TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.5K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.9KThread•3.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#27
Quote:
Rahasia Menumbuhkan Bisnis dan Identitas Diri dengan Metoda Coaching
Ada 3 hal utama dalam kulgram saya malam ini, yaitu:
1. Sadar diri
(self consciousness)
2. Belajar dari kesalahan
(learn from mistakes)
3. Kemauan dan kemampuan untuk bangkit dan bertumbuh dengan keyakinan
(strong belief)
Oiya, sebelum lanjut saya perkenalkan diri dulu. Nama lengkap saya sesuai akte kelahiran Rully Bhaskoro Purwo Hadiwijoyo kemudian di naturalisasi menjadi Rully Bhaskara.
Karena identitas dan profesi saya adalah business coach, maka sering dipanggil coach Rully.
Asli dari kota Jember, telah menikah dengan mantan pacar Reni K.Ashuri 19 tahun lalu dan dikaruniai 2 anak, Ravy (18) dan Raddin (14), alhamdulillah.
Saya berlatar belakang pendidikan Teknik Elektronika dan bekerja di bidang engineering selama 10 tahun dan 5 tahun berikutnya banting setir ke dunia SDM dan training. Total berstatus sebagai karyawan/profesional selama lebih dari 15 tahun.
Alhamdulillah pernah diberikan amanah menjabat sebagai direktur perusahaan engineering dan national general manager perusahaan multinasional.
Tahun 2010 saya (tanpa seijin istri) memutuskan untuk banting setir dari berstatus karyawan menjadi self employee sebagai konsultan SDM. Dan disinilah awal mula kisah kehidupan yang sebenarnya.
Anda bisa bayangkan dari seorang karyawan yang memiliki jabatan tinggi, penghasilan lumayan besar dan pasti di akhir bulan, saat itu saya harus berjuang sendiri tanpa sepengetahuan istri.
Kala itu saya merasa sebagai suami harus bisa membuktikan saya bisa memberikan nafkah dari manapun dan bagaimanapun caranya, istri tidak perlu tahu.😎👊💪
Mulailah saya tergoda dengan berbagai hal maksiat dan dosa. Sampai sekarangpun saya masih heran mengapa saya sampai hati melakukan hal tersebut, namun bagaimana lagi sudah terjadi.
Saat itu saya hidup dalam penuh kebohongan dan pencitraan. Namun sepandai-pandainya tupai melompat dia akan jatuh juga. 🐵
Maka pada suatu ketika terbongkarlah semua kebohongan dan pencitraan yang saya ciptakan tersebut. Akibatnya istri dan keluarga shock dan sayapun masuk ICCU, sungguh suatu titik terendah yang pernah saya rasakan sebagai manusia, suami, ayah dan imam keluarga.
Dalam keadaan terpuruk, hutang menumpuk, istri mencoba untuk bertahan dan memberanikan diri berdagang. Saya pun mau tidak mau harus membantu istri dengan menemani belanja, membuka dari satu lapak ke lapak lainnya.
Bayangkan dari posisi saya yang cukup tinggi kala itu, mendadak saya harus menggelar lapak di lapangan masjid dan pinggir jalan saat car free day di Cibinong dan Bogor.
Saat itu ego saya masih tidak bisa menerima keadaan yang terjadi. Dan saya merasa harus ada pihak yang bisa saya persalahkan (blaming) sehingga kondisi tersebut terjadi. Mulai dari mempersalahkan mantan bos, teman, ortu, sampai istri sendiri saya persalahkan.
Bisnis pun tidak berjalan dengan lancar, sehingga saya semakin punya alasan (excuse) terhadap masalah yang kami hadapi saat itu. Dan banyak penolakan (denial) dalam diri saya sehingga membawa saya semakin jatuh terpuruk..
bisnis yang kami jalankan saat itu (sejak 2010) adalah toko asesoris, EO training, dan family barbershop... bisnis gitu-gitu ajah gak berkembang.. zero growth.
Lalu pada tahun 2013, tepatnya sekitar bulan Agustus saya diajak istri untuk menghadiri workshop tentang COACHING.
Terus terang saya gak paham sama sekali apa itu coaching namun entah kenapa saya dan istri punya kesamaan keyakinan, bahwa metoda COACHING ini dapat menjadi solusi dalam pertumbuhan bisnis kami.
Kami pun harus merelakan mobil untuk dijual karena memang investasi untuk mendapatkan Certified Business Coach sungguh besar, apalagi saya dan istri ikut berdua. Setara dengan harga mobil MPV baru saat itu (2013).
Singkat kata kami mendapatkan sertifikasi dan mulai menjalani profesi dan identitas diri baru sebagai seorang Business Coach dengan brand Nahla Coaching Firm (NCF). Namun apa yang terjadi, sungguh diluar dugaan...
Dalam Coaching Program kami belajar banyak hal, diantaranya adalah law of attraction, mind programming dan time line therapy
Kami juga belajar dan memahami the evolution of value dan tentunya business frameworks.
Entah kenapa hampir semua klien kami ternyata memiliki latar belakang dan masalah mirip dengan kisah yang kami alami. Sehingga saat melakukan sesi coaching sebenarnya kami sedang melakukan self coaching.
Dan saat saya melakukan proses healing dengan mind programming, sebenarnya saya sedang healing diri kami sendiri. Cool isn't it?👍
Saya semakin paham mengapa hal-hal negatif dulu saya lakukan. Saya mencoba bangkit dari mindset negatif yang selalu Blaming, Excuse dan Denial (BED) menjadi mindset positif yg take Ownership, Accountable dan Responsible. (OAR)
Saya semakin yakin dan percaya bahwa orang-orang yang telah menyakiti, melukai batin dan berbuat buruk thd saya, sebenarnya sedang menjalankan peran yang diberikan Allah SWT dengan sangat baik, untuk menempa diri saya supaya bisa seperti hari ini...
Jadi kalo saya sakit hati dan baper dengan orang tersebut, maka saya yang salah.. dan tidak mampu melihat hikmah dibalik kejadian tersebut.
Bisa jadi kondisi kita saat ini terjadi karena ada kontribusi kita didalamnya...
Saya semakin paham bahwa pertumbuhan bisnis sejalan dengan pertumbuhan jati diri ownernya.
Perception is Projection and Projection becoming Reality. Maka hati-hati dengan persepsi kita karena bisa jadi kenyataan.
Dulu saya selalu termotivasi dengan kesuksesan orang lain, dan sering menghadiri seminar motivasi sukses berbisnis dan sebagainya.
Namun ternyata saya lupa bahwa sayapun harus belajar dari orang yang gagal. Mengapa?
Karena manusia cenderung melakukan kesalahan yang sama. Saya belajar dari kesalahan orang lain dan diri saya sendiri agar terhindar dari kesalahan yang sama.
Dengan metoda coaching pun menjadikan saya lebih nyaman saat menangani klien. Beda saat saya menjadi seorang konsultan dulu selalu harus tampak memiliki solusi dan menjadi rujukan klien. Sangat melelahkan perlu energi besar saat bertemu klien.
Sejatinya yang paham bisnis klien dari A sampai Z adalah klien itu sendiri. Sehingga yang paling paham soal solusi terbaik bagi bisnisnya adalah klien itu sendiri.
Hanya saja klien belum memiliki kerangka berpikir secara terstruktur dalam memilih solusi yang tepat sehingga kurang confident saat memilih decision/keputusan.
Jika dulu sebagai karyawan, kita punya supervisor, manager dan pimpinan yang bertugas memastikan pekerjaan dikerjakan sesuai rencana, memonitor dan memberikan motivasi.
Lalu bagaimana saat kita menjadi business owner? siapakah yang melakukan fungsi supervisor dan manager? yg memastikan aktivitas owner dan bisnisnya sesuai rencana yang dibuatnya...
Business owner juga manusia yang perlu tempat curhat dan berbagi cerita, pendamping/partner yang mau mendengar keluh kesahnya sebagai owner
Disinilah hadir peran seorang coach, pendamping dan pelatih business owner...
Coach tidak memberikan solusi kepada klien. Namun coach di-hire untuk melatih pola pikir klien agar lebih jernih mengurai tantangan, lalu memiliki habit yang produktif.
Dan pada akhirnya memiliki keyakinan pada dirinya sendiri serta value yang unggul untuk memutuskan solusi terbaik untuk bisnis dan kehidupannya.
Quote:
Rully Bhaskara:
saya merasakan dalam 3 bulan pertama sudah ada progress... demikian juga klien2 saya memberikan testimoni... 3-6 bulan pertama sudah ada progress yang positif
perubahan utama adalah keyakinan atas identitas diri sebagai pebisnis, karena identitas ini sangat perlu dimiliki dan dipahami oleh seorang pebisnis
perubahan kedua adalah habit, terus terang pebisnis tuh suka uang tapi ogah belajar dan mencatat tentang keuangan... akibatnya lost control di keuangan... nah habit ini terbentuk dalam 3-6 bulan pertama...
perubahan ketiga adalah life balance... sebelumnya sangat sibuk dengan urusan operasional bisnis... lupa olahraga dan bercengkrama dengan keluarga... padahal katanya kerja keras untuk keluarga.. keluarga yang gak kenal lagi sama ayahnya... saking sibuknya
itu beberapa progress yg terjadi saat saya dan klien menjalankan program coaching
saung bambu riung baru berjalan 1,5 tahun.. luas area sekitar 3000meter.. lokasi menjorok ke dalam sehingga bukan lokasi strategis utk orang mampir pinggir jalan...
sebelumnya konsepnya adalah resto biasa dengan lingkungan asri dan beberapa fasilitas penunjang spt pemancingan, dan arena bermain anak
namun ternyata klien kami bukan retail, namun kebanyakan adlah korporat, instansi, komunitas dan akhir-akhir ini sering dijadikan lokasi shooting sinetron
kami rubah strategi menjadi function space dengan fasilitas resto
saat ini Saung Bambu Riung memiliki mini zoo, kolam renang anak, beberapa spot foto instagramable dan fasilitas penunjang lainnya
kami dikontrak oleh 2 production house untuk dijadikan lokasi sinetron dalam setahun ini... dan menjadi tempat pelatihan K3 (safety) oleh salah satu provider telekomunikasi
jadi basis klien kami sekarang adalah korporasi dan komunitas
Padahal tim operasional kami hanya 3 orang
Learn from mistakes, do better with confident.
Kondisi hari ini terjadi bisa jadi karena perilaku kita di masa lalu
Dan masa depan ditentukan oleh perilaku dan aksi yg kita lakukan hari ini.. be responsible and stay positive
Diubah oleh ibliss666 30-12-2018 06:27
0
Kutip
Balas