TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.4K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#99
Billboard
Quote:
Hi, Sy Putri, Background saya anak media. Usia 14th sdh di radio, bukan announcer tapi lbh ke wara wiri belajar radio. Aktif sampai sekitar 3tahunan..
Pernah di agency. As in media planner.. handling brand, strategi dan media placement nya (tv print sama event)
2015 saya di salah satu startup asal Eropa, unt campaign2 digital klien mereka
Tapi paling lama di media outdoor, hampir 10th
Sekarang saya domisili di Semarang. Skrng sbg direktur di Sindo SinarGemilang advertising dan media consultant. Ini adalah perusahaan media luar ruangan dengan lingkup kerja kita fokus di Jawa Tengah dan Jogja. Produk kita seperti billboard dan baliho
Oya, kl sdh pernah ada yg pernah dengar Omni Channel, ini kurang lebihnya sama. Cuman saya sebutnya Ilmu Katak; Amphibi Marketing , supaya lebih sederhana
Amphibi itu katak. katak itu hidup di dua dunia, darat dan air. Begitu juga dalam dunia marketing dan branding, ada online ada offline
Sebelum tercampur aduk, biasa di bagi ada selling, marketing, dan branding. Marketing itu ubah pelanggan dari cold ke warm (dingin ke anget) Selling itu ubah pelanggan dari warm ke hot (anget ke panas), dan Branding itu membuat pelanggan yg sdh hot tetep hot..
Malam ini mngkn lebih ke marketing dan branding (bukan ttg selling online)
Sedikit review branding tu menancapkan nilai sesuatu ke benak konsumen. Apa nilai anda, seperti apa nilai / value yg customer anda dptkan ttg anda. krn brand yg baik, akan bertahan selamanya.
Terkait dengan aktifasi value, atau penyampaian nilai produk / jasa... banyak bgt yg sering tanya, put aku mending online aja atau offline juga. ada juga yg tanya, sebaliknya.
Saya banyak mengamati perubahan-perubahan terkait aktifasi sebuah nilai / value. Dulu, semua ramai-ramai iklan di TV , Koran radio juga billingnya tinggi. Lalu kemudian ada sebuah prediksi bahwa tv akan mati, radio juga mati, ada juga yg bicara ttg beberapa cetak sudah tutup (dan memang ada yg sdh tutup). Itu dulu. Kemunculan internet dengan semua digitalisasinya menjadi sebuah trend baru yang membuat banyak orang penasaran dan itu berhasil. Saya, di Outdoor, termasuk yg dari dulu sekali di prediksi akan mati duluan. Karena budgetnya besar, medianya paling konvensional diantara teman2 nya yg lain, dll. Masa itu.
Masa itu, sekitar lima tahun lalu, semua orang lari ke internet, ke dunia digital.. ada banyak argument tentang pakai online itu lebih efektif, lebih keren daripada offline. Ada pendapat yg menilai, online lebih bisa di target, lebih bisa disetting, dll. Kembali lagi, kita bicara branding bukan selling. Branding adalah sebuah investasi jangka panjang.
Pertanyaan nya kemudian? Pesan nilai apa yg mau anda sampaikan? Kan kalau ilmu di kelas BBB, Brand itu habis di Bikin, Di Aktifasi.
Pengaktifasian brand salah satunya memang melalui channel atau media apa yg digunakan; kata lainnya Placement. Dimana kemudian nilai itu di tempatkan
Yang terjadi kemudian, dua-tiga tahun terakhir ini, menurut pengamatan saya dunia digital semakin penuh, semakin ramai dan semakin sesak, mau masuk dan mau ‘mencolok’ sendiri agak susah. Orang-orangnya juga semakin pintar. Sekarang, semakin banyak orang ahli di internet, sosmed, website, dan lain-lain yg ada di Google
Kemudian juga, pada satu titik. Banyak yg menyadari bahwa online offline harus berjalan sejajar. Kita hidup di Planet Omni kalau kata pak Hermawan Kertajaya
Ada masa dimana mengaktifkann nilai / value lewat surat kabar atau brosur masih di perlukan berbarengan dengan media online. Ada saat dimana kita tidak pegang hape (misalkan pas lagi nyetir), aktifasi melalui billboard atau radio itu diperlukan
Krn online semakin penuh, semakin sibuk, dan semakin bising, diimbangi dengan pilihan media lainnya.
Beberapa contoh hasil pengamatan saya, online based to offline.
jadi contohnya saya lihat Tokopedia, dia online based. Tahun ini tokopedia masuk ke usianya yang 10tahun. Saya mengenal tokopedia pertama kali tahun 2012, saat itu masih jaman tokobagus di iklankan banyak di TV. Ecommerce belum seheboh hari ini
2015 saat tokopedia mulai naik, saat itu saya ingat, billboard tokopedia tersebar dimana-mana di Jakarta, saya ingat, di Gatsu, depan Ambassador Plaza, banyak foto Isyana Sarasvati lagi nglendot di HPnya. Kemudian tagline khas tokopedia banyak di tv dan radio
Dan sampai sekarang, tokopedia juga masih 'tersebar' dimana-mana
Kemudian ada brand berrybenka. Dia online based, namun juga sudah beberapa tahun ini buka store offline
Pengalaman berbelanja online ditambah dengan offline. Bisa belanja online, bisa mengembalikan offline ke store. Kombinasi ini jadi nilai tambah buat berrybenka dalam menancapkan nilai ‘fashion’ mereka di Indonesia
Yg Offline to Online,. Saya contohkan perusahaan kami, Sindo SinarGemilang dengan portalnya Mediaini.Com
Kami bisnis offline based, dengan kantor dan banyak karyawan. Kehadiran online kami gunakan sebagai media untuk mengaktifasi nilai offline yg selama ini sdh kami bangun
Perusahaan kami perusahaan jasa, jualan kami berupa service bukan barang yg bisa di pegang. (ya walaupun billboard itu ada barangnya, cuman bukan billboard yg semata2 kita jual)
Mengaktifkan brand jasa kami melalui person yg ada di kantor. Jadi kunjungan2 yg kami lakukan bukan semata2 untuk jualan, tapi kadang ada waktu dimana nilai atau value ini ditanamkan
Nah, dengan online. Kita pakai beberapa channel, sosmed kita pakai, google kita pakai, ads berbayar kita pakai, website dll... cuman channeling2 diciptakan untuk mengaktifkan brand Sindo SinarGemilang pada prospectus customer (pas butuh biar ingat), dan eksisting klien
karena 'ku tahu yang ku mau' tidak dibangun dalam satu malam. 'indomie seleraku' juga butuh perjuangan
jadi,,aktifasi sebuah brand memang sangat perlu kedua O ini
Online offline
yang sementara ini banyak ngebranding di online bolehlah kapan2 coba yg offline. yg offline , boleh mainlah ke online
brand bukan hanya untuk hari ini, tapi dibangun untuk sampai ratusan tahun lagi.
Quote:
Kalau untuk UKM , ada ide aktifasi bgmn?
Jadi dulu ceritanya,, ada dulu kenalan saya yg usahanya itu semuanya pakai medsos. Pertanyaannya sama.
Mau branding bagaimana, bisnisnya sibuk jualan
Brand itu kan ttg value, kepercayaan,. Pemilik bisnis perlu banyak 'beredar' . Misalkan aktif datang di acara2 komunitas, atau pengajian, atau arisan2. Disitu branding usaha anda bisa dibawa, contoh paling sederhananya begitu
Jadi dulu ceritanya,, ada dulu kenalan saya yg usahanya itu semuanya pakai medsos. Pertanyaannya sama.
Mau branding bagaimana, bisnisnya sibuk jualan
Brand itu kan ttg value, kepercayaan,. Pemilik bisnis perlu banyak 'beredar' . Misalkan aktif datang di acara2 komunitas, atau pengajian, atau arisan2. Disitu branding usaha anda bisa dibawa, contoh paling sederhananya begitu
Quote:
nah seberapa penting dan efektif jika ukm lalukan brand activation gunakan billboard
Ada kok beberapa mas UKM bahkan angkringan yg pakai billboard. Karena gini, placement pake billboard itu kan biasa ditempatkan di tempat2 strategis, secara mass / jumlah orang yg lihat placement itu secara quantity banyak
kemudian ada stigma di masyarakat kita bahwa 'billboard itu mahal', dan nilai 'mahal' inilah yg di gunakan oleh produk2 UKM yg biasanya ingin naik kelas.. Kan kl marketing itukan ttg ubah persepsi orang, branding ttg 'nancepin' dia di otak orang (be in mind). Nah beberapa produk spy terkesan lebih ekslusive, lebih professional, dan lebih 'mahal' biasa mereka juga pakai . Dan ini terbukti cukup efektif
Kl ditanya closing rate. Billboard itu tdk bisa di head to head kan langsung dg penjualan... tapi sangat efektif untuk merubah persepsi orang. habis lihat billboard orang jadi ngeh, dan kemudiann cari informasi lebih detail di media lain seperti koran internet.. Billboard kan tulisannya sedikit
Ada kok beberapa mas UKM bahkan angkringan yg pakai billboard. Karena gini, placement pake billboard itu kan biasa ditempatkan di tempat2 strategis, secara mass / jumlah orang yg lihat placement itu secara quantity banyak
kemudian ada stigma di masyarakat kita bahwa 'billboard itu mahal', dan nilai 'mahal' inilah yg di gunakan oleh produk2 UKM yg biasanya ingin naik kelas.. Kan kl marketing itukan ttg ubah persepsi orang, branding ttg 'nancepin' dia di otak orang (be in mind). Nah beberapa produk spy terkesan lebih ekslusive, lebih professional, dan lebih 'mahal' biasa mereka juga pakai . Dan ini terbukti cukup efektif
Kl ditanya closing rate. Billboard itu tdk bisa di head to head kan langsung dg penjualan... tapi sangat efektif untuk merubah persepsi orang. habis lihat billboard orang jadi ngeh, dan kemudiann cari informasi lebih detail di media lain seperti koran internet.. Billboard kan tulisannya sedikit
Q;
Izin nanya, utk baliho atau Billboard di Semarang , biaya utk pemasangan selama 1 minggu di pusat keramaian berapa mba?
Atau di Jogja di titik pemasangan di pusat kota berapa mba?
A:
wekekeke.. yg ini boleh japri ya mas. Generally speaking, minimal 10jt
Q:
selain seberapa efektif, apakah ada insight khusus utk ukm mengenai konten sperti apa yg perlu disampaikan via billboard?
nah kalo trnyata angkringan pun sampai pasang billboard, kapan sih sbnrnya momen yg tepat utk ukm mulai menggunakan billboard? dan kalo boleh tau, angkringan yg saat itu menggunakan billboard, sedang menyampaikan ttg apa?
A:
kl bicara konten, billboard yg efektif itukan yg ga banyak tulisan2. jadi, gambar dan cukup beberapa kata kunci dari pesan yg mau disampaikan. (billboard bukan brosur, biasanya suka ada yg semua manfaat dan fitur di tulis semua, padahal bukan ini). kl seperti cafe atau angkingan kan contohnya yg menggelitik, asik, yg sesuai target dia
ini masih lanjut dikit soal angkringan, . pasang placement harus lihat momentum. Momen anak muda liburan kayak gini, angkringan pas kl mau pasang. Atau pas libur panjang, kl itu menarik unt tamu luar kota... dan jng lupa kasih alamat medsos (unt info lebih lanjut perihal anda)
bicara Jogja, memang agak menantang ya mas hahaha.. kita ada di Jogja juga, dan bikin disana harus pinter cari lokasinya. yg pasti di traffic light krn itu tmpt org2 stop, di perempatan atau ditotokan. Jadi, pas anda naik motor atau nyetir, tanpa tengok org udah lihat pesan anda
Q:
Apa added value dan entry barrier yg Mbak Ayu Putranti gunakan dalam menghadapi pesaing?
Apa branding yang Mbak Ayu Putranti bangun utk outdor advertising? Dan mengapa?
A:
Kl kita cukup bersyukur bahwa grup kami itu outdoor agency dengan kepemilikan titik terbanyak di Jawa tengah. Jadi secara jumlah lokasi, ini sulit untuk di tiru. Kemudian, krn kami tangan pertama, jadi kecepatan layanan, harga, dan after salesnya lbh responsive juga, krn kan tim nya kita banyak dan dimana2. Ini juga sulit unt ditiru
Pesan yg kami bangun. Adalah agencynya Jawa Tengah. (Terlepas dari penyebaran kita yg cukup banyak juga diluar jateng). Pokoknya billboard di Jateng DIY ya dengan Sindo Sinargemilang
1 nilai yg diharapkan nyantol disaat dibutuhkan.. krn kl sdh nyantol, pesaing udh kalah duluan 😁
0
Kutip
Balas