TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.1K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#40
Quote:
Zoya Cosmetics adalah Brand Extension dari Zoya Hijab yang sudah ada lebih dari 10 tahun yang lalu. Jika ditarik mundur lagi; Zoya pun adalah sister brand dari Shafira (Brand Name : Shafira Moslem Fashion) yang Januari 2019 besok umurnya sudah 30 Tahun
Zoya cosmetics diawali tahun 2013 dengan channel penjualan offline sama seperti brand cosmetics lainnya. Hal ini membuat investasi yang dibutuhkan makin besar. Karena setiap toko kosmetik akan meminta 1 org Beauty Advisor untuk membantu penjualan masing2 brand. Beberapa brand mungkin sudah tidak menggunakan BA (sebutan untuk beauty advisor) karena Brand Image nya sudah nempel (ini yang membuat tanpa BA pun brand tersebut laku). Nah, Zoya Cosmetics bukan brand yang seperti itu.. alhasil kami harus mencari terobosan untuk meningkatkan efisiensi sehingga total Bussiness bisa menghasilkan profit.
Akhirnya, di tahun 2016 kami mencoba merambah ke pasar digital. Diawal kami hanya punya akun Instagram saja. Setelah itu karena keterbatasan SDM meski FB juga salah satu pasar digital yang paling besar, namun (mengacu ke workshop pakBi; everyone is not your customer) kami memilih Instagram.
Di 2017 kami merencanakan untuk membangun webstore sebagai “Rumah Digital” Zoya Cosmetics. Mengapa webstore dan bukan website?
Website ngga bs jualan, sementara webstore bisa sekalian jualan.. ya milih yang bisa sekalian jualan lah ya
Perjalanan memanage instagram sehingga aktif dan engangementnya tinggi kita mulai dari 500 followers loh hehe.
Tips dari pakBi yang didapet di BBB : setiap content di postingan IG kita itu harus ada laci2nya. Dan setiap kali posting harus konsisten dan kontinu.
Tips ke-2 adalah give away.. agendakan give away dengan waktu2 dimana jualan kita lagi slow, give away ini semacam investasi dalam memperbanyak follower kita (berdasarkan pengalaman saya). Akan meningkatkan follower dan engagement di postingan kita
Tips ke-3 adalah content. Content yang “sesuai” akan selalu menarik follower, mau mencoba dan akhirnya menjadi pelanggan loyal
Tips ke 4 adakan kuis atau tips sesuai dengan target market dan usianya
Meski dari sisi penjualan, kami masih bertumpu pada hasil jualan offline. (Hal ini untuk category cosmetics wajar.
Customer kami ingin mencoba dulu baru setelah itu jika mereka cocok dengan produk kita, mereka akan repurchase melalui online channel
Maka dari itu, pastikan juga bahwa "gigitan pertama" itu sesuai dengan claim yang kita gembar gemborkan di online
Maka yang kami lakukan adalah membuat promo online to offline
Contoh yang paling gampang : selfie di toko Zoya tag di IG @zoyacosmetics dan dapatkan hadiah kejutan.
ini yang paling gampang sih..
Atau kebalikannya; kita buat promo di offline dan disebarkan melalui online contoh : di toko Zoya Hijab khusus follower ig Zocos akan mendapat discount 20%.
Salah satu yang paling favorite belakangan ini adalah tips dan kuis. meski kadang kita ngga menjelaskan kuis tersebut ada hadiahnya mereka suka aja menjawab
hal ini akan menaikkan nilai digital asset kita juga
Jangan salah, sekarang ecommerce2 itu bisa kita tawarkan barter loh dengan banyaknya aset digital yang kita punya dengan exposure di home banner mereka
iklan di tokopedia contohnya.. kalau follower kita sudah ratusan ribu (dan dengan catatan engagementnya tinggi) mereka mau barter exposure dengan kita
Tips terakhir untuk content di sosmed : ajak follower kita untuk berinteraksi, seakan2 kita mengenal mereka..
ciptakan juga karakter yang sesuai dengan produk yang kita jual dengan sapaan. contoh : momod, mimin, veronika dst agar follower merasa lebih dekat dengan kita
atau bisa juga kita dapatkan insight barang apasih sebetulnya yang mereka butuhkan?
lempar aja polling di IG Story
website itu versi old nya webstore..

kalo webstore sudah pasti bisa dibuat jualan disitu..
ada payment gatewaynya juga.. produk2 kita, produk knowledge dan mungkin juga review2 dari loyal customer kita
oiya, ketinggalan.. website biasanya menyajikan informasi. ngga jualan
gini, belasan tahun lalu (duuh.. jd ketauan umur gpp lah ya) pas saya masih di Carrefour..
yang namanya Modern Trade atau Hypermaket adalah hal baru..
semua orang ingin masuk
ke hypermaket (ada Giant, Carrefour, Hypermart dsb)
awal2 jualan di hypermaket ini besar ngga?
keciiill.. banyakan potongannya..
tapi sekarang... ada tim salesnya sendiri.. apalagi minimarket
sama.. yang terjadi dengan bisnis offline dan online
jualannya bagus mana?
jelas bagus offline..
tapi, kita hidup di masa sekarang aja atau sampe puluhan tahun kedepan?
udah tau JD.ID punya toko ga ada manusianya?
di PIK sudah ada.. monggo orang jakarta main ke PIK..
nanti yang namanya SPG dan kasir sudah ngga diperlukan lagi loh.. hehehe
Salah satu terobosan yang Zoya Cosmetics lakukan saat ini di online adalah launching produk di online. Beberapa produk terakhir kami hanya launching di online dan Alhamdulillah sukses besar
Memang perlu perencanaan offline to online.. namun dengan biaya yang lebih sedikit.. kami bisa mendapatkan impact yang lebih mantabb
.. jualan sekarang ngga butuh modal banyak..
apalagi temen2 UKM..
buat sample nya, lakukan pre order, bisa jalan
kalo dulu di offline kami butuh distributor, agen dan toko untuk memasarkan, sekarang jauh lebih mudah bukan?
Point pentingnya adalah menjawab pain point ..
pain point ini yang pada saat kita jualan online bisa banget kita tangkap dari para follower, dan loyalis kita
contoh kecil..
Zoya Cosmetics 3 bulan sekali selalu nanyain.. produk apa yang diinginkan untuk di develop?
dari jawaban2 itu kita olah juga dengan produk kompetitor dan pasar saat ini
gini, aset digital kita itu ada harganya loh..
berapa followernya.. berapa engagement yang terbangun..
gimana cara bacanya..
cari influencer dengan profile mirip kita.. cari 2 sampe 3 cek harga mereka..
kurang lebih harga profile kita seperti itu
kebetulan @zoyacosmetics sudah verified nah itu juga jadi added value barter buat tokopedia
exposure dari mereka apa nih?
mereka biasanya akan menawarkan banner di homepage atau di kategory nya mereka
barternya dengan itu biasanya..
dengan adanya banner (atau tampilan produk kita di homepage) ini akan menaikkan awareness dan pastinya penjualan kita donk
Quote:
Q:
bagaimana cara utk menaikkan engagement postingan di instagram, ketika kita sudah melakukan kuis, giveaway, interaksi dll namun engagement (komen ato likes) tetap saja kecil ?
A:
masing2 produk itu punya pasarnya sendiri sendiri.. kalau kita kenal betul produk kita.. Insha Allah akan tau seluk beluk dan pain point dari customer kita
bagaimana cara utk menaikkan engagement postingan di instagram, ketika kita sudah melakukan kuis, giveaway, interaksi dll namun engagement (komen ato likes) tetap saja kecil ?
A:
masing2 produk itu punya pasarnya sendiri sendiri.. kalau kita kenal betul produk kita.. Insha Allah akan tau seluk beluk dan pain point dari customer kita
balik lagi.. selain kuis, giveaway dan interaksi masih belum ngangkat...
apakah contentnya sudah sesuai?
apakah gaya bahasanya sudah cocok dengan umur, segmentasi, lifestyle dari customer kita?
coba di review dan di telaah lagi..
ini harusnya akan terlihat dari brand DNA nya sih.. bagaimana cara kita berkomunikasi dengan para customer kita
kalo zocos hanya ambil 3 laci
awareness, engagement dan product
ini mikir dikit njelasinnya
bayangkan di ig itu tampilannya kan kotak2 ke kanan dan kebawah
ini lebih ke tampilan ato istilah sono nya "look"nya ig kita
nah, gini deh..
tiap posting itu ada temanya
tema dari masing2 posisi posting itu lah yang dinamakan "laci"
ini harus konsisten
Disini ada 3 kotak..

Kiri, itu acara jalan2.. tengah family, kanan itu work
udah mewakili belum ya jawabannya
nah, sekarang merambah ke market place nih
market place mana sih yang enak buat jualan?
tergantung segment dan strategi kita ke online juga
shopee, tokopedia dan lazada itu banyakan ibu2 yg belanja
kalo mau jualan jam tangan cowo lebih cepet laku ya di bli bli ato bukalapak
Kan mereka2 itu sudah punya loyal customernya masing2
Jadi kita ikutin aja sesuai produk kita
Kalo mau ikutin semua, boleh ngga?
Boleh aja.. asal kuat. 😅
Jaman sekarang waktunya berbisnis yg efisien.. hehe
Kalo di webstore kita harus keluarin effort banyak untuk datangkan arrival..
Kenapa ngga sekalian punya webstore dan ecommerce?
Para ecommerce itu juga lagi bakar uang loh buat naikin trafficnya..
Kita yg kecil mah ikut aja dalem ombak yg mereka buat
Q:
Kalau usahanya masih keciiil , masih nitip ditoko2 blm pakai BA...sinergi online & offlinenya gimana mbak ? Sekarang yg offline kita pakai distributor (sy usahanya kosmetik tradisional)
A:
Bisa juga kita manfaatkan influencer..
Buanyak banget kan di dunia maya hehehe
Pastikan juga influencer yg kita hire sesuai dengan karakter produk kita
Q:
Jadi perusahaan kami masih perusahaan ofline mbak masih membutuhkan distributor dan toko dalam develop produknya.
Otomatis kami selaku sales marketing setiap hari hanya menawarkan produk ke orang yg sama (distributor tersebut) nah yg ingin sya tanyakn.
Tips pengenalan produk agar si pembeli ini(distributor) tidak bosen dengan promosi kita.?
Apakah memang harus berbeda tema di setiap promosi produk atau hanya terpaku pada satu tema yang itu itu aja
A:
Wow.. hayuk.. disegerakan mengenal online.. kalo ngga nanti ketinggalan sama kompetitor lo..
Kita skrg sepertinya akan kaget dengan bentuk offline 5 tahun lagi sih
Jadi kalo ngga ikut skrg ya jadi ikutan gerbong belakang
Balik ke toko offline nya JD.ID tadi..
Kebayang ngga kita belanja langsung ambil2 aja.. ngga ada yg nawarin, ngga ada yg jagain..
Mo dimasukkan tas jg tetep ketauan nanti pas terakhir bayar
A:
apa tantangan terbesar zoya cosmetic didunia digital khususnya instagram?
apakah memperhatikan tingkah laku kempetitor atau bagaimana?
Q:
Karena awalnya kami pindah ke online karna ngga punya budget gede buat iklan...
Makanya the power of kepepet itu keren betul lah
Jaman awal2 kita enak banget jualan di ig.. lanjut punya webstore..
Belakangan, kita punya produk apa kompetitor justru yg cepet banget copy produk kita
Ngga jarang juga claim nya ditiru juga sama mereka
Mereka tiru.. kita buat lagi..
Q:
Merubah brand identity secara pelan pelan gimana cara nya ?
Karena brand tersebut sudah di cap negative. Apakah perlu reborn brand atau produk nya ?
A:
Sebetulnya zoya cosmetics pernah mengalami masa suram
Produknya kurang laku, marketingnya bingung mau kemana
Akhirnya saya dengan ijin management minta untuk re branding sih
Dengan catatan semua tim salesnya turun.. active di lapangan..
Memperbaiki janji2 yg pernah dibuat
Sementara kami di HQ memperbaiki juga kualitas produk.. duduk bareng merumuskan kembali DNA yang sempat hilang
Alhamdulillah di akhir 2016 kita sudah mulai dikenal lagi dan bahkan lebih tinggi awarenessnya
Karena dari pucuk pimpinan atas sampai level BA semua diberi pengetahuan yg sama
Perbaikan kualitas dan packaging termasuk bagaimana cara kami berinteraksi dengan customer
Kurang lebihnya gitu pengalaman saya..
A:
skg lanjut ke closing statement ya mbak
Q:
Dalam sinergi ini yg paling penting dipahami tentunya adalah target market, segmentasi dan karakteristik dr produk kita a.k.a brand DNA
Karena untuk mensinergikan offline dan online harus memanfaatkan semua asset yg kita punya..
Diubah oleh ibliss666 02-01-2019 08:20
0
Kutip
Balas