- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#987
Quote:
PART 72
Maafin gue, Ndo. Maafin gue.
Nina larut dalam kesedihannya sendiri. Hujan di luar juga semakin deras. Dengan mata yang masih basah, Nina meraih ponselnya lagi dan mencoba menelepon seseorang yang mungkin bisa membantu Nando yang kini sedang dalam bahaya dan tentu juga bisa membantunya keluar dari kamarnya sendiri.
Jika tidak ingat rumahnya tiga lantai, tentu sudah sejak tadi ia melompat keluar jendela.
Akibat berita yang muncul di koran pagi ini, ia di larang keluar rumah. Bahkan seperti seorang sandera, dia di sekap di kamar sendiri. Ia juga tidak mengerti hanya karena berita murahan itu, ayahnya tega melakukan ini padanya.
TERUNGKAP FAKTA MANTAN ISTRI, RAHARDJO PERWIRA PENGUSAHA TEKSTIL TERNAMA, ADALAH SEORANG PELAKU PROSTITUSI.
Nina memang tidak tahu persis apa isi beritanya, tapi dari judulnya saja berita itu terkesan sengaja di lebih – lebihkan. Gara – gara berita itu pula ia di larang menemui Nando apalagi membantunya.
Nina tahu, Nando memang sedang mencari ibunya, tapi ia tidak percaya jika ibu Nando adalah perempuan yang seperti di beritakan itu. Sekalipun berita itu benar, apa salah ia tetap menjalin hubungan baik dengan Nando? Nggak kan? Lagian…mana ada sih seorang anak bisa memilih mau orang tua yang seperti apa.
Ayahnya terlalu ingin menjaganya dari pengaruh buruk atau karena ayahnya terlalu picik dalam melihat masalah ini? Entahlah…
Nina....lo dimana? Please…telepon Medina buat gue. Gue udah telepon dia berkali – kali tapi nggak ada satupun yang di angkat. Gue butuh ketemu dia sekarang. Please ini penting.
Nin….halo…Nina…..!!!
Brakkk!!!
Suara kepanikan Nando di ujung telepon beberapa waktu lalu terus terngiang di benak Nina, dan itu semakin membuatnya khawatir.
Apalagi…ia tidak bisa melakukan apapun sekarang, selain berharap ada seseorang yang mau menjawab teleponnya saat ini. Dan yang membuatnya semakin panik setelah telepon itu terputus, Nina tak bisa menghubungi Nando lagi. Suara bising yang sempat ia dengar seperti tabrakan atau semacamnya. Ia berharap tidak terjadi apapun pada Nando.
Nina kembali bangkit dari duduknya, dan menggedor keras pintu kamarnya,” Papa…please buka pintunya. Nando lagi dalam masalah pa, aku harus temuin Medina sekarang, Nando butuh dia!!”
Mau teriak dan merengek seperti apapun, ia yakin ayahnya tidak akan mau mendengarmya. Ayahnya punya pendirian yang begitu sulit untuk di runtuhkan.
Nina menyerah, ia kembali terduduk lemas di lantai. Ia kembali terisak, rasanya ia menjadi teman paling tak berguna untuk Nando.
Tangisan itu terhenti saat indranya mendengar anak kunci di putar dari luar. Ada seseorang yang akan membuka pintu. Apa ayahnya telah berubah pikiran?
“ Nin,” Seorang cowok manis berambut ikal berdiri tepat di ambang pintu dengan wajah sendu. Bukan ayahnya, tapi Tirta. “ Medina.”
Nina bangkit dari duduknya sambil menyeka air matanya,” Kenapa dengan Medina?”
***
Oranye di kaki langit terlihat seperti ingin menghibur Medina yang baru saja pulang dari pemakaman ayahnya. Walau tangisannya sudah berhenti, tapi belum ada satu kalimatpun yang keluar dari mulut gadis itu.Keindahan senja kali ini tak berhasil mengukir senyuman Medina seperti biasanya.
Nina dan Tirta yang ikut mengantar Medina hingga ke rumah terus di liputi perasaan cemas melihat Medina yang betah membisu. Bahkan menyapa merekapun tidak. Ibu Medina terus saja meminta Nina dan Tirta menghibur sang anak. Setidaknya ada sedikit senyuman saja yang ia pancarkan.
Nina dan Tirta saling berpandangan mendapati Medina kembali melamun dengan lutut tertekuk di teras samping rumahnya. Matanya fokus memandangi area kolam renang yang terlihat begitu tenang. Berbanding terbalik dengan pikirannya yang sedang kacau berantakan.
“ Na…,” panggil Nina yang tak di tanggapi sama sekali oleh Medina.” Nyokap lo udah cerita semuanya. Dan…kalo boleh jujur gue nggak sepen
Mikiran sama lo,” Nina duduk di samping Medina sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
Sementara Tirta memilih tetap berdiri di dekat keduanya dengan kedua tangan terjejal di saku celana hitamnya. Ingin sekali ia menyeka air mata Medina yang kembali terjun dari pelupuk matanya, tapi ia tahu diri, ia tak berhak melakukan itu. Apalagi ia tak punya ruang sedikitpun untuk ia tempati di hati Medina.
“ Gue tahu…ini bukan waktu yang tepat buat menyuarakan isi kepala gue. Tapi…lo harus percaya kalau kak Adam nggak sejahat itu.”
“ … “
“ Kepergian bokap lo, itu takdir.”
“ Tapi papa serangan jantung karena ulah kak Adam,Nin.” Akhirnya Medina buka suara, walau ucapannya terdengar sedikit emosi.
Nina dan Tirta saling berpandangan, berusaha menyatukan pikiran bagaimana caranya memberi pengertian pada Medina.
“ Buktinya apa? Lo Cuma dengar cerita dari mbak Ningrum. Orang yang selama ini gak pernah lo percaya. Lalu atas dasar apa lo bisa secepat itu percaya sama kata – kata dia sekarang?”
“ Na, lo lebih kenal kak Adam dari kita berdua. Gue yakin hati lo jelas lebih tahu, kak Adam nggak akan setega itu sama orang tuanya sendiri.” Tirta ikut menimpali dengan tatapan yang sedang berusaha meyakinkan Medina.
Medina diam, ia memandangi kedua sahabatnya dengan tatapan bingung. Apa benar ia telah salah mempercayai Ningrum dan mengusir kakaknya sendiri?
“ Medina ada tamu buat kamu,” panggil sang ibu meembuat ketiganya kompak menoleh ke sumber suara.
Kening Medina mengerut, wajah masam kembali ia pamerkan. Dia mengenal wanita yang kini sedang berdiri di samping ibunya itu. Tante Fika.
Mau apa dia ke sini?
--------
Quote:
Plakkk!!!
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Ningrum, menyisakn jejak merah di pipi mulusnya. Dia tak menyangka usaha yang ia lakukan untuk mengembalikan semua hak tante Fika justru di balas seperti ini. Apalagi ia baru saja pulang dan ingin membagi cerita kesedihan keluarga Medina pada tantenya itu.
“ Tante Fika , kenapa nampar aku?” protes Ningrum sambil memegangi pipinya yang merah dan masih terasa perih.
“ Apa yang sudah kamu lakukan?” tegas tante Fika dengan wajah tak santai.
“ Apa? Aku Cuma ngelakuin, hal yang memang seharusnya aku lakuin,” Ningrum tak mau kalah.
“ Bukannya tante sudah mewanti – wanti kamu untuk menghentikannya? Tapi kenapa kamu makin menggila Ningrum? Tante kecewa sama kamu,” ucap tante Fika dengan suara kian melemah, ia sedang berusaha menahan tangisannya sekarang. Bagaimana mungkin keponakannya begitu tega menghancurkan keluarga Adam, seorang anak muda yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
“ Kenapa? Tante tanya kenapa?” ucap Ningrum dengan senyum setengah meledek. “ Kurang jelas ya, apa yang sudah om Vegar lakuin ke tante? Ke Andra? Tante pikir aku nggak tahu, penyebab kecelakaan Andra?”
“ …..”
“ Andra kedelakaan karena om Vegar. Iya kan? Mobil yang di kendarai Andra waktu itu, itu dari om Vegar kan? Dan dari keterangan polisi kabel remnya sengaja di putus. Siapa lagi pelakunya kalau bukan om Vegar?”
“ …”
“ Tante sengaja menutup mata, karena tante nggak mau urusannya makin rumit. Iyakan???”
“ Apapun yang terjadi dulu, kamu tidak punya hak untuk membalasnya,” tegas tante Fika sambil mengarahkan telunjuknya pada Ningrum.
“ Aku ngelakuin ini semua karena aku peduli sama tante dan Andra,” Ningrum masih keukeuh kalau apa yang ia lakukan itu benar.” Harusnya tante itu berterima kasih!!”
“ Kamu telah menghancurkan hidup orang lain Ningrum. Tak ada yang patut di banggakan hingga tante perlu mengucapkan terima kasih sama kamu.”
Kali ini ningrum memilih diam, entah lelah berdebat atau ia sedang mati – matian menahan emosinya kali ini. Tidak mungkin ia meledakkan emosinya di depan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
“ Cerita konyol macam apa yang sudah kamu karang, hingga membuat Medina dan ibunya kehilangan kepercayaan dengan Adam?”
“ … “
“ Kamu harus mempertanggung jawabkan ini semua!!” Tante Fika bergegas keluar rumah sambil menyambar kembali tasnya yang tadi tergeletak di atas meja.
“ Tante mau kemana?” Ningrum berlari mengekori langkah cepat tante Fika yang kini telah berhasil menemukan taxi. Ningrum ingin menahannya tapi usahanya gagal.
“ Memperbaiki kekacauan yang sudah kamu buat,” ucap Tante Fika sambil menaiki taxi, dan menutup pintunya cukup keras.
Taxi perlahan melaju, meninggalkan Ningrum yang di selimuti perasaan kesal. Bahkan ia spontan berteriak saat tak berhasil menahan taksi yang di tumpangi tante Fika.
“ Argghhhh….kacau semuanya!!”
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Ningrum, menyisakn jejak merah di pipi mulusnya. Dia tak menyangka usaha yang ia lakukan untuk mengembalikan semua hak tante Fika justru di balas seperti ini. Apalagi ia baru saja pulang dan ingin membagi cerita kesedihan keluarga Medina pada tantenya itu.
“ Tante Fika , kenapa nampar aku?” protes Ningrum sambil memegangi pipinya yang merah dan masih terasa perih.
“ Apa yang sudah kamu lakukan?” tegas tante Fika dengan wajah tak santai.
“ Apa? Aku Cuma ngelakuin, hal yang memang seharusnya aku lakuin,” Ningrum tak mau kalah.
“ Bukannya tante sudah mewanti – wanti kamu untuk menghentikannya? Tapi kenapa kamu makin menggila Ningrum? Tante kecewa sama kamu,” ucap tante Fika dengan suara kian melemah, ia sedang berusaha menahan tangisannya sekarang. Bagaimana mungkin keponakannya begitu tega menghancurkan keluarga Adam, seorang anak muda yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
“ Kenapa? Tante tanya kenapa?” ucap Ningrum dengan senyum setengah meledek. “ Kurang jelas ya, apa yang sudah om Vegar lakuin ke tante? Ke Andra? Tante pikir aku nggak tahu, penyebab kecelakaan Andra?”
“ …..”
“ Andra kedelakaan karena om Vegar. Iya kan? Mobil yang di kendarai Andra waktu itu, itu dari om Vegar kan? Dan dari keterangan polisi kabel remnya sengaja di putus. Siapa lagi pelakunya kalau bukan om Vegar?”
“ …”
“ Tante sengaja menutup mata, karena tante nggak mau urusannya makin rumit. Iyakan???”
“ Apapun yang terjadi dulu, kamu tidak punya hak untuk membalasnya,” tegas tante Fika sambil mengarahkan telunjuknya pada Ningrum.
“ Aku ngelakuin ini semua karena aku peduli sama tante dan Andra,” Ningrum masih keukeuh kalau apa yang ia lakukan itu benar.” Harusnya tante itu berterima kasih!!”
“ Kamu telah menghancurkan hidup orang lain Ningrum. Tak ada yang patut di banggakan hingga tante perlu mengucapkan terima kasih sama kamu.”
Kali ini ningrum memilih diam, entah lelah berdebat atau ia sedang mati – matian menahan emosinya kali ini. Tidak mungkin ia meledakkan emosinya di depan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
“ Cerita konyol macam apa yang sudah kamu karang, hingga membuat Medina dan ibunya kehilangan kepercayaan dengan Adam?”
“ … “
“ Kamu harus mempertanggung jawabkan ini semua!!” Tante Fika bergegas keluar rumah sambil menyambar kembali tasnya yang tadi tergeletak di atas meja.
“ Tante mau kemana?” Ningrum berlari mengekori langkah cepat tante Fika yang kini telah berhasil menemukan taxi. Ningrum ingin menahannya tapi usahanya gagal.
“ Memperbaiki kekacauan yang sudah kamu buat,” ucap Tante Fika sambil menaiki taxi, dan menutup pintunya cukup keras.
Taxi perlahan melaju, meninggalkan Ningrum yang di selimuti perasaan kesal. Bahkan ia spontan berteriak saat tak berhasil menahan taksi yang di tumpangi tante Fika.
“ Argghhhh….kacau semuanya!!”
●●●
1
Kutip
Balas