- Beranda
- Stories from the Heart
PURI KERAMAT
...
TS
breaking182
PURI KERAMAT
PURI KERAMAT
Quote:

SINOPSIS
Quote:
Berawal dari kematian Ario Keling seorang keturunan bangsawan di masa kerajaan Mataram. Ke empat anaknya beserta dua menantunya datang ke desa Kemulan untuk menghadiri prosesi pemakaman. Suatu desa terpencil yang terletak di lereng Gunung Merapi dan selalu berselimutan kabut. Inka salah satu menantu Ario Keling merasakan ada keganjilan pada saat akan memasuki pintu gerbang puri. Ia melihat sesosok bangsawan di atas punggung kuda besar dengan dua dayang pengiring. Tidak sampai disitu saja, satu hari sebelum pemakaman Ario Keling. Suaminya yang bernama Nagara atau anak sulung Ario Keling tiba –tiba lenyap tidak berbekas secara misterius. Dari situlah rentetan peristiwa berdarah di mulai. Apakah pelakunya Nagara karena ingin menguasai harta warisan yang tersimpan di dalam puri itu? Dan siapakah yang akan keluar dari puri itu hidup – hidup?
Quote:
INDEKS
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
TAMAT
Diubah oleh breaking182 27-02-2019 10:49
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8
14.7K
Kutip
71
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#32
PART 15
Quote:
BRAMASTA menenggak isi botol kedua yang barusan diambilnya dari dalam lemari minuman. Anggur merah telah membantu meredakan ketakutan, bahkan juga perasaan bersalahnya. Sekujur tubuh Bramasta kini terasa lebih nyaman, luar dalam. Pikiran jernih pun pelan-pelan mulai kembali. Sebelah tangannya menggapai pencungkil bara. Tumpukan abu ia korek - korek, supaya nyala di ujung balok balok kayu bakar, kembali berkobar. Lidah api menjilat semakin besar. Mata Bramasta meredup mengawasi nyala api di tungku.
Terbayang samar samar sosok orang yang secara tidak sengaja telah menggugah Bramasta untuk menciptakan suatu ide cemerlang yang akan mengangkat Bramasta kembali ke permukaan. Sebagai sosok yang baru punya kuasa dan kedudukan.
Terbayang samar samar sosok orang yang secara tidak sengaja telah menggugah Bramasta untuk menciptakan suatu ide cemerlang yang akan mengangkat Bramasta kembali ke permukaan. Sebagai sosok yang baru punya kuasa dan kedudukan.
Quote:
Sore itu sehabis hujan mengguyur kota Yogyakarta sehingga jalanan menjadi licin. Terlihat di beberapa ruas jalan protokol terjadi kemacetan. Terutama di pusat kota dan seputaran Malioboro. Memang jika habis hujan mengguyur di jalanan kota Jogja di beberapa titik pasti terjadi kemacetan, volume pengguna mobil jadi bertambah berkali lipat. Tentu saja mreka tidak ingin berbasah –basahan dengan mengendarai sepeda motor.
BWM berwarna hijau itu merambat pelan membelah kota Jogja di bagian selatan yang bisa dibilang relatif sepi. Hanya sesekali terlihat kendaraan yang lewat. Seorang lelaki yang masih muda duduk di belakang kemudi mobil ini. Ia kemudian mengarahkan mobilnya berbelok kanan ke arah tengah kota dengan menyusuri ringroad diharapkan jalan tidak macet. Saat memasuki ringroad di depan jalan terlihat antrian kendaraan mengular panjang. Si pengemudi BMW itu segera menurunkan kaca jendela samping. Menarik nafas penat.
Teringat lagi dengan perkataan istrinya tadi pagi, “ Tolong antar beliau ke bandara Adisucipto. Ini masih saudara kak Inka, kakak ipar ku. Aku sudah terlambat membuka butik kita di Malioboro dan ada sedikit agenda pertemuan dengan para desainer lokal. Ini kesempatan bagus untuk kita "
Maka Bramasta pun dengan senang hati mengantar tamu mereka yang hanya singgah tak sampai satu jam di rumah yang ia tempati bersama Anita. Itupun sekedar mengantar oleh – oleh bawaannya dari Jakarta, untuk Anita. Tujuan utama tamu mereka memang Yogyakarta untuk mendampingi putera bungsunya yang akan di wisuda sebagai sarjana di salah satu universitas terkenal disana.
Suasana terjebak macet menjadi sedikit lebih cair manakala si tamu mulai berbicara.
" Mas Bram sudah lama menikah dengan Anita ? “
Bramasta tertawa seraya menjawab, “ Hampir lima tahun “
“ Lima tahun itu waktu yang tidak sebentar Mas Bram. Apakah tidak cepet –cepet dapat momongan? “
“ Semua pasangan suami istri tentu ingin punya anak. Hanya saja, sepertinya kami belum diberikan amanah untuk itu “
“ Ya, berusaha terus saya yakin Mas Bram akan segera memiliki momongan “
“ Jogja macet kalau habis hujan begini Om, membuat enggan untuk keluar rumah “
Bramasta sengaja mengalihkan pembicaraan, sesungguhnya ia tidak suka membahas tentang momongan karena hubungan ia dengan Anita seperti hanya sekedar kamuflase juga. Bramasta tahu istrinya itu sangat mencintai kakak tirinya. Jaka.
“ Sebenarnya saya ingin bertemu mertuamu di Kemulan, hanya saja kami tidak punya banyak waktu untuk itu. Desanya sangat jauh dan terpncil dari Jogja. Tentu akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk sampai disana “
Bramasta sempat tertawa kecil. Lantas, sekedar basa basi, ia melontarkan basa - basi pula,
"Coba Oom lebih lama di Jogja. Keluarga kami di Jogja pasti akan mengajak Om beristirahat di Puri Desa Kemulan"
Orangtua yang duduk di sebelahnya, mengingat ingat sebentar.
Kemudian : "Puri itu ya? Puri dengan eksterior eropa kuno? Aku ingat sekarang!"
Lantas meluncurlah cerita yang tak jelas mana awal, mana tengah, mana akhir, dari mulut sang tamu. Agaknya, ia bercerita lebih banyak dikarenakan kesal oleh jalanan macet di mana mana, belum lagi ternyata pesawat yang akan membawanya dari Adisucipto ke Jakarta, ditunda pula keberangkatannya karena cuaca buruk.
Dahulu sewaktu aku masih jadi anak remaja, aku tinggal bersama nenek yang bersahabat dengan seorang perempuan yang sama jomponya. Dua nenek jompo itu sering bertukar cerita. Dan aku, kemudian tahu bahwa sahabat karib neneknya itu memiliki cucu sebagai pewaris sah puri itu beserta isinya “
“ Dan belakangan baru aku ketahui kalau si cucu itu Inka yang sekarang jadi saudara ipar mu itu “
“ Kasihan anak itu setelah ayah ibu Inka meninggal, aku ini sudah dianggap sebagai orangtua sendiri ....", katanya terharu.
"Eh, apakah aku tadi tidak salah dengar?", Bramasta waktu itu sempat berujar untuk meyakinkan.
"Benarkah sahabat nenek Anda itu menyebut dirinya sebagai pewaris tunggal Puri itu?"
"Bukan hanya puri. Juga tanah - tanah di sekitarnya ", sang tamu tiba tiba seperti tersadar.
Wajahnya berubah cemas. Setengah merasa bersalah.
"Agaknya kau tahu banyak tentang puri itu. Apakah, milik keluargamu?"
Sadar bahwa orangtua itu telah lepas rahasia, Bramasta berkata menghibur:
"Bukan. Sama sekali bukan"
"Hanya saja kami pernah menyewa puri itu sebagai tempat berlibur!"
"Oh ya. Pasti tempatnya menyenangkan!"
"Sangat, malah. Apalagi buat mereka yang keranjingan cerita-cerita menyeramkan ...."
Bramasta menyeringai mendengar semua itu, ternyata jadi sopir dadakan memberinya keuntungan tersendiri dan ini sangat penting karena merupakan rahasia terbesar di keluarga istrinya. Jaka, Nanda, dan Anita istrinya bukan pewaris sah dari harta warisan Ario Keling sang mertuanya. Justru Inka, orang luar yang tidak disangka –sangka adalah pewaris satu –satunya dari harta di Puri Desa Kemulan. Entah dari mana datangnya, suara bisikan setan mempengaruhi otak Bramasta untuk membuat suatu skenario culas.
Lalu dinihari berikutnya, Jaka pun menelepon dari Muntilan:
"Tolong katakan kepada Anita, agar pulang ke Desa Kemulan pagi ini juga"
Pesan pendek jelas, dengan nada tergesa –gesa dan tidak tenang. Dan agar Anita tidak mengalami sesuatu dalam perjalanan ke Desa Kemulan, Bramasta pun ikut mendampingi. Bramasta tiba –tiba mendongakkan kepala Karena barusan ia mendengar sesuatu di luar sana. Api bergemeretak di tungku. Nyalanya, kian membara. Membuat wajah Bramasta, kian memerah. Karena cahaya api. Dan karena anggur yang semakin banyak mengisi lambungnya.
BWM berwarna hijau itu merambat pelan membelah kota Jogja di bagian selatan yang bisa dibilang relatif sepi. Hanya sesekali terlihat kendaraan yang lewat. Seorang lelaki yang masih muda duduk di belakang kemudi mobil ini. Ia kemudian mengarahkan mobilnya berbelok kanan ke arah tengah kota dengan menyusuri ringroad diharapkan jalan tidak macet. Saat memasuki ringroad di depan jalan terlihat antrian kendaraan mengular panjang. Si pengemudi BMW itu segera menurunkan kaca jendela samping. Menarik nafas penat.
Teringat lagi dengan perkataan istrinya tadi pagi, “ Tolong antar beliau ke bandara Adisucipto. Ini masih saudara kak Inka, kakak ipar ku. Aku sudah terlambat membuka butik kita di Malioboro dan ada sedikit agenda pertemuan dengan para desainer lokal. Ini kesempatan bagus untuk kita "
Maka Bramasta pun dengan senang hati mengantar tamu mereka yang hanya singgah tak sampai satu jam di rumah yang ia tempati bersama Anita. Itupun sekedar mengantar oleh – oleh bawaannya dari Jakarta, untuk Anita. Tujuan utama tamu mereka memang Yogyakarta untuk mendampingi putera bungsunya yang akan di wisuda sebagai sarjana di salah satu universitas terkenal disana.
Suasana terjebak macet menjadi sedikit lebih cair manakala si tamu mulai berbicara.
" Mas Bram sudah lama menikah dengan Anita ? “
Bramasta tertawa seraya menjawab, “ Hampir lima tahun “
“ Lima tahun itu waktu yang tidak sebentar Mas Bram. Apakah tidak cepet –cepet dapat momongan? “
“ Semua pasangan suami istri tentu ingin punya anak. Hanya saja, sepertinya kami belum diberikan amanah untuk itu “
“ Ya, berusaha terus saya yakin Mas Bram akan segera memiliki momongan “
“ Jogja macet kalau habis hujan begini Om, membuat enggan untuk keluar rumah “
Bramasta sengaja mengalihkan pembicaraan, sesungguhnya ia tidak suka membahas tentang momongan karena hubungan ia dengan Anita seperti hanya sekedar kamuflase juga. Bramasta tahu istrinya itu sangat mencintai kakak tirinya. Jaka.
“ Sebenarnya saya ingin bertemu mertuamu di Kemulan, hanya saja kami tidak punya banyak waktu untuk itu. Desanya sangat jauh dan terpncil dari Jogja. Tentu akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk sampai disana “
Bramasta sempat tertawa kecil. Lantas, sekedar basa basi, ia melontarkan basa - basi pula,
"Coba Oom lebih lama di Jogja. Keluarga kami di Jogja pasti akan mengajak Om beristirahat di Puri Desa Kemulan"
Orangtua yang duduk di sebelahnya, mengingat ingat sebentar.
Kemudian : "Puri itu ya? Puri dengan eksterior eropa kuno? Aku ingat sekarang!"
Lantas meluncurlah cerita yang tak jelas mana awal, mana tengah, mana akhir, dari mulut sang tamu. Agaknya, ia bercerita lebih banyak dikarenakan kesal oleh jalanan macet di mana mana, belum lagi ternyata pesawat yang akan membawanya dari Adisucipto ke Jakarta, ditunda pula keberangkatannya karena cuaca buruk.
Dahulu sewaktu aku masih jadi anak remaja, aku tinggal bersama nenek yang bersahabat dengan seorang perempuan yang sama jomponya. Dua nenek jompo itu sering bertukar cerita. Dan aku, kemudian tahu bahwa sahabat karib neneknya itu memiliki cucu sebagai pewaris sah puri itu beserta isinya “
“ Dan belakangan baru aku ketahui kalau si cucu itu Inka yang sekarang jadi saudara ipar mu itu “
“ Kasihan anak itu setelah ayah ibu Inka meninggal, aku ini sudah dianggap sebagai orangtua sendiri ....", katanya terharu.
"Eh, apakah aku tadi tidak salah dengar?", Bramasta waktu itu sempat berujar untuk meyakinkan.
"Benarkah sahabat nenek Anda itu menyebut dirinya sebagai pewaris tunggal Puri itu?"
"Bukan hanya puri. Juga tanah - tanah di sekitarnya ", sang tamu tiba tiba seperti tersadar.
Wajahnya berubah cemas. Setengah merasa bersalah.
"Agaknya kau tahu banyak tentang puri itu. Apakah, milik keluargamu?"
Sadar bahwa orangtua itu telah lepas rahasia, Bramasta berkata menghibur:
"Bukan. Sama sekali bukan"
"Hanya saja kami pernah menyewa puri itu sebagai tempat berlibur!"
"Oh ya. Pasti tempatnya menyenangkan!"
"Sangat, malah. Apalagi buat mereka yang keranjingan cerita-cerita menyeramkan ...."
Bramasta menyeringai mendengar semua itu, ternyata jadi sopir dadakan memberinya keuntungan tersendiri dan ini sangat penting karena merupakan rahasia terbesar di keluarga istrinya. Jaka, Nanda, dan Anita istrinya bukan pewaris sah dari harta warisan Ario Keling sang mertuanya. Justru Inka, orang luar yang tidak disangka –sangka adalah pewaris satu –satunya dari harta di Puri Desa Kemulan. Entah dari mana datangnya, suara bisikan setan mempengaruhi otak Bramasta untuk membuat suatu skenario culas.
Lalu dinihari berikutnya, Jaka pun menelepon dari Muntilan:
"Tolong katakan kepada Anita, agar pulang ke Desa Kemulan pagi ini juga"
Pesan pendek jelas, dengan nada tergesa –gesa dan tidak tenang. Dan agar Anita tidak mengalami sesuatu dalam perjalanan ke Desa Kemulan, Bramasta pun ikut mendampingi. Bramasta tiba –tiba mendongakkan kepala Karena barusan ia mendengar sesuatu di luar sana. Api bergemeretak di tungku. Nyalanya, kian membara. Membuat wajah Bramasta, kian memerah. Karena cahaya api. Dan karena anggur yang semakin banyak mengisi lambungnya.
Quote:
Suara yang didengar Bramasta karena terbawa angin yang meniup ke arah puri adalah jerit tertahan yang lepas tak terkendali dan mulut Inka. Jerit hitseris, berulang ulang pula. Sampai sampai Karta merasa perlu memeganginya, membujuknya, kemudian menampar wajahnya!
"Lihat! Lihat dengan jelas!", orangtua itu berkata setengah memerintah. Seraya menunjuk ke sosok tubuh terlipat. Sosok yang sudah mati, yang telah dikeluarkan Karta dari bagasi mobil. Dan yang begitu diseret Karta ke cahaya terang lampu , Inkalangsung mengenali apa yang melekat di tubuh terlipat kaku dan mati itu. Inka mengenali kemeja, mengenali celana panjang, bahkan sampai ke sepatunya.
"Mayat yang kau lihat itu, memang mengenakan pakaian suamimu!", Karta berkata lagi, dengan nafas tersengal - sengal. la agaknya sedang marah pada sesuatu. Atau seseorang, barangkali.
Takut-takut, berbaur harap harap cemas Inka lebih melebarkan kelopak matanya. Tentu saja ia terpekik sekali lagi karena wajah mati di depan matanya, sudah terlalu rusak untuk ia kenali. Hanya berkat naluri seorang isteri saja, ia percaya, yang ia lihat bukanlah wajah suaminya.
"Lantas ini siapa?", ia bertanya, gugup.
"Ario!"
"Ario ? Ario siapa?", Inka masih gugup saja.
" Kau boleh saja belum bertemu muka dengannya. Tetapi kau tidak tahu nama mertuamu sendiri ?!"
Dan di dekat mereka ada sesosok mayat. Memakai baju orang lain itu yang merupakan baju milik suaminya.
"Lalu ke mana suamiku?"
Karta pun mendengus: "Entahlah, aku juga tidak tahu soal itu"
"Sepagi tadi aku mengitari puri, menjelajahi jurang - jurang dalam. Padahal, sebelum berangkat aku sudah punya firasat. Bahwa usahaku itu akan sia -sia belaka. Aku tidak akan menemukan Den Nagara di sana ...."
"Karena suamiku sudah pergi ke balik gunung. Atau masih bermalam disalah satu pondok penduduk desa Kemulan ", cetus Inka.
Harapannya timbul kembali. Tetapi tenggelam lagi seketika, setelah ia lihat Karta menggeleng geleng sedih.
"Tolonglah, Pak Karta! Jangan menambah kacau pikiranku! Jika Bapak punya dugaan lain tentang suamiku,
katakan saja terus terang!"
"Dugaan, memang sudah ada...."
"Dan....apa itu Pak Karta?", desak Inka. Tak sabar.
"Untuk menjawab pertanyaan Mbak Inka, lebih dulu mayat ini kita bawa ke dalam puri "
Inka merinding lagi. Membawa mayat dalam keadaan yang sudah mulai membusuk seperti ini? Dengan gerakan enteng, seperti biasanya, tubuh kaku dan terlipat itu sudah diangkat dengan kedua lengan tuanya. Dibopong pulang ke puri. Tanpa sekalipun menoleh lagi ke belakang.
Agaknya Karta sudah sedemikian marahnya sehingga terlupakan olehnya, bahwa ada yang tertinggal di jok belakang mobil. Demikian pula halnya dengan Inka. la masih sangat terpukul dengan penemuan mengejutkan di bagasi kendaraannya. Ditambah pikiran mengenai kehilangan sang suami, yang semakin misterius saja.
"Lihat! Lihat dengan jelas!", orangtua itu berkata setengah memerintah. Seraya menunjuk ke sosok tubuh terlipat. Sosok yang sudah mati, yang telah dikeluarkan Karta dari bagasi mobil. Dan yang begitu diseret Karta ke cahaya terang lampu , Inkalangsung mengenali apa yang melekat di tubuh terlipat kaku dan mati itu. Inka mengenali kemeja, mengenali celana panjang, bahkan sampai ke sepatunya.
"Mayat yang kau lihat itu, memang mengenakan pakaian suamimu!", Karta berkata lagi, dengan nafas tersengal - sengal. la agaknya sedang marah pada sesuatu. Atau seseorang, barangkali.
Takut-takut, berbaur harap harap cemas Inka lebih melebarkan kelopak matanya. Tentu saja ia terpekik sekali lagi karena wajah mati di depan matanya, sudah terlalu rusak untuk ia kenali. Hanya berkat naluri seorang isteri saja, ia percaya, yang ia lihat bukanlah wajah suaminya.
"Lantas ini siapa?", ia bertanya, gugup.
"Ario!"
"Ario ? Ario siapa?", Inka masih gugup saja.
" Kau boleh saja belum bertemu muka dengannya. Tetapi kau tidak tahu nama mertuamu sendiri ?!"
Dan di dekat mereka ada sesosok mayat. Memakai baju orang lain itu yang merupakan baju milik suaminya.
"Lalu ke mana suamiku?"
Karta pun mendengus: "Entahlah, aku juga tidak tahu soal itu"
"Sepagi tadi aku mengitari puri, menjelajahi jurang - jurang dalam. Padahal, sebelum berangkat aku sudah punya firasat. Bahwa usahaku itu akan sia -sia belaka. Aku tidak akan menemukan Den Nagara di sana ...."
"Karena suamiku sudah pergi ke balik gunung. Atau masih bermalam disalah satu pondok penduduk desa Kemulan ", cetus Inka.
Harapannya timbul kembali. Tetapi tenggelam lagi seketika, setelah ia lihat Karta menggeleng geleng sedih.
"Tolonglah, Pak Karta! Jangan menambah kacau pikiranku! Jika Bapak punya dugaan lain tentang suamiku,
katakan saja terus terang!"
"Dugaan, memang sudah ada...."
"Dan....apa itu Pak Karta?", desak Inka. Tak sabar.
"Untuk menjawab pertanyaan Mbak Inka, lebih dulu mayat ini kita bawa ke dalam puri "
Inka merinding lagi. Membawa mayat dalam keadaan yang sudah mulai membusuk seperti ini? Dengan gerakan enteng, seperti biasanya, tubuh kaku dan terlipat itu sudah diangkat dengan kedua lengan tuanya. Dibopong pulang ke puri. Tanpa sekalipun menoleh lagi ke belakang.
Agaknya Karta sudah sedemikian marahnya sehingga terlupakan olehnya, bahwa ada yang tertinggal di jok belakang mobil. Demikian pula halnya dengan Inka. la masih sangat terpukul dengan penemuan mengejutkan di bagasi kendaraannya. Ditambah pikiran mengenai kehilangan sang suami, yang semakin misterius saja.
Quote:
Di jok belakang mobil, tidak berapa lama ke mudian, sesosok tubuh menggeliat bangun Berkeluh kesah sebentar, kemudian memandang sekeliling. Anita terkejut ketika tahu dirinya tenggelam dalam kesendirian. La mengintai ke luar lewat bayang-bayang kaca, yang ternyata jendela sebuah mobil.
" Siapa yang memindahkan ku disini ? Mengapa aku ditinggalkan begitu saja ?"
Anita menggeliat lagi. Ia kemudian beringsut ke pintu, yang menganga terbuka. Anita pun langsung tersiram air hujan yang masih saja mengguyur. Pintu mobil ia tutupkan. Ingatannya pelan - pelan kembali bekerja;
“ Apakah tadi itu memang Nanda? Mengapa hanya kepala sebatas leher ...?”
Kuduk Anita membeku sedingin es. Sepasang matanya membelalak terbuka. Bunyi apa yang ia dengar barusan" Suara badai, jelas bukan. Suara itu seperti nafas keras, berat, tersedak.
" Siapa yang memindahkan ku disini ? Mengapa aku ditinggalkan begitu saja ?"
Anita menggeliat lagi. Ia kemudian beringsut ke pintu, yang menganga terbuka. Anita pun langsung tersiram air hujan yang masih saja mengguyur. Pintu mobil ia tutupkan. Ingatannya pelan - pelan kembali bekerja;
“ Apakah tadi itu memang Nanda? Mengapa hanya kepala sebatas leher ...?”
Kuduk Anita membeku sedingin es. Sepasang matanya membelalak terbuka. Bunyi apa yang ia dengar barusan" Suara badai, jelas bukan. Suara itu seperti nafas keras, berat, tersedak.
Quote:
Suara perempuan menjerit yang sayup sayup sampai ke telinganya, membuat Bramasta bangkit menggerutu.
"Sialan kau, Anita! Mengapa pula harus menjerit - jerit sehisteris itu. Kau mengganggu ketenangan orang saja !"
Bramasta pergi ke jendela. Mengintip ke luar yang tampak hanya tabir hujan tebal dan bayang-bayang pepohonan tegak dengan pasrah.
"Hem. Anita pasti sudah melihatnya juga. Melihat kepala Nanda “,gerutunya lagi sambil menjauhi jendela.
Ia duduk lagi di depan tungku pemanas. Isi botol di tangan, pindah pula beberapa teguk ke dalam perutnya. Bramasta menoleh karena sayup – sayup terdengar suara ketukan pintu yang mencoba beradu dengan suara hujan badai di luar sana.
Bunyi itu terdengar lagi. Bunyi menggaruk - garuk. Dan nafas tersengal - sengal. Bramasta pun berjalan ke pintu. Bunyi menggaruk itu berhenti. Sejenak Bramasta bimbang. Di luar pintu, terdengar nafas ditahan. Bramasta pun marah sekali. Pintu direnggut terbuka. Dan benar, ada sesuatu di situ. Sesuatu yang seperti terlipat. Lalu setelah terayun-ayun sebentar, sesuatu itu terjerembab jatuh ke arah kaki Bramasta. Tak pelak lagi, Bramasta melompat mundur. Melihat ke sesuatu yang kini tergeletak di lantai dekat pintu. Rebah, namun tetap dalam keadaan terlipat. Kaku.
"Sialan kau, Anita! Mengapa pula harus menjerit - jerit sehisteris itu. Kau mengganggu ketenangan orang saja !"
Bramasta pergi ke jendela. Mengintip ke luar yang tampak hanya tabir hujan tebal dan bayang-bayang pepohonan tegak dengan pasrah.
"Hem. Anita pasti sudah melihatnya juga. Melihat kepala Nanda “,gerutunya lagi sambil menjauhi jendela.
Ia duduk lagi di depan tungku pemanas. Isi botol di tangan, pindah pula beberapa teguk ke dalam perutnya. Bramasta menoleh karena sayup – sayup terdengar suara ketukan pintu yang mencoba beradu dengan suara hujan badai di luar sana.
Bunyi itu terdengar lagi. Bunyi menggaruk - garuk. Dan nafas tersengal - sengal. Bramasta pun berjalan ke pintu. Bunyi menggaruk itu berhenti. Sejenak Bramasta bimbang. Di luar pintu, terdengar nafas ditahan. Bramasta pun marah sekali. Pintu direnggut terbuka. Dan benar, ada sesuatu di situ. Sesuatu yang seperti terlipat. Lalu setelah terayun-ayun sebentar, sesuatu itu terjerembab jatuh ke arah kaki Bramasta. Tak pelak lagi, Bramasta melompat mundur. Melihat ke sesuatu yang kini tergeletak di lantai dekat pintu. Rebah, namun tetap dalam keadaan terlipat. Kaku.
Diubah oleh breaking182 29-01-2019 20:49
itkgid dan pintokowindardi memberi reputasi
3
Kutip
Balas