TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.3K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#28
Quote:

Dodi design talk | brand identity:
Perkenalkan Saya Dodi Zulkifli,
CEO & Creative Strategy Design Talk
dan saya telah berhasil menjual diri saya, tandanya istri saya menerima lamaran saya…
Sebagian yang karya saya adalah
Kopontren Daarut Tauhiid Bandung
Bank Syariah Suriyah
Dengan tema MENJUAL DENGAN VISUAL
Apa sih korelasinya dengan Brand?
Tentang pertanyaan yang polisi itu seragamnya atau orangnya?
Yang Polisi adalah orangnya
Kok bisa?
Misal:
Tetangga atau kawan kita ada yang polisi
Saat pulang kerja, sampai di rumah, lepas seragam...
Tanpa seragamnya, apakah beliau masih polisi?
Masihkhan?
Hanya tidak semua orang mengenal
Setuju?
Nah, seragamnya itulah mempermudah orang untuk mengenali polisi
Apa niih hubungannya dengan BRAND?
Hubungannya baik-baik saja… hehehe
Bayangin aja, jika polisi tersebut tanpa seragam…
Setiap bertugas harus tunjukin KTA (bukan kredit tanpa angsuran lho ya…)
Wuiiih… repot banget khan…
Kalo seragam itu MEMPERMUDAH orang mengenali polisi
Kalo seragam itu adalah identitas
Maka….
Dalam BRAND yang mempermudah audience mengenalinya disebut BRAND IDENbaikY…

Beda dengan BRAND (brand adalah ikatan emosional)
BRANDING itu PROSES membangun MAKNA & ASOSIASI
Misal :
Ada pebisnis yang pnya Brand
Ayam Panggang Bantul Mbah Dinem,
Prosesnya BRANDING adalah proses mengenalkan BRAND MBAH DINEM sebagai oleh-oleh Jogja yang Istimewa karena Ayam panggangnya nikmat…

itu proses BRANDING
BRANDING adalah KATA KERJA
Sehingga tidak bisa berkata begini , “Saya mau buat BRANDING”
kalo mau buat logo, bilangnya begini “Saya mau Brand Identity”
Lanjut, kembali ke Brand Identity,
Bagian-bagian dari Brand Identity adalah Logo, Nama, Warna, Elemen Grafis, Maakot, Bentuk…
Bayangkan saja, brand anda tanpa brand identity, plus minus begini jadinya…

Tanpa nama, pelanggan yang akan memberinya nama…
Menarikkah?
dan juga akan sulit membedakan mana yang asli & palsu
Berapa sih harga bikin logo & Brand Identity ?
Di internet ada yang jual 50 ribu, 200 ribu, 1 juta…
Di dunia agency seperti Design Talk, harga relatif… bisa ada yang 7 Miliyar, ada yang seratus juta…
Haaa?
Logo Miliyaran?
Yang bener aja kalii…?
Emang kalo design talk berapa sih?
Hehehe… Modus jualan namanya….
Ntaran aja ya…
Apa sih yang membedakan itu semua?
Kok kayaknya tinggal pake mouse & komputer..
Utek-utek … JADI…
Tinggal pilih font (huruf) doang?
Kalo bisnis property khan tinggal kasih gambar rumah…
Ngapain gituan ampe ratusan juta dan ada yang miliyaran..
Nah, pada malam hari ini saya ingin cerita ngapain harus bikin Brand Identity yang belum punya, kalo yang udah punya ntar di cocokin ya sama ilmunya…
Bisa jadi, semua peserta disini, berdoa dalam shalat “ihdinas sirothol mustaqim”
Tunjukilah kami ke jalan yang lurus…
Semoga penjelasan malam ini jawaban doa anda agar lurus Brand Identitnya… hehehe
POINT PERTAMA
Perubahan kecil untuk kemenangan yang besar
Begini,
pernah jalan-jalan ke pasar akik?
kalo enggak pernh, pura-pura lah pernah ya…
Bayangin aja pokoknya begitulah
Tujuannya untuk beli akik
Nah, dipasar itu…
Ada 2 penjual yang menjual barang yang sama…
(meskipun kayaknya sulit menjual akik yang sama persis … Khusus ini anggap saja bisa ya?)

kedua penjual berpenampilan seperti ini
1] Pake Blangkon
2] Pake kaca mata
Nah lho…
Barang sama…
Anda pilih yang mana?
Mayoritas memilih yang BLANGKON, kenapa?
Mayoritas memilih yang BLANGKON, kenapa?
Ada yang bilang
kayaknya lebih ahli
Kayaknya lebih pintar
Lebih sesuai dengan produk yang dijual
Wuiih… Tanpa promosi, hanya modal baju doang udah bisa mengalahkan kompetitor
Makanya kalo mau betempur, lihat lawan dulu…
Kalo yang lain bajunya (baca : brand identitynya) biasa aja, maka baju anda (baca : brand identitynya) BENERIN dikit udah cukup untuk mengalah lawan..
Sample ke 2
Siapa yang disini pernah tahu APPLE IPAD?
Kalo yang enggak tahu, minimal pernah denger khan?

Nah, misal, anda mau beli apple ipad, anda jalan ke mall IT…
Didalam Mall juga menemukan 2 penjual yang menawarkan IPAD, seperti ini
Jual barang yang sama
Harga yang sama
Merk yang sama
hanya beda baju doang
Kira-kira niih anda pilih yang mana?
Harga sama
Barang sama
Merk sama
1] Pake Blangkon
2] Pake kaca mata
Pakek Kaca Mata,Lebih menguasai Produk.Sesuai dengan Image Produk yang diJual.Modern jawaban ini KHAN PERSEPSI.... yang betul gene "KAYAKNYA Pakek Kaca Mata,Lebih menguasai Produk.Sesuai dengan Image Produk yang diJual.Modern "
Padahal?
Hanya beda seragam lho…
“Kayaknya lebih meyakinkan yang pakai kaca mata…”
“Sesuai dengan produk yang dijual”
nah kesimpulannya
1# Brand Identity, design , logo harus merepresentasikan produk, layanan yang dijual..
Apanya yang direpresentasikan?
Karakter / personality, seperti misalnya : modern / tradisional, mewah / ekonomis
2# Peluang untuk lebih unggul dibanding dengan kompetitor
3# Manusia (baca : audience) mengambil keputusan secara DOMINAN (+/- 80%) dipengaruhi emosional dan sebagian kecilnya adalah Rasional
Contohnya adalah kasus saya diatas,
sama2 Ipadnya ==> sama produk ==> Rasional
Pilihan tetap yang berkacamata , karena dianggap lebih meyakinkan… ==> emosional khan?
Pertanyaannya adalah, apakah baju anda (baca: brand identity anda) sudah sesuai dengan personality brand nya?
Nah, dalam dunia bisnis, ada kasusnya lho yang pernah saya tangani…
Jadi begini,
Ada pengusaha Property (developer) datang ke saya, beliau menceritakan, bahwa beliau memiliki project Perumahan yang sudah lama berjalan, namun sales kesulitan menjual..

Namanya, Pakuwon Asri Residence
Saya diminta untuk merombak total Brand idenitynya termasuk logo, dll…
ketika mulai sebuah project desain logo & brand identity, saya mengajukan sekitar 40 pertanyaan kepada klien…
Apa aja tuh pertanyaannya, ko 40 sample pertanyaan? Lebih banyak dari interview pekerjaan
Begini, Saya khan diperintah untuk mendesain sebuah brand identity Dan logo.
Padahal sesuai kesimpulan diatas Brand identity = identitas
an kesimpulan #1 diatas bahwa logo dan brand identity harus mewakili personality atau karakter brand nya…
Nah kondisinya kan begini saya baru hari itu ketemu pertama kali dengan klien.
Baru kenal, baru tahu namanya, baru tahu bisnisnya,.
Kok disuruh buatin identitas nya yang mewakili personalitinya
Gimana ceritanya?...
Ilustrasinya lainnya gini, suatu hari ketemu sama seseorang yang belum pernah kenal sebelumnya.
Terus orang itu bilang gini “mas atau mbak, tolong belikan saya baju yang sesuai dengan personality saya dong?”
Nah lo… bingung kan?
Makanya untuk mempermudah,
Tim design talk, menyiapkan sebuah form interview yang telah dikembangkan bertahun tahun untuk mempolakan personality brand klien, meskipun baru pertama kali bertemu.
Yang juga disebut client brief
Maka sampai 40 pertanyaan...
Nah, klien yang saya tersebut, setelah saya interview, ada kesimpulan, personalitynya, “minimalis - modern, elegan, ekslusive”

dan project nya ini adalah perumahan yang termahal dikotanya…
Klien saya juga memberikan mandatory, harus ada gambar TOKOH SEMAR (tokoh dalam wayang) karena ada filosofisnya…
Nah, logo & brand identity yang ada seperti tadi yang diatas…
Apakah relevan dengan nilai
“minimalis - modern, elegan, ekslusive”
Nah, ini juga salah satu masalah…
Salah kostum niih…
Karena tidak mewakili personalitynya
Jikalau Pakuwon Asri mengikuti property expo & membuka stand… Kira-kira niiih…
Apakah audience yang berduit (karena perumahan mahal) akan tertarik mendekat dengan Brand identity yang ada?
Mungkin ada… tetapi kebanyak enggan…
Jika mendekat saja tidak, bagaimana akan closing?
Nah, kemudian bagaimana solusi dari Design Talk?
Kami mengajukan alternatif desain logo dan 1 yang dipilih … dan inilah hasilnya

Mana semarnya???
Di sini..

Ini juga disebut Elemen Grafis…
Dalam brand identity, berfungsi sebagai yang menguatkan logo dalam mengkomunikasikan personality..
Dan ini kami juga membuatkan Exhibition boothnya
Apakah yang baru sudah relevan dengan “minimalis - modern, elegan, ekslusive ?
Diubah oleh ibliss666 30-12-2018 08:29
0
Kutip
Balas