Kaskus

Regional

bhintuniAvatar border
TS
bhintuni
Pendekar Wiro Sableng di negeri tirai bambu
Pendekar Wiro Sableng di negeri tirai bambu

WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Karya : BASTIAN TITO
EPISODE : CINTA ORANG-ORANG GAGAH
***********

SAAT ITU menjelang fajar menyingsing. Kesunyian dirobek oleh suara tawa bergelak seseorang. Orang ini tengah berlari cepat ke jurusan timur. Jelas suara tawanya bukan tawa sembarangan. Bukan saja mengejutkan burung-burung serta binatang-binatang lain yang tengah tertidur nyenyak dalam pelukan udara dingin, tetapi juga menggetarkan tanah pada tempat-tempat yang dilajuinya. Begitu cepat manusia ini berlari hingga dalam waktu singkat dia sudah menempuh jarak ratusan tombak. Suara tawanya masih juga terus mengumandang. Di lain saat di ufuk timur merambas sinar terang tanda matahari telah terbit menyembulkan diri. Tanda malam telah berganti dengan siang. Orang itu hentikan larinya. Dibasahinya mukanya dengan air embun yang menempel pada dedaunan di sekitarnya, Setelah merasakan kesegaran maka dia meneruskan perjalanan kembali. Seperti tadi lagi-lagi berlari sambil mengumbar tawa. Namun sekali ini suara tawanya tidak berlangsung lama. Dua bayangan hijau berkelebat. Satu teguran yang hampir merupakan bentakan lantang terdengar. "Singgar Manik! Gerangan apakah yang membuatmu pagi-pagi begini demikian gembiranya?!" Orang yang lari sambil tertawa hentikan Jari dan memandang ke depan. Begitu melihat dua manusia berjubah hijau yang berdiri sepuluh langkah di hadapannya, bergetarlah hatinya. Perasaannya serta merta jadi tidak enak. Dua orang berjubah hijau itu adalah dua brahmana kembar dari Bali yang dikenal dengan julukan Sepasang Kobra Dewata. Jubah mereka yang hijau, kepala yang botak plontos ditambah muka yang lebar serta tampang-tampang yang tidak sedap untuk dipandang, membuat keduanya benar-benar hampir menyerupai dua ekor ular kobra yang angker. Siapa tokoh silat di Jawa Timur yang tidak kenal dengan dua manusia yang menguasai rimba persilatan di Pulau Dewata ini? Mereka bukan dari golongan baik-baik. Inilah yang membuat orang tadi yakni Singgar Manik merasa tidak enak walau dia sendiri bukan pula tergolong manusia bersih dan baik! Setelah berbasa basi dan menjura pada kedua orang itu Singgar Manik lantas berkata: "Di pagi begini bertemu dengan Sepasang Kobra Dewata sungguh merupakan hal yang tidak terduga. Satu kehormatan bagiku kalian mau menegur bertutur cakap. Hendak kemanakah kalian berdua?" Nyoka Gandring, orang tertua dari Sepasang Kobra Dewata rangkapkan tangan di muka dada. Sambil mengulum senyum dia berkata: "Angin kegembiraanmu lah yang agaknya telah membawa kami ke mari. Coba kau terangkan apa. yang begitu menggembirakan mu hingga tertawa bergelak sepanjang jalan? " "Ah, sebenarnya tidak ada apa-apa," menjawab Singgar Manik. Hatinya semakin tidak enak. "Aku tertawa karena menurutku hidup dengan tawa gembira bisa mendatangkan kebahagiaan." "Betul sekali!" menyahuti orang kedua dari Sepasang Kora Dewata yaitu Nyoka Putubayan. "Tetapi kami mendapat firasat bahwa kegembiraanmu kali ini bukan kegembiraan biasa. Terangkanlah. Bagi sedikit kegembiraanmu itu pada kami berdua!" Singgar Manik coba tersenyum. "Jika kalian memang ingin bergembira, mari ikut ke tempat kediamanku biar kujamu makanan dan minuman yang enak enak! Dan kalau kalian butuh perempuan cantik untuk hiburan, tak usah kawatir. Katakan saja kalian mau yang bentuk bagaimana aku Singgar Manik pasti menyediakannya!" Nyoka Gand ring mendehem beberapa kali sedang Nyoka Putubayan hanya menyeringai. " Aih, undanganmu sungguh patut untuk diterima, Hanya sayang kami tak punya waktu banyak. Karenanya kuharap kau sudi membagi kegembiraan mu di sini saja sobatku Singgar Manik!? Singgar Manik coba sembunyikan rasa kagetnya sambil berkata: "Kegembiraan apakah yang musti kuberikan di sini. Kau ini ada-ada saja, sobatku Nyoka Gandring. Ah, akupun tidak punya banyak waktu . . . " Singgar Manik menjura dalam-dalam lalu siap untuk meninggalkan kedua orang itu. Tetapi Nyoka Putubayan cepat bergerak menghadangnya seraya berkata: "Kenapa musti terburu-buru Singgar Manik. Siang masih jauh. Lagi pula pembicaraan kita belum selesai" "Harap maafkan aku sobat-sobatku. Aku musti cepat kembali ke tempat kediamanku. Ada seorang tamu yang bakal datang" Nyoka Putubayan kembali menyeringai lalu bertanya: "Apakah tamumu itu pemilik tusuk kundai mustika yang kau curi dan sekarang berada di balik pakaianmu . . . . ?!" Kini Singgar Manik tak dapat lagi menyembunyikan perubahan air mukanya. Meskipun demikian dia masih menjawab: "Nyoka Putubayan, aku tidak mengerti. Kau ini membicarakan soal apakah?" Nyoka Putubayan tersenyum jumawa. Sambil rangkapkan sepasang tangan di depan dada dia lalu berkata: "Seminggu lalu kami ketahui kau berada di sekitar danau Jembangan. Kau telah mencuri sebentuk tusuk kundai dari tempat kediaman tokoh silat yang bergelar Si Pemusnah Iblis. Tusuk kundai itu bukan benda sembarangan. Merupakan satu senjata mustika. sakti. Sejak lama kami dengar kau adalah seorang pencuri lihay yang suka mencuri dan mengumpulkan barang-barang curian itu, terutama benda-benda mustika, apalagi berupa senjata pasti jadi incaranmu. Sekarang perlihatkan pada kami tusuk kundai itu!" Singgar Manik geleng-geleng kepala sambil berdecak. "Pendengaran dan penglihatan kalian benar-benar tajam luar biasa. Memang satu minggu lalu aku berada di danau Jembangan. Aku berniat hendak mencuri tusuk kundai yang kau katakan itu. Namun maksudku tidak kesampaian. Si Pemusnah Iblis terlalu tinggi ilmunya. Dia memergokiku. Untuk melawannya aku mana punya kemampuan? Daripada mendapat celaka lebih baik mengundurkan diri. Lain hari jika angin baik aku akan berusaha lagi mendapatkannya. Kalau kalian mau ikut sama-sama, hatiku akan senang sekali! Nah puaskah kalian atas keteranganku ini?!" "Puas! Puas sekali! "sahut Nyoka Putubayan. Lalu saudaranya menimpali: "Juga puas sekali melihat kecerdikanmu. Tapi jangan harap kau bisa menipu Sepasang Kora Dewata dengan kecerdikanmu itu Singgar Manik. Keluarkan tusuk kundai itu. Berikan padaku. Lekas! Jangan berani berbohong!" Habis berkata begitu Nyoka Gandring ulurkan tangannya. "Nyoka Gandring! Apakah aku harus bersumpah untuk meyakinkan bahwa aku betulbetul belum berhasil mendapatkan tusuk kundai mustika itu?" "Bersumpah?! Bagus juga. Tapi jangan bersumpah pada Dewa atau Tuhan! Bersumpahlah pada setan! Ayo serahkan senjata mustika itu padaku sebelum aku kehilangan kesabaran!" Nada suara Nyoka Gandring mengandung hawa ancaman. Singgar Manik terkesima sesaat. Dia menimbang-nimbang. Untuk mengikuti kemauan Sepasang Kobra. Dewasa itu terlalu berat baginya. Sebaliknya tidak mengikuti berarti melawan yang pasti disusul dengan terjadinya bentrokan. Menghadapi Sepasang Kobra Dewata yang terkenal hebat itu bukan satu hal yang mudah. Tiba-tiba Nyoka Gandring mendengus. 
aphen124Avatar border
aphen124 memberi reputasi
3
13.1K
1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Regional Asia Lainnya
Regional Asia Lainnya
KASKUS Official
1.7KThread278Anggota
Tampilkan semua post
bhintuniAvatar border
TS
bhintuni
#408
Gadis cilik itu kini tampak mengenakan sehelai pakaian baru yang bagus, dan sampai saat itu masih saja celingak-celinguk terkagum-kagum memperhatikan keindahan ruangan besar itu. Sesaat kemudian dilihatnya tirai ungu terbuka dan seorang perempuan muda yang luar biasa cantiknya, mengenakan pakaian ungu tipis melangkah keluar dari balik tirai diiringi lima dara masing-masing berpakaian biru, kuning, hijau, abu-abu dan coklat. Di samping kiri tampak perempuan tua berpakaian putih itu. "Eh… Nek…!" seru Ayu Lestari. "Kemarilah! Aih… Kau habis berdandan, rupanya! Wajahmu jadi seperti muda dan tambah cantik!" imbuh Ayu. Si nenek hanya tersenyum sambil palangkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi tanda agar Ayu Lestari jangan bicara terus. Saat itu Ayu melihat perempuan muda berbaju ungu telah duduk di atas kursi besar sementara lima gadis tegak di samping kiri kanan kursi dan si nenek sendiri melangkah menuruni tangga menjemputnya. Dia memberi isyarat pada Ayu agar berdiri. Gadis kecil itu segera berdiri diikuti oleh Roro Merah. "Nek, siapakah orang yang duduk di atas kursi besar itu…?" berbisik Ayu Lestari. "Dialah Ratu Laut Utara… Pemimpin kita di Kerajaan bawah laut ini…" Ayu Lestari lantas ingat ketika dia dibawa melangkah ke dalam laut. "Kerajaan bawah laut katamu nek? Apakah saat ini kita berada di bawah laut…? Ayu tidak melihat air laut sama sekali. Dan kita semua tidak tenggelam…" "Betul, kita memang berada di dasar laut," jawab si nenek. "Dengar, aku tidak akan menceritakan apa-apa dulu. Lekas beri penghormatan pada Sri Ratu…" Sebagai anak desa, cara penghormatan yang diketahui Ayu bukanlah menjura atau berlutut, melainkan mencium tangan orang. Maka begitu mendengar kata-kata si nenek tadi, gadis cilik ini segera lari menaiki tangga dan begitu sampai di hadapan Sri Ratu dia menyalaminya lalu mencium tangan Sri Ratu. Nenek Cempaka dan enam orang dara semula menjadi tercekat khawatir kalau-kalau tindakan gadis cilik itu tidak berkenan di hati Sri ratu. Namun ketika mereka melihat Sri Ratu mengulurkan tangan menyambut salam Ayu sambil tersenyum, legalah semua orang yang ada di situ. Untuk beberapa lamanya, setelah mencium tangan Sri Ratu, Ayu masih memegangi tangan itu dan menatap wajah yang cantik jelita itu. Belum pernah dia melihat perempuan secantik itu. Mulutnya yang polos langsung saja menyatakan kekaguman. "Sri Ratu, wajahmu cantik sekali. Matamu bagus dan bersinar. Ayu kagum melihatmu…" Sri Ratu tersenyum lebar. "Anak baik, kepolosanmu menyatakan kejujuranmu. Apakah kau ingin punya mata sebagusku…?" "Tentu saja mau Sri Ratu. Tapi mana mungkin Ayu bisa punya mata sebagus dan sebening matamu…" "Kau akan memilikinya ketika kau berusia tujuh belas tahun Ayu…" "Ah, betulkah itu?" Sri Ratu mengangguk. Lalu bertanya, "Apakah kau suka tinggal di sini?" "Suka sekali Ratu. Tapi nenek itu hanya membawa Ayu sekedar melihat-lihat. Ayu harus kembali ke Kaliwungu. Ibu Ayu…" Sampai di situ, anak ini ingat apa yang terjadi atas diri ibu, nenek dan kakek, serta salah seorang kawannya yang mati dibunuh Djarot Pangestu. Wajahnya menjadi merah dan dia berusaha menahan isakan. "Ayu, kami semua sudah memutuskan bahwa kau tidak akan kembali ke Kaliwungu. Jangan khawatir akan jenazah orang-orang yang kau cintai itu. Mereka semua sudah ada yang mengurusnya. Kau tinggal di sini, ikuti segala petunjuk Nenek Cempaka dan enam pembantuku…." Sri Ratu mengusap kepala Ayu Lestari dengan tangan kirinya. Tangan kanannya ditarik genggaman Ayu. Saat itulah Sri Ratu melihat sendiri ruas bersilang pada telapak tangan gadis kecil itu. "Kalian boleh pergi sekarang…" kata Sri Ratu. Nenek Cempaka memegang lengan Ayu Lestari. Sebelum meninggalkan tempat itu gadis kecil ini bertanya, "Sri Ratu, kapan Ayu boleh melihatmu lagi?" "Tujuh tahun di muka Ayu," jawab Sri Ratu. Selagi Ayu terheran-heran mendengar jawaban itu, Sri Ratu sudah membalikkan diri dan masuk kembali ke bilik tirai ungu bersama enam gadis jelita pembantunya. Di ujung ruangan, Ayu Lestari berhenti melangkah dan berpaling pada Nenek Cempaka. "Nek, Ayu heran…" "Apa yang kau herankan Ayu?" "Menurut cerita-cerita yang pernah Ayu dengar, yang namanya kerajaan itu pasti ada pasukannya. Pasti ada prajurit pengawal dan sebagainya. Tapi Ayu tidak melihat seorang lelaki pun di sini…." "Ah, matamu kurang mengawasi," jawab si nenek. "Cobalah kau memandang berkeliling. Lalu katakana apa yang kau lihat…" si nenek mengusap mukanya tiga kali. Ayu Lestari memandang berkeliling. Dan heranlah anak ini. Di seputar ruangan dia kini melihat puluhan prajurit gagah bersenjatakan pedang dan tombak tegak dengan sikap mengawal. "Apa yang kau lihat Ayu?" tanya si nenek. "Ayu melihat prajurit-prajurit banyak sekali. Mereka sangat gagah, memegang tombak putih berkilat, membekal pedang di pinggang masing-masing. Tapi eh… Kini mereka semua lenyap Nek, menghilang ke mana mereka?!" seru Ayu Lestari. Si nenek menarik tangan anak itu seraya menjawab, "Itulah salah satu keanehan dan keajaiban di Kerajaan Bawah Laut ini, Ayu. Akal manusia biasa tidak akan bisa memecahkannya." TUJUH ORANG tua bertubuh tinggi kurus itu memandang ke langit. Saat itu tengah hari di mana sang surya memancarkan sinarnya dengan terik. Meski dia berada di bukit yang cukup tinggi namun kesejukan udara di situ kalah oleh panasnya cahaya matahari. Awan berarak di sebelah tenggara. Di arah selatan rombongan burung terbang menuju ke barat. Di puncak bukit itu suasana sunyi dan panas. Lelaki tua itu masih menunggu. Tepat ketika sang surya mencapai titik tertingginya maka dia pun mematahkan sebatang cabang pohon kecil lalu laksana kilat berlari ke puncak bukit. Di puncak bukit itu terdapat setumpuk timbunan batu-batu cadas. Dengan cabang pohon di tangan kanannya orang tua ini memukul batu-batu itu. Satu demi satu batu itu mencelat mental, ketika batu terakhir terlempar jauh, maka di tanah tampak terbujur sesosok tubuh yang hanya mengenakan sehelai celana pendek warna hitam. Sosok tubuh itu sama sekali tidak bergerak. Tak ada tampak tarikan nafas pada dada atau pun perutnya. Sekujur tubuhnya mulai dari kaki sampai ke muka tampak penuh dengan luka- luka. "Anak manusia berhati keras! Masih hidup atau sudah matikah engkau?" Si orang tua berseru. Tak ada jawaban. Dia lalu membungkuk mendekatkan telinga kirinya ke dada di arah jantung. "Luar biasa! Empat puluh hari ditanam jantungnya masih berdetak!" Orang tua itu lalu bangkit dan pandangi sosok tubuh yang tergeletak sambil geleng-gelngkan kepalanya. "Huah!" tiba-tiba orang yang terbujur itu keluarkan suara keras. Detik itu pula tubuhnya melompat dan tahu-tahu dia sudah berdiri di hadapan lelaki tua. Orang ini berbadan tinggi tapi di hadapan si orang tua, tingginya hanya sampai ke dadanya. "Raja Batu Di Batu!" seru orang yang barusan dikubur di bawah tumpukan puing batu "Aku berhasil!" "Kau memang hebat Djarot Pangestu. Selama seratus limapuluh tahun usiaku, kau adalah orang kedua yang sanggup lulus dari ujian berat ini! Sekarang kau menguasai ilmu kesaktian itu. Kau telah menjadi manusia batu!" Ternyata orang yang barusan ditimbun batu- batu itu adalah Djarot Pangestu. Manusia jahat yang begitu keluar dari penjara telah membunuh bekas Adipati Ambarawa dan istrinya, serta membunuh ibu Ayu Lestari dan juga membunuh seorang anak kecil tidak berdosa, kawan Ayu Lestari. "Terimakasih kakek. Itu semua berkat keikhlasanmu mewariskan ilmu kesaktian itu padaku…." "Dan kekerasan hatimu untuk membalas dendam!" Djarot Pangestu mengangguk. "Dan demi tugas yang aku bebankan padamu. Membunuh nenek sakti Cempaka itu!" "Akan aku jalankan tugasmu dengan baik!" ujar Djarot Pangestu pula. "Sekarang bolehkah aku mencoba kehebatan ilmu baruku?" "Silahkan!" jawab lelaki tua yang disebut dengan gelar Raja Batu Di Batu. Djarot Pangestu melangkah mendekati sebuah batu besar. Kaki kanannya tiba-tiba ditendangkan. "Braakkk!!!" Batu besar itu hancur berantakan. Dia merasa belum puas. Didekatinya sebuah batu besar lainnya. Lalu dengan tangan kirinya dihantamnya batu itu, "Braaaakk!!!" Hal yang sama terjadi. Batu itu pecah berkeping-keping. Raja Batu Di Batu tertawa mengekeh. "Jika kau masih belum percaya, lihat ini!" kata si kakek berseru. Lalu dia menyambar sebuah potongan batu sebesar tetampah seberat hampir lima puluh kati. Batu ini dihancurkannya ke kepala Djarot Pangestu. Djarot agak kaget dan berusaha menghindar. Tapi batu menghantam kepalanya lebih cepat. Djarot tampak terhuyung-huyung dan dia menyaksikan bagaimana batu yang dihantamkan ke kepalanya pecah berantakan. Dia sendiri merasakan seperti di tepuk pada kepalanya yang dihantam batu tadi. Tidak ada luka, benjut pun tidak! "Raja Batu Di Batu! Aku benar-benar percaya pada kesaktian yang kini aku miliki. Aku sangat berterimakasih padamu!" Habis berkata begitu Djarot Pangestu lalu berlutut di hadapan orang tua berusia 150 tahun itu. "Setelah memiliki ilmu kesaktian itu, kau tentu ingin cepat-cepat menyeberang ke Tanah Jawa. Membalaskan sakit hatimu pada Cempaka, meneruskan dendam kesumatmu dengan menghabiskan sisa turunan Menak Srenggi yang menurutmu lolos dari kematian karena ditolong oleh si nenek yang kemudian mengalahkanmu! Kau boleh pergi sekarang juga Djarot. Tanah Bugis ini sangat jauh dari Ambarawa. Kau harus menghabiskan waktu paling tidak duapuluh hari pelayaran untuk kembali ke sana."
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.