- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
162K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#198
Chapter 29
Spoiler for Memori:
Seorang wanita muda berparas cantik tengah menutup satu matanya, darah hitam mengucur perlahan dari sela-sela jarinya, ia sedang duduk di singgasana yang terbuat dari ratusan kepala tengkorak dan tulang belulang yang menghiasi tempat ia berpijak, gelap ruang dengan suasana mencekam menemani dirinya di dalam kesunyian, hanya ada ketukan kakinya yang tidak sabar menunggu seseorang untuk datang, tak selang beberapa lama sesosok mahluk tinggi besar bak kera raksasa berbulu putih bagai salju datang menghampiri dirinya, secara perlahan mahluk raksasa itu menghadap sang wanita sembari bersimpuh penuh penghormatan.
"Ratu … hamba datang menghadapmu," seru sang kera raksasa.
"Kau terlambat!" geram Evelin dari atas singgasananya.
"Maafkan hamba ratu, ada urusan di kerajaan siluman kera yang harus hamba urus anda pasti tau bahwa serangga-serangga itu masih terus menganggu hamba."
"Hmm … aku mengerti … sebagai mata kananku aku memiliki tugas untukmu," seru Evelin.
"Apapun pintamu akan hamba laksanakan."
"Kau pasti sudah tau berita tentang Jagal dan kegagalannya."
Sang kera raksasa itu mengangguk mengiyakan seruan sang ratu.
"Kali ini aku ingin kau yang mengerjakan tugasnya untuk mendapatkan bocah itu, namun …."
"Namun apa ratu?"
"Lakukan dengan cara yang berbeda, lakukanlah dengan cara yang dulu pernah kau lakukan saat menaklukkan kakakmu."
Kera putih itu terdiam kemudian berkata dengan seringai mengerikan menghiasi senyumnya, "akan hamba laksanakan ratuku."
Dilain tempat.
Dengan lemah Senja membuka kedua kelopak matanya, pandangannya berpendar mendapati dirinya sedang tertidur di sofa ruang tamu rumah.
"Sudah bangun kamu?" tanya sang ayah dari belakang.
"Engh … jam berapa sekarang ayah?" tanyanya malas kepada sang ayah.
"Jam 1 malam," seru sang ayah yang tengah sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
"Belum selesai juga?" tanya Senja selidik.
"Ini tinggal masukin ke oven kok, hhe," jawab sang ayah sambil tersenyum kepada Senja.
"Oh …."
"Kamu enggak pergi keluar?" tanya balik sang ayah kepada anaknya tersebut.
Senja hanya mengelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis kepada sang ayah, ia berdiri kemudian beranjak menuju meja dapur dan duduk di kursinya, "engh ayah, boleh Senja tanya sesuatu?" seru Senja sedikit canggung.
Bagas mengeryitkan dahinya seraya bertanya, "tumben nanya-nanya, memang kamu mau nanya apa?"
"Apa itu Other dan bagaimana ayah bisa meminta perlindungan dari mereka?"
Bagas yang tengah merapikan meja dapur langsung terdiam, bibirnya kelu untuk berbicara ia membalikkan tubuh dan menatap sang anak dalam-dalam, "bagaimana kamu tahu tentang Other?"
"Kemarin mereka menjemput Senja dan teman Senja menuju markas mereka dan memperkenalkan diri mereka dengan ramah, bahkan mereka mencoba merekrut Senja saat itu juga," jawab Senja.
Bagas berjalan dan ikut duduk di depan Senja, ia tengah memikirkan jawaban bagi anaknya tersebut.
"Ayah … kenapa diam saja?"
"Hmmmfh … ayah bingung harus mulai darimana, ini semua terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata," jawab sang ayah.
"Kalau begitu tunjukkan saja ayah," pinta Senja kepada sang ayah.
Bagas menatap Senja kemudian mengenggam tangan kanannya erat, "tutup matamu," pinta sang ayah.
Senja menutup mata dan seketika ia merasakan aliran energi menyeruak masuk kedalam tubuhnya tak lama berselang ia membuka matanya kembali secara perlahan, ruang makan disekeliling dirinya telah berubah menjadi sebuah lorong rumah sakit, sang ayah tengah duduk di depan ruangan bayi sembari tertidur pulas dengan selimut rumah sakit menghangatkan tubuhnya, disebelah sang ayah tengah duduk juga seseorang yang tidak asing di ingatan Senja.
"Bukankah lelaki itu …"
"Iya, dia Albert saat masih muda," seru Bagas yang datang dari belakang Senja.
"Kalian berdua sudah kenal dari dulu?" tanya Senja selidik.
"Iya, dia teman di kampus ayah dulu, dia orang yang pertama kali datang untuk menjenguk ayah waktu itu," terang sang ayah.
Senja berjalan menuju depan ruangan bayi yang dibatasi jendela kaca untuk melihat kedalam.
"Bayi itu …"
"Ya … itu kamu, bahkan disaat kamu masih bayi kamu pendiam Senja sangat berbeda disaat pagi menjelang, Surya akan mengambil alih dan menangis sejadi-jadinya membuat para suster jaga kerepotan waktu itu," seru sang ayah dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Senja tersenyum seraya memegang kaca di depannya, pandangannya berganti ketika mendengar memori ayah yang terbangun dari tidurnya.
"Ugh, jam berapa ini Albert?"
"Sudah larut, kau istirahat saja, para teman-temanku sudah berjaga di luar untuk menjaga kita dan anakmu," seru Albert sambil menepuk bahu ayah.
Sang ayah waktu itu hanya terdiam sambil menatap kosong kedepan.
"Aku turut berduka cita atas kejadian yang menimpa Naura, andai saja sebelumnya kau mengabariku aku pasti akan …"
"Sudahlah, semua itu sudah terjadi aku hanya bisa menjalani yang bisa aku jalani sekarang," terang Bagas kala itu sambil merapihkan selimut di sebelahnya.
"Bagas bergabunglah bersama kami, jika sendirian kamu pasti akan dihabisi dirinya namun jika bersama-sama kita bisa melawan segalanya bahkan mertuamu akan kalah dan dendam Naura akan terbalaskan," pinta Albert sambil menatap lekat wajah Bagas.
"Sudah cukup dengan perlawanan dengan dirinya, dendam hanya akan melahirkan dendam lainnya … sekarang aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku," seru Bagas menengadahkan kepala sembari menutup matanya.
"Baiklah bila itu maumu, namun aku akan memberikan perlindungan untukmu, para otherist akan memalsukan kepergianmu sehingga kau dan anakmu akan aman tinggal di sini," seru Albert.
"Kau tidak perlu seperti ini Albert, ini semua terlalu merepotkan," seru Bagas.
Albert berdiri seraya melangkahkan kakinya untuk pergi, "perlindungan ini aku lakukan untuk anakmu, anak dari Naura … wanita yang pernah aku cintai," serunya lirih, ia melangkahkan kaki pergi meninggalkan Bagas yang masih terduduk di sofa ruang tunggu.
"Ayah, apa maksudnya tadi?" tanya Senja kepada sang ayah di sebelahnya.
"Ayah dan Albert adalah sahabat yang mencintai wanita yang sama, yaitu ibumu, namun sudah pasti ibumu memilih lelaki yang lebih berkualitas, hahahahaha," seru sang ayah sembari berkacak pinggang.
Senja hanya bisa mendelik malas sembari memalingkan pandangannya, ia jengah melihat kelakuan ayahnya yang terlalu percaya diri. Tiba-tiba lingkungan sekitar mereka berubah kembali menjadi ruang tamu rumah, namun ada yang berbeda di ruang tamu tersebut, cahaya matahari terlihat menembus kaca jendela dengan siluet lelaki menerpanya.
"Kami sudah mengetahui kenyataan tentang anakmu Bagas," seru sang lelaki tersebut, disaat itu memori ayah tengah duduk di sofa ruang tamu mendengarkan dengan sopan tiap kata yang keluar dari mulut lelaki tersebut.
"Perlindungan untukmu akan berakhir secepatnya dan untuk anakmu … para dewan masih mendiskusikannya," seru lelaki tersebut.
"Aku mengerti paman, jikalau anakku tidak mendapat perlindungan lagi aku akan menerimanya dengan lapang dada," seru Bagas kala itu.
"Cih … semua masalah ini karena Albert yang bodoh itu, bagaimana bisa kami para pelindung dunia ini dari serangan iblis malah melindungi anakmu yang menjadi wadah dari seorang iblis," decihnya sinis. Lelaki itupun pergi meninggalkan Bagas sendirian di dalam rumahnya, lingkungan sekitar Bagas dan Senja berubah menjadi sediakala, gelapnya malam menemani ribuan pertanyaan di benak Senja.
"Jika mereka tidak melindungi kita kembali mengapa mereka ingin merekrut aku ayah?" tanya Senja langsung kepada Bagas.
Sang ayah menatap lekat wajah anaknya, "ayah juga tidak mengetahuinya, saat kamu bilang mereka ingin merekrutmu ayah mencium sebuah perangkap namun Albert tidak akan mungkin melakukan itu kepadamu," terang sang ayah.
"Ayah, menurutmu bagaimana? Apakah Senja harus bergabung dengan mereka atau …."
Sang ayah terdiam di kursinya, tak lama ia pun berkata, "minta jawaban sama Allah sana, ayah tidak punya jawabannya, Allah kan maha mengetahui segalanya lagi maha pemberi."
Senja tersenyum mendengar jawaban sang ayah, "ya sudah Senja tahajud dulu, ayah juga jangan tidur terlalu malam nanti sakit, selesai kuenya matang langsung tidur," pinta Senja kepada sang ayah.
"SIAP BOS!!!" seru sang ayah mengangkat tangannya bak tentara.
Dilain tempat..
Langkah kaki seorang pemuda terdengar dari kejauhan, di dalam ruang jiwa pemuda itu berjalan di sebuah lorong sembari menyeret sebuah boneka teddy bear berwarna merah muda miliknya, sebuah pintu lusuh terbuka dan ia masuk kedalamnya tanpa ragu, "Assalamuallaikum," salamnya pelan sembari melihat sekeliling, merasa aman ia melanjutkan langkahnya hingga ia berhenti di depan seekor iblis raksasa yang tengah terbelenggu oleh belitan energi sukma.
Sang iblis menatap penuh kebencian pemuda di depannya, boneka teddy bear miliknya ia taruh sembarangan dan ia mulai duduk diatas perut boneka tersebut, dengan satu jentikan jari ia melepas belenggu yang membelit mulut sang iblis.
"Hai Iprit, sehat?" tanya pemuda yang tidak lain adalah Surya.
"Cih … apa maumu kesini!?!" seru sang Ifrit tanpa basa-basi.
"Deilah masih marah aje, santai dikit napa Prit," celoteh Surya merebahkan tubuhnya di atas boneka berusaha sok akrab dengan sang iblis di depannya, Ifrit hanya bisa mendelik berusaha tak menatap wajah lawan bicaranya tersebut.
"Ah baperan amat dah," seru Surya memulai pembicaraan.
Sang Ifrit masih diam seribu bahasa tak menggubris pemuda songong di depannya.
"Eh by the way eniway busway gua dapat info kemungkinan tubuh Senja berada," seru Surya kepada raksasa di depannya tersebut.
Merasa pembicaraan Surya menarik Ifrit menatap Surya dalam-dalam seraya berseru, "dimana?"
"Yang pasti bukan disini dan untuk mencapainya gua butuh bantuan elu Prit."
"GYAHAHAHAHAHA!! Ini menarik, apa yang kau butuhkan?!"
Surya menatap tajam Ifrit seraya tersenyum dingin kearahnya, "rasuki Senja dan buat dia mengamuk."
Bersambung..
"Ratu … hamba datang menghadapmu," seru sang kera raksasa.
"Kau terlambat!" geram Evelin dari atas singgasananya.
"Maafkan hamba ratu, ada urusan di kerajaan siluman kera yang harus hamba urus anda pasti tau bahwa serangga-serangga itu masih terus menganggu hamba."
"Hmm … aku mengerti … sebagai mata kananku aku memiliki tugas untukmu," seru Evelin.
"Apapun pintamu akan hamba laksanakan."
"Kau pasti sudah tau berita tentang Jagal dan kegagalannya."
Sang kera raksasa itu mengangguk mengiyakan seruan sang ratu.
"Kali ini aku ingin kau yang mengerjakan tugasnya untuk mendapatkan bocah itu, namun …."
"Namun apa ratu?"
"Lakukan dengan cara yang berbeda, lakukanlah dengan cara yang dulu pernah kau lakukan saat menaklukkan kakakmu."
Kera putih itu terdiam kemudian berkata dengan seringai mengerikan menghiasi senyumnya, "akan hamba laksanakan ratuku."
Dilain tempat.
Dengan lemah Senja membuka kedua kelopak matanya, pandangannya berpendar mendapati dirinya sedang tertidur di sofa ruang tamu rumah.
"Sudah bangun kamu?" tanya sang ayah dari belakang.
"Engh … jam berapa sekarang ayah?" tanyanya malas kepada sang ayah.
"Jam 1 malam," seru sang ayah yang tengah sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
"Belum selesai juga?" tanya Senja selidik.
"Ini tinggal masukin ke oven kok, hhe," jawab sang ayah sambil tersenyum kepada Senja.
"Oh …."
"Kamu enggak pergi keluar?" tanya balik sang ayah kepada anaknya tersebut.
Senja hanya mengelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis kepada sang ayah, ia berdiri kemudian beranjak menuju meja dapur dan duduk di kursinya, "engh ayah, boleh Senja tanya sesuatu?" seru Senja sedikit canggung.
Bagas mengeryitkan dahinya seraya bertanya, "tumben nanya-nanya, memang kamu mau nanya apa?"
"Apa itu Other dan bagaimana ayah bisa meminta perlindungan dari mereka?"
Bagas yang tengah merapikan meja dapur langsung terdiam, bibirnya kelu untuk berbicara ia membalikkan tubuh dan menatap sang anak dalam-dalam, "bagaimana kamu tahu tentang Other?"
"Kemarin mereka menjemput Senja dan teman Senja menuju markas mereka dan memperkenalkan diri mereka dengan ramah, bahkan mereka mencoba merekrut Senja saat itu juga," jawab Senja.
Bagas berjalan dan ikut duduk di depan Senja, ia tengah memikirkan jawaban bagi anaknya tersebut.
"Ayah … kenapa diam saja?"
"Hmmmfh … ayah bingung harus mulai darimana, ini semua terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata," jawab sang ayah.
"Kalau begitu tunjukkan saja ayah," pinta Senja kepada sang ayah.
Bagas menatap Senja kemudian mengenggam tangan kanannya erat, "tutup matamu," pinta sang ayah.
Senja menutup mata dan seketika ia merasakan aliran energi menyeruak masuk kedalam tubuhnya tak lama berselang ia membuka matanya kembali secara perlahan, ruang makan disekeliling dirinya telah berubah menjadi sebuah lorong rumah sakit, sang ayah tengah duduk di depan ruangan bayi sembari tertidur pulas dengan selimut rumah sakit menghangatkan tubuhnya, disebelah sang ayah tengah duduk juga seseorang yang tidak asing di ingatan Senja.
"Bukankah lelaki itu …"
"Iya, dia Albert saat masih muda," seru Bagas yang datang dari belakang Senja.
"Kalian berdua sudah kenal dari dulu?" tanya Senja selidik.
"Iya, dia teman di kampus ayah dulu, dia orang yang pertama kali datang untuk menjenguk ayah waktu itu," terang sang ayah.
Senja berjalan menuju depan ruangan bayi yang dibatasi jendela kaca untuk melihat kedalam.
"Bayi itu …"
"Ya … itu kamu, bahkan disaat kamu masih bayi kamu pendiam Senja sangat berbeda disaat pagi menjelang, Surya akan mengambil alih dan menangis sejadi-jadinya membuat para suster jaga kerepotan waktu itu," seru sang ayah dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Senja tersenyum seraya memegang kaca di depannya, pandangannya berganti ketika mendengar memori ayah yang terbangun dari tidurnya.
"Ugh, jam berapa ini Albert?"
"Sudah larut, kau istirahat saja, para teman-temanku sudah berjaga di luar untuk menjaga kita dan anakmu," seru Albert sambil menepuk bahu ayah.
Sang ayah waktu itu hanya terdiam sambil menatap kosong kedepan.
"Aku turut berduka cita atas kejadian yang menimpa Naura, andai saja sebelumnya kau mengabariku aku pasti akan …"
"Sudahlah, semua itu sudah terjadi aku hanya bisa menjalani yang bisa aku jalani sekarang," terang Bagas kala itu sambil merapihkan selimut di sebelahnya.
"Bagas bergabunglah bersama kami, jika sendirian kamu pasti akan dihabisi dirinya namun jika bersama-sama kita bisa melawan segalanya bahkan mertuamu akan kalah dan dendam Naura akan terbalaskan," pinta Albert sambil menatap lekat wajah Bagas.
"Sudah cukup dengan perlawanan dengan dirinya, dendam hanya akan melahirkan dendam lainnya … sekarang aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku," seru Bagas menengadahkan kepala sembari menutup matanya.
"Baiklah bila itu maumu, namun aku akan memberikan perlindungan untukmu, para otherist akan memalsukan kepergianmu sehingga kau dan anakmu akan aman tinggal di sini," seru Albert.
"Kau tidak perlu seperti ini Albert, ini semua terlalu merepotkan," seru Bagas.
Albert berdiri seraya melangkahkan kakinya untuk pergi, "perlindungan ini aku lakukan untuk anakmu, anak dari Naura … wanita yang pernah aku cintai," serunya lirih, ia melangkahkan kaki pergi meninggalkan Bagas yang masih terduduk di sofa ruang tunggu.
"Ayah, apa maksudnya tadi?" tanya Senja kepada sang ayah di sebelahnya.
"Ayah dan Albert adalah sahabat yang mencintai wanita yang sama, yaitu ibumu, namun sudah pasti ibumu memilih lelaki yang lebih berkualitas, hahahahaha," seru sang ayah sembari berkacak pinggang.
Senja hanya bisa mendelik malas sembari memalingkan pandangannya, ia jengah melihat kelakuan ayahnya yang terlalu percaya diri. Tiba-tiba lingkungan sekitar mereka berubah kembali menjadi ruang tamu rumah, namun ada yang berbeda di ruang tamu tersebut, cahaya matahari terlihat menembus kaca jendela dengan siluet lelaki menerpanya.
"Kami sudah mengetahui kenyataan tentang anakmu Bagas," seru sang lelaki tersebut, disaat itu memori ayah tengah duduk di sofa ruang tamu mendengarkan dengan sopan tiap kata yang keluar dari mulut lelaki tersebut.
"Perlindungan untukmu akan berakhir secepatnya dan untuk anakmu … para dewan masih mendiskusikannya," seru lelaki tersebut.
"Aku mengerti paman, jikalau anakku tidak mendapat perlindungan lagi aku akan menerimanya dengan lapang dada," seru Bagas kala itu.
"Cih … semua masalah ini karena Albert yang bodoh itu, bagaimana bisa kami para pelindung dunia ini dari serangan iblis malah melindungi anakmu yang menjadi wadah dari seorang iblis," decihnya sinis. Lelaki itupun pergi meninggalkan Bagas sendirian di dalam rumahnya, lingkungan sekitar Bagas dan Senja berubah menjadi sediakala, gelapnya malam menemani ribuan pertanyaan di benak Senja.
"Jika mereka tidak melindungi kita kembali mengapa mereka ingin merekrut aku ayah?" tanya Senja langsung kepada Bagas.
Sang ayah menatap lekat wajah anaknya, "ayah juga tidak mengetahuinya, saat kamu bilang mereka ingin merekrutmu ayah mencium sebuah perangkap namun Albert tidak akan mungkin melakukan itu kepadamu," terang sang ayah.
"Ayah, menurutmu bagaimana? Apakah Senja harus bergabung dengan mereka atau …."
Sang ayah terdiam di kursinya, tak lama ia pun berkata, "minta jawaban sama Allah sana, ayah tidak punya jawabannya, Allah kan maha mengetahui segalanya lagi maha pemberi."
Senja tersenyum mendengar jawaban sang ayah, "ya sudah Senja tahajud dulu, ayah juga jangan tidur terlalu malam nanti sakit, selesai kuenya matang langsung tidur," pinta Senja kepada sang ayah.
"SIAP BOS!!!" seru sang ayah mengangkat tangannya bak tentara.
Dilain tempat..
Langkah kaki seorang pemuda terdengar dari kejauhan, di dalam ruang jiwa pemuda itu berjalan di sebuah lorong sembari menyeret sebuah boneka teddy bear berwarna merah muda miliknya, sebuah pintu lusuh terbuka dan ia masuk kedalamnya tanpa ragu, "Assalamuallaikum," salamnya pelan sembari melihat sekeliling, merasa aman ia melanjutkan langkahnya hingga ia berhenti di depan seekor iblis raksasa yang tengah terbelenggu oleh belitan energi sukma.
Sang iblis menatap penuh kebencian pemuda di depannya, boneka teddy bear miliknya ia taruh sembarangan dan ia mulai duduk diatas perut boneka tersebut, dengan satu jentikan jari ia melepas belenggu yang membelit mulut sang iblis.
"Hai Iprit, sehat?" tanya pemuda yang tidak lain adalah Surya.
"Cih … apa maumu kesini!?!" seru sang Ifrit tanpa basa-basi.
"Deilah masih marah aje, santai dikit napa Prit," celoteh Surya merebahkan tubuhnya di atas boneka berusaha sok akrab dengan sang iblis di depannya, Ifrit hanya bisa mendelik berusaha tak menatap wajah lawan bicaranya tersebut.
"Ah baperan amat dah," seru Surya memulai pembicaraan.
Sang Ifrit masih diam seribu bahasa tak menggubris pemuda songong di depannya.
"Eh by the way eniway busway gua dapat info kemungkinan tubuh Senja berada," seru Surya kepada raksasa di depannya tersebut.
Merasa pembicaraan Surya menarik Ifrit menatap Surya dalam-dalam seraya berseru, "dimana?"
"Yang pasti bukan disini dan untuk mencapainya gua butuh bantuan elu Prit."
"GYAHAHAHAHAHA!! Ini menarik, apa yang kau butuhkan?!"
Surya menatap tajam Ifrit seraya tersenyum dingin kearahnya, "rasuki Senja dan buat dia mengamuk."
Bersambung..
simounlebon dan 18 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas