Kaskus

Story

memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
Quote:


Spoiler for cover:


Quote:


Quote:
Diubah oleh memedruhimat 01-08-2025 14:04
alizazetAvatar border
nomoreliesAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 25 lainnya memberi reputasi
26
48.6K
176
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
#47
Chapter 18

Next Day



"Eh coba bayangin---gimana rasanya mengejar seseorang, padahal kamu udah menyadari kalo kamu ga bakal bisa jadian sama orang itu." siang itu gue lagi ngobrol sama Tia.

"Emang kemaren kamu ngobrol apaan sama doi kamu?" tanya Tia.

"Ga tau juga deh... bingung aku." gue jawab.

"Lah... gimana sih?"

"Nah dari kemaren aku mulu yang cerita. Kamu sendiri gimana? Katanya kan kamu juga lagi gebetin seseorang, siapa tuuh?" kali ini giliran gue yang bertanya.

"Ah, cuma gitu-gitu aja sih."

"Emang cowok yang kamu gebet siapa sih?"

"Dia kakak senior."

"Naah... tuuh kan, kakak senior. Udah kuduga deh." gue balas. "Senior Sastra?"

"Iya..." jawab Tia dengan nada agak ragu. "Kayaknya iya deh... hehehe..."

"Lho, koq ga tau? Emang kamu belum pernah ngobrol sama dia?"

Tia cuma geleng-geleng doank sambil cengar cengir.

"Lhaah... itu sih namanya kamu cuma 'secret admirer' doank."

Tia pun cuma angguk-angguk sambil cengengesan.

"Emang yang mana sih orangnya? Namanya siapa?" gue tanya. Ya kali aja kan gue tau orangnya.

"Ga tau lah, orang belum kenal." balas Tia dengan polosnya.

"Hhee...?? Ya udah, coba tunjukin sama aku yang mana orangnya."

"Aku sih ga tau dia di mana. Tapi kelihatannya sih dia aktif di BEM Sastra, kadang dia juga suka ada di ruang himpunan, kalo nggak ya paling di Kantin Sastra. Kalo kamu mo coba nyari, tongkrongin aja kantin Sastra, siapa tau nanti dia muncul di sana."

"Ah gue tau," gue bilang. "Mending kita nungguin di samping masjid aja."

Soalnya posisi halaman samping masjid itu sangat strategis. Ruang himpunan, lapangan basket, dan kantin sastra semua bisa kelihatan.

Nggak lama kita duduk-duduk sambil kasak-kusuk ga jelas, terlihat seorang cowok yang baru aja keluar dari gedung fakultas Sastra.

"Naah, yang itu tuh. Yang pake baju kaos putih." Tia langsung menunjuk ke arah cowok tersebut.

"Itu yang kaos putih ketat sama celana jins?" gue mencoba menyakinkan lagi biar nggak salah orang.

"Iyaa yang rambutnya ala-ala tentara gitu."

Gue perhatiin ciri-cirinya yang sangat khas. Emang sih, itu cowok glowing banget dan tampan. Beda banget sama kebanyakan cowok-cowok di sini. Tapi...

Quote:


"Aku manggilnya si 'Lepet'." kata si Tia dengan polosnya.

"Lepet? Kaya kue Lepet gitu??" gue balas.

Spoiler for lepet ketan:


"Iya, abisnya kan dia bajunya selalu ketat-ketat gitu, kaya bungkusan kue lepet." jawab si Tia---dan lagi-lagi dengan muka polos nan lugu.

"Kamu demennya cowok model gitu?"

"Emang kenapa?" tanya dia.

"Ya, gapapa sih." gue bales. "Betewe, terus... kamu mau kenalan sama dia?"

"Eh nggak! Malu ah, masa aku yang deketin dia."

"Ya enggak lah, aku yang comblangin. Aku yang kenalan ma dia terus aku kenalin dia ma kamu. Gimana?"

"Ah, enggak mau aah... ga mau ga mau...!!" Tiba-tiba mukanya si Tia langsung jadi makin merah kaya tomat mateng baru jatoh dari pohon.

"Laah, gimana sih? Katanya suka, masa cuma ngeliatin dari jauh doank."

"Enggak aah... takuut." dia geleng-geleng sambil pegangin pipinya yang memerah.

"Takut diapain sih? Masa dia mo ngegigit, kayanya dia enggak ada tanda-tanda rabies deh."

"Ga mao ga mao...! Udah ah... cabut yuuk dari sini!!" si Tia langsung ngegandeng tangan gue dan narik gue pergi dari situ.

Kita berdua kabur ke teras belakang gedung Rektorat dan akhirnya duduk-duduk di situ.

Pembicaraan sore itu berakhir dengan si Tia yang kumpul kembali dengan si Cucun dan Lia, katanya mereka mau nongkrong ke Siputnet. Gue juga diajakin, tapi gue bilang kalo gue mau istirahat. Karena nanti malam gue ada latihan Kempo sama si Kun.

***


Sebelumnya gue jarang banget mendapati si Kun nongkrong di warung Ma'oi.
Tapi semenjak kami latihan Kempo bareng, sekarang dia jadi mulai sering ke warung Mak lagi.

Quote:


"Eh, ada si Arik tuh!" seru si Mak, yang lagi duduk di kursinya seperti biasa.

Si Buyung langsung muncul dari pintu belakang dapur, "Naah... sini loe, ayo nongkrong di belakang." dia manggil gue sambil melambaikan tangan.

"Gue mau makan dulu nih." jawab gue.

"Makan tapi jangan banyak-banyak, nanti ngantuk." si Kun langsung nyeletuk.

"Eeeh, ada si Tuyul juga Mak! Tumben tiba-tiba nongol ni anak." kata si Buyung sambil jari kurusnya nunjuk-nunjuk si Kun.

"Tau tuh, lama ga pernah kemari tiba-tiba nongol lagi. Dia sih kalo lagi susah aja dia ingetnya sama kita." ledek si Mak. "Eh, Ri... kamu kenal sama orang ini?" si Mak kemudian tanya ke gue.

"Kenal lah Mak." gue jawab.

"Kita latihan Kempo bareng sekarang." kata si Kun.

"Walaah, Ri... loe begaul ma si Tuyul ini? Yaah salah gaul lagi dah." si Buyung langsung nyamber.

"Alaa diem aja loe! Loe tu alay bojong salah gaul juga! Udah tua gini masih begaul ma bocah-bocah." balas si Kun.

"Nah, mulai deh ceng-cengan. Kalo berisik di luar aja, Mak mo nonton sinetron." kata si Mak.

"Ri, sini makan di belakang aja." kata si Buyung.

"Udah loe sini aja makan bareng gue." kata si Kun.

Karena gue kemari bareng si Kun, kayaknya ga enak donk kalo ninggalin dia gitu aja. Jadi gue memutuskan buat makan di kursi depan bareng si Kun aja.

"Eh, loe ada pacar baru ya?" kata si Kun sambil cengar-cengir.

"Ah, loe tau dari mana?" jawab gue.

"Gue kan sering liat loe beduaan di fakultas. Ah lo tuh kalo mo beduaan pilih tempat yang romantis laah. Eh, tapi selera loe boleh juga bro. Nah mending sama cewek lo yang sekarang tuh daripada bokin loe yang lama, dia kagak cocok buat lo. Yang ini gue yakin cocok, kayaknya dia perhatian banget sama lo."

"Ah, parah, masa loe ngintipin gue?"

"Kan udah gue bilang, gue itu punya 'jutsu' untuk menghilang."

"Pantesan loe dikatain Tuyul."

"Eh, bagusan loe pacarin cewek lo yang sekarang. Lagian pacaran itu yang bikin kita semangat kuliah bro."

"Nah, pacar loe sendiri siapa?" gue tanya balik.

"Wah, loe belom tau loe ya. Pacar gue itu keren banget coy! Nanti ya gue kenalin."

"Adek kelas?" tanya gue.

Jujur aja awalnya gue ragu banget, apa iya orang buluk kayak gini bisa punya pacar. Tapi kan ada aja sih cerita, cowok yang tampangnya jelek bukan main, tapi ceweknya cantiknya bukan main.

"Bukan, dia temen satu angkatan." si Kun jawab.

"Namanya siapa?" gue tanya lagi.

"Ya elaah, anak kecil penasaran aja." dia balas.

"Ya kan loe senior gue, boleh lah gue belajar dari orang yang udah lebih senior." ucap gue.

"Wah, nih anak mo ikut-ikutan jadi playboy rupanya."

"Emang loe playboy?"

"Sshhh!! Kagak boleh mempertanyakan kredibilitas guru loe!" serunya, sambil mengangkat jari dan bergaya ala ala guru silat di film-film kung fu jaman dulu.

"Eh bro! Loe kagak cocok jadi pendekar Kung Fu. Setau gue, guru-guru Kung Fu itu tuh rambutnya botak. Terus tua dan jenggotan."

Spoiler for Kung Fu:


"Sembarangan loe!! Gue nih bukan sembarang pendekar Kung Fu, gue prajurit Super Saiyan. Nanti loe liat pas latihan sama gue. Tapi gue rasa sih loe kagak bakal sanggup ngimbangin, secara bodi loe aja masih lembek kaya bubur jagung gini." katanya sambil meledek lengan gue yang kurus dan lembek.

"Ya iya lah, gue kan mahasiswa bukan tukang pukul." gue jawab.

"Di jalanan nggak ada yang peduli mo lo mahasiswa kek, mahaguru kek. Kalo lo udah salah masuk ke sarang penyamun, lo bakal disikat, dihabek, tanpa pandang bulu. Jalanan itu keras bro!"

Quote:


Obrolan terus berlanjut.

"Eh, terus cewek loe yang dulu itu gimana?" tanya si Kun.

"Ah, koq kita jadi ngomongin dia lagi sih."

"Ya bagus lah kalo loe udah move on dari dia. Lagian... percaya deh sama gue, dia itu enggak baik buat loe."

"Ah, loe tau dari mana? Gimana loe bisa menilai seperti itu?" tanya gue.

"Loe kagak percaya sama gue? Nanti kalo loe udah liat sendiri, baru lo nyesel seumur idup." kata si Kun.

***


Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore, latihan pun dimulai.

Latihan Kempo kala itu menggunakan lobby gedung Rektorat, katanya sudah turun temurun anak-anak Kempo latihan di situ. Kalau ada Gashuku (Latihan gabungan) bersama anak-anak Kempo dari Dojo yang lain maka juga akan dilaksanakan di situ. Tapi udah lama enggak diadakan Gashuku di Kampus kami, karena wilayah Jakarta Timur lebih suka latihan di Hombu (Markas Pusat) yang terletak di Pondok Gede.

"Kenapa kita enggak undang Dojo dari kampus lain buat ngadain Gashuku di sini?" tanya gue.

"Ya lantaran kita enggak punya pengurus lagi sejak angkatan tahun 2000 ini. Lo kan tau UKM ini udah lama banget vakum."

Oh ya iya sih, sekarang ini kita memang belum punya member baru. Ini aja yang latihan baru gue berdua doank sama si Kun.

Latihan selesai jam tujuh malam.

Baru aja gue selesai ganti baju, si Kun tiba-tiba manggilin gue.

"Kenapa?" gue tanya.

"Eh, tuh liat siapa di depan pintu." dia bilang ke gue.

Rupanya ada seseorang yang sedari tadi menunggu gue. Entah dari kapan dia duduk di sana, di depan pintu Rektorat.

'Ngapain lagi sih dia nyariin gue?' gue berguman sendiri.

Ya... itu adalah si Puspa.

Quote:


Si Puspa hanya terdiam sambil menatap ke arah gue.

Ya udah akhirnya gue datangi dia.
Diubah oleh memedruhimat 30-07-2025 19:31
yusufchauza
itkgid
itkgid dan yusufchauza memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.