- Beranda
- Stories from the Heart
PURI KERAMAT
...
TS
breaking182
PURI KERAMAT
PURI KERAMAT
Quote:

SINOPSIS
Quote:
Berawal dari kematian Ario Keling seorang keturunan bangsawan di masa kerajaan Mataram. Ke empat anaknya beserta dua menantunya datang ke desa Kemulan untuk menghadiri prosesi pemakaman. Suatu desa terpencil yang terletak di lereng Gunung Merapi dan selalu berselimutan kabut. Inka salah satu menantu Ario Keling merasakan ada keganjilan pada saat akan memasuki pintu gerbang puri. Ia melihat sesosok bangsawan di atas punggung kuda besar dengan dua dayang pengiring. Tidak sampai disitu saja, satu hari sebelum pemakaman Ario Keling. Suaminya yang bernama Nagara atau anak sulung Ario Keling tiba –tiba lenyap tidak berbekas secara misterius. Dari situlah rentetan peristiwa berdarah di mulai. Apakah pelakunya Nagara karena ingin menguasai harta warisan yang tersimpan di dalam puri itu? Dan siapakah yang akan keluar dari puri itu hidup – hidup?
Quote:
INDEKS
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
TAMAT
Diubah oleh breaking182 27-02-2019 10:49
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8
14.7K
Kutip
71
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#39
PART 16
Quote:
Bramasta seketika mengenalinya. Wajahnya pun memerah padam. Karena marah dan terkejut. Bramasta mengangkat muka. Melihat ke luar pintu. Karta masuk dengan sikap tenang, wajah tanpa emosi seperti biasa. Mantel hujannya ia lempar sembarangan ke sebuah kursi. Inka berjalan gontai di belakangnya. Sambil sedapat mungkin matanya menghindari apa yang tergeletak di lantai dekat pintu. Tiba di dalam ruangan, Inka lantas menjauhi pintu.
Lalu memusatkan perhatiannya pada yang lebih menyenangkan untuk dilihat yaitu Bramasta. Bramasta balas menatap. Lalu ia menangkap sesuatu di balik sinar mata Inka. Pandangan perempuan itu, dingin. Membuat jantung Bramasta berdetak lebih cepat.
"Kau apakan suamiku, Bram?", Inka berbisik.
Sama dingin dengan sorot matanya. Sesaat Bramasta gugup. Tetapi cepat ia kuasai diri nya. Menunjuk dengan botol anggur dalam genggaman ke lantai dekat pintu, ia mencoba tertawa.
Seraya berkata dengan bujukan : " Itu 'kan mertuamu. Bukan Nagara suami mu itu"
"Mayatnya, benar. Pakaiannya tidak!"
Bramasta melihat ke arah apa yang mereka percakapkan. Pura-pura meneliti. Ia sudah melupakan isi botol di tangannya. Di dalam pikiran Bramasta hanyalah, bagaimana menyelamatkan nama baiknya, dan bagaimana pula ia harus menampilkan diri di depan Inka seperti posisi sebelumnya. Namun otaknya tidak mau diajak bekerjasama.
Inka mengulangi pertanyaannya: "Kau apakan suamiku?!"
Karta yang sudah menangkap gelagat Bramasta akan terus menghindar, menjawabkan untuk Inka : "Sederhana saja, Mbak. Sudah semenjak tadi aku memikirkannya. Sederhana. Sangat sederhana ..."
Inka pun bertanya dengan bernafsu : "Jadi di mana sekarang suamiku, Pak Karta?"
Tanpa berani melihat ke wajah Inka, Karta berujar kering : "Dalam peti mati, Mbak. Yang dikuburkan tadi pagi ..."
Inka tersentak. Pucat. "Ya Allah, Tuhanku! Tidak mungkin. Aku tidak percaya ..."
"Itulah kenyataannya, Mbak"
Beberapa saat lamanya, Inka hilang pegangan. Tubuhnya mulai limbung. Cepat –cepat Karta memegang tangan Inka dan menuntunnya ke sebuah kursi. Di situ Inka duduk terhenyak, sedetik kemudian kepalanya lunglai ke samping.
Detik berikutnya, kepalanya kembali tegak. Ia memandang ngeri ke arah Karta : "Dan kalian mengubur suamiku hidup - hidup ..."
Karta menggeleng.
Ujarnya, lirih : "Firasatku sudah merasakan itu, tak begitu lama setelah kalian tiba di puri ini tengah malam tadi. Maafkan saya, Mbak. Saya tak tahu bagaimana terjadinya saya hanya merasakan. Saya pun sudah berusaha mencari barangkali ada yang masih tersisa seperti biasa ..."
Inka mengerang. Merintih.
Bramasta tambah gugup. Kini ia teringat pada botol di tangannya. Dan tanpa membuang tempo sia - sia, botol diangkat cepat. Isinya di tenggak. Tanpa berhenti. Karta pun berpaling.
Dan ternyata, wajah itu juga dapat memperlihatkan emosi. Mata tuanya membara mencorong merah menakutkan. Mulut mengatup, garang. Terdengar giginya bergemeretakan. Sementara Inka mulai mengisak di kursi, Karta pun meninggalkannya. Ia melangkah panjang dan pasti. Mendekati Bramasta, yang seketika menarik mulut botol dari mulutnya sendiri.
Karta pun menggeram. "Kau, manusia tak tahu diuntung ...!"
Bramasta pun mundur. Tetapi Karta terus maju.
"Mau apa kau, tua bangka !", dengus Bramasta, tak senang.
"Kau harus menebus perbuatanmu yang terkutuk", seru Karta sembari menyerbu ke depan. Kaki kanannya dengan cepat terayun menghajar dada Bramasta dengan telak. Bramasta terdorong ke belakang. Punggungnya membentur tembok. Dadanya berdenyut –denyut sakit. Dan tahu-tahu ia sudah merasa lehernya bagai tercekik capit besi. Jari jemari orang tua renta itu, ternyata mampu menjepit sangat kuat.
Bramasta dengan cepat menggerakkan tangan yang memegang botol. Benda itu ia pukulkan ke sudut meja terdekat. Suara pecahnya berderai mengejutkan. Inka mengangkat muka, dan melihat botol di tangan Bramasta tinggal sepotong. Ujung – ujung potongannya runcing berkilat-kilat. Inka terpekik.
Karta masih terus membenamkan telapak tangan di leher Bramasta. Akan halnya Bramasta, dengan sisa - sisa tenaga akibat tercekik, dibantu pengaruh minuman keras, akhirnya memperoleh kekuatan yang cukup untuk membenamkan ujung pecahan botol ke arah lambung Karta.
“ Mampus kau anjing tua !”
Inka memejamkan kedua kelopak matanya. Ngeri.
Ia tidak tahu bahwa Karta sedikitpun tidak terpengaruh oleh serangan gelap Bramasta. Justru si pemudalah yang tampak terpengaruh. Matanya membelalak heran. Ia memang mendengar bunyi tembus meretas mantel hujan lalu baju di balik mantel itu. Namun hanya sampai di situ. Ia telah berusaha mendorong botol yang tergenggam di telapak tangan, sekuat - kuatnya. Tetap saja tanpa hasil. Kemudian, perlahan - lahan kelopak mata Bramasta meredup tertutup. Manakala lutut Karta kembali menghujam ulu hatinya.
Karta membiarkan tubuh Bramasta melorot. Jatuh tersungkur ke lantai. Karta memandangi dengan tatapan tubuh yang tersungkur itu, terkulai diam tak sadarkan diri. Ia kemudian berjalan mendekati Inka, yang maSih duduk di kursi tanpa bergerak - gerak, tanpa berani membuka matanya.
"Mari, Mbak. Kuantar kau ke kamarmu ...."
Inka hanya menurut. Antara sadar dan tidak.
Lalu memusatkan perhatiannya pada yang lebih menyenangkan untuk dilihat yaitu Bramasta. Bramasta balas menatap. Lalu ia menangkap sesuatu di balik sinar mata Inka. Pandangan perempuan itu, dingin. Membuat jantung Bramasta berdetak lebih cepat.
"Kau apakan suamiku, Bram?", Inka berbisik.
Sama dingin dengan sorot matanya. Sesaat Bramasta gugup. Tetapi cepat ia kuasai diri nya. Menunjuk dengan botol anggur dalam genggaman ke lantai dekat pintu, ia mencoba tertawa.
Seraya berkata dengan bujukan : " Itu 'kan mertuamu. Bukan Nagara suami mu itu"
"Mayatnya, benar. Pakaiannya tidak!"
Bramasta melihat ke arah apa yang mereka percakapkan. Pura-pura meneliti. Ia sudah melupakan isi botol di tangannya. Di dalam pikiran Bramasta hanyalah, bagaimana menyelamatkan nama baiknya, dan bagaimana pula ia harus menampilkan diri di depan Inka seperti posisi sebelumnya. Namun otaknya tidak mau diajak bekerjasama.
Inka mengulangi pertanyaannya: "Kau apakan suamiku?!"
Karta yang sudah menangkap gelagat Bramasta akan terus menghindar, menjawabkan untuk Inka : "Sederhana saja, Mbak. Sudah semenjak tadi aku memikirkannya. Sederhana. Sangat sederhana ..."
Inka pun bertanya dengan bernafsu : "Jadi di mana sekarang suamiku, Pak Karta?"
Tanpa berani melihat ke wajah Inka, Karta berujar kering : "Dalam peti mati, Mbak. Yang dikuburkan tadi pagi ..."
Inka tersentak. Pucat. "Ya Allah, Tuhanku! Tidak mungkin. Aku tidak percaya ..."
"Itulah kenyataannya, Mbak"
Beberapa saat lamanya, Inka hilang pegangan. Tubuhnya mulai limbung. Cepat –cepat Karta memegang tangan Inka dan menuntunnya ke sebuah kursi. Di situ Inka duduk terhenyak, sedetik kemudian kepalanya lunglai ke samping.
Detik berikutnya, kepalanya kembali tegak. Ia memandang ngeri ke arah Karta : "Dan kalian mengubur suamiku hidup - hidup ..."
Karta menggeleng.
Ujarnya, lirih : "Firasatku sudah merasakan itu, tak begitu lama setelah kalian tiba di puri ini tengah malam tadi. Maafkan saya, Mbak. Saya tak tahu bagaimana terjadinya saya hanya merasakan. Saya pun sudah berusaha mencari barangkali ada yang masih tersisa seperti biasa ..."
Inka mengerang. Merintih.
Bramasta tambah gugup. Kini ia teringat pada botol di tangannya. Dan tanpa membuang tempo sia - sia, botol diangkat cepat. Isinya di tenggak. Tanpa berhenti. Karta pun berpaling.
Dan ternyata, wajah itu juga dapat memperlihatkan emosi. Mata tuanya membara mencorong merah menakutkan. Mulut mengatup, garang. Terdengar giginya bergemeretakan. Sementara Inka mulai mengisak di kursi, Karta pun meninggalkannya. Ia melangkah panjang dan pasti. Mendekati Bramasta, yang seketika menarik mulut botol dari mulutnya sendiri.
Karta pun menggeram. "Kau, manusia tak tahu diuntung ...!"
Bramasta pun mundur. Tetapi Karta terus maju.
"Mau apa kau, tua bangka !", dengus Bramasta, tak senang.
"Kau harus menebus perbuatanmu yang terkutuk", seru Karta sembari menyerbu ke depan. Kaki kanannya dengan cepat terayun menghajar dada Bramasta dengan telak. Bramasta terdorong ke belakang. Punggungnya membentur tembok. Dadanya berdenyut –denyut sakit. Dan tahu-tahu ia sudah merasa lehernya bagai tercekik capit besi. Jari jemari orang tua renta itu, ternyata mampu menjepit sangat kuat.
Bramasta dengan cepat menggerakkan tangan yang memegang botol. Benda itu ia pukulkan ke sudut meja terdekat. Suara pecahnya berderai mengejutkan. Inka mengangkat muka, dan melihat botol di tangan Bramasta tinggal sepotong. Ujung – ujung potongannya runcing berkilat-kilat. Inka terpekik.
Karta masih terus membenamkan telapak tangan di leher Bramasta. Akan halnya Bramasta, dengan sisa - sisa tenaga akibat tercekik, dibantu pengaruh minuman keras, akhirnya memperoleh kekuatan yang cukup untuk membenamkan ujung pecahan botol ke arah lambung Karta.
“ Mampus kau anjing tua !”
Inka memejamkan kedua kelopak matanya. Ngeri.
Ia tidak tahu bahwa Karta sedikitpun tidak terpengaruh oleh serangan gelap Bramasta. Justru si pemudalah yang tampak terpengaruh. Matanya membelalak heran. Ia memang mendengar bunyi tembus meretas mantel hujan lalu baju di balik mantel itu. Namun hanya sampai di situ. Ia telah berusaha mendorong botol yang tergenggam di telapak tangan, sekuat - kuatnya. Tetap saja tanpa hasil. Kemudian, perlahan - lahan kelopak mata Bramasta meredup tertutup. Manakala lutut Karta kembali menghujam ulu hatinya.
Karta membiarkan tubuh Bramasta melorot. Jatuh tersungkur ke lantai. Karta memandangi dengan tatapan tubuh yang tersungkur itu, terkulai diam tak sadarkan diri. Ia kemudian berjalan mendekati Inka, yang maSih duduk di kursi tanpa bergerak - gerak, tanpa berani membuka matanya.
"Mari, Mbak. Kuantar kau ke kamarmu ...."
Inka hanya menurut. Antara sadar dan tidak.
Quote:
Anita menahan nafas, matanya melotot nyaris seperti ingin keluar dari rongganya. Ia sendiri pun saat itu, tidak terpikir untuk mencari pertolongan. Ia dilanda ketakutan yang teramat sangat waktu ia dengar lagi nafas berat yang menyentak –nyentak itu. Namun timbul suatu dorongan untuk melihat dan mengetahui apa gerangan yang mengeluarkan bunyi aneh itu.
Setelah melirik ke kiri kanan, Anita pun melihatnya. Di permukaan rerumputan basah sesuatu bersosok lebar, panjang, dengan gerakan meliuk maju ke arah Anita. Di atas kaki yang luar biasa banyak jumlahnya. Mungkin ribuan. Tak ayal lagi, Anita terloncat mundur.
Barulah teringat untuk menjerit minta tolong. Tetapi jangankan membuka mulut, lidah seperti membelit tenggorokan. Lututnya pun terasa bagaikan lumpuh. Anita lantas merasa beruntung, sewaktu ia rasakan punggungnya tertahan sesuatu, dan sesuatu itu adalah mobil. Mobil dari mana Anita barusan turun. Anita pun merayap seketika. Masuk ke dalam mobil. Pintu - pintu ditutupkan lalu dikunci. Lampu depan yang masih menyala, buru-buru dipadamkan.
Dan itu adalah keputusan yang salah. Maut sudah berada di depan mata. Seketika ia berada dalam kegelapan total. Meringkuk di jok belakang mobil. Tanpa berani mengeluarkan nafas. Meski, sekujur tubuhnya gemetar hebat, dan keringat dingin dengan cepat membasahi kulit tubuhnya yang terasa membeku.
“ Sudah pergikah dia?"
Anita baru saja akan mengangkat muka, ketika banyak sekali kaki - kaki yang tak karuan bentuknya, tahu - tahu sudah merayapi kaca jendela pintu di depannya. Merayap tanpa suara, naik terus ke bagian atas mobil, namun yang masih tersisa di belakangnya seakan tak ada habis - habisnya. Anita menggerakkan leher untuk melihat ke jendela kaca di seberangnya. Kaki – kaki yang naik terlebih dahulu, kini sudah turun merayap di sebelah samping mobil.
Lantas, tiba-tiba sekali, gerakan kaki-kaki itu berhenti. Terdengar bunyi nafas lagi. Berat. Tersendat sendat. Kaki - kaki yang luar biasa banyak serta menutupi samping kiri maupun samping kanan mobil, tahu - tahu bergerak seperti membelit dan terus menekan, menekan dan menekan dengan kuat sekali. Didahului jendela - jendela kaca retak, kemudian pecah berantakan. Berhamburan ke dalam dan keluar mobil.
Anita terpekik, menjerit, kemudian lagi meronta-ronta histeris. Tetapi suaranya habis ditelan oleh bunyi body mobil tergencet kekuatan maha besar lalu pecah di beberapa tempat, begitu hingar bingar. Peristiwanya berlangsung hanya dalam beberapa helaan nafas saja. Dan ketika bunyi pecahan kaca maupun besi menghilang, mahkluk tadi pun ikut menghilang entah ke mana.
Apa yang tertinggal, hanyalah mobil teronggok gepeng dalam bentuk menyedihkan. Curah hujan membasahi onggokan mobil itu. Dan dari celah-celah pecahan badan mobil yang sudah tidak berbentuk itu, darah merembes ke luar. Terus mengalir terbawa air hujan lalu menggenang di aspal yang menghitam kelam.
Setelah melirik ke kiri kanan, Anita pun melihatnya. Di permukaan rerumputan basah sesuatu bersosok lebar, panjang, dengan gerakan meliuk maju ke arah Anita. Di atas kaki yang luar biasa banyak jumlahnya. Mungkin ribuan. Tak ayal lagi, Anita terloncat mundur.
Barulah teringat untuk menjerit minta tolong. Tetapi jangankan membuka mulut, lidah seperti membelit tenggorokan. Lututnya pun terasa bagaikan lumpuh. Anita lantas merasa beruntung, sewaktu ia rasakan punggungnya tertahan sesuatu, dan sesuatu itu adalah mobil. Mobil dari mana Anita barusan turun. Anita pun merayap seketika. Masuk ke dalam mobil. Pintu - pintu ditutupkan lalu dikunci. Lampu depan yang masih menyala, buru-buru dipadamkan.
Dan itu adalah keputusan yang salah. Maut sudah berada di depan mata. Seketika ia berada dalam kegelapan total. Meringkuk di jok belakang mobil. Tanpa berani mengeluarkan nafas. Meski, sekujur tubuhnya gemetar hebat, dan keringat dingin dengan cepat membasahi kulit tubuhnya yang terasa membeku.
“ Sudah pergikah dia?"
Anita baru saja akan mengangkat muka, ketika banyak sekali kaki - kaki yang tak karuan bentuknya, tahu - tahu sudah merayapi kaca jendela pintu di depannya. Merayap tanpa suara, naik terus ke bagian atas mobil, namun yang masih tersisa di belakangnya seakan tak ada habis - habisnya. Anita menggerakkan leher untuk melihat ke jendela kaca di seberangnya. Kaki – kaki yang naik terlebih dahulu, kini sudah turun merayap di sebelah samping mobil.
Lantas, tiba-tiba sekali, gerakan kaki-kaki itu berhenti. Terdengar bunyi nafas lagi. Berat. Tersendat sendat. Kaki - kaki yang luar biasa banyak serta menutupi samping kiri maupun samping kanan mobil, tahu - tahu bergerak seperti membelit dan terus menekan, menekan dan menekan dengan kuat sekali. Didahului jendela - jendela kaca retak, kemudian pecah berantakan. Berhamburan ke dalam dan keluar mobil.
Anita terpekik, menjerit, kemudian lagi meronta-ronta histeris. Tetapi suaranya habis ditelan oleh bunyi body mobil tergencet kekuatan maha besar lalu pecah di beberapa tempat, begitu hingar bingar. Peristiwanya berlangsung hanya dalam beberapa helaan nafas saja. Dan ketika bunyi pecahan kaca maupun besi menghilang, mahkluk tadi pun ikut menghilang entah ke mana.
Apa yang tertinggal, hanyalah mobil teronggok gepeng dalam bentuk menyedihkan. Curah hujan membasahi onggokan mobil itu. Dan dari celah-celah pecahan badan mobil yang sudah tidak berbentuk itu, darah merembes ke luar. Terus mengalir terbawa air hujan lalu menggenang di aspal yang menghitam kelam.
Quote:
Inka menyentuh tangan lelaki tua dan renta itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata. Kecuali memandang dengan sinar mata penuh terimakasih. Karta mengangkat mukanya. Balas menatap. Dan untuk pertama kali semenjak mereka bertemu, Karta tampak punya keberanian untuk menatap wajah Inka secara lama.
Sinar mata tulus dan senyuman lembut di bibir Inka, menyejukkan hati Karta. Ia sedikit terhibur. Lantas ikut ikutan memaksakan senyuman di bibir tuanya.
"Apakah kau sudah mengantuk Mbak Inka?"
"Mengantuk", ia bergumam, lirih.
"Dan suamiku terkubur di luar sana di guyur hujan dan diiringi desau badai yang semakin menggila! "
Namun di bibir, Karta berujar lain: "Setidak tidaknya, Mbak Inka masih hidup ...."
"Benar", Inka mengangguk, patah.
Kelopak matanya dipejamkan. "Benar. Aku masih hidup.
"Mbak Inka . .” , Karta berbisik lirih.
Kelopak mata Inka tetap terpejam rapat.
"Aku tidak percaya suamiku sudah mati. Dan aku hanya sedang bermimpi. Aku akan segera bangun dan semuanya ini akan segera berlalu. Ada Mas Gara di sampingku. Dan ...."
"Mbak Inka mencintainya?", Karta berujar, dengan suara agak dikeraskan.
Inka membuka matanya. Terkejut.
"Apa?"
"Barusan aku tanya. Apakah kau mencintai suamimu?"
"Sangat !",mata Inka terbuka. Tetapi mata itu menerawang. Jauh. Dan kosong.
"Mau mendengar dongeng Mbak Inka?"
Suara Karta seakan memanggil Inka untuk kembali ke dunia nyata setelah sekian lamanya pikirannya melayang ke masa lalu, masa dimana ia bertemu pertama kali dengan Nagara.
"Apa?", Inka tergagap terkejut.
" Katakan saja, sambil kita menunggu badai reda. Mudah-mudahan Mbak Inka pun akhirnya tertidur pulas. . ."
"Mbak Inka suka mendengar dongeng?"
"Terkadang, ya. Tetapi aku sudah setua ini untuk mendengarkan sebuah dongeng “
"Nah, akan kuceritakan sebuah kisah menarik untuk Mbak Inka seorang", tukas Karta tanpa memberi kesempatan pada Inka untuk menahan maksudnya. Dan, wajah Karta memperlihatkan, ia memang tidak mau dicegah! Matanya pun sudah menerawang.
Sinar mata tulus dan senyuman lembut di bibir Inka, menyejukkan hati Karta. Ia sedikit terhibur. Lantas ikut ikutan memaksakan senyuman di bibir tuanya.
"Apakah kau sudah mengantuk Mbak Inka?"
"Mengantuk", ia bergumam, lirih.
"Dan suamiku terkubur di luar sana di guyur hujan dan diiringi desau badai yang semakin menggila! "
Namun di bibir, Karta berujar lain: "Setidak tidaknya, Mbak Inka masih hidup ...."
"Benar", Inka mengangguk, patah.
Kelopak matanya dipejamkan. "Benar. Aku masih hidup.
"Mbak Inka . .” , Karta berbisik lirih.
Kelopak mata Inka tetap terpejam rapat.
"Aku tidak percaya suamiku sudah mati. Dan aku hanya sedang bermimpi. Aku akan segera bangun dan semuanya ini akan segera berlalu. Ada Mas Gara di sampingku. Dan ...."
"Mbak Inka mencintainya?", Karta berujar, dengan suara agak dikeraskan.
Inka membuka matanya. Terkejut.
"Apa?"
"Barusan aku tanya. Apakah kau mencintai suamimu?"
"Sangat !",mata Inka terbuka. Tetapi mata itu menerawang. Jauh. Dan kosong.
"Mau mendengar dongeng Mbak Inka?"
Suara Karta seakan memanggil Inka untuk kembali ke dunia nyata setelah sekian lamanya pikirannya melayang ke masa lalu, masa dimana ia bertemu pertama kali dengan Nagara.
"Apa?", Inka tergagap terkejut.
" Katakan saja, sambil kita menunggu badai reda. Mudah-mudahan Mbak Inka pun akhirnya tertidur pulas. . ."
"Mbak Inka suka mendengar dongeng?"
"Terkadang, ya. Tetapi aku sudah setua ini untuk mendengarkan sebuah dongeng “
"Nah, akan kuceritakan sebuah kisah menarik untuk Mbak Inka seorang", tukas Karta tanpa memberi kesempatan pada Inka untuk menahan maksudnya. Dan, wajah Karta memperlihatkan, ia memang tidak mau dicegah! Matanya pun sudah menerawang.
Quote:
Kuda besar hitam kokoh dan perkasa yang ditunggangi Tumenggung Jayengrono bergerak tidak terlalu cepat. Sementara di sampingnya seorang lelaki dengan perawakan tinggi dan memiliki badan kecil namun berotot turut mengiringi. Dia lah Kartajaya, orang keprcayaan sang tumenggung. Di belakangnya sekitar lima lusin prajurit pilihan berkuda dengan senjata lengkap mengikuti dengan penuh kewaspadaan. Sebentar lagi mereka akan keluar dari kawasan hutan belantara dan langsung menuju ke lereng Merapi sebelah barat.
Saat itu menjelang dini hari. Udara masih gelap dan hawa terasa dingin. Mendekati dua buah pohon besar yang terletak mengapit kira-kira dua tombak di depan jalan yang mereka tempuh Tumenggung Jayengrono perlambat langkah kuga tunggangannya. Dia memandang tak berkesip ke arah dua pohon besar di kiri kanan jalan.
”Ada apa Gusti ?” bisik Kartajaya dari atas kudanya.
”Saya punya firasat tidak enak Karta. Seperti ada yang sembunyi di balik pohon berpasang – pasang mata mengawasi dan menunggu saat kita lengah kemudian menyerang kita,” jawab Tumenggung Jayengrono.
“ Apakah kita sudah berada di tempat itu Gusti? Tempat yang katanya wingit dan penuh dengan roh - roh gaib yang haus darah itu ?”
“ Sepertinya, mereka sengaja mencegat kita di tempat ini. Karta...waspadalah jangan gegabah. Kita menghadapi siluman –siluman haus darah dan bukan manusia. Lengah sedikit saja kita bisa terbunuh di sini “
Kemudian Karta mengangkat tangan sebagai isyarat agar pasukan di belakangnya siap sedia jika ada sesuatu yang menyerang secara mendadak. Kilatan cahaya petir menerangi penghujung malam dalam sekejap dan gemuruh suara gunturnya memenuhi angkasa luas. Kaki –kaki kuda seperti ada yang mendorong pelan dari bawah. Sentakan-sentakan kecil itu terasa hanya lembut. Akan tetapi, makin lama makin terasa kuat.
" Ada yang bergerak-gerak di bawah tanah ini?!”, Tumenggung Jayengrono berteriak memperingatkan pasukannya.
Hembusan angin seperti berputar-putar tak tentu arah. Rintik hujan gerimis pun seakan lari ke sana-sini Lalu, terdengar suara dentuman dahsyat dari langit. Cahaya petir berkerilap cepat menoreh permukaan langit hitam.
Jlegaar...!
Suara guntur menggema tak berkesudahan. Tiba-tiba terdengar suara gaduh aneh dari sana sini. Suara gaduh itu seperti tanah yang mengalami keretakan. Pasukan Tumenggung Jayengrono dalam cekaman rasa tegangnya.
Bruuuss...!
Suara tanah yang menyembur ke atas. Getaran bumi mulai dirasakan semakin keras dan kuat. Lalu, tampak jelas bebatuan retak dan pecah, tanah seperti dibalik menggunakan sekop raksasa berhamburan kesana kemari.
Kuda tunggangan para pasukan itu sekonyong-konyong mengangkat kedua kaki depan tinggi tinggi, disertai ringikan keras, membahana dari satu sisi ke sisi bukit lainnya. Tidak terkecuali Tumenggung Jayengrono dan Kartajaya.
Tumenggung Jayengrono terkejut. Tali kendali terlepas dari pegangannya. Ia berusaha meraihnya kembali. Gagal karena kuda itu terus saja mengangkat tinggi ke dua kaki depan, gerakannya liar dan marah. Tumenggung Jayengrono berusaha merangkul leher kuda. Tumenggung Jayengrono berhasil, namun mendadak kuda tunggangannya merubah posisi. Kedua kaki depannya turun serempak menghantam tanah, dan kaki - kaki belakangnya yang kini terangkat. Menendang-nendang udara kosong, sambil terus meringkik, melompat, meliuk, melengkung-lengkungkan tubuh begitu hebat. Sampai akhirnya, Tumenggung Jayengrono terlempar dari punggung kuda.
Tumenggung Jayengrono berjumpalitan ke udara lalu turun dengan tegak di atas tanah. Sekarang di tangan kanannya telah tergenggam keris berpamor biru menyala. Itulah Keris Kelabang Sayuta. Sementara keadaan para prajurit juga tidak kalah hingar bingarnya. Lalu dalam tempo sekian detik saja, ringkikan puluhan kuda kini ditingkahi oleh jerit pekik sengsara seorang anak manusia. Terdengar pula bunyi tulang berderak patah. Disusul bunyi berdetuk lunak, manakala kuku- kuda berladam besi mendarat tanpa ampun di kepala beberapa prajurit pilihan yang musti harus terbanting ke bawah.
Dari dalam tanah yang bergolak itu dari depan , samping kanan kiri serta belakang dari dalam tanah bermunculan mahkluk –mahkluk melata degan jumlah yang sangat banyak. Nafasnya berat dan tersedak –sedak. Kakinya yang berjumlah ribuan melata dengan mengerikan. mereka berlesatan ke arah para pasukan yang masih kaget menerima serangan mendadak itu. Terjadilah hal yang mengerikan. Beberapa prajurit langsung menjadi korban oleh luwing –luwing raksasa yang tiba –tiba bermunculan dari dalam tanah. Ada yang digelung hingga hancur luluh tulang leher atau dadanya.
Kartajaya berusaha membunuh binatang-binatang yang menyerang mereka dengan senjata yang sebelumnya telah di rajah lebih dulu sewaktu di Mataram. Kartajaya mengamuk dengan sabetan – sabetan kerisnya. Keris berluk tiga belas itu mencecar bagai air bah menebar maut. Beberapa luwing terbunuh dengan tubuh terbelah dan kepala pecah. Akan tetapi, luwing –luwing itu seperti tidak ada habis –habisnya. Terus bertambah.
Sementara di tempat lain Tumenggung Jayengrono tidak kalah sibuknya. Tumenggung bilih tanding dari Mataram itu berloncatan menghindari serangan luwing –luwing yang sepertinya sangat haus darah.
"Maut! Ganas! Aku mencium bau maut! Aku merasakan adanya kematian yang ganas!”
Di depan sana pedataran pertempuran telah menjadi rata. Puluhan mayat bergelimpangan. Ada yang saling tumpang tindih denga tubuh tercerai berai. Tercabik -cabik.
"Ah… Giliran kita hendak dijadikannya korban!" kata Kartajaya mulai panik.
"Luwing - luwing jahanam itu! Kita harus dapat melawannya. Tapi bagaimana…? Bagaimana!? Setiap kali terbunuh satu, akan datang lagi yang lain begitu seterusnya"
Keris Kelabang Sayuta andalan Tumenggung Jayengrono masih menebar maut. Keris dengan pamor biru menyala itu seperti menari –nari mencari mangsa. Sedang tangan kirinya sudah bergetar dengan aliran tenaga dalam yang tinggi. Dia sudah menyiapkan pukulan Gelap Ngampar dalam tataran yang mendekati sempurna.
Saat itu menjelang dini hari. Udara masih gelap dan hawa terasa dingin. Mendekati dua buah pohon besar yang terletak mengapit kira-kira dua tombak di depan jalan yang mereka tempuh Tumenggung Jayengrono perlambat langkah kuga tunggangannya. Dia memandang tak berkesip ke arah dua pohon besar di kiri kanan jalan.
”Ada apa Gusti ?” bisik Kartajaya dari atas kudanya.
”Saya punya firasat tidak enak Karta. Seperti ada yang sembunyi di balik pohon berpasang – pasang mata mengawasi dan menunggu saat kita lengah kemudian menyerang kita,” jawab Tumenggung Jayengrono.
“ Apakah kita sudah berada di tempat itu Gusti? Tempat yang katanya wingit dan penuh dengan roh - roh gaib yang haus darah itu ?”
“ Sepertinya, mereka sengaja mencegat kita di tempat ini. Karta...waspadalah jangan gegabah. Kita menghadapi siluman –siluman haus darah dan bukan manusia. Lengah sedikit saja kita bisa terbunuh di sini “
Kemudian Karta mengangkat tangan sebagai isyarat agar pasukan di belakangnya siap sedia jika ada sesuatu yang menyerang secara mendadak. Kilatan cahaya petir menerangi penghujung malam dalam sekejap dan gemuruh suara gunturnya memenuhi angkasa luas. Kaki –kaki kuda seperti ada yang mendorong pelan dari bawah. Sentakan-sentakan kecil itu terasa hanya lembut. Akan tetapi, makin lama makin terasa kuat.
" Ada yang bergerak-gerak di bawah tanah ini?!”, Tumenggung Jayengrono berteriak memperingatkan pasukannya.
Hembusan angin seperti berputar-putar tak tentu arah. Rintik hujan gerimis pun seakan lari ke sana-sini Lalu, terdengar suara dentuman dahsyat dari langit. Cahaya petir berkerilap cepat menoreh permukaan langit hitam.
Jlegaar...!
Suara guntur menggema tak berkesudahan. Tiba-tiba terdengar suara gaduh aneh dari sana sini. Suara gaduh itu seperti tanah yang mengalami keretakan. Pasukan Tumenggung Jayengrono dalam cekaman rasa tegangnya.
Bruuuss...!
Suara tanah yang menyembur ke atas. Getaran bumi mulai dirasakan semakin keras dan kuat. Lalu, tampak jelas bebatuan retak dan pecah, tanah seperti dibalik menggunakan sekop raksasa berhamburan kesana kemari.
Kuda tunggangan para pasukan itu sekonyong-konyong mengangkat kedua kaki depan tinggi tinggi, disertai ringikan keras, membahana dari satu sisi ke sisi bukit lainnya. Tidak terkecuali Tumenggung Jayengrono dan Kartajaya.
Tumenggung Jayengrono terkejut. Tali kendali terlepas dari pegangannya. Ia berusaha meraihnya kembali. Gagal karena kuda itu terus saja mengangkat tinggi ke dua kaki depan, gerakannya liar dan marah. Tumenggung Jayengrono berusaha merangkul leher kuda. Tumenggung Jayengrono berhasil, namun mendadak kuda tunggangannya merubah posisi. Kedua kaki depannya turun serempak menghantam tanah, dan kaki - kaki belakangnya yang kini terangkat. Menendang-nendang udara kosong, sambil terus meringkik, melompat, meliuk, melengkung-lengkungkan tubuh begitu hebat. Sampai akhirnya, Tumenggung Jayengrono terlempar dari punggung kuda.
Tumenggung Jayengrono berjumpalitan ke udara lalu turun dengan tegak di atas tanah. Sekarang di tangan kanannya telah tergenggam keris berpamor biru menyala. Itulah Keris Kelabang Sayuta. Sementara keadaan para prajurit juga tidak kalah hingar bingarnya. Lalu dalam tempo sekian detik saja, ringkikan puluhan kuda kini ditingkahi oleh jerit pekik sengsara seorang anak manusia. Terdengar pula bunyi tulang berderak patah. Disusul bunyi berdetuk lunak, manakala kuku- kuda berladam besi mendarat tanpa ampun di kepala beberapa prajurit pilihan yang musti harus terbanting ke bawah.
Dari dalam tanah yang bergolak itu dari depan , samping kanan kiri serta belakang dari dalam tanah bermunculan mahkluk –mahkluk melata degan jumlah yang sangat banyak. Nafasnya berat dan tersedak –sedak. Kakinya yang berjumlah ribuan melata dengan mengerikan. mereka berlesatan ke arah para pasukan yang masih kaget menerima serangan mendadak itu. Terjadilah hal yang mengerikan. Beberapa prajurit langsung menjadi korban oleh luwing –luwing raksasa yang tiba –tiba bermunculan dari dalam tanah. Ada yang digelung hingga hancur luluh tulang leher atau dadanya.
Kartajaya berusaha membunuh binatang-binatang yang menyerang mereka dengan senjata yang sebelumnya telah di rajah lebih dulu sewaktu di Mataram. Kartajaya mengamuk dengan sabetan – sabetan kerisnya. Keris berluk tiga belas itu mencecar bagai air bah menebar maut. Beberapa luwing terbunuh dengan tubuh terbelah dan kepala pecah. Akan tetapi, luwing –luwing itu seperti tidak ada habis –habisnya. Terus bertambah.
Sementara di tempat lain Tumenggung Jayengrono tidak kalah sibuknya. Tumenggung bilih tanding dari Mataram itu berloncatan menghindari serangan luwing –luwing yang sepertinya sangat haus darah.
"Maut! Ganas! Aku mencium bau maut! Aku merasakan adanya kematian yang ganas!”
Di depan sana pedataran pertempuran telah menjadi rata. Puluhan mayat bergelimpangan. Ada yang saling tumpang tindih denga tubuh tercerai berai. Tercabik -cabik.
"Ah… Giliran kita hendak dijadikannya korban!" kata Kartajaya mulai panik.
"Luwing - luwing jahanam itu! Kita harus dapat melawannya. Tapi bagaimana…? Bagaimana!? Setiap kali terbunuh satu, akan datang lagi yang lain begitu seterusnya"
Keris Kelabang Sayuta andalan Tumenggung Jayengrono masih menebar maut. Keris dengan pamor biru menyala itu seperti menari –nari mencari mangsa. Sedang tangan kirinya sudah bergetar dengan aliran tenaga dalam yang tinggi. Dia sudah menyiapkan pukulan Gelap Ngampar dalam tataran yang mendekati sempurna.
itkgid dan pintokowindardi memberi reputasi
4
Kutip
Balas