- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#63
PART 6
Quote:
Hujan lebat menggebrak bumi. Guntur menggelegar berkepanjangan. Kilat sambar menyambar. Saat itu hari sangat pagi. Tapi hujan lebat, gumpalan awan menghitam membuat suasana seperti dicengkeram gulitanya malam. Di dasar jurang sebelah barat yang merupakan bukit berbatu-batu hampir tanpa pepohonan. Suasana tampak gersang meski tengah dihajar hujan yang mencurah sangat deras dari langit. Kaki gunung dicekam kesunyian aneh di tengah hujan yang mengguyur. Sesekali terlihat kilat menyambar dan suara geledek menggelegar merobek gendang telinga. Suara tiupan angin di kejauhan, bergaung di sela bebatuan.
Sesosok tubuh tanpa kepala terlungkup di dekat batu karang. Tidak jauh dari tubuh itu terlihat sebuah benda bulat tersangkut diantara akar –akar tanaman rambat. Benda bulat itu adalah kepala. Rambutnya yang basah serta lelehan darah masih terus mengucur dari luka bekas kutungan leher yang telah tanggal dari badan. Mata merah masih tampak melotot penuh dendam!
Tiba –tiba petir menggelegar seperti merobek langit. Pada saat itulah dari sela –sela batu karang mengepul asap tipis menyerupai kabut. Asap itu berputar –putar dan menyelimuti tubuh dan kepala yang terpenggal. Tidak berapa lama kemudian tubuh yang terlungkup tadi tiba – tiba bergerak –gerak dengan pelan dan kaku. Lalu sekejap kemudian dengan susah payah tubuh tanpa kepala itu bangkit berdiri. Darah sesekali masih memancar dari leher yang terpenggal. Mengalir ke bawah bersama air hujan yang tidak kunjung reda mengguyur bumi.
Terseok –seok tubuh tanpa kepala itu berjalan menuju arah dimana kepalanya tersangkut. Baru dua tindak tubuh itu melangkahkan kakinya dengan kaku. Kepala yang tersangkut tadi seperti terbetot ke atas. Melayang –layang sebentar di udara sambil mengeluarkan mendesis menakutkan. Dan kemudian melayang degan cepat ke arah tubuh yang tengah berjalan terhuyung –huyung tanpa kepala. Sesuatu yang mengerikan dan aneh tiba –tiba tersaji di depan mata. Kepala itu menempel lagi di atas bagian bekas leher yang terpenggal. Menempel lagi dengan erat. Hanya menyisakan bekas sayatan yang melingkar.
Sesosok tubuh tanpa kepala terlungkup di dekat batu karang. Tidak jauh dari tubuh itu terlihat sebuah benda bulat tersangkut diantara akar –akar tanaman rambat. Benda bulat itu adalah kepala. Rambutnya yang basah serta lelehan darah masih terus mengucur dari luka bekas kutungan leher yang telah tanggal dari badan. Mata merah masih tampak melotot penuh dendam!
Tiba –tiba petir menggelegar seperti merobek langit. Pada saat itulah dari sela –sela batu karang mengepul asap tipis menyerupai kabut. Asap itu berputar –putar dan menyelimuti tubuh dan kepala yang terpenggal. Tidak berapa lama kemudian tubuh yang terlungkup tadi tiba – tiba bergerak –gerak dengan pelan dan kaku. Lalu sekejap kemudian dengan susah payah tubuh tanpa kepala itu bangkit berdiri. Darah sesekali masih memancar dari leher yang terpenggal. Mengalir ke bawah bersama air hujan yang tidak kunjung reda mengguyur bumi.
Terseok –seok tubuh tanpa kepala itu berjalan menuju arah dimana kepalanya tersangkut. Baru dua tindak tubuh itu melangkahkan kakinya dengan kaku. Kepala yang tersangkut tadi seperti terbetot ke atas. Melayang –layang sebentar di udara sambil mengeluarkan mendesis menakutkan. Dan kemudian melayang degan cepat ke arah tubuh yang tengah berjalan terhuyung –huyung tanpa kepala. Sesuatu yang mengerikan dan aneh tiba –tiba tersaji di depan mata. Kepala itu menempel lagi di atas bagian bekas leher yang terpenggal. Menempel lagi dengan erat. Hanya menyisakan bekas sayatan yang melingkar.
Quote:
TAHUN demi tahun berlalu sudah. Bersama dengan merambatnya waktu. Populasi manusia terus pula berjalan. Di sisi lain penambahan jumlah manusia itu dengan sendirinya ikut menambah jumlah mereka yang mati. Lambat laun yang tadinya cuma sebatas dataran rendah di pinggiran sungai. Kini telah merambati bukit. Malah mendekati lereng gunung di atasnya. Hal itu memang dimungkinkan karena lereng gunung yang dahulunya terjal kini sudah berubah landai karena gerusan tangan manusia dari waktu ke waktu. Dan praktek kolonialisme masih belum hilang dari bumi Nusantara dan penjajah masih tetap bercokol dan berkuasa mengeruk kekayaan ibu pertiwi.
Di Wonosari udara malam dingin mencucuk. Kesunyian dipecah oleh suara desau daun-daun pepohonan tertiup angin yang datang dari arah pegunungan seribu. Hujan rintik-rintik mulai turun. Di kejauhan terdengar suara lolong anjing bersahut-sahutan. Malam itu adalah malam Jum'at Kliwon! Di antara desau angin malam dan gemerisik suara daun-daun pepohonan yang sesekali dirobek oleh lengking lolongan anjing, dari arah timur terdengar gemeretak suara roda-roda kereta mengiringi derap kaki - kaki kuda yang menariknya.
Dalam kegelapan malam, sebuah kereta, laksana kereta hantu meluncur keluar dari sebuah lembah yang rapat oleh pohon-pohon besar dan semak belukar. Kereta terbuka ini bergerak perlahan tetapi pasti. Sais yang mengendalikan dua ekor kuda penarik kereta agaknya sengaja bergerak lambat perlahan. Orang ini mengenakan ikatan kepala tebal dari kain berwarna gelap. Baju hitamnya tersibak ditiup angin malam, pandangan matanya datar kosong menatap lurus ke depan seperti hendak menembus kegelapan malam yang semakin menyergap.
Memasuki mulut jalan yang menuju kota, sang sais semakin memperlambat lari dua ekor kuda penarik kereta. Di belakangnya di atas kereta yang terbuka, mendekam angker sebuah peti mati sangat besar, berwarna hitam pekat terbuat dari kayu besi. Kereta semakin jauh masuk ke dalam kota, Wonosari diselimuti kesunyian. Kereta bergerak menuju pusat kota dan akhirnya berhenti di pintu gerbang sebuah rumah besar atau loji. Sepertinya ini rumah pejabat atau orang penting. Penjagaan di loji pintu gerbang ada tiga pengawal. Salah satunya tidur mendengkur di samping tangga.
Dua orang penjaga yang masih terjaga segera menghampiri manakala melihat ada kereta kuda yang merayap menuju ke arah gerbang. Salah satu penjaga ini jadi mengkeret ketika matanya membentur peti mati besar di atas kereta. Tak pernah dia melihat peti mati sebesar dan seangker itu. Si pengawal menggosok kedua matanya beberapa kali. Dia mengira tengah ber-mimpi. Ketika kereta dan saisnya tetap terpampang di depannya sadarlah pengawal ini kalau dia tidak bermimpi. Tiba-tiba saja dia ingat bahwa malam itu adalah malam Jum'at Kliwon!
"Kereta hantu!" itu kini yang terpikir dalam benak si pengawal. Kuduknya mendadak sontak menjadi dingin. Segenap persendiannya jadi bergetar. Dia berusaha berdiri, tapi pandangan mata sais kereta membuatnya laksana di pantek di tanah!
Dalam keadaan seperti itu pengawal satunya berbisik kepada kawannya ini.
“ Coba kau perhatikan kaki-kaki dua ekor kuda penarik kereta itu. Semua kaki-kaki binatang itu menginjak tanah. Pertanda bahwa yang datang bukanlah setan atau hantu. Kita jangan takut “
Hal ini membuat keberaniannya pulih kembali.
"Orang di atas kereta! Apa keperluanmu datang ke rumah Ndoro Kamal malam-malam begini. Hanya setan yang masih gentayangan malam-malam begini! Kau ini manusia atau setan?!"
Orang yang tengah duduk di atas kereta diam seribu bahasa, pandangannya tetap datar dan dingin. Melihat pertanyaannya tidak di gubris sama sekali penjaga itu naik pitam.
"Jangan berani main-main dengan ku!" kertaknya.
Lalu dengan marah tangannya digerakkan ke pinggang untuk mencabut goloknya. Golok sudah berada di dalam genggaman tangan kanan penjaga itu tetapi hal yang aneh tiba –tiba terjadi gerakan tangan kanannya itu melesat ke arah dada. Si penjaga menjerit kesakitan, karena ujung golok itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah mulai mengucur keluar dan penjaga itu masih terengah-engah melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang menggenggam golok itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh nya sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi.
Melihat hal itu temannya kaget dan dengan cepat berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Golok itu bergerak sendiri ke arah dadanya.
“ Jupri..tahan diri mu mengapa kau jadi gila “
Salah satu penjaga berteriak memperingatkan Jupri.
“ Aku tidak tahu Somad, tanganku ini seperti punya nyawa dan kemauan sendiri tanpa aku bisa menahannya “
Jupri tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampai-sampai ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik tertentu, golok itu berhasil mengenai perutnya.
Jlebbb...!
" Aakhhhh...! " teriaknya.
Rasa sakit membuat ia makin mendelik. Tapi beruntung sekali golok itu tidak masuk terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung golok. Somad berusaha menyergap Jupri. Saat itu Jupri tidak bisa mengendalikan gerakan tangan kanannya. Golok itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak menusuk ulu hatinya. Jupri mengerahkan kekuatannya, otot lengannya tampak bertonjolan.
" Lepaskan golok itu! Lepaskan! " teriak Somad.
Somad berusaha merebut golok di tangan kanan Jupri, tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak di luar kontrol kesadaran Jupri. Golok itu mengibas cepat dan mengenai leher Somad dengan telak.
Tanpa jerit dan lengking kesakitan, benda bulat itu segera terpisah dari badan dengan sepasang mata melotot kaget. Darah seketika muncrat membasahi badan Jupri yang mau tidak mau begidik ngeri. Sementara sang sais hanya memandang tanpa ekspresi dari atas keretanya.
Jupri mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang kini kembali mengacungkan golok ke arah dadanya.
" Tolong...! Aaaoh... tolong aku... Sobar..Bangun Sobar...! "
Jupri berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya sembari memanggil – manggil kawan satunya yang masih tidur mendengkur di bawah tangga. Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan.
Aaakkhg...!
Jupri membelalakkan mata dalam keadaan berdiri dengan lutut menghadap ke arah kereta. Tubuh nya menjadi kejang sesaat, karena waktu itu golok telah berhasil menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya, tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke mana-mana. Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan darah sendiri hingga tampak mengerikan.
Perlahan-lahan tubuh Jupri limbung. Tangan kanannya masih memegangi golok yang menikam jantungnya sampai ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai melemas bersama gerakan limbung tubuh Jupri. Lalu, ia pun tergeletak di tanah yang banjir karena darah. Matanya masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir dengan penasaran.
Di Wonosari udara malam dingin mencucuk. Kesunyian dipecah oleh suara desau daun-daun pepohonan tertiup angin yang datang dari arah pegunungan seribu. Hujan rintik-rintik mulai turun. Di kejauhan terdengar suara lolong anjing bersahut-sahutan. Malam itu adalah malam Jum'at Kliwon! Di antara desau angin malam dan gemerisik suara daun-daun pepohonan yang sesekali dirobek oleh lengking lolongan anjing, dari arah timur terdengar gemeretak suara roda-roda kereta mengiringi derap kaki - kaki kuda yang menariknya.
Dalam kegelapan malam, sebuah kereta, laksana kereta hantu meluncur keluar dari sebuah lembah yang rapat oleh pohon-pohon besar dan semak belukar. Kereta terbuka ini bergerak perlahan tetapi pasti. Sais yang mengendalikan dua ekor kuda penarik kereta agaknya sengaja bergerak lambat perlahan. Orang ini mengenakan ikatan kepala tebal dari kain berwarna gelap. Baju hitamnya tersibak ditiup angin malam, pandangan matanya datar kosong menatap lurus ke depan seperti hendak menembus kegelapan malam yang semakin menyergap.
Memasuki mulut jalan yang menuju kota, sang sais semakin memperlambat lari dua ekor kuda penarik kereta. Di belakangnya di atas kereta yang terbuka, mendekam angker sebuah peti mati sangat besar, berwarna hitam pekat terbuat dari kayu besi. Kereta semakin jauh masuk ke dalam kota, Wonosari diselimuti kesunyian. Kereta bergerak menuju pusat kota dan akhirnya berhenti di pintu gerbang sebuah rumah besar atau loji. Sepertinya ini rumah pejabat atau orang penting. Penjagaan di loji pintu gerbang ada tiga pengawal. Salah satunya tidur mendengkur di samping tangga.
Dua orang penjaga yang masih terjaga segera menghampiri manakala melihat ada kereta kuda yang merayap menuju ke arah gerbang. Salah satu penjaga ini jadi mengkeret ketika matanya membentur peti mati besar di atas kereta. Tak pernah dia melihat peti mati sebesar dan seangker itu. Si pengawal menggosok kedua matanya beberapa kali. Dia mengira tengah ber-mimpi. Ketika kereta dan saisnya tetap terpampang di depannya sadarlah pengawal ini kalau dia tidak bermimpi. Tiba-tiba saja dia ingat bahwa malam itu adalah malam Jum'at Kliwon!
"Kereta hantu!" itu kini yang terpikir dalam benak si pengawal. Kuduknya mendadak sontak menjadi dingin. Segenap persendiannya jadi bergetar. Dia berusaha berdiri, tapi pandangan mata sais kereta membuatnya laksana di pantek di tanah!
Dalam keadaan seperti itu pengawal satunya berbisik kepada kawannya ini.
“ Coba kau perhatikan kaki-kaki dua ekor kuda penarik kereta itu. Semua kaki-kaki binatang itu menginjak tanah. Pertanda bahwa yang datang bukanlah setan atau hantu. Kita jangan takut “
Hal ini membuat keberaniannya pulih kembali.
"Orang di atas kereta! Apa keperluanmu datang ke rumah Ndoro Kamal malam-malam begini. Hanya setan yang masih gentayangan malam-malam begini! Kau ini manusia atau setan?!"
Orang yang tengah duduk di atas kereta diam seribu bahasa, pandangannya tetap datar dan dingin. Melihat pertanyaannya tidak di gubris sama sekali penjaga itu naik pitam.
"Jangan berani main-main dengan ku!" kertaknya.
Lalu dengan marah tangannya digerakkan ke pinggang untuk mencabut goloknya. Golok sudah berada di dalam genggaman tangan kanan penjaga itu tetapi hal yang aneh tiba –tiba terjadi gerakan tangan kanannya itu melesat ke arah dada. Si penjaga menjerit kesakitan, karena ujung golok itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah mulai mengucur keluar dan penjaga itu masih terengah-engah melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang menggenggam golok itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh nya sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi.
Melihat hal itu temannya kaget dan dengan cepat berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Golok itu bergerak sendiri ke arah dadanya.
“ Jupri..tahan diri mu mengapa kau jadi gila “
Salah satu penjaga berteriak memperingatkan Jupri.
“ Aku tidak tahu Somad, tanganku ini seperti punya nyawa dan kemauan sendiri tanpa aku bisa menahannya “
Jupri tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampai-sampai ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik tertentu, golok itu berhasil mengenai perutnya.
Jlebbb...!
" Aakhhhh...! " teriaknya.
Rasa sakit membuat ia makin mendelik. Tapi beruntung sekali golok itu tidak masuk terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung golok. Somad berusaha menyergap Jupri. Saat itu Jupri tidak bisa mengendalikan gerakan tangan kanannya. Golok itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak menusuk ulu hatinya. Jupri mengerahkan kekuatannya, otot lengannya tampak bertonjolan.
" Lepaskan golok itu! Lepaskan! " teriak Somad.
Somad berusaha merebut golok di tangan kanan Jupri, tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak di luar kontrol kesadaran Jupri. Golok itu mengibas cepat dan mengenai leher Somad dengan telak.
Tanpa jerit dan lengking kesakitan, benda bulat itu segera terpisah dari badan dengan sepasang mata melotot kaget. Darah seketika muncrat membasahi badan Jupri yang mau tidak mau begidik ngeri. Sementara sang sais hanya memandang tanpa ekspresi dari atas keretanya.
Jupri mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang kini kembali mengacungkan golok ke arah dadanya.
" Tolong...! Aaaoh... tolong aku... Sobar..Bangun Sobar...! "
Jupri berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya sembari memanggil – manggil kawan satunya yang masih tidur mendengkur di bawah tangga. Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan.
Aaakkhg...!
Jupri membelalakkan mata dalam keadaan berdiri dengan lutut menghadap ke arah kereta. Tubuh nya menjadi kejang sesaat, karena waktu itu golok telah berhasil menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya, tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke mana-mana. Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan darah sendiri hingga tampak mengerikan.
Perlahan-lahan tubuh Jupri limbung. Tangan kanannya masih memegangi golok yang menikam jantungnya sampai ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai melemas bersama gerakan limbung tubuh Jupri. Lalu, ia pun tergeletak di tanah yang banjir karena darah. Matanya masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir dengan penasaran.
Quote:
KAMAL MENGHISAP pipa gading yang berisi tembakau bercampur candu itu panjang-panjang. Kedua matanya sampai terpejam-pejam saking merasa nikmat. Beberapa kali bola matanya berputar-putar kemudian dia berpaling pada perempuan yang terbaring menelungkup dalam keadaan tanpa busana di sebelahnya. Kini ia sudah menjadi tuan tanah yang kesohor bukan lagi centeng kacangan seperti beberapa tahun yang silam.
"Apa enaknya menghisap tembakau seperti itu...?" bertanya perempuan itu.
"Sulit menerangkan. Kau harus mencobanya sendiri. Mau?"
Yang ditanya menggeleng.
"Menghisap tembakau campur candu, jika tahu takarannya yang tepat akan membuat seseorang menjadi sehat dan perkasa... Kau merasakan sendiri malam tadi bukan? Ha... ha... ha... "
Perempuan itu menggigit bahu Kamal lalu merangkul tubuh lelaki itu seraya berbisik : "Kau memang kuat sekali Mas. Malam tadi... ah, malu aku mengatakan. Aku hampir-hampir menangis kewalahan..."
Kamal tertawa gelak-gelak mendengar ucapan itu. Lalu mencabut pipanya dan berkata : "Akupun tidak menyangka kau begitu hebat melayaniku, Seruni. Ha... ha... ha!"
Mendengar ucapan itu Seruni langsung bangkit dan menindih tubuh sang tuan tanah, Terangsang oleh tubuh yang bagus dan mulus itu Kamal letakkan pipa gadingnya di meja kecil di samping tempat tidur. Baru saja dia hendak menggumuli tubuh Seruni tiba-tiba diluar terdengar suara kentongan titir tiga kali berturut-turut. Kamal terkejut dan angkat tubuh Seruni ke samping.
"Ada apa Mas...?"
"Jika penjaga memukul kentongan titir tiga kali berturut-turut berarti ada bahaya mengancam!"
"Ah, siapa manusianya yang berani berbuat macam-macam terhadapmu, Mas? Biarkan saja para pengawalmu yang menyelesaikan segala urusan diluar sana. Aku ingin kita bersenang-senang, tidak turun dari atas ranjang ini sampai besok pagi!"
Di luar sana kembali terdengar suara kentongan titir tiga kali berturut - turut. Kamal melompat dari atas ranjang, tidak perdulikan panggilan manja penuh birahi Seruni. Dia mengenakan pakaiannya dengan cepat lalu berpaling pada Seruni yang menelentang tanpa busana di atas ranjang.
"Kau tetap disini. Tunggu sampat aku kembali. Urusanku tak akan lama!"
"Apa enaknya menghisap tembakau seperti itu...?" bertanya perempuan itu.
"Sulit menerangkan. Kau harus mencobanya sendiri. Mau?"
Yang ditanya menggeleng.
"Menghisap tembakau campur candu, jika tahu takarannya yang tepat akan membuat seseorang menjadi sehat dan perkasa... Kau merasakan sendiri malam tadi bukan? Ha... ha... ha... "
Perempuan itu menggigit bahu Kamal lalu merangkul tubuh lelaki itu seraya berbisik : "Kau memang kuat sekali Mas. Malam tadi... ah, malu aku mengatakan. Aku hampir-hampir menangis kewalahan..."
Kamal tertawa gelak-gelak mendengar ucapan itu. Lalu mencabut pipanya dan berkata : "Akupun tidak menyangka kau begitu hebat melayaniku, Seruni. Ha... ha... ha!"
Mendengar ucapan itu Seruni langsung bangkit dan menindih tubuh sang tuan tanah, Terangsang oleh tubuh yang bagus dan mulus itu Kamal letakkan pipa gadingnya di meja kecil di samping tempat tidur. Baru saja dia hendak menggumuli tubuh Seruni tiba-tiba diluar terdengar suara kentongan titir tiga kali berturut-turut. Kamal terkejut dan angkat tubuh Seruni ke samping.
"Ada apa Mas...?"
"Jika penjaga memukul kentongan titir tiga kali berturut-turut berarti ada bahaya mengancam!"
"Ah, siapa manusianya yang berani berbuat macam-macam terhadapmu, Mas? Biarkan saja para pengawalmu yang menyelesaikan segala urusan diluar sana. Aku ingin kita bersenang-senang, tidak turun dari atas ranjang ini sampai besok pagi!"
Di luar sana kembali terdengar suara kentongan titir tiga kali berturut - turut. Kamal melompat dari atas ranjang, tidak perdulikan panggilan manja penuh birahi Seruni. Dia mengenakan pakaiannya dengan cepat lalu berpaling pada Seruni yang menelentang tanpa busana di atas ranjang.
"Kau tetap disini. Tunggu sampat aku kembali. Urusanku tak akan lama!"
Quote:
Begitu sampai di luar loji dan memandang ke arah pintu gerbang yang telah terbuka lebar, terkejutlah Kamal menyaksikan pemandangan di sana! tiga orang pengawalnya bergeletakan di tanah. Satu dengan kepala pecah, satu lagi mati dengan kepala terpenggal dan menggelinding tidak jauh dari tubuh dan satu lagi terkapar dengan golok menusuk dada hingga tembus ke punggung!
Bukan kematian tiga pengawal itu yang membuatnya terkesiap. Tapi justru dia melengak ketika
melihat siapa yang berdiri diantara ketiga mayat itu! Kamal usap matanya sampai pedas.
"Parlin! Mana mungkin! Bukankah aku sudah membunuhnya beberapa tahun yang lalu. Kepalanya terpenggal dan tubuhnya terkubur di longsoran jurang itu?"
Kamal seolah bicara pada dirinya sendiri.
Kamal langsung melompat turun ke halaman. Gerakannya cepat kedua kakinya menyentuh tanah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Begitu berhadapan dengan Parlin, Kamal langsung menyapu orang itu dengan pandangan mata tajam dan ketika melihat bagaimana kedua kaki Parlin menginjak tanah bertambah lah nyalinya yang tadi sekejap pernah meredup.
“ Kau Parlin bukan?”
“ Apa maksud kedatangan mu kesini? Mau menuntut balas atas kematian mu pada saat itu atau kau datang untuk mengantarkan anak gadis mu, menyuguhkannya padaku?”
“ Ha... ha...! Aku tidak perlu lagi perempuan busuk itu Parlin! Nikmatilah sendiri olehmu!"
Orang yang dipanggil Parlin itu berdiri tegak tanpa sedikitpun membuka mulut. Wajahnya tetap datar dan tatapan matanya kosong.
“ Rupanya kau hendak minta aku bunuh untuk ke dua kalinya Parlin. Aku ingin tahu apakah kepala mu itu kalau kali ini aku penggal bisa menyatu lagi dengan tubuh mu “
Entah dari mana didapat tahu-tahu di tangan Kamal tergenggam sebilah golok panjang berkilat dengan hulu berukiran kepala burung garuda.
“ Kau tentu sangat kenal dengan senjata ini Parlin?! “
Parlin masih diam, tubuhnya berdiri tegak. Kedua kakinya seperti terpantek di dalam tanah. Lalu serangan golok itu seperti air bah. Tubuh Parlin seperti terkurung curahan serangan golok yang sangat ganas. Bacokan, tusukan dan babatan menderu ke arah kepala, bagian tubuh dan kaki. Parlin tak sedikit mengelak ataupun menangkis. Ia masih tegak berdiri. Menyangka lawannya akan tercincang golok habis-habisan, Kamal dapatkan kenyataan bahwa semua bacokan, tusukan maupun babatan goloknya sama sekali tidak mencelakai atau melukai Parlin. Terdengar suara bergedebuk ketika senjata tajam itu mendarat di kapala, tubuh ataupun kaki Parlin. Tubuh yang masih berdiri tegak itu sama sekali tak mempan dibacok!
Lambat laun nyali Kamal menjadi lumer karena semua serangan mematikan yang ia kerahkan sama sekali tidak menemui hasil. Bahkan tatkala, tangan Parlin dengan cepat menangkap pergelangan tangan kanan Kamal lalu memuntirnya keras –keras. Kamal mengeluarkan seruan tertahan sewaktu merasakan golok itu terlepas dari tangannya.
Dia coba melompat untuk menjangkau senjata itu satu tendangan melanda pinggulnya, membuat Kamal melolong setinggi langit, mencelat sampai tujuh tombak. Tubuhnya terkapar di tanah tanpa bisa bergerak lagi!
Parlin terseok –seok melangkah mendekati Kamal. Kamal tahu tak satu apapun yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan diri. Maka dengan susah payah dicobanya bangun dan berlutut lalu sambil meratap dia minta ampun berulang-ulang.
“ Kau minta ampun?! Tidak satu orangpun yang bisa mengampuni dosa terkutukmu!"
Parlin mengeluarkan suara yang aneh. Seperti suara bergema berada di tempat yang sangat jauh.
"Kalau kau mengampuni selembar nyawaku ini aku berjanji akan memberikan lima ratus keping uang emas, barang-barang perhiasan bahkan apa saja yang kau minta!"
Parlin sama sekali tidak bergeming lalu secepat kilat menjambak rambut Kamal dengan tangan kirinya. Dua jari tangan terpentang lurus-lurus dan...
Craasss...!
Biji mata Kamal yang sebelah kiri mencelat mental, darah dan urat-uratnya berbusaian! Jerit laki-laki itu laksana mau merobek langit karena tekanan sakit yang tak dapat dilukiskan. Tangan kanan Parlin berkelebat lagi ke muka Kamal. Untuk kedua kalinya terderigar jeritan laki-laki itu, tapi yang sekali ini tidak sedahsyat yang pertama tadi. Mungkin juga disebabkan oleh mulutnya yang sebelah kanan robek sampai ke pipi dibeset oleh Parlin. Tubuh Kamal menggigil menahan sakit.
Sebagian dari bibirnya yang sebelah bawah menjulai akibat mulutnya yang robek sedang darah yang keluar semakin menambah seram keadaan mukanya! Untuk ketiga kalinya tangan kanan Parlin bergerak. Kali ini kelima jari-jari tangannya mencengkeram muka Kamal yang saat itu berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Dan cengkeraman itu benar-benar membuat muka Kamal kini menjadi sangat mengerikan dan berselomotan darah. Kulit kening dan kedua pipinya hancur bergurat-gurat. Cuping hidungnya sebelah kiri tanggal!
Parlin lalu melirik ke arah golok yang terhampar di tanah. Dipandangi golok itu dan ajaib golok itu tiba –tiba melayang dengan deras dan cepat sekali menghunjam tepat ke arah lambung. Darah tampak mengucur dari lambung yang tertembus golok. Kamal hanya mampu tegak sesaat. Tubuhnya kemudian rebah di tanah di hadapan Parlin yang masih berdiri tegak. Suara jeritannya makin perlahan lalu berubah jadi erangan. Ketika nyawanya putus, Parlin mencabut golok yang menancap di perut orang itu. Lalu mayat Kamal diangkat menggunakan sebelah tangannya untuk kemudian dilemparkan ke dalam peti mati di atas kereta.
Bukan kematian tiga pengawal itu yang membuatnya terkesiap. Tapi justru dia melengak ketika
melihat siapa yang berdiri diantara ketiga mayat itu! Kamal usap matanya sampai pedas.
"Parlin! Mana mungkin! Bukankah aku sudah membunuhnya beberapa tahun yang lalu. Kepalanya terpenggal dan tubuhnya terkubur di longsoran jurang itu?"
Kamal seolah bicara pada dirinya sendiri.
Kamal langsung melompat turun ke halaman. Gerakannya cepat kedua kakinya menyentuh tanah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Begitu berhadapan dengan Parlin, Kamal langsung menyapu orang itu dengan pandangan mata tajam dan ketika melihat bagaimana kedua kaki Parlin menginjak tanah bertambah lah nyalinya yang tadi sekejap pernah meredup.
“ Kau Parlin bukan?”
“ Apa maksud kedatangan mu kesini? Mau menuntut balas atas kematian mu pada saat itu atau kau datang untuk mengantarkan anak gadis mu, menyuguhkannya padaku?”
“ Ha... ha...! Aku tidak perlu lagi perempuan busuk itu Parlin! Nikmatilah sendiri olehmu!"
Orang yang dipanggil Parlin itu berdiri tegak tanpa sedikitpun membuka mulut. Wajahnya tetap datar dan tatapan matanya kosong.
“ Rupanya kau hendak minta aku bunuh untuk ke dua kalinya Parlin. Aku ingin tahu apakah kepala mu itu kalau kali ini aku penggal bisa menyatu lagi dengan tubuh mu “
Entah dari mana didapat tahu-tahu di tangan Kamal tergenggam sebilah golok panjang berkilat dengan hulu berukiran kepala burung garuda.
“ Kau tentu sangat kenal dengan senjata ini Parlin?! “
Parlin masih diam, tubuhnya berdiri tegak. Kedua kakinya seperti terpantek di dalam tanah. Lalu serangan golok itu seperti air bah. Tubuh Parlin seperti terkurung curahan serangan golok yang sangat ganas. Bacokan, tusukan dan babatan menderu ke arah kepala, bagian tubuh dan kaki. Parlin tak sedikit mengelak ataupun menangkis. Ia masih tegak berdiri. Menyangka lawannya akan tercincang golok habis-habisan, Kamal dapatkan kenyataan bahwa semua bacokan, tusukan maupun babatan goloknya sama sekali tidak mencelakai atau melukai Parlin. Terdengar suara bergedebuk ketika senjata tajam itu mendarat di kapala, tubuh ataupun kaki Parlin. Tubuh yang masih berdiri tegak itu sama sekali tak mempan dibacok!
Lambat laun nyali Kamal menjadi lumer karena semua serangan mematikan yang ia kerahkan sama sekali tidak menemui hasil. Bahkan tatkala, tangan Parlin dengan cepat menangkap pergelangan tangan kanan Kamal lalu memuntirnya keras –keras. Kamal mengeluarkan seruan tertahan sewaktu merasakan golok itu terlepas dari tangannya.
Dia coba melompat untuk menjangkau senjata itu satu tendangan melanda pinggulnya, membuat Kamal melolong setinggi langit, mencelat sampai tujuh tombak. Tubuhnya terkapar di tanah tanpa bisa bergerak lagi!
Parlin terseok –seok melangkah mendekati Kamal. Kamal tahu tak satu apapun yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan diri. Maka dengan susah payah dicobanya bangun dan berlutut lalu sambil meratap dia minta ampun berulang-ulang.
“ Kau minta ampun?! Tidak satu orangpun yang bisa mengampuni dosa terkutukmu!"
Parlin mengeluarkan suara yang aneh. Seperti suara bergema berada di tempat yang sangat jauh.
"Kalau kau mengampuni selembar nyawaku ini aku berjanji akan memberikan lima ratus keping uang emas, barang-barang perhiasan bahkan apa saja yang kau minta!"
Parlin sama sekali tidak bergeming lalu secepat kilat menjambak rambut Kamal dengan tangan kirinya. Dua jari tangan terpentang lurus-lurus dan...
Craasss...!
Biji mata Kamal yang sebelah kiri mencelat mental, darah dan urat-uratnya berbusaian! Jerit laki-laki itu laksana mau merobek langit karena tekanan sakit yang tak dapat dilukiskan. Tangan kanan Parlin berkelebat lagi ke muka Kamal. Untuk kedua kalinya terderigar jeritan laki-laki itu, tapi yang sekali ini tidak sedahsyat yang pertama tadi. Mungkin juga disebabkan oleh mulutnya yang sebelah kanan robek sampai ke pipi dibeset oleh Parlin. Tubuh Kamal menggigil menahan sakit.
Sebagian dari bibirnya yang sebelah bawah menjulai akibat mulutnya yang robek sedang darah yang keluar semakin menambah seram keadaan mukanya! Untuk ketiga kalinya tangan kanan Parlin bergerak. Kali ini kelima jari-jari tangannya mencengkeram muka Kamal yang saat itu berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Dan cengkeraman itu benar-benar membuat muka Kamal kini menjadi sangat mengerikan dan berselomotan darah. Kulit kening dan kedua pipinya hancur bergurat-gurat. Cuping hidungnya sebelah kiri tanggal!
Parlin lalu melirik ke arah golok yang terhampar di tanah. Dipandangi golok itu dan ajaib golok itu tiba –tiba melayang dengan deras dan cepat sekali menghunjam tepat ke arah lambung. Darah tampak mengucur dari lambung yang tertembus golok. Kamal hanya mampu tegak sesaat. Tubuhnya kemudian rebah di tanah di hadapan Parlin yang masih berdiri tegak. Suara jeritannya makin perlahan lalu berubah jadi erangan. Ketika nyawanya putus, Parlin mencabut golok yang menancap di perut orang itu. Lalu mayat Kamal diangkat menggunakan sebelah tangannya untuk kemudian dilemparkan ke dalam peti mati di atas kereta.
.
Diubah oleh breaking182 26-01-2019 22:49
embillbelle dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup