- Beranda
- Stories from the Heart
A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]
...
TS
angelous91
A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]
Mohon maaf sebelumnya kalau metode penulisan masih berantakan. π this is my latest novel story. Hope you will like it.
Enjoy.. π
Kalau lebih demen baca pake Apps lain:
-[URL="https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream"]Webnovel Link[/URL]
A Girl from My Dream
![A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]](https://s.kaskus.id/images/2019/01/31/10496213_201901311005040429.jpg)
Cover from Webnovel
![A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]](https://s.kaskus.id/images/2019/03/30/10496213_20190330091102.jpg)
Tak terasa sudah hampir 10 tahun aku tinggal di Jakarta. Tepatnya di Jakarta Barat. Orang bilang hidup di Jakarta itu keras. Dan di Jakartalah tempat orang-orang licik dan munafik bersarang. Bagiku tidak demikian, karena masih banyak orang-orang yg tidak licik dan munafik di Jakarta. Contohnya, ya orang-orang yang dibohongi sama orang munafik dan licik alias korban. Lebih banyak korban daripada pelaku. Untungnya aku sendiri bukan orang yang licik ataupun munafik. Ya..soalnya aku juga korban.
Anyway, pada kesempatan ini aku akan menceritakan tentang pengalamanku selama hidup di Jakarta. Sebelumnya, perkenalkan namaku Mawar*(red: nama samaran). Eh salah, nama aku Angelo dan aku ini pria btw. Biasa dipanggil Gel dan terkadang Gelo alias Gila. Saat ini aku berumur 29 tahun. Status saat ini memiliki pacar. Untuk cerita mengenai kehidupanku dengan sang pacar akan ada dalam cerita ini. Aku anak ke-2 dari 3 bersaudara dimana aku memiliki 1 kakak laki-laki dan 1 adik perempuan.Β Dan, Yang akan aku share disini adalah pengalaman cinta, karir, pengkhianatan dan sedikit komedi untuk menghibur ceritaku yang mungkin agak suram nanti.
Ceritaku bermula sekitar 3 tahun yang lalu. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan auditing terbesar di Indonesia dengan tingkat stres dan jam kerja yang cukup tinggi. Aku telah bekerja selama kurang lebih 4 tahun di perusahaan ini. Kalau dari segi skill dan pengalamanku di bidang keuangan,Β menurutku sih sudah cukup baik. mengingat aku juga dulu aktif dalam berorganisasi selama kuliah. Untuk jabatan dan gaji yah juga sudah cukup lumayan untuk seumuran aku. Aku sudah bisa membeli motor sendiri, hidup tanpa bantuan dana dari orang tua dan bahkan bisa menyisihkan sedikit dana untuk ditabung. Namun aku belum bisa memberikan sebagian dari penghasilanku untuk amal dan untuk orang tua. Mungkin aku masih pelit dan egois.
Pacarku Bethy, biasa dipanggil Beth berumur 1 tahun dibawahku. Dulunya merupakan mantan muridku selama kuliah. Oh iya, aku dulu membuka jasa mengajar privat untuk adik-adik kelas. Dulu sih demi mencukupi kebutuhan perut selama masih menjadi anak rantau yang suka kehabisan uang sebelum kiriman datang.Β Dari sinilah cinta bersemi dan kami pun jadian.
Aku bekerja setiap hari kecuali hari minggu dan hari libur. Lembur, dimarahin atasan, memarahin bawahan, gajian, senang, hedon, jalan-jalan, kehabisan uang, pake uang tabungan, kerja lagi, gajian lagi, dapat bonus, senang, hedon lagi,kehabisan uang lagi dan gitu aja terus sampai meteor coklat jatuh ke ladang gandum dan jadilah coco crunch.
Kehidupan seperti ini yang menurutku biasa-biasa saja dan normal seperti masyarakat lemah pada umumnya ini siapa sangka dapat tiba-tiba seperti membanting setir dan menjadi tidak dapat ditebak lagi.
![A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]](https://s.kaskus.id/images/2019/01/27/10496213_201901270347480981.jpg)
----
Direct link :
Prolog
[link PROLOG]
Bag 1. Mimpi
[link Bag 1]
Bag 2. Reality
[link Bag 2]
Bag 3. Mimpi2
[link Bag 3]
Bag 4. Sang Pacar
[link Bag 4]
Bag 5. Botol
[link Bag 5]
Bag 6. Minggu
[link Bag 6]
Bag 7. Zinx
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 7][/URL]
Bag 8. Month dan Rani
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 8][/URL]
Bag 9. Problem
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 9][/URL]
Bag 10. One Month Later
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 10][/URL]
Bag 11. Pulau
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 11 ][/URL]
Bag 12. Vele
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 12][/URL]
Bag 13. Paul and Jane
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 13][/URL]
Bag 14. Beth
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 14][/URL]
Bag 15. Game
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 15][/URL]
Bag 16. Month Menikah
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 16][/URL]
Bag 17. Month Menikah (2)
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link bag 17][/URL]
Bag 18. Masa Lalu
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 18][/URL]
Bag 19. Masa Lalu (2)
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 19][/URL]
Bag 20. Masa Kini
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 20][/URL]
Bag 21. Lost
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 21][/URL]
Bag 22. Ros
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 22][/URL]
Bag 23. Reuni
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 23][/URL]
Bag 24. Bahagia
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 24][/URL]
Bag 25. You are The One (The End)
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 25][/URL]
Special Chapter : Vele' POV
[LINK to Story]--> Last Update: 21 Mar 2019
Next BOOK!!!! LANJUTAN!!!!!!
A Girl from My Dream - Road to Wedding Day
Enjoy.. π
Kalau lebih demen baca pake Apps lain:
-[URL="https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream"]Webnovel Link[/URL]
A Girl from My Dream
![A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]](https://s.kaskus.id/images/2019/01/31/10496213_201901311005040429.jpg)
Cover from Webnovel
![A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]](https://s.kaskus.id/images/2019/03/30/10496213_20190330091102.jpg)
PROLOG
Tak terasa sudah hampir 10 tahun aku tinggal di Jakarta. Tepatnya di Jakarta Barat. Orang bilang hidup di Jakarta itu keras. Dan di Jakartalah tempat orang-orang licik dan munafik bersarang. Bagiku tidak demikian, karena masih banyak orang-orang yg tidak licik dan munafik di Jakarta. Contohnya, ya orang-orang yang dibohongi sama orang munafik dan licik alias korban. Lebih banyak korban daripada pelaku. Untungnya aku sendiri bukan orang yang licik ataupun munafik. Ya..soalnya aku juga korban.
Anyway, pada kesempatan ini aku akan menceritakan tentang pengalamanku selama hidup di Jakarta. Sebelumnya, perkenalkan namaku Mawar*(red: nama samaran). Eh salah, nama aku Angelo dan aku ini pria btw. Biasa dipanggil Gel dan terkadang Gelo alias Gila. Saat ini aku berumur 29 tahun. Status saat ini memiliki pacar. Untuk cerita mengenai kehidupanku dengan sang pacar akan ada dalam cerita ini. Aku anak ke-2 dari 3 bersaudara dimana aku memiliki 1 kakak laki-laki dan 1 adik perempuan.Β Dan, Yang akan aku share disini adalah pengalaman cinta, karir, pengkhianatan dan sedikit komedi untuk menghibur ceritaku yang mungkin agak suram nanti.
Ceritaku bermula sekitar 3 tahun yang lalu. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan auditing terbesar di Indonesia dengan tingkat stres dan jam kerja yang cukup tinggi. Aku telah bekerja selama kurang lebih 4 tahun di perusahaan ini. Kalau dari segi skill dan pengalamanku di bidang keuangan,Β menurutku sih sudah cukup baik. mengingat aku juga dulu aktif dalam berorganisasi selama kuliah. Untuk jabatan dan gaji yah juga sudah cukup lumayan untuk seumuran aku. Aku sudah bisa membeli motor sendiri, hidup tanpa bantuan dana dari orang tua dan bahkan bisa menyisihkan sedikit dana untuk ditabung. Namun aku belum bisa memberikan sebagian dari penghasilanku untuk amal dan untuk orang tua. Mungkin aku masih pelit dan egois.
Pacarku Bethy, biasa dipanggil Beth berumur 1 tahun dibawahku. Dulunya merupakan mantan muridku selama kuliah. Oh iya, aku dulu membuka jasa mengajar privat untuk adik-adik kelas. Dulu sih demi mencukupi kebutuhan perut selama masih menjadi anak rantau yang suka kehabisan uang sebelum kiriman datang.Β Dari sinilah cinta bersemi dan kami pun jadian.
Aku bekerja setiap hari kecuali hari minggu dan hari libur. Lembur, dimarahin atasan, memarahin bawahan, gajian, senang, hedon, jalan-jalan, kehabisan uang, pake uang tabungan, kerja lagi, gajian lagi, dapat bonus, senang, hedon lagi,kehabisan uang lagi dan gitu aja terus sampai meteor coklat jatuh ke ladang gandum dan jadilah coco crunch.
Kehidupan seperti ini yang menurutku biasa-biasa saja dan normal seperti masyarakat lemah pada umumnya ini siapa sangka dapat tiba-tiba seperti membanting setir dan menjadi tidak dapat ditebak lagi.
--End of Prolog--
![A Girl From My Dream - [Novel Fiction - Romance]](https://s.kaskus.id/images/2019/01/27/10496213_201901270347480981.jpg)
----
Direct link :
Prolog
[link PROLOG]
Bag 1. Mimpi
[link Bag 1]
Bag 2. Reality
[link Bag 2]
Bag 3. Mimpi2
[link Bag 3]
Bag 4. Sang Pacar
[link Bag 4]
Bag 5. Botol
[link Bag 5]
Bag 6. Minggu
[link Bag 6]
Bag 7. Zinx
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 7][/URL]
Bag 8. Month dan Rani
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 8][/URL]
Bag 9. Problem
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 9][/URL]
Bag 10. One Month Later
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 10][/URL]
Bag 11. Pulau
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 11 ][/URL]
Bag 12. Vele
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 12][/URL]
Bag 13. Paul and Jane
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 13][/URL]
Bag 14. Beth
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 14][/URL]
Bag 15. Game
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 15][/URL]
Bag 16. Month Menikah
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 16][/URL]
Bag 17. Month Menikah (2)
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link bag 17][/URL]
Bag 18. Masa Lalu
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][link Bag 18][/URL]
Bag 19. Masa Lalu (2)
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 19][/URL]
Bag 20. Masa Kini
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 20][/URL]
Bag 21. Lost
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 21][/URL]
Bag 22. Ros
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 22][/URL]
Bag 23. Reuni
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 23][/URL]
Bag 24. Bahagia
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 24][/URL]
Bag 25. You are The One (The End)
[URL=https://www.S E N S O R/book/12834867305571605/A-Girl-from-My-Dream][Link Bag 25][/URL]
Special Chapter : Vele' POV
[LINK to Story]--> Last Update: 21 Mar 2019
Next BOOK!!!! LANJUTAN!!!!!!
A Girl from My Dream - Road to Wedding Day
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Gadis mana yang harus kupilih?
Beth --- (Selingkuh itu tidak baik!! Cocok ga cocok Jalanin!!!)
0%
Vele --- (Sebuah kebanggaan tersendiri memacari Vele)
55%
Ros --- ( Gadis Masa Kecil dan merupakan cinta pertamaku..)
27%
Sky --- (Pacarin adik sendiri aja)
9%
Rani --- (Ayo jadi penikung!!)
9%
Diubah oleh angelous91 10-09-2019 15:51
Gimi96 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
22.5K
384
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThreadβ’54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angelous91
#2
Bag 2. Reality
Bagian 2. Reality
Kepalaku mulai panas. Tumpukan file di mejaku sudah selesai kukerjakan. Aku melihat jam di mejaku. Sudah pukul 18.30. Sebaiknya aku mengambil minuman di pantry,pikirku. Aku berjalan menuju pantry. Pantry letaknya tidak jauh dari ruanganku.
Aku melewati meja-meja tempat para junior bekerja. Sebagian besar junior sudah pada pulang. Hanya tinggal beberapa tim yang masih bekerja mengejar deadline. Aku sedikit mengintip ke ruangan Month. Sepertinya dia sudah pulang duluan. Ruangannya kosong dan lampunya juga sudah dimatikan. Oh iya, dia ada kencan dan sepertinya aku dilupakan. Padahal tadinya kan dia mau mengajakku. Aku melanjutkan perjalananku menuju pantry.
Bukannya pingin ikut, tapi aku hanya mengkonfirmasi janjinya tadi pagi. Lagipula, aku juga sudah punya pacar. Yaah..walaupun aku tidak ada waktu buat pacarku sih. Ngomong-ngomong soal pacar, apa kabarnya ya pacarku itu?
Aku mengeluarkan handphoneku dan membaca notifikasi-notifikasi yang muncul. Yah, seperti yang kuduga, pasti ada chat dari Beth. Perlahan aku membuka chat darinya. Isinya lagi-lagi Ping!, ping! dan ping! . Lagi-lagi aku harus meng-scroll terus ke atas hingga mencapai isi dari chatnya.
Seperti yang kuduga lagi, dia marah. Sejak tadi malam, aku bahkan belum sekalipun membalas chat darinya. Aku harus bagaimana ya? Kalau sudah seperti ini ya jelas aku yang salah. Aku terlalu sibuk dengan kerjaan. Kalau saja tadi tidak teringat dengan kencannya Month, mungkin aku belum mengingat Beth sampai sekarang.
Sambil memikirkan cara menenangkan hati Beth yang sedang panas, aku mengisi cangkir dengan kopi dari mesin espresso di pantry. Kantor kami memang menyediakan mesin espresso untuk karyawannya secara gratis. Mesin ini merupakan salah satu fasilitas yang nikmat bagi kami para karyawan disini.
Apa yang sebaiknya kulakukan ya? Aku menyeruput kopi panas tersebut sambil berpikir. Apa aku bawa sogokan lagi ya? Hmm.. baiklah, aku beli saja kue kesukaannya setelah ini. Seharusnya aku sudah bisa pulang sekarang mengingat pekerjaan dari timku juga sudah selesai . Aku bergegas menuju ke ruanganku untuk mengambil jaket dan tasku. Saat aku mematikan lampu ruanganku, terlihat para junior juga sudah membereskan dokumen-dokumen mereka dan bersiap pulang. Sepertinya malam ini tidak akan ada yang lembur, pikirku.
Aku menuju ke lobby gedung. Sekuriti gedung menghampiriku dan menyerahkan kunci motorku. Aku melanjutkan perjalananku menuju ke toko kue. Mungkin dengan membawakan cheese cake akan menenangkan mood Beth,pikirku. Hari ini juga sudah gajian, tidak ada salahnya aku mengajak Beth jalan setelah ini,pikirku lagi.
Di depan toko kue, aku mulai merogoh kantongku untuk mengambil dompetku. Hmm, Tidak ada dompet di kantongku. Aku mencoba mencari di dalam tasku. Tidak ada dompetku juga. Aneh,seharusnya aku membawa dompet hari ini. Tadi pagi aku yakin sekali ada mengambil uang dari dompet. Aku mengerutkan dahi sambil berusaha mengingat-ingat dimana dompetku.
Samar-samar aku teringat kalau dompetku lupa kumasukkan kedalam tas. Dompetku pasti masih tergeletak di atas meja kerjaku. Sial, Betapa teledornya aku ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari secerca keberuntungan dari dalam tas dan kantongku. Siapa tahu ada uang terselip. Dan benar, aku menemukan uang total sekitar Rp150.000,-. Cukup untuk membeli beberapa potong cheesecake, pikirku.
Jalanan masih macet parah. Namanya Jakarta,tidak heran kalau macet. Apalagi jam pulang kerja seperti sekarang. Aku sedikit menyesal mengendarai motor sport di Jakarta. Motor ini cukup berat dan tidak mudah untuk menyalip kendaraan lain dalam keadaan macet begini. Aku terus mempertimbangkan untuk kembali ke kantor untuk mengambil dompetku atau melanjutkan perjalanan ke rumah Beth. Oh iya, pasti sudah tidak ada orang di kantor, dan aku juga tidak memiliki kunci kantor. Baiklah, sudah kutetapkan, aku akan tetap melanjutkan perjalanan ke rumah Beth.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya aku sampai di depan rumah Beth. Aku memencet bel rumahnya. Beth tinggal di rumah yang cukup besar. Ia berasal dari keluarga yang cukup berada. Berbeda denganku yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Beth membukakan pintu. Raut wajahnya masih terlihat sangat marah.
"ngapain datang lagi?" Ujar Beth ketus. "..kan kita udah putus!" lanjutnya.
"..udah donk,beb! Namanya juga kerja kan?"
"..kenapa dari tadi malam nggak ngabarin? Lupa ya sama aku?" sindirnya.
Sebenarnya sejak tadi malam aku benar-benar lupa untuk menghubunginya. Tadi malam aku benar-benar kelelahan, Dan sejak pagi, aku benar-benar sibuk menyelesaikan dokumen-dokumen perusahaan yang bertumpuk. Bagaimana sebaiknya saya merespon pertanyaan Beth?
"Lagi kejar deadline tutup buku perusahaan, semua tim lembur gila-gilaan beberapa hari terakhir." Jawabku. "aku bawain cheesecake nih. Kamu suka kan?" lanjutku sambil menyodorkan box kue.
"kamu udah kerja mati-matian, gaji ga seberapa.. terus ga ada waktu terus buat aku! Pacarin aja tuh kantor!!! Ga usah pacarin aku!! Toh nggak ada bedanya kan??" bentak Beth dengan nada tinggi.
"yah ga mungkin donk aku pacarin kantor, lagian kemampuan aku kan emang di bidang keuangan. Dan lagi aku juga belum ada waktu untuk merintis usaha lain."jelasku
"TERSERAH!!" teriaknya. "kamu tinggal pilih! Aku atau kantormu??"
"..kalau misalkan aku tinggalkan pekerjaan,, nanti penghasilan dari mana?"
"..pikir aja sendiri! Kalau kamu emank sayang sama aku, kamu resign dari kantor itu!"
"..ya ga bisa gitu juga donk.. aku merintis karir di kantor ini juga bukan waktu yang singkat..."
"..yauda..kamu pulang aja! Aku ga mau lihat mukamu dulu!"
"..kuenya gimana? Aku bela-belain beli buat kamu lho" kataku lagi sambil menyodorkan box kue ke Beth.
Beth langsung merebut kue tersebut dari tanganku dan melemparnya ke taman di teras rumahnya. Belum sempat aku berkomentar, Beth langsung membanting pintu rumahnya. Aku terdiam selama beberapa saat dan menghela nafas panjang. Aku jongkok di depan box kue yang bentuknya sudah tidak karuan tersebut. Sepertinya terbanting cukup keras, isi dari kue sudah berceceran keluar dari box. Aduh, sepertinya sudah tidak layak, pikirku. Aku memungut box kue tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Padahal aku membeli kue tersebut dengan uang tunai terakhirku. Dompetku kan tertinggal di kantor.
Aku kembali menghela nafas panjang, sepertinya aku tidak mungkin diijinkan masuk ke rumah Beth. Aku menyalakan mesin motorku. Aku kembali menatap pintu rumah Beth. Tidak ada tanda-tanda Beth akan membukakan pintu untukku. Sebaiknya aku kemana ya? Pikirku. Tiba-tiba notifikasi Bbmku berbunyi. "PING!!"
Aku membuka handphoneku. Month mengirimkan sebuah alamat dan nama sebuah KafeBar di daerah PIK. Kemudian dilanjutkan dengan ajakan ,'Gel, di tempat ini!! Sekarang yaaaa!!'
'Ternyata ingat juga nih bocah..' gumamku. Tapi aku sedang tidak ada mood sama sekali untuk ikut dalam kencan butanya. Apalagi dengan waktu yang mendadak seperti ini. Sebaiknya aku tolak secara halus, pikirku.
Sebelum aku sempat mengirimkan pesan kepada Month, Month terlebih dahulu mengirimkan foto gambar ke Bbmku. Terlihat ia sedang bersama dengan 2 orang gadis. Aku tersentak dan berusaha memperhatikan dengan lebih jelas foto tersebut. Salah satu dari gadis tersebut berambut merah dan postur tubuhnya mirip dengan gadis di mimpiku. Wajah gadis ini tidak terlihat dengan jelas karena tertutup rambut dan lengan Month saat difoto.
Mungkin tidak ada salahnya aku ikut ke tempat Month. Aku penasaran dengan gadis berambut merah tersebut. Perkiraan waktu menuju tempat itu kurang lebih setengah jam. Aku pun bergegas menuju ke tkp dengan harapan memenuhi rasa penasaranku tentang gadis itu.
--
Aku memarkirkan motorku tepat di depan kafebar tempat Month berada. Aku berkaca sebentar di spion motor dan merapikan sedikit rambutku. Aku membuka pintu kafe. Terdengar suara musik yang keras menyelimuti seluruh ruangan kafe. Tercium juga bau rokok yang cukup pekat. Ruangan di sini sedikit redup dengan lampu party yang hidup mati. Aku kurang suka berada di tempat seperti ini. Perasaan tadi di foto yang dikirimkan oleh Month, ruangannya terang. Sepintas, terlihat tulisan "DJ performance at 21.00 tonight!"
'okei..' gumamku, aku kemudian mencari Month di tengah keramaian ini.
'Meja paling ujung!', Month mengarahkan melalui BBM.
Yak, tepat seperti petunjuk Month, aku menemukan meja mereka.
"..sorry telat.."ujarku.
Terlihat Month bersama dengan dua orang gadis. Rasa penasaranku membuatku reflek berusaha melihat wajah gadis berambut merah tersebut.
"Gel! Kenalin ini Vele dan Rani!" seru Month. Month terlihat sedikit typsi. Wajahnya terlihat memerah. Namun sepertinya masih dalam tahapan wajar. Ia masih mampu mengendalikan diri. "Girls! Ini sahabatku yang kubilang tadi, Angelo!" Month memperkenalkan aku dengan heboh. Aku hanya tersenyum tipis sambil menjabat tangan mereka kemudian duduk di sebelah Month.
Aku melirik ke arah Vele. Gadis ini berambut merah juga tetapi sedikit lebih ikal. Wajahnya juga berbeda dengan gadis berambut merah dalam mimpiku. Hfft.. ak menghela nafas. Aku sedikit kecewa karena bukan gadis dalam mimpiku yang muncul. Kalau dipikir-pikir, memang agak mustahil sih bisa betemu gadis dalam mimpiku itu. Sepertinya gadis berambut merah itu hanya gadis imajinasiku saja.
Aku melihat kearah meja. Sudah ada beberapa botol soju yang kosong di atas meja. Sepertinya mereka sudah berada di sini cukup lama. Vele dan Rani pun terlihat sudah memerah mukanya.
"kamu baru pulang kerja?" tanya Vele sambil menyodorkan satu sloki berisi soju kepadaku.
"..iya, habis lembur soalnya. Namanya akhir tahun tutup buku perusahaan biasanya para auditor pasti sibuk." Jawabku sambil menerima sloki dari Vele. "Cheers!" aku mengangkat sloki menandakan untuk bersulang. Kami bersulang dan meminumnya dalam satu tegukan.
"..kalau gitu kenapa Month tidak lembur juga?" tanyanya lagi.
"..Month sekarang hanya menangani klien-klien yang konsultasi saja, belum mendapatkan klien yang harus dibantu pembukuannya seperti klienku. Jadi waktunya masih lebih bebas."
Vele, gadis di hadapanku ini memang manis. Rambutnya yang berwarna merah dan ikal juga sangat menawan. Wajahnya bersih dan kulitnya putih. Sifatnya juga sepertinya humble. Seandainya aku belum punya pacar, mungkin aku akan terpikat padanya. Aku kembali teringat soal Beth. Hubungan kami sudah berjalan hampir tiga tahun lamanya dan hampir selalu bertengkar karena masalah waktu.
Month di sebelahku terlihat asyik mengobrol dengan Rani. Memang tujuan dia hari ini di sini untuk bertemu dengan Rani. Rani, gadis yang dikenalnya dari aplikasi jodoh. Kulitnya agak sedikit lebih gelap daripada Vele. Dari pembicaraannya dengan Month, ia hobi travelling ke pantai ataupun gunung. Wajar saja kulitnya agak sedikit gelap karena terbakar matahari. Sepertinya Rani agak tomboi, terlihat dari pembawaan dan cara bicaranya.
"..kamu ikut kesini karena menemani Rani atau memang mau bertemu dengan Month juga?" tanyaku pada Vele.
Kami berdua melihat kearah Month dan Rani. Mereka sudah asyik ngobrol berdua dan melupakan keberadaan kami, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"..aku diculik.."jawabnya sambil tertawa. Aku langsung mengerti maksud dari Vele. Ia dipaksa untuk ikut menemani Rani. "..harusnya aku ada pasien malam ini, tapi terpaksa aku reschedule demi Rani." Lanjutnya.
"..pasien?"
"..iya..Aku Dokter Gigi.." jawabnya santai.
"..di umur segini?" tanyaku lagi heran. Setahuku umur Vele kurang lebih sama dengan kami. "..bukannya, untuk membuka praktek dokter gigi, paling tidak harus kuliah atau praktek apa gitu selama beberapa tahun setelah lulus kuliah?"
"..Iya, aku dulu masuk sekolah jauh lebih cepat dan pernah ikut jalur akselerasi. Jadi umurku jauh lebih muda dibanding teman-teman sekelas dulu." Jelasnya.
"..berarti bisa bersihin karang gigi aku dong nanti?"
"..bisa kok, tinggal datang ke klinik aku aja"
Aku dan Vele pun bertukaran kontak BBM. Kami mengobrol semalaman sambil sesekali bersulang.
Tak terasa sudah tengah malam, untungnya kami masih dapat mentoleransi alkohol dari soju yang kami minum sehingga kami tidak terlalu mabuk. Month tiba-tiba menyenggolku dan berbisik.
"..Gel, ke toilet bentar yuk! Penting!" ajaknya. Aku mengangguk dan pergi ke toilet bersama dengan Month. Agak aneh sih cowok pergi ke toilet bareng, tapi siapa yang peduli?
Di dalam toilet, hanya ada 3 urinoir. Aku langsung menuju ke urinoir paling pojok kiri dan melepaskan panggilan alamku. Month langsung menuju ke urinoir tengah, tepat di sebelahku. Spontan aku kaget dan menegurnya,
"..woi, lu gay ya,Month? Kenapa malah di sebelah gue pipisnya?" sudah ada peraturan tak tertulis di kalangan cowok kalau pipis biasanya ada jarak satu urinoir.
"..aah,bodo amat,Gel! Udah ga tahan!" jawabnya sambil membuka resleting celananya.
Aku pun buru-buru menyelesaikan pipisku dan menuju wastafel. Month menyusul ke wastafel, mencuci tangannya dan kemudian merapikan rambutnya.
"..eh,Gel.." panggil Month, "..gue lupa bawa uang nih.. boleh minta tolong talangin dulu ga tagihannya nanti?"
"..jangan-jangan, ini alasannya lu suruh gue datang ya?" tanyaku curiga. Kalau dipikir-pikir lagi, Month sudah sampai di sini duluan baru kemudian mengajakku. Aku menatap Month dengan tatapan curiga. Sebenarnya, aku tidak pernah mempermasalahkan uang yang dipinjam oleh Month. Ia selalu mengembalikan uang yang dipinjamnya dariku. Bahkan sebenarnya, Month itu jauh lebih kaya daripada aku. Month sendiri sudah pasti mewarisi usaha orang tuanya karena ia anak tunggal. Selama ini, Month kerja di kantor hanya untuk hobi dan sambil belajar.
Month menyengir.
"..iya.. gue lupa bawa uang baru ingat lu,Gel"
Aku menggaruk kepalaku dan menghela nafas.
"..yaudah, nanti gue talangin dulu. Tapi jangan lupa diganti ya! Kan lu yang ngajak kesini.." jawabku sambil berjalan keluar toilet.
Tiba-tiba aku menghentikan langkahku dan terdiam selama beberapa saat. Sepertinya ada hal penting yang aku lupakan. Aku mengernyitkan dahiku sambil berpikir. Oh iya! Dompetku kan masih tertinggal di kantor.
"Oh iya! Month!" seruku tiba-tiba.
"ya?"
"..gue juga lupa bawa dompet! Ketinggalan di kantor" ujarku dengan sedikit panik.
"..jangan bercanda lu,Gel!" jawab Month yang tidak kalah panik. "terus bayarnya gimana dong?"
"..waduh! Kan ga mungkin minta Vele dan Rani yang bayarin."
"..mau ga mau kita ngomong jujur-jujuran deh sama mereka. Minta tolong ditalangin dulu, nanti pas gue balik ambil dompet langsung transfer balik." Jawab Month pasrah.
"..yakin,bro?" tanyaku memastikan.
"..ya mau gimana lagi,Gel?"
Akhirnya aku dan Month kembali menuju ke meja kami. Terlihat Vele dan Rani sedang asyik mengobrol. Aku dan Month saling bertatap muka sebentar dan menghela nafas panjang.
'BRUK!' tanpa sengaja bahuku menabrak seorang pria di kafe bar tersebut.
"sorry!" terdengar respon permintaan maaf spontan dari pria tersebut.
Pria tersebut mengenakan kemeja lengkap dengan jas dan dasinya. Pakaiannya sangat rapi. Terlihat ada sebuah nametag di bagian dada kirinya. Aku menatap wajah pria tersebut. Terlihat wajah yang tidak asing bagiku.
"HEED??" panggilku. Ternyata tadi tanpa sengaja aku menabrak Heed. Heed itu teman baikku sejak SD. Semenjak aku pindah ke Jakarta, aku sempat lost contact dengan Heed.
"..Angelo!!! Apa kabar??" balas Heed tidak kalah heboh. Ia langsung menjabat tanganku dan memelukku. "..ga ngangka bisa ketemu lu di sini!" ujarnya.
"..Baik,Heed! Lu kok bisa di Jakarta?" jawabku. "..oh iya, ini rekan kerjaku,Month! Month, ini Heed temen baikku dari SD!" lanjutku sambil memperkenalkan Heed pada Month.
Heed dan Month saling berjabat tangan.
"..gue kerja disini bantu-bantu manajemen disini. Yaah,ada sedikit saham juga lah." Rupanya Heed kerja di kafe bar ini dan jabatannya adalah Manager, terlihat dari name tagnya.
"..wow,lu manager di sini,cuy?" tanyaku memastikan.
Heed menunjuk nametagnya dengan bangga sambil tersenyum lebar.
"..kalian minum apa di sini? Udah lama?" lanjutnya.
"..yaah, hampir tiga jam sih disini. Ini juga udah mau balik. Tapiβ¦" jawabku
"..tapi?"
"..gue lupa bawa dompet" jawabku agak sedikit malu.
"..ah, sudah-sudah! Gue aja yang bayarin!" jawab Heed sambil menepuk pundakku. "..kan udah lama ga ketemu lu! Nanti kita atur waktu minum-minum bareng,Gel!"
"..Serius nih? Ga enak nih gue!" tanyaku memastikan.
Heed mengangguk dan lagi-lagi menunjuk nametagnya
"..gue manager disini, Manager!" jawabnya seolah pamer. "..Meja mana?"
Aku menunjuk meja paling ujung. Heed mengangguk dan langsung pergi menuju ke kasir meninggalkan kami.
"Serius nih gapapa?" tanya Month padaku.
"..Heed kalau soal ginian ga perhitungan orangnya" jawabku.
Kami pun kembali ke meja kami. Untung saja ada Heed, kalau tidak, pasti kami akan sangat malu untuk meminta tolong Vele dan Rani menalangi tagihannya. Vele dan Rani sempat menawarkan untuk membayar sebagian dari tagihannya namun aku dan Month bersikeras menolaknya dan menjelaskan bahwa minuman yang kami pesan disana diberikan secara Cuma-Cuma oleh Manager kafebar disana. Kami mengobrol sebentar, menghabiskan sisa soju di meja dan bersiap untuk pulang.
Month mengendarai mobil. Ia menawarkan untuk mengantarkan Vele dan Rani pulang. Rani menyetujui tawaran dari Month, sedangkan Vele memilih untuk naik taksi saja karena arah pulangnya berbeda. Aku pun menawarkan diri untuk mengantarkan Vele dengan motorku. Vele menyetujuinya.
Arah rumah Vele hampir searah dengan arah rumahku. Tidak ada salahnya sedikit memutar untuk mengantar Vele. Lagipula, Vele terlihat masih dalam keadaan sedikit typsi. Cukup berbahaya baginya untuk pulang sendiri.
Selama perjalanan, Vele memeluk punggungku dengan erat. Aku tidak keberatan, namun aku merasakan sedikit perasaan bersalah karena saat ini statusku memiliki pacar. Tetapi, aku rasa Vele tidak ada perasaan apapun kepadaku. Saat ini status kami hanya teman saja. Aku tidak berselingkuh ataupun menaruh perasaan pada Vele.
Vele tinggal di apartment bersama dengan adiknya. Aku menurunkan Vele di lobby apartment.
"ga masuk dulu?" tanyanya.
"..nggak deh, lain kali aja. Sudah terlalu malam" tolak aku secara halus.
"..oke deh, hati-hati di jalan ya! Kabarin kalau sudah sampai!" ucapnya.
Aku langsung melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Rasa kantuk dan sedikit mabuk sudah mulai kurasakan sejak sebelum pulang dari kafebar. Aku dipaksa menghabiskan botol terakhir di meja dalam satu tarikan nafas oleh Month. Sebaiknya aku sesegera mungkin sampai ke rumah.
Untungnya aku sampai di rumah dengan selamat. Aku mengambil handphoneku dan mengirimkan pesan kepada Vele kalau aku sudah sampai. Aku menuju ke kamar mandi untuk mandi sebentar, kemudian langsung menuju ke kamarku dan melompat ke atas kasur. Rasa kantuk dan puyeng di kepala semakin berat. Mataku tidak dapat kutahan lagi dan aku langsung tertidur lelap.
**
..to be continued...
Kepalaku mulai panas. Tumpukan file di mejaku sudah selesai kukerjakan. Aku melihat jam di mejaku. Sudah pukul 18.30. Sebaiknya aku mengambil minuman di pantry,pikirku. Aku berjalan menuju pantry. Pantry letaknya tidak jauh dari ruanganku.
Aku melewati meja-meja tempat para junior bekerja. Sebagian besar junior sudah pada pulang. Hanya tinggal beberapa tim yang masih bekerja mengejar deadline. Aku sedikit mengintip ke ruangan Month. Sepertinya dia sudah pulang duluan. Ruangannya kosong dan lampunya juga sudah dimatikan. Oh iya, dia ada kencan dan sepertinya aku dilupakan. Padahal tadinya kan dia mau mengajakku. Aku melanjutkan perjalananku menuju pantry.
Bukannya pingin ikut, tapi aku hanya mengkonfirmasi janjinya tadi pagi. Lagipula, aku juga sudah punya pacar. Yaah..walaupun aku tidak ada waktu buat pacarku sih. Ngomong-ngomong soal pacar, apa kabarnya ya pacarku itu?
Aku mengeluarkan handphoneku dan membaca notifikasi-notifikasi yang muncul. Yah, seperti yang kuduga, pasti ada chat dari Beth. Perlahan aku membuka chat darinya. Isinya lagi-lagi Ping!, ping! dan ping! . Lagi-lagi aku harus meng-scroll terus ke atas hingga mencapai isi dari chatnya.
Seperti yang kuduga lagi, dia marah. Sejak tadi malam, aku bahkan belum sekalipun membalas chat darinya. Aku harus bagaimana ya? Kalau sudah seperti ini ya jelas aku yang salah. Aku terlalu sibuk dengan kerjaan. Kalau saja tadi tidak teringat dengan kencannya Month, mungkin aku belum mengingat Beth sampai sekarang.
Sambil memikirkan cara menenangkan hati Beth yang sedang panas, aku mengisi cangkir dengan kopi dari mesin espresso di pantry. Kantor kami memang menyediakan mesin espresso untuk karyawannya secara gratis. Mesin ini merupakan salah satu fasilitas yang nikmat bagi kami para karyawan disini.
Apa yang sebaiknya kulakukan ya? Aku menyeruput kopi panas tersebut sambil berpikir. Apa aku bawa sogokan lagi ya? Hmm.. baiklah, aku beli saja kue kesukaannya setelah ini. Seharusnya aku sudah bisa pulang sekarang mengingat pekerjaan dari timku juga sudah selesai . Aku bergegas menuju ke ruanganku untuk mengambil jaket dan tasku. Saat aku mematikan lampu ruanganku, terlihat para junior juga sudah membereskan dokumen-dokumen mereka dan bersiap pulang. Sepertinya malam ini tidak akan ada yang lembur, pikirku.
Aku menuju ke lobby gedung. Sekuriti gedung menghampiriku dan menyerahkan kunci motorku. Aku melanjutkan perjalananku menuju ke toko kue. Mungkin dengan membawakan cheese cake akan menenangkan mood Beth,pikirku. Hari ini juga sudah gajian, tidak ada salahnya aku mengajak Beth jalan setelah ini,pikirku lagi.
Di depan toko kue, aku mulai merogoh kantongku untuk mengambil dompetku. Hmm, Tidak ada dompet di kantongku. Aku mencoba mencari di dalam tasku. Tidak ada dompetku juga. Aneh,seharusnya aku membawa dompet hari ini. Tadi pagi aku yakin sekali ada mengambil uang dari dompet. Aku mengerutkan dahi sambil berusaha mengingat-ingat dimana dompetku.
Samar-samar aku teringat kalau dompetku lupa kumasukkan kedalam tas. Dompetku pasti masih tergeletak di atas meja kerjaku. Sial, Betapa teledornya aku ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari secerca keberuntungan dari dalam tas dan kantongku. Siapa tahu ada uang terselip. Dan benar, aku menemukan uang total sekitar Rp150.000,-. Cukup untuk membeli beberapa potong cheesecake, pikirku.
Jalanan masih macet parah. Namanya Jakarta,tidak heran kalau macet. Apalagi jam pulang kerja seperti sekarang. Aku sedikit menyesal mengendarai motor sport di Jakarta. Motor ini cukup berat dan tidak mudah untuk menyalip kendaraan lain dalam keadaan macet begini. Aku terus mempertimbangkan untuk kembali ke kantor untuk mengambil dompetku atau melanjutkan perjalanan ke rumah Beth. Oh iya, pasti sudah tidak ada orang di kantor, dan aku juga tidak memiliki kunci kantor. Baiklah, sudah kutetapkan, aku akan tetap melanjutkan perjalanan ke rumah Beth.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya aku sampai di depan rumah Beth. Aku memencet bel rumahnya. Beth tinggal di rumah yang cukup besar. Ia berasal dari keluarga yang cukup berada. Berbeda denganku yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Beth membukakan pintu. Raut wajahnya masih terlihat sangat marah.
"ngapain datang lagi?" Ujar Beth ketus. "..kan kita udah putus!" lanjutnya.
"..udah donk,beb! Namanya juga kerja kan?"
"..kenapa dari tadi malam nggak ngabarin? Lupa ya sama aku?" sindirnya.
Sebenarnya sejak tadi malam aku benar-benar lupa untuk menghubunginya. Tadi malam aku benar-benar kelelahan, Dan sejak pagi, aku benar-benar sibuk menyelesaikan dokumen-dokumen perusahaan yang bertumpuk. Bagaimana sebaiknya saya merespon pertanyaan Beth?
"Lagi kejar deadline tutup buku perusahaan, semua tim lembur gila-gilaan beberapa hari terakhir." Jawabku. "aku bawain cheesecake nih. Kamu suka kan?" lanjutku sambil menyodorkan box kue.
"kamu udah kerja mati-matian, gaji ga seberapa.. terus ga ada waktu terus buat aku! Pacarin aja tuh kantor!!! Ga usah pacarin aku!! Toh nggak ada bedanya kan??" bentak Beth dengan nada tinggi.
"yah ga mungkin donk aku pacarin kantor, lagian kemampuan aku kan emang di bidang keuangan. Dan lagi aku juga belum ada waktu untuk merintis usaha lain."jelasku
"TERSERAH!!" teriaknya. "kamu tinggal pilih! Aku atau kantormu??"
"..kalau misalkan aku tinggalkan pekerjaan,, nanti penghasilan dari mana?"
"..pikir aja sendiri! Kalau kamu emank sayang sama aku, kamu resign dari kantor itu!"
"..ya ga bisa gitu juga donk.. aku merintis karir di kantor ini juga bukan waktu yang singkat..."
"..yauda..kamu pulang aja! Aku ga mau lihat mukamu dulu!"
"..kuenya gimana? Aku bela-belain beli buat kamu lho" kataku lagi sambil menyodorkan box kue ke Beth.
Beth langsung merebut kue tersebut dari tanganku dan melemparnya ke taman di teras rumahnya. Belum sempat aku berkomentar, Beth langsung membanting pintu rumahnya. Aku terdiam selama beberapa saat dan menghela nafas panjang. Aku jongkok di depan box kue yang bentuknya sudah tidak karuan tersebut. Sepertinya terbanting cukup keras, isi dari kue sudah berceceran keluar dari box. Aduh, sepertinya sudah tidak layak, pikirku. Aku memungut box kue tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Padahal aku membeli kue tersebut dengan uang tunai terakhirku. Dompetku kan tertinggal di kantor.
Aku kembali menghela nafas panjang, sepertinya aku tidak mungkin diijinkan masuk ke rumah Beth. Aku menyalakan mesin motorku. Aku kembali menatap pintu rumah Beth. Tidak ada tanda-tanda Beth akan membukakan pintu untukku. Sebaiknya aku kemana ya? Pikirku. Tiba-tiba notifikasi Bbmku berbunyi. "PING!!"
Aku membuka handphoneku. Month mengirimkan sebuah alamat dan nama sebuah KafeBar di daerah PIK. Kemudian dilanjutkan dengan ajakan ,'Gel, di tempat ini!! Sekarang yaaaa!!'
'Ternyata ingat juga nih bocah..' gumamku. Tapi aku sedang tidak ada mood sama sekali untuk ikut dalam kencan butanya. Apalagi dengan waktu yang mendadak seperti ini. Sebaiknya aku tolak secara halus, pikirku.
Sebelum aku sempat mengirimkan pesan kepada Month, Month terlebih dahulu mengirimkan foto gambar ke Bbmku. Terlihat ia sedang bersama dengan 2 orang gadis. Aku tersentak dan berusaha memperhatikan dengan lebih jelas foto tersebut. Salah satu dari gadis tersebut berambut merah dan postur tubuhnya mirip dengan gadis di mimpiku. Wajah gadis ini tidak terlihat dengan jelas karena tertutup rambut dan lengan Month saat difoto.
Mungkin tidak ada salahnya aku ikut ke tempat Month. Aku penasaran dengan gadis berambut merah tersebut. Perkiraan waktu menuju tempat itu kurang lebih setengah jam. Aku pun bergegas menuju ke tkp dengan harapan memenuhi rasa penasaranku tentang gadis itu.
--
Aku memarkirkan motorku tepat di depan kafebar tempat Month berada. Aku berkaca sebentar di spion motor dan merapikan sedikit rambutku. Aku membuka pintu kafe. Terdengar suara musik yang keras menyelimuti seluruh ruangan kafe. Tercium juga bau rokok yang cukup pekat. Ruangan di sini sedikit redup dengan lampu party yang hidup mati. Aku kurang suka berada di tempat seperti ini. Perasaan tadi di foto yang dikirimkan oleh Month, ruangannya terang. Sepintas, terlihat tulisan "DJ performance at 21.00 tonight!"
'okei..' gumamku, aku kemudian mencari Month di tengah keramaian ini.
'Meja paling ujung!', Month mengarahkan melalui BBM.
Yak, tepat seperti petunjuk Month, aku menemukan meja mereka.
"..sorry telat.."ujarku.
Terlihat Month bersama dengan dua orang gadis. Rasa penasaranku membuatku reflek berusaha melihat wajah gadis berambut merah tersebut.
"Gel! Kenalin ini Vele dan Rani!" seru Month. Month terlihat sedikit typsi. Wajahnya terlihat memerah. Namun sepertinya masih dalam tahapan wajar. Ia masih mampu mengendalikan diri. "Girls! Ini sahabatku yang kubilang tadi, Angelo!" Month memperkenalkan aku dengan heboh. Aku hanya tersenyum tipis sambil menjabat tangan mereka kemudian duduk di sebelah Month.
Aku melirik ke arah Vele. Gadis ini berambut merah juga tetapi sedikit lebih ikal. Wajahnya juga berbeda dengan gadis berambut merah dalam mimpiku. Hfft.. ak menghela nafas. Aku sedikit kecewa karena bukan gadis dalam mimpiku yang muncul. Kalau dipikir-pikir, memang agak mustahil sih bisa betemu gadis dalam mimpiku itu. Sepertinya gadis berambut merah itu hanya gadis imajinasiku saja.
Aku melihat kearah meja. Sudah ada beberapa botol soju yang kosong di atas meja. Sepertinya mereka sudah berada di sini cukup lama. Vele dan Rani pun terlihat sudah memerah mukanya.
"kamu baru pulang kerja?" tanya Vele sambil menyodorkan satu sloki berisi soju kepadaku.
"..iya, habis lembur soalnya. Namanya akhir tahun tutup buku perusahaan biasanya para auditor pasti sibuk." Jawabku sambil menerima sloki dari Vele. "Cheers!" aku mengangkat sloki menandakan untuk bersulang. Kami bersulang dan meminumnya dalam satu tegukan.
"..kalau gitu kenapa Month tidak lembur juga?" tanyanya lagi.
"..Month sekarang hanya menangani klien-klien yang konsultasi saja, belum mendapatkan klien yang harus dibantu pembukuannya seperti klienku. Jadi waktunya masih lebih bebas."
Vele, gadis di hadapanku ini memang manis. Rambutnya yang berwarna merah dan ikal juga sangat menawan. Wajahnya bersih dan kulitnya putih. Sifatnya juga sepertinya humble. Seandainya aku belum punya pacar, mungkin aku akan terpikat padanya. Aku kembali teringat soal Beth. Hubungan kami sudah berjalan hampir tiga tahun lamanya dan hampir selalu bertengkar karena masalah waktu.
Month di sebelahku terlihat asyik mengobrol dengan Rani. Memang tujuan dia hari ini di sini untuk bertemu dengan Rani. Rani, gadis yang dikenalnya dari aplikasi jodoh. Kulitnya agak sedikit lebih gelap daripada Vele. Dari pembicaraannya dengan Month, ia hobi travelling ke pantai ataupun gunung. Wajar saja kulitnya agak sedikit gelap karena terbakar matahari. Sepertinya Rani agak tomboi, terlihat dari pembawaan dan cara bicaranya.
"..kamu ikut kesini karena menemani Rani atau memang mau bertemu dengan Month juga?" tanyaku pada Vele.
Kami berdua melihat kearah Month dan Rani. Mereka sudah asyik ngobrol berdua dan melupakan keberadaan kami, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"..aku diculik.."jawabnya sambil tertawa. Aku langsung mengerti maksud dari Vele. Ia dipaksa untuk ikut menemani Rani. "..harusnya aku ada pasien malam ini, tapi terpaksa aku reschedule demi Rani." Lanjutnya.
"..pasien?"
"..iya..Aku Dokter Gigi.." jawabnya santai.
"..di umur segini?" tanyaku lagi heran. Setahuku umur Vele kurang lebih sama dengan kami. "..bukannya, untuk membuka praktek dokter gigi, paling tidak harus kuliah atau praktek apa gitu selama beberapa tahun setelah lulus kuliah?"
"..Iya, aku dulu masuk sekolah jauh lebih cepat dan pernah ikut jalur akselerasi. Jadi umurku jauh lebih muda dibanding teman-teman sekelas dulu." Jelasnya.
"..berarti bisa bersihin karang gigi aku dong nanti?"
"..bisa kok, tinggal datang ke klinik aku aja"
Aku dan Vele pun bertukaran kontak BBM. Kami mengobrol semalaman sambil sesekali bersulang.
Tak terasa sudah tengah malam, untungnya kami masih dapat mentoleransi alkohol dari soju yang kami minum sehingga kami tidak terlalu mabuk. Month tiba-tiba menyenggolku dan berbisik.
"..Gel, ke toilet bentar yuk! Penting!" ajaknya. Aku mengangguk dan pergi ke toilet bersama dengan Month. Agak aneh sih cowok pergi ke toilet bareng, tapi siapa yang peduli?
Di dalam toilet, hanya ada 3 urinoir. Aku langsung menuju ke urinoir paling pojok kiri dan melepaskan panggilan alamku. Month langsung menuju ke urinoir tengah, tepat di sebelahku. Spontan aku kaget dan menegurnya,
"..woi, lu gay ya,Month? Kenapa malah di sebelah gue pipisnya?" sudah ada peraturan tak tertulis di kalangan cowok kalau pipis biasanya ada jarak satu urinoir.
"..aah,bodo amat,Gel! Udah ga tahan!" jawabnya sambil membuka resleting celananya.
Aku pun buru-buru menyelesaikan pipisku dan menuju wastafel. Month menyusul ke wastafel, mencuci tangannya dan kemudian merapikan rambutnya.
"..eh,Gel.." panggil Month, "..gue lupa bawa uang nih.. boleh minta tolong talangin dulu ga tagihannya nanti?"
"..jangan-jangan, ini alasannya lu suruh gue datang ya?" tanyaku curiga. Kalau dipikir-pikir lagi, Month sudah sampai di sini duluan baru kemudian mengajakku. Aku menatap Month dengan tatapan curiga. Sebenarnya, aku tidak pernah mempermasalahkan uang yang dipinjam oleh Month. Ia selalu mengembalikan uang yang dipinjamnya dariku. Bahkan sebenarnya, Month itu jauh lebih kaya daripada aku. Month sendiri sudah pasti mewarisi usaha orang tuanya karena ia anak tunggal. Selama ini, Month kerja di kantor hanya untuk hobi dan sambil belajar.
Month menyengir.
"..iya.. gue lupa bawa uang baru ingat lu,Gel"
Aku menggaruk kepalaku dan menghela nafas.
"..yaudah, nanti gue talangin dulu. Tapi jangan lupa diganti ya! Kan lu yang ngajak kesini.." jawabku sambil berjalan keluar toilet.
Tiba-tiba aku menghentikan langkahku dan terdiam selama beberapa saat. Sepertinya ada hal penting yang aku lupakan. Aku mengernyitkan dahiku sambil berpikir. Oh iya! Dompetku kan masih tertinggal di kantor.
"Oh iya! Month!" seruku tiba-tiba.
"ya?"
"..gue juga lupa bawa dompet! Ketinggalan di kantor" ujarku dengan sedikit panik.
"..jangan bercanda lu,Gel!" jawab Month yang tidak kalah panik. "terus bayarnya gimana dong?"
"..waduh! Kan ga mungkin minta Vele dan Rani yang bayarin."
"..mau ga mau kita ngomong jujur-jujuran deh sama mereka. Minta tolong ditalangin dulu, nanti pas gue balik ambil dompet langsung transfer balik." Jawab Month pasrah.
"..yakin,bro?" tanyaku memastikan.
"..ya mau gimana lagi,Gel?"
Akhirnya aku dan Month kembali menuju ke meja kami. Terlihat Vele dan Rani sedang asyik mengobrol. Aku dan Month saling bertatap muka sebentar dan menghela nafas panjang.
'BRUK!' tanpa sengaja bahuku menabrak seorang pria di kafe bar tersebut.
"sorry!" terdengar respon permintaan maaf spontan dari pria tersebut.
Pria tersebut mengenakan kemeja lengkap dengan jas dan dasinya. Pakaiannya sangat rapi. Terlihat ada sebuah nametag di bagian dada kirinya. Aku menatap wajah pria tersebut. Terlihat wajah yang tidak asing bagiku.
"HEED??" panggilku. Ternyata tadi tanpa sengaja aku menabrak Heed. Heed itu teman baikku sejak SD. Semenjak aku pindah ke Jakarta, aku sempat lost contact dengan Heed.
"..Angelo!!! Apa kabar??" balas Heed tidak kalah heboh. Ia langsung menjabat tanganku dan memelukku. "..ga ngangka bisa ketemu lu di sini!" ujarnya.
"..Baik,Heed! Lu kok bisa di Jakarta?" jawabku. "..oh iya, ini rekan kerjaku,Month! Month, ini Heed temen baikku dari SD!" lanjutku sambil memperkenalkan Heed pada Month.
Heed dan Month saling berjabat tangan.
"..gue kerja disini bantu-bantu manajemen disini. Yaah,ada sedikit saham juga lah." Rupanya Heed kerja di kafe bar ini dan jabatannya adalah Manager, terlihat dari name tagnya.
"..wow,lu manager di sini,cuy?" tanyaku memastikan.
Heed menunjuk nametagnya dengan bangga sambil tersenyum lebar.
"..kalian minum apa di sini? Udah lama?" lanjutnya.
"..yaah, hampir tiga jam sih disini. Ini juga udah mau balik. Tapiβ¦" jawabku
"..tapi?"
"..gue lupa bawa dompet" jawabku agak sedikit malu.
"..ah, sudah-sudah! Gue aja yang bayarin!" jawab Heed sambil menepuk pundakku. "..kan udah lama ga ketemu lu! Nanti kita atur waktu minum-minum bareng,Gel!"
"..Serius nih? Ga enak nih gue!" tanyaku memastikan.
Heed mengangguk dan lagi-lagi menunjuk nametagnya
"..gue manager disini, Manager!" jawabnya seolah pamer. "..Meja mana?"
Aku menunjuk meja paling ujung. Heed mengangguk dan langsung pergi menuju ke kasir meninggalkan kami.
"Serius nih gapapa?" tanya Month padaku.
"..Heed kalau soal ginian ga perhitungan orangnya" jawabku.
Kami pun kembali ke meja kami. Untung saja ada Heed, kalau tidak, pasti kami akan sangat malu untuk meminta tolong Vele dan Rani menalangi tagihannya. Vele dan Rani sempat menawarkan untuk membayar sebagian dari tagihannya namun aku dan Month bersikeras menolaknya dan menjelaskan bahwa minuman yang kami pesan disana diberikan secara Cuma-Cuma oleh Manager kafebar disana. Kami mengobrol sebentar, menghabiskan sisa soju di meja dan bersiap untuk pulang.
Month mengendarai mobil. Ia menawarkan untuk mengantarkan Vele dan Rani pulang. Rani menyetujui tawaran dari Month, sedangkan Vele memilih untuk naik taksi saja karena arah pulangnya berbeda. Aku pun menawarkan diri untuk mengantarkan Vele dengan motorku. Vele menyetujuinya.
Arah rumah Vele hampir searah dengan arah rumahku. Tidak ada salahnya sedikit memutar untuk mengantar Vele. Lagipula, Vele terlihat masih dalam keadaan sedikit typsi. Cukup berbahaya baginya untuk pulang sendiri.
Selama perjalanan, Vele memeluk punggungku dengan erat. Aku tidak keberatan, namun aku merasakan sedikit perasaan bersalah karena saat ini statusku memiliki pacar. Tetapi, aku rasa Vele tidak ada perasaan apapun kepadaku. Saat ini status kami hanya teman saja. Aku tidak berselingkuh ataupun menaruh perasaan pada Vele.
Vele tinggal di apartment bersama dengan adiknya. Aku menurunkan Vele di lobby apartment.
"ga masuk dulu?" tanyanya.
"..nggak deh, lain kali aja. Sudah terlalu malam" tolak aku secara halus.
"..oke deh, hati-hati di jalan ya! Kabarin kalau sudah sampai!" ucapnya.
Aku langsung melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Rasa kantuk dan sedikit mabuk sudah mulai kurasakan sejak sebelum pulang dari kafebar. Aku dipaksa menghabiskan botol terakhir di meja dalam satu tarikan nafas oleh Month. Sebaiknya aku sesegera mungkin sampai ke rumah.
Untungnya aku sampai di rumah dengan selamat. Aku mengambil handphoneku dan mengirimkan pesan kepada Vele kalau aku sudah sampai. Aku menuju ke kamar mandi untuk mandi sebentar, kemudian langsung menuju ke kamarku dan melompat ke atas kasur. Rasa kantuk dan puyeng di kepala semakin berat. Mataku tidak dapat kutahan lagi dan aku langsung tertidur lelap.
**
..to be continued...
Diubah oleh angelous91 23-03-2019 12:02
pulaukapok memberi reputasi
6