Kaskus

Story

memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
Quote:


Spoiler for cover:


Quote:


Quote:
Diubah oleh memedruhimat 01-08-2025 14:04
alizazetAvatar border
nomoreliesAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 25 lainnya memberi reputasi
26
48.6K
176
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
#48
Quote:


"Hai, apa kabar?" gue menghampiri dan langsung menyapa si Puspa yang lagi duduk di teras depan gedung Rektorat. Dia di sana bareng sama si Dewi.

"Hai Ri." si Dewi juga menyapa gue.

"Hai Wi."

"Wah, kamu mulai rajin ya ikut kegiatan UKM." si Puspa ngomong basa-basi ke gue.

Dan basa-basi itu pun terus berlanjut hingga si Dewi yang pamit pulang duluan, apalagi mengingat malam sudah mulai larut.

"Kamu enggak pulang?" kata gue ke Puspa.

"Nanti aja, emang kamu udah mau pulang?" balas dia.

"Enggak juga sih, aku pengen istirahat dan cari minum dulu." gue balas.

"Terus kamu mau ke mana? Kantin kan udah tutup." kata si Puspa.

"Iya aku biasanya nongkrong di luar sih, tapi ga jauh dari kampus koq."

"Oh gitu, ya udah."

Si Puspa lantas cuma diam aja, sementara si Dewi udah pulang duluan. Gue jadi kepikiran kan, masa dia mo gue tinggalin sendirian. Lagian, tumben koq temen-temennya yang banyak kemarin itu pada kagak ada. Jadilah gue ajak aja dia ikut ke Ma'oi.

"Mau ikut aku aja?" tanya gue.

"Iya." jawabnya singkat.

Akhirnya Puspa ikut jalan sama gue ke warung Ma'oi.

Dan gue baru menyadari kalo si Kun ikut ngebuntutin di belakang kami, gue kira dia udah jalan duluan ke Ma'oi.

Ternyata mengajak si Puspa ke Ma'oi bukanlah suatu ide yang bagus. Tadinya gue mau duduk santai dan minum teh panas sambil makan roti, namun semuanya jadi runyam dan batal. Karena seisi warung penuh bergema oleh kombinasi ledekan maut dari si Buyung dan Mak.

"Oh, ini pacarnya si Ari... kenalin dulu donk ke Mak." dengan terang-terangan Mak ngomong gitu depan gue dan Puspa.

"Ciee... yang pacaran..." si Buyung nyahutin.

"Duh pulangnya ditungguin. Eh mo ke mana tuh, abis ini mo mojok beduaan ya?"

Suara Mak dan si Buyung bercampur aduk tumpang tindih tiada habisnya.

"Jadi ini beneran pacaran apa nggak sih?" tanya Mak.

Gue diem aja ga mau jawab, gue pikir... palingan si Puspa yang bakal langsung nyamber dan bilang kita nggak pacaran. Tapi... koq dia juga malah diam aja.

"Kalo diliat nih ye mak... roman-romannye... masih pedekate doank Mak." kata si Buyung dengan gaya bisik-bisik, tapi suaranya kedengeran dengan sangat jelas.

"Ya ampun... udah berapa lama nih pedekate-nya?" Mak pun makin interogatif dengan pertanyaan-pertanyaannya.

"Kayanya sih udah satu semesteran Mak pedekatenya, antara si cowok yang lambat gerak atau cewek yang slow respon? Nah, gimana nih Mak?" lagi-lagi si Buyung dengan gaya berbisik plus ekspresi meledek.

Gue sebetulnya males ngeladenin pertanyaan-pertanyaan dan obrolan-obrolan yang menyangkut hubungan gue dengan si Puspa.

"Eh ati-ati sama Tuyul yang satu ini, dia ini plaboy kelas lele." kata gue sambil nunjuk-nunjuk si Buyung waktu ngenalin ke si Puspa.

Puas basa basi, akhirnya gue milih pulang aja daripada obrolan semakin larut dengan tema-tema asmara tidak berujung.

Dan seperti biasa... pas lagi mundurin motor, gue pun dihujani berbagai ceng-cengan khas dari para bocah-bocah bojongkenyot dan bojongsoang.

"Busweett.... boncengan mesra beeet... laler aja kagak bisa lewat." suara bocah-bocah yang pada meledek.

Akhirnya seiring motor berjalan semakin menjauh suara-suara itu semakin hilang dan berganti dengan suara klakson dan irama kemacetan jalanan pinggiran kota.

***


Dalam perjalanan menuju kota Bekasi, di sepanjang padatnya lalu lintas Kalimalang, gue dan Puspa hanya berdiam saja.

Singkat cerita---sampailah kita di rumahnya Puspa.

"Kamu masuk dulu donk ya." dia ngomong ke gue.

"Iya deh, tapi apa nggak ganggu orang tua kamu? Barangkali kan mereka udah mau istirahat." gue balas gue.

"Enggak koq, masuk aja dulu."

Keadaan di dalam rumah sudah sangat sepi, tapi gue masih sempet ketemu sama bapak dan ibunya Puspa. Tadinya gue mau ngucapin salam aja dan pengen cabut, karena ga enak takut ganggu. Apalagi pas gue lihat jam udah menunjukkan lewat pukul sembilan malam. Tapi ibunya nyuruh gue duduk dan minum teh dulu, si Puspa disuruh ke dapur bikinin gue minum. Nggak cuma itu aja, gue juga disediain makan (padahal gue nggak minta).

"Makan ya Ri, seadanya aja." kata Puspa yang bawain gue sepiring nasi dan lauk sayur sama sebutir telur pindang rebus.

"Wah, ga usah repot Pa." gue balas.

"Kan tadi kamu bilang di warung Ma'oi mau makan, tapi malah ga jadi. Ya udah, ini makan aja dulu." katanya lagi.

Ya udah, masa kita mau menolak rejeki. Gue pun makan sementara si Puspa pergi mandi dan ganti baju. Bapak dan ibunya udah masuk ke kamar, jadi gue ditinggal sendiri di ruang tengah.

Selesai makan, gue masih duduk di ruang tengah. Rumahnya Puspa sangat sederhana, kita duduk lesehan aja di lantai beralas matras.

Dan akhirnya Puspa udah selesai ganti baju dan keluar kamar. Mendadak gue jadi kayak terpaku gitu melihat sosok dirinya. Ada sebuah perasaan yang sangat ingin gue hilangkan dari dalam diri gue, tapi sekarang jadi bergejolak kembali.

Puspa mendekat ke arah gue dan dia berbaring di samping gue, sementara gue masih duduk bersila. Kami bengong aja nonton acara TV, karena nggak ada tayangan yang menarik.

Setelah cukup lama, gue pikir kayaknya udah waktunya gue pulang aja. Lagian gue juga udah cukup duduk dan nurunin makanan dari tadi. Tapi, baru aja gue akan pamit, si Puspa langsung menahan gue.

"Bentar lagi donk." katanya ke gue.

"Kan ga enak sama orang tua kamu udah malem gini nih." gue balas.

Iya, jujur aja gue beneran nggak enak. Belum pernah gue bertamu ke rumah orang sampai selarut ini. Tadi waktu gue dateng masih sekitar jam sembilan lewat, tapi sekarang udah jam sepuluh.

"Mereka udah tidur, enggak pa pa koq." kata si Puspa. Dan tiba-tiba aja dia menggenggam tangan gue erat banget. "Kita ngobrol-ngobrol dulu donk." katanya lagi.

"Ngobrolin apa?" gue balas.

"Apa aja kek." balas dia.

Gue masih belum tau mau ngomongin apaan, hingga si Puspa kemudian bangun dari posisi tidurnya. Wajahnya mendekat persis ke depan wajah gue, mata kami saling bertukar tatapan satu sama lain.

"Kenapa kamu jatuh cinta sama aku? Apa yang kamu lihat dari aku?" dia ngomong pelan.

Gue membelai rambutnya, merasakan helai yang lembut dan tipis. Rambut itu masih panjang waktu pertama kali kami bertemu, tapi dia baru saja memotongnya pendek baru-baru ini.

"Mana ada orang yang bisa jawab pertanyaan seperti itu? Apakah cinta itu butuh sebuah alasan?"

Puspa kembali menggenggam tangan gue yang lagi membelai rambutnya itu.

"Aku udah tau koq, kamu sebetulnya udah punya pacar kan?" tambah gue lagi.

Quote:


"Kenapa kamu nangis?"

"Aku enggak bisa kehilangan kamu." ucapnya sambil berusaha menahan tangis.

"Tapi kamu kan cuma mau temenan sama aku, berarti kamu enggak bener-bener cinta sama aku." gue balas.

"Cinta kan enggak cuma harus sebagai pasangan."

"Tapi aku enggak sanggup kalau hanya sebatas teman kamu."

"Kenapa begitu?"

"Kamu pikir semudah itu?"

"Aku enggak tau harus bilang apa, aku cuma mau kamu ngerti keadaan aku."

"Iya aku ngerti maksud kamu, kamu mau aku menyadari kalo kamu enggak memilih aku sebagai pasangan hidup kamu kan?"

"Bukan begitu... tapi... maksud aku..." suara itu semakin serak, tertahan oleh tangis yang sudah memuncak dan sesak di dada.

Gue terdiam menunggu dia melanjutkan kalimatnya.

"Aku... walaupun aku enggak pacaran sama kamu... tapi itu bukan berarti aku enggak suka sama kamu. Aku enggak mau sampai kamu benci aku, aku enggak mau kehilangan kamu."

"Kalau kamu emang pilih dia, aku enggak apa-apa, aku kan udah bilang aku mundur." gue bilang lagi ke dia.

"Justru itu maksud aku! Kamu enggak paham, aku enggak mau kamu menghilang gitu aja."

"Nggak bisa... kalo kayak gitu, justru... aku harus pergi... karena..."

"Kenapa?"

"Apa kamu nggak pernah mikir gimana perasaan aku, kalo melihat kamu bersanding bersama pria lain?"

Sepasang mata yang berlinang itu kemudian menatap tajam kepada gue.

"Kalo aku putusin cowok aku, gimana?"

Gue terdiam sejenak.

"Tapi kamu cinta sama dia?" tanya gue kemudian.

Dan Puspa pun semakin nangis sampai terisak-isak.

Quote:


Spoiler for :


"Iya lah dia kan cowok aku, pastilah aku cinta sama dia. Tapi aku akan putusin dia demi kamu... gimana?" dia ngomong lagi ke gue.

Quote:


"Kalau aku mau kamu melakukan itu bagaimana?" gue balas.

Quote:


Puspa hanya terdiam, jadi gue biarkan dia menenangkan diri.

"Ri, kamu serius ya sama aku." suaranya kemudian terdengar berbisik lemah.

"Iya, tentu aja aku serius." gue jawab dengan berbisik ke telinganya.

Kemudian, kami pun saling berpelukan seperti tidak mau saling melepaskan.

Setelah itu pembicaraan tidak berlanjut.

Malam sudah semakin larut dan gue yakin dia pun lelah. Maka gue memutuskan untuk membiarkannya beristrahat, mengingat gue juga udah waktunya harus pulang.

Spoiler for gelapnya malam gelapnya hatiku:


***


Spoiler for Apakah kamu serius?:


***


Tiba-tiba gue langsung terbangun!

Ya... gue baru saja terbangun dengan tubuh yang bersimbah keringat dan nafas yang tersengal-sengal. Mulanya gue menggapai-gapai seperti orang yang sedang tenggelam mencari udara. Hingga kemudian gue terhuyung dari atas tempat tidur, dan terjerembab di lantai.

Badan gue nggak tau kenapa rasanya lemes banget, kayak baru lari marathon keliling Atlantis. Gue berjalan dengan langkah lungai ke dapur dan minum air putih sebanyak-banyaknya. Gue terduduk dan masih berusaha mengumpulkan kesadaran.

Tadi itu... gue cuma bermimpi...

Ya... itu cuma mimpi...

Tapi rasanya bener-bener kayak baru bangun dari mimpi buruk.
Diubah oleh memedruhimat 30-07-2025 21:24
itkgid
itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.