- Beranda
- Stories from the Heart
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
...
TS
fachreal5
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
Quote:
Halo agan agan & sista penghuni sfth. Sebelumnya semua yang ane ceritain disini pure kejadian yang ane alami sendiri. Sebenarnya dari dulu banyak teman ane yang nganjurin untuk dituangkan dalam bentuk tulisan karena menurut mereka kisah ane ini cukup unik dan absurd untuk dicerna orang-orang yang tentu blm pernah ngalamin. Partnya juga ga akan banyak karena ane cuma tulis intinya plus apa yang ane inget aja. Well, ane sangat terbuka untuk kritik juga saran agar skill nulis ane berkembang dan maaf kalo tritnya sedikit berantakan karena udh lama banget ga nulis trit. Terima kasih untuk yang sudah mampir dan selamat membaca.

Quote:
Sumber gambar : mymodernmet.com
Sebelum mulai silahkan dengerin ini dulu gan biar berasa feelnya

Quote:
“Falling in love is kind of like a form of socially acceptable insanity.”
― Spike Jonze, HER
― Spike Jonze, HER
Quote:
1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Iya w di rumah nih
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Spoiler for INDEX:
PART 1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
Spoiler for Kunjungi juga thread ane yang lain:
Polling
0 suara
Apakah mereka akan bertemu ?
Diubah oleh fachreal5 11-09-2019 00:18
a.w.a.w.a.w dan 22 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
Kutip
81
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fachreal5
#38
9. Lover Over Phone
Quote:
Beberapa tahun yang lalu aku pernah membaca sebuah artikel yang menuliskan bahwa setiap orang yang jatuh cinta pasti memiliki sebuah hawa nafsu yang membuat mereka dapat menyatu. Aku tidak menampik artikel tersebut karena setelah beberapa kali berpacaran dengan orang yang ‘real’ memang aku merasakan sebuah nafsu mengenai fisik orang itu yang membuatku tertarik dan ingin mendapatkan orang tersebut. Namun pertanyaannya bagaimana aku dapat jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan yang spesial dengan orang yang bahkan wajahnya terkadang samar untuk digambarkan dalam pikiranku dan tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dan bagaimana pula aku bisa nafsu dengan perempuan itu.
Teruntuk kalian yang sudah mengikuti kisahku dari awal sampai sejauh ini mungkin akan bertanya-tanya bagaimana cara kami berpacaran namun tidak pernah bertemu. Namun jika kuboleh berpendapat kisahku dengan Ara mungkin adalah yang paling unik dan dapat kukatakan lebih spesial dibanding kisahku dengan perempuan-perempuan lain yang pernah kukencani, entah kenapa aku bisa berkata seperti itu namun seiring berjalannya waktu perlahan aku mulai paham kenapa hubungan percintaanku dengannya terasa begitu spesial. Jawabannya adalah karena kami tidak saling menuntut dan berusaha untuk mengubah satu sama lain, sebab baik dan buruknya pasangan adalah bagian yang dimana perlu kami terima. Kami saling membimbing untuk menjadi lebih baik namun tiada paksaan untuk merubahnya sesuai dengan keinginan kami masing-masing. Kami menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing apa adanya dan saling mencintai sebagaimana mestinya. Setidaknya itulah inti jawaban yang aku temukan.
Walau pada awalnya aku merasa sangat awkward dengan status kami yang sudah naik kasta melebihi level sahabat, seiring berjalannya waktu aku mulai menerima dan menjalani hubungan tersebut layaknya seorang kekasih yang resmi. Berbagai candaan dan pertengkaran tentu menjadi corak yang mewarnai hubungan kami namun seberapa hebat pertengkaran yang kami alami pada akhirnya kami balik kepada tempat yang sama dan singgah kembali disana.
Biarpun keras kepala nyatanya Ara adalah orang yang pengertian. Ia tidak keberatan apabila jadwal telponan yang sudah dijanjikan harus tertunda karena aku mempunyai kegiatan sosial lain begitupun sebaliknya sebab kami sadar bahwa setiap orang memiliki kehidupan lain di luar sana yang perlu dinikmati. Akan tetapi walaupun aku sangat menikmati hubungan spesialku dengannya terkadang aku minder apabila lingkaran pertemananku sedang membicarakan tentang kekasihnya masing-masing. Biasanya apabila pembahasan itu ingin dimulai maka perlahan aku akan mundur dan berusaha keluar dari topik tersebut sebab mereka memiliki sesuatu yang nyata dan dapat dipamerkan wujudnya, sedangkan aku justru merasa asing dan menggenggam erat ponselku karena di dalam ponsel itulah kekasihku berada. Perlahan aku terasa terasing dan merasa berbeda jika dibandingkan dengan hubungan percintaan manusia normal lainnya. Pun walau begitu aku masih kekeuh untuk tidak menemuinya dulu.
Malam hari apabila kami sedang berkomunikasi biasanya aku menelponnya di teras rumah sedangkan dia di balkonnya dan kami saling menatapi bulan, tempat dimana pertama kali kami dipertemukan. Terkadang kita juga janjian untuk makan dengan menu yang sama, saling suap-suapan ‘goib’ dan mengomentari makanan yang sedang kami cicipi. Aku sendiri sering menyebutnya sebagai dinner goib. Karena apabila ada orang lain yang melihatnya, maka di tempatku hanya ada meja bundar berukuran kecil, dua buah kursi dimana yang satunya untuk kududuki sedangkan satunya tentu kosong karena ditempati oleh sosok Ara yang tengah kuvisualisasi tak lupa juga dengan ponselku yang selalu dalam mode loudspeaker apabila kami sedang dinner.
Adapun jika kami sudah mulai mengantuk untuk melanjutnya pembicaraan maka kami rebahkan tubuh kami ke kasur masing-masing, lalu membayangkan seolah-olah kami berada di ranjang yang sama dan saling bertatap muka satu sama lain.
“Kamu tidur di sebelah mana?” tanyanya
“Di sisi kanan kasur. Kenapa?” sahutku
“Oh oke, kalo gitu aku tidur di sisi kiri yah” ucapnya
“O..okey. Emang kamu mau ngapain deh?” tanyaku yang sedang keheranan
“Lagi ngebayangin seolah-olah kamu tidur di samping aku dengan posisi wajah kamu yang lagi ngeliatin aku” jawabnya, aku tersenyum.
“Oke, sekarang aku juga lagi membayangkan lihat wajah kamu dan elus-elus rambut kamu”
“Thank you for always being by my side until now. Im lucky to know you. I love you” bisiknya
“Me too” balasku
“Ngomong-ngomong kamu pernah cium kening cewek?” tanyanya
“Belum sih. Kenapa?” tanyaku
“Really?” tanyanya terkekeh
“Yup” jawabku
“Cium aku dong” pintanya, sontak mataku langsung terfokus kepada layar ponselku dan dengan polos aku mencium benda tersebut
“Muahhh..... Udah yah” disini logika ku mulai terbangun dan menyadari bahwa apa yang sedang aku lakukan tentu sudah di luar nalar
“Makin lama kita makin keliatan kaya orang gila yah” kataku kikuk, ia terkekeh.
“Yah namanya juga orang lagi jatuh cinta. Hal yang diluar nalar aja terasa masuk akal” jawabnya enteng
“Hahaha iya sih, ngomong-ngomong apa kamu menikmati hubungan kaya gini?” tanyaku
“Ya aku menikmati, sangat menikmati malah walaupun entah suatu saat kita bakal bertemu apa engga yang jelas cerita kaya gini ga semua orang punya dan seandainya suatu saat kamu ceritain hal ini ke orang lain aku yakin mereka ga akan langsung percaya. Cerita kita terlalu aneh untuk orang lain cerna” ucapnya, aku mengangguk kecil dan tanpa terasa aku memeluk guling semakin erat.
Percakapan kami malam itu ditutup oleh sebuah lagu Nyanyian Rindu ciptaan Ebiet G Ade yang kami nyanyikan bersama dan kusudahi sambungan telepon kami ketika ia sudah tidak mengeluarkan sepatah kata kecuali suara nafasnya yang masih dapat terdengar oleh telinga.
“Sleep tight, ra” bisikku, ia sedikit meresponnya dengan lembut lalu setelahnya ruanganku kembali sunyi tanpa suara.
Terkadang apabila logika ku sedang tersadar tak jarang aku tertarik untuk mendekati perempuan menarik dan terlihat nyata yang ada disekelilingku. Namun sejauh apapun niatanku untuk mendekati perempuan lain perasaanku kembali pulang ke tempat yang sama, tempat sama yang pintunya masih terbuka lebar untuk aku singgahi yang bernama Ara.
Kerabat karibku yang mengetahui kami tengah berpacaran semakin gencar menyuruhku untuk menemuinya, sedangkan keluargaku sendiri menganggap bahwa hubungan kami adalah sebuah lelucon. Ingin aku menemuinya akan tetapi tabunganku masih belum cukup terlebih terdapat hal yang selalu mengganjal batinku. Hal yang tidak dapat kujelaskan dan kini menjadi sebuah pelajaran. [/size]
Teruntuk kalian yang sudah mengikuti kisahku dari awal sampai sejauh ini mungkin akan bertanya-tanya bagaimana cara kami berpacaran namun tidak pernah bertemu. Namun jika kuboleh berpendapat kisahku dengan Ara mungkin adalah yang paling unik dan dapat kukatakan lebih spesial dibanding kisahku dengan perempuan-perempuan lain yang pernah kukencani, entah kenapa aku bisa berkata seperti itu namun seiring berjalannya waktu perlahan aku mulai paham kenapa hubungan percintaanku dengannya terasa begitu spesial. Jawabannya adalah karena kami tidak saling menuntut dan berusaha untuk mengubah satu sama lain, sebab baik dan buruknya pasangan adalah bagian yang dimana perlu kami terima. Kami saling membimbing untuk menjadi lebih baik namun tiada paksaan untuk merubahnya sesuai dengan keinginan kami masing-masing. Kami menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing apa adanya dan saling mencintai sebagaimana mestinya. Setidaknya itulah inti jawaban yang aku temukan.
Walau pada awalnya aku merasa sangat awkward dengan status kami yang sudah naik kasta melebihi level sahabat, seiring berjalannya waktu aku mulai menerima dan menjalani hubungan tersebut layaknya seorang kekasih yang resmi. Berbagai candaan dan pertengkaran tentu menjadi corak yang mewarnai hubungan kami namun seberapa hebat pertengkaran yang kami alami pada akhirnya kami balik kepada tempat yang sama dan singgah kembali disana.
Biarpun keras kepala nyatanya Ara adalah orang yang pengertian. Ia tidak keberatan apabila jadwal telponan yang sudah dijanjikan harus tertunda karena aku mempunyai kegiatan sosial lain begitupun sebaliknya sebab kami sadar bahwa setiap orang memiliki kehidupan lain di luar sana yang perlu dinikmati. Akan tetapi walaupun aku sangat menikmati hubungan spesialku dengannya terkadang aku minder apabila lingkaran pertemananku sedang membicarakan tentang kekasihnya masing-masing. Biasanya apabila pembahasan itu ingin dimulai maka perlahan aku akan mundur dan berusaha keluar dari topik tersebut sebab mereka memiliki sesuatu yang nyata dan dapat dipamerkan wujudnya, sedangkan aku justru merasa asing dan menggenggam erat ponselku karena di dalam ponsel itulah kekasihku berada. Perlahan aku terasa terasing dan merasa berbeda jika dibandingkan dengan hubungan percintaan manusia normal lainnya. Pun walau begitu aku masih kekeuh untuk tidak menemuinya dulu.
Malam hari apabila kami sedang berkomunikasi biasanya aku menelponnya di teras rumah sedangkan dia di balkonnya dan kami saling menatapi bulan, tempat dimana pertama kali kami dipertemukan. Terkadang kita juga janjian untuk makan dengan menu yang sama, saling suap-suapan ‘goib’ dan mengomentari makanan yang sedang kami cicipi. Aku sendiri sering menyebutnya sebagai dinner goib. Karena apabila ada orang lain yang melihatnya, maka di tempatku hanya ada meja bundar berukuran kecil, dua buah kursi dimana yang satunya untuk kududuki sedangkan satunya tentu kosong karena ditempati oleh sosok Ara yang tengah kuvisualisasi tak lupa juga dengan ponselku yang selalu dalam mode loudspeaker apabila kami sedang dinner.
Adapun jika kami sudah mulai mengantuk untuk melanjutnya pembicaraan maka kami rebahkan tubuh kami ke kasur masing-masing, lalu membayangkan seolah-olah kami berada di ranjang yang sama dan saling bertatap muka satu sama lain.
“Kamu tidur di sebelah mana?” tanyanya
“Di sisi kanan kasur. Kenapa?” sahutku
“Oh oke, kalo gitu aku tidur di sisi kiri yah” ucapnya
“O..okey. Emang kamu mau ngapain deh?” tanyaku yang sedang keheranan
“Lagi ngebayangin seolah-olah kamu tidur di samping aku dengan posisi wajah kamu yang lagi ngeliatin aku” jawabnya, aku tersenyum.
“Oke, sekarang aku juga lagi membayangkan lihat wajah kamu dan elus-elus rambut kamu”
“Thank you for always being by my side until now. Im lucky to know you. I love you” bisiknya
“Me too” balasku
“Ngomong-ngomong kamu pernah cium kening cewek?” tanyanya
“Belum sih. Kenapa?” tanyaku
“Really?” tanyanya terkekeh
“Yup” jawabku
“Cium aku dong” pintanya, sontak mataku langsung terfokus kepada layar ponselku dan dengan polos aku mencium benda tersebut
“Muahhh..... Udah yah” disini logika ku mulai terbangun dan menyadari bahwa apa yang sedang aku lakukan tentu sudah di luar nalar
“Makin lama kita makin keliatan kaya orang gila yah” kataku kikuk, ia terkekeh.
“Yah namanya juga orang lagi jatuh cinta. Hal yang diluar nalar aja terasa masuk akal” jawabnya enteng
“Hahaha iya sih, ngomong-ngomong apa kamu menikmati hubungan kaya gini?” tanyaku
“Ya aku menikmati, sangat menikmati malah walaupun entah suatu saat kita bakal bertemu apa engga yang jelas cerita kaya gini ga semua orang punya dan seandainya suatu saat kamu ceritain hal ini ke orang lain aku yakin mereka ga akan langsung percaya. Cerita kita terlalu aneh untuk orang lain cerna” ucapnya, aku mengangguk kecil dan tanpa terasa aku memeluk guling semakin erat.
Percakapan kami malam itu ditutup oleh sebuah lagu Nyanyian Rindu ciptaan Ebiet G Ade yang kami nyanyikan bersama dan kusudahi sambungan telepon kami ketika ia sudah tidak mengeluarkan sepatah kata kecuali suara nafasnya yang masih dapat terdengar oleh telinga.
“Sleep tight, ra” bisikku, ia sedikit meresponnya dengan lembut lalu setelahnya ruanganku kembali sunyi tanpa suara.
Terkadang apabila logika ku sedang tersadar tak jarang aku tertarik untuk mendekati perempuan menarik dan terlihat nyata yang ada disekelilingku. Namun sejauh apapun niatanku untuk mendekati perempuan lain perasaanku kembali pulang ke tempat yang sama, tempat sama yang pintunya masih terbuka lebar untuk aku singgahi yang bernama Ara.
Kerabat karibku yang mengetahui kami tengah berpacaran semakin gencar menyuruhku untuk menemuinya, sedangkan keluargaku sendiri menganggap bahwa hubungan kami adalah sebuah lelucon. Ingin aku menemuinya akan tetapi tabunganku masih belum cukup terlebih terdapat hal yang selalu mengganjal batinku. Hal yang tidak dapat kujelaskan dan kini menjadi sebuah pelajaran. [/size]
Quote:
Hingga pada akhirnya tanpa kusadari apa yang aku khawatirkan sudah memulai perjalannya dan menunggu untuk kusambut apabila ia telah datang. Sebuah kedatangan yang kubenci sampai detik ini dan tidak pernah kuharapkan.
To be continued.......
Diubah oleh fachreal5 11-02-2019 11:23
lanaya41 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas
Tutup