- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#996
Quote:
PART 73
Medina mengepal kedua tangannya erat, usai mendengar cerita tante Fika perihal kebohongan Ningrum. Marah? Sudah pasti, tapi jika boleh jujur justru rasa menyesal yang kini mendominasi perasaannya.
Menyesal karena telah mengabaikan Adam, bahkan menuduhnya yang macam – macam, apalagi tante Fika bilang Adam telah terbang ke Jerman. Dan kabar buruknya untuk Medina, kakaknya dengan sengaja tidak memberikan informasi di mana ia akan tinggal dan melanjutkan S2nya, bahkan Adam juga tidak meninggalkan kontak telepon yang bisa di hubungi. Dengan cara apa ia bisa meminta maaf dan meminta kakaknya kembali?
Medina hanya bisa menangis dalam dekapan sang ibu. Nina dan Tirta yang juga ada di sanna turut prihatin melihat kondisi sahabatnya. Mereka tahu persis Adam adalah orang terpenting dalam hidup Medina.
“ Maafkan tante, Medina. Harusnya tante mengatakan ini, saat kita masih di rumah sakit. Tapi tante ragu, tante bingung harus memihak pada siapa. Tante pikir Ningrum tidak akan bertindak sejauh ini,” ucap Tante Fika, terdengar nada penyesalan dalam setiap kata – katanya.
“ Kenapa kak Adam nggak ngasih tahu di mana dia bakal tinggal? Kenapa kak Adam nggak ninggalin nomor telepon yang bisa aku hubungi? Kenapa kak Adam harus pergi tanpa pamit? Kenapa tante? Kak Adam pasti benci ya sama aku?” tanya Medina runtun. Ia sudah tak mau mengungkit kesalahan Ningrum dan penyesalan tante Fika. Ia hanya mau kakaknya. Ia hanya ingin bertemu kakaknya.
“ Medina sayang, kamu tahu persis sebesar apa rasa sayang kakak kamu. Dia nggak akan membenci kamu sama sekali. Tante yakin, tanpa perlu di mintapun dia pasti pulang,” tante Fika berusaha menenangkan.
“ Mbak, bagaimana dengan saya? Adam pasti membenci sayakan?” tanya ibu Medina dengan wajah tak kalah sendunya.
Tante Fika menggeleng pelan,” Dia terlalu baik, dia tak punya kemampuan untuk membenci orang lain, apalagi orang tuanya sendiri. Sikap yang dia tunjukkan selama ini karena perasaan kecewa dan bersalah yang menumpuk jadi satu. Dia kecewa dengan perlakuan kalian, tapi dia juga merasa bersalah karena tidak bisa membuang perasaan kecewa itu. Dia marah pada dirinya sendiri, yang begitu sulit memaafkan kalian.” Terang tante Fika panjang lebar.
“ Tante…apa kak Adam juga nggak ninggalin pesan buat aku?” tanya Medina mulai berusaha keras menghentikan tangisnya. Karena mau menangis selama apapun hingga membuat mata sembab, itu tidak akan membawa Adam kembali saat ini juga.
“ Dia bilang, kamu harus bahagia. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan kakak kamu, Medina,” ungkap tante Fika kembali sukses membuat bulir hangat dan bening itu terjun bebas membasahi pipi Medina. Ia ingat betul kata – kata itu, malam dimana mereka harus bertengkar kecil hanya karena masalah siapa yang lebih dulu harus dibahagiakan.
Medina mengangguk pelan,” Aku akan wujudin itu, aku pasti bisa buat mama dan kak Adam bangga.”
Semua yang ada di sana kompak tersenyum mendengar ucapan Medina. Setidaknya gadis itu tidak akan menangis lagi. Kehilangan ayahnya adalah hal yang sulit untuk Medina, di tinggal pergi oleh Adam tentu juga bukan hal yang gampang untuk ia terima.
Dan terpuruk pada keadaan itu bukanlah jalan keluar yang ia mau. Ia yakin, jika ia tetap tegar dan bersabar, Allah akan memberikan hal terbaik untuknya.
Iya…itu yang selalu Adam katakan padanya.
Kak Adam…saat kak Adam pulang, akan aku pastikan kak Adam tidak akan berhenti tersenyum bangga buat aku. Iya….pasti.
***
Langit tampak cerah, surya perlahan mulai condong ke arah barat. Di salah satu pelataran masjid, tampak seorang gadis berjilbab mondar mandir persis didepan tangga, sambil sesekali ia melihat ke dalam masjid yang sepertinya tengah berlangsung kajian rutin. Mungkin ia sedang menunggu seseorang. Capek mondar mandir, dia duduk di salah satu anak tangga sembari menopang dagu dan menghela nafas berat.
Selang beberapa menit, gadis itu sedikit di buat terkejut karena perlahan orang – orang dari dalam masjid tadi keluar dan saling ngobrol membahas kajian yang baru saja usai. Ia semakin menajamkan penglihatannya berusaha menemukan orang yang sejak tadi ingin ia temui. Senyumnya merekah mendapati seorang perempuan berjilbab dengan gamis coklatnya baru saja keluar dari masjid.
“ Kak Echa,” serunya sambil melambaikan tangannya. Teriakannya spontan membuatnya jadi pusat perhatian, sadar akan hal itu dia hanya melempar senyum canggung dan malu – malu. Medina…ini Masjid, rusuhnya dikurangin dikit donk.
“ Medina, Assalammualaikum,” sapaan Echa yang kini telah berada persis di sebelahnya membuat Medina bersyukur, setidaknya ia tidak salah mengenali orang.
“ Waalaikumsalam, kak.”
“ Kamu tahu darimana saya di sini?”
“ Aku…tadi dari rumah kak Echa. Dan mama kak Echa bilang, kakak ada di sini,” terang Medina masih canggung berbicara dengan Echa. Ia ingat betul bagaimana tak sopannya dia saat pertemuan pertama mereka.
“ Kamu udah lama di sini? Kenapa nggak masuk ke dalam aja?”
“ Hmm…mungkin sekitar 30 menit. Malu mau masuk,” ragu Medina.
Echa tersenyum menanggapi, senyum yang begitu manis dan menenangkan. Medina tidak heran jika kakaknya mempunyai perasaan khusus pada perempuan yang ada di hadapannya sekarang. Selain cantik, Echa juga baik dan ramah. Ya…setidaknya itulah cerita yang berhasil ia dapat dari tante Fika. Dan Medina rasa itu bukan kebohongan.
“ Oh iya, saya turut sedih atas kepergian ayah kamu, maaf saya tidak bisa ke sana karena saat itu saya tidak berada di Indonesia. Ada beberapa hal yang harus saya urus di luar.”
“ Nggak apa – apa kak,” jawab Medina dengan senyum hambar. Sudah satu bulan berlalu dan ia masih belum sepenuhnya melupakan kesedihan atas kepergian ayahnya.
“ Hmm…kamu sampe repot – repot nyusulin saya ke sini, ada apa?”
“ Aku mau minta maaf kak, soal sikap dan kata - kata aku yang kadang nggak sopan sama kak Echa,”sesal Medina dengan raut wajah sendu. “ Kak Adam selalu ngajarin aku buat minta maaf saat aku ngelakuin kesalahan sekecil apapun. Dia juga bilang aku harus bisa memaafkan orang lain sebesar apapun kesalahannya. Kak Adam pernah gagal ngelakuin itu, dan aku nggak mau bikin dia kecewa lagi, aku nggak mau jadi orang yang gagal memaafkan orang lain,” ucap Medina tanpa sadar air matanya kembali menetes.
Walau masih tidak mengerti dengan maksud ucapan Medina, Echa bisa merasakan kesedihan yang di alami gadis itu, ia berangsur memeluk Medina dan membiarkan gadis itu menangis sesenggukan dalam dekapannya.
“ Gimana caranya aku bisa maafin diri aku sendiri? Aku kangen kak Adam, aku pengen ketemu dia, kak. Tapi…aku nggak tahu gimana caranya,” isak Medina yang sukses membuat mata Echa berkaca – kaca.
Echa masih belum mau berkomentar, Medina lebih butuh ketenangan sekarang, daripada kata – kata sok bijaknya.
Tangisan Medina terhenti, ia melepaskan pelukannya. Tatapannya lurus mengarah pada kaligrafi lafadz Allah yang ada di dalam masjid. “ Kak, Allah nggak akan ninggalin aku sendirikan?” tanya Medina kembali berurai air mata sambil menggenggam erat tangan Echa.
Echa mengangguk pelan,” Iya, Allah tidak akan membiarkan kamu sendirian.”
Tangis Medina kembali pecah, ia memeluk Echa kian erat. Ia sadar selama ini terlalu sering mengabaikan Allah, padahal Adam selalu menasehatinya untuk terus mendekat pada Allah. Tapi ia terlalu bandel, ia terlalu sering mengabaikan kewajibannya pada Allah. Padahal Allah sudah memberikan nikmat yang begitu banyak padanya, Medina menyesal sangat menyesal.
“ Kak, Allah pasti jagain kak Adam jugakan?”
“ Insya Allah.”
Ya Allah, maafin Medina. Medina titip kak Adam ya. Jagain dia sampe Medina bisa jadi penulis hebat.
“ Kamu udah shalat dzuhur?” tanya Echa pelan yang di sambut dengan gelengan kepala dari Medina. “ Shalat dulu gih, saya tungguin di sini. Setelah itu kita ngobrol lagi.”
Medina mengangguk mengerti sambil mengusap air matanya. Ia juga tidak ingin menjadi manusia tak tahu diri lagi, yang terus menikmati rizki dan pemberian dari Allah, tanpa pernah mau memenuhi kewajibannya sebagai makhluk ciptaan Allah.
***
Seorang pramusaji menyodorkan dua cangkir cappucino panas pada Echa dan Medina, yang kini telah duduk di salah satu kedai kopi yang terletak tak begitu jauh dari masjid. Sudah 15 menit mereka berada di sini, dan Medinapun sudah mengakihiri ceritanya.
“ Jadi…Adam sekarang berada di Jerman, dan kamu nggak tahu sama sekali dia akan tinggal dan kuliah di mana?”
Medina mengangguk cepat,” Aku nggak ngerti kenapa kak Adam bisa setega itu sama aku. Nggak pamit, nggak ninggalin nomor handphone, padahal Tante Fika bilang dia nggak marah ataupun benci sama aku. Tapi tetap aja aku ngerasa bersalah banget kak. Apalagi dengan tindakan dia yang sengaja ngilang dari aku.”
“ Mungkin, dia lagi butuh waktu sendiri Medina. Saya mengenal sosok Adam sebagai orang yang dingin, kaku, dan suka bertindak di luar dugaan kita. Setelah kenal kamu, saya sadar Adam tidak sedingin itu, dia begitu hangat dengan keluarganya. Jadi…apapun yang dia lakuin sekarang, itu bukan karena dia marah atau kecewa tapi karena ia sedang menenangkan dirinya sendiri.”
“ Apa butuh waktu berbulan – bulan seperti ini?” sungut Medina.
“ Nggak. Tapi beberapa tahun.”
Ucapan Echa tentu membuat Medina sedikit shock, ia yang selama ini mengenal betul kakaknya justru tidak tahu jika kakaknya membutuhkan waktu selama itu untuk menenangkan diri atau lebih tepatnya menjauhinya. Entahlah…
“ Kak Echa bercandakan?” tanya Medina setengah tak percaya.
“ Nggak sama sekali. Karena dia pernah melakukan itu kepada saya.”
Medina kembali menghela nafas berat,” Aku ngerasa udah nggak ngenalin kakak sendiri.”
Echa hanya tersenyum tipis mendengar ycapan Medina,” Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“ Hm…tawaran waktu itu masih berlaku?” tanya Medina penasaran yang di sambut Echa dengan anggukan cepat dan senyum lebar.
Medina berusaha mengesampingkan kesedihan sekaligus kekesalannya pada Adam. Bukankah menjadi penulis adalah misinya untuk bisa mewujudkan kebahagiaan kakaknya?
Dan ia kembali memperjuangkannya sekarang.
●●●
3
Kutip
Balas