- Beranda
- Stories from the Heart
SULAKSMI
...
TS
meta.morfosis
SULAKSMI

PROLOG
“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....
Note :
* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis
terima kasih & selamat membaca

@meta.morfosis
Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG
Diubah oleh meta.morfosis 16-01-2019 19:25
bonita71 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
65K
197
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#153
Chapter 17
“ sebenarnya, sebelum saya memutuskan untuk datang ke rumah ini, saya sudah terlebih dahulu mendapatkan informasi dari mang edo, mengenai informasi yang telah kalian dapatkan dari pak toha....” terang pak syarif sambil menatap gw dengan ekspresi wajah serius
“ kalau memang sekarang pak sudah mengetahui informasi yang telah saya dan mang edo dapatkan, apakah pak syarif bisa memberikan sedikit petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini...?” tanya gw yang berbalas keterdiaman pak syarif untuk beberapa saat, hingga akhirnya diantara momen keterdiaman tersebut, gw memutuskan untuk menceritakan tentang kejadian yang baru saja gw alami, mendengar hal tersebut, tampak pak syarif terlihat terkejut, dan kini keterkejutan yang di rasakan pak syarif semakin bertambah begitu gw memperlihatkan beberapa luka goresan yang menghiasi kulit dada gw
“ astagfirullah...sebaiknya kita memang harus segera mengatasi semua permasalahan ini, saya takut sesuatu yang buruk akan kembali terjadi jika kita tidak juga mengatasi masalah ini...” ucap pak syarif yang berbalas persetujuan gw, iyan dan mang edo
“ jadi bagaimana pak syarif, apakah pak syarif mempunyai sedikit petunjuk tentang apa yang telah terjadi di rumah ini...” tanya gw mengulangi kembali pertanyaan yang tadi belum sempat terjawab oleh pak syarif
“ mengenai apa yang telah terjadi di rumah ini, sebenarnya saya juga belum tahu...tapi....”
“ tapi apa pak syarif...?” tanya iyan yang terlihat mulai tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh pak syarif
“ entahlah kang iyan, walaupun saya memang enggak mengetahui apa yang telah terjadi di rumah ini, tapi firasat saya mengatakan kita bisa mencoba memulai pencarian ini dari gudang atau pun kamar tempat kang bagus mengalami kejadian aneh tadi....” mendengar perkataan yang terucap dari mulut pak syarif tersebut, kini iyan mengarahkan pandangannya ke arah gw, sepertinya iyan masih teringat dengan perkataan gw yang mencurigai kedua ruangan tersebut
“ saya setuju pak syarif, tapi sepertinya saya lebih mencurigai gudang itu, karena kalau saya berpikir tentang jasad sulaksmi yang dikuburkan di dalam kamar rasa rasanya enggak mungkin...” ucap gw yang berbalas ekspresi kebingungan di wajah iyan
“ enggak mungkin gimana gus....?” seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut iyan, kini gw mulai menjelaskan tentang alasan ketidakmungkinan jasad sulaksmi dikuburkan di dalam kamar
“ ohh iya...lu benar gus, mana mungkin jasad sulaksmi di kuburkan di dalam kamar, sedangkan lokasi gudang itu sendiri berada di bawah kamar....” ucap iyan dengan yakinnya
“ ya kalau begitu sebaiknya kita segera memeriksa gudang...” seiring dengan berakhirnya perkataan pak syarif, kini kami memutuskan untuk segera melangkahkan kaki menuju ke pintu gudang, diantara langkah kaki kami yang berjalan menuju gudang, sesekali tampak mang edo memeriksa beberapa kunci yang tersimpan di saku celananya, hingga akhirnya setibanya kami di depan pintu gudang, mang edo segera membuka gembok yang menempel pada pintu gudang, kini seiring dengan pintu gudang yang telah terbuka, kegelapan ruangan gudang seperti menyambut kedatangan kami
“ waduh kang bagus...sebaiknya saya mengambil senter dulu didalam rumah....” ucap mang edo yang merasakan betapa terbatasnya jarak pandang kami di dalam gudang karena ketiadaan lampu di dalam gudang
“ sekalian bawa lilin juga mang agar lebih terang lagi...” pinta iyan begitu mang edo hendak melangkahkan kakinya, kini setelah beberapa saat mang edo memasuki rumah, tampak mang edo telah kembali lagi dengan membawa dua buah senter dan beberapa batang lilin, mendapati hal tersebut kini iyang segera menyalakan lilin tersebut
“ nah ini baru terang....” ujar iyan kepada mang edo, melihat gw dan pak syarif yang sudah terlebih dahulu memasuki gudang, kini iyan dan mang edo terlihat berjalan memasuki gudang
"kang bagus...bisa kang bagus tunjukan, dimana tempat kang bagus melihat kemunculan mahluk yang mengganggu kang bagus di tempat ini....?” tanya pak syarif seraya mengarahkan cahaya senternya ke beberapa sudut ruang, mendapati pertanyaan tersebut kini gw segera menunjukan jari tangan ke arah tempat pertama kali gw melihat kemunculan sosok wanita di tempat ini
“ do...coba kamu ambil cangkul itu...” pinta pak syarif kepada mang edo, kini tanpa memberikan jawaban kepada pak syarif, mang edo segera mengambil dua buah cangkul yang memang selalu tersimpan di dalam gudang, setibanya kami di tempat yang telah gw tunjukan tadi, tampak pak syarif kembali meminta mang edo untuk segera menggali tanah, mendapati hal tersebut, iyan yang sedari tadi telah menampakan kegelisahannya kini mulai membantu mang edo untuk menggali tanah
“ lu yakin disini kan gus....?” tanya iyan diantara peluh keringat yang membasahi wajahnya, tampak kini tanah yang telah di gali iyan dan mang edo telah mencapai kedalaman sebatas paha orang dewasa, melihat iyan dan mang edo yang tampak telah kelelahan, kini gw dan pak syarif memutuskan untuk menggantikan mereka
“ gus...lu beneran yakin kan kalau tempatnya disini....?” tanya iyan kembali setelah beberapa saat gw dan pak syarif mencangkul tanah
“ gw yakin...yakin banget yan...” jawab gw diantara peluh keringat yang telah membasahi kaos yang tengah gw kenakan, hingga akhirnya disaat pak syarif kembali mengayunkan mata cangkulnya ke arah tanah, sebuah bunyi tumbukan antara dua kini terdengar, seiring dengan terdengar bunyi tersebut, gw pun segera mengalihkan pandangan ke arah mata cangkul pak syarif yang berada diatas tanah
“ bunyi apa itu pak....?” tanya gw yang berbalaskan sinaran cahaya senter ke arah mata cangkul, tampak kini pak syarif memungut sesuatu dari atas tanah, dengan terlebih dahulu menyingkirkan tanah yang menutupinya
“ sepertinya apa yang telah kita sangkakan itu ternyata benar.....” ucap pak syarif seraya memperlihatkan sebuah benda putih yang telah tersamarkan oleh warna tanah, dan kini setelah memperhatikannya secara lebih seksama, ternyata benda tersebut adalah sebuah tulang, walaupun gw tidak bisa untuk memastikan tulang tersebut merupakan tulang bagian apa, seiring dengan tangan pak haki syarif yang telah membersihkan tulang tersebut, kini nampak pak syarif memperlihatkannya kepada iyan dan mang edo
“ astagfirullah....” ucap iyan dan mang edo hampir berbarengan
“ dengan ditemukannya tulang ini, berarti kita mempunyai kesimpulan bahwa sosok sulaksmi bukanlah menghilang, melainkan dia sudah meninggal dan dikuburkan disini...tapi apa penyebabnya dan mengapa dia sampai meninggal...itu yang harus kita cari tahu...” seiring dengan berakhirnya peerkataan gw, nampak kini pak syarif kembali meletakan tulang tersebut di atas tanah
“ gw setuju gus, kita memang harus mencari tahu apa penye.......”
...brakkkkk.....
suara bantingan dari pintu gudang yang menutup dengan keras, kini menghentikan perkataan yang terucap dari mulut iyan, diantara keterkejutan yang kami rasakan, tampak pak syarif mengarahkan pandangannya ke arah pintu gudang
“ ada apa pak syarif....?” tanya gw dengan penuh rasa curiga karena mendapati pak syarif masih terpaku menatap pintu gudang dengan ekspresi wajah yang serius
“ kita harus keluar dari gudang ini sekarang.....” jawab pak syarif seraya melepaskan genggaman tangannya pada kayu cangkul, kini belum sempat gw menanyakan alasan pak syarif yang meminta kami untuk keluar dari gudang, gw melihat nyala cahaya lilin yang semula terlihat terang kini mulai meredup, hingga akhirnya lilin tersebut terlihat padam, dan kejadian ini berlaku pada semua lilin yang dinyalakan di ruangan ini
“ gus...ada apa ini gus....” tanya iyan dalam kepanikannya, belum sempat gw menjawab pertanyaan iyan, kini gw melihat nyala cahaya senter yang tengah di pegang oleh iyan dan mang edo tampak berkedip kedip untuk sesaat
“ ayooo...sebaiknya kita keluar...” ucap iyan dengan setengah berteriak, kini belum sempat iyan dan mang edo bangkit dari duduknya, nyala cahaya senter yang sedari tadi memang telah berkedip kedip, perlahan terlihat mulai meredup dan padam
“ pak syarif...bagaimana ini pak....” tanya gw dengan rasa panik, entah mengapa kini gw seperti merasakan rasa trauma atas kegelapan setelah apa yang terjadi pada diri gw di ruangan kamar
“ sebaiknya kita keluar sekarang kang bagus, perasaan saya enggak enak.....” jawab pak syarif yang kini berbalas dengan suara erangan yang entah terdengar dari mulut siapa
“ mang edo...yan....!” tegur gw dan berharap adanya jawaban dari mang edo dan iyan
“ ada apa kang...” jawab mang edo dengan gugupnya
“ kita sebaiknya keluar sekarang mang...yan lu dengar kan yan...kita keluar sekarang...”
kini seiring dengan perkataan yang telah terucap dari mulut gw, bukannya sebuah jawaban iyan yang gw dapatkan, melainkan suara erangan yang tadi telah gw dengar kini terdengar kembali
“ iyan kenapa kang....?” tanya mang edo diantara kegelapan yang menyelimuti pandangan mata gw ini, kini diantara keinginan gw untuk menjawab pertanyaan mang edo, suara erangan itu kembali terdengar tapi untuk kali ini, suara erangan tersebut diiringi oleh serangkaian kata kata yang terdengar parau dan lirih
....tolong saya...bebaskan saya.....
“ kang bagus...iyan...kang...!” teriak mang edo tanpa bisa gw ketahui apa yang menjadi alasan mang edo untuk berteriak seperti itu, hingga akhirnya kini gw merasakan adanya pergerakan dari pak syarif yang bergerak entah kemana
“ cepat mang edo...kita bawa iyan keluar...kang bagus ayo cepat keluar....” sebuah perintah yang terucap dari mulut pak syarif kini menyadarkan gw, bahwa kini pak syarif telah berada di dekat mang edo, dan berusaha membantu mang edo untuk membawa iyan keluar dari dalam gudang, kini seiring dengan langkah kami yang berjalan keluar dari dalam gudang, gw bisa merasakan adanya aroma bau bangkai yang tercium di dalam gudang
“ gilaaa...bau apa sih tadi....” gerutu gw setibanya kami di luar gudang, tarikan tangan gw yang menutup pintu gudang kini sedikit mengurangi aroma bau bangkai yang tercium
“ enggak tahu tuh kang...saya juga jadi merasa mual....” ucap mang edo diantara gerakannya yang tengah memapah iyan, kini terlihat mang edo dan pak syarif mendudukan tubuh iyan di atas tanah
“ iyan kenapa pak syarif.....?” tanya gw begitu melihat iyan yang terdiam dengan tatapan kosongnya, mendengar pertanyaan gw itu, tampak pak syarif, mengambil posisi duduk di belakang tubuh iyan dan meletakan telapak tangan kanannya di punggung iyan
....bebaskan saya....bebaskan......
sebuah perkataan yang terdengar parau dan penuh kelirihan kini kembali terdengar dari mulut iyan, untuk sejenak tampak pak syarif terdiam dalam doanya, dan kini seiring dengan gerakan telapak tangan pak syarif yang bergerak naik menuju ke kepala iyan, pak syarif seperti menarik sesuatu dari tubuh iyan dan melepaskannya ke udara, mendapati hal tersebut kini tubuh iyan terlihat jatuh ke tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri
“ yan.....!” teriak gw begitu melihat iyan yang tidak sadarkan diri, seiring dengan gerakan tangan gw yang menyentuh tubuh iyan, kini bisa gw rasakan tubuh iyan yang terasa dingin
“ tenang kang bagus...iyan enggak kenapa napa, dia hanya terlalu lemah untuk menerima sebuah energi yang tadi sempat bersemayam di tubuhnya..” ucap pak syarif berusaha menenangkan gw yang terlihat panik, untuk sesekali tampak pak syarif mengarahkan pandangannya ke arah pintu gudang yang kini telah tertutup rapat
“ sebenarnya apa yang telah terjadi pak syarif....?” tanya gw dengan ekspresi wajah yang serius
“ entahlah kang bagus, tapi sepertinya tadi itu saya merasakan adanya dua buah energi yang berbeda di dalam gudang...” jawab pak syarif dengan pandangan yang masih mengarah ke arah pintu gudang
“ dua energi yang berbeda...?”
“ iya kang bagus...saya merasakannya seperti itu, ini benar benar aneh......, di satu sisi saya merasakan adanya sebuah energi yang selalu mencoba berinteraksi dengan kita, dan sepertinya energi tersebut memang hendak menunjukan sesuatu kepada kita, akan tetapi di sisi yang lain, saya juga merasakan adanya sebuah energi negatif yang berusaha menghalangi proses interaksi itu, dan sepertinya energi negatif itu merasa tidak suka dengan apa yang telah kita lakukan ini...” mendengar penjelasan yang terucap dari mulut pak syarif tersebut, kini gw dan mang edo hanya bisa terdiam dalam kebingungan, dan diantara kebingungan itu lah, pak syarif meminta agar gw dan mang edo memindahkan iyan ke teras depan
“ jujur aja pak syarif, saya jadi takut untuk meneruskan semua ini, saya khawatir akan terjadi sesuatu yang akan membahayakan kita semua....” ucap gw begitu meletakan tubuh iyan di atas lantai kayu, mendengar perkataan gw itu, tampak pak syarif mengarahkan pandangannya ke arah gw
“ tolong kang bagus jangan berpikir seperti itu...apakah kang bagus mau menyerah begitu saja dan membiarkan energi negatif itu menghancurkan usaha yang sedang kang bagus rintis ini...” ujar pak syarif seraya menghela nafas panjangnya
“ tapi pak....”
“ percayalah kang bagus...itu hanyalah tipu daya mereka agar kang bagus tetap terkurung dalam ketakutan ini...” ucap pak syarif memotong perkataan gw, untuk sesaat lamanya kami kembali terdiam dalam hening, hingga akhirnya diantara rentang keterdiaman itu, gw bisa melihat kini iyan mulai tersadar dari ketidaksadarannya
“ apa yang telah terjadi gus....?” tanya iyan dengan menunjukan ekspresi ketidakberdayaannya
“ lu tadi kemasukan sesuatu yan....” jawab gw yang berbalas terduduknya iyan di atas lantai kayu, lama iyan kembali terdiam seperti layaknya seseorang yang tengah memikirkan sesuatu, hingga akhirnya kini iyan mulai menceritakan apa yang telah dialaminya di dalam gudang, mendengar cerita iyan tersebut, kini gw menjadi tahu bahwa iyan mengalami proses kerasukan itu setelah dirinya merasakan hembusan angin yang membuat tubuhnya terasa dingin, dan bermula rasa dingin itu lah iyan mulai kehilangan kesadarannya
“ jadi untuk selanjutnya, apa yang akan kita lakukan gus....?” jawab iyan kembali dan berbalas keterdiaman gw
“ kamar itu.....” gumam gw pelan yang berbalas kebingungan di wajah iyan, mang edo dan pak syarif
“ ya kita harus memeriksa kamar itu, karena di kamar itu lah, saya mengalami sebuah interaksi yang nyaris sama dengan apa yang pernah saya alami di gudang...”
“ tapi kang bagus, bukankah kita sudah mengetahui kalau sulaksmi itu ternyata di kuburkan di dalam gudang, jadi untuk apa lagi kita memeriksa kamar itu....” ucap mang edo yang merasa bingung dengan keinginan gw untuk memeriksa ruangan kamar, hingga akhirnya kini gw pun mulai menjelaskan alasan gw untuk memeriksa kamar tersebut
“ saya yakin mang, pasti ada sesuatu yang telah terjadi di kamar itu, karena dari beberapa kejadian yang terjadi di rumah ini, semuanya merujuk pada dua ruangan, yaitu gudang dan kamar itu...dan sepertinya, kamar itulah yang menjadi kunci atas kejadian buruk yang telah terjadi pada sulaksmi...” mendengar perkataan gw tersebut tampak kini pak syarif menganggukan kepalanya
“ kunci atas kejadian buruk yang menimpa sulaksmi...” ucap pak syarif mengulangi perkataan gw tadi
“ iya pak syarif, saya merasa di kamar itu memang telah terjadi sesuatu, hal ini didasari oleh perkataan adik saya yang mengatakan telah melihat seorang wanita yang terpatri di langit langit kamar dengan sebuah luka lebar di dadanya....”
“ jika memang kang bagus berpikir ada sesuatu yang mungkin telah terjadi di kamar itu, sebaiknya kita periksa kamar itu, mudah mudahan kita bisa menemukan sesuatu disana....” seiring dengan berakhirnya perkataan pak syarif, kini terlihat pak syarif bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki rumah, melihat hal tersebut, kini gw, iyan dan mang edo segera berjalan mengikuti pak syarif
lophcifer dan 13 lainnya memberi reputasi
14