TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.1K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#15
Quote:
Perkenalkan, nama saya Rachmah Setyawati, 44thn . Mempunyai satu orang putri. Suami saya adalah karyawan di sebuah perusahan IT .
Saya seorang Ibu Rumah Tangga, yang kebetulan mempunyai passion sangat kuat di dunia memasak dan membuat kue.
Sejak menikah thn 1999, saya memutuskan untuk tidak lagi bekerja di sebuah perusahaan export import marmer. Untuk mengisi waktu senggang, saya mengasah passion saya dengan lebih sering belajar secara otodidak membuat kue untuk keluarga.
Lumayan sering saya melakukannya, paling tidak setiap bulan saya jadikan hari ulang tahun setiap keluarga saya/suami jadi target kelinci percobaan saya hehhee.
Hasil dari belajar otodidak dan ditambah mengikuti beberapa kursus kue di tempat lain. Saya memberanikan diri menerima pesanan kue-kue snack box saat itu. Buta ilmu bisnis, tidak mengerti tentang apa itu branding, dan sebagainya, saya nekat memproklamirkan diri saya sebagai penjual kue snack box

Hanya bermodal oven tangkring sederhana, 1 buah handmixer dan perlengkapan dapur seadanya dan dibantu 1 tenaga pembantu harian, saya mulai banyak melayani pesanan snack box.
Saking nekatnya...
Satu hari saya beranikan menerima pesanan 1000 box kue . Alhamdulillah dengan segala cara pesanan bisa terselesaikan. Dan setelah selesai serah terima pesanan di lokasi acara, saya pun SUKSES pingsan di halaman parkir mobil

Sejak itu saya KAPOK!
Trus ? Berhenti tidak berjualan?
Oh tidak dong...
Saya tak kurang akal sih ..
Saat itu, kebetulan saya mulai mengenal apa itu namanya internet. Sekitar thn.2006. Saya mulai blogging , membuat blog di blogspot dan aktif membangun pertemanan di Multiply (seperti FB jaman itu). Nah, disinilah titik balik semuanya.
Wawasan saya perlahan-lahan bertambah.
Saya memutuskan stop menerima pesanan snack box dan beralih memilih berjualan produk kue tart dan kue-kue hantaran . Serta memutuskan hanya akan memakai jalur pemasaran dan promosi via online saja .
Alhamdulillah respon pasar sangat baik.
Kok bisa ??
Setelah saya mengikuti kelas-kelas Pak Bi, saya baru mengerti bahwa cara saya berjualan selama bbrp tahun ini secara tidak sadar sudah menjalankan bahwa Brand itu sangat penting untuk dibangun , dan harus dilakukan secara terus-menerus agar pada akhirnya kita mampu mempunyai apa itu yg disebut Pelanggan.
Masih ingat pertanyaan Pak Bi :
“Lebih baik mana SELLING dulu atau BRANDING dulu? “
Dan memang, yang saya rasakan akan lebih cepat mendapatkan Pelanggan dgn cara membangun brand dahulu.
Salah cara yang saya lakukan adalah saya tidak pernah melakukan hard selling ke calon pembeli saya. Tetapi, pelan-pelan saya bangunkepercayaan mereka dengan seringnya saya mengupload hasil baking di sosmed saya. Saya berikan tips and trik bagaimana membuat kue yang benar dll. Saat mrk sudah percaya kepada saya , secara otomatis mereka dengan mudah percaya untuk membeli produk yang saya tawarkan begitu saya mengeluarkan sebuah produk . Melihat respon kepercayaan mereka inilah, akhirnya sejak 2010, saya memutuskan fokus berjualan kue via online dengan lewat merk Kedai Rachmah.
4 thn belakangan, saya memilih fokus mempromosikan salah satu produk best seller Kedai Rachmah , kue Klappertaart Manado.
Alhamdulillah , respon pasar terhadap produk kue klappertaart ini sangat bagus di Kedai Rachmah. Dari yg dulu hanya memproduksi berdasarkan pesanan saja. Lalu sdh produksi setiap harinya saat ini. Terlebih saat ramadhan dan lebaran seperti ini , pesanan bisa melonjak hingga 2 -3 kali lipat.
Sekitar 65-70% Customer KR adalah pelanggan setia yang telah membeli produk KR sejak 2010. Jujur saja, saya yg hanya boleh dikata masih menjalankan usaha ini dengan SDM seadanya saja dan masih hanya mengandalkan promosi lewat media sosial saja, alhamdulilah setiap bulannya mampu menghasilkan omzet yang cukup bisa diandalkan untuk menggaji 3 orang karyawan saat ini. Dan semua itu kalau saya amati , lebih banyak karna peran para pelanggan. Karna kepercayaannya terhadap produk KR, jdi setiap kali kami keluarkan produk baru mereka selalu merespon dengan baik.
Quote:
Pertanyaan pertama:
Apakah ibu, mmg dari awal sgt tertarik di kuliner, punya talenta atau serius belajar ttg ilmu kuliner dan dan hokki di situ?
Menebalkan ilmu PeDe, dari pendahulu spri nila sari dll. Akan keseriusan ibu menggarap alahan kue, by order online.
Terima kasih jwbnnya.
Doried 39th,pekanbaru
JAWAB:
Bisa jadi ketertarikan saya di bidang kuliner berawal dari seringnya dahulu mengamati Ibu saya yang suka berekplorasi aneka masakan dan kue di dapur saat saya masih kecil☺️. Saya perhatikan Ibu sering menyajikan snack/masakan dengan penyajian yg sedikit berbeda dari umumnya , juga suka sekali mencoba berbagai resepmakanan saat itu
Saat pertama menikah , saya ingat betul . Saya beli 1 bh hand mixer dgn cara mencicil kala itu, hanya karna saya ingin buat sesuatu saja untuk keluarga kecil saya.
Tapi , bisa jadi faktor pemicu kenekatan menerima pesanan adalah karna saya tidak kerasan untuk berdiam diri dirumah tanpa melakukan sesuatu hehehe, mungkin karna sdh terbiasa bekerja dulunya
Tapi untuk kerja kantoran lagi, saya sdh tdk begitu tertarik, karna saya berpikir saat itu saya pasti akan sibuk di kantor dan meninggalkan putrisaya ygmasih kecil.
Jadi saya berusaha putar otak bagaimana saya bisa tetap beraktitifas positif, menghasilkan uangjuga tapi tidak harus keluar rumah
ASK
assalamualikum. tentang Branding dari bu rahma. ada pertanyaan dari kami... yaitu. nama usahanya KEDAI RAHMA. pertanyaannya adalah. kedaikan bahasa melayu. sedangkan bu rahma menjual makananan kue khas manado. bagaimana menciptakan brand itu bisa menyatu dengan produknya? dan rata rata pelanggan setianya sampai 70 persen bertahan dari tahun 2010. adakah hal khusus dlm mempertahankan pelanggan tersebut dalam hal ini produk kue.
JAWAB:
Pertama, tentang Kedai Rachmah , nama ini saya pilih dengan maksud Kedai (tempat berjualan aneka makanan) dan Rachmah (nama si pembuat produk makanannya). Jadi Kedai Rachmah adalah tempat yang menjual aneka makanan/kue yang dibuat oleh Bu Rachmah.
Saat memutuskan ingin mengusung Kue Klappertaart Manado , bukan tidak ada pergolakan hehe. Memang sempat muncul kendala saat memasarkannya
Dgn menggunakan brand Kedai Rachmah
-khusus untuk produk klappertart-
Tapi setelah kami amati, masalah ini muncul hanya pada target calon konsumen offline saja, misal saat kami bazar/pameran. Terasa memang ada sedikit gep bagi calon cust untuk menghubungkan nama KR dgn produk klappertaart yg notebene berasumsi produk Manado/Belanda
Sedang untuk para pelanggan, sama sekali tidak ada masalah .
Bahkan pernah saya melakukan survey via WA , dengan menanyakan kemungkinan KR untuk rebranding khusus buat produkn klappertartnya, 70% mengatakan tdk perlu, karna mrk tahunya ya KR yg enak dan halal klappertartnya. ☺️
Sebagian lainnya ada yg setuju
Tapi sebagian besar lainnya nggak peduli mau ganti nama/cocok apa nggak yg penting masih produksi Kedai Rachmah mereka percaya dan mau beli
Salah satu cara saya mempertahankan brand image ini adalah satu misal, tentang postingan foto produk di sosmed . Baik di sosmed pribadi maupun akun KR . Wajib hukumnya tidak boleh memposting foto makanan dgn angle /tampilan yang jelek
Kalau sampai ada staff admin yg posting foto jelek pasti harus langs dihapus dan tdk boleh lagi diulangi posting foto produk yg jelek
Sehingga dgn kita menjaga image produk kita tetap tampil bagus dan prima, para pelanggan pasti akan merasa bangga karna telah membeli produk kita/ telah memberi produk kita untuk diberikan kepada koleganya
ASK:
Kenapa pilih kue?
JAWAB:
Saya pilih fokus mengusung produk klappertaart karna ini berdasarkan survey . Dari sekian produk yg ditawarkan KR ternyata produk ini menduduki posisi permintaan tertinggi.
Alasan kedua, bersamaan dengan itu saya juga sengaja berpikir mencari satu produk yang bisa saya pasarkan hingga jangka waktu lama. Jadi produk ini haruslah yang demending dan mudah didelegasikan untuk proses produksinya. Jadi saya bisa melakukan smart Up kemudian one day bisa mudah melakukan scaleUp usaha saya.
Dibandingkan kalau saya menawarkan produk kue tart , agak susah untuk mendelegasikan proses produksinya kan
Apakah ibu, mmg dari awal sgt tertarik di kuliner, punya talenta atau serius belajar ttg ilmu kuliner dan dan hokki di situ?
Menebalkan ilmu PeDe, dari pendahulu spri nila sari dll. Akan keseriusan ibu menggarap alahan kue, by order online.
Terima kasih jwbnnya.
Doried 39th,pekanbaru
JAWAB:
Bisa jadi ketertarikan saya di bidang kuliner berawal dari seringnya dahulu mengamati Ibu saya yang suka berekplorasi aneka masakan dan kue di dapur saat saya masih kecil☺️. Saya perhatikan Ibu sering menyajikan snack/masakan dengan penyajian yg sedikit berbeda dari umumnya , juga suka sekali mencoba berbagai resepmakanan saat itu
Saat pertama menikah , saya ingat betul . Saya beli 1 bh hand mixer dgn cara mencicil kala itu, hanya karna saya ingin buat sesuatu saja untuk keluarga kecil saya.
Tapi , bisa jadi faktor pemicu kenekatan menerima pesanan adalah karna saya tidak kerasan untuk berdiam diri dirumah tanpa melakukan sesuatu hehehe, mungkin karna sdh terbiasa bekerja dulunya
Tapi untuk kerja kantoran lagi, saya sdh tdk begitu tertarik, karna saya berpikir saat itu saya pasti akan sibuk di kantor dan meninggalkan putrisaya ygmasih kecil.
Jadi saya berusaha putar otak bagaimana saya bisa tetap beraktitifas positif, menghasilkan uangjuga tapi tidak harus keluar rumah
ASK
assalamualikum. tentang Branding dari bu rahma. ada pertanyaan dari kami... yaitu. nama usahanya KEDAI RAHMA. pertanyaannya adalah. kedaikan bahasa melayu. sedangkan bu rahma menjual makananan kue khas manado. bagaimana menciptakan brand itu bisa menyatu dengan produknya? dan rata rata pelanggan setianya sampai 70 persen bertahan dari tahun 2010. adakah hal khusus dlm mempertahankan pelanggan tersebut dalam hal ini produk kue.
JAWAB:
Pertama, tentang Kedai Rachmah , nama ini saya pilih dengan maksud Kedai (tempat berjualan aneka makanan) dan Rachmah (nama si pembuat produk makanannya). Jadi Kedai Rachmah adalah tempat yang menjual aneka makanan/kue yang dibuat oleh Bu Rachmah.
Saat memutuskan ingin mengusung Kue Klappertaart Manado , bukan tidak ada pergolakan hehe. Memang sempat muncul kendala saat memasarkannya
Dgn menggunakan brand Kedai Rachmah
-khusus untuk produk klappertart-
Tapi setelah kami amati, masalah ini muncul hanya pada target calon konsumen offline saja, misal saat kami bazar/pameran. Terasa memang ada sedikit gep bagi calon cust untuk menghubungkan nama KR dgn produk klappertaart yg notebene berasumsi produk Manado/Belanda
Sedang untuk para pelanggan, sama sekali tidak ada masalah .
Bahkan pernah saya melakukan survey via WA , dengan menanyakan kemungkinan KR untuk rebranding khusus buat produkn klappertartnya, 70% mengatakan tdk perlu, karna mrk tahunya ya KR yg enak dan halal klappertartnya. ☺️
Sebagian lainnya ada yg setuju
Tapi sebagian besar lainnya nggak peduli mau ganti nama/cocok apa nggak yg penting masih produksi Kedai Rachmah mereka percaya dan mau beli
Salah satu cara saya mempertahankan brand image ini adalah satu misal, tentang postingan foto produk di sosmed . Baik di sosmed pribadi maupun akun KR . Wajib hukumnya tidak boleh memposting foto makanan dgn angle /tampilan yang jelek
Kalau sampai ada staff admin yg posting foto jelek pasti harus langs dihapus dan tdk boleh lagi diulangi posting foto produk yg jelek
Sehingga dgn kita menjaga image produk kita tetap tampil bagus dan prima, para pelanggan pasti akan merasa bangga karna telah membeli produk kita/ telah memberi produk kita untuk diberikan kepada koleganya
ASK:
Kenapa pilih kue?
JAWAB:
Saya pilih fokus mengusung produk klappertaart karna ini berdasarkan survey . Dari sekian produk yg ditawarkan KR ternyata produk ini menduduki posisi permintaan tertinggi.
Alasan kedua, bersamaan dengan itu saya juga sengaja berpikir mencari satu produk yang bisa saya pasarkan hingga jangka waktu lama. Jadi produk ini haruslah yang demending dan mudah didelegasikan untuk proses produksinya. Jadi saya bisa melakukan smart Up kemudian one day bisa mudah melakukan scaleUp usaha saya.
Dibandingkan kalau saya menawarkan produk kue tart , agak susah untuk mendelegasikan proses produksinya kan
Diubah oleh ibliss666 29-12-2018 11:33
0
Kutip
Balas