TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.1K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#41
Quote:

saya sedikit punya pengetahuan tentang STIFIn sebagai sebuah tools untuk memahami manusia, dengan mengenali belahan otak dominannya.
Intinya, dari mengetahui otak dominannya kita bisa tau cara berpikirnya, mengambil keputusan, selera warna, rasa dan lainnya. Termasuk juga jalur suksesnya, bisnis yang tepat untuknya, cara mengelola bisnis yang enjoy dan teman yang pas mendukung suksesnya…..multi angle field.
Jadi, kalau malam ini saya akan bicara tentang Personal Branding berbasis genetik, artinya personal branding yang berbasis otak dominan kita yang secara genetik kita bawa dari sononya.
Saya remind sedikit tentang 5 jenis Mesin Kecerdasan versi STIFIn, karena sebagian besar alumni #BisaBikinBrand sudah tes STIFIn:
(S) Sensing, (T) Thinking, (I) Intuiting, (F) Feeling, (In) Instinct
Jadi, Mesin kecerdasan ada 5: S, T, I F, dan In, jika kita tambahkan driver nya (nitrovert/ekstrovert) menjadi 9 (Si, Se, Ti, Te, Ii, Ie, Fi, Fe dan In)






Saya tidak mengulas apa itu STIFIn lebih dalam, tapi tentang cara menggunakan informasi setelahnya.
“If opportunity doesn’t come knocking at your door, build a brand”
Nah! Diskusi ini untuk kita yang masih mencari-cari jalur suksesnya, masih sering galau, pindah-pindah kerja, gonta ganti bisnis, sehingga semakin susah orang mengenalinya.
Kamu tuh siapa ?
Orang tidak mungkin memberikan kepercayaan kepada yang tak dikenal.
Karena ‘brand’ adalah NAMA + MAKNA
Personal Brand bagi diri kita, sama juga, Nama (diri kita) + Makna (bagi orang lain)
Nama kita sudah diberikan oleh ortu kita masing2,
atau ada yg mau ganti nama ??


Berikutnya tinggal mencari ‘makna’ yang didampingkan dengan nama kita.
Cuma masalahnya, ‘makna’ bukan kita yang memberi, tapi orang lain. Tugas kita mengarahkan ke sana.
Di dunia yang semakin sempit, karena dilipatnya jarak oleh internet. Kita tidak lagi berinteraksi dengan hanya orang sekampung.
Satu orang bisa berinteraksi dengan seratus ribu orang lebih sehari, contoh grup kita ini saja sudah 5000 member, berapa grup kita ikuti ???
Dengan sosmed sekarang ini, semua orang ingin berbicara,
CROWD !
Bagaimana kita dikenali dari kerumunan, dan orang lain merasa dekat dan percaya kepada kita ?
Tentu dengan membangun brand.

“Branding is the art of becoming knowable, likeable and trustable”
Lalu, bagaimana caranya ???😞
Banyak teori personal branding, yang berorientasi kepada topeng, atau menurut istilah kontributor, Self Packaging. Sebagian menggunakan modelling: temukan tokoh yang anda ingin tiru, pelajari yang dia pelajari, lakukan apa yang dia lakukan.
Setelah itu, energi kita habis...atau bosan di tengah jalan, atau orang tetap meragukan,

Untuk langkah membangun personal brand, coba teman2 lihat di Branding Canvas ini. Produk diletakkan di nomor 1. produknya adalah diri kita.
Maka langkah pertama adalah mengenali betul diri kita (sebagai produk), mengenali keUNIKan diri kita dibanding orang lain (competitor). Mengenali diri, kekuatan dan kelemahannya.
Secara genetik (DNA), kita memang diciptakan sangat unik.
Dengan pendekatan STRATA GENETIKA ini saja, banyak layer personality kita.

Dari sekian banyak manusia, tidak sama. Ada laki2 ada perempuan,
Dari semua laki2 tidak sama, karena ada laki2 yang Thinking ada lainnya
Dari semua laki2 thinking tidak sama, ada yang Thingking introvert ada ekstrovert.
Dari semua laki2 #Ti tidak sama, ada Ti yang IQ-nya tinggi ada yang sedang
Dari semua laki2 Ti yang ber-IQ tinggi tidak sama, ada yang golongan darahnya A ada lainnya.
Dari ini saja sudah terpilah keunikan kita. Belum lagi secara fisik: tinggi, paras, warna kulit, dll. Ditambah lagi identitas: ras, suku. Ini semua genetik, bawaan, sejak lahir. Ada yang diturunkan ortu, ada yg beda dengan ortu.
Ini harus benar2 kita eksplorasi dan kenali. Inilah modal kita, yang kita dibekali oleh Tuhan
Maka, saya sejalan dengan madzhab branding kontributor disini, dimana langkah PERTAMA adalah mengenali kekuatan produk, sampai ke kedalaman DNA
Konsep STIFIn, membaca personal brand DNA ini, nanti akan mengkonfirmasi TALENT + PASSION

Tahapan dalam membangun Personal Brand, saya sederhanakan sebagai berikut: KENALI, OPTIMASI, KOMPETENSI, KOMUNIKASI, REPUTASI
KENALI, kenali DNA kita. Ada banyak tools, tapi saya rekomendasikan STIFIn. karena lebih akurat dan simple.
Pastikan kita memahami betul personality kita, kekuatannya dan kelemahannya
OPTIMASI, setelah mengenali kekuatan dan kelemahan, FOKUSlah pada kekuatan, optimalkan, latih, kembangkan.
Bagaimana kelemahan kita ??? jika kekuatan yang kita tumbuhkan, kelemahan tidak relevan
Sejak dari MENGENALI ini, brand kita sudah bisa diarahkan
Yang sudah tes, bisa lihat di belakang sertifikatnya atau di buku keterangan hasil tes, silakan lihat PERANAN
S = player/frontliner, T = expert/chief, I = Initiator/Reformer, F = Leader/Owner, In = Partner
OPTIMASI berarti melatih otot Peranan tersebut. Karena nanti brand kita akan dipersepsikan berdasar kehebatan kita
Sejak saat ini, boleh kita lihat ARAH MEREK di bawahnya
Berikutnya, VALUE ADDED dengan KOMPETENSI
Ya, tambahkan kompetensi dengan bersekolah/kuliah, kursus, ikut workshop atau belajar yang membuat anda unggul di jalur tersebut. Silakan lihat 'SEKOLAH menuju karir di INDUSTRI'
juga SEKOLAH menuju PROFESI
Ini contoh, untuk saya yang Feeling introvert
Setelah tergembleng dengan OPTIMASI POTENSI dan DITAMBAHKAN KOMPETENSI, diri kita telah siap keluar dari kawah candra-dimuka
KOMUNIKASIKAN, bangun chanel on-line maupun off-line, masuklah ke KOMUNITAS yang tepat
Layani orang, dengan KEHEBATAN kita terus menerus. Konsiten dan nikmati
Sampai terbentuk REPUTASI kita. Biarkan orang yang menceritakan tentang kehebatan kita
'You earn REPUTATION bu trying to do hard things well'
Balik lagi ke Om Bezos, "Your BRAND is what people say about you, when you're not in the room"
Begitu kira2 proses terbentuknya personal brand kita.
Q:
apakah kita perlu melakukan branding menjadi A, padahal orang sudah "menilai" branding kita adalah B?
sebagai contoh kontributor kita sering mengatakan, beliau sering disebut orang Pakar Branding, padahal menurut beliau, Praktisi Branding.
apakah ia perlu melakukan "pembenahan" branding agar sesuai keingingan/fakta bahwa sebenarnya beliau adalah praktisi branding, bukan pakar branding
A:
Balik lagi, BRAND bukan apa yang kita katakan, tapi yang orang katakan terhadap kita
Makanya, saya tidak se-madzhab dengan aliran topeng. Yang langsung membuat 'sebutan' untuk dirinya sendiri.
1' KENALI, Kontributor kita secara STIFIn ber-mesin Thinking introvert, PERANAN: expert, ARAH MEREK: pada kepakarannya
Berikutnya, beliau MENGOPTIMASI dan menambahkan KOMPETENSInya dengan belajar (dengan bekerja) langsung dengan praktisi branding dari luar negeri. Terus menerus konsisten sampai menjadi 'Teko Tua' dengan residu yang bisa kita nikmati sebagai REPUTASI
itu kira2, jadi kerja kita mengarahkan orang lain untuk meMAKNAI nama kita, sesuai yang kita inginkan
Baik, yang paling atas. Jenis Kelamin, membedakan personality, jadi laki-laki dan perempuan jelas berbeda cara berfikir, memandang sesuatu, dll. Makanya, masing2 ada peran yang berbeda
Kalau kita lihat ini, laki-laki cenderung seperti otak atas: T dan I, yang logis dan visioner. sedangkan perempuan seperti otak bawah: S dan F, pekerja keras dan penuh kasih sayang
A:
Mesin kecerdasan saya Intuiting Extrovert dan talents kuat saya di communication dan ideation ( hasil test Talents Mapping) itu bakat saya yg merah alias extraordinary ..saya nyemplung di eo utk corporate dan mall, krn personal branding saya lebih kuat dari brand eo saya ...sehingga saya sampai2 belum buat web eo nya ( padahal PT sdh berjalan) ..mohon masuka apakah saya harus buat web eo utk lebih menguatkan brand atau cukup word of mouth saja ??? Terimakasih coach imam ...salam sukses dan salam pembelajar 😉
A:
Kalau Ssudah selesai 'di dalam' KENALI - OPTIMASI - KOMPETENSI, selanjutnya ke luar KOMUNIKASI. buat channel online maupun offline, termasuk website yang tentu menguatkan citra intuiting yang gak mati gaya. jangan yang biasa-biasa. yang artistik - futuristik sehingga makin solid brand, mbak Nurul sebagai EO atau mengembangkan bisnis yang satu line
Q:
mesin kecerdasan saya Se, spontanitas dan pengen eksekusi. Dan pasangan saya Te, jadi ketika saya ingin eksekusi peluang bisnis sering terjadi kendala... Apakah ini normal atau da solusi lain...
A:
memang T penuh perhitungan, tapi bagi sensing, eksekusinya akan hebat dengan perhitungan dari T. Memang kalau dalam 'nilai' di rumah tangga sepertinya suami harusnya yg memutuskan, tapi jika bisnis bersama maka gunakan pertimbangan T.
Q:
Mas Imam Zamroni boleh nanya? Saya kagum dengan graphic Membangun Personal Brandnya. Seperti yng tertera pada Brand Canvas saya. Yg terpenting dan gak boleh salah adalah DNA (kompetensi) - Core Value (reputasi) - Added Value (Positioning for New Category). Sekian pertanyan saya
A:
bisa kita gunakan untuk menajamkan DNA kita, ketika kita masuk ke kompetisi. Kalau definitif kompetitor kita dalam memasuki industri tertentu, kita harus tajamkan sampai personal Brand kita menjadi new category, belum pernah ada. yang bahkan bisa menciptakan barier to entry, agar orang lain tak bisa masuk ke kategory tersebut.
Jadi seandainya Anda mati, nggak ada lagi orang yang seperti Anda. Anda akan jadi MAESTRO !
Diubah oleh ibliss666 03-01-2019 10:50
0
Kutip
Balas