TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.4K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#30
Quote:
Assalamu'alaikum..
Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus
Itu salah satu prinsip kami.
Bagaimana caranya mewujudkan "prinsip" tersebut?
Yang sudah merasakan berbisnis pasti tahu ya sibuknya seperti apa. Apalagi bisnis yang dijalankan oleh perempuan.
Maaf ya bawa-bawa gender hihihiii...
Karena kalo ibu-ibu itu..
Anak sakit, sibuk
Suami sakit, sibuk
Pindah rumah, sibuk
Lahiran, sibuk
Anak ujian sekolah, ibu juga ikut sibuk
Ibu itu manusia paling sibuk sedunia 😂
Lalu apa kabar bisnisnya kalo ibu sibuk ngurus domestik A-Z dari pagi sampe malem? Akhirnya bisnis dijalanin SESEMPETNYA dan SEBISANYA 😱
Lalu solusinya gimana?
Bangun TIM (rekrut karyawan) 👍
Bagaimana mungkin? Omset aja masih timbul tenggelam 😂
Ya iyalah omset timbul tenggelam, karena ngerjainnya juga SESEMPETNYA dan SEBISANYA.
Kalo lagi sempet ngiklan, posting beberapa foto dan tulis copywriting sebisanya.
Follower Instagram mandek segitu-gitu aja. Ya iyalah gak kepegang, udah repot ngurusin ini itu sendirian.
Konsumen BT karena slowrespon. Dia gak tau apa ya anak saya lagi sakit.
Perasaan penjualan banyak, tapi pas di akhir bulan, kok uangnya gak ada ya. Boro-boro sempet catetin data pelanggan, nilai penjualan, biaya pengeluaran... nyatetin stok barang aja gak sempet.
Menurut saya.. berdasarkan pengalaman saya.. ya selamanya akan KUSUT seperti itu bisnisnya. Gak keurus!
Jadi... PR nya adalah Rekrut Karyawan.
Eeeeiiiiittt... tunggu dulu. Jangan asal rekrut, jangan cepet-cepet rekrut. Sebelum Anda tahu apa saja JOBDES yang akan Anda berikan untuk mereka.
Tahun 2013 saya pernah PHK semua karyawan 😱
Itu adalah tahun ke 3 RAZHA
Saat itu saya cuti melahirkan. Kantor RAZHA di Bandung. Saya melahirkan di Jakarta. 3 bulan saya cuti, karena dikehamilan yang ini secara fisik saya lemah. Jadi saya mengajukan cuti lebih awal.
Ramadhan 2013, ketika saya masih di Jakarta. Tim meberitahukan jumlah penjualan.
Seperti yang kita tahu, yang namanya Ramadhan, tentunya masa panen bisnis fashion.
Tapi itu tidak terjadi pada RAZHA.
Dengan jumlah karyawan yang lebih banyak, omset malah menurun 😱
Mendadak saya paksakan diri kembali ke Bandung bawa baby.
Lalu saya coba evaluasi, beberapa hal utama yang saya lakukan adalah PERIKSA SEMUA LAPTOP KARYAWAN.
Dan saya merasa seperti tersambar petir!
3 fakta ini saya temukan:
1. Bagian CS (Customer Service) yang harusnya mencari konsumen untuk dijadikan Agen dan juga melayani pesanan dari Agen, dia malah asik jualan retail sendiri, tapi dilaporkan sebagai penjualan untuk dirinya.
Kesalahan saya disini adalah, memberikan diskon 20% (setara dengan diskon agen) kepada karyawan. Dulu saya pikir, siapa tau karyawan mau untuk digunakan sendiri atau untuk keluarganya.
Tapi ini malah jadi musibah buat saya. CS malah gak konsen cari agen, dia sibuk jualan retail, lalu keuntungannya dia ambil.
Jadi ibaratnya, dia itu agen yang kita fasilitasi laptop, internet dan digaji pula 😂
2. Ada Online Shop didalam Online Shop 😱
Karyawan yang satu ini ternyata jualan baju-baju korea 😂 Pake jam kerja saya, internet saya, laptop saya, saya gaji pula 😂😂😂
3. Ketika saya cuti, saya angkat salah satu karyawan menjadi supervisor. Namun apa yang saya dapati di laptopnya...
Saya cek History nya, dan ternyata yang ditemukan adalah artikel dengan tema "Rahasia Keperkasaan Pria" 😂
Perlu Anda ketahui, semua karyawan saya perempuan.
Ya ampuuuun di jam kerja malah buka begituan, lah hati dan pikirannya gak ada untuk RAZHA donk ya.
Dari situ saya pusiiiiing... gak tau harus gimana. Saya ketar ketir dengan kondisi keuangan perusahaan yang mana itu adalah dana investor (teman saya).
Singkat cerita akhirnya saya PHK semua karyawan di beberapa hari sebelum lebaran 😞
Apakah semua ini kesalahan karyawan? Saat itu, saya berpikir bergitu. Namun setelah saya renungkan. Semua itu terjadi karena kesalahan pemimpinnya.
Siapa pemimpinnya? Ya SAYA 😂
Kemana aja saya selama ini???
Ada sih, tapi saya terlalu sibuk BELAJAR JUALAN. Hal itu membuat saya lalai untuk MENGELOLA TIM.
1. Sata tidak belajar menjadi pemimpin yang baik
2. Saya tidak belajar bagaimana mengatur alur kerja
3. Saya tidak belajar membangun sistem
4. Saya tidak belajar ilmu HRD
Kalo perusahaan besar sih bisa aja ya rekrut HRD. Yah saya UKM, yang jadi HRD ya harus ownernya dulu.
Saya merasa menjadi orang paling merana saat itu 😁
Tapi coba Anda simak kisah teman-teman saya ini seputar karyawan
KIta sebut dia Bunga 😁
Kecolongan 30 juta omsetnya tidak masuk rekening, tapi masuk ke rekening karyawn. Ketahuannya setelah karyawan resign. Lalu ada karyawan baru bertanya "Bu, kok ini ada konsumen kasih bukti transfer bukan atas nama ibu, tapi nama karyawan yang sudah resign?"
Ternyata selama ini dia gak tau... selama 6 bulan kebelakang, banyak transaksi yang gak masuk ke rekeningnya.
Kesalahan owner:
1. Gak ada stock opname. Gak pernah cek berapa jumlah barang, berapa uang masuk.
2. Gak cek jumlah paket dengan jumlah invoice
3. Gak cek hp/laptop karyawan
...
30 juta itu angka yang "ketahuan", yang gak ketahuan gak tau berapa 😱
Kita panggil dia Indah (penjual laptop dll)
Suatu hari ada konsumen komplen, "Mba kok barang ini sudah rusak ya? Saya mau tuker."
Kebetulan sang owner sedang ada di lokasi saat konsumen komplen.
Coba lihat barangnya.
- Waduh...saya gak jual barang ini bu.
+ Lah ini saya beli disini kok
Weeeew... setelah diselidiki, ternyata karyawan bawa barang sendiri, lalu dijual di toko Indah.
Kalo dari kisah PHK saya, dari sana saya ambil kesimpulan.
Karyawan berbuat KREATIF, karena dia ada WAKTU LUANG. Toh kerjaan dia sudah selesai, dia bingung ngapain lagi.
Kan harusnya inisiatif kek ngapain gitu.
Di dunia ini yang inisiatif ya cuma owner bisnisnya😂 karyawan pada umumnya berpikir "capek atau nggak, gajinya sama" hihihiii
Nah tugas kita.. jangan sampe karyawan ada waktu luang. Oleh karena itu sebelum rekrut karyawan kita harus betul-betul membuat JOBDES yang bisa memenuhi jam kerja. Sehingga mereka PRODUKTIF.
Setelah JOBDES dibuat, buatlah SOP. Sehingga apa yang akan mereka kerjakan sesuai dengan yang kita arahkan. Setelah itu, buatlah KPI supaya apa yang kita targetkan bisa tercapai.
Kendala di awal buat yang belum punya karyawan sama sekali adalah SULIT REKRUT KARYAWAN
1. Mindset, takut gak bisa bayar.
Coba bayangin.. kita kerja sesempetnya, pasti hasilnya seadanya. Sedangkan kalo sudah ada karyawan yang bantuin kita ngiklan 8 jam sehari x 5 hari seminggu. Kira-kira...omsetnya naik atau turun?
InsyaAllah naik.
Toh karyawan kerja dulu baru dibayar 😁
2. Susah cari orang yang mau kerja di bisnis rumahan.
Karyawan saya gak ada yang sarjana. Mayoritas lulusan SMK, ada yang SMP, bahkan ada yang gak lulus SD.
Ya sadar diri, kita belum punya daya tarik untuk bisa menggaet orang proffesional ataupun yang sudah punya banyak pengalaman kerja.
Jadi untuk diawal, solusinya kita mendidik orang yang belum ngerti apa".
Ketika bisnis sudah terus bertumbuh besar. Ditengah jalan kita bisa rekrut yang profesional.
3. Bingung hitung gajinya, bayar berapa ya?
Gaji.. sebaiknya dipecah, jangan dikasih "bulet". Misalnya:
- Gaji pokok
- uang transport
- uang makan
- bonus
- uang disiplin
- tunjangan lainnya
Jadi ketika karyawan gak masuk, dia akan kehilangan beberapa rupiah. Dengan cara ini, meminimalisir karyawan yang rajin bolos dengan seribu alasan.
Ya namanya kita masih belajar, terus berproses. Yang kuncinya: TES & UKUR.
Contoh SOP Customer Service:
Ramah pelayanan
1. Ucapkan salam dengan tulisan lengkap: Assalamu'alaikum. Bukan disingkat jadi Ass, Slm, Asswrwb.
2. Selalu tanyakan nama konsumen, tidak menjawab pertanyaan yang dia tuju, sebelum dia menjawab nama.
3. Selalu sebutkan nama konsumen di setiap kalimat percakapan.
Contoh:
Mba Tari, ukuran M masih ada.
Terimakasih Mba Tari atas konfirmasi pembayarannya.
Paket sudah dikirim hari ini ya Mba Tari.
Maaf Mba Tari, stok birunya habis.
4. Ucapkan Terima Kasih, walaupun konsumen tidak jadi membeli.
5....
Hanif Zain | Intuity Visual Communication:
Dari Pendi Setyawan Misbah AlFailasuf
Selamat Malam Bu Muri.
saya mau tanya :
1. SOP apa yg paling standar alias WAJIB dibuat utk rintisan bisnis online ?
2. acuan menggaji karyawan apakah sudah lgsung mengacu UMR, ataukah ada pertimbangan lain ?
Terimakasih
Muri Handayani:
1. Cara menjawab chat. Ini amat sangat penting menurut saya. Bahkan cara pengetikan, huruf besar kecil, penggunakan emoticon, menyebutkan nama konsumen, itu wajib kita edukasi ke karyawan.
Nah gunanya SOP ini, biar kita gak "capek bolak-balik" ngajarin karyawan.
Ketika secara berkala kita evaluasi kinerjanya tidak sesuai dengan apa yang kita mau, minta dia baca SOP, pelajari dan TERAPKAN.
Kita udah cape ngiklan, banyak calon konsumen dateng, eh pelayanannya jutek 😱 ampuuuun...
SOP lainnya:
1. Prosedur pemesanan
2. Prosedur pengiriman
3. Prosedur penyediaan stok
4 Prosedur pencatatan keuangan
5. Porsedur marketing dkk
Nah kembali ke penjelasan saya sebelumnya, kita rekrut yang masih baru banget, biar bisa dibayar murah, efek sampingnya, kita harus sabar ngajarinnya.
Misal bagian packing, kan gak perlu ijazah juga bisa.
CS - menurut saya ini minimal setingkat SLTA.
Online Marketing - anak SLTA jaman sekarang udah pada pake sosmed semua.
Tinggal kita ajarin cara optimasi sosmed untuk jualan.
Admin dan keuangan bisa SMK Akutansi
Saya menerapkan sistem 3 bualan masa percobaan.
Misalnya selama 3 bulan itu gajinya @50rb/hari (sesuaikan dengan wilayah masing-masing ya)
Ya dihitung harian, tapi dikasih gajinya bulanan.
Setelah lulus 3 bulan masa percobaan, baru deh jadi karyawan.
Misal..
Gaji Pokok 500rb
Transport 10.000
Makan 15.000
Bonus beda-beda sesuai bidangnya.
Untuk UANG DISIPLIN, ini yang agak unik. Saya berikan Rp.100.000 perbulan. Namun hanya cair di akhir tahun.
Jika karyawan mengundurkan diri sebelum akhir tahun, maka Uang disiplin hangus.
Jika karyawan diberhentikan, maka dia akan dapat sesuai jumlah bulan yang sudah dilalui.
Untuk apa uang disiplin?
Untuk mendisiplinkan 😁
Sekali melakukan kesalahan potong 50rb.
Jadi gak kejam kan, gak potong gaji kok 😁
Jadi sebulan kalo 2x kesalahan, maka habis deh uang disiplinnya.
Lalu jika melakukan kesalahan ke 3?
Ini wajib kita panggil dia untuk evaluasi kinerja.
DIajak ngobrol dulu, mungkin ada masalah yang menyebabkan terjadinya kesalahan
Dipotong jika:
1. Dalam 1 bulan, lebih dari 4x terlambat datang
2. Misal untuk bagian packing (salah kirim barang)
3. Misal untuk CS (salah rekap order)
4. Misal untuk produksi (produk cacat tapi lolos QC)
......
Misal salah pengiriman barang... Pesannya Hitam dikirim Navy. Warnanya kadang mirip.
Ini kami telusuri dulu kesalahan ada dimana..
Misal ternyata bagian packing yang salah ambil. Maka dia dipotong uang disiplin 50rb. Dan ongkir pengiriman barang pengganti, dia yang tanggung.
Dengan tujuan dia jera, sehingga mau memperbaiki kinerjanya.
Oleh karena itu sangat penting pembuatan SOP. Untuk mencegah terjadinya kesalahan".
Dan SOP gak akan berfungsi, jika kita sebagai owner/CEO/Bos, gak pernah evaluasi apakah SOP dikerjakan atau tidak 😁
Branding itu gak hanya nempel di produk. Tapi pelayanan juga bagian dari branding. Bagaimana "standar" ucapan terimakasih juga bisa bagian dari branding.
Biasanya kalo konsumen bilang terimakasih, kita jawabnya sama-sama.
Tapi saya mulai membenahi. Dan menjadikannya dalam SOP. Standar menjawab ucapan Terima Kasih adalah "Dengan Senang Hati" 😊
Pasti ada sekian persen perasaan lebih bahagia dengan jawaban seperti itu yang dirasakan konsumen.
Jadi branding itu bukan logo, bukan barang, bukan harga. Menurut saya, keseluruhan SISTEM BISNIS juga menjadi bagian dari branding.
Bagaimana menangani KOMPLEN konsumen juga bagian dari branding.
Apapun asalan konsumen, jika mereka tidak suka/tidak puas dengan produk RAZHA, kami memberikan GARANSI 100% UANG KEMBALI.
Tingkat seleksi produk pada bagian QC sangat ketat, itupun bagian dari branding 😁
Oh iya ada lagi hal sederhana yang saya jadikan SOP.
Konsumen yang dadakan dateng ke gudang untuk beli harus dilayani oleh si A. Jadi gak boleh sembarang orang. Lalu ada lagi SOPnya, diantaranya:
- Wajib menanyakan bagaimana situasi perjalanan menuju kesini. Apakah nyasar, macet dll. Sebelum pembicaraan menuju soal belanja.
- Wajib menyediakan minum.
- Semua tim wajib menegur konsumen (nengok ke arah konsumen, memberikan senyuman, mengucapkan selamat datang atau sekedar menyapa namanya)
- Wajib mengantar hingga ke parkiran.
- Barang belanjaan dibawa oleh tim RAZHA hingga ke mobil/motornya/keluar dari kantor.
- Konsumen jangan dibiarkan buka dan tutup gerbang.
- Tidak meninggalkan parkiran sebelum konsumen pergi.
Biarlah toko sebelah lebih murah, tapi disini, kami melayani dengan CINTA eeeaaaa....
RAZHA
1. Memiliki 52 pilihan warna
2. Garansi 100% uang kembali
3. SIstem Mitra dengan bonus harian, mingguan, bulanan, tahunan.
4. 1 kali daftar jadi Mitra, bisa jual 10 brand (ini masih proses, baru 8 brand saat ini).
5. Mitra mendapat beasiswa ikut program SBO
6.....
yang lebih sulit.. melatih tim dan mempertahankan timnya 😂
Karena bisnis itu bukan hanya soal ada barang, ada konsumen.
Tapi tim yang bekerja didalamnya berantakan, kacau juga hasilnya
Barang super duper bagus, belum tentu bisnis sukses. Banyak faktor penentunya, salah satunya TIM.
Bisa aja kita ngerjain semua sendiri, karena kita bisa melayani dengan baik dll. Tapi.... mau sampe kapan? 😱
Kalo komplen via chat gpp dijawab pada jam kerja.
Kalo komplen via telpon, wajib diangkat.
Nah serunya lagi, cara menjwab telpon juga harus ada SOP nya ^_^
Cara duduk
Cara mengucapkan salam
Cara mempersiapkan peralatan
Cara mendengarkan komplenan
Gak boleh dipotong saat dia "ngomel" kita cukup bilang "iya, baik, oh, ya,..."
konsumen online, kalo udah sampe nelpon, emosinya sudah lebih dari orang yang komplen via chat. Ini berdasarkan pengalaman 😂 sedaplah rasanya diomelin orang wakakkaaa
intinya gini... konsumen online yang komplen harus "DIBIKIN DIEM". Jangan sampe dia berceloteh di dunia maya. hancur bisnis kita.
Manusia itu, lebih seneng share hal negatif dari pada hal positif 😁
Susah-susah bangun bisnis online, penuh dengan keringat dan air mata 😂 bisa hancur sekejap karena 1 orang yang komplen.
Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus
Bangun Tim
Siapkan Jobdes
Uraikan dalam bentuk SOP
Kuatkan dengan KPI
Manusiakan manusia.. Pebisnis jangan hanya melulu belajar cara jualan. Belajar cara berhubungan dengan manusia juga penting. Bagaimana mengelola karyawan, mitra dan konsumen.
Tim bagian dari branding.
Apapun kesalahan Tim, evaluasi dulu bosnya 😂 ownernya, pemimpinnya.
Kecurangan karyawan bisa terjadi karena adanya kelemahan dalam sistem. Semangat evaluasi sistem "tanpa nanti" dan "tanpa henti".
Wassalamu'alaikum
Salam SUKSES OnlineShop Indonesia
Muri Handayani
SBO (Sekolah Bisnis Online)
"Gaptek Hilang, Rejeki Datang
0
Kutip
Balas