- Beranda
- Stories from the Heart
Langit dan Bulan
...
TS
aldiansyahdzs
Langit dan Bulan
Bisakah kita satu hari bersama, tanpa tumpukan kertas yang memenuhi meja kita?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?

Daftar Isi
Quote:
Saran dan masukan sangat membantu dalam penggarapan. Kiranya berkenan untuk mengingatkan jika ada kekeliruan dalam menulis.
Sosial media
Instagram : aldisabihat
Twitter: aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 10-06-2019 09:11
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
6.1K
37
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#13
#9
Bulan beberapa kali mengecek ponselnya dengan resah. Dibukanya aplikasi, ditutup. Dibuka lagi, ditutup lagi. Sampai akhirnya ia hanya bisa pasrah menunggu kabar Rizky. Semua sosial medianya tidak menunjukan kabar apapun. Dibenaknya, Bulan menyesal karena terlalu menekan Rizky untuk bertemu. Ratusan pesan dikirim, tidak ada balasan. Dibacapun tidak. Sama juga hasilnya saat Bulan mencoba menelpon. Tidak diangkat.
“Ky, maaf. Maaf aku terlalu ingin ketemu sama kamu. Maaf aku takut jika ada diluar sana yang mampu lebih baik dari aku. Aku egois. Iya, aku egois ingin terus sama kamu.”
Bulan mengakhiri ratusan pesan yang ia kirim. Tidak mengharap dibalas. Ia mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri. Kantuk kini mulai hinggap di pelupuk matanya. Raganya sudah lelah. Sesaat sebelum dirinya diantarkan ke alam mimpi ponselnya berdering
“Bulan maaf, selama jadi pacarmu aku tidak membuat bahagia. Salahku terlalu sibuk bekerja sehingga setiap bulan kita sulit bertemu. Bulan rasanya berat. Tapi yang selama ini ku takutkan terjadi. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sehingga berimbas pada hubungan kita. Bulan, aku tahu aku bukan laki-laki baik. Terimakasih Bulan telah menemani sejauh ini. Semoga kau dan aku baik-baik saja meski berjalan dengan jalan yang berbeda.” Hujan turun dari mata Bulan. Jemarinya tidak mampu untuk membalas. Tertunduk. Tidak pernah menyangka jika harus berakhir karena terlalu egois dan terlalu posesif. Kepalanya ingin membela, tapi hatinya harus rela.
Segala hal terpikir di kepala Bulan. Jika dilanjut ia sudah tidak mau berjauh-jauhan menyiksa hatinya dan hati Rizky karena berjauhan. Ia takut jika semakin jauh melangkah, semakin keras pula tekanan untuk Rizky.
“Ky, semoga apa yang kamu ucap benar. Semoga kita baik-baik saja, meski berjalan dengan jalan yang berbeda.”
“Ky, maaf. Maaf aku terlalu ingin ketemu sama kamu. Maaf aku takut jika ada diluar sana yang mampu lebih baik dari aku. Aku egois. Iya, aku egois ingin terus sama kamu.”
Bulan mengakhiri ratusan pesan yang ia kirim. Tidak mengharap dibalas. Ia mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri. Kantuk kini mulai hinggap di pelupuk matanya. Raganya sudah lelah. Sesaat sebelum dirinya diantarkan ke alam mimpi ponselnya berdering
“Bulan maaf, selama jadi pacarmu aku tidak membuat bahagia. Salahku terlalu sibuk bekerja sehingga setiap bulan kita sulit bertemu. Bulan rasanya berat. Tapi yang selama ini ku takutkan terjadi. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sehingga berimbas pada hubungan kita. Bulan, aku tahu aku bukan laki-laki baik. Terimakasih Bulan telah menemani sejauh ini. Semoga kau dan aku baik-baik saja meski berjalan dengan jalan yang berbeda.” Hujan turun dari mata Bulan. Jemarinya tidak mampu untuk membalas. Tertunduk. Tidak pernah menyangka jika harus berakhir karena terlalu egois dan terlalu posesif. Kepalanya ingin membela, tapi hatinya harus rela.
Segala hal terpikir di kepala Bulan. Jika dilanjut ia sudah tidak mau berjauh-jauhan menyiksa hatinya dan hati Rizky karena berjauhan. Ia takut jika semakin jauh melangkah, semakin keras pula tekanan untuk Rizky.
“Ky, semoga apa yang kamu ucap benar. Semoga kita baik-baik saja, meski berjalan dengan jalan yang berbeda.”
Terimakasih untuk kasih yang kau rangkai menjadi kisah
Ku kira selama ini aku bisa membuatmu bahagia
Ternyata tidak, aku malah menyiksa.
Ku kira selama ini aku bisa membuatmu bahagia
Ternyata tidak, aku malah menyiksa.
0