- Beranda
- Stories from the Heart
PURI KERAMAT
...
TS
breaking182
PURI KERAMAT
PURI KERAMAT
Quote:

SINOPSIS
Quote:
Berawal dari kematian Ario Keling seorang keturunan bangsawan di masa kerajaan Mataram. Ke empat anaknya beserta dua menantunya datang ke desa Kemulan untuk menghadiri prosesi pemakaman. Suatu desa terpencil yang terletak di lereng Gunung Merapi dan selalu berselimutan kabut. Inka salah satu menantu Ario Keling merasakan ada keganjilan pada saat akan memasuki pintu gerbang puri. Ia melihat sesosok bangsawan di atas punggung kuda besar dengan dua dayang pengiring. Tidak sampai disitu saja, satu hari sebelum pemakaman Ario Keling. Suaminya yang bernama Nagara atau anak sulung Ario Keling tiba –tiba lenyap tidak berbekas secara misterius. Dari situlah rentetan peristiwa berdarah di mulai. Apakah pelakunya Nagara karena ingin menguasai harta warisan yang tersimpan di dalam puri itu? Dan siapakah yang akan keluar dari puri itu hidup – hidup?
Quote:
INDEKS
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
TAMAT
Diubah oleh breaking182 27-02-2019 10:49
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8
14.7K
Kutip
71
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#28
PART 11
Quote:
Tiba di puri, Bramasta benar-benar basah kuyup. Cepat-cepat ia tutup pintu di belakangnya. Lalu berdiri sempoyongan. Seraya menggigil kedinginan ia mengawasi lantai bawah, lantai atas, dan lorong- lorong. Tak tampak seorang pun. Ia pun bergegas menuju tangga.
"Yang pertama, ganti baju dulu!", ia bergumam sendirian.
Pikirannya pun terus berjalan sementara ia melompati anak tangga demi anak tangga. Bramasta tiba di pintu kamarnya sendiri. la sudah mau masuk, sewaktu terlihat olehnya bias nyala lampu menerobos ke luar dari sebuah pintu lain. Dan bukan hanya bias lampu. Melainkan juga suara dua orang perempuan ribut bertengkar.
Terheran-heran, Bramasta berjingkat ke sana. Dalam tempo sekejap telah terdengar langkah kaki berlari mendatangi. Mula-mula, Karta yang menghambur naik dari tangga di sebelah balkon. Orang berikutnya Jaka berlari-lari mendatangi dari arah tangga. Jaka mengawasi Bramasta, kemudian melirik ke daIam kamar.
"Apa yang kalian ributkan, Anita?"
Anita membuka mulut.
"Dia menuduhku mencuri, Jaka !"
Inka tersentak. "Aku tidak mengatakan seperti itu..."
"Apa bedanya! Ucapan-ucapanmu mengandung kecurigaan. Caramu memandangiku, apalagi. Sangat menyakitkan hati!"
Diam-diam pula Karta mengundurkan diri. Dengan cepat ia sudah menghilang ke bawah tangga dari mana tadi ia datang. Bramasta pun bermaksud mengikuti, namun segera membatalkannya ketika ia melihat reaksi Jaka.
Pemuda itu tengah memperhatikan dengan mata menyipit pada Inka yang berjalan menuju meja. Mendorong tertutup laci – laci yang tadi terbuka. Cara Jaka memperhatikan gerak-gerik Inka itulah yang menarik perhatian Bramasta.
Ditambah nada tak senang dibalik pertanyaan Jaka yang ditujukan pada Inka: "Apaan kau, Kak Inka. Sembarangan menuduh begitu?"
Inkah bangkit lagi marahnya.
"Itu salah adikmu sendiri. Masuk kamar orang tanpa permisi!"
Anita tak mau kalah. "Aku kehabisan rokok. Kebetulan pula pintu kamarmu terbuka. Lalu kau datang. Dan berlagak seperti memergoki penCuri ! Apa kau kira aku ...."
Pertengkaran itu serentak terhenti manakala Bramasta Mendehem keras . Baru setelah ia jadi pusat perhatian, Bramasta berujar tenang: "Aku kira, telah terjadi kesalahpahaman!"
Tiga orang lainnya sama terdiam. Bramasta tersenyum manis.
"Bramasta benar," katanya "Aku sependapat, antara kau dan Kak Inka terjadi salah paham yang sebenarnya tak perlu diributkan...."
la kemudian meninggalkan kamar itu, diikuti oleh Anita. Bramasta hanya tersenyum. Dan memperhatikan bagaimana Anita masuk ke kamar mereka. Bramasta ikut masuk. Lalu pintu kamar ditutupkan. Barulah Bramasta teringat pada Nanda yang tadi ia tinggalkan masih dalam keadaan telanjang di loteng garasi. Tampaknya Nanda masih di sana. Entah apa yang dipikirkan dan kemudian akan dilakukan perempuan itu.
"Yang pertama, ganti baju dulu!", ia bergumam sendirian.
Pikirannya pun terus berjalan sementara ia melompati anak tangga demi anak tangga. Bramasta tiba di pintu kamarnya sendiri. la sudah mau masuk, sewaktu terlihat olehnya bias nyala lampu menerobos ke luar dari sebuah pintu lain. Dan bukan hanya bias lampu. Melainkan juga suara dua orang perempuan ribut bertengkar.
Terheran-heran, Bramasta berjingkat ke sana. Dalam tempo sekejap telah terdengar langkah kaki berlari mendatangi. Mula-mula, Karta yang menghambur naik dari tangga di sebelah balkon. Orang berikutnya Jaka berlari-lari mendatangi dari arah tangga. Jaka mengawasi Bramasta, kemudian melirik ke daIam kamar.
"Apa yang kalian ributkan, Anita?"
Anita membuka mulut.
"Dia menuduhku mencuri, Jaka !"
Inka tersentak. "Aku tidak mengatakan seperti itu..."
"Apa bedanya! Ucapan-ucapanmu mengandung kecurigaan. Caramu memandangiku, apalagi. Sangat menyakitkan hati!"
Diam-diam pula Karta mengundurkan diri. Dengan cepat ia sudah menghilang ke bawah tangga dari mana tadi ia datang. Bramasta pun bermaksud mengikuti, namun segera membatalkannya ketika ia melihat reaksi Jaka.
Pemuda itu tengah memperhatikan dengan mata menyipit pada Inka yang berjalan menuju meja. Mendorong tertutup laci – laci yang tadi terbuka. Cara Jaka memperhatikan gerak-gerik Inka itulah yang menarik perhatian Bramasta.
Ditambah nada tak senang dibalik pertanyaan Jaka yang ditujukan pada Inka: "Apaan kau, Kak Inka. Sembarangan menuduh begitu?"
Inkah bangkit lagi marahnya.
"Itu salah adikmu sendiri. Masuk kamar orang tanpa permisi!"
Anita tak mau kalah. "Aku kehabisan rokok. Kebetulan pula pintu kamarmu terbuka. Lalu kau datang. Dan berlagak seperti memergoki penCuri ! Apa kau kira aku ...."
Pertengkaran itu serentak terhenti manakala Bramasta Mendehem keras . Baru setelah ia jadi pusat perhatian, Bramasta berujar tenang: "Aku kira, telah terjadi kesalahpahaman!"
Tiga orang lainnya sama terdiam. Bramasta tersenyum manis.
"Bramasta benar," katanya "Aku sependapat, antara kau dan Kak Inka terjadi salah paham yang sebenarnya tak perlu diributkan...."
la kemudian meninggalkan kamar itu, diikuti oleh Anita. Bramasta hanya tersenyum. Dan memperhatikan bagaimana Anita masuk ke kamar mereka. Bramasta ikut masuk. Lalu pintu kamar ditutupkan. Barulah Bramasta teringat pada Nanda yang tadi ia tinggalkan masih dalam keadaan telanjang di loteng garasi. Tampaknya Nanda masih di sana. Entah apa yang dipikirkan dan kemudian akan dilakukan perempuan itu.
Quote:
Raungan histeris Nanda tentu saja tenggelam ditelan riuh rendahnya badai yang semakin menggila di luar garasi. Sungguh raungan tangis yang sia-sia. Tetapi paling tidak mampu mengurangi sedikit kekecewaan yang telah melukai jiwa dan kehormatan Nanda sebagai seorang perempuan. Akhirnya Nanda lelah sendiri. Menggigil kedinginan oleh serbuan angin dari pintu. Serpih-serpih hujan pun telah mencapai loteng garasi di mana Nanda bergulung sendirian.
Di antara isak tangisnya, Nanda pun sibuk mengenakan pakaiannya kembali. Dan ia masih sempat meraung sedikit lagi ketika memikirkan apa yang akan ia perbuat untuk membalas hinaan Bramasta. Sampai tiba-tiba, ia menyadari telah terjadi perubahan suara. Sejak tadi,pintu garasi terus terhempas - hempas dihajar angin.
Lalu mengapa pintu itu sekarang membungkam seribu bahasa.
" Pasti ada yang menahannya. Tetapi, siapa atau apa?"
Karena ketika ia condongkan tubuhnya ke depan untuk mengintai lewat bibir loteng, yang ia lihat bukan Bramasta sebagaimana sempat ia harapkan. Melainkan sesuatu yang melata. Sosoknya panjang. Sebagian masih ada di luar pintu. Selebihnya sudah masuk dan melata makin ke dalam. Nanda dapat melihatnya dengan jelas. Karena punggungnya berlipat lipat aneh dengan warna coklat kehitaman itu.
Nanda memejamkan mata rapat -rapat.
"Apakah aku hanya berkhayal itu luwing ( kaki seribu ) mengapa ukurannya sebesar itu?", ia membatin.
Ia buka lagi kelopak matanya. Sosok panjang dengan punggung berlipat-lipat itu masih di sana. Masih tetap melata, ekornya saja, masih menahan daun pintu. Ekor yang sama lebar dengan bagian tubuh lainnya. Mendekati lebarnya daun pintu garasi! Nanda pun merinding. Dan ia baru saia menarik mundur tubuhnya, manakala terdengar desah nafas berat tersedak, bagai nafas orang tercekik.
Lalu ia melihat sosok tebal, panjang berbentuk silinder besar dan kenyal itu, bergerak-gerak di depannya. Sepasang titik mata kuning kemerahan, menatap lurus ke mata Nanda. Membuatnya terkesima. Terpaku tidak dapat berbuat apa –apa.
Di antara isak tangisnya, Nanda pun sibuk mengenakan pakaiannya kembali. Dan ia masih sempat meraung sedikit lagi ketika memikirkan apa yang akan ia perbuat untuk membalas hinaan Bramasta. Sampai tiba-tiba, ia menyadari telah terjadi perubahan suara. Sejak tadi,pintu garasi terus terhempas - hempas dihajar angin.
Lalu mengapa pintu itu sekarang membungkam seribu bahasa.
" Pasti ada yang menahannya. Tetapi, siapa atau apa?"
Karena ketika ia condongkan tubuhnya ke depan untuk mengintai lewat bibir loteng, yang ia lihat bukan Bramasta sebagaimana sempat ia harapkan. Melainkan sesuatu yang melata. Sosoknya panjang. Sebagian masih ada di luar pintu. Selebihnya sudah masuk dan melata makin ke dalam. Nanda dapat melihatnya dengan jelas. Karena punggungnya berlipat lipat aneh dengan warna coklat kehitaman itu.
Nanda memejamkan mata rapat -rapat.
"Apakah aku hanya berkhayal itu luwing ( kaki seribu ) mengapa ukurannya sebesar itu?", ia membatin.
Ia buka lagi kelopak matanya. Sosok panjang dengan punggung berlipat-lipat itu masih di sana. Masih tetap melata, ekornya saja, masih menahan daun pintu. Ekor yang sama lebar dengan bagian tubuh lainnya. Mendekati lebarnya daun pintu garasi! Nanda pun merinding. Dan ia baru saia menarik mundur tubuhnya, manakala terdengar desah nafas berat tersedak, bagai nafas orang tercekik.
Lalu ia melihat sosok tebal, panjang berbentuk silinder besar dan kenyal itu, bergerak-gerak di depannya. Sepasang titik mata kuning kemerahan, menatap lurus ke mata Nanda. Membuatnya terkesima. Terpaku tidak dapat berbuat apa –apa.
Quote:
SEMBARI rebahan di ranjang dengan mata mengawasi butir - butir hujan menerpa kaca jendela, Inka terus menerawang memikirkan dimana dan sedang apa suaminya sekarang. Geledek menyambar di luar puri. Membuat seluruh bangunan terasa bergetar. Sedetik dua cuma. Tetapi cahayanya yang menyilaukan di kaca jendela, telah membuat Inka, bangkit terduduk. Dengan wajah pucat pasi.
“ Mengapa geledek menyambar"
“ Mengapa bumi bergetar"
Inka bergidik, mengucapkan istighfar. Lalu kembali rebah di tempat tidurnya. Puri bergetar lagi. Tetapi hanya samarsamar.
“ Mengapa geledek menyambar"
“ Mengapa bumi bergetar"
Inka bergidik, mengucapkan istighfar. Lalu kembali rebah di tempat tidurnya. Puri bergetar lagi. Tetapi hanya samarsamar.
Quote:
DAN PADA getaran pertama, yang lebih keras, Jaka terhenyak dari duduknya. Ia mendengarkan suara hujan dan angin badai di luar. Lamunannya buyar manakala terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.
“ Iya masuk, pintu tidak di kunci “
Suara handle pintu terdengar diputar, lalu dari ablik pintu muncul sesosok perempuan mengenakan gaun tidur berwarna merah yang sangat tipis sehingga lekuk –lekukan tubuhnya terpampang jelas. Dialah Anita, saudara tiri Jaka dari ibu yang berbeda.
Jaka menelan ludahnya sendiri.
Anita mengeluh.
" Hujan deras dan guntur yang menggelegar membuat ku ketakutan di dalam kamar sendiri Jaka “
“ Bram...? “, Jaka menyahut pendek.
“ Entahlah, dia keluar sejak tadi. Mungkin sedang keluyuran di bawah sana atau mungkin sedang minum di ruang tengah “
“ Apa yang sedang kau lakukan Jaka, kau masih memikirkan raib nya dokumen –dokumen itu ?”
Jaka menarik nafas panjang.
“ Bukan hanya itu saja, tiba –tiba aku memikirkan Nanda “
“ Ia dapat menjaga diri sendiri, Jaka."
"Tetapi aku belum melihat dia semenjak aku kembali dari pemakaman ayah!", jawab Jaka gelisah.
"Aku akan memeriksa kamarnya, untuk memastikan apakah Nanda baik-baik saja."
"Aaah. Paling juga ia tengah sibuk memikirkan Bram", kata Anita seraya mengikuti saudaranya berjalan menuju pintu. "
Tak usahlah kau berpura - pura menutup mata, Jaka."
Jaka tertegun.
"Apakah kau mencemburui kakakmu sendiri?"
Anita mendekat kemudian merangkulkan kedua lengan di leher Jaka. Tubuh yang terbalut gaun tidur tipis itu bersentuhan dengan tubuh Jaka. Jantung Jaka berdebar kencang, aliran darah di tubuhnya serasa mengalir lebih kencang. Anita mendekatkan bibir ke wajah Jaka, hembusan nafas perempuan itu membuat getaran di tubuh Jaka makin melonjak naik.
"Kau tahu betul, Jaka. Silahkan saja Bram mengejar perempuan mana pun yang disukainya. Aku tak akan pernah cemburu sedikitpun"
"Anita"
Wajah Anita lebih mendekat lagi ke wajah Jaka.
"Sudah berapa tahun kita tidak pernah melakukannya lagi, Jaka?"
Wajah Jaka bersemu merah. Tak menjawab. Anita tanpa menunggu, ia sudah melumatkan bibirnya ke bibir Jaka, lalu mengulumnya dengan kuat. Jaka masih sempat mengimbangi ciuman itu dengan hangat, sebelum Jaka meronta lepas, dan kemudian berujar terengah-engah.
"Tidak lagi, Anita. Tidak akan!"
Kelopak mata Anita meredup:
"Mengapa, Jaka?"
"Yang dulu itu kita perbuat tanpa sadar, Anita!"
"Jika demikian, mengapa sekarang kita tidak lakukan dengan sadar dan penuh gelora asmara Jaka. Aku tahu selama ini perasaan ku kepada ku masih sama seperti sepuluh tahun yang silam"
"Maafkan aku, Anita," kata Jaka tergesa-gesa.
Tergesa-gesa pula ia membuka pintu. Lantas berlari-lari kecil menuju tangga. Jaka hampir saja bertubrukan dengan Bram yang justru sedang naik ke atas. Sejenak mereka saling pandang. Sejenak, sama-sama terperanjat.
Lantas, Bram menggumam: "Kau melamun ya?"
Jaka membalas: "Kau pun tak lihat-lihat jalan!"
Mereka pun saling bertukar pandang lagi.
Tiba –tiba sesosok tubuh tinggi kurus lewat di bawah tangga, dari arah lorong ke dapur. Sepertinya, akan bergegas ke pintu depan, dengan wajah kaku dan misterius.
Jaka lantas berseru: "Mau ke mana. Pak Karta?"
Karta menoleh.
"Tidakkah kalian mendengarnya?"
"Mendengar apa, Pak?"
"Ada yang menjerit barusan “
"Apa !"
Bram kini yang ganti terkejut.
Mendadak saja ia teringat bahwa Nanda sendirian di garasi. Apakah hujan badai dan getaran keras tadi ataukah geledek telah menyambarnya. Karta sudah sampai di pintu depan. Di sana, ia tertegun. Terbungkuk - bungkuk mengurut dadanya, sambil menggumamkan sesuatu.
Kemudian, ia kuatkan dirinya, merenggut pintu depan sampai menganga lebar. Lantas menghambur pergi menerobos derasnya hujan. Tanpa pikir panjang lagi Jaka dan Bramasta segera menyusul Karta yang sudah lenyap di depan sana. Sejenak Jaka kebingungan. Tetapi kemudian ia merasakan tarikan Bram pada lengannya. Jaka pun berlari-lari mengikuti Bram dengan tubuh basah kuyup menuju ke arah garasi.
Karta tampak berdiri di bawah hujan. Membelakangi pintu. Di bawah siraman hujan deras, wajahnya datar dan dingin. Hanya mata tuanya saja, yang tampak layu.
"Sebaiknya kalian tidak masuk ke dalam!," katanya, datar.
Dada Jaka berdebar.
"Nanda?"
Karta mengangguk.
"Aku akan menemuinya"
"Nanti saja, Den Jaka"
"Hei, mengapa harus nanti....."
Kata - kata Jaka tergantung begitu saja. Rasanya ia telah melihat sesuatu di balik ke suraman wajah Karta yang basah kuyup. Dan apa yang dilihat nya, membuat Jaka terperanjat.
"Tidak. Kau salah. Pandanganmu sudah lamur .Nanda masih hidup. Dia ...."
Kemudian, Jaka mendorong Karta dengan keras sehingga orangtua itu terhuyung lalu jatuh di tanah berlumpur. Jaka menghambur ke pintu garasi. Bram ikut berlari di belakangnya. Bram menahan daun pintu yang dihempas-hempas angin, sejenak silau oleh cahaya terang benderang di dalam. Bukankah ketika tadi ia masuk bersama Nanda, lalu ketika ia meninggalkan Nanda sendirian di sana, lampu di dalam belum menyala dan masih remang –remang.
" Ah, pasti Karta yang telah menyalakannya. Dan....”
Bramasta pun terbelalak dengan wajah pucat, tenggorokannya serasa tercekik sepasang tangan yang kuat. Bukan karena melihat Nanda masih telanjang. Ruang dalam bengkel tampak berantakan. Loteng roboh. Porak-poranda. Di lantai, bahkan juga di tembok, terlihat percikan dan genangan darah. Lalu cabikan-cabikan blouse dan rok, robekan robekan daging segar, tulang-tulang yang masih ditempeli serpihan - serpihan daging dan darah.
Terpisah agak jauh di sudut, tampaklah sepotong betis terputus se batas lutut. Aroma anyir darah tercium seketika menyengat indera penciuman. Bramasta menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu. Dengan perut mual. Jaka lebih tidak tahan lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Jaka menghambur ke luar. Di bawah siraman hujan deras, tubuh Jaka terbungkuk-bungkuk. Lantas tanpa ampun lagi, sesuatu yang bergerak dan mendorong kuat dari dalam lambung nya, ia muntahkan ke luar. Setelah itu, Jaka terkulai. Jatuh berlutut di tanah berlumpur.
“ Iya masuk, pintu tidak di kunci “
Suara handle pintu terdengar diputar, lalu dari ablik pintu muncul sesosok perempuan mengenakan gaun tidur berwarna merah yang sangat tipis sehingga lekuk –lekukan tubuhnya terpampang jelas. Dialah Anita, saudara tiri Jaka dari ibu yang berbeda.
Jaka menelan ludahnya sendiri.
Anita mengeluh.
" Hujan deras dan guntur yang menggelegar membuat ku ketakutan di dalam kamar sendiri Jaka “
“ Bram...? “, Jaka menyahut pendek.
“ Entahlah, dia keluar sejak tadi. Mungkin sedang keluyuran di bawah sana atau mungkin sedang minum di ruang tengah “
“ Apa yang sedang kau lakukan Jaka, kau masih memikirkan raib nya dokumen –dokumen itu ?”
Jaka menarik nafas panjang.
“ Bukan hanya itu saja, tiba –tiba aku memikirkan Nanda “
“ Ia dapat menjaga diri sendiri, Jaka."
"Tetapi aku belum melihat dia semenjak aku kembali dari pemakaman ayah!", jawab Jaka gelisah.
"Aku akan memeriksa kamarnya, untuk memastikan apakah Nanda baik-baik saja."
"Aaah. Paling juga ia tengah sibuk memikirkan Bram", kata Anita seraya mengikuti saudaranya berjalan menuju pintu. "
Tak usahlah kau berpura - pura menutup mata, Jaka."
Jaka tertegun.
"Apakah kau mencemburui kakakmu sendiri?"
Anita mendekat kemudian merangkulkan kedua lengan di leher Jaka. Tubuh yang terbalut gaun tidur tipis itu bersentuhan dengan tubuh Jaka. Jantung Jaka berdebar kencang, aliran darah di tubuhnya serasa mengalir lebih kencang. Anita mendekatkan bibir ke wajah Jaka, hembusan nafas perempuan itu membuat getaran di tubuh Jaka makin melonjak naik.
"Kau tahu betul, Jaka. Silahkan saja Bram mengejar perempuan mana pun yang disukainya. Aku tak akan pernah cemburu sedikitpun"
"Anita"
Wajah Anita lebih mendekat lagi ke wajah Jaka.
"Sudah berapa tahun kita tidak pernah melakukannya lagi, Jaka?"
Wajah Jaka bersemu merah. Tak menjawab. Anita tanpa menunggu, ia sudah melumatkan bibirnya ke bibir Jaka, lalu mengulumnya dengan kuat. Jaka masih sempat mengimbangi ciuman itu dengan hangat, sebelum Jaka meronta lepas, dan kemudian berujar terengah-engah.
"Tidak lagi, Anita. Tidak akan!"
Kelopak mata Anita meredup:
"Mengapa, Jaka?"
"Yang dulu itu kita perbuat tanpa sadar, Anita!"
"Jika demikian, mengapa sekarang kita tidak lakukan dengan sadar dan penuh gelora asmara Jaka. Aku tahu selama ini perasaan ku kepada ku masih sama seperti sepuluh tahun yang silam"
"Maafkan aku, Anita," kata Jaka tergesa-gesa.
Tergesa-gesa pula ia membuka pintu. Lantas berlari-lari kecil menuju tangga. Jaka hampir saja bertubrukan dengan Bram yang justru sedang naik ke atas. Sejenak mereka saling pandang. Sejenak, sama-sama terperanjat.
Lantas, Bram menggumam: "Kau melamun ya?"
Jaka membalas: "Kau pun tak lihat-lihat jalan!"
Mereka pun saling bertukar pandang lagi.
Tiba –tiba sesosok tubuh tinggi kurus lewat di bawah tangga, dari arah lorong ke dapur. Sepertinya, akan bergegas ke pintu depan, dengan wajah kaku dan misterius.
Jaka lantas berseru: "Mau ke mana. Pak Karta?"
Karta menoleh.
"Tidakkah kalian mendengarnya?"
"Mendengar apa, Pak?"
"Ada yang menjerit barusan “
"Apa !"
Bram kini yang ganti terkejut.
Mendadak saja ia teringat bahwa Nanda sendirian di garasi. Apakah hujan badai dan getaran keras tadi ataukah geledek telah menyambarnya. Karta sudah sampai di pintu depan. Di sana, ia tertegun. Terbungkuk - bungkuk mengurut dadanya, sambil menggumamkan sesuatu.
Kemudian, ia kuatkan dirinya, merenggut pintu depan sampai menganga lebar. Lantas menghambur pergi menerobos derasnya hujan. Tanpa pikir panjang lagi Jaka dan Bramasta segera menyusul Karta yang sudah lenyap di depan sana. Sejenak Jaka kebingungan. Tetapi kemudian ia merasakan tarikan Bram pada lengannya. Jaka pun berlari-lari mengikuti Bram dengan tubuh basah kuyup menuju ke arah garasi.
Karta tampak berdiri di bawah hujan. Membelakangi pintu. Di bawah siraman hujan deras, wajahnya datar dan dingin. Hanya mata tuanya saja, yang tampak layu.
"Sebaiknya kalian tidak masuk ke dalam!," katanya, datar.
Dada Jaka berdebar.
"Nanda?"
Karta mengangguk.
"Aku akan menemuinya"
"Nanti saja, Den Jaka"
"Hei, mengapa harus nanti....."
Kata - kata Jaka tergantung begitu saja. Rasanya ia telah melihat sesuatu di balik ke suraman wajah Karta yang basah kuyup. Dan apa yang dilihat nya, membuat Jaka terperanjat.
"Tidak. Kau salah. Pandanganmu sudah lamur .Nanda masih hidup. Dia ...."
Kemudian, Jaka mendorong Karta dengan keras sehingga orangtua itu terhuyung lalu jatuh di tanah berlumpur. Jaka menghambur ke pintu garasi. Bram ikut berlari di belakangnya. Bram menahan daun pintu yang dihempas-hempas angin, sejenak silau oleh cahaya terang benderang di dalam. Bukankah ketika tadi ia masuk bersama Nanda, lalu ketika ia meninggalkan Nanda sendirian di sana, lampu di dalam belum menyala dan masih remang –remang.
" Ah, pasti Karta yang telah menyalakannya. Dan....”
Bramasta pun terbelalak dengan wajah pucat, tenggorokannya serasa tercekik sepasang tangan yang kuat. Bukan karena melihat Nanda masih telanjang. Ruang dalam bengkel tampak berantakan. Loteng roboh. Porak-poranda. Di lantai, bahkan juga di tembok, terlihat percikan dan genangan darah. Lalu cabikan-cabikan blouse dan rok, robekan robekan daging segar, tulang-tulang yang masih ditempeli serpihan - serpihan daging dan darah.
Terpisah agak jauh di sudut, tampaklah sepotong betis terputus se batas lutut. Aroma anyir darah tercium seketika menyengat indera penciuman. Bramasta menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu. Dengan perut mual. Jaka lebih tidak tahan lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Jaka menghambur ke luar. Di bawah siraman hujan deras, tubuh Jaka terbungkuk-bungkuk. Lantas tanpa ampun lagi, sesuatu yang bergerak dan mendorong kuat dari dalam lambung nya, ia muntahkan ke luar. Setelah itu, Jaka terkulai. Jatuh berlutut di tanah berlumpur.
Diubah oleh breaking182 27-01-2019 09:23
itkgid dan pintokowindardi memberi reputasi
2
Kutip
Balas