- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
...
TS
memedruhimat
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
Quote:
Spoiler for cover:
Quote:
Quote:
Diubah oleh memedruhimat 01-08-2025 14:04
bukhorigan dan 25 lainnya memberi reputasi
26
48.5K
176
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
memedruhimat
#96
CHAPTER 24
We Don’t Talk Anymore
Tiba pada hari yang telah dijanjikan. Akhirnya aku kembali melihat dirinya. Sang gadis berkulit eksotis dengan tubuh rampingnya, wajah nan imut berkaca mata. Rambutnya yang pernah dipotong pendek itu kini sudah mulai memanjang seperti ketika pertama kali kami bertemu. Penampilan yang dahulu memikat hatiku pada pandangan pertama.
Pantulan bias sinar mentari di jendela menerangi wajah cantiknya. Kulihat dengan jelas sepasang mata indahnya yang menyorot kepadaku, saat aku muncul dari anak tangga tiba di ruangan tersebut.
"Akhirnya... kamu datang juga Ri." dia langsung menyapa gue.
"Iya." gue balas.
"Gimana kabarmu?" dia tanya.
"Biasa aja."
"Aku kangen sama kamu Ri."
Aku lihat dia berjalan mendekati diriku, kedua tangannya hendak meraih bahuku. Namun aku segera menahannya. Kutangkap kedua pergelangan tangan kecilnya itu dan kuturunkan dengan perlahan.
"Ada apa? Katanya kamu mau bicara soal apa?" gue tanya.
Dia lantas mundur sedikit, menarik nafas dan bersiap menuturkan sesuatu.
"Kamu marah sama aku? Kalau kamu mau marah ya silahkan aja. Keluarkan aja semua uneg-uneg kamu sama aku sekarang." dia bilang.
"Nggak... aku udah nggak marah sama kamu."
"Biar aku jelaskan tentang hubungan ku sama Kak Said. Aku gak ada maksud sama sekali buat bohongin kamu... aku cuma... aku---"
Gue langsung memutus ucapannya, "Nggak perlu, aku udah nggak marah lagi. Bahkan aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama kamu. Aku yang minta maaf karena selama ini aku yang ganggu kamu. Aku janji mulai sekarang, nggak bakal lagi ganggu dan nyari-nyari kamu... sampai kapan pun."
"Bukan gitu Ri, sebetulnya semua nggak seharusnya jadi begini, seandainya saja---"
"Sudahlah... mulai hari ini aku udah ga mo meributkan lagi soal apapun. Aku cuma pengen semua berakhir dengan damai. Aku berharap kita nggak perlu lagi saling bertemu di masa mendatang. Kita lupain aja semua yang pernah terjadi di antara kita, biarkan semua berlalu."
"Jadi maksud kamu... selama ini aku nggak ada artinya buat kamu?"
"Kamu pernah jadi orang yang begitu berarti buat hidupku. Kamu membuatku menemukan arti dan tujuan hidup. Namun sekarang nggak lagi..."
"Apakah kamu masih mencintaiku Ri?"
"Buat apa kamu mempertanyakan hal itu lagi?" gue tanya balik.
"Cinta kan nggak harus memiliki."
"Kata siapa?"
"Biar bagaimanapun kamu tetap masih orang yang spesial buat aku."
"Aku tidak perlu menjadi seorang yang spesial di mata siapapun. Karena kenyataannya... orang yang sungguh-sungguh spesial adalah dia yang sudah calon menjadi pasangan hidupmu."
"Tapi aku nggak mau sampai kehilangan kamu, aku ingin kita seperti dulu lagi, kita jalan bareng, main bareng lagi, hanya aku sama kamu. Aku masih bisa melakukan semua itu. Aku akan menyediakan waktuku untukmu." dia bilang sambil menarik-narik tangan gue.
"Untuk apa? Itu gak akan mengubah kenyataan bahwa kamu bukan milikku." gue balas, sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Maafin aku Ri... tapi aku nggak mungkin ninggalin kak Said."
"Kamu cinta sama dia?"
Ekspresi wajah Puspa mulai berubah.
"Kamu mau serius sama dia?" gue tanya lagi.
Gue bisa melihat kerutan di dahinya yang terangkat.
"Itu kan sebabnya kamu lebih memilih dia? Karena kamu dan dia sama-sama sudah serius? Hubungan kalian sudah terlarut begitu jauh." kata gue lagi.
Kali ini gue dapat mendengar suara nafasnya mulai beda, tubuhnya tampak bergetar.
"Kalau kalian berdua udah sama-sama serius... buat apa kehadiranku di sini? Aku juga serius sama kamu, tapi keseriusanmu sudah berbalas untuk orang lain."
"Aku memang suka sama kamu... tapi aku juga mencintai dia... maafin aku Ri. Aku sudah terlanjur mencintai dia..." dia balas.
"Aku mau melakukan apa aja sama kamu, kamu boleh minta apa aja dari aku. Tapi... aku gak akan mungkin ninggalin dia. Aku gak bisa... nggak akan bisa Ri..." balas Puspa lagi.
Nada suaranya semakin berubah parau. Gue lihat wajahnya juga semakin memerah. Sepasang bola matanya kini tampak berkaca-kaca.
Tangannya menarik lengan bajuku.
Wajahnya tertunduk.
Ia tampak menggigit bibirnya, namun ternyata luapan emosi itu sudah tak tertampung lagi.
Aku dapat melihat air mata mengalir di pipi pemilik wajah manis itu.
Sang pencuri hatiku.
Kini hanya isak tangis lirih yang terdengar.
Kudekati dirinya dan kuletakkan kedua tanganku di atas pundak kecilnya.
Tidak ada yang dapat kulakukan selain memeluknya.
Kupeluk erat tubuh gadis yang dulu meluluh lantakkan hatiku.
Aku merangkul wajahnya di dadaku.
Tangis itu meledak semakin tak terbendung.
Air matanya terasa panas membanjiri dadaku.
Pelukan ini begitu dalam dan hangat.
Namun ini adalah pelukan terakhir kita.
Sebuah pelukan yang akan mengakhiri kisah kita di sini.
Seandainya saja kita tidak pernah bertemu...
Seandainya saja tidak perlu ada perkenalan di antara kita...
"Maafin aku... Jangan tinggalin aku..." ucapnya di tengah isak tangis.
Aku melepaskan pelukan itu dan ku angkat dagu di wajah yang manis itu. Kudekati wajahnya secara perlahan dan aku pun mengusap wajah yang nampak begitu merah dan penuh berlinang air mata itu. Kemudian ku hapus air mata di pipi yang lembut itu.
Kedua bola matanya menangkap tatapanku bersamaan dengan itu ia melingkari kedua tangannya di pundak ku.
Kini aku begitu dekat dengan bibirnya.
Kulihat ia memejamkan matanya.
Nafasnya terasa hangat berhembus secara perlahan.
Ia mengangkat sedikit kepalanya, memanggilku untuk mendatanginya.
Aku mendekatinya, namun kecupan itu kudaratkan di pipinya.
Sebuah kecupan yang cukup lama untuk mengulang seluruh memori indah bersamanya.
Sungguh suatu momen yang begitu syahdu...
Ada sesuatu yang rasanya keluar dari dalam dadaku. Gambaran di kepalaku bagaikan sebuah rekaman video yang diputar berjalan mundur.
Dan semua memori itu kini terhapus dalam sekejap.
Tak terasa air mata ini ikut mengalir, tetapi hatiku terasa begitu tenang sekarang. Aku merasa dapat melepaskan bayang-bayangmu dari dalam diriku.
Kulepaskan kecupan itu, dan ia pun membuka matanya.
"Aku tidak mau menyentuh bibir manis itu, karena ia bukan milikku. Ia sudah menjadi milik seseorang di luar sana." ucapku padanya.
Tanganku masih terpaut di pipi yang lembut itu, dan kulihat air mata kembali meleleh membasahi pipi sang pemilik wajah imut nan eksotis itu.
"Ketika aku melihatmu, aku dapat merasakan tatapan matamu yang begitu dalam. Akan tetapi aku tak lagi bisa melihat diriku di sana. Apapun yang terpantul di balik sepasang mata indah itu sudah bukan diriku lagi." ucapku. "Dan kini... pergilah kamu ke orang itu. Jangan pernah ingat-ingat diriku lagi. Jangan pernah ingat lagi kalau aku pernah ada di kisah hidupmu. Itu akan menyakitkan bagiku dan juga bagimu." tambahku.
Tubuh kecil itu bergetar, tangisnya meledak. Dia menarik kedua lenganku. Namun aku melepaskannya dengan perlahan.
"Maafkan aku." ucapku.
Aku berjalan menjauhinya, menuruni tangga.
Maafkan aku...
Yang sudah memasuki kehidupanmu...
Aku berlari menghilang dari hadapannya.
Dan berharap ini adalah pertemuan kami yang terakhir.
Untuk selamanya...
***
Spoiler for pengorbanan cowok:
Diubah oleh memedruhimat 03-08-2025 11:02
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
5


.