- Beranda
- Stories from the Heart
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
...
TS
fachreal5
HER (Sahabat dan Kekasih Bayanganku)
Quote:
Halo agan agan & sista penghuni sfth. Sebelumnya semua yang ane ceritain disini pure kejadian yang ane alami sendiri. Sebenarnya dari dulu banyak teman ane yang nganjurin untuk dituangkan dalam bentuk tulisan karena menurut mereka kisah ane ini cukup unik dan absurd untuk dicerna orang-orang yang tentu blm pernah ngalamin. Partnya juga ga akan banyak karena ane cuma tulis intinya plus apa yang ane inget aja. Well, ane sangat terbuka untuk kritik juga saran agar skill nulis ane berkembang dan maaf kalo tritnya sedikit berantakan karena udh lama banget ga nulis trit. Terima kasih untuk yang sudah mampir dan selamat membaca.

Quote:
Sumber gambar : mymodernmet.com
Sebelum mulai silahkan dengerin ini dulu gan biar berasa feelnya

Quote:
“Falling in love is kind of like a form of socially acceptable insanity.”
― Spike Jonze, HER
― Spike Jonze, HER
Quote:
1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Ia datang tanpa pernah kuduga, menaruh cinta pada hati tanpa perlu melihat rupa ataupun mencoba meraih telapak tanganku kemudian menggandengnya. Mungkin kesan tersebutlah yang dapat kurangkai apabila pikiranku mendesak untuk mendeskripsikan perempuan yang sempat membuatku jatuh hati walau dengan cara yang absurd. Cukup absurd apabila kisah ini dibaca secara keseluruhan.
Kali pertama ia datang ialah ketika aku terbangun dari tidur siang yang bahkan belum berlangsung selama 5 menit. Tidak ia tidak datang ke rumahku ataupun secara spontan berada di hadapanku ketika membuka mata, tidak. Kehadirannya justru datang melalui pesan yang aku abaikan, pesan yang tersembunyi dibalik puluhan pesan lainnya dari peringatan masa aktif kartu perdana dari operator telepon selular milikku satu-satunya.
Iya w di rumah nih
Kata di atas adalah salam perkenalan yang tanpa sengaja ia katakan kepadaku. Tidak dikatakan secara langsung, melainkan melalui teks dan tentu tidak ada yang spesial dari tulisan singkat dan berasal dari nomor yang tidak kukenal, maka cukup masuk akal apabila aku abaikan terlebih waktu itu dalam sebulan aku sering mendapati pesan nyasar dari nomor yang tidak tercantum di dalam kontak. Dan kebanyakan adalah pesan penipuan atau “mama minta pulsa”.
Usai membaca kembali aku taruh ponsel murah meriahku di tempat yang asal lalu aku merebahkan badan sembari memijit-mijit kepala untuk meredam kepenatan hariku yang terlanjur terekam di otak. Aku separuh tertidur namun ponselku berdering keras, aku geram dan menyumpah orang yang menghubungi ponselku karena secara tidak langsung telah mengganggu istirahatku.
“Halo, ini siapa?” tanyaku kepada orang di balik saluran telepon dan tentunya tidak kukenal karena namanya memang tidak tercantum di kontak.
“Pake nanya lagi. Lu jadi ke rumah ga!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku terdiam lalu mengeplak jidatku. Sudah ganggu jam istirahat, marah-marah pula lagi.
“Maaf salah sambung, mbak” kataku ramah.
“Oh emang ini siapa?” tanya ia kikuk.
“Ari” jawabku lalu tanpa ia balas sepatah kata langsung ia matikan saluran teleponnya.
Sudah salah sambung, ganggu jam istirahat, ngegertak, main tutup telpon aja, tidak minta maaf pula. Kurang lebih itulah ungkapan kekesalan yang aku ingat kala itu. Aku langsung mematikan ponsel dan beranjak tidur tanpa pernah terpikir bahwa orang sialan itu akan kembali meneleponku pada malam harinya.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku berkerja paruh waktu sebagai operator warnet. Ya pekerjaan yang memang dianggap sebelah mata memang, tak jarang pula teman-temanku melontarkan memanggilku dengan sebutan Anwar (as known as Anak Warnet). Walaupun terkadang pekerjaanku itu mendapati cibiran, nyatanya aku tetap menggeluti pekerjaan itu sampai duduk di bangku SMA. Jika berbicara gaji, memang pendapatannya tidak seberapa untuk sebulan dan dapat kukatakan tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang aku pertaruhkan. Akan tetapi, tidak sedikitpun aku menyesal karena merupakan suatu kebanggaan untukku apabila pada umur yang semuda itu aku bisa sedikit mandiri untuk keperluan jajan sehari-hari, terlebih karena bekerja di sana aku jadi mengenal teman-teman baru dari segala usia maupun profesi baik itu anak sekolahan (SD-SMA), anak kuliahan, guru karate, bahkan seorang wartawan dan tentunya beribu kenangan tentang kebersamaan yang aku dapatkan.
Untuk hari biasa aku bekerja dari jam 14.30 – 21.00 WIB sedangkan untuk hari libur aku bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Aku lupa mengenai hari ketika perempuan itu menghubungiku untuk pertama kali, namun yang jelas ia kembali meneleponku usai aku pulang dari warnet sekitar jam sepuluh malam. Awalnya aku tidak ingin mengangkat telepon darinya, akan tetapi semakin aku diamkan nada dering keras bin norak ponselku semakin terngiang di telinga. Aku mulai menyesali perbuatanku yang menyetel musik ala ala metal sebagai nada dering.
“Ya halo, ini mbak yang tadi sore kan ya? Maaf mbak salah sambung lagi” kataku sebab aku menghafal tiga dingit angka nomor ponselnya yang mudah sekali untuk diingat.
“Engga, gue sengaja nelpon lo. Ngomong-ngomong boleh kenalan?” ucapnya, sedangkan aku hanya bergeming. Aku terdiam bukan karena ini adalah kali pertama aku mendapatkan seorang lawan bicara perempuan yang mengajak kenalan dengan frontal, akan tetapi ini adalah pengalaman pertama ada seorang perempuan yang entah darimana, mendapatkan nomorku dari siapa, dan pure salah sambung pula mengajakku kenalan. What the hell mate.
“Yah nama gua masih sama seperti tadi sore, ingat kan?” tanyaku.
“Iya ingat kok, btw nama gue Ara” ucapnya kemudian ia tertawa kecil untuk memecah keheningan diantara percakapan awkwardmalam itu.
“Ngomong-ngomong lu dapat nomor gua darimana?” tanyaku heran.
“Ga dapat darimana-mana, orang gue aja salah sambung. Tadi gue mau telfon teman gue tapi salah satu digit makanya jadi nyambungnya ke elo” jawabnya, namun aku tidak semudah itu percaya.
“Halah, lu jangan-jangan secret admirer gua yah. Ngaku aja udah” jawabku pede, aku bisa mengatakan seperti itu karena memang waktu itu sedang ada perempuan bahkan beberapa perempuan di sekolah yang mengejar-ngejarku secara bergerilya dan membuatku tidak nyaman, akan tetapi aku tidak merespon satupun dari mereka agar tidak merusak pertemanan. Dan kabar buruknya aku sempat diberi label sebagai laki-laki gay karena sampai detik itu aku tidak merespon satupun diantara mereka.
Kemudian percakapan dilanjutkan olehku untuk bertanya mengenai asal sekolah, tempat tinggal, ciri-ciri tubuhku dan yah ditengah percakapan itu aku mulai yakin bahwa kami tidak saling mengenal dan jarak kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Akan tetapi, percakapan pertama kami malam itu benar-benar seperti orang yang sudah mengenal sangat lama sebab seiring detik demi detik berjalan pudar rasa canggung yang ada pada diri kami.
“Telfonannya sampe sini dulu yah, gue udah dipanggil ke bawah sama nyokap” ujarnya.
“Oh oke, gua juga sempet denger kok tadi walaupun agak samar. Gua juga mau mandi dan istirahat” kataku.
“Yaudah besok lanjut ya, bye”
Ia menutup saluran teleponnya. Aku mengurungkan niat sejenak untuk mandi, lalu menguntal-nguntal handuk hingga menyerupai sebuah bantal lalu kurebahkan badanku kemudian melihat langit-langit kamar yang mulai berkabang. Pikiranku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku mengusap muka dan memejamkan mata setelahnya. Ara? Siapa sih dia, datang tiba-tiba macam roh yang dipanggil boneka jelangkung aja.
Spoiler for INDEX:
PART 1. Sebuah Pesan Yang Terabaikan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
PART 2. Sebuah Persamaan Nama
PART 3. Suara Yang Masih Terngiang
PART 4. Cinta Yang Lain
PART 5. Bulan, Dimana Kita Dipertemukan
PART 6. Then We Know Each Other
PART 7. HER
PART 8. Could You Be Mine ?
PART 9. Lover Over Phone
PART 10. Watch Over You
PART 11. Pesan Yang Tidak Pernah Terbalaskan
Spoiler for Kunjungi juga thread ane yang lain:
Polling
0 suara
Apakah mereka akan bertemu ?
Diubah oleh fachreal5 11-09-2019 00:18
a.w.a.w.a.w dan 22 lainnya memberi reputasi
23
14.8K
Kutip
81
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fachreal5
#31
8. Could You Be Mine ?
Quote:
Quote:
Ketika pertama kali melihatmu. Aku tersenyum dan kamu juga tersenyum kepadaku. Seiring berjalannya waktu perlahan aku mencintaimu dan kuharap kamu juga menyimpan perasaan yang sama kepadaku. Semoga kita tidak akan terpisahkan, bagaikan lagu dengan melodinya.
Kutipan kalimat diatas adalah secercah kepingan surat darinya yang dapat kuingat. Ia tidak mengirimkan surat tersebut ke rumahku hanya saja ia menuliskan surat tersebut untuk tugas sekolah dan mengaku bahwa sejatinya apa yang ia tuliskan pada secarik kertas itu memang tertuju kepadaku. Ketika ia dikte mengenai isi surat tersebut sejatinya aku sempat menulisnya dan masih kusimpan hingga sekarang begitupun dengan mp3 player yang menyimpan kenangan tentang dirinya. Hanya saja aku lupa menaruh kedua benda tersebut dimana namun aku yakin benda itu masih berada disuatu ruang yang aku tempati sekarang.
Dua tahun berlalu semenjak momen perkenalan yang absurd itu dan ya aku masih belum bersedia untuk menemuinya selain dikarenakan tabunganku yang terkuras nyatanya terdapat hal lain yang entah mengapa aku segan untuk menemuinya. Ia sudah menerimaku apa adanya namun entah mengapa selalu ada sesuatu yang mengganjal yang aku sendiri tidak mengerti. Koleksi suaranya nyanyiannya semakin banyak memadati penyimpanan mp3 playerku, namun tidak satupun aku hapus walau ia sendiri memohon untuk menghapusnya apabila suaranya mendadak fals ditengah ia bernyanyi.
Malam itu, hari sabtu sekira pukul delapan malam ia menelponku untuk menceritakan sesuatu mengenai kesehariannya. Aku colok chargeran ponselku sebelum mendengarkan suaranya dari jauh sana, dua tahun mengenalnya membuat baterai ponselku “hamil tua” dan menjadikanku budak colokan apabila ingin mendengarkan ceritanya. Disisi lain aku mulai was was apabila ponselku meledak disela pembicaraan karena waktu itu memang ada berita tentang seseorang yang meninggal seketika karena bertelponan sambil ngecas dan membuat ponselnya meledak. Tapi tak apa karena setidaknya sebelum aku mati aku mendengarkan suara seseorang yang mulai kucintai. Terdengar naif namun memang itulah yang ada dipikiranku saat itu.
Aku disambut dengan suara cempreng dari balik ponsel, ia terdengar bahagia entah karena hal apa. Kami mulai pembicaraan dengan basa-basi sederhana yang topiknya tidak jauh dari keseharian kami berdua, musik hits yang baru dirilis dan tentunya saling menggoda.
Quote:
apalah arti cinta bila aku tak bisa memilikimu
apalah arti cinta bila pada akhirnya takkan menyatu
sesulit inikah jalan takdirku yang tak inginkan kita bahagia
bila aku tak berujung denganmu
biarkan kisah ini ku kenang selamanya
Tuhan tolong buang rasa cintaku
jika tak Kau ijinkan aku bersamanya
apalah arti cinta bila pada akhirnya takkan menyatu
sesulit inikah jalan takdirku yang tak inginkan kita bahagia
bila aku tak berujung denganmu
biarkan kisah ini ku kenang selamanya
Tuhan tolong buang rasa cintaku
jika tak Kau ijinkan aku bersamanya
Penggalan lirik lagu Apalah Arti Cinta dari grup band SHE adalah lagu yang ia bawakan kepadaku malam itu. Sebelum ia membawakan lagu tersebut sejujurnya aku tidak tahu bahwa lagu tersebut memang ada dan sempat mengira bahwa penggalan lirik serta melodinya adalah buah ciptaannya, aku serta merta tidak mengetahui lirik serta bagaimana cara lagu tersebut dinyanyikan akan tetapi entah mengapa aku juga ikut bernyanyi bersamanya. Ketika ia bernyanyi memang biasanya hal magis dapat terjadi.
Ia berkilah bahwa lagu tersebut mempunyai makna yang berhubungan dengan kami berdua namun aku tidak percaya sebab acapkali ia menyanyikan sesuatu sudah pasti ada maksud tersembunyi yang tidak ia katakan kepadaku dan biasanya akan terjawab di kemudian hari.
“Ngomong-ngomong seandainya gue udah ga ada lo bakal ngerasa gimana?” tanyanya ditengah obrolan dapat kurasakan atmosfir pembicaraan kami menjadi serius
“Ya pasti ngerasa kehilangan dan sedihlah” jawabku
“Kenapa, guekan cuma teman bayangan lo?” tanyanya lagi
“Lo mungkin emang teman bayangan tapi dibanding teman real gue, mungkin cuma lo yang lebih ngerti gue. Yah disisi lain gue masih ga ngerti kenapa tuhan memperkenalkan kita dengan cara yang absurd kaya gini, seriusan gue ga ngerti” kataku sembari mengernyitkan dahi
“Ya mungkin suatu saat akan terjawab makna semua ini” ucapnya. Aku mengangguk “Ya, who knowsra”
“Kalo lo sendiri gimana seandainya gue yang pergi?” tanyaku
“Jawaban gue kurang lebih sama kaya lo kok. Kalo lo pergi udah pasti gue bakal kangen kegiatan kita yang suka ngobrol ngalor ngidul sampe tengah malem, nyanyi bareng, banyolan kita, tingkah lo yang ngeselin dan ya gue pasti bakal kangen ketika dimanjain lo pas gue lagi sakit terutama suara ngorok lo yang dibuat kaya babi ternak demi buat gue ketawa hahaha”
“Oke nanti kalo kita udah ga berhubungan gue kirim aja yah babi ternak ke rumah biar lo bisa terhibur” sahutku, ia kembali tertawa
“Menurut gue lo unik ri and thats why gue takut kehilangan lo” ujarnya
“Ngomong-ngomong telponannya gue jeda dulu ya, gue ada urusan. Oh iyah jangan kemana-mana ya gue bakal nelpon lo lagi karena ada sesuatu yang mau gue omongin”
Sambungan telpon ia matikan, ruanganku kembali sunyi kemudian kuambil buku yang kugunakan untuk menungkan isi surat yang tadi Ara ucapkan. Kusobek lembar kertasnya dan kulipat serapih mungkin lalu kuselipkan di dompet loreng milikku bersama dengan foto dirinya yang sudah jauh-jauh hari aku cuci di percetakan.
Kurebahkan badanku kepada kasur yang pada masa itu masih sangat empuk dan tidak ada kawat yang mencuat keluar tidak seperti sekarang. Aku topang kepalaku dengan kedua tangan, tatapan mataku anteng menatap langit-langit kamar yang kembali berkabang dan cahaya lampu yang semakin temaram hari-kehari. Perlahan aku mulai memikirkan pertanyaan yang ia lontarkan via telpon tadi, pertanyaan yang sampai detik ini tidak aku sukai apabila temanya menyangkut tentang sebuah perpisahan.
Quote:
Jika ia pergi mungkin aku akan kembali berkarib dan berceloteh ria dengan teman setiaku yang bernama kesepian.
Suara nada dering ponsel sukses membangunkanku dari lamunan yang muram. Aku cabut chargeran ponselku sebab aku bosan untuk berbincang dibawah colokan. Kujawab panggilan masuknya, namun suaranya tidak seriang tadi. Ia menjadi serius dan aku tidak suka sebab seringkali keseriusannya membuatku bertanya-tanya.
“Hey sorry ya tadi kepotong, ngomong-ngomong kayanya kita gabisa telponan sampe larut nih karena gue masih ada urusan yang perlu dikelarin” ucapnya
“Oke gapapa. So, jadi hal apa yang mau lo omongin?” tanyaku langsung menuju topik bisa kudengar seketika ia menarik nafas panjang dan mendehem sebelum berbicara seakan terdapat sesuatu yang membuatnya ragu.
“Sejujurnya gue ga tau harus mulai darimana” ucapnya, aku semakin serius dan pikiranku semakin dipenuhi pertanyaan pertanyaan yang mengganggu.
“Apapun itu bilang aja ra, kan lo sendiri tadi yang bilang mau ngomongin sesuatu” kataku
“Emmmm........................”
“Mmmmmmmmm...........................................”
(Ia masih bergeming sedang aku tidak bertanya)
“Lo mau gak jadi pacar gue, walau lo sendiri ga pernah ketemu gue” ucapannya sontak membuatku memuntahkan kopi yang tengah kuseruput.
“Fak” umpatku spontan ketika mendapati air kopi menciprati ubin kamar dan baju
“Eh lo ngomong apa deh?” tanyanya usai mendengarkan umpatanku
“Gue gatau harus jawab apa ra” kataku, masih kuingat betul betapa bingung dan dilemanya diriku saat itu
“Kita tuh kenal udah lama tau. Udah dua tahun” ujarnya lagi meyakinkan. Aku mengernyitkan dahi, ragu untuk mengatakan sesuatu.
“Gimana?” tanyanya lagi, aku tarik nafasku dalam-dalam.
“Oke, tapi beneran deh ra ini cukup absurd buat gue cerna” kataku
“Gue sayang sama lo ri” ucapnya singkat namun dapat kurasakan apa yang ia ucapkan berasal dari hatinya. Ya, maaf apabila sok tahu namun kala itu memang seperti itulah penalaranku.
“Gue juga, Ara” balasku
Ia tertawa namun tidak kencang, walau tanpa bertatap muka dapat kurasakan rona kebahagiaannya. Setelah percakapan itu ia tidak banyak berkata-kata begitupun denganku.
“Okay, udahan dulu yah telponannya. Aku mau lanjut ke bawah buat selesain urusan” ucapnya, aku terbelalak ketika mendengarkan kata Aku.
“Ra. Ini langsung pake aku kamu?” tanyaku gelagapan
“Yaiyalah, kan kita udah pacaran” jawabnya
“Ooo.....okeeyyyy” ucapku yang masih berusaha mencerna ke-absurd-an ini
“Yaudah kita lanjut besok yah. Aku udah dipanggil sama mamah. I love you, muachhhh”
Sambungan telpon kembali ia matikan dan meninggalkanku yang tengah dilanda kebingungan. Bagaimana bisa manusia menjalin suatu hubungan khusus tanpa bertatap muka? Aku tak habis pikir bagaimana hubungan ini kedepannya. Walau bagaimanapun memang beginilah kisah yang pernah kualami dan kucoba tulis dengan apa adanya.
To be continued....
Diubah oleh fachreal5 18-01-2019 21:56
axxis2sixx dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas