Kaskus

Story

arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
50 Episode Keistimewaan
50 Episode Keistimewaan
Di thread ini aku akan menceritakan pengalamanku bersama keistimewaan (atau kutukan) yang aku miliki. Pada awalnya aku enggan membagi pengalamanku ini karena muak sudah rasanya dianggap sebagai seorang penipu, pembohong, pencari sensasi atau apapun itu. Sedari awal aku pengen ingatkan ke temen- temen bahwa aku tidak memiliki bukti apapun dan tidak akan mencoba membuktikan apapun. Aku hanya ingin temen-temen merasakan sedikit perjalananku yang notabene adalah makhluk amphibi karena hidup di dua dunia. Well at least aku bisa melihat kedua dunia.

Sekali lagi motivasi saya hanya untuk membagi cerita. Jadi maaf kalau nantinya saya mendapat banyak comment atau pesan yang tidak saya balas.

Janji saya:
Saya akan menyelesaikan cerita ini sampai tuntas (episode ke 50), dan saya akan menghilang (dalam artian apapun) setelah cerita ini selesai saya bagi.

INDEX:
Prologue
Episode 1: Level 8
Episode 2: Kado Kelulusan
Episode 3: Perkenalan SMP
Episode 4: Pemain ke-15
Episode 5: Penjaga Rumah
Episode 6: Bencana
Episode 7: Jurit Malam
Episode 8: Penghuni Candi
Episode 9: Penghuni Candi bag.2
Episode 10: Lik Sri
Episode 11: Resep Rahasia
Episode 12: Peneman Tak Diundang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Sisi apa yang temen-temen pengen baca secara detail?
Horror
73%
Asmara
9%
Keluarga
18%
Diubah oleh arako.santo93 05-02-2019 10:07
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
39
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
#35
Peneman Tak Diundang

Halo teman-teman. Maaf sudah lama aku tidak melanjutkan kisah ku. Kesibukan akhir tahun di Jepang membuatku tidak punya waktu untuk berbagi dengan kalian. Tapi tenang, janjiku akan aku tepati.

Pengalaman kali ini terjadi sekitar tahun 2008 saat aku berada di bangku sekolah mengah tingkat 3 dan bertempat di lingkungan sekitar rumahku. Di dekat sebuah lapangan yang biasa dipakai untuk latih tanding team sepakbola kebanggaan kota istimewa, terdapat sebuah rumah kecil dengan desain yang unik. Dindingnya berwarna kuning bertingkat dua. Pagar berwarna hijau dengan hiasan ukiran daun. Setiap aku melihat rumah itu, aku selalu berkhayal seandainya aku bisa membeli rumah sendiri seperti itu. Hanya satu yang tidak mengenakkan dari penampilannya, halamannya sangat kumpuh dan dipenuhi rumput liar. Wajar, saat itu rumah kecil nan indah itu sudah tidak berpenghuni selama 3 tahun.

Beberapa kali aku mendengar bahwa warga sekitar mempercayai kalau ada ‘penjaga’ yang membuat semua penghuni rumah angkat kaki tidak lama setelah mereka menempatinya. Tidak sedikit pula kisah mistis yang aku dengar dari mereka. Pak Ngadio, penjual angkringan di dekat rumah itu mengaku pernah mengalami kejadian aneh tersebut. Ketika itu malam sangat larut, pembeli sudah sangat jarang, tapi karena banyak dagangan yang masih tersisa, pak Ngadio memutuskan untuk tidak pulang.

Tidak lama kemudian pak Ngadio mendengar suara langkah sandal jepit yang diseret, diikuti dengan suara salam yang halus. “Tasih buka pak (apa masih buka pak?)”. Pak Ngadio pun menjawab dengan gembira “Tasih mbak monggo pinarak (Masih mbak, mari mampir)”. Selang beberapa lama, pak Ngadio bingung karena setelah salam tersebut tidak ada sosok siapapun yang muncul. Pak Ngadio mencoba melihat keluar angkringannya dan benar saja memang tidak ada siapapun. Ketika memutuskan untuk kembali masuk, pak Ngadio terdiam tidak bergerak melihat gorengannya melayang. Tidak berhenti di situ, gorengan yang tadi melayang sedikit demi sedikit digigit hingga habis. Pak Ngadio yang ketakutan hanya terdiam, hingga tepat di depan wajahnya, pak Ngadio mendengar suara “sedaya pinten pak? (semua berapa pak?)”.
Tanpa pikir panjang pak Ngadio lari mengambil sepedanya dan pulang meninggalkan angkringan dan dagangannya.

Aku memang memiliki keistimewaan melihat mereka, tapi aku tidak percaya mereka bisa menampakan diri apalagi menjahili orang yang tidak memiliki keistimewaan untuk melihat mereka seperti pak Ngadio. Hingga pada suatu hari aku pulang dari sekolahku kurang lebih jam 8 malam. Suasana kota istimewa pukul 8 malam masih sangat ramai dengan hingar bingar dunia malam dan keramah tamahannya. Aku melewati rumah itu karena memang itu jalan tercepat untuk pulang. Tidak ada pikiran dan perasaan apapun saat itu. Namun tiba-tiba aku rasakan jok belakangku menjadi berat, bahkan aku dengar suara shock breaker ku berkerit seperti ada yang meloncati jok belakangku.

Tanpa berpikiran aneh, aku turun untuk mengecek ban, mungkin ban ku bocor. Tapi semuanya aman, tidak ada yang bermasalah. Aku pun melanjutkan perjalanan masih dengan jok belakangku yang terasa berat. Sampai di ujung jalan, aku berniat untuk berbelok ke arah kiri untuk menuju rumah.

Sebelum aku lanjutkan, aku ingin bertanya ke teman-teman. Pernahkah kalian merasakan bahwa tiba-tiba kalian ingin menuju ke suatu arah, namun sesampainya di sana kalian lupa apa yang akan kalian lakukan. Begitulah yang aku rasakan saat itu. Aku yang tadinya ingin belok kiri, tiba-tiba mengubah arah ke kanan. Sama sekali aku tidak tahu apa yang aku pikirkan dan apa yang ingin aku lakukan. Aku hanya mengendarai motor hingga aku sampai di sebuah mini market. Aku berhenti di sana sejenak dan aku rasakan jok belakangku menjadi enteng. Saat itu juga aku bingung kenapa aku berhenti di depan mini market. Lalu aku putuskan untuk pulang ke rumahku. Hal yang sama terjadi berulang kali dan selalu berujung dengan aku berhenti di mini market dan pulang tanpa tau apa tujuan ku.

Dua minggu sejak pertama aku merasakan keanehan itu, seseorang datang ke rumahku. Rupanya dia adalah tukang becak langganan eyang ku kalau ingin ke pasar. Namanya pak Ratno. Aku buka pintunya dan aku bilang “enti nggih pak? Tengga sekedap nggih (Dipanggil eyang ya pak? Tunggu sebentar ya)”. Tapi pak Ratno kemudian mencegat ku untuk memanggil eyang.

P. Ratno: “Mas kula mboten ditimbali eyang kok” (Mas saya tidak dipanggil eyang kok)
Aku: “Oh, lha wonten menapa pak?” tanyaku. (Oh terus ada apa pak)
P. Ratno: “Namun badhe maturnuwun lan ngapunten sampun ngrepoti” jawabnya. (Hanya mau berterimakasih dan maaf karena merepotkan)
Aku: “Lhoh ngrepoti sinten pak? Kula? Ngrepoti napa?” tanyaku bingung. (Loh merepotkan siapa pak? Saya? Merepotkan apa?)
P. Ratno: “Sampun nderekaken mbak Ratna” katanya sambil mengayuh becaknya dan pamit. (Sudah mengantar mbak Ratna)

Aku benar-benar tidak tahu apa yang dibicarakan pak Ratno. Siapa mbak Ratna? Aku antar ke mana?
Aku kembali ke dalam rumah dengan masih kebingungan. Aku melihat eyangku di dekat teras sedang menyapu.

Aku: “Tak ewangi kene ti” (Sini aku bantu eyang)
Enti: “Ora usah, wis rampung kok” jawabnya. (Tidak usah, udah selesai kok)
Aku: “Mau pak Ratno rene ti, tak kira nggoleki enti” (Tadi pak Ratno ke sini eyang, aku kira nyariin eyang)
Enti: “Lhoh pak Ratno wis mari to?” (Lhoh pak Ratno udah sembuh?)
Aku: “Lhoh opo bar gerah po?” tanyaku (Lhoh emang habis sakit?)
Enti: “Iya, wis 2 minggu ora mbecak soal e bar operasi” (Iya sudah dua minggu nggak narik becak karena habis operasi)

Aku diam dan merasa ada sesuatu dari fakta itu. “Tidak menarik becak? Sakit? Dua minggu? Wait! 2 Minggu!!!” pikirku dalam hati. Dua minggu itu persis seperti waktu aku mengalami keanehan di motorku setiap melewati rumah itu, dan memang setelah hari itu aku tidak pernah lagi mengalami keanehan itu. Setelah aku temui pak Ratno beberapa hari kemudian untuk mencari kejelasan pembicaraan kami tadi, aku tahu bahwa Ratna adalah gadis yang menempati rumah tadi. Pak Ratno bisa dibilang adalah tukang becak pribadi Ratna. Ratna memang makhluk halus, tapi dia bisa menampakan diri ke orang-orang yang menurutnya bisa dipercaya. Ratna sering minta diantar ke mini market, ke warung, atau bahkan jalan-jalan ke malioboro. Pak Ratno mengaku setiap kali mengantar Ratna, dia selalu dibayar, namun uang yang dia terima selalu berubah menjadi kertas warna putih di pagi hari.

Sepulang dari pembicaraan itu, aku melwati rumah itu lagi. Aku sempatkan berhenti dan menatap rumah itu. Benar saja, aku melihat sosok Ratna dari balik tirai jendela lantai dua. Mungkin dia ingin berterimakasih juga. Ratna adalah satu dari beberapa makhluk yang tidak membuatku takut. Karena menurutku dia memiliki tingkah laku seperti manusia pada umumnya, hanya dunianya saja yang berbeda.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.