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati detik demi detik berlaku dan enggan untuk menyambut esok pagi dengan salam perpisahan yang akan terucap dari mulut kami. Malam itu udara kurasakan lebih dingin dari biasanya dan akan terasa lebih dingin acapkali aku menyadari bahwa sebentar lagi akan ada bagian yang hilang dalam hari-hariku.
Seminggu setelah aku menyambut awal bulan Juni aku terpaksa menerima kabar bahwa ia sekeluarga akan pindah ke negeri seberang, negeri dimana ayah nya berasal dan negeri yang dimana orang Indonesia akrab menyebutkannya dengan nama Australi. Ia turut menambahkan bahwa kesibukannya belakangan ini ditambah oleh kegiatan mengemas dan memisahkan barang-barang pribadinya sebelum dipacking oleh kru freight forwarding dan menikmati sisa waktu disini bersama orang-orang terdekatnya.
“Kenapa sih kamu gapernah mau temuin aku?” tanyanya memecah keheningan dan membuatku sedikit terpukul
“Bukannya gamau”
“Terus apa? Kamu pernah bilang kalo aku penting buat kamu. Seandainya aku emang beneran penting buat kamu udah pasti kamu bakal bela-belain untuk nemuin aku. Aku selalu berharap kamu kamu bakal nemuin aku dan tepatin janji kamu tapi nyatanya sampai aku mau pergipun kamu masih ga ada usaha untuk temuin aku!” ucapnya, suaranya sedikit naik namun setelah itu aku mendengar ia terisak kecil.
“Tolong jawab pertanyaan aku sejujur-jujurnya” tambahnya, aku kembali menghela nafas dan tangan kanan yang kupakai untuk memukul tembok barusan tanpa terasa memaksa untuk kembali mengepal erat walau nyerinya mulai terasa.
“Sejujurnya jauh-jauh hari aku udah mulai nabung untuk nemuin kamu”
“Sebentar-sebentar kenapa kamu harus repot-repot nabung cuma untuk nemuin aku?” potongnya
“Kamukan kalo ngajak ketemuan di tempat yang kesannya mewah terus. Dari semua tempat-tempat yang kamu sebutin sejujurnya aku belum pernah kesana tapi aku tau untuk kesana perlu siapin kocek yang ga sedikit. Apalagi untuk jalan sama kamu yang notabene tingkat sosialnya jauh dari aku” jelasku namun ia tertawa geli usai mendengarnya
“Ya ampun Ari, kamu tuh nyebelin-nyebelin ternyata polos banget yah. Kan kamu bisa pilih tempat yang kamu mau bahkan aku bisa bilang kamu ga perlu repot-repot keluarin uang demi aku. Lucu yah kamu” ucapnya
“Jujur aja aku sebenarnya juga rada minder untuk nemuin kamu. Kamu taulah mungkin dari tingkat sosial aja kita beda” tambahku lagi
“Kenapa harus minder? Kita sama-sama manusia kok dan aku ga pernah nganggap bahwa tingkat sosial kita berbeda. Semua manusia itu
sama dan beneran deh aku ga suka kalo kamu selalu nganggap kamu itu lebih rendah dibanding orang lain. Kamu punya nilai yang orang lain ga punya dan selepas aku pergi tolong kurangin sifat minderan kamu yah, please. Karena kamu ga akan kemana-mana kalo sifat itu masih ada, aku sayang kamu dan aku harap kamu bisa lebih baik lagi setelah ini” ujarnya, aku merasa tertampar akan tetapi apa yang dikatakannya kuakui memang benar
“Iyah, makasih udah ngingetin. Aku akan coba” jawabku tersenyum seraya memandangi bulan
“Ngomong-ngomong beda waktu Indonesia dengan Australia sekitar empat jam yah?” sambungku
“Seingatku sih iya. Kenapa?”
“Yah, kita jadi ga bisa mandang bulan di waktu yang sama lagi dong” keluhku
“Gapapa, karena walaupun kita udah gabisa saling memandang bulan di waktu yang bersamaan. Setidaknya kalo aku kangen dan kepikiran kamu, aku pasti bakal lihat objek yang sekarang ini lagi kita lihat” ucapnya, ia tersenyum dan aku mengetahui itu dari suara kecil yang dikeluarkan dari mulutnya
“Malam ini kita mendramatisir banget yah kayanya” kataku kemudian kami saling tertawa
“Ngomong-ngomong kamu pernah denger lagu Alter Bridge yang judulnya watching over you?” tanyanya, aku mengiyakan walau sebenarnya hanya beberapa kali dengar dan tidak hafal liriknya
“Malam ini aku mau bawain lagu itu untuk kamu. Lagu terakhir dari aku” ucapnya
“Ehm, dengerin yah….”
Malam itu adalah hari terakhir aku mendengarkan nyanyiannya dan harus kuakui jauh lebih merdu dibandingkan ketika pertama kali ia menyanyikan lagu My Immortal untukku. Sengaja aku tidak merekam nyanyian terakhirnya sebab setiap untaian lirik dan nadanya terekam jelas pada kalbu. Perasaan senang dan sedih bercampur aduk mejadi satu pada setiap untaian liriknya, aku diam membisu dan tak kuasa berkata-kata sampai akhirnya ia berhenti pada pertengahan liriknya.
“Maaf cuma sampe setengah. Aku takut nangis kalo diterusin sampe habis” ucapnya dan aku membenarkan itu karena sebelum ia berhenti bernyanyi suaranya sedikit parau.
“Makin kesini makin merdu aja nyanyian kamu” kataku memuji
“Tumben muji” candanya, aku hanya tersenyum dan tidak membalas candaannya
“Terima kasih udah mau nyanyi untukku dan terima kasih juga atas ketidaksengajaan kamu untuk datang di kehidupan aku”
“Iyah, terima kasih juga udah ngizinin aku datang dikehidupan kamu” balasnya
Waktu berjalan semakin malam dan tiap detik yang berjalan adalah sesuatu yang tidak ingin aku sia-siakan. Hari itu mungkin adalah rekor durasi terpanjang kami saling bertelponan. Malam itu kami saling merangkum dan merangkai kepingan waktu sejak bagaimana kami secara abstrak diperkenalkan, menertawai hal-hal yang pernah kami debatkan, dan mencoba memahami bagaimana kita bisa saling jatu cinta dengan cara absurd dimana kisah kami hanya akan menjadi lelucon bagi kebanyakan orang.
Waktu tengah malam sudah lewat selama satu jam dan tamu yang tidak pernah kuharap kedatangannya dapat kurasakan tengah berdiri memperhatikanku dari belakang. Waktu kami semakin menipis dan sebelum sambungan telepon ditutup baik kami berdua hanya menyisakan keheningan sebagai buah tangan. Keheningan yang akan terasa panjang untuk beberapa waktu kedepan.
“Jadi hari ini kita putus ya?” tanyaku, ia tidak menjawab lalu kami kompak saling tertawa.
.................
..........
.......
“Besok jangan lupa bawa hape yah. Aku mau telepon kamu sebelum berangkat”
“Oke” kataku singkat kemudian ia matikan sambungan telponnya
Kurebahkan tubuhku ke kasur dan perlahan mulai kurasakan rasa panas di telingaku usai berjam-jam kami bertelponan. Mataku menatap kosong kepada langit-langit kamar dan ogah untuk dipejamkan. Sedangkan pikiranku terlalu ramai untuk diistirahatkan.
Aku langsung keluar kelas dan meninggalkan ibu serta wali kelasku yang tengah berbicara mengenai nilai di raporku usai menerima pesan dari Ara. Kubalas pesan singkatnya dan tak lama datanglah sebuah panggilan masuk darinya. Aku mendengar samar orang asing yang sedang mengobrol dari tempatnya, bisa kutebak saat ini ia sudah di bandara dan siap untuk berangkat menuju benua baru yang akan ditempatinya.
“Gimana rapor nya?” tanyanya
“Bagus dongs. Kamu sendiri gimana?”
“Bagus juga dongsss” jawabnya sembari tertawa
“Kamu udah di bandara?” tanyaku, ia mengiyakan
Kami sedikit kikuk pada pembicaraan terakhir , mungkin karena disebabkan masih banyak pembicaraan yang ingin kami tuntaskan namun terhalang oleh waktu yang terlampau sempit.
“Maaf, mungkin aku gabisa telpon kamu lama-lama” ucapnya merendah
“Iyah gapapa aku ngerti” jawabku
“Kamu jaga diri baik-baik yah dan sekali lagi terima kasih udah mau berbagi waktu sama aku selama ini”
“Begitupun kamu dan terima kasih juga udah ngajarin aku berbagai hal selama ini” kataku
“Emm emang aku ngajarin apa deh?” tanyanya heran
“Banyak” jawabku singkat
Semilir angin yang masih mengandung sejuk hawa pagi bertiup melewati balkon kelasku yang berada di atas lantai satu. Durasi waktu telepon masih berjalan namun kami diam membisu.
“Apakah kamu bakal telpon aku lagi ketika disana?” tanyaku, ia tak langsung menjawab
“Kalau engga ada telpon masuk lagi dari aku, mungkin kamu memang harus nerusin perjalanan panjangmu walaupun tanpa aku”
“Every ending is a new beginning, right? Kamu pernah bilang begitu dulu” ia menambahkan, aku mengangguk pelan lalu dari kejauhan aku bisa mendengar suara orang yang tengah memanggilnya.
“Oke, mamah udah manggil aku. Telpon aku matiin yah”
“Tunggu! Aku mau ngomong sesuatu” seruku spontan
“Oh yah? Mau ngomong apa?” tanyanya
“Emmm..... I love you,..... Ra” ucapku sembari menahan malu
“I know” balasnya singkat, namun dapat kurasakan rekah senyumannya dari kejauhan
“Good bye ri. Jangan lupain aku ya” ucapnya lalu ia matikan sambungan teleponnya sebelum sempat aku membalas ucapannya.
Kataku melalui pesan singkat, berharap ia membacanya.
Kami berpacaran kurang lebih selama satu tahun dan selama waktu tersebut dialah sosok yang menjadi pengisi hari-hariku, yang menjadi penyemangat ketika pagi jua orang yang menyambut hangat usai aku kembali, orang yang senantiasa mendengarkan cerita serta keluh kesahku, teman sharing mengenai mata pelajaran ketika musim ujian serta teman untuk menampung curahan masalah kami masing-masing, teman untuk mendiskusikan hal yang kebanyakan tidak penting, dan tempatku bersandar walau pada kenyataannya aku hanya bersandar pada dinding ketika risau.
“
Quote:
Menurut kamu yang benar paralon, palaron atau plaron?”
“Palaron” jawabnya
“Salah, yang benar tuh paralon” balasku
“Palaron ih yang bener”
“Paralon tau”
“Palaron!!!”
“Salah. Yang bener tuh palaron!!”
“Tuhkan kamu aja nyebutnya palaron tadi hahaha”
“Lidahku kepleset itu”
“Halah alesan”
“Yaudah deh aku milih plaron aja”
Percakapan kami tersebut adalah salah satu contoh kecil yang menjadi tema diskusi atau debat kami. Tidak penting? Tentu. Akan tetapi justru hal-hal receh seperti itu yang membuat hubungan kami tidak membosankan walau tidak pernah bertemu. Tidak hanya itu, setiap malam kami juga kompak untuk memandangi langit untuk melihat bulan dan rasi bintang lainnya, namun tidak ada rasi bintang lain yang terlihat selain pada pertengahan bulan Juni .
Kala itu menjelang setahun usia’ hubungan spesial’ kami, aku merasakan beberapa perbedaan sikap pada Ara. Terkadang ia menjadi dingin, obrolannya terasa datar, dan pada suatu waktu juga menjadi sangat manja seolah tidak ingin ditinggalkan dan pada masa itu aku merasa ia layaknya sedang bertempur dengan dirinya sendiri. Bertempur antara ingin tetap bersamaku atau pergi dan memulai hidup baru dengan lelaki lain, atau mungkin terdapat pertarungan lain yang pada waktu itu aku tidak ketahui. Ia juga menjadi lebih sering ketiduran ditengah pembicaraan dan tak jarang aku mendapati suaranya yang tengah kelelahan. Untuk lagu yang ia bawakan juga temanya tidak jauh mengenai penyesalan dan perpisahan sebut saja lagu Kesempatan Kedua dari Tangga dan October – nya Evanescence, ia seakan memberikan pesan tersirat kepadaku bahwa ia tidak bisa berlama-lama lagi bersamaku namun aku tak kunjung menyadarinya.
“Seandainya besok aku pergi dan ga pernah balik lagi ke kamu apa yang bakal kamu lakuin?” tanyanya ditengah obrolan kami yang berlangsung pada malam hari, sebelum menjawab aku seruput kopi cappucino miliku yang mulai dingin karena beberapa kali ditiup oleh angin malam di teras rumah
“Pergi nemuin kamu, mikirin kamu, dan ga tertutup kemungkinan aku bakal galau seharian. Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?” jawabku
“Dan seandainya kamu galau seharian tapi aku gabisa nemenin kamu lagi apa yang bakal kamu lakuin?” tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu
“Hemmm, yah paling aku bakal mengenang kamu dan dengerin ulang semua suara nyanyian kamu yang udah aku rekam”
“Kalo ternyata hal itu tetap gabisa nolong gimana?” tanyanya lagi serius
“Mungkin aku akan mengenang kamu lebih dalam” jawabku tersenyum
“Ngomong-ngomong kamu belum jawab pertanyaanku” tambahku
“Gapapa, aku selalu berpikir bahwa setiap pertemuan bakal ada perpisahan dan sometimes aku berpikir apa yang bakal terjadi ketika kita gabisa berhubungan satu sama lain lagi. Aku takut ketika udah ga ada kamu maka ga ada lagi orang yang bisa ngehibur aku dan sabar banget ngehadapin aku walaupun pada kenyataannya kamu juga nyebelin” ujarnya kemudian tertawa.
“Every ending is a new beginning, darl. Kamu pasti bakal ketemu orang yang lebih dari aku dalam segala hal dan tentu bener-bener bisa ngejagain kamu. Andai bukan aku, pasti ada orang yang tepat buat kamu yang lagi menunggu ato berjuang buat bahagian kamu” kataku sok bijak
“Kalau bukan aku, aku harap kamu juga menemukan orangnya” balasnya
Malam itu setelah sambungan telpon ditutup ia mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku dimana biasanya tidak ada percakapan lagi usai telepon ditutup.
Quote:
Selamat tidur yah sayang. Love you, muach
Selamat tidur juga. Mimpiin aku yah =)
Uwek
Selamat tidur juga. Mimpiin aku yah =)
Uwek
*****
Tidak banyak percakapan penting yang kami lakukan ketika musim ujian. Kami tetap rutin bertelponan pada malam hari namun kebanyakan temanya adalah saling mendikusikan mata pelajaran yang akan menjadi bahan untuk diujikan untuk kenaikan kelas, kurang lebih dua minggu sebelum tamu yang tidak penah kuharapkan datang ia lebih pantas untuk kusebut guru dibandingkan kekasihku terlebih usai ia mengetahui ambisiku untuk mengalahkan nilai mata pelajaran teman dekatku yang duduk sebangku dan mendongkrak rangking ku di kelas.
“Kamu pasti bisa. Aku aja percaya kamu, masa kamu engga” ucapnya menyemangati usai mendengarku mengeluh untuk memahami soal kimia dan soal perhitungan lainnya
Walau begitu apabila sesi diskusi mata pelajaran kami selesai ia tetap bersikap manis dan manja seperti biasanya, hanya saja durasi kami telponan lebih sering kurang dari sejam karena memang kami perlu tidur lebih awal agar tidak bangun kesiangan terlebih belakangan ini dia sendiri sering mengeluh kelelahan karena melakukan suatu kegiatan yang nyaris menghabiskan waktu seharian dimana aku sendiri tidak tahu kegiatan apa yang ia lakukan. Sebab acapkali aku bertanya ia hanya menjawab bahwa energinya terkuras untuk les persiapan ujian kenaikan kelas serta eskul musik di sekolahnya. Tentu aku percaya karena ia memang sempat menceritakan hal itu jauh-jauh hari walau pada akhirnya aku mengetahui bukan itu penyebabnya dan ia sedang menyembunyikan sesuatu untuk menjaga perasaanku.
Mungkin berkat bantuan kecilnya aku dapat melewati ujian kenaikan kelas dengan mulus, nilaiku melonjak naik dibanding semester lalu bahkan sukses mengalahkan skor nilai kimia sainganku walaupun hanya selisih 0,2 namun aku bangga karena ambisiku sejak dipertengahan semester tuntas sudah dan ya itu untuk pertama kalinya juga aku memutuskan rantai salah satu mata pelajaran yang menjadi langganan remedial selain fisika dan matematika. Dapat dikatakan hasil ujianku berhasil sangat mulus bahkan mendapatkan skor tertinggi pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan mengalahkan orang terpintar di kelasku. Walau terkesan norak nyatanya merupakan suatu kebanggan apabila anak yang rutin bertengger pada ranking 20 an berhasil mengalahkan perolehan nilai orang yang betah menduduki singgasana peringkat 1.
Acapkali aku memperoleh nilai yang bagus selalu aku kabari ia ketika bertelponan seraya mengurai rindu dan walaupun ia jauh namun dapat kurasakan rona kegirangan yang dapat didengar melalui suaranya seakan mengatakan bahwa ia bahagia atas keberhasilanku dan usahanya tidak sia-sia untuk membantu.
*****
“
Quote:
Kenapa kamu ga bilang dari jauh-jauh hari?”
“Seandainya aku bilang jauh-jauh hari apa kamu bakal nemuin aku?”
“Seandainya aku bilang jauh-jauh hari apa kamu bakal nemuin aku?”
Aku terdiam sedangkan telapak tanganku mengepal lalu memukul tembok dengan keras tanpa sepengetahuannya. Aku benar-benar menyumpahi diriku yang terlampau pengecut waktu itu.
“Maaf sebelumnya, disisi lain aku takut untuk menambah beban pikiran kamu setelah dengar kabar kalau aku akan pergi” ucapnya pelan, aku menghela nafas panjang lalu keluar kamar dan bergegas menuju teras untuk melihat rasi bintang yang hanya terlihat pada bulan Juni.
“Keluar bentar yuk. Malam ini mungkin terakhir kalinya kita bisa lihat bulan bareng-bareng dan rasi bintang yang pernah aku ceritain. Semoga aja kamu bisa lihat rasinya malam ini” pintaku
“Aku masih gabisa lihat rasi bintang yang kamu maksud masa” keluhnya
“Tapi bulannya masih keliatan kan?” tanyaku
“Iyah dan masih terang seperti biasanya” balasnya
Kami saling terdiam beberapa saat dan tidak ada ucapan yang keluar dari mulut kami, bisa kutebak bahwa apa yang ia lakukan pada saat itu ialah sama sepertiku. Yaitu membiarkan diri kami tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati detik demi detik berlaku dan enggan untuk menyambut esok pagi dengan salam perpisahan yang akan terucap dari mulut kami. Malam itu udara kurasakan lebih dingin dari biasanya dan akan terasa lebih dingin acapkali aku menyadari bahwa sebentar lagi akan ada bagian yang hilang dalam hari-hariku.
Seminggu setelah aku menyambut awal bulan Juni aku terpaksa menerima kabar bahwa ia sekeluarga akan pindah ke negeri seberang, negeri dimana ayah nya berasal dan negeri yang dimana orang Indonesia akrab menyebutkannya dengan nama Australi. Ia turut menambahkan bahwa kesibukannya belakangan ini ditambah oleh kegiatan mengemas dan memisahkan barang-barang pribadinya sebelum dipacking oleh kru freight forwarding dan menikmati sisa waktu disini bersama orang-orang terdekatnya.
“Kenapa sih kamu gapernah mau temuin aku?” tanyanya memecah keheningan dan membuatku sedikit terpukul
“Bukannya gamau”
“Terus apa? Kamu pernah bilang kalo aku penting buat kamu. Seandainya aku emang beneran penting buat kamu udah pasti kamu bakal bela-belain untuk nemuin aku. Aku selalu berharap kamu kamu bakal nemuin aku dan tepatin janji kamu tapi nyatanya sampai aku mau pergipun kamu masih ga ada usaha untuk temuin aku!” ucapnya, suaranya sedikit naik namun setelah itu aku mendengar ia terisak kecil.
“Tolong jawab pertanyaan aku sejujur-jujurnya” tambahnya, aku kembali menghela nafas dan tangan kanan yang kupakai untuk memukul tembok barusan tanpa terasa memaksa untuk kembali mengepal erat walau nyerinya mulai terasa.
“Sejujurnya jauh-jauh hari aku udah mulai nabung untuk nemuin kamu”
“Sebentar-sebentar kenapa kamu harus repot-repot nabung cuma untuk nemuin aku?” potongnya
“Kamukan kalo ngajak ketemuan di tempat yang kesannya mewah terus. Dari semua tempat-tempat yang kamu sebutin sejujurnya aku belum pernah kesana tapi aku tau untuk kesana perlu siapin kocek yang ga sedikit. Apalagi untuk jalan sama kamu yang notabene tingkat sosialnya jauh dari aku” jelasku namun ia tertawa geli usai mendengarnya
“Ya ampun Ari, kamu tuh nyebelin-nyebelin ternyata polos banget yah. Kan kamu bisa pilih tempat yang kamu mau bahkan aku bisa bilang kamu ga perlu repot-repot keluarin uang demi aku. Lucu yah kamu” ucapnya
“Jujur aja aku sebenarnya juga rada minder untuk nemuin kamu. Kamu taulah mungkin dari tingkat sosial aja kita beda” tambahku lagi
“Kenapa harus minder? Kita sama-sama manusia kok dan aku ga pernah nganggap bahwa tingkat sosial kita berbeda. Semua manusia itu
sama dan beneran deh aku ga suka kalo kamu selalu nganggap kamu itu lebih rendah dibanding orang lain. Kamu punya nilai yang orang lain ga punya dan selepas aku pergi tolong kurangin sifat minderan kamu yah, please. Karena kamu ga akan kemana-mana kalo sifat itu masih ada, aku sayang kamu dan aku harap kamu bisa lebih baik lagi setelah ini” ujarnya, aku merasa tertampar akan tetapi apa yang dikatakannya kuakui memang benar
“Iyah, makasih udah ngingetin. Aku akan coba” jawabku tersenyum seraya memandangi bulan
“Ngomong-ngomong beda waktu Indonesia dengan Australia sekitar empat jam yah?” sambungku
“Seingatku sih iya. Kenapa?”
“Yah, kita jadi ga bisa mandang bulan di waktu yang sama lagi dong” keluhku
“Gapapa, karena walaupun kita udah gabisa saling memandang bulan di waktu yang bersamaan. Setidaknya kalo aku kangen dan kepikiran kamu, aku pasti bakal lihat objek yang sekarang ini lagi kita lihat” ucapnya, ia tersenyum dan aku mengetahui itu dari suara kecil yang dikeluarkan dari mulutnya
“Malam ini kita mendramatisir banget yah kayanya” kataku kemudian kami saling tertawa
“Ngomong-ngomong kamu pernah denger lagu Alter Bridge yang judulnya watching over you?” tanyanya, aku mengiyakan walau sebenarnya hanya beberapa kali dengar dan tidak hafal liriknya
“Malam ini aku mau bawain lagu itu untuk kamu. Lagu terakhir dari aku” ucapnya
“Ehm, dengerin yah….”
Quote:
Leaves are on the ground
Fall has come
Blue skies turning grey
Like my love
I tried to carry you
And make you whole
But it was never enough
I must go
And who is gonna save you
When I'm gone?
And who'll watch over you
When I'm gone?
You say you care for me
But hide it well
How can you love someone
And not yourself?
And who is gonna save you
When I'm gone?
And who'll watch over you
................
...........
......
When I'm gone.....
Fall has come
Blue skies turning grey
Like my love
I tried to carry you
And make you whole
But it was never enough
I must go
And who is gonna save you
When I'm gone?
And who'll watch over you
When I'm gone?
You say you care for me
But hide it well
How can you love someone
And not yourself?
And who is gonna save you
When I'm gone?
And who'll watch over you
................
...........
......
When I'm gone.....
Malam itu adalah hari terakhir aku mendengarkan nyanyiannya dan harus kuakui jauh lebih merdu dibandingkan ketika pertama kali ia menyanyikan lagu My Immortal untukku. Sengaja aku tidak merekam nyanyian terakhirnya sebab setiap untaian lirik dan nadanya terekam jelas pada kalbu. Perasaan senang dan sedih bercampur aduk mejadi satu pada setiap untaian liriknya, aku diam membisu dan tak kuasa berkata-kata sampai akhirnya ia berhenti pada pertengahan liriknya.
“Maaf cuma sampe setengah. Aku takut nangis kalo diterusin sampe habis” ucapnya dan aku membenarkan itu karena sebelum ia berhenti bernyanyi suaranya sedikit parau.
“Makin kesini makin merdu aja nyanyian kamu” kataku memuji
“Tumben muji” candanya, aku hanya tersenyum dan tidak membalas candaannya
“Terima kasih udah mau nyanyi untukku dan terima kasih juga atas ketidaksengajaan kamu untuk datang di kehidupan aku”
“Iyah, terima kasih juga udah ngizinin aku datang dikehidupan kamu” balasnya
Waktu berjalan semakin malam dan tiap detik yang berjalan adalah sesuatu yang tidak ingin aku sia-siakan. Hari itu mungkin adalah rekor durasi terpanjang kami saling bertelponan. Malam itu kami saling merangkum dan merangkai kepingan waktu sejak bagaimana kami secara abstrak diperkenalkan, menertawai hal-hal yang pernah kami debatkan, dan mencoba memahami bagaimana kita bisa saling jatu cinta dengan cara absurd dimana kisah kami hanya akan menjadi lelucon bagi kebanyakan orang.
Waktu tengah malam sudah lewat selama satu jam dan tamu yang tidak pernah kuharap kedatangannya dapat kurasakan tengah berdiri memperhatikanku dari belakang. Waktu kami semakin menipis dan sebelum sambungan telepon ditutup baik kami berdua hanya menyisakan keheningan sebagai buah tangan. Keheningan yang akan terasa panjang untuk beberapa waktu kedepan.
“Jadi hari ini kita putus ya?” tanyaku, ia tidak menjawab lalu kami kompak saling tertawa.
.................
..........
.......
“Besok jangan lupa bawa hape yah. Aku mau telepon kamu sebelum berangkat”
“Oke” kataku singkat kemudian ia matikan sambungan telponnya
Kurebahkan tubuhku ke kasur dan perlahan mulai kurasakan rasa panas di telingaku usai berjam-jam kami bertelponan. Mataku menatap kosong kepada langit-langit kamar dan ogah untuk dipejamkan. Sedangkan pikiranku terlalu ramai untuk diistirahatkan.
*********
Quote:
Hey, bisa aku telpon?
Aku langsung keluar kelas dan meninggalkan ibu serta wali kelasku yang tengah berbicara mengenai nilai di raporku usai menerima pesan dari Ara. Kubalas pesan singkatnya dan tak lama datanglah sebuah panggilan masuk darinya. Aku mendengar samar orang asing yang sedang mengobrol dari tempatnya, bisa kutebak saat ini ia sudah di bandara dan siap untuk berangkat menuju benua baru yang akan ditempatinya.
“Gimana rapor nya?” tanyanya
“Bagus dongs. Kamu sendiri gimana?”
“Bagus juga dongsss” jawabnya sembari tertawa
“Kamu udah di bandara?” tanyaku, ia mengiyakan
Kami sedikit kikuk pada pembicaraan terakhir , mungkin karena disebabkan masih banyak pembicaraan yang ingin kami tuntaskan namun terhalang oleh waktu yang terlampau sempit.
“Maaf, mungkin aku gabisa telpon kamu lama-lama” ucapnya merendah
“Iyah gapapa aku ngerti” jawabku
“Kamu jaga diri baik-baik yah dan sekali lagi terima kasih udah mau berbagi waktu sama aku selama ini”
“Begitupun kamu dan terima kasih juga udah ngajarin aku berbagai hal selama ini” kataku
“Emm emang aku ngajarin apa deh?” tanyanya heran
“Banyak” jawabku singkat
Semilir angin yang masih mengandung sejuk hawa pagi bertiup melewati balkon kelasku yang berada di atas lantai satu. Durasi waktu telepon masih berjalan namun kami diam membisu.
“Apakah kamu bakal telpon aku lagi ketika disana?” tanyaku, ia tak langsung menjawab
“Kalau engga ada telpon masuk lagi dari aku, mungkin kamu memang harus nerusin perjalanan panjangmu walaupun tanpa aku”
“Every ending is a new beginning, right? Kamu pernah bilang begitu dulu” ia menambahkan, aku mengangguk pelan lalu dari kejauhan aku bisa mendengar suara orang yang tengah memanggilnya.
“Oke, mamah udah manggil aku. Telpon aku matiin yah”
“Tunggu! Aku mau ngomong sesuatu” seruku spontan
“Oh yah? Mau ngomong apa?” tanyanya
“Emmm..... I love you,..... Ra” ucapku sembari menahan malu
“I know” balasnya singkat, namun dapat kurasakan rekah senyumannya dari kejauhan
“Good bye ri. Jangan lupain aku ya” ucapnya lalu ia matikan sambungan teleponnya sebelum sempat aku membalas ucapannya.
Quote:
I’ll miss you, Ara
Kataku melalui pesan singkat, berharap ia membacanya.
To be continued. See ya on the last chapter....
Diubah oleh fachreal5 05-02-2019 19:58
axxis2sixx dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas