- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
...
TS
memedruhimat
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
Quote:
Spoiler for cover:
Quote:
Quote:
Diubah oleh memedruhimat 01-08-2025 14:04
bukhorigan dan 25 lainnya memberi reputasi
26
48.5K
176
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
memedruhimat
#64
Quote:
Nggak tau kenapa, tapi gue merasa ada yang nggak beres dengan Puspa. Pokoknya dia kayak nggak seperti biasanya gue kenal gimana dia.
Gue melihat dia berjalan dengan langkah yang lemah, ekspresi wajahnya tampak seperti orang yang sedang kelelahan luar biasa, tatapan matanya terlihat layu dan berat. Ngapain dia di gedung fakultas Teknik? Apakah selama ini dia menghilang itu karena dia berada di gedung tersebut? Tapi nggak mengherankan sih kalo cowoknya mungkin anak fakultas sana.
Pikiran-pikiran aneh bermunculan di kepala gue.
Gue pernah mendengar desas-desus, kalangan mahasiswa udah banyak yang bergosip. Fakultas Teknik di Gedung Kelautan itu tempatnya sangat sepi, karena mahasiswa Teknik Kelautan dan Perkapalan adalah mahasiswa yang paling sedikit jumlahnya di kampus kami. Bahkan lantai empat nyaris nggak pernah dipakai buat kuliah, jadi gedung 4 lantai di Kelautan itu bisa dibilang pemborosan. Banyak desas-desus yang bilang kalau kelas-kelas sepi di gedung itu... suka dipakai untuk...
Ah... gue ga berani melanjutkan... takut berpikir yang tidak-tidak. Karena gue sendiri belum pernah masuk sampai ke dalam sana.
Puspa semakin mendekat dan otomatis kami pun jadi berpapasan.
Tampangnya langsung kayak orang kaget seperti baru saja terkena serangan jantung begitu melihat gue. Matanya melotot, dan mulutnya nganga terbuka lebar. Ekspresinya spontan kayak abis ke-gep melakukan sesuatu.
"Eh, Ari!" ucapannya seperti tersendat di tenggorokan.
"Eh, hai Pa... kamu kenapa?" tanya gue.
"Emangnya aku kenapa? Aku... eng-- nggak... kenapa-kenapa... koq." dia jawab dengan aneh dan terbata-bata.
"Kamu ke mana aja? Aku nyariin kamu lho dari kemarin. Aku bahkan sampai telepon ke rumah kamu."
"Aa-- aku-- ng-- nggak... ke... mana-mana... koq." dia jadi kayak orang lagi senewen ga jelas gitu.
"Kamu abis dari sana?" kata gue sambil menunjuk ke arah gedung fakultas teknik yang terlihat gelap dan sepi.
Dia cuma terdiam.
Quote:
Tapi ngapain dia mandi? Kepanasan kali ya?
"Maaf ya, aku cape banget Aku mau istirahat dulu ya." dia bilang ke gue.
"Ehm, aku nyariin kamu ke mana-mana... ternyata kamu di situ?" gue ngomong.
"Ah enggak koq, aku... sibuk... kuliah..."
"Tapi ada apa di gedung itu? Kamu koq barusan dari sana?"
Mukanya mengengok kiri--kanan--kiri--kanan seperti mencari-cari sesuatu.
"Kamu kenapa sih? Emang ada apa di situ? Kenapa kamu jadi tanya-tanya aku? Aku lagi cape banget nih." kali ini dia ngomong ke gue dengan nada ketus.
"Ya udah ayo pulang."
"DEEWIIII!!!" tiba-tiba dia berteriak dengan suara yang sangat keras.
Rupanya si Dewi ada di depan pintu UKM theater bersama beberapa orang.
"Aku masih pusing, aku mo tiduran dulu nih." dia ngomong ke gue.
Dia pun berlari menuju ruang UKM teater.
"Ya udah, nanti kita pulang bareng ya?" gue bilang.
Dia hanya menoleh sebentar, tapi nggak menjawab.
"Aku jemput kamu di sini nanti? Kamu mau pulang jam berapa?" gue tanya.
"Aku belum tau, bisa jadi abis magrib. Kalo kamu mo pulang, ya duluan aja sana. Ga usah bareng juga gapapa." dia jawab. "Udah ah, aku cape banget, aku mau tiduran dulu."
"Ya, gapapa koq aku tungguin." gue bilang lagi.
Tapi dia nggak menjawab lagi.
Gue memperhatikan dia masuk ke dalam ruangan UKM Theater.
Gue hanya bisa terdiam dari kejauhan.
Sekarang gue kembali lagi merasa pusing-pusing ga jelas.
Bola mata gue seperti bergerak-gerak sendiri, bergerak dengan begitu cepat. Sekeliling gue terlihat jadi muter-muter kayak gasing. Memori-memori di otak gue semua kacau balau seperti komputer yang kemasukan virus. Kenapa gue jadi tidak bisa mengendalikan diri setiap kali melihat dirinya.
Gue bengong di samping Masjid sambil sesekali menengok ke arah ruang UKM teater.
Njirr... kenapa gue malah jadi kaya penguntit gini.
Waktu sudah menunjuk pukul 8, tapi belum ada tanda-tanda si Puspa keluar dari sana. Gue pikir, apa dia sengaja menghindar supaya nggak pulang bareng gue?
Gue memutuskan untuk tetap menunggu sampai dia keluar.
Gue masih menunggu dan menunggu... tapi tetap nggak ada tanda-tanda dari dia.
Mungkin kah dia ketiduran selama itu di dalam sana? Tapi ruangan itu tampak udah sepi, gelap, dan nggak ada orang lagi.
Tidak terasa jam terus bergulir hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam. Kampus sudah sepi dan mahasiswa yang kuliah malam juga sudah pulang.
Akhirnya dengan segenap rasa penasaran gue hampiri ruang UKM theater itu. Di depan pintu gue diam sejenak sambil mencoba mendengarkan apakah ada suara atau tanda-tanda ada orang di dalam sana. Tapi ruangan itu benar-benar gelap, kayaknya nggak mungkin ada tanda-tanda kehidupan. Dari luar kaca udah nggak kelihatan apa-apa saking nggak ada cahaya sama sekali di dalam sana.
Gue coba ketok-ketok pintu, dan ternyata memang nggak ada jawaban. Gue coba intip lagi ke dalam, benar-benar nggak keliatan apa-apa selain gelap gulita. Sepertinya ruangan itu emang udah kosong dari tadi.
"Woi, ngapain tuh?" suara seseorang mengejutkan gue.
Rupanya itu satpam kampus yang lewat, karena sudah jam sembilan malam, dan kampus sudah harus ditutup.
"Ng-- anu pak, ini saya kira teman saya masih di dalam. Soalnya tadi kita udah janji mau pulang bareng." gue jawab.
"Lhoo, anak-anak theater udah pada pulang dari tadiii." jawab si Satpam.
"Heeh? Dari tadi kapan pak?" tanya gue lagi.
"Udah lama Mas, saya ga inget, mungkin magrib. Tapi pokoknya udah pada pulang semua."
Gue berjalan dengan langkah lungai ke arah parkiran motor. Akhirnya gue pun memutuskan untuk pulang. Kali ini entah gimana pikiran gue super kacau, bayangan-bayangan aneh menghantui pikiran gue.
Si Puspa... dia udah bersama laki-laki lain. Memang dari awal dia udah bersama laki-laki itu.
Apa aja yang udah mereka lakukan?
Apapaun itu, urusannya apa sama gue?
Tapi jika demikian, buat apa gue memperjuangkan wanita yang sudah jadi milik orang lain?
Pikiran gue sudah dirasuki berbagai perasaan aneh.
Rasa kecewa.
Kecewa terhadap dirinya.
Kecewa juga terhadap diri gue sendiri.
Gue harus mengusir bayangan-bayangan aneh ini dari pikiran gue.
Tapi... kenapa gue nggak bisa...
Diubah oleh memedruhimat 31-07-2025 14:52
itkgid dan yusufchauza memberi reputasi
4
