- Beranda
- Stories from the Heart
Ritme (Kumpulan alkisah)
...
TS
lotus.flower
Ritme (Kumpulan alkisah)
Diubah oleh lotus.flower 27-01-2019 11:37
4
2K
14
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lotus.flower
#5
Lembar kedua
Kalau ada dua hal di dunia ini yang enggak pernah bisa gue lawan, maka hal itu bagi gue adalah "waktu dan takdir" seperti yang enggak pernah gue sangka kalau klien gue, mas arya yang meminta gue untuk menargetkan istrinya untuk diuji kesetiaannya ternyata adalah perempuan berhijab tosca yang gue lihat saat perjalanan di kereta komuterline tempo hari, tadinya gue masih gak percaya sampai gue melihatnya secara seksama. Gue bisa lihat dengan jelas kalau tatapan mata itu, mata tajam bengan balutan soflens cokelat. Enggak salah lagi dia, perempuan itu ternyata istri dari mas arya.
Dari penjelasan singkat mas arya gue akhirnya tau kalau nama perempuan itu, Anne. Dan bagi gue, pertemuan singkat di stasiun bekasi dan sepanjang perjalanan satu gerbon kereta dari bekasi menuju cikini dengan dia, gue anggap bagian dari takdir yang mau enggak mau mesti gue selesaikan.
Siang itu selesai kami menyantap menu bubur ayam kami, dan mas arya selesai membagikan foto istrinya, yang tak lain target gue kali ini ke nomor whatsapp gue, serta memberi informasi singkat seperti nama istrinya yang gue sebut barusan, juga sebuah nomor telfon yang terhubung dengan whatsapp istrinya.gue cukup perlu itu sebagai dasar mendekati dia.
O iya, sebelumnya gue belum kasi tau ke kalian kalau gue, sedikit bisa dalam hacking dasar, sangat dasar sih, yang gue pelajari secara otodidak sejak di bangku kuliah dulu, yang biasanya keahlian itu gue gunakan untuk cari informasi atau apapun yang berhubungan dengan calon target gue. Namun, satu hal yang jadi kelebihan bagi gue adalah, “social engineering” yap, bisa dibilang gue lumayan expert dibidang tersebut. Satu hal yang selalu jadi kunci kesuksesan gue dalam melakukan “side job” ini. Bukan bermaksud sombong Karena itu juga gue enggak pernah gagal, hehe..
*****
Tiga hari kemudian, pasca ketemuan gue sama mas arya.
Dering lagu payphone milik maroon five terngiang dari volume kecil sampai ke dering yang cukup Cumiakan telinga, nada dering yang gue pakai sebagai penanda alarm di smartphone. Artinya ini sudah jam enam kurang sepuluh menit pagi. Jam yang gue setting tiap paginya.
dengan malasnya, tangan kanan gue berusaha meraba letak handphone yang entah diposisi mana di kamar kost gue. Dengan mata masih terpejam, gue hanya mengikuti insting kemalasan gue sambil mendengarkan asal suara deringnya. Sambil tengkurap, tangan kanan gue masih berusaha meraba sekitar kasur sampai di lantai bawah kasur busa tanpa dipan. Letak hp ternyata sejajar dengan posisi lutut gue. Dengan kedua mata yang masih terpejam, akhirnya berhasil gue gengam, lalu mematikan dering alarm nya, hehe..
sepuluh menit kemudian, gue refleks terbangun dari tidur dan memposisikan duduk di atas kasur. Menyeka sisa sisa kotoran yang melekat di kedua kelopak mata dan kedua tepi bibir gue. Gue menggeliat sekali, sampai pandangan gue benar benar jelas, lalu beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
beberapa saat kemudian, gue sudah berseragam kerja lengkap, atasan kemeja kerja warna putih serta celana panjang dengan warna serupa, gue ambil id card, di laci meja setinggi perut yang berbahan serbuk kayu press, kemudian dilapisi polywod warna abu abu muda. Letak mejanya ada di sisi kanan kasur, sejajar posisi atas atau kepala gue tiap tidur atau merebahkan badan.
jam dinding bulat warna hitam gradasi putih di atas led tv tiga puluh dua inchi gue menunjukan pukul setengah tujuh pagi, gue mulai jam masuk kerja jam setengah delapan. Masih ada satu jam untuk gue sampai ke kantor. Dari depan meja gue melangkah ke kulkas, mengambil roti tawar serta selai cokelat. Gue ambil dua slay roti dari dalam bungkus plastik kemudian melapisi kedua sisinya dengan selai coklat. Lalu memakannya.
Ya, ini adalah menu sarapan rutin gue tiap hari, bisa dibilang gitu dan bukan bermaksud ke barat baratan, tapi memang beginilah kebiasaan gue. Karena gue aslinya dulu jarang sekali gue yang namnya sarapan. Sekalinya tiap coba sarapan nasi, perut gue mual seketika dan enggak enak buat ngapa ngapain. Sampai akhir gue mencoba sarapan roti tawar ini, dan perut gue cocok hingga terbiasa hingga sekarang, kurang lebih hampir sepuluh tahun gue jalani kebiasaan tersebut.
selesai sarapan dan mengunci pintu kost, gue menuju parkir motor di sisi depan teras kost, dan memanaskan mesin motor beberapa saat sebelum akhirnya gue berangkat menuju kantor yang gue cukup dekat jaraknya dari tempat kost gue, hanya sekitar kurang dari sepuluh menit perjalanan menggunakan motor.
selasa yang monoton, enggak yang special di rutinitas kerja gue hari ini. Seperti biasa hanya mengerjakan tugas tugar design gambar yang diminta supervisor gue, pak budiman. Saat itu gue diberi tiga design gambar untuk sample produk dari tiga customer yang berbeda. Satu dari produsen motor kenamaan asal jepang, satu request dari salah satu anak perusahaan astra grup, dan terakhir milik salah satu produsen mobil kenamaan asal jepang pula. Sampai selesai jam istirahat siang gue.
“eh.....oiiiii!” suara seorang perempuan membuyarkan lamunan, saat gue lagi ngelamun di depan PC di meja kerja gue.
“eh.. kenapa na?” gue melirik ke asal suara, yang ternyata adalah erna, staft purchasing di perusahaan gue.
“ngelamun mulu lo, kerja.” Tandasnya. “gue panggil lo daritadi tau.” Dia berkacak pinggang sambil mendengus kesal.
“masa sih na, hehe.. gue baru denger suara lo ya yang barusan. Sory ya.” Jawab gue ke dia.
“huh, yaudah. Gue maafin. Tapi ada syaratnya.”
“hah syarat? Nggak tulus lo berati kasi maaf nya” pancing gue, ke perempuan berambut hitam sebahu yang dikucir rapih, dengan ikat rambut warna biru langit. Matanya yang sedikit sipit, kulit kuning langsat serta badan yang semampai, enggak heran kalau dia termasuk salah satu primadona dikantor. Terlebih bagi para lelaki buaya darat.
“tulus kok, Cuma masih sedikit kesel aja gue. Hehe.. jadi mau ga lo” lanjut dia yang masih berdiri di samping kanan gue duduk.
“apaan dulu syaratnya? Kalo berat, gue ogah. Tapi kalo masih masuk akal, bolehlah.” Jawab gue
“ye, segitunya. Ga berat kok. Motor gue lagi dibawa adek gue ke kost nya. Jadi, gue mau minta tolong lo buat anter gue beli sesuatu buat kado si mbak martha.”
“oh, gitu.. kalo itusih oke deh, loh kado buat mbak martha? Emang dalam rangka apa?” selidik gue
“elo ini pura pura gak tau apa emang beneran ga tau sih giii?
“serius gue nggak paham maksudnya.”
“lo nggak denger kabar ngapa, mbak martha tuh baru lahiran dua hari lalu. Nah gue mau kasi kado buat anaknya yang bayi itu, gimana sih lo.”
“ye, mana gue tau yang begituan, lagian kalo yang cuti lahiran gue setau gue kan lama ya, jadi mana gue tau juga kapan dia lahiran, gue nggak tertarik, haha..”
“parah lo, yaudah mau ya, anter gue.”
“sip,. Emang kemana lo beli kadonya?”
“deket, di mall merah ituloh gie, di matahrinya paling.”
“oh...oke” gue mengangguk tanda setuju. “oya na, btw lo ke meja gue ada apaan, gue lupa nanya?”
“oh, iya ya. Gue malah kelupaan. Hehe, gini gi. Pak chandra dari perusahaan tools, suplier kita itu telfon gue tadi. Dia nanya, soal spesifikasi tools yang kite pesan ke dia itu udah finnal belum design gambarnya, gitu.”
“ah elah, kirain ada apaan. Kalo Cuma mau nanya itu kenapa lo ga ekstension aja ke nomor meja gue sih.” Ujar gue sambil menggeret kursi punya faisal, teman seruangan gue, yang kebetulan orangnya lagi nggak masuk hari ini.
“makasih, daritadi kek lo kasi gue kursi buat duduk.” Tandas erna, sambil meraih kursi yang gue kasih lalu dia duduk, di sisi kanan gue. Jarang kami terpaut hanya beberapa centi saling berhadapan.
“iya, tadinya gue mau ekstension lo Cuma nomor lo sibuk mulu. Eh pas gue kesini gue liat lo lagi bengong depan PC. Ternyata telfonnya sengaja lo ga tutup ke posisi semula ya, sengaja biar nada sibuk terus. Wuuuhh..” gerutunya sambil seketika nyubit lengan gue.
“awgh! Hehe... kan lo paham kalo udah lewat setengah hari tuh gue males angkat telfon. Kayak baru kenal gue aja sih lo, na.” Jawab gue sekenanya.
“iyasih, tapi ini kan hari rabu, gue apal lo sibuk dan males angkat telfon tuh kalo hari jumat kan.”
“iya iya, gue males aja hari ini, udah gausah dibahas. Btw, soal pak chandra nanti biar gue yang kasi tau ke beliau ya. Abis ini.”
“oke kalo gitu gue balik ke atas, ke ruangan gue dulu ya?” dia sambil beranjak dari duduk.
gue mengangguk paham.
“jangan lupa yang soal anter gue nanti balik kerja, gue WA deh nanti kalo dah balik, oke gi.”
“siaaapp....” gue mengacungkan jempol.
Dan erna pun melangkah keluar dari ruangan gue, menuju ruangan di lantai atas persis diatas ruang enginnering departemen, tempat dimana meja gue berada.
Erna, gue akui dia emang perfect sih secara fisik dan sifat. Tapi entah kenapa gue yang sering diledekin teman kantor dan di comblangin sama mereka agar gue bisa jadian sama erna, gue tolak halus. Bukannya sombong, tapi dia emang bukan type perempuan yang pas untuk gue jadikan pasangan, lebih asik buat sekedar teman ngobrol, atau sekedar sharing aja.
gue sedikit berpikir tentang lamunan gue tadi sebelum di tegur erna. Gue terpikir anne, target gue kali ini yang sampai detik ini sudah sampai pada tahap “chit chat” well, walaupun gue akui kalo awalnya agak susah mendekati dia, sampai gue menemukan sedikit celah info lain yang gue dapat sedikit dari skill IT gue, ya gue dapat info tentang dia aktif di Line. Dan aktif di sebuah forum game yang di sponsori media tersebut.
darisanalah akhirnya gue perlahan masuk, ikut ke dalam permainan itu, dengan awalnya menghack sebuah akun game tersebut milik orang luar negeri. Yang kemudian id nya gue pakai untuk gue bisa masuk dalam forum game “lingkaran” si anne. Karena gue perhatikan level game mereka sudah pada level yang tinggi rata-rata. Dan akan terasa janggal kalo tiba-tiba gue masuk, dengan id yang level nyubi, hehe.
“anne, anne,.. liat aja, enggak akan lama lagi lo bakal takluk sama gue.” Kata gue dalam hati sebelum mengabari pak chandra suplier maker tools yang kerjasama dengan perusahaan gue, perihal apa yang erna kasih tau info ke gue.
Dari penjelasan singkat mas arya gue akhirnya tau kalau nama perempuan itu, Anne. Dan bagi gue, pertemuan singkat di stasiun bekasi dan sepanjang perjalanan satu gerbon kereta dari bekasi menuju cikini dengan dia, gue anggap bagian dari takdir yang mau enggak mau mesti gue selesaikan.
Siang itu selesai kami menyantap menu bubur ayam kami, dan mas arya selesai membagikan foto istrinya, yang tak lain target gue kali ini ke nomor whatsapp gue, serta memberi informasi singkat seperti nama istrinya yang gue sebut barusan, juga sebuah nomor telfon yang terhubung dengan whatsapp istrinya.gue cukup perlu itu sebagai dasar mendekati dia.
O iya, sebelumnya gue belum kasi tau ke kalian kalau gue, sedikit bisa dalam hacking dasar, sangat dasar sih, yang gue pelajari secara otodidak sejak di bangku kuliah dulu, yang biasanya keahlian itu gue gunakan untuk cari informasi atau apapun yang berhubungan dengan calon target gue. Namun, satu hal yang jadi kelebihan bagi gue adalah, “social engineering” yap, bisa dibilang gue lumayan expert dibidang tersebut. Satu hal yang selalu jadi kunci kesuksesan gue dalam melakukan “side job” ini. Bukan bermaksud sombong Karena itu juga gue enggak pernah gagal, hehe..
*****
Tiga hari kemudian, pasca ketemuan gue sama mas arya.
Dering lagu payphone milik maroon five terngiang dari volume kecil sampai ke dering yang cukup Cumiakan telinga, nada dering yang gue pakai sebagai penanda alarm di smartphone. Artinya ini sudah jam enam kurang sepuluh menit pagi. Jam yang gue setting tiap paginya.
dengan malasnya, tangan kanan gue berusaha meraba letak handphone yang entah diposisi mana di kamar kost gue. Dengan mata masih terpejam, gue hanya mengikuti insting kemalasan gue sambil mendengarkan asal suara deringnya. Sambil tengkurap, tangan kanan gue masih berusaha meraba sekitar kasur sampai di lantai bawah kasur busa tanpa dipan. Letak hp ternyata sejajar dengan posisi lutut gue. Dengan kedua mata yang masih terpejam, akhirnya berhasil gue gengam, lalu mematikan dering alarm nya, hehe..
sepuluh menit kemudian, gue refleks terbangun dari tidur dan memposisikan duduk di atas kasur. Menyeka sisa sisa kotoran yang melekat di kedua kelopak mata dan kedua tepi bibir gue. Gue menggeliat sekali, sampai pandangan gue benar benar jelas, lalu beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
beberapa saat kemudian, gue sudah berseragam kerja lengkap, atasan kemeja kerja warna putih serta celana panjang dengan warna serupa, gue ambil id card, di laci meja setinggi perut yang berbahan serbuk kayu press, kemudian dilapisi polywod warna abu abu muda. Letak mejanya ada di sisi kanan kasur, sejajar posisi atas atau kepala gue tiap tidur atau merebahkan badan.
jam dinding bulat warna hitam gradasi putih di atas led tv tiga puluh dua inchi gue menunjukan pukul setengah tujuh pagi, gue mulai jam masuk kerja jam setengah delapan. Masih ada satu jam untuk gue sampai ke kantor. Dari depan meja gue melangkah ke kulkas, mengambil roti tawar serta selai cokelat. Gue ambil dua slay roti dari dalam bungkus plastik kemudian melapisi kedua sisinya dengan selai coklat. Lalu memakannya.
Ya, ini adalah menu sarapan rutin gue tiap hari, bisa dibilang gitu dan bukan bermaksud ke barat baratan, tapi memang beginilah kebiasaan gue. Karena gue aslinya dulu jarang sekali gue yang namnya sarapan. Sekalinya tiap coba sarapan nasi, perut gue mual seketika dan enggak enak buat ngapa ngapain. Sampai akhir gue mencoba sarapan roti tawar ini, dan perut gue cocok hingga terbiasa hingga sekarang, kurang lebih hampir sepuluh tahun gue jalani kebiasaan tersebut.
selesai sarapan dan mengunci pintu kost, gue menuju parkir motor di sisi depan teras kost, dan memanaskan mesin motor beberapa saat sebelum akhirnya gue berangkat menuju kantor yang gue cukup dekat jaraknya dari tempat kost gue, hanya sekitar kurang dari sepuluh menit perjalanan menggunakan motor.
selasa yang monoton, enggak yang special di rutinitas kerja gue hari ini. Seperti biasa hanya mengerjakan tugas tugar design gambar yang diminta supervisor gue, pak budiman. Saat itu gue diberi tiga design gambar untuk sample produk dari tiga customer yang berbeda. Satu dari produsen motor kenamaan asal jepang, satu request dari salah satu anak perusahaan astra grup, dan terakhir milik salah satu produsen mobil kenamaan asal jepang pula. Sampai selesai jam istirahat siang gue.
“eh.....oiiiii!” suara seorang perempuan membuyarkan lamunan, saat gue lagi ngelamun di depan PC di meja kerja gue.
“eh.. kenapa na?” gue melirik ke asal suara, yang ternyata adalah erna, staft purchasing di perusahaan gue.
“ngelamun mulu lo, kerja.” Tandasnya. “gue panggil lo daritadi tau.” Dia berkacak pinggang sambil mendengus kesal.
“masa sih na, hehe.. gue baru denger suara lo ya yang barusan. Sory ya.” Jawab gue ke dia.
“huh, yaudah. Gue maafin. Tapi ada syaratnya.”
“hah syarat? Nggak tulus lo berati kasi maaf nya” pancing gue, ke perempuan berambut hitam sebahu yang dikucir rapih, dengan ikat rambut warna biru langit. Matanya yang sedikit sipit, kulit kuning langsat serta badan yang semampai, enggak heran kalau dia termasuk salah satu primadona dikantor. Terlebih bagi para lelaki buaya darat.
“tulus kok, Cuma masih sedikit kesel aja gue. Hehe.. jadi mau ga lo” lanjut dia yang masih berdiri di samping kanan gue duduk.
“apaan dulu syaratnya? Kalo berat, gue ogah. Tapi kalo masih masuk akal, bolehlah.” Jawab gue
“ye, segitunya. Ga berat kok. Motor gue lagi dibawa adek gue ke kost nya. Jadi, gue mau minta tolong lo buat anter gue beli sesuatu buat kado si mbak martha.”
“oh, gitu.. kalo itusih oke deh, loh kado buat mbak martha? Emang dalam rangka apa?” selidik gue
“elo ini pura pura gak tau apa emang beneran ga tau sih giii?
“serius gue nggak paham maksudnya.”
“lo nggak denger kabar ngapa, mbak martha tuh baru lahiran dua hari lalu. Nah gue mau kasi kado buat anaknya yang bayi itu, gimana sih lo.”
“ye, mana gue tau yang begituan, lagian kalo yang cuti lahiran gue setau gue kan lama ya, jadi mana gue tau juga kapan dia lahiran, gue nggak tertarik, haha..”
“parah lo, yaudah mau ya, anter gue.”
“sip,. Emang kemana lo beli kadonya?”
“deket, di mall merah ituloh gie, di matahrinya paling.”
“oh...oke” gue mengangguk tanda setuju. “oya na, btw lo ke meja gue ada apaan, gue lupa nanya?”
“oh, iya ya. Gue malah kelupaan. Hehe, gini gi. Pak chandra dari perusahaan tools, suplier kita itu telfon gue tadi. Dia nanya, soal spesifikasi tools yang kite pesan ke dia itu udah finnal belum design gambarnya, gitu.”
“ah elah, kirain ada apaan. Kalo Cuma mau nanya itu kenapa lo ga ekstension aja ke nomor meja gue sih.” Ujar gue sambil menggeret kursi punya faisal, teman seruangan gue, yang kebetulan orangnya lagi nggak masuk hari ini.
“makasih, daritadi kek lo kasi gue kursi buat duduk.” Tandas erna, sambil meraih kursi yang gue kasih lalu dia duduk, di sisi kanan gue. Jarang kami terpaut hanya beberapa centi saling berhadapan.
“iya, tadinya gue mau ekstension lo Cuma nomor lo sibuk mulu. Eh pas gue kesini gue liat lo lagi bengong depan PC. Ternyata telfonnya sengaja lo ga tutup ke posisi semula ya, sengaja biar nada sibuk terus. Wuuuhh..” gerutunya sambil seketika nyubit lengan gue.
“awgh! Hehe... kan lo paham kalo udah lewat setengah hari tuh gue males angkat telfon. Kayak baru kenal gue aja sih lo, na.” Jawab gue sekenanya.
“iyasih, tapi ini kan hari rabu, gue apal lo sibuk dan males angkat telfon tuh kalo hari jumat kan.”
“iya iya, gue males aja hari ini, udah gausah dibahas. Btw, soal pak chandra nanti biar gue yang kasi tau ke beliau ya. Abis ini.”
“oke kalo gitu gue balik ke atas, ke ruangan gue dulu ya?” dia sambil beranjak dari duduk.
gue mengangguk paham.
“jangan lupa yang soal anter gue nanti balik kerja, gue WA deh nanti kalo dah balik, oke gi.”
“siaaapp....” gue mengacungkan jempol.
Dan erna pun melangkah keluar dari ruangan gue, menuju ruangan di lantai atas persis diatas ruang enginnering departemen, tempat dimana meja gue berada.
Erna, gue akui dia emang perfect sih secara fisik dan sifat. Tapi entah kenapa gue yang sering diledekin teman kantor dan di comblangin sama mereka agar gue bisa jadian sama erna, gue tolak halus. Bukannya sombong, tapi dia emang bukan type perempuan yang pas untuk gue jadikan pasangan, lebih asik buat sekedar teman ngobrol, atau sekedar sharing aja.
gue sedikit berpikir tentang lamunan gue tadi sebelum di tegur erna. Gue terpikir anne, target gue kali ini yang sampai detik ini sudah sampai pada tahap “chit chat” well, walaupun gue akui kalo awalnya agak susah mendekati dia, sampai gue menemukan sedikit celah info lain yang gue dapat sedikit dari skill IT gue, ya gue dapat info tentang dia aktif di Line. Dan aktif di sebuah forum game yang di sponsori media tersebut.
darisanalah akhirnya gue perlahan masuk, ikut ke dalam permainan itu, dengan awalnya menghack sebuah akun game tersebut milik orang luar negeri. Yang kemudian id nya gue pakai untuk gue bisa masuk dalam forum game “lingkaran” si anne. Karena gue perhatikan level game mereka sudah pada level yang tinggi rata-rata. Dan akan terasa janggal kalo tiba-tiba gue masuk, dengan id yang level nyubi, hehe.
“anne, anne,.. liat aja, enggak akan lama lagi lo bakal takluk sama gue.” Kata gue dalam hati sebelum mengabari pak chandra suplier maker tools yang kerjasama dengan perusahaan gue, perihal apa yang erna kasih tau info ke gue.
Diubah oleh lotus.flower 05-04-2019 23:36
1