alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
05-01-2019 17:40
AKU SUCI (True Story 17+)
AKU SUCI (True Story 17+)
Broken Home. Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kalian ya, jujur saja gua baru beberapa tahun lalu tau istilah ini. Kata itu mungkin paling dibenci oleh semua orang, termasuk diriku yg sudah merasakan dan mengalami hal itu. Yah semua orang tidak ada yg menginginkan hal itu, karena kita semua menginginkan yg terbaik untuk keluarga kita. Bukan begitu?

Pacaran sama kaka tiri, nemenin tidur kaka tiri. Dulu gua hanya baca hal kaya gitu di cerita-cerita dewasa yg kemungkinan besar juga fake/palsu. Tapi sekarang semua itu terjadi di kehidupan nyata. Dan gua sekarang melihat hal itu sangat biasa atau tidak aneh. Berbeda dengan dulu yg membaca ceritanya saja keringet bercucuran sampai celana basah dan napas ga beraturan (apaan sih? emoticon-Hammer )

Sebelumnya perkenalkan nama aku Dika umur sekarang 20 tahun. Enakan aku atau gua sih bahasanya? Gua aja kali ya? Oke deh!.

Sebenernya gua asli Jawa tapi karena sudah lama di Ibu Kota Jadi sudah terbiasa pake Bahasa Indonesia tapi bagusnya tidak sedikitpun bahasa Jawa gua hilang atau gua lupakan karena asal usul memang kudu selalu dijaga dan diingat. Gua udah lumayan lama liat2 cerita di forum ini khususnya curhatan orang2 di hth dan jadi tertarik sama forum hth & sfth karena tidak sengaja waktu itu lagi nyari2 cerita horor di google dan nyasar masuk ke forum ini jadi tau ada tempat untuk mencurahkan isi hati atau pengalaman unik kaya hth & sfth ini dan bagusnya daftar kaskus gampang ga ribet tanpa perlu ktp kk (dikira mau kredit motor kali emoticon-Big Grin).

Mohon ijin buat belajar nulis pengamalan hidup disini, kalo berantakan dan kurang dipahami tulisanya atau ada salah tempat mohon dikritik dan luruskan ya karena memang gua belum terlalu paham dengan fitur2 kaskus. Sebelumnya terimakasih dan happy reading gan/sis emoticon-Smilie
AKU SUCI (True Story 17+)


PART 1

Quote:Kampung Yang Asri

Suara burung berkicau menandakan fajar, sangat indah burung itu bersautan terdengar. Di halaman depan rumah juga terdengar sapu lidi bergesekan degan tanah. Yah itu suara ibu sedang membersihkan halaman depan, rutinitas yg selalu dilakukan setiap pagi oleh ibuku setelah selesai memasak sarapan. Kebetulan hari ini adalah hari minggu dimana banyak acara seru dan favorit tayang di tv. Bapak aku lihat sudah tidak ada mungkin sudah berangkat ke sawah untuk melihat padi yang hampir siap dipanen. Hari ini ibu mengajaku ke kebun untuk memetik tomat dan cabe yang sudah memerah, itu adalah hal yang paling aku sukai ketika libur sekolah, membantu ibu dan bapak memetik tomat dan terkadang aku menemukan beberapa jenis buah di kebunku yang sudah matang di pohon dan mengambilnya dengan antusias.

"Hati-hati manjatnya nak.."
"Nggih bu ini hati-hati.."

Akupun memanjatnya dan medapatkan 3 buah jambu klutuk atau biji yang sudah matang dan bergegas turun. Aku benar-benar bahagia dengan kehidupanku yg serdehana ini, rumah yang dikelilingi pohon mangga, kelapa juga nangka dan ada sungai kecil juga yang mengalir didepan rumah mengairi sawah-sawah di samping rumahku.

Sampai suatu ketika ibu menerima tawaran bekerja dikota, bapak dan aku benar-benar merasa keberatan karena semua pasti akan berubah apabila ibu bekerja keluar kota karena tidak ada yg mengurus rumah dan lainya. Tapi tekad ibu sudah bulat memutuskan untuk menerima tawaran itu dan bapak pun mengizinkannya meskipun dengan gestur berat hati.

**Stasiun

Pukul 3 sore aku, ibu dan bapak sampai di stasiun kereta. Hari ini adalah keberangkat ibu ke kota untuk bekerja, dengan berat hati aku melepaskan pelukan ibuku.

"Ibu berangkat dulu ya nak, jangan nakal dirumah nurut sama bapak ya dan harus bisa bangun pagi sendiri mulai besok.. nanti kalo butuh apa2 kabari ibu aja ya.. ibu berangkat dulu.." ucap ibu sambil mengecup kening dan pipiku.

Setelah berpamit denganku dan bapak ibu masuk kedalam gerbong kereta dengan mata yang berkaca-kaca melihatku menangis tidak rela melihat kepergian ibu ke kota. Bapak disampingku mengusap-usap kepalaku dan berjanji akan membelikanku bola sepak baru sepulang dari sini. Aku sedikit terhibur dengan tawaran itu. Kereta pun berangkat ibu melambaikan tangan dari dalamnya, perlahan-lahan ibu menjauh dan tak terlihat dari pandanganku. Memang dari kecil aku tidak bisa jauh dengan ibu paling jauh ibu pergi belanja kepasar itupun aku bawel bertanya berapa lama dan kapan pulang secara terus-menerus.

"Ayo pulang le.."
"Dika boleh nyusul ibu ga pak?"
"Boleh, tapi nanti kalo kamu sudah lulus sekolah dan siap kerja, makanya belajar yg bener ya kamu biar bisa kerja sesuai yg kamu mau di kota. Ayo pulang udah sore nanti keburu tutup toko bolanya.."

Aku hanya mengangguk dan berulang kali melihat ke arah peron berharap kereta yg dinaiki ibu kembali lagi, tapi hal itu tidak mungkin terjadi.

**
Hari ini pertama kalinya aku dan bapak menjalani hidup tanpa ibu, biasanya pagi hari ada yg menyiapkan seragam sekolah dan sarapan tapi kali ini aku harus mempersiapkan itu sendiri dibantu bapak yg terlihat sangat tegar tidak sepertiku.

"Itu bapak sudah buatin ubi rebus buat bekel uang jajan kamu biasa di meja tv ya le, bapak mau ke kelurahan dulu"
"Iya pak, hati-hati ya pak.."

Bapak pergi bekerja dengan menggunakan motor tua kesayangannya. Sedangkan aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena memang jarak rumah ke sekolahku sangat dekat. Kebetulan aku anak satu-satunya dikeluarga ini jadi tidak ada adik atau kaka yg menemaniku.

Hari terus berlalu dan berganti, ibu sudah 3 bulan lebih bekerja dikota aku benar-benar merindukan sosoknya yg sangat membantuku dan benar-benar menjadi ibu yg sempurna untuku. Kali ini peran ibu sudah digantikan oleh bapak, beliau beperan sebagai kepala keluarga juga sekaligus sebagai ibu untuku dan dia juga sangat menyayangiku seperti ibu.

Hari ini sepulang sekolah aku sangat bahagia karena ada tukang pos mengantar paket dari ibu untuku. Saat aku buka ternyata isinya dua buah sepatu yg terlihat untuku dan bapak dan juga ada sebuah handphone keluaran terbaru yg sudah bisa kamera dan mp3, dimana hanya baru beberapa orang saja yg sudah memiliki handphone seperti itu disini karena memang dijaman itu harganya lumayan mahal.

**
Bulan terus berganti, ibu yg biasanya selalu menelepon dan memberi kabar setiap 3 hari sekali tapi 3 bulan kebelakang sudah jarang memberi kabar kepadaku dan bapak. Dan yg membuatku bingung sekalinya ibu menelpon bapak, selalu saja mereka bertengkar ditelepon, entah karena apa mereka seperti itu yg pasti aku sangat terpukul karena baru kali ini aku melihat bapak semarah itu kepada ibu. Aku benar-benar merasa semua sudah berubah dan tidak seindah dulu.

**
Hari ini ibu pulang dari kota, tapi entah kenapa suasana dirumah tidak seperti yg aku inginkan, lagi-lagi bapak dan ibu bertengkar dan kali ini lebih hebat sampai2 piring dan gelas pecah terlempar dan hampir melukai bapak. Aku hanya bisa berteriak "stop.. stop.. malu didengar tetangga"

"Aku mau kita pisah mas..." suara ibu berteriak

Aku yg mendengar itu hanya terdiam lemas dan tidak menyangka ibu yg selama ini aku hormati dan sayangi bisa mengeluarkan kata2 seperti itu, aku merasa ibu sudah benar-benar berubah.

"Yowis kalo itu maumu aku gabisa melarang, semoga kamu bahagia karo sing anyar.. Gusti Allah mboten sare aku ikhlas.." Bapak menjawabnya dengan tenang dan tersenyum.

Aku lagi2 hanya bisa terdiam semakin bingung dengan apa yg sedang terjadi, bapak menyuruhku masuk ke kamar sedangkan ibu merapihkan baju ke koper dan bergegas pergi tanpa aku bisa mencegahnya.

Apa ini yg kala itu bapak khawatirkan sehingga beliau tidak langsung mengijinkan ketika ibu mau bekerja dikota. Aku melihat bapak begitu tegar tapi aku yakin hatinya sangat kecewa dengan yg sudah terjadi. Perpisahan yg selama ini aku tidak pernah pikirkan hari ini terjadi dan terucap dari mulut kedua orang tua yg aku sangat sayangi.

"(Tok tok tok..) le tidur ya?"
"Belum pak masuk aja"
"Bapak mau ada yg diomongin sama Dika.." ucap beliau masuk

"Dika kan cowok udah gede udah mau masuk sma jadi pasti Dika tau mana yg baik dan buruk, ibu udah punya pilihan sendiri dan besar kemungkinan bapak gabisa ngurusin kamu lagi le jadi bapak mau pesan dengan siapapun kamu tinggal nanti tetep jadi anak yg baik dan berbakti sama orang tua ya.."

Ucap Bapak dengan wajah yg begitu kuat, aku mulai paham dengan apa yg sudah terjadi. Aku hanya bisa memeluk Bapak tanpa bisa berkata apa-apa.
Hari berganti tetangga sekitar sudah tau semua dengan apa yg terjadi dikeluargaku apalagi hidup di kampung yg orangnya sangat care dan selalu mau tau dengan apa yg terjadi di sekitarnya. Bapak belakangan ini juga banyak diam dan banyak menghabiskan waktu di masjid.

Seorang pengacara datang kerumahku dengan membawa sebuah surat dan bertemu dengan bapak.

"Sudah resmi ya pak, silahkan bapak baca dan tanda tangan disini. Hak asuh dimenangkan pihak perempuan ya pak.."

Kurang lebih seperti itu yg aku dengar dari obrolan mereka diruang tamu. Rasanya seperti mimpi, beberapa bulan yg lalu kami bertiga masih bercanda bersama tapi hari ini semuanya sudah berubah. Coba saja ya waktu itu ibu ga nerima tawaran itu pasti ini semua tidak akan terjadi. Andai waktu bisa diputar pasti aku bisa mencegahnya agar semua baik-baik saja. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Pengacara itupun bergegas pergi setelah menghabiskan teh di gelas. Bapak hanya terdiam melihat surat itu.

"Pak.. boleh Dika baca surat itu?"
"Eh kamu le, tolong beliin bapak obat sakit kepala sama koyo ya ke warung depan.." ucap bapak mengalihkan ucapanku

Saat berjalan ke warung hampir saja aku menginjak ular berwarna hitam putih yg sedang bersembunyi dibalik dedaunan, refleks aku menyebut nama Tuhan dan mengusir ular itu dengan kayu.

"Kamu yg sabar ya dik, semua orang yg hidup pasti ada cobaan dan kali ini keluarga kamu yg lagi di uji seperti ini.. tetep jadi anak yg baik ya" ucap tetanggaku atau pemilik warung
"Nggih bu.. matursuwun sanget.." jawabku sambil memberikan uang

Sampainya di rumah aku melihat bapak sedang mengemas barang-barang dan bajunya.

"Loh bapak mau kemana?"
"Besok bapak ijin pulang ke rumah mbah ya le, bapak udah ga ada hak tinggal disini lagi.. Lusa ibu kamu dateng jadi besok kamu dirumah bude dulu ya.."
"Kalo gitu Dika ikut bapak aja daripada ikut ibu"
"Lee.. kalo kamu ikut bapak nanti bapak salah. Inget pesen bapak kemarin toh, harus nurut dan tetep jadi anak baik ya dimanapun dan sama siapapun kamu tinggal nanti.."
"Tapi pak.."
"Kamu nanti kapan aja bisa ketemu bapak dan boleh main ke rumah mbah.. saiki kamu turu sesuk sekolah.. nurut yo.."

Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Malam ini mataku susah untuk dipejamkan mengingat masa-masa indah yg dulu terbangun di keluarga ini sudah hancur karena orang ketiga. Ibu yg aku sangat hormati telah melalukan kesalahan dengan menyakiti bapak yg sudah mati2an menjaga keluarga ini. Siapapun laki2 itu aku bakal membuat perhitungan kepadanya.
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
die31 dan 126 lainnya memberi reputasi
119
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
05-01-2019 17:57
PART 2

Dua tahun sudah berlalu, rumah yg dari bayi aku tinggali sudah kosong tidak ada yg menempati dan semakin tidak terawat. Ya semenjak perpisahan orang tuaku aku tinggal bersama bude dan menolak ikut dengan ibu ke kota, dan aku sudah 1 tahun tidak bertemu dengan bapak. Aku sangat berharap bisa bertemu dengan beliau, tetapi sampai saat ini nomernya tidak aktif terkahir bapak kasih kabar 3 bulan yg lalu. Bisa saja aku pergi ke rumah mbah tapi jaraknya lumayan jauh berada di kabupaten sebelah jadi aku selalu tidak di ijinkan pergi kesana, atau mungkin karena ibuku melarangku bertemu dengan bapak? Jadi bude selalu tidak memberi ijin kepadaku pergi ke rumah mbah. Apabila itu benar aku tidak habis pikir.

"Dika tangi iku ene temenmu neng ngarep.." suara bude memanggilku karena ada temenku di depan rumah

Ternyata Fera temen sekelasku, atau lebih tepatnya cewek yg sekarang sangat dekat denganku tapi tanpa status (digantung emoticon-Hammer). Singkat tentang Fera, dia osis di smk tempatku bersekolah, badanya paling tinggi diantara cewek lain di kelasku dengan bodi yg bisa dibilang bagus atau menarik bagi cowok2 dan pipinya itu loh lumayan enak kalo diremas eh maksudnya dicubit. Dan kalo dia senyum satpam sekolah pun luluh olehnya, yah bisa dibilang dia cewek unggulan di sekolah, sangat beruntung memang cowok yg sering masuk ruang bp kaya aku bisa dekat denganya.

"Eh kamu ra tumben kesini?" Tanyaku ke Fera
"Mau nengokin kamu, tadi anak2 bilang kamu sakit jadi gamasuk sekolah.."
"Rada meriang aja badanku ra.. kamu sendiri aja?"
"Oh gtu.. iya sendiri.."
"Yaudah sini masuk, nanti item lagi diluar situ terus.."
"Makasih.."
"Puasa ga?" Tanyaku kepadanya
"Lagi merah jadi engga hehe.."
"Kalo aku lagi S jadi engga juga emoticon-Big Grin"
"Kamu emang kapan sih puasa, istirahat aja nyari jajan bukanya ngaji emoticon-Stick Out Tongue"
"Sssst.. jangan keras2 nanti kedengeran budeku"
"Ehh.. hehe maaf"

Setelah membuatkan minum aku kembali ke gazebo tua yg ada disamping rumah dan melihat Fera sedang asik dengan novel yg ia bawa.

"Wah novel baru tuh.." ucapku mengagetkanya
"Tau aja sih kamu, iya ini oleh-oleh dari Bapak yg kemarin baru pulang dari Jogja.."
"Orang harganya masih nempel emoticon-Big Grin Tentang apa tuh?"
"Aih jadi malu, Cinta yg tergantung.."
"Eheemm.. pas banget sih.." ledeku ke Fera

Dia hanya tersenyum malu, yah mungkin dia merasa menggantungku. Sudah 1 bulan lebih aku mengungkapkan rasa kepadanya tapi masih belum ia jawab juga, ya meskipun aku kala itu memberikan kelonggaran kapan saja dia siap dan ga perlu buru2 untuk menjawabnya, tapi gataunya dia terlalu santai dan sampai saat ini nothing jawaban emoticon-Hammer

"Mau jalan2 sore ga sekalian ngabuburit?" Ajaku ke Fera
"Kan lagi sakit kamunya, lagian kaya puasa aja ngabuburit" jawabnya menjulurkan lidah
"Mau ga nih?"
"Iya mau.."
"Sok jual mahal ya sama cowok ganteng"
"Ih pede banget ya.."
"Haha.. fakta jangan ditutup-tutupi lah.."
"Gelueh da.." jawabnya menjulurkan lidah lagi (untung lagi puasa emoticon-Hammer)

Sepanjang jalan hamparan sawah yg luas berwarna kekuningan menjadi pemandangan indah di sore yg cerah ini. Dibelakang Fera bernyanyi pelan dengan tangan masuk ke kantong sweaterku. Oh iya Fera itu asli Sunda yg pindah ke desa sebelah dan masuk ke sekolahku jadi bahasa jawa dia masih belum begitu fasih terkadang aku suka tertawa geli ketika dia salah mengucapkan kata dalam bahasa jawa yg membuat kalimatnya menjadi ambigu. Disekolah kita sering belajar bahasa Sunda dan Jawa bersama, dia mengajariku Sunda sedangkan aku sebaliknya. Anak2 disekolahku taunya kita pacaran, padahal boro2 pacaran dijawab aja belum ungkapan isi hatiku (dukun bantu aku dukun emoticon-Hammer)

"Itu pohon tomat ya?" Tanya Fera sambil menunjuk ke arah pematang sawah
"Bukan tapi semangka.."
"Ih itu tomat.."
"Udah tau nanya.."
"Ih dia mah.." jawabnya sambil mencubit perutku
"Sakit taooo.. maneh mah.."
"Lagian si!! hayang metik tomat dong.." ucapnya memasang wajah memohon yg membuat tanganku gemas melihat pipinya (remes jangan remes jangan emoticon-Genit)
"Nanti beberapa ratus meter kedepan aja disana lebih lengkap ada cabe, tomat, sama timun.."
"Dimarahin yg punya ga?"
"Bebas.."
"Asiiikkk.." teriaknya histeris yg membuat motor goyang kaya odong2 anak2 naik turun

Sampainya di tempat yg aku maksud Fera langsung turun dan sangat semangat melihat pohon tomat dan timun yg sangat lebat buahnya. Tidak jauh berbeda sawah dan kebun ini, ucapku lirih. Dahulu di hari minggu aku selalu semangat saat diajak ibu dan bapak ke sini, hari ini semua itu hanya menyisakan kenangan, kenangan yg tidak mungkin bisa terulang kembali.

"Dika.. liat!" Fera menunjukan timun yg sangat besar
"Ah masih gedean punyaku.."
"Mesum deh Dika mah.."
"Apaan hih, nih liat maksudku ini.. emoticon-Big Grin" jawabku sambil menunjukan timun didepanku yg masih menggantung di pohon
"Ehh kirain hehe.."
"Dasar 😂 ambil yg banyak ra buat mamah kamu dirumah.."
"Gapapa emang?"
"Iya gapapa ambil aja sok.."

Selesai memetik tomat dan timun lumayan banyak kami bergegas pulang karena hari sudah sore.
Quote:Fera : Dika aku mau ngomong sesuatu boleh?"
Me : silahkan ra aku pelanin nih motornya biar kedengeran.."
Fera : aku mau.."
Me : mau apa? Es buah?"
Fera : bukan!
Me : terus naon atuh neng?
Fera : aku gelem dadi pacarmu (tumben nih bahasa jawanya bener 😂)
Me : serius? Bercanda ga nih? Atau kepaksa lagi gara2 tadi aku sindir emoticon-Nohope"
Fera : aku serius, aku juga nyaman dan tresno awakmu"

Aku langsung menghentikan motor dan berteriak "yeahh akhirnya inyong ora jomblo lagi maaakkkk.." ke arah sawah kaya orang gila. Fera hanya tertawa dan menutup wajahnya karena malu diliatin orang2 yg lewat. Akhirnya penantian panjangku berkahir sudah.

"Makasih ra, jadi malam takbiran ada yg nemenin aku takbir keliling.." ucapku menyubit pipinya menandai bahwa sudah sah dia menjadi pacarku.
"Oooohh.. jadi nembak aku hanya karena buat nemenin malam takbiran doang.." jawabnya dengan memasang wajah judes
"Eit tidak atuh, karena memang aku cintaaaaa sangat ka anjeun.." jawabku sedikit mendrama (reader : alay ieeuhh emoticon-Busa emoticon-Ngakak (S))

Fera hanya tertawa geli, hari sudah sore kami melanjutkan perjalanan pulang, bude juga sudah menelponiku terus2an tidak seperti biasanya. Laju motor aku percepat tangan halusnya Fera lagi2 masuk ke kantong sweater bukan melingkar ke pinggulku (iyalah puasa2 bukan mukhrim woyy emoticon-Hammer)

Sampainya dirumah terlihat mobil berplat B terparkir di depan rumah bude. Sepertinya aku tidak asing dengan mobil itu, benar saja ternyata ibu pulang bersama suami dan anak tirinya.
Quote:Ibu : Dika dari mana kamu nak katanya lagi sakit ko main?
Me : biasa ngabuburit bu, kenalin nih Fera temen Dika bu
Fera : Fera bu
Ibu : iyah, sini masuk dulu nak sama Dika
Fera : gausah bu aku langsung aja soalnya udah mau maghrib
Ibu : yaudah hati2 ya dijalanya nak
Fera : iya bu, Dika makasih ya buat ini
Me : you're welcome dear (jawabku sambil mengedipkan mata)
Ibu : yee anak ibu udah mulai nakal ya (ibu menjewerku)
Me : bercanda bu, pulang sama siapa aja?
Ibu : Ayah sama kaka kamu, kaka kamu pengin ketemu kamu sekalian lebaran dan liburan disini, sana masuk ke dalem salim
Me : oh si om itu
Ibu : panggil ayah
Me : om..
Ibu : Dikaaa!!
Me : OM!!!

Akupun masuk kedalam, benar saja sudah ada laki2 yg aku benci dan perempuan muda seumuranku.

"Abis ngabuburit kamu dik?" Tanya ayah tiriku
"Iya om.." jawabku sengaja mengeraskan suara
"Dika yg sopan.." ucap Ibu
"Udah gapapa.." ayah tiriku menimpali
"Salim sama ayah dan kaka kamu dong nak.." ibu memaksaku

Terpaksa akupun salim dengan dua orang asing yg sekarang manjadi bagian keluargaku. Lebih tepatnya keluarga mamah, karena sampe detik ini aku memang tidak bisa menerima mereka apalagi sampe manggil laki2 itu ayah. Itu sangat tidak mungkin karena bagiku hanya ada satu sosok kepala keluarga untuku yaitu Bapak!.

"Dinda emoticon-Smilie" ucap anak perempuan yg sudah jadi kakak tiriku ku ini
"Dika" jawabku singkat

Terlihat sangat jauh berbeda memang cewek kota dengan desa. Yah gua akui Dinda memang cantik dan banyak kelebihnya sejauh ini terlihat dimataku, tapi untuk saat ini aku tidak tertarik denganya malahan aku lebih tertarik dan fokus ke laki2 disampingnya atau ayahnya.

Quote:Pura2 bikinin kopi buat laki2 breng**k ini terus aku kasih racun tikus yg ada di gudang kayaknya ide bagus jga nih, biar tau rasa laki2 perusak kebahagiaan keluargaku ini. Terlintas sebuah ide jahat dari otakku.




Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chamak21 dan 39 lainnya memberi reputasi
38
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
akhir-penantian
Stories from the Heart
long-lost-love
Stories from the Heart
milk--mocha
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.