Kaskus

Story

memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
Quote:


Spoiler for cover:


Quote:


Quote:
Diubah oleh memedruhimat 01-08-2025 14:04
alizazetAvatar border
nomoreliesAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 25 lainnya memberi reputasi
26
48.5K
176
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
#114
Quote:


Gue sama sekalibukan orang yang skeptis terhadap hal-hal mistis. Hanya aja, udah lama gue nggak mengalami hal-hal yang berhubungan dengan dunia mistis semenjak gue mulai menginjak usia kelas 1 SMP.

Gue masih memperhatikan ke atas langit, 'makhluk yang entah apa itu' masih terus menerus mengitari di atas Villa dan membuat kumpulan awan tebal hingga menutup langit. Bintang-bintang di langit tak lagi terlihat, hanya kumpulan awan tebal berwarna kehitaman. Dan angin besar pun mulai beritup.

Tiba-tiba terdengar suara petir sambar-menyambar, langit dipenuhi kilatan halilintar. Tapi herannya kilatan awan hitam itu hanya berkumpul persis di atas Villa kami.

Hujan deras pun turun, hujan angin kencang yang disertai halilintar yang bersahut-sahutan tanpa henti. Semua peserta pada ketakutan, sampai-sampai satu per satu pada kesurupan. Jeritan dan kepanikan terjadi di mana-mana.

Jujur gue nggak tau harus berbuat apa, di sini gue cuma bisa jadi penonton.

Namun tiba-tiba saja semua hujan dan angin badai itu seketika berhenti total. Suasana langsung sunyi senyap. Dan tak lama, listrik pun kembali menyala.

Gue keluar kamar dan berjalan sambil memperhatikan sekitar, langit kembali cerah, bintang-bintang terlihat terang di langit.

Gue samperin si Kun yang nongkrong di Pos keamanan.

"Wah enak banget lu dapet tidur di kamar cottage." kata si Kun begitu melihat gue.

"Wah parah tadi tuh, beneran dapet kiriman." kata seorang yang jadi panitia keamanan.

"Lantaran tuh si Darta kagak ngasih masuk Surip dan kawan-kawannya." kata yang lain lagi.

Darta adalah ketua sekaligus penanggung jawab acara Makrab kita.

"Lagian ngapain sih tuh si Surip sama Gatot dan temen-temennya itu? Sebetulnya nggak ada yang ngelarang sih buat dateng kemari, tapi kan harusnya dari awal lapor dulu kalo emang mau datang biar kita undang jadi tamu."

Oh, ternyata itu adalah ulah si Surip.

Yah, udah gue duga sih kalo dia itu sakti. Soalnya gue juga udah bisa ngerasain aura yang berbeda kalo lagi berada di dekat dia.

Kalo udah ngomongin masalah hal-hal gaib begini, pokoknya apapun yang terjadi---entah itu kebetulan apa bukan---pada dasarnya kembali kepada kepercayaan masing-masing sih. Tapi buat yang pernah punya pengalaman-pengalaman mistis, contohnya kayak gue... ya, pokoknya gue punya pendapat yang gue simpan buat diri gue sendiri.

***


Setelah acara makan malam, para peserta pun disuruh tidur. Namun mereka tidak ada yang mengetahui kalau kejutan besar akan menanti mereka.

Semakin malam... udara terasa semakin dingin dan menusuk. Padahal udah pakai kaos dobel sama jaket, tapi udara sejuk ini masih aja berasa nusuk sampe ke tulang. Malam itu gue begadang sama si Kun sambil jalan-jalan keliling Villa.

Bagi para lelaki yang kedinginan sayangnya tidak ada kehangatan wanita. Tapi kalau mau mencari kehangatan yang lain, silahkan ke pos panitia untuk minta kopi gratis.

Gue lantas baru ketemu sama anak-anak tongkrongan Ma'oi, ternyata mereka ada di Pendopo Bambu di bagian bawah Villa. Ada rombongan geng Bojong juga di sana, tapi gue males ikutan nongkrong di sana. Gue alesan aja kalo gue sok sibuk bantu panita. Gue cuma ketemu si Buyung dan kita berdua ngobrol-ngobrol sebentar.

Si Buyung cerita kalau tadi mereka memang sempat tertahan di gerbang depan, dan saat itu gerbang juga udah dikunci sama pihak panitia. Si Surip sama Gatot sempat ribut karena panitia tidak mengijinkan mereka masuk. Gue juga nggak tau kenapa demikian. Sampai akhirnya terjadilah momen si Surip yang 'mengirimkan' sesuatu, dan itulah yang menyebabkan hujan dan badai halilintar.

Sekarang katanya si Surip lagi meditasi untuk mengembalikan energinya.

"Lu cerita hal itu sama gue, seakan-akan kayak gue langsung percaya sama hal-hal gaib begitu?" kata gue yang pura-pura nggak tau.

"Emang lu nggak percaya?" kata si Buyung.

"Ah, paling itu cuma kebetulan aja." gue balas lagi.

"Ah, boong lu. Kan lu juga bisa lihat yang kayak gitu-gitu."

"Tau dari mana lu? Sok tau aja lu."

"Dengan menatap mata lu aja gue bisa tau kalo lu itu lain. Lu sebenernya bisa ngeliat semua yang ada di sekitar pendopo ini kan."

'Semua' yang dimaksud si Buyung ini, ya apalagi kalo bukan para lelembut-lelembut.

Gue pun terkejut karena ternyata si Buyung juga bisa 'melihat'.

Memang sih kenapa cuma di saung pendopo bambu itu rasanya koq jadi hangat, padahal udara begitu dingin pada malam itu. Karena saung bambu itu dikelilingi oleh ‘pagar’ yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Quote:


"Gue udah lama nggak lagi melihat hal-hal kayak itu. Gue bahkan udah berusaha biar melupakan caranya." gue bilang ke si Buyung.

"Kenapa? Lu takut? Orang-orang kayak kita ini dari lahir sampai sekarangpun akan tetap seperti ini." kata si Buyung.

"Maksud lu apa? Siapa sih yang betah lihat makhluk-makhluk halus atau penampakan kayak gitu? Kita ini dianggap nggak normal tau ga sih? Orang tua gue aja bilang gue ini anak gila!"

"Jangan berpikiran kayak gitu Ri... kita ini spesial, makanya kita dititipin kemampuan seperti ini. Kalo lu nggak pernah menyadari akan hal itu, lu cuma akan terus berlari dari kenyataan hidup lu. Lu nggak akan pernah belajar menerima diri lu apa adanya kalo lu masih takut sama diri lu sendiri. Lo itu luar biasa, jangan mematikan rasa percaya diri lo cuma karena omongan orang lain, meskipun mereka itu orang tua lo sendiri."

"Entahlah..." gue jawab pelan dan singkat. "Karena yang menyakitkan itu bukan karena kita takut melihat makhluk halus di hadapan kita. Tapi karena kita merasa bahwa kita seorang diri, kita cacat dan beda sama orang-orang normal. Nggak ada satu pun yang percaya sama apa yang kita alami, bahkan termasuk orang tua kita."

"Nggak koq Ri... lo nggak sendiri. Banyak orang-orang kayak kita di dunia ini." kata si Buyung.

"Ya... thanks bro..."

"Udah ayo nongkrong bareng kita di bawah sana. Ngobrol-ngobrol sama bang Surip."

"Gue mo temenin si Kun aja deh, kasian dia dari tadi luntang-lantung sendiri."

Namun tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah cottage peserta cowok, ada suara orang yang berteriak-teriak.
Diubah oleh memedruhimat 04-08-2025 21:52
yusufchauza
alverno23
itkgid
itkgid dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.